Wednesday, December 30, 2015

Hanging Out with Ken #4: Naik Kereta ke Cimahi



Beberapa waktu yang lalu saya di-WA suami katanya ia mendapat undangan acara lamaran salah satu teman dekatnya di kampus. Acaranya di Cimahi, jauh yak... terus suami mengajak saya turut serta kesana, bila saya mau. Tentu saja saya langsung semangat dan menerima ajakannya. Tapi, saya sempat galau lantaran Pak Suami menolak ajakan saya untuk menginap barang semalam di Cimahi, maksudnya biar bisa sekalian jalan-jalan dan supaya Ken nggak capek pulang-pergi naik kereta hampir 3 jam one-way. Lagipula, setelah mencari hotel via online, ternyata alat pencarinya justru mengarahkan tempat penginapan di Bandung kota yang masih lumayan jaraknya dari Cimahi. Pengalaman bermalam di Bandung beberapa waktu yang lalu kurang berkesan karena satu dan lain hal, jadi suami pun mengurungkan niat untuk mengajak saya dan Ken menginap. Lagipula, saat itu tanggal tua belum gajian, jadi ya sudah deh kita irit-irit dulu, heheh.

Suami pun meyakinkan sekali lagi ke saya apakah saya dan Ken akan baik-baik saja pulang-pergi kondangan ke Cimahi. Saya jawab, Insya Allah bisa untuk pengalaman pertama naik kereta eksekutif. Heheh, selain Ken, ini pengalaman pertama saya juga lho naik kereta eksekutif. Terakhir naik kereta jarak jauh pas Honeymoon ke Jogja cobain naik ekonomi saat berangkat (yang berujung punggung pegel-pegel karena tempat duduknya tegak banget dan kurang asyik buat pasangan muda karena harus share space sama penumpang lain, hahaha) dan bisnis pulangnya. Beruntung, ternyata sedang ada promo dan kami hanya kena 85rb saja tiap kepala dari Jakarta-Cimahi dan sebaliknya. Ken gratis karena masih bayik. Tapi,.... berangkatnya mesti pagi-pagi buta sebab kami mendapat jadwal kereta dari gambir berangkat pukul 5 pagi. Emang paling pas karena acara lamarannya dimulai pukul 9 pagi.

Persiapan perlengkapan Ken pun sama seperti biasa. cek: diaper bag raid. Kali ini, saya memilih untuk membawa pospak instead of clodi untuk alasan kemudahan karena kami nggak mungkin cuci-cuci di tempat kondangan juga, daripada bawa-bawa popok bau kemana-mana dan ada kemungkinan mengganggu orang lain, jadi yowis kami memilih membawa pospak (But, if you clodi moms, do have any tips to keep utilizing clodi for this kind of case, please kindly share... ;)) Jangan lupa juga bawa beberapa baju untuk ganti karena Ken akan seharian mobile. Yang terpenting, namun terlupakan oleh saya (karena ketinggalan) adalah make sure there's a blanket in your bag to warm your baby, because the evening train temperature usually getting lower and it might cause Ken a bit fussy on our way back home.

So, we woke up very early and took a flash bath, checking and making up some things. Dealing wih Ken's crying due to the cloth changing. Drove the car to catch up the prayer time at the station mosque and printed out the ticket we have bought the days before. Buat yang belum tahu, sekarang di stasiun sudah ada fasilitas CTM alias Cetak Tiket Mandiri bagi yang sudah beli tiket via online atau via chanel lainnya, yang memungkinkan kita untuk tidal perlu antre di loket sekaligus menghindari calo.
Selama perjalanan ke Cimahi Ken bisa dibilang anteng dan lebih banyak tidur. Kami sampai di Stasiun Cimahi sekitar pukul 8:40, kalau tidak salah. Ternyata di stasiun ini sudah ada ruang menyusui walau ala kadarnya, intermezzo. Sesampainya di sana, saya touch up dikit lah karena muka keliatan kayak bangun tidur dan ganti jilbab. Selesai beres-beres, kami pun berjalan keluar stasiun. Ken digendong ayahnya dengan carrier andalan kami. Untuk menuju ke acara lamaran, kami berencana naik taksi. Tapi, ternyata susah juga cari taksi di Cimahi, alhasil kami pun memilih untuk naik ojek untuk menuju kesana dam ternyata lumayan jauh. Kebetulan abang ojek yang saya tumpangi berada di belakang atau tertinggal dari ojek yang ditumpangi suami dan Ken. Jadi deh tuh abang ojek mengendarai motornya kayak dikejar setan, takut nyasar mungkin. Untung Ken lagi dibawa ayahnya dan anteng tidur selama di ojek.

Selesai acara lamaran, kami tidak langsung pulang menuju stasiun. Melainkan mampir dulu ke kedai es krim untul ngadem bareng Kak Catur dan Dita. Tapi, semua usaha itu gagal karena begitu masuk kedai udaranya lebih panas daripada di luar #fail. Ken pun jadi rewel, kirain mau minum nggak taunya kegerahan. Karena nggak ada spot yang memungkinkan saya untuk menyusui Ken di dalam kedai, saya pun izin numpang menyusui di mobil yang dibawa Kak Catur dan Dita. Sampe di dalam, Ken menyusu sebentar lalu cengar-cengir. Ternyata dia cuma mau ngadem.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke stasiun yang hanya berjarak kurang lebih 15-20 menit. Sesampainya di sana, Ken pup dan kami terpaksa menggantinya di ruang menyusui yang kurang memadai untuk mengganti popok. Problematika ibu dan bayinya ketika naik kereta jarak jauh ternyata ada di sini. Terutama buat Ken yang kalau pup mesti harus langsung diganti karena rawan terkena ruam. Jadi, mesti pintar-pintar cari tempat dan cara yang pas buat ganti popok. Entah mau ngerjain ibunya atau bagaimana, saat perjalanan pergi ke Cimahi dan pulang ke Jakarta, Ken pup di dalam kereta. Haduh, gimana yaaak gantinya secara di kereta nggak ada nursery room. Daripada Ken kena ruam dan ayah-ibunya juga udah cium bau semeriwing pup-nya Ken, yaudah aja kami nanya ke petugas kereta. Eh, ternyata ditawarin ganti di ruang istirahatnya awak kereta. Alhamdulillaah masih ada tempat, walau sempet nggak enak juga karena di ruang sempit itu ada awak kereta yang lagi sholat #haduh. Di kereta menuju Cimahi, saya sempat ketinggalan selimutnya Ken di ruang awak kereta waktu menggantikan popok T,T.

Perjalanan pertama Ken naik kereta jarak jauh ini bisa dibilang mulus, alhamdulillaah. Rewel sedikit waktu pulang karena jelang sore, AC kereta jadi berasa dingin dan selimutnya Ken ketinggalan di kereta sebelumnya. Jadi, jangan lupa bawa selimut dan jangan ditinggal di kereta ya, ibu-ibu.

Pengalaman ini cukup seru, meskipun harus sedikit rempong ya bawa bayi 4 bulan. Nggak sabar deh perjalanan jarak jauh lainnya bareng Ken. Semoga ada kesempatan lain ya.

Sekian dulu sharing kali ini...

Salam,

SW

Saturday, December 26, 2015

AthaXWening: Episode 2 (Orang Kaya)


Halo semua!

Ini tulisan pertama saya yang dimuat di blog istri tercinta saya. Sekitar dua minggu yang lalu, kami berdua telah berencana untuk membuat semacam rubrik tentang kehidupan pernikahan kami dan di­-post di sini. Kesepakatannya, saya dan dia mendapat jatah untuk menulis bergantian setiap minggunya. Awalnya sih saya merasa keberatan ketika diminta untuk menulis. Mengapa? Sederhana saja. Rasanya sulit bagi saya melukiskan kehidupan pernikahan kami yang begitu indah dan berwarna ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan pengalaman kami dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan begitu sempurna. Eciyee.

Yak, mari kita cukupkan dulu gombalannya untuk saat ini. Kembali ke topik.

Dengan menulis bergantian, kami berharap rubrik ini dapat menjadi salah satu dokumentasi hari-hari yang telah kami lalui bersama berdua selama ini. Semoga apa yang kami tuangkan di sini dapat menjadi salah satu bahan untuk kami tersenyum pada saat tua kelak nanti (mengutip perkataan istri saya). Menertawakan diri sendiri biasanya memang selalu menyenangkan bukan? Dan yang terpenting, ada pelajaran yang bisa kita ambil dan menjadi insight berharga bagi para kawula muda sekalian. So, please enjoy it!

---

Saat itu, saya sedang berada di kantor. Mengerjakan beberapa hal yang bisa dikerjakan di depan netbook mungil saya. Minimal membuka word dan excel agar terlihat seperti sedang bekerja di mata atasan dan rekan kerja saya. Tiba-tiba, ada pesan masuk di hp melalui whatsapp.

“Sayang, lagi sibuk ngga? Boleh tolong beliin aku pulsa?”

Tenang saja. Ini bukan modus penipuan seperti mama minta pulsa apalagi papa minta saham. Bukan itu. Pesan tersebut datang dari istri saya sendiri. Saat itu nampaknya dia sedang sibuk memomong Ken sehingga sulit untuk membeli pulsa sendiri. Atau sekedar mencari temannya yang memang berjualan pulsa.

Oke, sayang. Mau beli berapa?”

“100 ribu. Paket internet aku abis.”

“Oke, sayangku. Tunggu sebentar ya.”

Biasanya ketika membeli pulsa, saya hampir selalu membelinya di salah satu teman kantor saya. Baik untuk saya sendiri ataupun untuk istri. Kebetulan ruangannya memang ada di sebelah ruangan kerja saya. Jadi tidak ribet dan sangat memudahkan. Namun kali itu, entah kesambet apa, saya berpikir untuk membeli pulsa melalui i-banking. Segera saja saya keluarkan token andalan yang selalu setia menemani saya.

*buka website ibanking *pilih menu pembayaran
*pilih provider *pilih nominal
*masukan nomor HP yang dituju *masukan kode dari token
*klik, klik, done!

Begitu selesai, saya langsung mengabari istri saya bahwa saya sudah berhasil membelikannya pulsa. Tak lama, dia membalas bahwa pulsanya sudah sampai. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih dan memberikan kecupan jarak jauh melalui emoticon. Senang rasanya bisa berguna untuk istri sendiri, walau cuman hal remeh temeh semacam ini. Setelah itu, saya kembali pura-pura sibuk dengan netbook saya.

---

Saat itu, waktu menunjukan pukul 17.00 WIB dan SAATNYA UNTUK PULANG. Yap, tenggo menjadi salah satu kebiasaan baru saya semenjak menikah. Minimal saya tidak akan berlama-lama lagi di kantor ketika memang sudah waktunya pulang. Bagaimana tidak mau cepat pulang, istri yang cantik dan anak yang lucu sudah menanti saya di rumah. Eciyee.

Sebelum naik kendaraan umum, saya menyempatkan diri untuk mampir ke ATM yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor. Kebetulan saat itu memang uang saya di dompet tinggal sedikit. Yah, biasanya juga memang sedikit sih. Curhat.

Saya membuka pintu gerai dan melangkah masuk. Mengeluarkan kartu dari dompet dan memasukannya ke dalam mesin ATM. Tidak ada yang aneh sampai di sana, semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Namun tiba-tiba saya dikagetkan akan sesuatu.

SALDO DI REKENING SECARA AJAIB BERKURANG SATU JUTA! SATU JUTA RUPIAH! BENERAN SATU JUTA RUPIAH!

Mendadak saya lemas. Salah apa hamba-Mu ini ya Allah. Apa yang saya lakukan sehingga bisa mengalami musibah seperti ini. Pikiran saya tidak karuan. Apa yang terjadi? Mengapa bisa sampai uang saya hilang satu juta rupiah? Saya mencoba menelusuri apa yang menjadi penyebab hilangnya uang di rekening saya. Ditipukah saya? Modus baru pencurian uang tanpa jejak? Dihipnotis namun saya tidak sadar? Tapi nampaknya saat itu saya tidak dapat berpikir dengan jernih. Saya tidak dapat menemukan jawabannya. Akhirnya dengan langkah yang gontai saya keluar dari gerai ATM tersebut. Saya mulai mencoba menerima keadaan ini dengan pasrah.

Sambil berjalan ke arah trotoar dimana saya biasa menunggu kendaraan  umum, saya mengeluarkan hp. Saya pikir tidak ada salahnya mengecek mutasi rekening melalui i-banking. Kalaupun ada transaksi palsu, saya jadi bisa mendeteksinya. Dan ternyata memang ada yang aneh. Di sana terekam ada transaksi senilai satu juta rupiah! Padahal rasa-rasanya saya tidak pernah melakukannya. Ketika saya baca keterangannya…

PEMBELIAN VOUCHER TELKOMS*L SENILAI 1.000.000 KE NOMOR 08129108****.

OMG! ASDFWANJSDSAFASF!

Okay. Saya mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Saya membeli pulsa ke nomor hp istri saya senilai satu juta rupiah siang tadi. Oh, meeeen!

Dan ternyata memang benar. Ketika saya coba kroscek ke dia, ternyata memang pulsa yang masuk ke hp-nya sejumlah satu juta rupiah. Siang tadi dia juga tidak menyadarinya meski ada notifikasi pembelian pulsa yang masuk. Yah, siapa sih yang berpikir akan dibelikan pulsa sejumlah itu oleh suaminya? Mungkin hanya para sosialita. -.-

Sesampainya di rumah, kami berdua langsung menertawai kebodohan yang saya lakukan. Hal ini bisa terjadi karena saya kurang teliti ketika memilih nominal pulsa pada saat transaksi melalui i-banking. Saya tidak sampai menghitung berapa jumlah angka 'nol' yang ada di belakang angka 'satu'.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kami tidak rugi. Rugi sih tidak hanya nyesek saja. Nyesek karena langsung mengeluarkan uang yang tidak sedikit dalam satu hari hanya untuk membeli pulsa. Namun pasti ada hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian, termasuk juga dari kebodohan saya yang satu ini.

Pertama, kami bersyukur bahwa uang tersebut bukan hilang, hanya berubah bentuk menjadi pulsa telepon. 

Kedua, kami bersyukur bahwa pulsa tersebut sampai dengan selamat ke nomor istri saya, bukan nomor istri orang lain.

Ketiga, kami bersyukur bahwa dengan adanya kejadian ini, tidak ada lagi pengeluaran untuk pembelian pulsa dalam beberapa bulan ke depan. 

Keempat, saya bersyukur bahwa dengan adanya kejadian ini, ada bahan bagi saya untuk membuat tulisan dan memuatnya di sini. :p

---

Dalam menjalani kehidupan pernikahan, tawa canda seringkali menghampiri kita. Kisah konyol ini hanya secuil contoh dari apa yang telah kami lalui. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Saya mendoakan anda sekalian tidak perlu mengalami kejadian seperti yang telah saya alami ini. Cheers!

Salam,

MAR



Thursday, December 17, 2015

AthaXWening: Intro & Episode 1 (Bahasa 'Kode')


Bismillaah...

Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Suami saya ternyata orangnya lucu. Itu hal pertama yang mungkin akan saya jawab kalau ada yang menanyakan pendapat saya mengenai hal apa yang baru saya ketahui mengenai pasangan setelah menikah. Sebelum menikah dulu, saya mana tahu kalau laki-laki itu bisa sekocak ini (sekocak apa hayoo?). Dulu, saya lebih memandang dia sebagai lelaki idola para wanita (serius, fansnya banyaaaakkkk sampe keselek) yang punya tingkah laku aneh atau kekanak-kanakan di saat-saat tertentu (tapi semua itu dimata saya nggak ada yang dibuat-dibuat, he never tried to amuse anyone by acting childish, it was just a genuine him and that’s why I fell in love with him, ihiy!). Kelucuan suami saya sering kali sukses meluluhkan hati kalau saya lagi kesal. Gimana mau kesal kalau dia ngelucu, walaupun sebenernya saya tahu sih dia kadang nggak niat untuk melucu, tapi tetep ajaaa.

Terus apaan hubungannya sama hadits di atas? Ya jelas ada… Kadang ya kalau suami keseringan becanda, saya kan suka geregetan sendiri ya. Keluar deh kata-kata pamungkas, “aku becanda sayaang… biar kita tetap romantis.” Yaelaaah luluh lagi. Pernah tuh, karena saya protes dia bercanda terus, suami saya pun jadi sok-sokan serius daaan saya ternyata jauh lebih suka dia apa adanya. Serius macam lagi rapat BEM aja, hahah. Terus saya jadi inget hadits di atas, dan emang bener bercanda sama suami itu bikin hati adem ayem, masalah jadi males lama-lama di pikiran—jalan-jalan dulu dia. Hayooo, siapa yang nggak mau kayak gituuu… hihih. Nah, terus saya jadi kepikiran deh buat mendokumentasikan cerita sehari-hari kami berdua dan menjebak mengajak suami buat nulis bareng, bergantian tiap episode. Selain biar nggak lupa karena siapa tahu kan bisa jadi salah satu sumber tawa di senja nanti, dan juga melatih biar terbiasa nulis, dan produktif sedikit lah selain cuci clodi sama main Brave Frontier (paham banget nih kalo yang main. So, please enjoy our first episode of AthaXWening Series.


AthaXWening Eps. 1: Bahasa 'Kode'

Di suatu siang di hari kerja, Ada notif WA dari suami.

Atha : Lagaps?
Wening: Kankan
Atha: Mamas durdur?
Wening: Iya. Ewele. Nangnang terus.
Atha: Nanti malem nonpi yuk.
Wening: Nggak ah, nanti aku tujtuj lagi.
Ada yang ngerti nggak kita ngomong apaan? Hahah. Emang bener ya menikah itu adalah saat dimana kebiasaan menular. Salah satunya ya cara ngobrol yang seperti ini nih. Semenjak menikah, saya mengenal bahasa baru dari suami 1) bahasa anak bunayya (kosan dia jaman kuliah) dan 2) bahasa ‘kode’ kayak di WA tadi. Dua-duanya aneh, tapi lama-lama ketularan aneh juga T,T. Kebiasaan ini nggak cuma muncul kalo lagi watsapan, tapi pas ngomong secara langsung pun sering kali kami menggunakan kata-kata yang terdengar seperti kode itu. Bahasa anak bunayya lebih unik lagi, dimana ada kata “hambet” yang definisinya bisa meluas sesuai dengan konteks pembicaraan. Saya suka roaming sendiri kalo lihat grup WA mereka, kayak ngomong bahasa planet lain. But anyway, kadang saya juga suka ngikutin secara sadar atau nggak sadar, hahah. Saking seringnya berbahasa kayak gitu, kadang saya suka kebawa kalo lagi ngobrol via WA sama temen-temen yang lain dan berakhir dengan pertanyaan “lu ngomong apaan sih?”

Kebiasaan berbahasa kode ini ternyata tidak muncul begitu saja, tetapi karena ada kejadian yang bikin kita keterusan ngomong seperti itu. Kayak ‘Tujtuj’ itu awal mulanya karena saya sering typo ngomong ‘ngantuk’ jadi ‘ngantuj’. Jadi deh, muncul kata baru di KBBI kita ‘tujtuj’ yang artinya ‘ngantuk’. Terus, otak makin kreatif ciptain kata-kata baru lainnya. Kalo kebiasaan menyingkat kata kayak ‘lagaps’ (lagi apa) atau ‘sikgig’ (sikat gigi) belakangan saya baru sadar kebiasaan suami itu datangnya dari keluarganya yang kadang suka menyingkat kata, biar ringkas. Kebiasaan lainnya adalah kalau ngobrol kadang suami bergaya ala-ala Cinta Laura gitu, terus tanpa sadar saya nanggapin dengan gaya yang sama. Hahahah, ngapain sih… aneh banget yak. Kebiasaan ini muncul semenjak tanpa sengaja kami menonton salah satu episode Upin Ipin dimana guru baru di sekolahnya hendak mengenalkan murid baru dan entah kenapa ketika ngomong “murid baru” sang guru bicaranya ala-ala Cinta Laura gitu. Kan kita jadi ngakak dan bingung ya. Jadilah scene itu terkenang dalam lubuk hati kami yang paling dalam.

Kebiasaan ini nggak bisa dianggap remeh. Soalnya, entah udah berapa kali kita ngakak bareng karena baca bahasa nggak jelas, ngomong dengan gaya nggak jelas pula, dan menyadari betapa anehnya diri ini ketika ikut tertular berbahasa seperti itu. Ternyata semua itu menyenangkan! Tapi, tetap dong kami cinta Bahasa Indonesia dan nggak bermaksud menularkan kebiasaan aneh ini ke orang lain. Hahah, jadi serius.

Ok, sekian episode kali ini. Sampai bertemu di episode berikutnya yang insya Allah akan ditulis oleh suami saya (kalau dia nggak mager, wkwk). Kalau kamu, apa kebiasaan unik kamu dan pasangan? Hihih….

Uds ya, mau nyiapin sarpag dulu niccccc….

Salam,

SW

Saturday, December 12, 2015

Hanging Out with Ken #3: Berenang Perdana di 'mom n jo'

Yippie! Akhirnya setelah dipending terus, niatan untuk mengajar Ken ke baby spa terlaksana juga. Emang emak bapaknya aja nih yang kemarin-kemarin belum nyempetin jalan ke salon bayi. Alhamdulillaah ini semua berkat voucher 'mom n jo' yang saya dapatkan dari seminar tempo hari. Sayangnya, vouchernya cuma bisa dipakai di hari kerja. Yasudah lah nanti biar Ken dan ibunya aja yang ke 'mom n jo'. Ayahnya nggak bisa ikutan karena kerja. Eh, ternyata tanggal 9 Desember lalu ada Pilkada serentak, kantor suami ikutan diliburkan. Setelah cek ke 'mom n jo' Rawamangun, ternyata voucher bisa digunakan di hari itu. Langsung lah kita bertiga cus kesana sambil nggak sabar lihat cah lanang satu ini nyemplung di kolam.

Mom n Jo ini banyak cabangnya dan yang paling dekat dengan rumah ortu saya adalah Mom n Jo Rawamangun, tepatnya di dekat Teminal Rawamangun, seberang Giant Ekspres. Seperti yang sudah kita tahu, ya. Mom n Jo ini specialty-nya adalah perawatan untuk ibu hamil yang mau pijit-pijit (kan ga boleh sembarangan tuh kalo ibu hamil, salah pijit bisa bahaya), spa bayi, dan ibu pasca melahirkan. Sebenernya udah dari dulu pas hamil Ken sih mau kesana buat pijit kan lumayan yak ngegembol bayi berapa kilo bikin pegel badan. Tapi, ternyata belum kesampaian dan berakhir pijit di salah satu salon langganan di Depok dekat kontrakan kami dulu. Oiya, sebelumnya saya tanya dulu ke CS-nya via telp mengenai harga. Tertarik dengan paket 'baby and i" ternyaya harganya 550rb dengan perawatan pijat 60 menit untuk ibu dan pijit bayi 40 menit + renang bayi 20 menit. Hmm... pikir-pikir dulu deh, mayan juga ternyata harganya, wkwk. Harga paket spa bayi (pijit+renang) 275ribu. Terus mikir lagi, ah Ken juga hampir tiap pagi saya pijit. Lagian dipijit 40 menit anaknya emang betah yak? Saya mijit Ken 30 menit aja udah termasuk lama tuh sambil diajak main. Jadi, tanya harga renang bayinya aja deh... 150rb untuk berenang 20 menit. Ok, setelah tanya suami, kami pun mengambil perawatan itu.

Setelah booking, kita dapat giliran jam 4. Berangkat dari rumah Jam 3 kurang, kami tak lupa membawa perlengkapan Ken, seperti baju ganti yang agak longgar biar pas makein baju nggak drama. Iya lho, Ken ini kalo dipakein baju nangisnyaaa... masya Allah dah kayak lagi disiksa T,T Dia emang tipe anak yang nangisnya keras kayak lagi terik-teriak gitu sih. Pas baru muncul dari perut pun nangisnya hampir memecahkan gendang telinga, heheh becanda deng. Memecahan keheningan hati emaknya yang lagi teler efek obat bius.Ok, back to the topic. Terus jangan lupa juga bawa minyak telon buat menghangatkan badan bayi setelah renang dan kaos kaki buat Ken, ayah, dan ibunya. Lah? emak bapaknya juga bawa kaos kaki? Yoi. Jadi, di Mom n Jo ini peraturannya gitu, sebelum masuk ruang spa ortu wajib pake kaos kaki untuk menjaga kebersihan ruangan. Kalo ngga bawa? Tenang, Mom n Jo menjual kaos kaki incase ada yang ngga bawa.

Baby Swimming Pool

Ruang Spa untuk Ibu

Welcome drinks.
Akhirnya sampai deh di Mom n Jo pukul sekitar 15:30 karena masih ada waktu, kami ngemil dulu di KFC seberang. Daan.. tiba lah waktu yang dinanti: melihat Ken berenang perdana. Degdegan lho, takut anaknya nangis pertama kali dicemplungin gitu. Sebelum masuk ruang spa, Ken ditimbang dan diperiksa suhu tubuhnya dulu. Setelah itu, masuk ruang spa yang ngga terlalu besar tapi seneng deh lihatnya, bersi dan private. Sebelum nyemplung, Ken ditelanjangi dulu dan pemanasan dengan digerak-gerakkan tangan dan kakinya biar gak keram kali ya dan gak kaku badannya ketika bergerak-gerak di dalam air.

Ditimbang sebelum masuk ruang spa

Duuh.. aku mau diapain nih??


Daan... pas dimasukin ke air, jeger anaknya nangis, hahah. Tapi, setelah dinyanyiin nangisnya berhenti dan dia kelihatan menikmati sambil heboh gerak-gerakin badannya. Ternyata Ken masih kagetan anaknya, dan itu yang bikin dia nangis lagi waktu berenang-renang. Jadilah perjalanan berenang perdana ini diiringi dengan isak tangis Ken yang seperti orang hampir tenggelam minta pertolongan. Sepanjang waktu berenang, dia nggak berhenti menatap saya sambil menangis seolah bilang, “Pleeease help me, mom… Pleeease!” 10 menit kemudian, saya mulai nggak tega dan minta mbaknya untuk angkat dia. Terus pas dimasukin bak mandi jadi ikutan nangis juga~ Nggak apa lah ya, namanya juga baru pertama kali. Insya Allah nanti coba lagi ya nak ya, semoga makin berani dan mahir. Abis diangkat, biasa deh mukanya langsung biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. 




Tapi, pengin lagi deh bawa Ken berenang kapan-kapan.  Sebab, katanya berenang untuk bayi itu banyak manfaatnya, seperti melatih jantung dan paru-parunya agar bekerja lebih keras saat bayi menggerak-gerakkan badannya di Air—terbukti waktu dicemplungin Ken sampe gobyos kepalanya, macam abis lari berapa kilo gitu, hahah. Selain itu, juga bisa melatih kepercayaan diri bayi, soalnya dengan dia berani nyemplung di air, dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk bersahabat dengan air. Malahan saya penasaran tuh sama bayi-bayi yang udah diajak renang di pool beneran dan udah diselamin ke dalam kolam sambil senyum-senyum dan ketawa kayak di video ini nih...


So, that was another new experience you've taken, Ken... Get ready for the next things which will come! :)

Mom n Jo Website: http://www.momnjo.com/

Salam,

SW

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW

Saturday, November 14, 2015

Hanging Out with Ken #2: Piknik!


Hari Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya kami mengajak Ken piknik di Taman Suropati. Begitu ada yang mencetuskan ide piknik di salah satu grup WA, saya langsung bersemangat. Entah udah berapa tahun yang lalu piknik-piknik asyik gitu. Kayaknya sekitar 4 tahun yang lalu deh sama temen komunitas di kampus saya, ke Kebun Raya Bogor. Lama pisaaan kan. Makanya, saya sumringah banget waktu diajak piknik, hihih norak. Biarin. Maklum deh, jaman single dulu senengnya main ke Taman Suropati sambil ngerandom. Sekarang alhamdulillaah bisa ajak anak dan suami plus orang-orang kesayangan waktu di kampus dulu. Sekalian lah biar nggak jadi ibu-ibu kurang piknik, heheh.

Sebenernya yang bikin saya excited saat itu adalah bisa ketemu sama genggong ceriwis yang menamakan dirinya "Merem Melek". Plis, nggak usah nanya maksud namanya apa, karena saya juga nggak ngertiii kenapa namanya itu. Isinya dua kelompok tugas mata kuliah jaman kuliah dulu, hahah. Iya, di kampus saya kan isinya tugas kelompok semua ya. Biasanya, kalau ada tugas kelompok ya bareng-bareng mereka-mereka ini. Sepuluh orang dengan karakteristik, passion, dan kesibukan yang berbeda-beda ini akhirnya bisa kumpul-kumpul lagi setelah terakhir kumpul sesudah saya lahiran. Meskipun nggak lengkap, tapi seperti biasa, tetep seruuu pake banget!

Kumpul sama "The Merem Melek" hampir selalu pake rempong. H-1 grup WA masih ngebahas barang bawaan. Lucu sendiri bacanyaa... Keesokan harinya, Rami, salah satu anggota yang terkenal totalitas dan integritasnya, datang ke Suropati paling awal sambil bawa-bawa balon dan keranjang buah :""D Demi untuk memeriahkan piknik perdana kami. Buat makanan bawa masing-masing, ada yang bawa nasi uduk, snack-snack, dan nugget. Yang paling penting buat piknik adalah alas duduk! Untung aja Non Cantik Alisha rela bawa-bawa banner segede gaban bekas acara kantornya buat kita duduk-duduk di taman--yang berujung pada diliatin orang-orang yang lagi olahraga di sekitar taman. Saking niat dan rempongnya set up buat piknik, ada mbak-mbak yang keheranan gitu liat kita, sampe merhatiin gak udah-udah. Malu sih, tapi yasudah lah namanya juga taman. Masa gak boleh piknik di taman, penjaga tamannya aja adem ayem liat kita rerempongan. Yang penting nggak merugikan orang lain, kan.

Kami pun menghabiskan waktu di pagi itu sambil foto-foto, berbagi kabar, makan, dan KETAWA. Iya, ketemu The MM ini selalu bikin senam muka. Ah, I always love spending time together with them. Pengalaman pertama bawa Ken piknik. Meskipun agak rempong bagian mau nyusuin ya, karena di tempat terbuka gitu. Untung aja sempet minta tolong Fiza bawain payung super gede buat mayungin Ken kalau dia ditidurin dan ujung-ujungnya kepake buat tempat "ngumpet" saat menyusui. Bagaimanapun itu aurat ya bu, mesti hati-hati walaupun lagi nyusuin anak juga ya. Selain itu, Ken masih anteng-anteng aja sih digendong sana-sini sama bou, tante, encing, uncle, om-nya (Bhahaha iya panggilannya beda-beda, berdasarkan suku masing-masing). Malahan sempet bobo begitu digendong pake carrier. Anak pintar ya, Ken! :*


Langsung aja lah lihat keseruannya lewat foto-foto kita yang hits sampe rada malu diliatin orang-orang, apalagi pas rombongan yoga dah bubar dan sesi foto ala-ala persahabatan-yang-angle-nya-dari-tas-semetara-kita-tidur-melingkar. Usai foto ala-ala itu, kita semua sepakat bubar dari taman dong dan pulang ke rumah masing-masing. Moga ada waktu kayak gini lagi, guys! Eh iya, enjoy...


















Love is in the air <3
*Photo credit: Fiza
*Video credit: Dody

- SW -

Monday, November 9, 2015

Ken Belajar Pakai Clodi


Gambar: Google
Berawal dari join ke grup mamah-mamah psiko dan Mahmud Abas--kepanjangan dari "Mamah Muda Anak Baru Satu", dimana kedua grup tersebut tengah memperbincangkan tentang clodi, saya pun jadi ikutan penasaran sama istilah satu itu. Apa itu clodi atau cloth diaper atau popok kain biasa? Sebagai seorang ibu muda, saya termasuk telat banget, banget tahu tentang teknologi satu ini. Untuk yang belum familiar, clodi ini beda dengan popok kain konvensional berbahan selembar katun, tapi lebih mirip popok sekali pakai yang bisa menyerap pipis berkali-kali tanpa takut bocor untuk beberapa lama. Nih penampakannya...

Gambar: Google
Jadi, meskipun popok kain, bunda tidak perlu khawatir harus menggantinya setiap kali ia pipis--kecuali kalo poop, langsung diganti ya dan sebaiknya diganti maksimal 4 jam sekali. Sebenarnya beberapa kali mengunjungi online shop, sempat melihat berbagai merek clodi ini sih dan kok motifnya lucu-lucu, ya... Pas lihat harganya hmm... nggak lucu sama sekali. Sangatlah wajar kalo saat itu saya mengurungkan niat untuk membeli clodi, wong saat itu yang saya lihat satu clodi harganya 250 ribuan. Iya, itu untuk satu clodi, mendingan buat beli pospak (popok sekali pakai) bisa dapat 4 pax, belum lagi kalo diskon bisa lebih banyak lagi. Saat itu pun yang saya pikirkan menggunakan clodi akan mencekik leher kantong dan domper suami  saya.  Maka, saya urungkan niat saya untuk membelinya.

Lebih Hemat dibanding Pakai Pospak
Setelah ngobrol banyak dengan grup Mamah2 Psiko dan Mahmud Abas baru tahu ternyata, merek clodi itu banyak, tinggal pilih mau yang buatan lokal atau yang premium import. Yang lokal, dengan harga terjangkau kualitasnya nggak kalah dengan yang import. Jadi, kalau mau hemat, bisa banget beli yang merek lokal. Harga terjangkau dan kalau dikalkulasi jangka panjang bisa menghemat berkali-kali lipat dibanding pakai pospak sampai toilet training, dan masih bisa diwariskan ke adiknya (ciee.. dah ngomongin adik aja, padahal Ken baru mau 3 bulan) dengan perawatan dan penyimpanan yang tepat

Tapi, nyesel juga sih baru mulai beralih ke clodi sekitar sebulanan yang lalu, jadinya kalau niat menggunakan clodi full-time, jadi kejar tayang padahal clodi baru dicicil sedikit. Di awal memang akan terasa menguras kantong, apa lagi kalo beli langsung banyak...beuh! Investasi di awal sih. Makanya, bunda kalau niat anaknya menggunakan clodi nanti semenjak hamil cicil beli clodi biar nggak gitu berasa pengeluarannya. Lumayan lah sebulan beli 1-2 clodi gitu.

Sampai sekarang Ken baru punya 12 clodi dan harus langsung dicuci untuk dipakai di hari berikutnya. Kalau malam dan pergi-pergi, Ken masih menggunakan pospak karena selain alasan lebih praktis, kami sudah terlanjur setok, jadi ya dihabiskan dulu sembari mencicil beli clodi lagi biar bisa full pake clodi (doain emaknya istiqomah ya, terutama cuci clodinya... heheh).


Saking semangatnya beralih ke clodi, saya jadi kalap belanja clodi. Di bulan awal beli 10 clodi, 3 diantaranya dapat gratisan—kompensasi dari overdue pengiriman barang online shop (Hihih… ada aja ya rezeki). Bulan selanjutnya saya harus menahan diri dulu untuk membeli clodi maksimal 2 buah per bulan dan clodi resmi masuk wishlist prioritas saya sekarang ;D

Lebih Ramah Lingkungan
Alasan lain yang bikin saya tertarik untuk beralih dari pospak ke clodi adalah simply untuk mengurangi perasaan bersalah saya karena menghasilkan gunungan sampah pospak semenjak Ken lahir, Apalagi newborn kan yang setiap abis nenen pasti pup, sehari bisa menyampah kurang lebih 8 pospak kotor. Ternyata, ini juga menjadi alasan utami ayahnya Ken ketika saya berdiskusi soal beralih ke clodi yang pada akhirnya mendukung ide saya. Bapak saya bahkan sempat bertanya apa ada alternative lain selain menggunakan pospak untuk bayi, sedih melihat banyaknya sampah popok kotor di rumah.

Melihat pospak kotor itu saya jadi berpikir, kemana perginya ya popok-popok kotor itu padahal ini baru saya, belum ada berjuta-juta bayi lain yang menggunakan pospak. Jadi, menurut saya cukup bijak kalau kami mulai beralih ke clodi yang bisa dipakai berkali-kali dan pun kalau harus dibuang karena tidak layak pakai, jumlahnya tidak akan sebanyak pospak kotor. Ini juga yang bikin saya semangat cuci clodi setiap hari.

Lebih sehat untuk Kulit
Ini adalah hal lain yang membuat clodi mempunyai nilai lebih di mata saya dibandingkan pospak. Setelah dicobakan clodi, Ken jadi terhindar dari ruam. Ini karena bahan clodi lebih alami dibandingkan dengan pospak yang memang mengandung bahan kimia, sehingga meminimalisasi risiko terkena penyakit akibat zat-zat berbahaya kimiawi. Selain itu, menggunakan clodi, saya tidak perlu mengaplikasikan bedak atau rash cream ke pantat Ken karena selain tidak perlu, penggunaan keduanya bisa menurunkan performa clodi sehingga daya serap clodi akan berkurang.

Mencuci clodi juga ternyata ada tekniknya lho, kalau menggunakan deterjen sebaiknya ¼ kali dari jumlah deterjen yang biasa kita pakai (CMIIW ya..) sebab sisa deterjen yang menempel pada clodi juga dapat mengurangi performa clodi. Ken sendiri tidak menggunakan deterjen untuk mencuci clodi, tapi menggunakan laundry ball “Ecowash” yang bebas deterjen, sehingga clodi benar-benar bebas bahan kimia dan lebih sehat untuk digunakan si kecil.


Merek Clodi yang Sudah Pernah Dicoba
Sebagai pemula, belum banyak variasi merek clodi yang saya coba. Tapi, saya mau sharing sedikit deh, siap tahu membantu yang lagi cari-cari tahu soal merek clodi. Simak di bawah ini ya.

1. Babyland 
Ini adalah merek clodi pertama yang saya belikan untuk Ken. Sudah pernah dipakai malam hari dan tidak rembes ataupun bocor. Kurang suka dengan bahan inner-nya yang agak berbulu. Saya pikir Ken akan tidak nyaman memakai clodi ini, ternyata nyaman-nyaman saja tuh. Bahan outernya beda-beda ada yang agak tebal dan kaku, ada juga yang halus. So far, clodi favorit Ken ada di merek ini yang bermotif jeans karena bahan outer-nya halus sekali.
Babyland
2. GG B-Dipe
Beli clodi ini karena banyak direkomendasikan dari review emak-emak di blog. Suka dengan bahan outer-nya yang halus dan insert-nya yang besar, tebal dan dilapisi oleh fleece jadi bisa digunakan untuk clodi tipe coveria. Sayangnya, kalau sudah agak lama dipakai GG ini jadi agak pesing. Tapi, overall suka dengan cutting dan bahannya.

3. Sobi Minky
Suka dengan bahan outer-nya yang seperti bludru dan cutting-nya yang pas untuk Ken. Sayangnya, waktu Ken pupnya lagi banyak suka bocor samping meskipun sudah ada inner gusset. Tapi, untuk pemakaian secara umum masih oke sih.
Sobi Minky

4. Pempem
Modelnya simple dan motifnya lucu. Suka dengan insert-nya yang berbahan litty karena mudah dicuci dan cepat kering. Kurang suka dengan outer-nya yang agak kaku.

5. Smart Kids
Hampir sama dengan pempem, namun bahan outer-nya lebih halus dan insert-nya bukan litty. Menurut saya kurang cocok digunakan untuk malam hari atau lebih dari 3 jam.

6. Bebibum
Ini satu-satunya clodi tipe coveria yang saya punya, sisanya tipe pocket. Jarang digunakan untuk Ken karena terlalu bulky. Meskipun tipe coveria, tetapi tidak bocor digunakan saat Ken pup.


Bagaimana, bunda? Apa tertarik juga untuk beralih ke clodi seperti saya? Awalnya saya sempat urung untuk menggunakan clodi, saya pikir menggunakan clodi itu mahal, ternyata untuk jangka panjang justru lebih hemat. Saya pikir mencuci clodi itu rempong, ternyata nggak juga lho—bahan inner clodi sangat mudah dibersihkan dari kotoran pup. Saya pikir menggunakan clodi itu rempong, ternyata sama saja dengan menggunakan pospak, bedanya pospak tinggal buang kalau clodi ya dicuci. Memutuskan beralih ke clodi itu memang pilihan dan tetap ada plus minusnya, tetapi menurut saya ini pilihan yang baik. Jadi, yuk bunda ubah mindset dulu kalau menggunakan clodi itu serba repot dan #makeclothmainstream ;)


*Silakan kunjungi website ini untuk referensi lebih lengkap soal clodi: 


Cheers!

- SW -

Friday, October 23, 2015

Cerita tentang Namaku


Mungkin ini akan menjadi postingan paling narsis karena di sini saya akan membahas sebuah nama. Nama saya sendiri, Dewi Wening Sawitri. Banyak orang bilang, “apa lah arti sebuah nama”, tapi menurut saya, terkadang dalam nama itu sendiri terkandung sebuah makna. Apalagi nama yang diberikan orang tua kepada kita. Pasti memiliki arti dan maksud tertentu seperti doa dan harapan yang ditujukan untuk si buah hati.

Apa yang bisa anda tangkap apabila mendengar sebuah nama Dewi Wening Sawitri untuk pertama kalinya? Saya tidak pernah menanyakan langsung pertanyaan tersebut kepada orang-orang di sekitar saya, namun dari obrolan yang pernah saya lakukan dengan mereka, dapat disimpulkan bahwa yang paling mencolok dari nama saya adalah unsur-unsur jawa yang kental di sana. Tanpa saya beri tahu, mereka sudah tahu bahwa saya atau paling tidak orang tua saya berasal dari tanah jawa, jogja tepatnya. Setelah besar, saya tidak heran mengapa orang tua saya memilih nama itu untuk saya. Mereka adalah orang yang masih sangat menghargai tanah asalnya, terutama kebudayaan jawa, sehingga nama yang diberikan untuk saya dan saudara-saudara saya adalah nama yang berbau khas jawani.

Karena menurut saya setiap nama memiliki makna, saya sempat menanyakan arti atau maksud yang sesungguhnya kenapa ayah saya memilihkan nama tersebut sebagai nama bayinya yang kedua. Berikut adalah penjelasan yang diberikan ayah saya : Dewi berarti perempuan (ini cukup jelas saya rasa). Wening diambil dari nama tengah ayah saya, yang berarti bening. Sawitri adalah nama salah satu tokoh pewayangan (ayah saya adalah seorang  seniman jawa) sering juga dikenal dengan Savitri.
          
Dari kisah yang pernah saya baca, dikisahkan Savitri adalah seorang putri dari suatu kerajaan di India. Karena teramat sangat anggun, para lelaki justru enggan meminangnya. Suatu hari ayahnya atau Raja dari kerajaan itu khawatir kalau anaknya tidak segera menemui jodohnya. Sang raja yang mulai sakit-sakitan khawatir kalau tidak akan ada penerus tahtanya kalau putrinya tidak segera menikah. Sang Putri pun berdoa kepada para dewa dan mendapat wahyu kalau suaminya bernama satyavan. Sayangnya, satyavan diramalkan berumur pendek dan hanya akan hidup setahun lagi. Dengan ikhlas, Savitri menikah dan hidup bahagia dengan suaminya. Ia selalu bertapa dan berdoa kepada dewa agar suaminya diberi umur yang panjang. Sampai-sampai ia tidak mau beranjak dari pertapaanya. Suatu ketika, ia mendapat firasat kalau satyavan akan meninggal hari itu, saat ia sedang berburu. Savitri  pun mengikuti suaminya berburu dan saat dewa kematian dating mengambil nyawa suaminya, Savitri mengikuti sang dewa kematian hingga kakinya sakit dan sebenarnya tak sanggupp untuk berjalan lagi. Namun, ia tidak menyerah dan karean kesetiaannya, sang dewa kematian mengembalikan nyawa suaminya. (ki nartosabdho)

Mungkin orang tua saya berharap agar saya dapat menjadi orang yang setia, yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk orang-orang di sekitarnya. Saya pun berharap demikian. Menjadi seseoranr yang mau berkorban untuk orang yang disayanginya adalah hal yang mulia.

Dari penjelasan tadi, dapat disimpulkan bahwa namaku, Dewi Wening Sawitri berarti seorang wanita yang berhati bening dan setia. Lalu, bagaimana dengan nama anda? Arti apa yang ada di dalamnya?

Salam,
- SW -


Monday, October 19, 2015

Tentang Satu Tahun yang Lalu, Kini, dan Nanti


Di semester-semester akhir kuliah, saya pernah iseng menjawab ketika ditanya bapak saya soal target menikah. Waktu itu, setengah bercanda, saya menjawab pasti, "insya Allah umur 23 tahun, pak." Alasannya sesederhana saya nggak mau terjebak dalam hubungan yang berlarut-larut, dalam ketidakpastian. Jadi, saya pikir usia 23 tahun adalah usia yang pas untuk menikah, walaupun saya sendiri tidak ngoyo soal hal itu. Secara waktu itu jodoh saya siapa masih diawang-awang, belum ketemu--bahkan bayang-bayangnya pun belum ada (maksudnya saya nggak pacaran atau dekat dengan siapa-siapa), jadi yah kalau Allah berkehendak saja lah, maka pernikahan di usia itu bisa terjadi.

Rupanya apa yang kita katakan benar adalah doa, semesta mengamini perkataan saya. Kejadian demi kejadian yang mengarahkan saya menuju pertemuan dengan orang yang menjadi suami saya kelak pun saya alami. Laki-laki itu ternyata dekat dengan saya, ia menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya. Kala itu, kami tidak pernah benar-benar dekat, tidak pernah banyak bicara atau saling sapa. Tidak pernah tahu isi hati masing-masing dan tidak pernah menyangka bahwa masing-masing dari kami merasakan getaran yang sama saat kesempatan mempertemukan kami berdua. Hingga waktunya tiba, kami baru mengetahui dengan pasti isi hati kami masing-masing yang selanjutnya berujung pada sebuah komitmen, yaitu: menikah.

Diambil saat dalam perjalanan menuju BKOW, tempat kami menikah di hari pernikahan kami. Ada kalimat tauhid di sana. Sama seperti yang tertulis di dalam mahar yang diberikannya untuk saya. 

Tepat setahun yang lalu, di usia saya yang ke-23. Laki-laki itu meminang saya dan semenjak saat itu, dia menjadi orang yang paling saya kagumi--melebihi kekaguman saya padanya waktu jaman kuliah dulu. Saya tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah telah mengirimkannya untuk saya, sebab saya selalu ingat perkataannya untuk membuat saya bahagia, dan bagaimana ia mewujudkannya untuk saya dengan cara-cara yang sederhana yang justru membuat saya jatuh cinta lagi  kepadanya, setiap harinya. Tidak, saya tidak berlebihan hanya saja saya memang bukan orang yang romantis. Berkata-kata dan bertindak langsung secara romantis, bukan gaya saya... hehehe. Maka dari itu, saya tuliskan semua disini saja. Saya jadi ingat, dulu laki-laki itu pernah meminta maaf karena merasa dirinya tidak romantis, lalu ia meminta didoakan agar ia bisa belajar lebih romantis lagi. Tapi siapa sangka, ternyata ia lebih romantis dari yang ia kira. Seperti ketika setiap pagi, sebelum berangkat bekerja ia selalu melebarkan kedua tangannya untuk memeluk dan mencium istrinya, seperti sesederhana menyiapkan makanan kesukaan saya untuk menghibur saya, atau menjadi dirinya apa adanya yang bisa membuat saya tertawa sekaligus geleng-geleng kepala, tidak pernah malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan banyak hal lainnya. Tanpa ia sadari, ia adalah mahluk paling romantis yang pernah saya kenal. Ah, kayaknya postingan ini sudah berubah jadi surat cinta yang panjang... jangan iri ya, heheh.

Perjalanan satu tahun ini, seperti layaknya mengemut permen kapas... eh, tiba-tiba habis. Tiba-tiba sudah setahun perjalanan yang begitu manis, namun tetap dinamis ini telah berjalan. Banyak teman-teman saya yang belum menikah kepo bertanya nikah itu enak atau nggak. Saya selalu menjawab dengan tegas, "enak!" Beneran enak banget, gimana nggak... setiap hari bisa ketemu sama orang yang disayang, bisa dengan bebas merayakan cinta, bercanda bareng, ditambah lagi dinafkahi suami, heheh. Ada nggak enaknya nggak? Jangan sedih... Ada. Tentu lah yang namanya menikah, kita akan mengalami berbagai perubahan, buat saya terutama dalam hal mengambil keputusan. Setelah menikah, apa-apa mesti memikirikan dampaknya, bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk pasangan dan anak. Nggak boleh lagi egois dan sedikit banyak harus mau berkorban. Mau makan Indomie goreng aja sekarang mesti minta izin suami. Eh, tapi tetap senang-senang aja lho walau begitu, mungkin karena kita melakukannya karena cinta ya, asyik~

Belum genap satu tahun, perayaan cinta itu kini semakin lengkap dengan hadirnya buah hati kami, Ken. Alhamdulillaah... Kami boleh jadi masih sering dianggap masih kecil oleh orang tua kami, atau orang lain. Eh, ini tiba-tiba perut mbelendung dan lahir lah seorang anak laki-laki ber-DNA kami berdua. Pertanyaan yang selalu muncul sebelum ia lahir, bisa emang mengurus anak? Siap jadi orang tua dan jadi panutan anak? Jawabannya ya harus siap, meskipun saya tahu kapasitas kami mungkin masih jauh, jauuuh dari apa yang disebut dengan orang tua yang baik. Sampai saat ini, kami masih belajar menjadi orang tua--baru 2 bulan jadi orang tua. Yah, bukan kah katanya menjadi orang tua adalah pelajaran yang terus-menerus. Jadi, harusnya sih mengurus anak itu nggak ada bosennya ya, apalagi anak bayi yang kalau kita ngedip dikit aja tahu-tahu sudah gede. Kehadiran Ken membuat perjalanan satu tahun ini bahkan terasa lebih cepat.

Kata orang, satu tahun pernikahan itu masih manis. Buat saya sangat manis, rasanya seperti masih pengantin baru (cieee...), walau sekarang sering dengan diiringi backsound tangisan dan cooing-nya Ken, hihih. "Masih"... betapa kata itu terkadang membuat saya bergidik. Ah, tapi hidup kan berjalan seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah, siapapun menyadarinya. Ya, saya memang tidak tahu bagaimana lagi kisah perayaan cinta kami, yang saya tahu saya bahagia... sebahagia itu hingga saya begitu takut kehilangan. Saya hanya bisa berdoa semoga kami bisa menjalani pernikahan ini dengan belajar, beribadah, dan berusaha menjadi lebih baik. Beruntung, suami saya adalah orang yang selalu mendukung dan membimbing saya.

Di hari ini, setelah tahu kalau ia menganggap menikah adalah kesuksesan terbesarnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada suami saya tercinta.

"Selamat ya, sayang... Kita sudah melewati satu tahun pernikahan ini dengan saling melengkapi. mengasihi dan menyayangi yang tiada henti. Semoga kedepannya kita bisa jadi lebih baik lagi sebagai individu, pasangan hidup, sekaligus orang tua. Maafkan aku yang masih banyak kekurangannya. Jangan bosan-bosan mengingatkan dan membimbing aku, ya. Impian terbesarku adalah bisa berkumpul lagi bersama dengan kamu di syurga nanti. Aamiin..." 

Untuk mengenang setahun yang lalu, dengarkan lah Nama Tuhan dan suara lantangmu yang membuatku tersenyum haru hingga kini...


Untuk Adipati Karna-ku dari Dewi Surtikanti-mu,
"Jangan pernah bosan ya merayakan cinta bersamaku, selamanya."


Jakarta, 19 Oktober 2015
- SW -