Monday, March 19, 2018

Childhood Intense Interest

Beberapa bulan terakhir ini, anak saya yang berusia 2 tahun, sedang keranjingan sama yang namanya Jam. Iya, jam biasa aja yang suka ada di dinding rumah kamu atau ada di tangan kamu (jam tangan maksudnya, hehe). Intinya segala macam jam dia suka. Kesukaannya pada jam ini ada pada level kalau diajak pergi kemana yang pertama kali ditanya adalah “Di sana ada jam nggak?”. Hmmm… Mungkin buat sebagian orang, hal ini kelihatan ajaib atau bahkan nggak penting ya. Tapi, di usia anak saya sekarang, bukan kah banyak hal-hal ‘ajaib’ yang suka bikin kita takjub? Dan yang nggak penting di mata orang dewasa itu, justru adalah hal yang menakjubkan buat anak-anak.  Jadi, buat para orang tua, fase ini bisa jadi waktu yang sangat menyenangkan sekaligus membosankan karena harus menghadapi anak yang bahas itu-itu lagi. Tapi, sebelum kita mematikan semangat belajar anak kita, mari kita bahas di sini ya. Yuk~

My son with the clock toy that he found during our visit to a kindergarten

Setelah mencari tahu dari berbagai sumber, saya menemukan kalau ternyata para ahli menyebut fase yang sedang dihadapi oleh anak saya saat ini dengan ‘intense interest’ atau kalau diterjemahkan menjadi ‘ketertarikan yang sangat kuat’ terhadap sesuatu. Fase ini biasanya muncul pada usia 2-6 tahun dan biasanya akan bertahan 6 bulan atau bahkan ada yang sampai 3 tahun (DeLoache & Simcock, 2007). Mungkin, nggak semua anak melalui fase ini sih. Hal yang menjadi ketertarikannya bisa apa saja, seperti dinosaurus, firetruck, tokoh kartun, dll. Jadi, pada fase ini anak akan merasakan ketertarikan yang membuncah terhadap sesuatu, sehingga rasa ingin tahunya terhadap hal itu menjadi sangat besar dan menjadi topik pembicaraan yang paling ia senangi.

Ternyata, dari yang saya baca, fase ini dapat berguna bagi perkembangan kognitif maupun psikologis anak. Karena di usia dini ini, kebutuhan anak masih banyak dibantu oleh orang dewasa, tentu manfaat dari fase ini bisa diambil dengan adanya ‘bantuan’ dari orang dewasa/caregiver. Bagaimana kita menanggapi dan ‘memfasilitasi’ ketertarikannya. Soal ini, mari kita bahas satu-satu di bawah ini.


Memupuk Rasa Ingin Tahu & Melatih Kemampuan Berpikir
Anak tidak perlu diajarkan untuk mencari tahu karena secara natural, mereka adalah mahluk yang senang belajar dan mencari tahu. Saya yakin yang kita butuhkan adalah bagaimana caranya memupuk rasa ingin tahu tersebut untuk selalu ada pada diri anak kita. Tentu saja di sini yang saya bicarakan rasa ingin tahu yang positif yaa, bukan kepo buat cari tahu urusan orang lain :’D. Nah, ketika anak ada di fase ini, dia akan dengan senang hati memperhatikan hal yang sedang mengusik ketertarikannya itu. Misal, anak yang suka dinosaurus akan bersemangat ketika memperhatikan buku yang menjelaskan tentang dinosaurus. Kalau anak saya, dia nggak akan bosan-bosan memperhatikan jam, mulai dari angkanya, warnanya, sampai gerakan jarumnya. Karena hal ini, dia mampu mengidentifikasi kalau gerakan jarum antara satu jam dengan jam lainnya berbeda atau angka di jam A berbeda dengan jam B. Lalu, dia mulai bertanya mengenai angka 1-12 yang berujung pada ketertarikannya untuk berhitung di usianya sekarang. Iya, ternyata Ken sudah mulai tertarik dan berinisiatif berhitung. Pada anak yang suka dinosaurus, dia akan bertanya jenis-jenis dinosaurus yang ada di buku dan dengan mudah menghapal nama-nama dinosaurus yang entah berapa banyak itu ya. Pertanyaan dan rasa ingin tahu tersebut yang akhirnya membuat anak-anak ini tahu lebih banyak hal (spesifik tentang hal yang jadi obsesinya) daripada anak lain seusianya. Tahu kan ya, otak anak-anak itu ibarat sponge yang gampang sekali menyerap informasi. Jadi, harus dimanfaatkan dengan meng-encourage anak untuk lebih banyak bertanya sekaligus melatih kemampuan berpikirnya kelak. Seperti yang dituliskan pada sebuah penelitian di bawah ini:

“A 2008 study found that sustained intense interest, particularly in a conceptual domain like dinosaurs, can help children develop increased knowledge and persistence, a better attention span, and deeper information-processing skills” (Morgan, 2017)


Melatih Kemampuan Lainnya
Kita juga bisa memanfaatkan kecintaannya pada suatu hal ini untuk mengajarinya hal lain. Misal, pada anak yang suka mobil akan lebih suka mengerjakan sesuatu yang ada gambar mobilnya, misal bermain puzzle, berhitung, mewarnai, dsb. Pernah suatu ketika saya mengajak anak saya mewarnai dengan Crayon, tetapi dia belum tertarik. Biasanya, kalau seperti ini saya tidak akan memaksa. Tapi, ketika saya mengajak anak saya mewarnai gambar jam dengan crayon, dia dengan senang hati mengerjakannya. Artinya, dengan memanfaatkan kesukaannya, saya bisa sekaligus melatih kemampuan lain, seperti motorik halus anak saya, yang ternyata dia mampu. Begitu juga dengan kemampuan berhitung yang memang sengaja belum saya kenalkan. Tapi, malah anaknya sudah tertarik duluan, jadi tak ada ekspektasi berlebih dalam prosesnya. 
Poin saya di sini adalah, kita bisa lho memanfaatkan ketertarikannya ini untuk mengajak anak melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan lainnya dengan lebih menyenangkan. Sama aja kayak kita, kalau belajar tentang sesuatu yang menurut kita menyenangkan, pasti akan lebih mudah menangkap isi pelajaran itu.

Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
Ternyata intense interest ini, menurut ahli juga bisa jadi confidence booster buat anak atau bikin anak jadi lebih percaya diri (Morgan, 2017). Ketika anak menyukai suatu topik tertentu dan secara natural semangat mempelajari tentang hal itu, dia akan mendapat banyak pengetahuan tentang topik tadi. Misalnya pada anak yang memiliki intense interest dengan mobil, ia mampu membedakan dan mengingat jenis dan nama-nama mobil yang pastinya tidak semua anak-anak seusianya bisa lakukan. Ini semacam jadi pengalaman pertamanya merasa jadi expert dalam suatu hal dan dia akan lebih bersemangat membicarakan hal itu pada orang lain, bahkan dengan orang dewasa. Yang bisa kita lakukan adalah me-reinforce hal tersebut dengan memberinya pujian yang semestinya. Hal ini juga saya perhatikan pada anak saya yang tidak segan dan bersemangat berbicara dengan orang lain tentang hal yang disukainya. Ia juga kelihatan bangga ketika ada orang dewasa yang (mungkin iseng ya, karena lihat anak ini suka banget sama jam) bertanya tentang angka dan dia bisa menjawabnya. Meskipun kalau keseringan ditanya, dia akan malas-malasan jawabnya, hahaha. Gengges kali ah ditanyain terus.

Fase ini juga bisa jadi ‘warning’ tentang adanya masalah perkembangan anak, apabila sudah terasa mengganggu. Misalnya, anak jadi terlalu attached dengan benda yang disukainya sampai tidak mau dipisahkan, lalu tantrum hebat atau cemas dan mengganggu fungsi sosial mereka. Kalau seperti ini, sebaiknya segera dikonsultasikan ke psikolog anak ya.

Jadi, kira-kira begitulah sedikit cerita tentang manfaat intense interest pada anak yang saya dapatkan dan juga hasil observasi anak sendiri. Menarik banget ya. Buat yang mau baca-baca, saya tulis sumber bacaan terkait topik ini di bawah ya. 

Kalau ibu-ibu gimana, apakah ada yang anaknya sedang atau pernah mengalami fase yang sama? 



Salam,
SawitriWening









Sumber:


The Development of Conceptual Interest in Young Children. 2008. Alexander, J.M., et al. Cognitive Development: United States

Planes, Trains, Automobiles—and Tea Sets: Extremely Intense Interest in Very Young Children. DeLouche, J.S., et al. 2007. Developmental Psychology


Thursday, February 15, 2018

Observasi Gaya Belajar Ken (Day 9 & 10)

Day 9 - Berkunjung ke Rumah Sepupu
Karena kakak saya sedang sakit dan gagal menginap di rumah orang tua kami dan saya baru enakan setelah sakit minggu kemarin, akhirnya saya memutuskan mengikuti keinginannya Ken untuk ikut ke rumah sepupunya (anak kakak saya). Walaupun ternyata saya belum fit, dan malah muntah dan pusing begitu sampai di rumah kakak saya, hiks.  Jadi hari itu, saya bisa observasi Ken tentang bagaimana dia 'belajar' di kondisi yang tidak biasa.
  • Di perjalanan, Ken banyak menggunakan visualnya untuk memperhatikan dan mengobservasi kendaraan, jalanan, atau apapun yang dilihatnya. Kemampuan kognitifnya juga memungkinkannya untuk banyak bertanya mengenai apa yang ia lihat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh. Jadi, selain memperhatikan ternyata Ken juga menggunakan modalitas auditorinya. 
  • Ketika sampai di rumah sepupunya, Ken sibuk dengan mainan-mainan yang ada di depan TV. Baginya, hal yang baru selalu menarik, apalagi mainan yang baru dilihatnya, meskipun itu bukan mainan baru. Di sini, Ken saya selalu ajarkan untuk meminta izin dengan cara memintanya berkata langsung kepada bude atau sepupunya. 
  • Sejauh yang saya perhatikan, ketika ada orang yang membuatnya tidak nyaman, Ken akan menghindari orang itu dan tidak pernah menunjukkan tindakan agresif kepada orang lain, kecuali kalau ia sudah sangat kesal. Seperti yang ditunjukkan Ken saat sepupunya mulai iseng dengan menggodanya, mengambil mainan yang sedang dipegangnya. Alih-alih merengek, dia malah meladeni candaan sepupunya itu dan kalau dia sudah lelah, maka dia akan berhenti meladeni sepupunya itu dan meninggalkannya. Cara ia meregulasi emosinya saat ini, biasanya dengan diam, menghindari orang yang membuatnya kesal/menyakitinya (mencari kesibukkan sendiri) atau dengan melampiaskannya pada benda mati, misal menendang mainan yang ada di depannya atau memukul kasur. Walau mungkin akan ada masanya yaa anak menjadi lebih agresif ke orang lain. Di sini Ken belajar bagaimana caranya menghadapi konflik dengan melibatkan emosi dan kemampuan interpersonalnya.
  • Ketika melihat tombol pada galon, Ken bertanya "Bu, ibu ini buat apa?" Lalu saya menjawab, "Itu buat ngambil air. Kalau dipencet nanti keluar airnya." Jengjeng, dia pun langsung memencet tombol itu dan keluar lah air dari dalam galon dengan deras. Only after that he completely understand what the button used for, lol. Buat dia, cara mengetahui sesuatu saat ini yang paling menarik adalah melakukan langsung dan melihat sendiri apa yang tejadi selanjutnya. Oh, tadi omongan ibu tentang fungsi tombol itu hanya numpang lewat di telinganya :'D. Senangnya kalau lagi waras, lihat begini ibu malah bahagia karena tahu kalau rasa ingin tahu Ken sebesar itu! Coba kalau lagi nggak waras, pasti udah ngomel ke Ken, "why did you do thaaaat?!! Nggak denger ibu tadi ngomong apa?!!
Day 10 - Bermain Peran dan Senang Belajar Menulis
Jadi, hari ini ibu lagi kerajinan. Lihat kardus besar teronggok di rumah, langsung keinget postingan bebikinan kardus di IG @emakisengkompakan. Bahagia banget kalau ada yang share ide-ide main anak di social media! Terima kasih, ibu-ibu :* Soalnya nambah stok ide bermain sama Ken buat saya sendiri. Makanya itu, belakangan saya juga rajin post di IG story kegiatan yang saya bikin untuk Ken. Siapa tahu kan ada yang lagi mandek juga mau bikin kegiatan apa, terus jadi terbantu karena lihat IG kita. 


Dalam proses pembuatan firetruck kardus ini yang banyak dikira bus sama orang-orang.  Banyak hal yang bisa Ken pelajari dengan melihat saya membuatnya, bagaimana saya memotong kardus, mewarnai dengan cat air, menempel kertas dan menyematkan tali. Di sini, yang saya sayangkan adalah saya tidak terlalu melibatkan Ken dalam membuatnya. Jadi, kontribusinya Ken hanya sebagai observer dan saya membiarkan dia berkreasi dengan cat warna di potongan kardus yang saya gunakan. Padahal, bisa loh saya ajak dia untuk memberi lem dan menempel roda atau tangganya, jadi dia lebih merasa kalau itu buatan ibu dan dia. Buktinya waktu ditanya yang buat siapa, Ken jawab, "Yang buat ibu ini, bukan Ken." Oke, nggak apa buat koreksi kegiatan selanjutnya.

Setelah jadi, Ken tak berhenti bertanya tentang ketidaksempurnaan bikinan ibunya, "kok rodanya begitu? kok yang ini nggak nempel? kok tangganya di sini?" Hadeeuh, Mbok yo bersykur gitu lho Ken dan ibu buatin, lol. Lalu, saya ajak bermain peran menjadi pemadam kebakaran. Kebayang dong ya dengan begitu aja semua aspek visual, auditori, dan kinestetiknya jadi terstimulasi. 


Malam harinya, adalah saat bermain bebas dan bermain dengan ayah yang baru pulang kantor. Tumben nggak main magic beads atau pipa atau bombik. Kali ini, anaknya anteeeeeng banget nulis di buku tulis, malah kalau dia lagi mau pindah posisi, buku dan pensilnya dibawa dan dia teruskan kegiatan menulisnya itu. Memang sih ya kesukaan menulis ini, ibaratnya, kayak musiman gitu. Dulu pernah ada waktu Ken sukaaa banget coret-coret pakai pensil/pulpen, tapi abis itu udah nggak suka lagi. Nah, sekarang anaknya lagi inisiatif belajar nulis sendiri nih. Rupanya, yang bikin Ken tertarik dengan menulis sekarang adalah kalau dia sadar sekarang sudah bisa bikin bentuk-bentuk dua dimensi. Kalau sebelumnya, cuma coret-coret benang kusut, sekarang sudah lebih berbentuk dan dia sudah mulai bisa mengasosiasikan coretannya itu dengan bentuk yang familiar buat dia. Misal, "Eh, ini huruf K.. for Ken!" atau "Bu, ini gambar ikan!" Walaupun sebenarnya nggak sama persis dengan benda yang dia maksud, tapi memang ada bentuk dan tarikan garis yang kalau diperhatikan memang mirip. Pantesan ajaaa anteng kan, pasti anaknya merasa, "wedeeeh, gua udah bisa gambar!" Kalau udah begini, biasanya saya diamkan saja karena dia sedang fokus sama yang dikerjakan dan baru diajak ngomong ketika anaknya bertanya atau mau menunjukkan hasil karyanya.

Kesimpulan Observasi
Semacam lagi ngerjain tugas kampus, hahah. Kesimpulannya sih gaya belajar Ken saat ini sih yang paling dominan masih di kinestetik dan auditori. Tapi, semua itu bisa jadi dipengaruhi oleh tahap perkembangan kognitifnya dia yang sekarang dan pengetahuan serta kemampuan lainnya. Makanya, penting banget stimulasi anak di berbagai aspek supaya dia bisa lebih eksplor dengan gaya belajar apa anak lebih nyaman dan bisa dapat pemahaman tentang sesuatu jadi lebih baik. Makanya, ayo ibu-ibu semangat stimulasi anak dengan berbagai pengalaman dan kegiatan (ngomong sama diri sendiri)!

Terakhir, saya senang banget mengerjakan observasi ini karena bikin saya bisa fokus sama kelebihan anak bukan pada kelemahannya, "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". Meskipun pada praktiknya nggak semudah itu ya karena nggak ada orang tua yang sempurna. Sebab, kalau ada yang salah pada anak kita, yang semestinya berkaca adalah kita kan orang tua yang mendidiknya.

Salam,
Sawitri Wening

Saturday, February 10, 2018

Observasi Gaya Belajar Ken (Day 7 & 8)

Bicara soal gaya belajar anak, tentu kita harus mengetahui juga tahap perkembangan kognitifnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif seseorang terdiri dari 4 tahap, yaitu sensorimotor (0-2 tahun), Pra-operational (2-4 tahun), Concrete Operational (7-11 tahun) dan terakhir tahap Formal Operational. Ini membantu saya memahami tentang bagaimana Ken memahami sesuatu. Saat ini, Ken terlihat masuk ke dalah tahap pra-operational, dimana ia sudah mulai bisa membayangkan benda yang tidak ada, namun belum sepenuhnya memahami berbagai aturan dalam benda itu. Dimana ia mulai sering melontarkan pertanyaan ataupun pernyataan yang terkadang membuat kami takjub bahkan tertawa geli. Semua itu karena adanya perbedaan persepsi saya dan Ken dalam memandang sesuatu dan kemampuan kognitif yang berbeda antara orang dewasa dan anak balita. Betapa saya takjub ketika Ken bertanya kritis tentang siapa pemilik topi yang tidak bundar dalam lagu “topi saya bundar”. Atau ketika Ken mulai berlogika dengan meng-counter pernyataan ibunya, “ibu sayang ken karena ken anak baik” Lalu, ia akan bertanya, “Kalau Ken nggak baik? Berarti ibu nggak sayang Ken.” Padahal kan tidak begitu, tapi kalau tidak diberi penjelasan, Ken belum bisa memahaminya. Dan banyaaak sekali pertanyaan-pertanyaan “kok begini.. kok begitu..” yang menunjukkan bertambahnya kemampuan kognitifnya sekaligus keterbatasannya.

Penjelasan mengenai tahap perkembangan ini juga menjelaskan beberapa catatan saya sebelumnya tentang bagaimana Ken ‘mempelajari’ sesuatu. Artinya, sebenarnya gaya belajar yang ditunjukkan anak di usia ini bisa sangat berubah, menyesuaikan dengan, salah satunya, perkembangan kognitifnya. Makanya usia Ken ini sebenarnya lebih ke kinestetik karena tahap perkembangan kognitifnya juga masih berkutat di antara sensorimotor dan pra-operational.

Baiklah, mari kita mulai catatan hari ke-7 dan ke-8 kita…

 Day 7 - Senang dengan Permainan Sensori
Ken masih sangat mencintai permainan yang melibatkan indera sensorinya.  Kayaknya makin bisa kotor-kotoran, makin happy deh dia. Makanya, mainan cat air adalah permainan yang hampir nggak mungkin ditolak Ken karena memang masih berkutat di tahap sensorimotor dan praoperasional. Ken sangat menikmati melukis dengan waterbeads dan telapak tangannya (ini sih improve sendiri, seneng banget anaknya liat tangannya berwarna, hahaha). Keseruan Ken nguplek-nguplek cat air dan waterbeads kali ini, dimanfaatkan juga untuk setimulasi visualnya yaitu dengan mencampurkan warna-warna yang ada di palete sehingga menjadi warna baru. 

Day 8 - Bagaimana caranya?
Sejak Ken masih di Bristol, saya jarang sekali melarang Ken memainkan sesuatu selama benda itu nggak berbahaya untuknya. Ya mainannya Ken panci, sendok, keranjang, laci, pokoknya apa pun yan bikin dia penasaran aku persilakan. Saya senang sekali lihat Ken yang sedang penasaran sama sesuatu, dia bisa diam lamaaa deh kalo udah utak-utik barang. Kayaknya mau tahuuuu banget gimana suatu benda bekerja. Seperti tempo hari, ketika mbah putrinya membelikan kinciran bambu yang bisa bunyi ‘keteketekeketeketek” itu lho kalau digerakkan dan berputar. Sementara anak lain happy lihat kincirnya berputar dan suka dengan bunyinya, Ken malah penasaran bunyi itu darimana asalnya. Jadi dia perhatikan deh tuh bagian-bagian kincirnya dan bertanya, “ibu ini buat apa?”. Yang akhirnya dia tahu kalau lidi yang ters di balik kincir itulah yang membuatnya bisa berbunyi. “Oh ini ya yang bikin bunyi? Kalo dicopot?” Dia copot beneran dong lidinya, ya jadi nggak bisa bunyi. Buat orang yang lihat kejadian tadi sebagai hal negatif pasti akan menyimpulkan kalau ‘hadeuh, nih anak ngerusakin aja sih’, tapi kalau say a malah senang karena itu menunjukkan rasa ingin tahu Ken yang sangat tinggi. Yah seringnya sih butuh kesabaran dan tenaga ekstra sih untuk menanggapi rasa ingin tahunya, terutama kalau hal yang ingin ia 'pretelin' itu milik orang lain. Mudah-mudahan waras terus demi menjaga fitrah baik ini.



Ken bisa khusyuk diam saat mencari tahu bagaimana bisa menyangkutkan mobil ke mainan tow-trucknya atau bagaimana caranya bisa memasukkan sedotan ke dalam lubang yang ada di mainan robocar poli-nya. Hari ini dia sibuk membongkar tempat aqua dan mencoba memasangnya lagi dan seperti biasa, ibunya nggak boleh bantuin “Ken aja yang masukkin” katanya. Kalau dilihat dari salah satu teori, Ken juga menunjukkan gaya belajar analitis dan logis yaitu dengan mencari tahu bagaimana sesuatu bisa bekerja, saat ini ya caranya dengan membongkar pasang barang-barang tadi. Mungkin kelak yang diutak—atik soal matematika atau fisika ya… 

Sekian dulu catatan hari ini.. Mohon maaf dirapel karna ibu sedang tidak sehat. Semoga besok masih diberi umur untuk melanjutkan catatan ini lagi. Semangat!

Cheers,
Sawitri Wening


Wednesday, February 7, 2018

Observasi Gaya Belajar Ken (Day 6)

Salah satu fakta ketika kita telah menyiapkan suatu kegiatan untuk anak adalah terkadang terjadi penolakan. Hari ini, saya bermaksud mengajak Ken bermain peran dengan menggunakan wayang-wayangan kertas yang saya buat sederhana sekali dengan menggunakan kertas dan stik es krim untuk melatih aspek kinestetik dan auditorinya. Ketika saya membuatnya, Ken senang sekali memperhatikan apa yang saya buat, namun ternyata ketika kami hendak memainkannya ia bilang, “Ken nggak suka. Mau main batu sama Mbah Kakung.” Jadi, sore itu, Ken pun banyak bermain batu dengan Mbah kakung. Iya, batu beneran yang ia pungut dari jalan pagi tadi bersama Mbah kakung, hahaha. Memang sih, saya bilang Ken bisa main lagi setelah tidur siang. So, dia pasti akan menagih janji itu. Bagi saya, dengan begitu kami sama-sama belajar kalau anak punya preferensi bermain sesuai dengan ketertarikan dan moodnya saat itu dan anak juga bisa belajar bagaimana orang tua menanggapi penolakannya. Apakah langsung baper, lantas jadi marah-marah dan memaksa atau just let the children choose what they want to play. Saya jadi ingat, kata-kata Mbak Vidya di bukunya, kalau ini semua bukan tentang kita, tapi tentang anak kita, kan. Sekian curhatan emak, mari lanjut ke bagian observasi.

Melatih Auditori dengan Menyanyikan Buku Cerita 
Seperti yang sudah saya tuliskan kemarin kalau salah satu kebiasaan Ken adalah ‘mengarang lagu’ yang ternyata sebenarnya seringnya yang ia lakukan adalah melagukan kata-kata yang ingin diucapkannya. Sekilas, ini salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh anak dengan gaya belajar auditori. Hari ini, saya mencoba bereksperimen ketika membacakan buku untuk Ken. Bila kemarin dengan meniru gerak dan tracing huruf di dalam buku, kali ini saya lakukan dengan bernyanyi! Ehem, nggak usah ngebayangin nyanyinya bakal cakep kayak di kartun-kartun disney tapi. Tapi, saya baru paham dengan metode mendongeng dengan melagukan cerita yang biasa dilakukan kakak-kakak pendongeng. Oooh, ternyata untuk melatih auditori juga yaa selain untuk menarik perhatian anak.

Ken terlihat heran ketika saya mulai menyanyikan cerita dan semakin tertarik ketika ada bagian yang saya beri tekanan dengan ekspresi berlebihan. Saya sengaja memilih cerita yang tidak pernah dipilih Ken dari kumpulan dongeng karangan Clara Ng yang berjudul “Sejuta Warna Pelangi”. Sekadar ingin melihat reaksinya, apakah ketika saya membacakan cerita yang sebelumnya tidak menarik untuk Ken dengan cara bernyanyi, Ken akan tertarik. Ken menyimak ceritanya sampa selesai, namun saya bisa melihat kalau ia lebih senang ketika saya ikut menirukan apa yang dilakukan tokoh dalam cerita, misal memeluk dan tersenyum lebar. Ken dapat pengalaman baru dengan membaca sambil bermain dan beberapa kali meniru saya menyanyikan kalimat-kalimat dalam buku. Berasa jadi ibu peri di  film Cinderella, cerita sambil nyanyi-nyanyi, hahaha. That was really fun though.

Ketika masih di Bristol, rasanya saya rajin sekali memutar murottal, asmaul husna, atau lagu-lagu anak untuk Ken saat sedang bermain. Tapi, sekarang entah kenapa jadi jaraaang sekali. Malam harinya saat sedang bermain (lagi-lagi) dengan magic beads-nya, saya menyetelkan asmaul husna untuk Ken untuk melatih auditori sekaligus memberi asupan bergizi untuk Ken sambil mengenalkan lahfadz Allah SWT.

Sekian catatan hari ini. Sampai jumpa di catatan besok, insya Allah.

Salam,

Sawitri Wening

Tuesday, February 6, 2018

Observasi Gaya Belajar Ken (Day 4 & 5)

Dari hasil pengamatan tiga hari belakangan, saya melihat bahwa gaya belajar Ken dapat berubah-ubah tergantung kegiatan yang dilakukannya saat itu. Dari beberapa sumber yang saya baca juga, gaya belajar dominan seseorang, dalam jangka panjang juga dapat berubah seiring dengan bertambahnya kemampuan dan pengetahuan kita. Saya jadi merefleksikannya pada diri saya sendiri saat masih sekolah. Ada saat dimana mendengarkan guru/dosen saat mengajar sambil mencatat atau membuat rangkuman kecil sebelum ujian, menjadi kebiasaan saya untuk bisa memahami materi yang diajarkan. Di sini, gaya belajar yang saya gunakan adalah kinestetik, yaitu memahami sesuatu dengan lebih baik ketika saya menggerakkan tangan saya (untuk mencatat). Ada pula waktu dimana saya lebih suka memahami suatu materi dengan cara menonton video mengenai materi tersebut. Misal, ketika belajar mengenai gangguan psikologis seseorang dalam mata kuliah klinis kesehatan, saya akan lebih mudah memahaminya setelah menonton film/video mengenai gangguan tersebut. Di sini ternyata modalitas visul saya yang lebih dominan.

Kali ini, saya langsung tulis hasil observasi saya mengenai gaya belajar Ken di hari ke-4 dan ke-5 ya...

Day 4
Di hari ke-4 ini, kegiatan yang saya lakukan dengan Ken adalah mengenalkannya dengan perbedaa  ukuran benda. Sebelumnya, Ken sudah bisa membedakan, mana benda yang lebih tinggi, lebih pendek, lebih besar dan lebih kecil. Tapi, ia belum pernah saya ajarkan tentang benda yang lebih berat/ringan. Jadi, sambil bermain pasir kali ini, sekalian deh belajar membedakan ukuran-ukuran benda. Sebenarnya belajar tentang hal ini bisa dilakukan kapan saja, dengan apa saja, dan dimana saja. Tapi, supaya bermain pasirnya lebih terarah, jadi saya manfaatkan untuk belajar hal tadi. Seenggaknya ada waktu dia fokus mempelajari sesuatu, sebelum akhirnya pasirnya dilempar, dituang, yang kadang suka bikin mamak senewen duluan karena jadi berantakan 😂 


Kegiatan ini lebih banyak menuntutkan menggunakan visualnya untuk mengobservasi ukuran dari yang besar dan yang kecil. Meskipun, masih butuh bantuan tapi, Ken mulai paham kalau ukuran benda-benda itu bisa berbeda-beda dari yang paling besar ke yang paling kecil. Kegiatan ini kami ulang lagi malam harinya dengan magic beads dan anaknya makin semangat dan takjub sendiri lihat kalau ia bisa membuat tangga dari magic beads! 😊. Ketika diminta membedakan berat bola pasir yang lebih besar dan lebih kecil, Ken juga terlihat surprised karena baru menyadari kalau ternyata beratnya beda ya. Dalam kegiatan ini, modalitas yang banyak digunakan adalah visual dan kinestetik.

Selain itu, saya juga sering menemukan Ken melagukan kata-kata yang ingin disampaikannya. Terkadang terdengar seperti mengarang lagu, padahal mungkin sebenarnya dia senang menyenandungkan apa yang diucapkannya. Misalnya seperti kemarin saat ia mengajak saya ke atas, dia akan menyanyi, “ibu..ibu.. ayo kita ke atas” dengan nada semau dia. Hmm… mungkin lain kali saya akan coba menyanyikan buku yang saya bacakan dan mencatat bagaimana reaksinya dan untuk menstimulasi auditorinya.


Day 5
Ketika sedang menonton berita tentang banjir di TV, Ken duduk di samping saya. Lalu, ia tiba-tiba berkata “Ada huruf W-nya! Ada huruf O-nya!” Saya cukup surprised karena selama ini, saya tidak pernah mengajarkan alfabet secara khusus. Namun, sedikit-sedikit saya kenalkan ketika misal sedang membaca buku atau saat Ken sedang menonton video (saat itu ia tidak terlihat tertarik). Huruf yang ia hapal adalah A, W, dan O.. A dan W karena selalu disebut untuk memberitahu posisi duduk yang benar (A) dan yang salah (W). 

Yang bikin saya surprised adalah, ternyata Ken tertarik memperhatikan huruf-huruf di TV (bukan gambar seperti biasanya). Saat itu, bisa dilihat kalau ia sedang menggunakan modalitas visualnya. Sehingga kegiatan yang saya rancang untuk hari ini adalah berkaitan dengan huruf.

Lalu, ada suara-suara yang bilang “kok udah diajarin huruf sih (membaca), dsb.” Buat saya, selama cara mengenalkannya dengan cara yang fun dan tidak membuat anak merasa terbebani, it’s totally fine! Karena sebenarnya, membaca huruf itu sama dengan melihat dan merekam bentuk (buku kognitif manaaa buku kognitif~~~). Yang membahayakan adalah ketika kita memaksa anak untuk menghapal huruf-huruf tersebut sehingga anak merasa terbebani dan akhirnya menganggap bahwa belajar membaca itu tidak fun.

Saya menjadwalkan invitation to play setiap sore, setelah Ken tidur siang. Kali ini, saya mengajaknya membuat playdough dan menempelkan dough itu di pola huruf namanya sehingga menjadi huruf timbul. Senang sekali saat prosesnya, terutama proses menempel dough ke huruf. Ken belajar kerjasama, tekstur, bahkan rasa (karena doi maksa makan terigunya). Setelah itu, Ken diminta tracing huruf-huruf timbul tadi dengan jarinya untuk mengenalkan pola dan juga belajar gerak saat menuliskan benda itu. Kali ini kebutuhan bergerak lah yang diperlukan dan dia terlihat enjoy sambil tertawa-tawa.


Malam harinya, saya coba bereksperimen dengan Ken. Setiap sebelum tidur, seperti biasa Ken akan minta dibacakan buku (kayaknya sih motivasinya supaya waktu mematikan lampunya bisa dipending lebih lama 😂😂😂). Ada kala dimana Ken bisa duduk diam mendengarkan saya membaca, tidak malan tadi… Belum selesai saya membaca, dia sudah melompat turun kasur dan bergerak-gerak kesana kemari.

Lalu muncul bohlam di kepala saya, Aha! Bagaimana caranya supaya anak kinestetik ini mau membaca di samping saya sampai selesai. Saya pun memintanya menirukan apa yang dilakukan tokoh dalam cerita, misal ketika U sedang makan ayam. Ah iya kebetulan buku yang dipilih Ken berjudul “The Origin of My Name” dari Rabbit Hole.. Pasti tahu kan ibu-ibu. Buku ini juga sedikit-sedikit mengenalkan huruf. Yeay… jadi satu tema dengan kegiatan kali ini. Jadi, beberapa kali Ken juga saya ajak menggerakkan jarinya mengikuti bentuk huruf yang ada di buku itu. Dan, Wah.. anaknya ada di samping saya sampai baca bukunya selesai. Strategi belajar kinestetik kali ini berhasil!

Salam dari anak yang girang banget dibikinin jam tangan dari terigu :p


Besok mungkin saya akan mencoba membaca buku dengan bernyanyi, apakah Ken masih akan tertarik?

Sekian catatannya

Cheers!
Sawitri Wening