Saturday, November 19, 2016

Hal Baru Ketika berada di Bristol (Part 1)

Menunggu Bus
Haaai! Gimana kabarnya?

Kali ini cerita random aja sih. Tentang hal-hal baru apa aja yang saya temui selama tinggal di Bristol, berikut dengan ke-norak-annya, hahaha. Maklum, ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Jadi banyak hal baru yang bikin saya terperangah sendiri karena jarang atau bahkan nggak pernah saya temui di Jakarta. Ini beberapa diantaranya.

1. Family Room
Begitu sampe Bandara Heathrow, London. Yang pertama dicari sebagai ibu menyusui, so pasti dong... ruang menyusui. Cari Nursery Room nggak ketemu dan orang yang ditanya bingung. Ternyata di sini nggak pake istilah "Nursery Room" tapi "Family Room" dimana bapak juga bisa ikutan masuk. Jadi nggak khusus untuk ibu-ibu aja. Ruangannya cukup luas. Isinya juga nggak cuma untuk menyusui dan ganti popok aja, tapi juga ada toilet untuk orang dewasa. Bagus juga sih kayak gini. Jadi kalo lagi berkeperluan, ayahnya Ken nggak usah nunggu bengong di luar. Konsep kayak gini katanya di Indonesia udah ada ya, seperti di AEON Mall  dan soon ada di PIM #CMIIW.


2. Stroller bisa masuk bus umum
Waktu mau balik ke terminal bus dari hotel, kita sempet bingung barang-barang kita mau ditaro dimana nanti ya di bus. Secara bawa 3 koper gede plus stroller dan tentengan segambreng. Kebayangnya bus di sini modelnya kayak metromini/kopaja cuma versi lebih gede, hahah. *polos sekali diriku* Nggak tahunya, nggak! koper tinggal masuk aja dan stroller nggak perlu dilipet soalnya ada space besar di bagian depan khusus wheelchair (biasa juga digunakan untuk meletakkan stroller). Berhubung waktu itu lg kosong, jadi supir bus nggak protes kita naikin koper segitu banyak. Kebayang kan nyaman banget busnya, walaupun lumayan juga harga tiketnya sih, paling murah untuk 3 halte pertama, sekali naik £1 (kali aja sama nilai tukar ke rupiah sekarang). Makanya kalau nggak penting-penting amat, lebih pilih jalan kaki deh untuk berhemat.


3. Toilet tanpa air bilas
Serius deh, sampai sekarang masih suka bertanya-tanya gimana cara mereka cebok tanpa air? Pakai tissue aja kali ya? Kalau kami, karena nggak terbiasa nggak pakai air ya kemana-mana bawa botol minum khusus untuk bilas. Di kamar mandi pun, kami sediakan botol kosong di samping toilet khusus untuk bilas. Yeah, sounds silly... but, that is what we actually do to keep us feel comfort.


4. Uang receh segambreng
Begitu jajan pakai uang besar sedikit di sini, dikembaliinnya pakai receh (pence) segambreng beda-beda pula gambar dan nominalnya. Sampai sekarang saya juga nggak hapal. Alhasil, kalau udah males cari-cari recehan, pas belanja saya sodorin aja dompet receh ke kasirnya supaya dia pilih sendiri atau nggak siapin di rumah sebelum transaksi. Kalau recehan berkurang banyak, rasanya beban hidup juga ikut berkurang *lebay*


5. Kulit kering
Minggu pertama di sini, kulit rasanya kaku banget, bibir pecah-pecah, wajah mengelupas. Kulit orang tropis lagi ngamuk karena tiba-tiba mesti ada di tempat dingin dan berangin seperti di sini. Kalau di Jakarta cari produk yang nggak bikin kulit berminyak--soalnya bubar udah kalau kena keringet. Di sini malah mengais-ngais minyak. Bio Oil yang biasa dipake seiprit-iprit karena takut muka kayak kilang minyak, sekarang dipake udah kayak pake air pas cuci muka *lebay*. Sabun cuci muka dari Indonesia juga terpaksa pensiun dini. Moisturizer jadi teman sejati. Lucas Papaw sengaja dibeli untuk menyelamatkan bibir supaya nggak pecah-pecah. Tapi, lama kelamaan kulit beradaptasi kok.


6. Motor tertib
Di sini jaraaaang sekali ketemu motor. Kalau ada pun di antara jejeran kendaraan yang berhenti saat lampu merah, paling cuma ada satu. Itu juga dia ikutan ngantri, nggak nyelip-nyelip berusaha menjadi yang terdepan ada di lampu merah. Sempat heran juga sih waktu lihat hal ini. Beda banget sama yang terjadi di Jakarta. Selain itu, yah semua kendaraan tertib nggak ada yang berusaha nyerobot lampu merah. Selalu mendahulukan pejalan kaki yang mau menyeberang, tanpa ngamuk-ngamuk dan maki-maki. Impian yang insya Allah bisa terwujud suatu saat nanti di Kota Jakarta kita tercinta. AAMIIN!!!


7. Gratifikasi? Big No!
Ini sebenernya dari pengalaman saya sendiri. Jadi, ceritanya dari pihak penyedia akomodasi mau ada instalasi hanging rail dan rak lemari yang ternyata belum terpasang di beberapa kamar, termasuk flat kami. Kebiasaan di Indonesia, ada abang-abang atau tukang datang ke rumah kan suka disuguhin apa gitu ya, kopi atau gorengan. Nah, pas tukangnya dateng saya nggak ada sesuatu untuk disuguhi, yaudah aja selesai mereka kerja, saya oleh-olehin rendang uda gembul buat mereka sebagai ucapan terima kasih. Ternyataaa oleh-oleh saya ditolak mentah-mentah dong *heartbroken*. Mereka malah bilang gini, "well, i'd really love to accept them. I don't mean to be rude or something like that. But, it's forbidden for us to accept things like gifts or tips from the customers. Because if my boss know, we will be fired." Saya speechless sesaat. Walau maksudnya baik, tapi entah kenapa ada perasaan malu dan cuma bisa bilang, "Oh, ok sorry.. i trully understand that." Abis itu mikir.... Kok bisa ya mereka sejujur itu. Maksudnya, saya terbiasa dengan fakta kebanyakan orang pasti mau terima pemberian orang lain dan bahkan nggak peduli atau takut ketahuan kalau sebenarnya mereka nggak boleh nerima hadiah atau semacamnya. Well, a lesson learned. *Coba bapak-bapak penghulu yang masih pasang tarif buat nikahin orang, mungkin bisa belajar dari bapak tukang di sini.

8. "Need a bag?"
Belanja apa pun di sini, terutama di supermarket, ini pertanyaan yang pasti akan ditanyain kasir. Kecuali kita cuma beli barang kecil, kayak sikat gigi satu. Nggak bakal ditanya dan nggak bakal di kasih kantong plastik. Yes, di sini kalo mau pake plastik bayar sebesar 5p atau 10p untuk kantong yang lebih besar. Kebijakan yang baru diberlakukan di Indonesia dan banyak direwelin sama beberapa pihak. Mungkin karena sudah terbiasa, orang-orang di sini kalo belanja ya bawa tas belanja sendiri atau bahkan ada trolley khusus buat belanja. Asik-asik aja. Kami yang kadang masih suka kelupaan bawa tas belanja, jadi ikutan belajar. 


9. Pecahan botol di jalan
Sejujurnya, begitu sampai daerah deket flat kami. Saya agak serem sih karena banyak pecahan botol di jalan. Awalnya saya bingung ini pecahan kaca apa. Ternyata kata Mbak Mimi, yang udah duluan tinggal di Bristol, kalau itu ulah orang mabok yang suka mecahin botol sembarangan. Horor dong langsung ngebayanginnya. Pecahan botol kayak gini nggak cuma ada di daerah rumah saya aja, tapi banyak di jalan-jalan. Nggak banyak sih.. mungkin udah dibersihin sama petugas kebersihan. Kalau malam minggu, kebetulan sebelah flat ada bar, pasti aja denger suara orang party. Tapi, alhamdulillaah nggak bising sih, karena jaraknya nggak sedekat itu. Malam-malam pertama di sini, dimana masih jetlag dan suka kebangun tengah malam, suka serem sendiri dengar suara orang berantem teriak-teriak nggak jelas. Suara sirene mobil polisi. Serasa lagi ada di adegan film action gitu. Tapi, lama-lama biasa karena ternyata hal kayak gitu di sini biasa.. hmmm... 


10. Wifi gratis dimana-mana
Salah satu hobi yang muncul begitu sampe Bristol adalah main IG Story. Hahahah... Makanya kalo ada yang suka heran emak anak satu ini suka banget main IG story ya alasannya karena ini. Wifi gratis ada dimana-mana, bu. Gratis. Jadi, sebenarnya kalo nggak top-up pulsa pun masih bisa bertahan di sini. Melipir aja cari tempat yang ada wifinya. Di mall, di jalan, di restoran, di supermarket, di bus, bahkan di flat kami pun udah termasuk biaya internet yang kalau dibandingkan koneksi indihome di rumah mah jauh. Jauh lebih cepat.


11. Mesin cuci ajaib

Sebelum sampai sini, saya selalu bertanya-tanya di UK yang katanya dingin, ngeringin bajunya gimana ya? Bisa jemur baju nggak ya? Ternyata bisa-bisa aja, asal matahari lagi nongol. Tapi, seringnya sih mendung-mendung gitu  apalagi pas winter kayak sekarang. Ternyata mesin cuci di sini ajaib karena pengeringnya bisa benar-benar kering sampai kalau pakaiannya keluar dari mesin cuci, berasa kayak abis disetrika panasnya--tapi lecek. Ini sih karena saya aja yang norak nggak pernah punya mesin cuci kayak di sini. Hahah... 


12. Keran panas-dingin
Katanya sih salah satu keunikan wastafel di UK adalah ada keran buat air panas dan dingin. Nah kalau di dapur kerannya memang dua. Kalau di kamar mandi cuma satu tapi bisa sekaligus untuk mengatur suhu airnya. Kenapa dibedain ya? Karena air yang keluar dari keran dapur bisa langsung diminum (air dingin aja, air panas nggak), sementara kalau di kamar mandi nggak bisa diminum.


13. Surga pejalan kaki/peseda
Kalau yang satu ini, nggak bisa dipungkiri lagi deh. Salah satu hal yang membahagiakan tinggal di sini ya karena lingkungannya begitu ramah pejalan kaki dan pengguna wheelchair (kalau buat saya, stroller). Setiap trotoar pasti ada sela untuk pengguna wheelchair supaya lebih mudah naik ke trotoar. Nggak heran di sini penyandang difabel banyak yang mandiri kemana-mana sendiri pakai wheelchair, manula jalan tertatih-tatih sambil dorong trolley sendiri naik-turun bus, ibu-ibu dengam stroller ada di mana-mana macam mall di Jakarta. Masih berharap semoga Jakarta dan kota-kota di Indonesia kelak juga bisa seramah dan serapih ini. AAMIIN! Semangat buat bapak gubernur!


14. "You ok?"
Selama di sini, kayaknya udah dua kali saya disapa orang nggak dikenal dengan pertanyaan, "Assalamu'alaykum... You ok, sister?" Awalnya saya bingung maksudnya apa. Nanya kabar kah? Ya kalo ada yang nanya, otomatis saya jawabnya "i'm fine... thanks." Suami pun kalau di mesjid suka disapa orang denga perkataan itu. Yang ternyata emang nanyain kabar. Jadi ini tuh semacam british slang buat "how are you?" 


Wah, baru sebentar tinggal di sini aja udah banyak banget hal unik yang saya rasakan. Alhamdulillaah, banyak hal yang bisa disyukuri dan dipelajari dari sini. Banyak juga hal yang bikin saya terus berharap akan kemajuan bangsa sendiri. Di atas langit masih ada langit, begitu katanya. Mungkin, nanti saya akan share lagi hal unik lain yang saya temui di sini. Gimana? Tertarik berkunjung ke tempat baru dan membuat catatan tentang hal unik yang ada di sana? ;)

See you at the next post!

Cheers,
Sawitri Wening

7 comments:

  1. Senang nyimak ceritanya, mba. Jadi banyak tau ttg UK. Mereka ramah2 ya, senang nanya, "Are u ok?" tapi nggak ditanya kapan hamil lagi kan mba 😀 semoga kerasan tinggal di sana ya mba 😊

    ReplyDelete
  2. Akupun tiap traveling ke negara2 yg cendrung udh maju kayak bristol lgs betah mbak.. Krn serba teratur kali yaa.. Org2nya disiplin, gratifikasi aja nolak.. Ga kebayang kalo di negri sendiri ya :p

    ReplyDelete
  3. Waaaa seneng ya mbak tinggal di Uk meskipun harus beradaptasi dg keadaan. Eh itu bener toilet ga ada airnya? Ya ampun ceboknya gimana hikssss

    ReplyDelete
  4. Sambil baca blognya sambil bayangin indahnya UK semoga Jakarta bisa seperti itu ya someday :)

    ReplyDelete
  5. Cerita yang menarik, jadi pengen nyusul Cucu yang kuliah di Leeds, hehe...#latah. Serem atuh, ya, kalo orang mabok pada hobi mecahim botol, huhuuu...

    ReplyDelete
  6. duh, seru banget ya disana Mba... pengeeen kesana, huhuhu...kapan ya?

    ReplyDelete
  7. kebayang juga nih mbaaayang soal toilet no water..hahaha karena pernah masuk di hotel internas juga begitu, apa saya yg kudet yaa..hahaha. Slam kenal (IG & Twitter : @cputriarty)

    ReplyDelete