Saturday, June 3, 2017

#NHW 3: Membangun Peradaban dari Rumah

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Tugas kelas matrikulasi kali ini meminta saya untuk membuat surat cinta untuk suami. Mmmhh... sebenarnya udah sering sih nulis yang unyu-unyu soal doi di sini. Tapi, tetap aja saat menuliskannya, saya sempat nangis bombay, rasanya ada yang tumpah dari dalam hati saya, Tapi, suratnya nggak usah ditampilkan di sini ya, maluuuu... hahaha.

Respon suami saat membaca surat dari saya, senyum-senyum sambil bilang "terima kasih ya, sayang." terus memeluk saya yang kebetulan saat itu sedang menyusui Ken. Jadi lah acara berpelukan kami diwarnai dengan ocehan Ken yang jealous liat ibunya dipeluk ayahnya. Dia bilang, "nggak boleh! nggak boleh!" sambil dorong-dorong ayahnya dan tertawa, seolah tengah menggoda kami, Hahahah, begini lah nikmatnya punya anak, mau bermesraan ada aja yang interupsi :p

Tentang Ken Maruta
Usianya sekarang sudah 21 bulan. Seperti kebanyakan ibu, momen yang paling ditunggu ketika punya anak adalah ketika anak kita mencapai milestone perkembangannya. Menyaksikan Ken melewati tahap demi tahap perkembangannya adalah hal yang menakjubkan buat saya. Ken melewati tahap-tahap perkembangannya relatif lebih cepat dari teman-teman sebayanya. 

Potensinya yang menonjol saat ini adalah di bidang bahasa. Di usianya sekarang, ia sudah bisa merangkai kalimat yang terdiri dari 7-8 kata dan menguasai banyak kosakata. Ia juga sudah bisa menyanyi lagu dengan lirik panjang sampai selesai, contohnya lagu "bintang kecil". Dalam hal pelafalan kata, ia sudah bisa menyebutkan kata-kata dengan cukup jelas, Kemampuan bilingual Ken juga mulai terasah. Ia mampu melakukan beberapa instruksi dengan bahasa Indonesia/Inggris tanpa kebingungan. Ia juga sudah terbiasa menggunakan istilah-istilah bahasa inggris dan paham artinya dalam bahasa Indonesia. Misal, dia biasa mengatakan "do you wanna jump?" dan mengerti ketika ibu memintanya untuk "ayo melompat!!" Ken juga sudah bisa menganalogikan sesuatu, misal saat melilitkan tali di jarinya dia akan bilang, "ini kayak cincin ibu". 

Ken adalah anak yang aktif dan very curious. Alhamdulillaah, Ken bukan anak yang mudah disogok nonton video supaya bisa tenang, setidaknya untuk sekarang. Memang sih, agak bikin pusing waktu jagainnya. Ken senang mengeksplorasi tempat dan benda-benda baru alias menggeratak. Saking besar rasa penasarannya, ia bisa mendorong dan memanjat kursi lalu membuka laci hanya untuk mencari tahu apa itu obeng. Tapi, ketika ia sedang senang mengerjakan sesuatu, misal main dengan mobil-mobilannya, bermain puzzle atau bricks, ia bisa fokus sampai 15 menit lamanya.

Ken juga pandai membaca emosi orang lain. Kemampuan interpersonalnya sudah mulai terasah. Ketika ia melihat ibunya sedang sedih, ia akan menghampiri ibunya dan mencium saya seolah sedang menenangkan hati saya, selalu begitu.

Alhamdulillaah, semoga saya bisa terus melihat dan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri Ken.


Bagaimana dengan diri saya?
Pernah mempelajari ilmu psikologi selama 4 tahun, menurut saya bisa jadi merupakan salah satu potensi yang saya miliki saat ini. Sebab sedikit banyak ilmu yang pernah saya pelajari di bangku kuliah dulu sangat membantu saya dalam membentuk pola pikir yang positif terhadap pengasuhan anak jauh sebelum saya memiliki anak sendiri. Pengetahuan mengenai psikologi perkembangan anak yang saya dapatkan saat kuliah dulu, sedikit banyak, membantu saya dalam mengawasi dan mengasuh Ken dalam setiap tahap perkembangannya, sehingga saya merasa lebih tenang dan dapat membantu meluruskan pemahaman yang keliru berkaitan dengan perkembangan seorang anak. Misalnya, ketika orang di sekitar saya khawatir dengan Ken yang senang memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya saat ia belum genap berusia 12 bulan, saya justru lega karena ia saat itu sedang melewati salah satu tahap perkembangannya, yaitu fase oral yang pada teorinya bisa berlangsung sampai usia 18 bulan. 

Eh, tapi saya nggak ahli dan banyak yang lupa juga dengan ilmu-ilmunya lho. Makanya masih senang membaca-baca artikel tentang parenting dan bertukar pikiran dan pengalaman dengan ibu-ibu lain.Tapi, paling tidak itu memambantu saya memahami lebih awal tentang hal-hal yang saya sebutkan di atas dan sekarang baru terasa manfaatnya ketika memiliki anak, Mungkin itu lah sebabnya saya berada di sini sekarang, memilih untuk mendedikasikan waktu saya di rumah. Allah ingin saya bisa fokus dan memanfaatkan potensi saya ini untuk anak saya, sehingga mudah-mudahan dapat memaksimalkan potensi anak saya nantinya,

Potensi saya lainnya mungkin adalah menulis. Sejak SMP saya suka sekali menulis cerita dan puisi. Hobi itu saya lakukan sampai saya duduk di bangku kuliah, sayangnya sekarang sudah sangat jarang menulis sampai-sampai jari dan otak saya kaku kalau disuruh menulis. Tapi, apakah itu berarti saya berhenti suka dengan dunia menulis? Rasanya tidak, malah saya masih punya cita-cita untuk menghasilkan novel sendiri kelak.

Nah, kesukaan saya menulis ini bermula dari kesukaan saya membaca. Ini yang ingin saya tularkan pada Ken, kegemaran membaca. Entah berapa banyak buku yang saya lahap saat mengandung Ken dan berapa banyak buku yang saya bacakan saat Ken masih sangat kecil. Saya juga berusaha mengenalkan Ken dengan buku sejak sedini mungkin. Saya yakin dengan membaca akan banyak manfaat yang akan didapatkan oleh Ken kelak.

Saya juga senang belajar dan ingin melanjutkan sekolah lagi, insya Allah. Buat saya pendidikan adalah hal yang penting. Sebagai seorang ibu, saya percaya memiliki pendidikan yang tinggi adalah keharusan karena kita lah tempat belajar anak pertama kalinya. Saya juga ingin menjadi contoh dan menularkan semangat ini kepada anak saya. 


Tentang Orang di Sekitar Saya
Saya tumbuh di keluarga yang kental dengan adat jawa dan dunia seni. Orang tua saya bukanlah datang dari keluarga kaya, Saya ingat cerita ibu dan bapak ketika mereka merantau ke Jakarta dan memutuskan untuk menikah, hidup di kontrakan petakan yang tempat tidur dan dapurnya jadi satu, Bukan yang kece macam apartemen tipe studio gitu tapi, heheh. Sampai akhirnya bapak dan ibu punya usaha sendiri dan bisa menyekolahkan ketiga anaknya. Melalui ibu dan bapak saya belajar kerja keras dan menjadi sederhana. 

Namun begitu, orang  tua saya bukanlah tipe yang mendukung cita-cita dan kesukaan saya saat masih kecil. Saya masih ingat bagaiman ibu tidak menyukai saya yang hobi membeli dan mengabiskan waktu sambil membaca buku. Saya juga ingat perkataan ibu saya yang kurang lebih berbunyi "kalau mimpi itu jangan terlalu tinggi, karena kalau jatuh akan sangat sakit sekali" ketika saya mengutarakan ingin mendapatkan beasiswa sekolah di luar selepas lulus SMA. Entah bagaimana, perkataan dan kurangnya dukungan dari keluarga itu membuat saya merasa tidak bisa maksimal mengembangkan potensi dan cita-cita saya. 

Sekarang, ketika saya menikah, suami saya berhasil melanjutkan sekolah ke luar negeri dengan beasiswa dan segala prosesnya disaksikan sendiri oleh orang tua saya. Seolah-olah kami ingin menunjukkan kalau ada keinginan, jalan untuk menggapai cita-cita setinggi apapun itu pasti ada. 

Salam,
Sawitri Wening

No comments:

Post a Comment