Friday, July 21, 2017

Belajar dari Kematian


Rasanya setengah nggak percaya waktu suami saya bilang tadi pagi kalau Chester Bennington meninggal karena bunuh diri. Rasanya sedih deh dan makin sedih ketika baca artikel tentang apa yang bikin vokalis band Linkin Park ini memutuskan untuk menyudahi hidupnya. Berita itu bikin saya merenung malam ini dan ingin menumpahkan semuanya di sini.

Saya inget banget waktu SMP suka banget sama Linkin Park karena ketularan teman sebangku, namanya Vika, yang udah ngefans duluan sama Linkin Park. Beli kaset Meteora dan hapal mati semua lagu-lagu di album itu. Entah karena apa, saya pun tidak terlalu mengikuti perkembangan band ini lagi. Sampai jaman kuliah, kalau karaokean sama temen, wajib kudu nyanyi lagu Faint dan sukses bikin temen-temen saya bengong karena nggak nyangka Wening pernah yak punya selera musik kayak begini, sambil nge-rap ala Shinoda lagi, heheh. Masih inget banget tampang mereka yang nggak percaya, sambil geleng-geleng kepala. Haduh, walaupun singkat, tapi ngena banget di hati. 

Sekarang pemilik suara melengking dan khas itu sudah tiada :'(. Mungkin cerita ini nggak sekali dua kali kita dengar, tentang public figure yang popularitas dan materinya mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata ada hal yang nggak bisa dibeli dengan semua itu. Chester had been struggling with the beast called depression and decided to take his own life.

Kita mungkin nggak benar-benar bisa tahu apa yang dialami dan dirasakan orang-orang yang sedang mengalami depresi. Dari salah satu berita yang saya baca, ternyata Chester punya pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan dan saya sedih banget waktu tahu hal itu :(

“I was getting beaten up and being forced to do things I didn’t want to do. It destroyed my self-confidence,” he told the British music site Team Rock in 2014. (dailytelegraph.com.au)
“Like most people, I was too afraid to say anything. I didn’t want people to think I was gay or that I was lying,” he said. (dailytelegraph.com.au)

Satu hal yang bisa saya pelajari, bahwa ternyata pengalaman masa kecil seseorang itu bisa sangat membekas dan berpengaruh besar dalam membentuk pribadi seseorang nantinya. Lagi-lagi pengingat buat kita semua tentang pentingnya membersamai anak dan menjaga anak-anak kita dari hal-hal yang buruk. Bahkan, untuk seseorang yang punya 'akses' seperti Chester pun, hal ini bukan hal yang mudah untuk dihindari. 

Saya nggak tahu bagaimana rasanya mengalami kekerasan seperti yang dialami Chester. Pasti berat. Tapi, saya bisa cerita kalau saya pernah punya trauma masa kecil yang sampai saya besar, terkadang masih suka teringat, terutama kalau emosi saya lagi nggak stabil. Masa-masa senggol-bacok pas pms gitu, kadang masih suka teringat. Padahal waktu itu saya hanya melihat sesuatu yang nggak menyenangkan untuk saya, bukan merasakan kekerasan fisik... Tapi, ternyata apa yang saya lihat nggak baik untuk mental saya dan terkubur di alam bawah sadar saya karena sengaja saya supress. Yang membantu saya untuk mengurangi dan menghilangkan 'bayang-bayang' itu adalah dengan bercerita ke orang lain, apa yang saya rasakan alias curhat.

Jadi, buat siapa pun yang merasakan ada beban di pundaknya yang begitu berat atau ada hal yang susah banget lepas dari pikiran dan hati, dan kamu merasakan hal itu membuat kamu nggak nyaman, please, please, please talk to someone. Cerita sama siapapun yang bikin kamu nyaman. Ke sahabat kamu, ke orang tua kamu, atau kalau memang kamu merasa nggak bebas berbicara dengan orang yang kamu kenal, pergi lah ke psikolog. Mereka adalah orang-orang yang belajar dan dilatih untuk membantu menangani masalah seperti ini. 

Saya kurang tahu apakah di Indonesia ada suicide hotline yang aktif (mohon dibantu infonya ya kalau ada), tapi bagi siapapun yang butuh bantuan, silakan menghubungi: 

Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI 
Telp: (021) 78881150
E-mail: klinikterpadu@yahoo.com

Kita juga bisa membantu orang yang mengalami depresi dengan membawanya ke tenaga ahli, apabila mendapati tanda-tanda ini pada orang di sekitar kita:
image from here

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan mohon dikoreksi kalau ada yang salah ya.


Chester, thanks for the lesson.. you'll never be forgotten. RIP.

Monday, July 17, 2017

Ken's Potty Story (Part 2)

Bermain di Halaman Rumah
Saya nggak nyangka, ternyata potty training itu adalah proses yang panjang, yang di dalamnya ada bab-bab tersendiri. Halah, macam novel aja. Pengennya anaknya seminggu latihan langsung bisa, tapi ternyata kan nggak πŸ˜‚. Seperti perkembangan lainnya, saya yakin setiap anak pasti punya cerita sendiri tentang proses potty trainingnya. Kayak waktu itu, usai sholat di London Central Mosque, ada seorang ibu dari Palestine menyapa saya. Beliau menanyakan berapa usia Ken dan ujug-ujug bertanya apakah Ken masih pakai popok? Rupanya, pertanyaan itu disambung dengan cerita tentang anak perempuannya yang kurang lebih usianya sama dengan Ken. Beliau bilang, anaknya sudah lulus potty training dalam waktu 3 hari saja. Nah, ternyata ada kan yang bisa secepat itu juga, dan mungkin banyak juga yang butuh waktu berbulan-bulan sampai lulus, zero accident.

Saya ingat, beliau lalu meng-encourage saya untuk mencoba tidak mengenakan Ken popok saat tidur malam. Saat itu, saya hanya bisa tersenyum. Sebab sesungguhnya perjalanan potty training ini adalah ujian mental bagi orang tua. Waktu itu, saya belum siap. Belum terbayang repotnya mesti bawa Ken malam-malam ke kamar mandi, sambil ngantuk-ngantuk. Belum lagi kalau ngompol di kasur😧.

Saya baru berani mencoba saran ibu itu, 1-2 bulan setelahnya.
-

Kalau diibaratkan sebuah novel, mungkin ini adalah bab-bab dan garis besar cerita perjalanan Potty Training versi Ken Maruta. Mudah-mudahan ada manfaatnya ya! πŸ˜„


Bab 2: Bisa Menahan Pipis Lebih Lama
Ken memulai potty training-nya pada usia 18 bulan. No popok saat siang hari (kecuali saat sedang keluar rumah dan tidur siang). Progres awal adalah, yang tadinya pipis semau dia kapan aja dimana aja (bahkan bisa 5-10 menit jedanya), perlahan mulai lebih panjang intervalnya. Awal-awal tentu karena Ken masih terbawa kebiasaan saat pakai popok, ketika masih bisa pipis sembarangan tapi nggak ada konsekuensi apapun. Lama-lama dia mulai belajar, kalau dia pipis, dia akan merasa tidak nyaman karena celana dan kaki basah. Jadi, Ken mulai bisa menahan pipisnya lebih lama. Saya sendiri mungkin setelah berjalan 5 hari, sudah mulai bisa tenang dan nggak melulu melepas pandangan dari Ken. Nggak harus observasi terus-terusan.

Bab 3: No Popok Saat Tidur Siang
Setelah Ken mulai paham dan jeda pipisnya menjadi lebih lama, saya mulai meng-encourage Ken tidur siang tanpa popok. Ya, tidur siang dulu, belum tidur malam. Alasannya karena waktu tidur siang lebih sebentar daripada tidur malam. Percobaan diawali dengan 'brain-wash' dulu seperti biasa, "Ken, mulai besok kita coba bobo siang nggak pake popok ya. Pipisnya di kamar mandi ya, bukan di kasur."

Surprisingly, sejak hari pertama percobaan tidur siang tanpa popok, Ken nggak pernah ngompol. Asaaaal, begitu dia bangun, langsung diajak ke kamar mandi. Sebisa mungkin secepatnya, jangan kasih kesempatan doi ngompol di kasur ataupun lantai. 
Tidak butuh waktu lama, di hari kedua dan seterusnya, kalau bangun tidur dan berasa ingin pipis, dia akan langsung turun dari tempat tidur. Kalau ibu kurang sigap, at least dia akan pipis di lantai, bukan di kasur. 

Pernah kecolongan nggak? Oh, pernah dua kali. Waktu Ken mager turun tempat tidur karena masih ngantuk dan mungkin udah kebelet banget kali ya πŸ˜‚.

Bab 4: No Popok saat main di luar rumah
Kalau Ken lagi main di luar rumah, saat itu saya masih mengenakan Ken cloth diaper (clodi)--sayang soalnya pospaknya cuma dipakai sebentarπŸ˜‚. Biasanya, saya kasih pengertian ke Ken supaya dia nggak bingung dan menganggap saya nggak konsisten. Kasih pengertiannya dengan menjelaskan alasan kenapa saya memakaikan ia clodi, "Ken... kan mau main di luar nih. Pakai popok dulu ya, supaya nanti mainnya tenang. Nanti kalau Ken udah makin pintar, nggak pakai popok lagi ya mainnya" Padahal mah supaya ibunya nggak repot aja.. Kan nggak enak ya kalau ngompol di rumah tetangga. Btw, Ken pernah lho tapi ngompol di tempat Mba Mae dan Mba Nunuy (Maapin Ken ya mbak πŸ˜…).

Belakangan saya udah mulai membiarkan Ken bermain di halaman/rumah tetangga tanpa pakai popok. Masih sesekali ngompol, tapi udah lebih jarang kalau dibandingkan sebelumnya. Jadi, mari kita apresiasi sekecil apapun pencapain anak dalam proses ini 😊.

Bab 5: Mulai bilang kalau mau pipis
Ken, alhamdulillaah, sudah mulai lancar berbicara. Tapi, kalau disuruh bilang saat mau pipis, masih belum mau. Nah, belakangan Ken menunjukkan kemajuan karena makin sering bilang kalau mau pipis. Catat ya kalau mau pipis aja, kalau mau pup masih PR. Biasanya Ken akan skip bilang kalau lagi keasyikan main atau simply lagi nggak mau bilang aja. Selama proses ini pun Mantra yang hampir selalu terucap adalah "kalau mau pipis/pup bilang ya..." sambil berharap anak ini akan semakin paham dan konsisten untuk bilang dulu kalau mau buang air.


Bab 6: No Popok Saat Tidur Malam
Yeay! Akhirnya Ken masuk ke dalam bab ini. Awalnya karena waktu saya cek popoknya di pagi hari masih sangat kering. Semenjak memulai potty training, saya membiasakan Ken untuk langsung ke kamar mandi begitu bangun tidur. Jadi, kalau dia menahan pipis saat tidur, bisa langsung dikeluarkan di tempatnya. Saat ini sudah memasuki hari ke-4 dan selama itu, Ken belum pernah mengompol saat tidur malam, Masya Allah.. 

Malam ini pun, saya memutuskan untuk tidak memasang perlak di tempat tidur. Hal khusus yang saya lakukan pada tahap ini adalah menanyakan Ken apakah mau ke kamar mandi saat ia terbangun di tengah tidurnya. Kalau ia menolak, ia akan tertidur lg setelag menyusui, kalau ia bilang 'iya' saya akan menggendongnya ke kamar mandi. 

Semoga selalu begini dan bisa berprogress lagi untuk waktu bangunnya. Setelah bab ini, saya berharap bisa masuk dalam bab : no popok saat berpergian. Mudah-mudahan segera diberikan keberanian untuk memulainya ya, hehe.
-

Mungkin banyak yang berpendapat untuk memulai potty training sebaiknya saat anak sudah lebih besar lagi (menjelang 3 tahun misalnya) untuk mempersingkat prosesnya. Sebab kesiapan anak untuk menyelesaikan proses ini tentu didukung oleh kesiapan fisik, mental, dan kognitif anak. Ada juga yang berpendapat semakin cepat lepas dari pospak semakin baik dengan alasan melatih kemandirian ataupun alasan kesehatan. Kalau buat saya, ini pilihan masing-masing. Mau mulai training saat anak masih newborn silakan, saat 18 bulan silakan, saat sudah lebih besar juga silakan saja. Tidak ada salahnya karena orang tua pasti punya pertimbangan masing-masing mengenai hal itu. Just a kind reminder, membandingkan perkembangan anak satu dengan anak lainnya secara bijak itu baik, tapi tidak sebaliknya. Don't rush a thing because of other parents' kid had done something. Do it because of you (and your children) need it 😊.
-
Oh ya, ada bab khusus di perjalanan potty trainingnya Ken, yaitu hal-hal tak terduga yang terjadi saat proses ini berlangsung. Misalnya:

1. Potty yang kemarin kami beli, hanya dipakai sesekali. Ken lebih sering pipis di shower room. It's okay, we'll get to the next step later when someone is ready.

2. Ada masa dimana saya marah karena Ken mengompol. I wish i never do that. Perbanyak stok sabar saat memutuskan memulai proses ini, terutama waktu-waktu awal. Lama-lama sih udah santai aja dia mau ngompol juga.

3.Buat saya, mengajak Ken pup di kamar mandi lebih sulit daripada pipis. Dia lebih suka jongkok di tempat, dibanding lari ke kamar mandi dan buang hajat disana *elap keringet* 
-
Jadi, begitulah cerita potty trainingnya Ken sampai saat ini. Mudah-mudahan bisa melanjutkannya part selanjutnya sampai Ken lulus!

Buat ibu-ibu yang lagi dalam proses melatih anak pipis/pup di toilet, semangat ya! Ingeet... This too shall pass... *ngomong sama kaca*πŸƒ




Bristol, July 18th 2017
Sawitri Wening

Saturday, July 15, 2017

#NHW7 Belajar Menjadi Ibu Produktif

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Minggu ini kami mulai belajar tentang menjadi bunda produktif. Bagaimana caranya agar bisa tetap berdaya dan berkreasi sesuai dengan minat kita, di saat menjalankan peran sebagai seorang ibu dan istri. Sungguh amat sangat relate dengan kegalauan saya ketika memilih untuk stay di rumah pasca melahirkan. Dulu, saat memilih hal tersebut, saya mungkin tidak terlalu jauh memikirkan tentang hal apa yang akan saya kerjakan/kreasikan sembari mendahulukan kewajiban saya sebagai istri dan ibu. Yang ada di bayangan saya, yah saya punya lebih banyak waktu untuk menjalani hobi saya, yaitu menulis dan membaca. Tapi, pada kenyataannya sulit sodara-sodara... Saya sempat merasa bosan dan stress sendiri karena harus mengerjakan hal yang itu-itu saja di rumah, yang bisa jadi bukan sepenuhnya hal yang saya sukai.Manajemen waktu yang kurang baik dan proses adaptasi dengan peran yang baru membuat saya merasa ada yang kurang. (wow, terus saya baru menyadari, kalau ini persis sama apa yang saya tuliskan di NHW #1). So, menurut saya, ini penting banget bagi siapapun yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, untuk memikirkan rencana atau kegiatan apa yang bisa dilakukan to keep ourselves being passionate about this life. Untuk menjaga binar yang ada di mata kita. Sampai saat ini pun, jujur, saya masih mencari-cari sebenarnya "misi penciptaan"saya apa sih dan beruntung sekali bisa ikut dalam kelas ini karena perlahan-lahan saya merasa menemukan apa yang selama ini saya cari.

Tugas kali ini, kami diminta untuk melakukan tes bakat sederhana untuk membantu kita mendapat gambaran kekuatan yang ada di dalam diri kita. Berikut adalah hasilnya:


Sebelum memutuskan untuk resign, saya pernah bekerja di bidang yang saya senangi yaitu dibidang marketing research dan human resource development. Saya sangat menikmati mengerjakan kedua hal tersebut. Melakukan penelitian dan melakukan analisis jabatan, mewawancarai orang adalah salah satu hal yang membuat saya bersemangat. Ini bisa menjelaskan mungkin ya kenapa di sini potensi kekuatan saya ada di SLC, EVA. Saat ini, saya masih ingin mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dengan merencanakan melanjutkan sekolah lagi Educational Leadership/ Organizational Psychology. Saya ingin membagi lebih banyak manfaat untuk orang lain dan keluarga sendiri dengan menguasai ilmu tersebut.

Latar belakang berkuliah di psikologi, sedikit banyak mengenalkan saya pada isu-isu yang terkait dengan kesehatan mental dan membantu saya dalam hal memahami manusia. Boleh dibilang, saya adalah orang yang cukup mudah merasakan apa yang dirasakan orang lain, garis miring, gampang tersentuh. Seperti yang disebut kekuatan saya adalah CAR. 

Belakangan ini, saya lagi senang banget berjualan. Atau mungkin lebih tepatnya, melayani orang yang membeli di dagangan saya. Rasanya ada kesenangan tersendiri ketika ada orang yang tertarik dengan jasa atau barang yang kita beli. Meskipun, saya merasa masih banyak harus belajar dalam hal marketing. Saya juga ingat waktu bekerja dulu, saya senang sekali ketika harus berkorespondensi dengan klien ataupun calon pegawai. Hal ini menggambarkan salah satu kekuatan saya yaitu SER dan COM.

Salah satu hal yang saya lakukan saat sedang me-time adalah blogging. Biasanya yang saya tulis tidak jauh-jauh dari dunia ibu-anak dan pengalaman saya lainnya. Rasanya happy banget kalau bisa menyelesaikan tulisan dan membagikannya ke orang lain untuk dibaca. Menulis buat saya juga merupakan terapi untuk menghilangkan rasa suntuk dan bosan. Sebelumnya, saya pernah belajar pula tentang menulis fiksi yang menurut saya sangat menarik, namun sayangnya kegiatan lain membuat saya kurang konsisten dalam menjalani hobi tersebut. Ini tergambarkan dari salah satu kekuatan saya dari tes temu bakat ini, yaitu CRE dan JOU.

Di bawah ini adalah kuadran aktivitas menurut saya.... Hahahah, banyak bener yang mau dilakukan tapi sebenernya merasa nggak bisa. 

Aktivitas
Suka
Tidak Suka
Bisa
      Menulis pengalaman pribadi (review/sharing) di blog/Instagram

     Membaca buku

     Jualan/Melayani konsumen

     Melakukan pekerjaan analitis (penelitian/analisis jabatan)

     Melakukan personal interview

      Mencuci piring

      Menyetrika

      Mengepel


Tidak Bisa
      Menulis fiksi/puisi (saya merasa belum mampu menghasilkan yang menarik dan belum bisa konsisten)

      Memasak (enjoy, tapi kemampuan sangat terbatas)

      Mengedit video (suka kalau ada waktu senggang, tapi masih sangat amat minim kemampuannya)

      Desain grafis (Pengen bisa!)

Ilmu bisnis & marketing (Pengen bisa juga!)


-    Memperbaiki barang elektronik yang rusak




Menyenangkan banget ya, bikin tugas ini, jadi sadar kelebihan dan kekurangan diri. Jadi makin terarah dan mengetahui potensi saya ada dimana. Mudah-mudahan semakin memantapkan langkah saya untuk bisa jadi ibu yang produktif, yang bisa memberi manfaat ke keluarga dan orang lain :)

Salam, 
Sawitri Wening

Saturday, July 8, 2017

#NHW6: Belajar menjadi Manager (Keluarga)

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4


Bismillaah...

Tugas kali ini sebenarnya terlihat lebih simple dari tugas-tugas sebelumnya, namun ternyata buat saya ini menjadi satu tantangan karena menyadari betapa buruknya manajemen waktu yang saya miliki saat ini. Apalagi, semenjak memasuki waktu summer, jam tidur kami bisa dibilang menjadi agak berantakan, begitu juga dengan jam tidurnya Ken. Wes, pokoke ono wae lah excuse-nya. 

Tapi, katanya "The journey of a thousand miles begins with one single step". Jadi, mari kita mulai belajar sekarang.

Tiga kegiatan yang penting dilakukan:
 1. Beribadah (Sholat & Baca Quran)
 2. Bermain bersama Ken
 3. Memasak  

Tiga kegiatan yang kurang penting untuk dilakukan:
1. Mostly yg paling banyak menghabiskan waktu adalah main hp (scrolling socmed terutama)
2. Jualan online (sekarang lagi senang2nya jualan. Bagus sih, tapi seringnya memakan banyak waktu dan yg lainnya malah terbengkalai)
3. online window shopping

Berikut ini adalah jadwal kegiatan yang saya rancang mengikuti waktu summer di Inggris Raya, dimana waktu siangnya lebih panjang dari waktu malamnya. Matahari terbit sejak pukul 5 pagi, dan tenggelam pada pukul 10 malam. Ken biasanya baru tidur pada pukul 11 atau 12 malam, karena dianggapnya itu baru masuk malam karena baru mulai gelap. That's why biasanya setelah subuh, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk tidur lagi.

*update* Akhirnya, kami mengondisikan Ken agar tidur di bawah jam 10 malam. Beberapa hari belakangan, ia berhasil tidur pukul 8 atau 9 malam. Hal ini mengubah kegiatan rutin maupun dinamis saya menjadi sebagai berikut:


Kegiatan rutin (Kegiatan yang wajib dilakukan dalam kurun waktu tertentu):
- 03:00- 04:00  : Sholat tahajud, sholat subuh, baca Qur'an
- 08:00-12:00   : Menyiapkan sarapan, sarapan, masak
- 18:00-21:00   : Membersamai Ken

Kegiatan Dinamis:
-  04:00 - 08:00 : Membaca, menulis
- 12:00 - 18:00: Bermain bersama Ken, membaca buku/jualan (saat Ken sedang tidur siang), mendengarkan ceramah.


Catatan untuk waktu kegiatan dinamis:
- 14:00-15:00 : Waktu jualan, cek hp
- 21:00 - 23:00: cek hp, membaca/menulis blog


Mari kita coba terapkaaan dalam waktu seminggu kedepan dan lihat apakah ada yang perlu diperbaiki nantinya.

*Di-update 1 pada tanggal 15 Juli 2017


Salam,
Sawitri Wening

Tuesday, July 4, 2017

Just Another Story of A Toddler

image from here
Kepala saya masih agak pusing karena kemarin baru ada yang nimpuk saya pakai mainan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ken. Heheh, Hal-hal kayak gini mungkin umum ya terjadi sama ibu-ibu sekalian, terutama yang sedang punya toddler. Minimal pernah ngerasain pedihnya digigit tiba-tiba πŸ˜…. Kalau saya, yang paling sering belakangan adalah dipukul pakai mainan, huhu, lumayan lho sakit juga. Iya, saking sakitnya saya sampe nangis meringis karena waktu itu posisinya lagi tidur, nggak siap, tiba-tiba ada yang mendarat di kepala saya. Bletak! tak! tak! Mobil hotwheels-nya Ken mendarat di kepala saya.

Agresivitas pada toddler itu sebenarnya normal terjadi. Alasannya bisa karena beberapa hal. Pertama, karena belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan jelas. Kedua, belum bisa menahan impuls emosi yang muncul dalam dirinya. Ketiga, adanya keinginan untuk bisa mandiri (babycenter.org). Selama masih dalam batas wajar, there's nothing to worry about. Kesempatan ini justru jadi lahan orang tua untuk mengajarkan anak tentang perilaku baik/buruk dan tentu saja sambil melatih kesabaran ya :') 

Selain itu, orang tua dituntut juga untuk bisa mengidentifikasi penyebab kenapa anak kita berperilaku seperti itu. Supaya nggak pengen ngomel-ngomel terus. Karena biasanya kalau udah paham alasannya, kita jadi bisa memaklumi kenapa anak demikian dan demikian. Kalau Ken biasanya karena dua hal. Pertama, karena kesal atau marah. Kedua, karena gemas (contohnya kalau lagi main sama anak yang usianya lebih muda dari dia).  

Lho, tapi kok banyakan nggak jelasnya alasannya. Sabar ya buibu, namanya juga toddler πŸ˜….

"Toddler (n.) Emotionally unstable pint-sized dictator with the uncanny ability to know exactly how far to push you towards upper insanity before reverting to a lovable creature" -unknown

Yha. Seperti kebanyakan toddler, perilaku Ken juga kadang-kadang bikin saya mengelus dada dan kepala saya 'bertanduk'. Hahah, pokoknya ada masa-masa dimana Ken 'test the limit' banget. Tapi, ada juga masa-masa Ken jadi anak yang supeeeeer manis. Saya merasa turning point-nya itu pas Ken masuk usia 18 bulan. I guess he entered those terrible twos period quite early. All i can say to sum up this entire toddlerhood knick-knack is just WOW, KEN, WOW!!

Ayahnya Ken aja sampe bilang, "ini katanya 2 tahun bisa lebih parah lagi?" Saking shocked-nya dengan tingkah laku toddler yang sering sulit diprediksi *well, ini agak hiperbol sih.

Tingkah lakunya Ken nggak yang parah-parah banget sih, masih dalam batas wajar. Tapi, namanya pertama kali punya anak dan pengalaman baru, ya pasti ada sensasi berbeda. Ternyata begini toh rasanya mengurus anak yang udah nggak bayi lagi; yang energinya nggak abis-abis, banyak request, moody, dan bahkan kadang agresif. Masya Allah, seruuuu yaπŸ˜‚.

Ini beberapa cerita tentang serunya dan ajaibnya tingkah laku Ken yang sekarang berusia 22 bulan. Saya yakin bakalan banyak yang mirip-mirip sih sama pengalaman ibu-ibu yang lain karena ini typical banget.

Drama Nggak Mau Pake Baju
Saya masih ingat waktu Ken berusia 4 bulan kalau nggak salah, setiap kali dipakein baju, dia akan nangis kenceeeeng banget, kayak lagi disiksa sama ibunya, padahal cuma mau dipakein baju :'(. Dan sejarah itu terulang kembali sekarang, saat dia sudah memasuki usia toddler. Bedanya, sekarang dramanya lain-lain. Paling sering itu ya adegan kejar-kejaran sama Ken tiap kali mau dipakein baju. Hahah, sekalian olah raga dan main sama Ken yang girang banget, semacam lagi main run and chase. Terus kalau ketangkap dan mulai mau dimasukin bajunya, dia akan nangis-nangis sambil bilang "Ken nggak mau pake baju, Ken nggak mau pake baju". Kadang nangisnya beneran, kadang drama. Iya, dia kayak udah tahu gitu lho kalau ibunya akan annoyed kalau dia merengek, jadi digodain deh sama dia. 

Solusinya: Biasanya, sambil pakai baju, saya juga suka menyelipkan alasan sebenarnya kenapa harus pakai baju ; untuk menutup aurat, biar nggak kedinginan, dsb, Kalau udah nggak mempan,yang paling ampuh itu ya dialihkan perhatiannya. Kalau saya biasanya sambil pakein baju, sambil nyanyi lagu ngarang apa aja dah untuk mengalihkan perhatiannya. "Masuk ke lobang yang besar, keluar dari lubang yang kecil. Begitulah cara pakai celana..." atau sambil belajar karena Ken paling suka ditanya-tanya. Tanya aja bentuk lubang baju apa atau gambar atau warna bajunya. 



Ibu Nggak Boleh Pipis
Ada yang lagi drama. Biarin aja, nanti juga diam sendiri.
Ini kayaknya pengalaman hampir semua ibu ya. Lagi kebelet, terus ngacir ke kamar mandi, tiba-tiba distop sama bocah kecil sambi bilang "ibu..ibu..ibu.." Ya Allah nak, kayak mau ditinggal ke Arab aja. Padahal cuma mau ke toilet. Atau pernah nggak lagi enak-enak buang hajat, pintu kamar mandi kebuka, ternyata anak kita udah bisa buka pintu sendiri :"D. Kadang ada rasa senangnya juga sih liat Ken kayak gini. Jadi, merasa punya fans berat, hahaha. Tapi, kalau udah beneran kebelet, yaa gimana... Kalau di rumah lagi ada ayahnya Ken sih gampang, tinggal diajak main aja. Tapi, kalau nggak ada gimana?

Solusinya: Kadang saya setelin video dan meninggalkan dia untuk beberapa saat ke kamar mandi. Tapi kalau nggak bisa juga, mau nggak mau lah saya ajak juga ke kamar mandi dan biarin dia main sama botol-botol sabun di shower room. Yah, sambil awkward diliatin anak yang udah bisa ngomong, "ibu lagi ngapain tuh?" atau "ibu eek dulu ya" Hahahah, begini banget ya punya toddler. 


Hanya Mau Kalau Sama Ibu
Pernah nggak pengin gantian bertugas sama suami, tapi nggak bisa. Iya, nggak bisa karena anaknya cuma mau ngapa-ngapain sama ibunya. Ayahnya Ken adalah orang yang sangat helpful buat urusan mengasuh anak. Tapi, sering kali Ken nggak mau 'dibantu' sama ayahnya, cuma mau sama ibu. Gimana atuh. Ayahnya Ken paling sering dapat penolakan kalau diminta nganterin Ken pipis/cebok di kamar mandi. Pokoknya kalau urusan kamar mandi, kan maunya cuma sama ibunya.

Solusinya: Ya kalau ini sih nggak masalah, ikutin aja maunya, kecuali kalau lagi bener-bener nggak bisa. Kayak kalau lagi masak.


Banyak Request
Semenjak mulai lancar bicara, Ken senang banget request. Ini bercampur sama curiosity-nya, jadi apa-apa mau di pegang sama dia. Kalau barang yang diminta nggak bahaya sih, biasanya kita kasih. Tapi, kalau berbahaya ya nggak... Kayak Ken pernah minta "Ken mau pegang piso/pisau... Ken mau pegang obeng..." waktu lihat ibunya masak atau saat lihat ayahnya betulin mainan.. ya nggak akan dikasih. Hal lainnya adalah dia udah bisa milih-milih mau pakai baju yang mana. Jadi, kalau pas lagi drama nggak pakai baju gitu, dia suka tiba-tiba bilang, "Ken mau pakai baju yang red, yang ada mobilnya..."

Solusinya: Kalau ini sih juga nggak masalah ya, asal request-nya nggak minta barang-barang yang berbahaya aja.


Numpahin air & Melepeh makanan
Kalau ini sih biasaaa banget ya. Sekarang-sekarang ini, Ken lebih suka makan sendiri, daripada disuapi. Lebih suka minum sendiri, maunya pakai gelas. Sebagai orang tua, kita mesti kasih kesempatan dong ya biar dia mandiri *padahal harap-harap cemas, takut semuanya ditumpahin atau dikobok*. Dan bener aja, ada aja adegan numpahin air dan makanan hampir setiap kali makan. Tapi, berangsur-angsur kebiasaan itu berkurang sih karena dia udah semakin mahir menggunakan sendok dan udah bisa minum dari gelas biasa.
Kalau soal melepeh makanan, ini problemnya Ken dari semenjak dia masih 6 bulan. Problem yang awalnya bikin ibunya super stress, tapi lama-lama kebiasa dan nggak diambil pusing karena yah lama-lama kebiasaan makannya semakin baik kok. Kalau dulu begitu, beda ceritanya sekarang. Aksi lepeh-melepeh Ken sekarang lebih ke buat godain ayah-ibunya dan eksperimen dia sendiri.

Solusinya: Beresinnya nanti aja kalau makannya udah beres, biar nggak capek. Minta anak buat ikut membantu membereskan atau lap-lap, supaya bisa belajar bertanggung jawab. Tapi, jangan berharap hasilnya bakal bersih beneran :"D


Masih dalam Episode "mau, tapi nggak mau"

Diantara semua drama yang ada, mungkin ini yang paling bikin paling sering elus dada. Hahaha, udah tahu lagi menghadapi anak kecil. Pernah nggak ngalamin ketika anak kita minta sesuatu, tapi pas udah dikasih barangnya dia malah nggak mau, dan bahkan nolaknya sampai nangis. Hahaha, jadi maunya opo tho, nang? Kayak kemarin, waktu itu Ken minta diantar ke kamar mandi, "Ibu, ken mau pipis" begitu katanya. Saya pun bahagia sekali dengernya, karena jarang-jarang Ken bilang kalau mau pipis. Tapi, begitu sampai di kamar mandi, dia nangis-nangis nggak mau pipis. Pas keluar kamar mandi, dia nangis lagi katanya mau pipis. Begitu terus sampai beberapa kali bolak-balik kamar mandi, dan berujung pada Ken nggak jadi pipis -_-'

Solusinya: Sabar.



Begitulaaah sedikit cerita dunia toddlerhood-nya Ken. Sebenarnya kalau mau diingat-ingat masih banyak lagi sih. Kayak Ken udah bisa memanipulasi emosinya, pura-pura nangis, pura-pura marah, yang kadang malah suka bikin kita gemes sendiri. Atau udah bisa nyuruh-nyuruh, kayak nyuruh ayahnya tidur di lantai kalau malam, hahahaha. "Permisi ayah. Ayah bobo di bawah aja." dan masih banyak lagi. 

Meskipun banyak menguji emosi, tapi masa toddler ini bener-bener bikin saya amazed dengan perkembangannya Ken. Bikin saya mikir kalau anak yang tadinya nggak berdaya, hanya bisa tidur, mimik, pup doang... Sekarang jadi bocah super aktif yang hobi manjat-manjat kursi atau udah bisa jawab-jawabin pertanyaan orang tuanya. Nggak berasa, sebentar lagi bisa panjat tebing dan adu argumen sama ayah ibunya.

Parenthood (image from here)
Jangan lupa bahagia buibu hebat dan ingat! meskipun anak kita sering menguji kesabaran, tapi ia adalah amanah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita (reminder buat saya sendiri juga). So, let's just cherish this very moment because of they are not stay here for forever. 



Salam,
Sawitri Wening



Sumber:
https://www.babycenter.com/0_aggression-hitting-and-biting-ages-12-to-36-months_11550.bc