Sunday, June 25, 2017

Weekly Note: Belajar dari Ramadhan

Hobi baru bikin poster kayak gini di Textgram


Bulan Ramadhan kali ini rasanya banyak memberi pelajaran berharga untuk saya. Banyak hal yang terjadi dalam minggu-minggu di bulan Ramadhan ini yang membuat saya berpikir, merenung, dan istighfar. Semua yang saya alami dan rasakan di bulan Ramadhan ini berujung pada sebuah pertanyaan: sebenarnya apa sih yang sedang saya cari? 

Ini bukan pertama kalinya pertanyaan itu muncul dalam diri saya dan saya yakin begitu juga dengan kamu yang sedang merasakan hal yang sama. Sebab, ya, bukan kah manusia adalah mahluk yang sering luput? Manusia itu tempatnya salah dan saya merasa beruntung masih diberi nikmat merasakan kegalauan semacam ini. Kenapa? Karena tandanya hati nurani kita belum mati. Ia masih bergetar di saat ada yang 'salah' dalam diri kita.

Kamu pernah tidak mengalami momen dimana kita merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup kita, tapi kita sendiri tidak tahu pasti apa jawabannya (berat ya bahasannya...). Ketika kita mulai melakukan self-reflection dan mengevaluasi diri kita sendiri. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini: apakah yang saya lakukan ini benar? Mengapa saya terus melakukan ini, padahal tidak ada manfaatnya? Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Apa sebenarnya keinginan yang sangat ingin saya capai? Apakah yang sudah saya lakukan menyakiti hati orang lain?... dan masih banyak lagi segudang pertanyaan yang menohok mental dan batin diri sendiri. Mungkin itu yang terjadi pada diri saya belakangan ini, setelah melewati hari-hari di bulan Ramadhan tahun ini yang penuh dengan ujian, baik itu yang berbentuk kenikmatan ataupun musibah. 

Di Ramadhan tahun ini, saya ingin membuat catatan tentang pelajaran apa yang saya dapatkan.

Teringat perkataan seseorang, kalau ujian yang sebenarnya perlu diwaspadai itu adalah ujian berbulu nikmat. Rasanya saja kita sedang diberi nikmat, padahal sebenarnya kita sedang diuji. Itu yang saya alami di minggu-minggu awal Ramadhan kemarin. Ketika saya mulai merasakan punya dunia baru yang bikin hati saya melonjak gembira dan mata berbinar-binar. Lalu mulai berbangga hati dan berpikir, jangan-jangan ini passion saya. Ternyata, belakangan saya baru menyadari kalau kewajiban utama saya malah terbengkalai. Sedih saat menyadari hal itu dan ingin rasanya kembali belajar menentukan prioritas dan manajemen waktu saya, yang bisa dibilang, masih buruk. Jadi, untuk yang sedang galau juga seperti saya, coba tengok lagi, apakah ada hal yang lebih penting yang kita tinggalkan atau lupa kita lakukan. Pelajaran pertama di Ramadhan ini, prioritas pertamamu adalah kewajiban utamamu.

Lalu, saya mulai dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Mulai belajar dari mereka tentang bagaimana menjadi seorang istri, ibu, dan individu yang lebih baik lagi. Sebuah sekolah yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan ada di dunia ini, ketika social media belum mendarah daging di keseharian kita. Di sini saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu dipupuk. Saya diminta untuk merenung dan merenung. Selanjutnya dituangkan ke dalam target diri yang lagi-lagi jadi pengingat tentang seberapa konsisten kita dalam menjalani sesuatu. Membuat target pencapaian diri bisa jadi hal yang menantang, tapi menjalaninya buat saya adalah hal yang lebih sulit. Sedih juga karena banyak targetan diri saya di Ramadhan ini yang tidak tercapai. Kalau dipikir-pikir hall ini terjadi karena, salah satunya, alokasi waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Pelajaran kedua di Ramadhan ini, yang terpenting dari target diri adalah menjalaninya.

Terakhir, di penghujung Ramadhan ini, saya mendapatkan cobaan berupa kesulitan yang menguji kesabaran saya. Pernah nggak berada di momen "kok ada aja ya masalahnya" sehingga urusan kita sulit sekali diselesaikannya. Kejadian ini bikin saya merenung dan bertanya-tanya dalam diri saya. Apa yang sudah saya lakukan sampai urusan saya ini seperti dipersulit. Saya juga jadi ingat perkataan"mudahkan lah urusan orang lain, kalau urusanmu ingin dipermudah" yang lagi-lagi bikin saya berpikir tentang kesalahan yang mungkin saya lakukan ke diri saya ataupun ke orang lain. Kejadian ini bikin saya sadar kalau ada saatnya kita jatuh. Ya, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan perasaan persis seperti yang saya rasakan kemarin, Sedih, gelisah, marah, kecewa, semuanya jadi satu. Kejadian ini seperti menawan pikiran saya. Saya jadi tidak fokus mengerjakan pekerjaan rumah dan sulit tidur. Sampai saat ini, masalahnya belum selesai dan semoga bisa segera diselesaikan setelah liburan lebaran. Mohon doanya ya. Pelajaran ketiga di Ramadhan ini, ternyata yang paling nikmat dari semuanya adalah ketenangan hati.

Ya, hal terakhir bikin saya sadar kalau yang saya butuhkan itu pada akhirnya adalah ketenangan hati. Buat apa kita punya banyak harta, prestasi, dan pujian dari orang lain kalau hati kita tidak tenang. Saya belajar untuk berusaha, namun sekaligus pasrah karena semuanya ada yang mengatur. Seberapa pun besarnya usaha kita, jangan pernah lupa untuk memasrahkan akhirnya pada yang Maha Berkuasa.

Di akhir tulisan ini, saya juga belajar bahwa hal pertama yang bisa kita lakukan untuk berubah adalah menyadari dan mengakui kesalahan kita sendiri. Dan menulis itu selalu melegakan untuk saya.

Mohon maaf untuk segala salah baik yang disengaja ataupun tidak. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Ditulis di Bristol pada 1 Syawal 1438 H
saat Ken dan Ayah sudah terlelap.

Salam,
Sawitri Wening

No comments:

Post a Comment