Tuesday, August 8, 2017

Menghidari Melakukan Kekerasan pada Anak

“Bego banget sih! Makan yang bener, Tolol!” 

Kata-kata tersebut pernah saya dengar sendiri keluar dari mulut seorang ibu kepada anaknya. Entah kerjadian apa persisnya yang membuat ibu itu mengeluarkan kata-kata mengerikan kepada anaknya sendiri, yang masih berumur sekitar dua tahun itu. 

*

image frome here
Sebagai orang tua, tentu kita pernah menghadapi masa-masa sulit dalam mengasuh anak. Kejadian seorang ibu menyakiti anaknya sendiri baik secara fisik ataupun verbal bukan lah pemandang yang langka kita temui. Bahkan mungkin kita sendiri pernah menyakiti anak kita sendiri karena perasaan marah atau frustrasi menghadapinya yang sedang sulit diatur. Tentu saja hal seperti itu terkadang tidak dapat dihindari, karena orang tua juga manusia yang emosi negatifnya bisa tersulut sewaktu-waktu. Namun, tahukah kita bagaimana dampaknya pada anak kita kelak?

Untuk lebih memahami pentingnya mengontrol diri kita agar tidak menyakiti anak, kita perlu mengetahui hal apa yang bisa ditimbulkan dari kekerasan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan kekerasan yang terjadi pada berdampak jangka panjang pada anak. Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan dari kekerasan anak dari berbagai penelitian:

1. Kurangnya kemampuan mengidentifikasi dan mengontrol emosi 
2. Berpotensi menyakiti diri sendiri atau self-harm ketika sudah dewasa 
3. Menimbulkan kecemasan, depresi, sulit berkonsentrasi, dan rendah diri 
4. Berkaitan dengan potensi menjadi korban kekerasan di kemudian hari 


Dr. Dan Siegel (2011) menyebutkan setidaknya ada empat cara praktis yang dapat kita lakukan apabila sedang menghadapi situasi yang sulit saat membersamai anak. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat menjadi celah untuk kita, para orang tua, untuk dapat mengembangkan self-regulation atau kemampuan mengelola emosi kita dan anak. 

1. Berusaha untuk tidak menyakiti anak
Ketika sedang menghadapi situasi sulit dengan anak, berusahalah untuk menanah diri untuk tidak berkata kasar dengan menutup mulut. Letakkan kedua tangan kita di belakang untuk menghindari melakukan kekerasan fisik seperti memukul atau mencubit anak. 

2. Menjauh dari anak sejenak
Beri waktu sejenak pada diri kita untuk ‘bernapas’. Caranya dengan meninggalkan atau menghindari anak kita sebentar sampai kita merasa lebih tenang. Beri penjelasan kepada anak agar ia tidak merasa diacuhkan bahwa kita sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk beberapa saat dan akan kembali lagi ketika sudah tenang. 

3.Bergerak!
Ketika kita sedang meluangkan waktu untuk menyendiri, mulai lah mengatur nafas dengan perlahan dan bergeraklah! Penelitian menunjukkan apabila kita bergerak atau melakukan relaksasi, hal itu akan berdampak pada perubahan emosi kita. Contoh sederhananya adalah, ketika kita tersenyum, maka kita akan merasakan lebih senang. Apabila kita mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, kita akan merasa lebih tenang. Bisa juga dengan melompat-lompat, menari atau apapun, asalkan kita bisa merasa lebih nyaman dan lega.

4. Segera perbaiki situasi dengan anak kita
Saat kita sudah tenang, segeralah kembali kepada anak kita dengan menerima sepenuhnya kejadian sebelumnya. Apabila hal yang tidak diinginkan sudah terlanjur terjadi, sebaiknya segeralah meminta maaf dengan anak kita dan sampaikan penyesalan atas apa yang sudah kita lakukan. Lalu, mulailah memahami emosi dan kondisi yang dialami anak, agar baik kita ataupun anak kita kembali pada kondisi emosi yang lebih stabil. Dengan begitu, hubungan antara kita dan anak kita bisa kembali baik.

Semoga kita semakin menyadari dampak buruk dari kekerasan kepada anak dan sebisa mungkin menghindarinya dan semakin sabar ketika membersamainya. Sebab masa depan anak-anak kita kelak, ada di tangan kita sekarang.


Artikel ini dimuat di haisobat.id.

haisobat.id  situs yang berisi info terkait life style, mental health issue, dsb.


Sumber:
Goldsmith, R., & Freyd, J. (2005). Effects of Emotional Abuse in Family and Work Environments: Awareness for Emotional Abuse. Journal of Emotional Abuse, Vol. 5(1).

Siegel, D.J., & Bryson, T.P. (2011). The Whole-Brain Child. New York: Deracorte Press.

Effects of Child Abuse & Neglect. Retrieved from http://www.joyfulheartfoundation.org/learn/child-abuse-neglect/effects-child-abuse-neglect

Vardigan, B. (2017). Yelling at Children (Verbal Abuse). Retrieved from https://consumer.healthday.com/encyclopedia/children-s-health-10/child-development-news-124/yelling-at-children-verbal-abuse-648565.html

Friday, July 28, 2017

#NHW9 Belajar menjadi Agen Perubahan

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Wah, nggak berasa udah masuk ke tugas terakhir di perkuliahan matrikulasi ibu profesional. Meskipun masih harus lebih memacu diri untuk bisa istiqomah menjalani hal yang sudah dituliskan di dalam #nhw ini, namun sejauh ini, saya merasakan sekali manfaatnya, terutama dalam hal memaknai peran saya sebagai ibu, istri, maupun diri sendiri secara lebih positif. Senangnya lagi bisa kenalan dengan ibu-ibu jebat yang kurang lebih punya visi yang sama, yaitu menjadi individu yang lebih baik lagi. Luv banget deh pokoknya sama ibu-ibu #iipbekasi <3

Tugas kali ini, saya merasakan banyak keterkaitan dengan tugas sebelumnya. Bahkan, sepertinya ide yang akan saya tuliskan pada tugas ini sudah saya singgung di #nhw8. Nah, di sini, saya diajak untuk memikirkan lagi bagaimana mengolah minat saya supaya bisa jadi hal yang bermanfaat bagi orang banyak atau di kelas ini kami menyebutnya dengan "misi spesifik hidup".

Start from The Empathy. Mungkin kalau membaca bagan yang saya buat di bawah ini, isu sosial yang saya tuliskan sangatlah luas. Namun, apabila dilihat dari minat yang saya miliki, saya merasa dengan menulis kita bisa membagikan hal apapun yang menurut kita bermanfaat untuk dibaca orang lain. Poin yang saya tuliskan di bawah ini, tentu saja berawal dari kedekatan pengalaman saya sendiri. 

Pertama, sebagai seorang ibu baru, saya pernah mengalami baby blues, kebosanan, bingung menghadapi anak yang kolik, dan segudang masalah lainnya. Dengan membagikan pengalaman itu, saya berharap orang yang membacanya sedikit banyak bisa mendapatkan insight untuk mendapatkan solusi dari masalah serupa yang mereka hadapi. 

Kedua, ini sangat dipengaruhi oleh background pendidikan saya di bidang psikologi. Saya merasa belum banyak orang yang merasa kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ingin sekali saya menuliskan pengetahuan yang saya miliki mengenai isu tersebut agar orang bisa mengambil manfaatnya. Namun, dalam hal ini masih banyak keraguan yang saya rasakan. Terutama karena merasa belum mumpuni dan banyak ilmu yang sudah lewat dari kepala saya. Sehingga apa yang harus saya lakukan untuk menjalani misi ini adalah dengan mempelajari lagi ilmu-ilmu tersebut agar lebih dapat menguasainya dan akhirnya percaya diri untuk menuliskan dan membagikannya.

Ketiga, berdasarkan pengalaman pribadi, saya senang mencari tahu terlebih dahulu mengenai produk yang hendak saya beli. Saya merasakan manfaatnya ketika membaca review orang lain di blog ataupun di website. Jadi, saya pikir kenapa saya tidak melakukan hal yang sama. Membantu orang lain untuk memberikan second opinion terhadap produk yang hendak dibelinya supaya nilai kebermanfaatannya lebih terasa. Ya, sesederhana itu, 



Semua itu, menurut saya bisa saya lakukan sekarang juga, di blog atau platform lainnya. Tinggal mengumpulkan tekad untuk mengerjakannya aja nih yang butuh semangat membara.

Sekali lagi, doakan saya ya!

Salam,
Sawitri Wening

Tuesday, July 25, 2017

#NHW8 What's Next?


Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Pada tugas kali ini, saya diajak untuk lebih fokus pada hal apa yang ingin dikaryakan dan merumuskannya secara teknis melalui perencanaan strategis.

Image from here
Lalu, bagaimana kaitannya dengan BE, DO, HAVE 

1. Kita ingin menjadi apa? (BE)
Ingin menulis hal-hal yang bermanfaat secara produktif. 
Kalau menengok kembali #NHW 7 tentang menjadi ibu yang produktif dan diminta untuk memilih salah satu kegiatan di kuadran aktivitas suka-bisa, saya akan memilih kegiatan menulis. Alasannya karena saya bisa merasakan kebahagiaan tersendiri saat sedang menulis dan membagikannya ke orang lain untuk dibaca. Alasan lainnya adalah saya berharap dengan tulisan tersebut saya bisa berbagi manfaat dengan orang lain. Hal yang saya bagi tidak jauh-jauh dari cerita saya menjalani hari sebagai seorang ibu dan istri. Sehingga bagi saya, menulis adalah cara saya menyalurkan perasaan, mengevaluasi diri, sekaligus menyimpan kenangan dan menjadi pengingat bagi saya di masa depan. Ya, seperti yang sudah saya tuliskan di tugas sebelumnya, menulis itu adalah kegiatan yang therapeutic buat saya dan sering kali ketika saya sedang lalai, saya diingatkan lagi oleh tulisan saya sebelumnya. 

Hal yang ingin saya sampaikan bisa berupa apa saja terkait dengan pengalaman parenting, review produk, buku, atau pemikiran yang bisa mengubah sesuatu ke arah yang lebih positif dan mempromosikanpentingnya meningkatkan kesehatan mental baik untuk diri sendiri, maupun orang di sekitar kita. 

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Di titik ini, saya merasa ilmu saya untuk membagikan hal yang bermanfaat melalui tulisan masih sangat kurang. Sehingga lagi-lagi menulis jadi salah satu alasan saya untuk mau banyak membaca dan belajar. Tapi, ternyata saya sadar kalau cara menulis saya tentu masih jauh dari sempurna, sehingga perlu banyak latihan dan jam terbang.

So, yang harus saya lakukan adalah memperbanyak jam terbang menulis dimulai dengan membuat satu tulisan minimal dalam seminggu dan mulai meng-encourage diri saya sendiri untuk berbagi tulisan di platrform atau komunitas sehingga kebermanfaatnya lebih bisa tersebar luas. Selain itu, saya juga mesti banyak belajar melalui berbagai sumber dan membaca buku tentang parenting, pengembangan diri, keluarga, dan agama. Targetnya dengan membuat jadwal membaca perhari atau 3 judul buku dalam seminggu. Maklum, saya suka baca beberapa buku dalam satu waktu. Semua itu tentu dilakukan dengan membersamai anak dan mendahului kewajiban sebagai istri. Sambil menerapkan apa yang sudah didapatkan dengan keluarga, sambil membagikannya kepada orang lain agar ilmu semakin tersebar.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya bercita-cita membuat buku/novel dengan tema yang saya minati dan dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya. Ya Allah... ini cita-cita dari jaman SMP dan nggak berubah, cuma motivasinya yang naik turun dan insya Allah ingin memperbaiki diri dan strategi untuk mencapainya, Yang penting, luruskan niat... luruskan niat untuk berbagi manfaat, bukan yang lain. Insya Allah...
Selain itu, melalui perjalanannya, saya ingin tetap membersamai anak dan membentuk karakter anak-anak yang sholeh, haus akan ilmu, dan banyak memberikan manfaat juga buat orang-orang di sekitarnya kelak.

Lanjut ke pertanyaan selanjutnya...
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain, terutama untuk keluarga dan kemudian masyarakat. Caranya, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, menulis, salah satunya.

2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
Dalam 5-10 tahun ke depan, berarti usia saya sekitar 31-36 tahun ya... Saya ingin bisa lulus sekolah lagi di bidang psikologi atau pendidikan untuk menunjang, tetap aktif menulis di blog dan menulis artikel di website/komunitas, menghasilkan 1-3 buku yang memberikan value positif bagi pembacanya, mengajak Ken untuk mencoba aktif menulis

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
Dalam satu tahun ke depan, saya ingin membuat minimal 96 tulisan di blog, mulai menulis di majalan/website lain, mendapatkan beasiswa S2, menguasai ilmu bunda sayang dalam perkuliahan institut ibu profesional.

"Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH" - Institut Ibu Profesional


Salam Perubahan,
Sawitri Wening

Friday, July 21, 2017

Belajar dari Kematian


Rasanya setengah nggak percaya waktu suami saya bilang tadi pagi kalau Chester Bennington meninggal karena bunuh diri. Rasanya sedih deh dan makin sedih ketika baca artikel tentang apa yang bikin vokalis band Linkin Park ini memutuskan untuk menyudahi hidupnya. Berita itu bikin saya merenung malam ini dan ingin menumpahkan semuanya di sini.

Saya inget banget waktu SMP suka banget sama Linkin Park karena ketularan teman sebangku, namanya Vika, yang udah ngefans duluan sama Linkin Park. Beli kaset Meteora dan hapal mati semua lagu-lagu di album itu. Entah karena apa, saya pun tidak terlalu mengikuti perkembangan band ini lagi. Sampai jaman kuliah, kalau karaokean sama temen, wajib kudu nyanyi lagu Faint dan sukses bikin temen-temen saya bengong karena nggak nyangka Wening pernah yak punya selera musik kayak begini, sambil nge-rap ala Shinoda lagi, heheh. Masih inget banget tampang mereka yang nggak percaya, sambil geleng-geleng kepala. Haduh, walaupun singkat, tapi ngena banget di hati. 

Sekarang pemilik suara melengking dan khas itu sudah tiada :'(. Mungkin cerita ini nggak sekali dua kali kita dengar, tentang public figure yang popularitas dan materinya mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata ada hal yang nggak bisa dibeli dengan semua itu. Chester had been struggling with the beast called depression and decided to take his own life.

Kita mungkin nggak benar-benar bisa tahu apa yang dialami dan dirasakan orang-orang yang sedang mengalami depresi. Dari salah satu berita yang saya baca, ternyata Chester punya pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan dan saya sedih banget waktu tahu hal itu :(

“I was getting beaten up and being forced to do things I didn’t want to do. It destroyed my self-confidence,” he told the British music site Team Rock in 2014. (dailytelegraph.com.au)
“Like most people, I was too afraid to say anything. I didn’t want people to think I was gay or that I was lying,” he said. (dailytelegraph.com.au)

Satu hal yang bisa saya pelajari, bahwa ternyata pengalaman masa kecil seseorang itu bisa sangat membekas dan berpengaruh besar dalam membentuk pribadi seseorang nantinya. Lagi-lagi pengingat buat kita semua tentang pentingnya membersamai anak dan menjaga anak-anak kita dari hal-hal yang buruk. Bahkan, untuk seseorang yang punya 'akses' seperti Chester pun, hal ini bukan hal yang mudah untuk dihindari. 

Saya nggak tahu bagaimana rasanya mengalami kekerasan seperti yang dialami Chester. Pasti berat. Tapi, saya bisa cerita kalau saya pernah punya trauma masa kecil yang sampai saya besar, terkadang masih suka teringat, terutama kalau emosi saya lagi nggak stabil. Masa-masa senggol-bacok pas pms gitu, kadang masih suka teringat. Padahal waktu itu saya hanya melihat sesuatu yang nggak menyenangkan untuk saya, bukan merasakan kekerasan fisik... Tapi, ternyata apa yang saya lihat nggak baik untuk mental saya dan terkubur di alam bawah sadar saya karena sengaja saya supress. Yang membantu saya untuk mengurangi dan menghilangkan 'bayang-bayang' itu adalah dengan bercerita ke orang lain, apa yang saya rasakan alias curhat.

Jadi, buat siapa pun yang merasakan ada beban di pundaknya yang begitu berat atau ada hal yang susah banget lepas dari pikiran dan hati, dan kamu merasakan hal itu membuat kamu nggak nyaman, please, please, please talk to someone. Cerita sama siapapun yang bikin kamu nyaman. Ke sahabat kamu, ke orang tua kamu, atau kalau memang kamu merasa nggak bebas berbicara dengan orang yang kamu kenal, pergi lah ke psikolog. Mereka adalah orang-orang yang belajar dan dilatih untuk membantu menangani masalah seperti ini. 

Saya kurang tahu apakah di Indonesia ada suicide hotline yang aktif (mohon dibantu infonya ya kalau ada), tapi bagi siapapun yang butuh bantuan, silakan menghubungi: 

Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI 
Telp: (021) 78881150
E-mail: klinikterpadu@yahoo.com

Kita juga bisa membantu orang yang mengalami depresi dengan membawanya ke tenaga ahli, apabila mendapati tanda-tanda ini pada orang di sekitar kita:
image from here

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan mohon dikoreksi kalau ada yang salah ya.


Chester, thanks for the lesson.. you'll never be forgotten. RIP.

Monday, July 17, 2017

Ken's Potty Story (Part 2)

Bermain di Halaman Rumah
Saya nggak nyangka, ternyata potty training itu adalah proses yang panjang, yang di dalamnya ada bab-bab tersendiri. Halah, macam novel aja. Pengennya anaknya seminggu latihan langsung bisa, tapi ternyata kan nggak πŸ˜‚. Seperti perkembangan lainnya, saya yakin setiap anak pasti punya cerita sendiri tentang proses potty trainingnya. Kayak waktu itu, usai sholat di London Central Mosque, ada seorang ibu dari Palestine menyapa saya. Beliau menanyakan berapa usia Ken dan ujug-ujug bertanya apakah Ken masih pakai popok? Rupanya, pertanyaan itu disambung dengan cerita tentang anak perempuannya yang kurang lebih usianya sama dengan Ken. Beliau bilang, anaknya sudah lulus potty training dalam waktu 3 hari saja. Nah, ternyata ada kan yang bisa secepat itu juga, dan mungkin banyak juga yang butuh waktu berbulan-bulan sampai lulus, zero accident.

Saya ingat, beliau lalu meng-encourage saya untuk mencoba tidak mengenakan Ken popok saat tidur malam. Saat itu, saya hanya bisa tersenyum. Sebab sesungguhnya perjalanan potty training ini adalah ujian mental bagi orang tua. Waktu itu, saya belum siap. Belum terbayang repotnya mesti bawa Ken malam-malam ke kamar mandi, sambil ngantuk-ngantuk. Belum lagi kalau ngompol di kasur😧.

Saya baru berani mencoba saran ibu itu, 1-2 bulan setelahnya.
-

Kalau diibaratkan sebuah novel, mungkin ini adalah bab-bab dan garis besar cerita perjalanan Potty Training versi Ken Maruta. Mudah-mudahan ada manfaatnya ya! πŸ˜„


Bab 2: Bisa Menahan Pipis Lebih Lama
Ken memulai potty training-nya pada usia 18 bulan. No popok saat siang hari (kecuali saat sedang keluar rumah dan tidur siang). Progres awal adalah, yang tadinya pipis semau dia kapan aja dimana aja (bahkan bisa 5-10 menit jedanya), perlahan mulai lebih panjang intervalnya. Awal-awal tentu karena Ken masih terbawa kebiasaan saat pakai popok, ketika masih bisa pipis sembarangan tapi nggak ada konsekuensi apapun. Lama-lama dia mulai belajar, kalau dia pipis, dia akan merasa tidak nyaman karena celana dan kaki basah. Jadi, Ken mulai bisa menahan pipisnya lebih lama. Saya sendiri mungkin setelah berjalan 5 hari, sudah mulai bisa tenang dan nggak melulu melepas pandangan dari Ken. Nggak harus observasi terus-terusan.

Bab 3: No Popok Saat Tidur Siang
Setelah Ken mulai paham dan jeda pipisnya menjadi lebih lama, saya mulai meng-encourage Ken tidur siang tanpa popok. Ya, tidur siang dulu, belum tidur malam. Alasannya karena waktu tidur siang lebih sebentar daripada tidur malam. Percobaan diawali dengan 'brain-wash' dulu seperti biasa, "Ken, mulai besok kita coba bobo siang nggak pake popok ya. Pipisnya di kamar mandi ya, bukan di kasur."

Surprisingly, sejak hari pertama percobaan tidur siang tanpa popok, Ken nggak pernah ngompol. Asaaaal, begitu dia bangun, langsung diajak ke kamar mandi. Sebisa mungkin secepatnya, jangan kasih kesempatan doi ngompol di kasur ataupun lantai. 
Tidak butuh waktu lama, di hari kedua dan seterusnya, kalau bangun tidur dan berasa ingin pipis, dia akan langsung turun dari tempat tidur. Kalau ibu kurang sigap, at least dia akan pipis di lantai, bukan di kasur. 

Pernah kecolongan nggak? Oh, pernah dua kali. Waktu Ken mager turun tempat tidur karena masih ngantuk dan mungkin udah kebelet banget kali ya πŸ˜‚.

Bab 4: No Popok saat main di luar rumah
Kalau Ken lagi main di luar rumah, saat itu saya masih mengenakan Ken cloth diaper (clodi)--sayang soalnya pospaknya cuma dipakai sebentarπŸ˜‚. Biasanya, saya kasih pengertian ke Ken supaya dia nggak bingung dan menganggap saya nggak konsisten. Kasih pengertiannya dengan menjelaskan alasan kenapa saya memakaikan ia clodi, "Ken... kan mau main di luar nih. Pakai popok dulu ya, supaya nanti mainnya tenang. Nanti kalau Ken udah makin pintar, nggak pakai popok lagi ya mainnya" Padahal mah supaya ibunya nggak repot aja.. Kan nggak enak ya kalau ngompol di rumah tetangga. Btw, Ken pernah lho tapi ngompol di tempat Mba Mae dan Mba Nunuy (Maapin Ken ya mbak πŸ˜…).

Belakangan saya udah mulai membiarkan Ken bermain di halaman/rumah tetangga tanpa pakai popok. Masih sesekali ngompol, tapi udah lebih jarang kalau dibandingkan sebelumnya. Jadi, mari kita apresiasi sekecil apapun pencapain anak dalam proses ini 😊.

Bab 5: Mulai bilang kalau mau pipis
Ken, alhamdulillaah, sudah mulai lancar berbicara. Tapi, kalau disuruh bilang saat mau pipis, masih belum mau. Nah, belakangan Ken menunjukkan kemajuan karena makin sering bilang kalau mau pipis. Catat ya kalau mau pipis aja, kalau mau pup masih PR. Biasanya Ken akan skip bilang kalau lagi keasyikan main atau simply lagi nggak mau bilang aja. Selama proses ini pun Mantra yang hampir selalu terucap adalah "kalau mau pipis/pup bilang ya..." sambil berharap anak ini akan semakin paham dan konsisten untuk bilang dulu kalau mau buang air.


Bab 6: No Popok Saat Tidur Malam
Yeay! Akhirnya Ken masuk ke dalam bab ini. Awalnya karena waktu saya cek popoknya di pagi hari masih sangat kering. Semenjak memulai potty training, saya membiasakan Ken untuk langsung ke kamar mandi begitu bangun tidur. Jadi, kalau dia menahan pipis saat tidur, bisa langsung dikeluarkan di tempatnya. Saat ini sudah memasuki hari ke-4 dan selama itu, Ken belum pernah mengompol saat tidur malam, Masya Allah.. 

Malam ini pun, saya memutuskan untuk tidak memasang perlak di tempat tidur. Hal khusus yang saya lakukan pada tahap ini adalah menanyakan Ken apakah mau ke kamar mandi saat ia terbangun di tengah tidurnya. Kalau ia menolak, ia akan tertidur lg setelag menyusui, kalau ia bilang 'iya' saya akan menggendongnya ke kamar mandi. 

Semoga selalu begini dan bisa berprogress lagi untuk waktu bangunnya. Setelah bab ini, saya berharap bisa masuk dalam bab : no popok saat berpergian. Mudah-mudahan segera diberikan keberanian untuk memulainya ya, hehe.
-

Mungkin banyak yang berpendapat untuk memulai potty training sebaiknya saat anak sudah lebih besar lagi (menjelang 3 tahun misalnya) untuk mempersingkat prosesnya. Sebab kesiapan anak untuk menyelesaikan proses ini tentu didukung oleh kesiapan fisik, mental, dan kognitif anak. Ada juga yang berpendapat semakin cepat lepas dari pospak semakin baik dengan alasan melatih kemandirian ataupun alasan kesehatan. Kalau buat saya, ini pilihan masing-masing. Mau mulai training saat anak masih newborn silakan, saat 18 bulan silakan, saat sudah lebih besar juga silakan saja. Tidak ada salahnya karena orang tua pasti punya pertimbangan masing-masing mengenai hal itu. Just a kind reminder, membandingkan perkembangan anak satu dengan anak lainnya secara bijak itu baik, tapi tidak sebaliknya. Don't rush a thing because of other parents' kid had done something. Do it because of you (and your children) need it 😊.
-
Oh ya, ada bab khusus di perjalanan potty trainingnya Ken, yaitu hal-hal tak terduga yang terjadi saat proses ini berlangsung. Misalnya:

1. Potty yang kemarin kami beli, hanya dipakai sesekali. Ken lebih sering pipis di shower room. It's okay, we'll get to the next step later when someone is ready.

2. Ada masa dimana saya marah karena Ken mengompol. I wish i never do that. Perbanyak stok sabar saat memutuskan memulai proses ini, terutama waktu-waktu awal. Lama-lama sih udah santai aja dia mau ngompol juga.

3.Buat saya, mengajak Ken pup di kamar mandi lebih sulit daripada pipis. Dia lebih suka jongkok di tempat, dibanding lari ke kamar mandi dan buang hajat disana *elap keringet* 
-
Jadi, begitulah cerita potty trainingnya Ken sampai saat ini. Mudah-mudahan bisa melanjutkannya part selanjutnya sampai Ken lulus!

Buat ibu-ibu yang lagi dalam proses melatih anak pipis/pup di toilet, semangat ya! Ingeet... This too shall pass... *ngomong sama kaca*πŸƒ




Bristol, July 18th 2017
Sawitri Wening