Saturday, November 14, 2015

Hanging Out with Ken #2: Piknik!


Hari Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya kami mengajak Ken piknik di Taman Suropati. Begitu ada yang mencetuskan ide piknik di salah satu grup WA, saya langsung bersemangat. Entah udah berapa tahun yang lalu piknik-piknik asyik gitu. Kayaknya sekitar 4 tahun yang lalu deh sama temen komunitas di kampus saya, ke Kebun Raya Bogor. Lama pisaaan kan. Makanya, saya sumringah banget waktu diajak piknik, hihih norak. Biarin. Maklum deh, jaman single dulu senengnya main ke Taman Suropati sambil ngerandom. Sekarang alhamdulillaah bisa ajak anak dan suami plus orang-orang kesayangan waktu di kampus dulu. Sekalian lah biar nggak jadi ibu-ibu kurang piknik, heheh.

Sebenernya yang bikin saya excited saat itu adalah bisa ketemu sama genggong ceriwis yang menamakan dirinya "Merem Melek". Plis, nggak usah nanya maksud namanya apa, karena saya juga nggak ngertiii kenapa namanya itu. Isinya dua kelompok tugas mata kuliah jaman kuliah dulu, hahah. Iya, di kampus saya kan isinya tugas kelompok semua ya. Biasanya, kalau ada tugas kelompok ya bareng-bareng mereka-mereka ini. Sepuluh orang dengan karakteristik, passion, dan kesibukan yang berbeda-beda ini akhirnya bisa kumpul-kumpul lagi setelah terakhir kumpul sesudah saya lahiran. Meskipun nggak lengkap, tapi seperti biasa, tetep seruuu pake banget!

Kumpul sama "The Merem Melek" hampir selalu pake rempong. H-1 grup WA masih ngebahas barang bawaan. Lucu sendiri bacanyaa... Keesokan harinya, Rami, salah satu anggota yang terkenal totalitas dan integritasnya, datang ke Suropati paling awal sambil bawa-bawa balon dan keranjang buah :""D Demi untuk memeriahkan piknik perdana kami. Buat makanan bawa masing-masing, ada yang bawa nasi uduk, snack-snack, dan nugget. Yang paling penting buat piknik adalah alas duduk! Untung aja Non Cantik Alisha rela bawa-bawa banner segede gaban bekas acara kantornya buat kita duduk-duduk di taman--yang berujung pada diliatin orang-orang yang lagi olahraga di sekitar taman. Saking niat dan rempongnya set up buat piknik, ada mbak-mbak yang keheranan gitu liat kita, sampe merhatiin gak udah-udah. Malu sih, tapi yasudah lah namanya juga taman. Masa gak boleh piknik di taman, penjaga tamannya aja adem ayem liat kita rerempongan. Yang penting nggak merugikan orang lain, kan.

Kami pun menghabiskan waktu di pagi itu sambil foto-foto, berbagi kabar, makan, dan KETAWA. Iya, ketemu The MM ini selalu bikin senam muka. Ah, I always love spending time together with them. Pengalaman pertama bawa Ken piknik. Meskipun agak rempong bagian mau nyusuin ya, karena di tempat terbuka gitu. Untung aja sempet minta tolong Fiza bawain payung super gede buat mayungin Ken kalau dia ditidurin dan ujung-ujungnya kepake buat tempat "ngumpet" saat menyusui. Bagaimanapun itu aurat ya bu, mesti hati-hati walaupun lagi nyusuin anak juga ya. Selain itu, Ken masih anteng-anteng aja sih digendong sana-sini sama bou, tante, encing, uncle, om-nya (Bhahaha iya panggilannya beda-beda, berdasarkan suku masing-masing). Malahan sempet bobo begitu digendong pake carrier. Anak pintar ya, Ken! :*


Langsung aja lah lihat keseruannya lewat foto-foto kita yang hits sampe rada malu diliatin orang-orang, apalagi pas rombongan yoga dah bubar dan sesi foto ala-ala persahabatan-yang-angle-nya-dari-tas-semetara-kita-tidur-melingkar. Usai foto ala-ala itu, kita semua sepakat bubar dari taman dong dan pulang ke rumah masing-masing. Moga ada waktu kayak gini lagi, guys! Eh iya, enjoy...


















Love is in the air <3
*Photo credit: Fiza
*Video credit: Dody

- SW -

Monday, November 9, 2015

Ken Belajar Pakai Clodi


Gambar: Google
Berawal dari join ke grup mamah-mamah psiko dan Mahmud Abas--kepanjangan dari "Mamah Muda Anak Baru Satu", dimana kedua grup tersebut tengah memperbincangkan tentang clodi, saya pun jadi ikutan penasaran sama istilah satu itu. Apa itu clodi atau cloth diaper atau popok kain biasa? Sebagai seorang ibu muda, saya termasuk telat banget, banget tahu tentang teknologi satu ini. Untuk yang belum familiar, clodi ini beda dengan popok kain konvensional berbahan selembar katun, tapi lebih mirip popok sekali pakai yang bisa menyerap pipis berkali-kali tanpa takut bocor untuk beberapa lama. Nih penampakannya...

Gambar: Google
Jadi, meskipun popok kain, bunda tidak perlu khawatir harus menggantinya setiap kali ia pipis--kecuali kalo poop, langsung diganti ya dan sebaiknya diganti maksimal 4 jam sekali. Sebenarnya beberapa kali mengunjungi online shop, sempat melihat berbagai merek clodi ini sih dan kok motifnya lucu-lucu, ya... Pas lihat harganya hmm... nggak lucu sama sekali. Sangatlah wajar kalo saat itu saya mengurungkan niat untuk membeli clodi, wong saat itu yang saya lihat satu clodi harganya 250 ribuan. Iya, itu untuk satu clodi, mendingan buat beli pospak (popok sekali pakai) bisa dapat 4 pax, belum lagi kalo diskon bisa lebih banyak lagi. Saat itu pun yang saya pikirkan menggunakan clodi akan mencekik leher kantong dan domper suami  saya.  Maka, saya urungkan niat saya untuk membelinya.

Lebih Hemat dibanding Pakai Pospak
Setelah ngobrol banyak dengan grup Mamah2 Psiko dan Mahmud Abas baru tahu ternyata, merek clodi itu banyak, tinggal pilih mau yang buatan lokal atau yang premium import. Yang lokal, dengan harga terjangkau kualitasnya nggak kalah dengan yang import. Jadi, kalau mau hemat, bisa banget beli yang merek lokal. Harga terjangkau dan kalau dikalkulasi jangka panjang bisa menghemat berkali-kali lipat dibanding pakai pospak sampai toilet training, dan masih bisa diwariskan ke adiknya (ciee.. dah ngomongin adik aja, padahal Ken baru mau 3 bulan) dengan perawatan dan penyimpanan yang tepat

Tapi, nyesel juga sih baru mulai beralih ke clodi sekitar sebulanan yang lalu, jadinya kalau niat menggunakan clodi full-time, jadi kejar tayang padahal clodi baru dicicil sedikit. Di awal memang akan terasa menguras kantong, apa lagi kalo beli langsung banyak...beuh! Investasi di awal sih. Makanya, bunda kalau niat anaknya menggunakan clodi nanti semenjak hamil cicil beli clodi biar nggak gitu berasa pengeluarannya. Lumayan lah sebulan beli 1-2 clodi gitu.

Sampai sekarang Ken baru punya 12 clodi dan harus langsung dicuci untuk dipakai di hari berikutnya. Kalau malam dan pergi-pergi, Ken masih menggunakan pospak karena selain alasan lebih praktis, kami sudah terlanjur setok, jadi ya dihabiskan dulu sembari mencicil beli clodi lagi biar bisa full pake clodi (doain emaknya istiqomah ya, terutama cuci clodinya... heheh).


Saking semangatnya beralih ke clodi, saya jadi kalap belanja clodi. Di bulan awal beli 10 clodi, 3 diantaranya dapat gratisan—kompensasi dari overdue pengiriman barang online shop (Hihih… ada aja ya rezeki). Bulan selanjutnya saya harus menahan diri dulu untuk membeli clodi maksimal 2 buah per bulan dan clodi resmi masuk wishlist prioritas saya sekarang ;D

Lebih Ramah Lingkungan
Alasan lain yang bikin saya tertarik untuk beralih dari pospak ke clodi adalah simply untuk mengurangi perasaan bersalah saya karena menghasilkan gunungan sampah pospak semenjak Ken lahir, Apalagi newborn kan yang setiap abis nenen pasti pup, sehari bisa menyampah kurang lebih 8 pospak kotor. Ternyata, ini juga menjadi alasan utami ayahnya Ken ketika saya berdiskusi soal beralih ke clodi yang pada akhirnya mendukung ide saya. Bapak saya bahkan sempat bertanya apa ada alternative lain selain menggunakan pospak untuk bayi, sedih melihat banyaknya sampah popok kotor di rumah.

Melihat pospak kotor itu saya jadi berpikir, kemana perginya ya popok-popok kotor itu padahal ini baru saya, belum ada berjuta-juta bayi lain yang menggunakan pospak. Jadi, menurut saya cukup bijak kalau kami mulai beralih ke clodi yang bisa dipakai berkali-kali dan pun kalau harus dibuang karena tidak layak pakai, jumlahnya tidak akan sebanyak pospak kotor. Ini juga yang bikin saya semangat cuci clodi setiap hari.

Lebih sehat untuk Kulit
Ini adalah hal lain yang membuat clodi mempunyai nilai lebih di mata saya dibandingkan pospak. Setelah dicobakan clodi, Ken jadi terhindar dari ruam. Ini karena bahan clodi lebih alami dibandingkan dengan pospak yang memang mengandung bahan kimia, sehingga meminimalisasi risiko terkena penyakit akibat zat-zat berbahaya kimiawi. Selain itu, menggunakan clodi, saya tidak perlu mengaplikasikan bedak atau rash cream ke pantat Ken karena selain tidak perlu, penggunaan keduanya bisa menurunkan performa clodi sehingga daya serap clodi akan berkurang.

Mencuci clodi juga ternyata ada tekniknya lho, kalau menggunakan deterjen sebaiknya ¼ kali dari jumlah deterjen yang biasa kita pakai (CMIIW ya..) sebab sisa deterjen yang menempel pada clodi juga dapat mengurangi performa clodi. Ken sendiri tidak menggunakan deterjen untuk mencuci clodi, tapi menggunakan laundry ball “Ecowash” yang bebas deterjen, sehingga clodi benar-benar bebas bahan kimia dan lebih sehat untuk digunakan si kecil.


Merek Clodi yang Sudah Pernah Dicoba
Sebagai pemula, belum banyak variasi merek clodi yang saya coba. Tapi, saya mau sharing sedikit deh, siap tahu membantu yang lagi cari-cari tahu soal merek clodi. Simak di bawah ini ya.

1. Babyland 
Ini adalah merek clodi pertama yang saya belikan untuk Ken. Sudah pernah dipakai malam hari dan tidak rembes ataupun bocor. Kurang suka dengan bahan inner-nya yang agak berbulu. Saya pikir Ken akan tidak nyaman memakai clodi ini, ternyata nyaman-nyaman saja tuh. Bahan outernya beda-beda ada yang agak tebal dan kaku, ada juga yang halus. So far, clodi favorit Ken ada di merek ini yang bermotif jeans karena bahan outer-nya halus sekali.
Babyland
2. GG B-Dipe
Beli clodi ini karena banyak direkomendasikan dari review emak-emak di blog. Suka dengan bahan outer-nya yang halus dan insert-nya yang besar, tebal dan dilapisi oleh fleece jadi bisa digunakan untuk clodi tipe coveria. Sayangnya, kalau sudah agak lama dipakai GG ini jadi agak pesing. Tapi, overall suka dengan cutting dan bahannya.

3. Sobi Minky
Suka dengan bahan outer-nya yang seperti bludru dan cutting-nya yang pas untuk Ken. Sayangnya, waktu Ken pupnya lagi banyak suka bocor samping meskipun sudah ada inner gusset. Tapi, untuk pemakaian secara umum masih oke sih.
Sobi Minky

4. Pempem
Modelnya simple dan motifnya lucu. Suka dengan insert-nya yang berbahan litty karena mudah dicuci dan cepat kering. Kurang suka dengan outer-nya yang agak kaku.

5. Smart Kids
Hampir sama dengan pempem, namun bahan outer-nya lebih halus dan insert-nya bukan litty. Menurut saya kurang cocok digunakan untuk malam hari atau lebih dari 3 jam.

6. Bebibum
Ini satu-satunya clodi tipe coveria yang saya punya, sisanya tipe pocket. Jarang digunakan untuk Ken karena terlalu bulky. Meskipun tipe coveria, tetapi tidak bocor digunakan saat Ken pup.


Bagaimana, bunda? Apa tertarik juga untuk beralih ke clodi seperti saya? Awalnya saya sempat urung untuk menggunakan clodi, saya pikir menggunakan clodi itu mahal, ternyata untuk jangka panjang justru lebih hemat. Saya pikir mencuci clodi itu rempong, ternyata nggak juga lho—bahan inner clodi sangat mudah dibersihkan dari kotoran pup. Saya pikir menggunakan clodi itu rempong, ternyata sama saja dengan menggunakan pospak, bedanya pospak tinggal buang kalau clodi ya dicuci. Memutuskan beralih ke clodi itu memang pilihan dan tetap ada plus minusnya, tetapi menurut saya ini pilihan yang baik. Jadi, yuk bunda ubah mindset dulu kalau menggunakan clodi itu serba repot dan #makeclothmainstream ;)


*Silakan kunjungi website ini untuk referensi lebih lengkap soal clodi: 


Cheers!

- SW -

Friday, October 23, 2015

Cerita tentang Namaku


Mungkin ini akan menjadi postingan paling narsis karena di sini saya akan membahas sebuah nama. Nama saya sendiri, Dewi Wening Sawitri. Banyak orang bilang, “apa lah arti sebuah nama”, tapi menurut saya, terkadang dalam nama itu sendiri terkandung sebuah makna. Apalagi nama yang diberikan orang tua kepada kita. Pasti memiliki arti dan maksud tertentu seperti doa dan harapan yang ditujukan untuk si buah hati.

Apa yang bisa anda tangkap apabila mendengar sebuah nama Dewi Wening Sawitri untuk pertama kalinya? Saya tidak pernah menanyakan langsung pertanyaan tersebut kepada orang-orang di sekitar saya, namun dari obrolan yang pernah saya lakukan dengan mereka, dapat disimpulkan bahwa yang paling mencolok dari nama saya adalah unsur-unsur jawa yang kental di sana. Tanpa saya beri tahu, mereka sudah tahu bahwa saya atau paling tidak orang tua saya berasal dari tanah jawa, jogja tepatnya. Setelah besar, saya tidak heran mengapa orang tua saya memilih nama itu untuk saya. Mereka adalah orang yang masih sangat menghargai tanah asalnya, terutama kebudayaan jawa, sehingga nama yang diberikan untuk saya dan saudara-saudara saya adalah nama yang berbau khas jawani.

Karena menurut saya setiap nama memiliki makna, saya sempat menanyakan arti atau maksud yang sesungguhnya kenapa ayah saya memilihkan nama tersebut sebagai nama bayinya yang kedua. Berikut adalah penjelasan yang diberikan ayah saya : Dewi berarti perempuan (ini cukup jelas saya rasa). Wening diambil dari nama tengah ayah saya, yang berarti bening. Sawitri adalah nama salah satu tokoh pewayangan (ayah saya adalah seorang  seniman jawa) sering juga dikenal dengan Savitri.
          
Dari kisah yang pernah saya baca, dikisahkan Savitri adalah seorang putri dari suatu kerajaan di India. Karena teramat sangat anggun, para lelaki justru enggan meminangnya. Suatu hari ayahnya atau Raja dari kerajaan itu khawatir kalau anaknya tidak segera menemui jodohnya. Sang raja yang mulai sakit-sakitan khawatir kalau tidak akan ada penerus tahtanya kalau putrinya tidak segera menikah. Sang Putri pun berdoa kepada para dewa dan mendapat wahyu kalau suaminya bernama satyavan. Sayangnya, satyavan diramalkan berumur pendek dan hanya akan hidup setahun lagi. Dengan ikhlas, Savitri menikah dan hidup bahagia dengan suaminya. Ia selalu bertapa dan berdoa kepada dewa agar suaminya diberi umur yang panjang. Sampai-sampai ia tidak mau beranjak dari pertapaanya. Suatu ketika, ia mendapat firasat kalau satyavan akan meninggal hari itu, saat ia sedang berburu. Savitri  pun mengikuti suaminya berburu dan saat dewa kematian dating mengambil nyawa suaminya, Savitri mengikuti sang dewa kematian hingga kakinya sakit dan sebenarnya tak sanggupp untuk berjalan lagi. Namun, ia tidak menyerah dan karean kesetiaannya, sang dewa kematian mengembalikan nyawa suaminya. (ki nartosabdho)

Mungkin orang tua saya berharap agar saya dapat menjadi orang yang setia, yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk orang-orang di sekitarnya. Saya pun berharap demikian. Menjadi seseoranr yang mau berkorban untuk orang yang disayanginya adalah hal yang mulia.

Dari penjelasan tadi, dapat disimpulkan bahwa namaku, Dewi Wening Sawitri berarti seorang wanita yang berhati bening dan setia. Lalu, bagaimana dengan nama anda? Arti apa yang ada di dalamnya?

Salam,
- SW -


Monday, October 19, 2015

Tentang Satu Tahun yang Lalu, Kini, dan Nanti


Di semester-semester akhir kuliah, saya pernah iseng menjawab ketika ditanya bapak saya soal target menikah. Waktu itu, setengah bercanda, saya menjawab pasti, "insya Allah umur 23 tahun, pak." Alasannya sesederhana saya nggak mau terjebak dalam hubungan yang berlarut-larut, dalam ketidakpastian. Jadi, saya pikir usia 23 tahun adalah usia yang pas untuk menikah, walaupun saya sendiri tidak ngoyo soal hal itu. Secara waktu itu jodoh saya siapa masih diawang-awang, belum ketemu--bahkan bayang-bayangnya pun belum ada (maksudnya saya nggak pacaran atau dekat dengan siapa-siapa), jadi yah kalau Allah berkehendak saja lah, maka pernikahan di usia itu bisa terjadi.

Rupanya apa yang kita katakan benar adalah doa, semesta mengamini perkataan saya. Kejadian demi kejadian yang mengarahkan saya menuju pertemuan dengan orang yang menjadi suami saya kelak pun saya alami. Laki-laki itu ternyata dekat dengan saya, ia menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya. Kala itu, kami tidak pernah benar-benar dekat, tidak pernah banyak bicara atau saling sapa. Tidak pernah tahu isi hati masing-masing dan tidak pernah menyangka bahwa masing-masing dari kami merasakan getaran yang sama saat kesempatan mempertemukan kami berdua. Hingga waktunya tiba, kami baru mengetahui dengan pasti isi hati kami masing-masing yang selanjutnya berujung pada sebuah komitmen, yaitu: menikah.

Diambil saat dalam perjalanan menuju BKOW, tempat kami menikah di hari pernikahan kami. Ada kalimat tauhid di sana. Sama seperti yang tertulis di dalam mahar yang diberikannya untuk saya. 

Tepat setahun yang lalu, di usia saya yang ke-23. Laki-laki itu meminang saya dan semenjak saat itu, dia menjadi orang yang paling saya kagumi--melebihi kekaguman saya padanya waktu jaman kuliah dulu. Saya tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah telah mengirimkannya untuk saya, sebab saya selalu ingat perkataannya untuk membuat saya bahagia, dan bagaimana ia mewujudkannya untuk saya dengan cara-cara yang sederhana yang justru membuat saya jatuh cinta lagi  kepadanya, setiap harinya. Tidak, saya tidak berlebihan hanya saja saya memang bukan orang yang romantis. Berkata-kata dan bertindak langsung secara romantis, bukan gaya saya... hehehe. Maka dari itu, saya tuliskan semua disini saja. Saya jadi ingat, dulu laki-laki itu pernah meminta maaf karena merasa dirinya tidak romantis, lalu ia meminta didoakan agar ia bisa belajar lebih romantis lagi. Tapi siapa sangka, ternyata ia lebih romantis dari yang ia kira. Seperti ketika setiap pagi, sebelum berangkat bekerja ia selalu melebarkan kedua tangannya untuk memeluk dan mencium istrinya, seperti sesederhana menyiapkan makanan kesukaan saya untuk menghibur saya, atau menjadi dirinya apa adanya yang bisa membuat saya tertawa sekaligus geleng-geleng kepala, tidak pernah malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan banyak hal lainnya. Tanpa ia sadari, ia adalah mahluk paling romantis yang pernah saya kenal. Ah, kayaknya postingan ini sudah berubah jadi surat cinta yang panjang... jangan iri ya, heheh.

Perjalanan satu tahun ini, seperti layaknya mengemut permen kapas... eh, tiba-tiba habis. Tiba-tiba sudah setahun perjalanan yang begitu manis, namun tetap dinamis ini telah berjalan. Banyak teman-teman saya yang belum menikah kepo bertanya nikah itu enak atau nggak. Saya selalu menjawab dengan tegas, "enak!" Beneran enak banget, gimana nggak... setiap hari bisa ketemu sama orang yang disayang, bisa dengan bebas merayakan cinta, bercanda bareng, ditambah lagi dinafkahi suami, heheh. Ada nggak enaknya nggak? Jangan sedih... Ada. Tentu lah yang namanya menikah, kita akan mengalami berbagai perubahan, buat saya terutama dalam hal mengambil keputusan. Setelah menikah, apa-apa mesti memikirikan dampaknya, bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk pasangan dan anak. Nggak boleh lagi egois dan sedikit banyak harus mau berkorban. Mau makan Indomie goreng aja sekarang mesti minta izin suami. Eh, tapi tetap senang-senang aja lho walau begitu, mungkin karena kita melakukannya karena cinta ya, asyik~

Belum genap satu tahun, perayaan cinta itu kini semakin lengkap dengan hadirnya buah hati kami, Ken. Alhamdulillaah... Kami boleh jadi masih sering dianggap masih kecil oleh orang tua kami, atau orang lain. Eh, ini tiba-tiba perut mbelendung dan lahir lah seorang anak laki-laki ber-DNA kami berdua. Pertanyaan yang selalu muncul sebelum ia lahir, bisa emang mengurus anak? Siap jadi orang tua dan jadi panutan anak? Jawabannya ya harus siap, meskipun saya tahu kapasitas kami mungkin masih jauh, jauuuh dari apa yang disebut dengan orang tua yang baik. Sampai saat ini, kami masih belajar menjadi orang tua--baru 2 bulan jadi orang tua. Yah, bukan kah katanya menjadi orang tua adalah pelajaran yang terus-menerus. Jadi, harusnya sih mengurus anak itu nggak ada bosennya ya, apalagi anak bayi yang kalau kita ngedip dikit aja tahu-tahu sudah gede. Kehadiran Ken membuat perjalanan satu tahun ini bahkan terasa lebih cepat.

Kata orang, satu tahun pernikahan itu masih manis. Buat saya sangat manis, rasanya seperti masih pengantin baru (cieee...), walau sekarang sering dengan diiringi backsound tangisan dan cooing-nya Ken, hihih. "Masih"... betapa kata itu terkadang membuat saya bergidik. Ah, tapi hidup kan berjalan seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah, siapapun menyadarinya. Ya, saya memang tidak tahu bagaimana lagi kisah perayaan cinta kami, yang saya tahu saya bahagia... sebahagia itu hingga saya begitu takut kehilangan. Saya hanya bisa berdoa semoga kami bisa menjalani pernikahan ini dengan belajar, beribadah, dan berusaha menjadi lebih baik. Beruntung, suami saya adalah orang yang selalu mendukung dan membimbing saya.

Di hari ini, setelah tahu kalau ia menganggap menikah adalah kesuksesan terbesarnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada suami saya tercinta.

"Selamat ya, sayang... Kita sudah melewati satu tahun pernikahan ini dengan saling melengkapi. mengasihi dan menyayangi yang tiada henti. Semoga kedepannya kita bisa jadi lebih baik lagi sebagai individu, pasangan hidup, sekaligus orang tua. Maafkan aku yang masih banyak kekurangannya. Jangan bosan-bosan mengingatkan dan membimbing aku, ya. Impian terbesarku adalah bisa berkumpul lagi bersama dengan kamu di syurga nanti. Aamiin..." 

Untuk mengenang setahun yang lalu, dengarkan lah Nama Tuhan dan suara lantangmu yang membuatku tersenyum haru hingga kini...


Untuk Adipati Karna-ku dari Dewi Surtikanti-mu,
"Jangan pernah bosan ya merayakan cinta bersamaku, selamanya."


Jakarta, 19 Oktober 2015
- SW -

Monday, October 12, 2015

Hanging Out with Ken #1: Diaper Bag Raid, Hospital, and Mall

Mumpung Ken lagi bobo, saya mau share sedikit ah. Pertama kali mengajak Ken keluar rumah (untuk pergi jauh, maksudnya) adalah pada saat bayi kecil kami ini menginjak usia kurang lebih satu bulan. Kemana lagi kalau bukan ke rumah sakit untuk imunisasi. Awalnya kami galau mau vaksin dimana. Setelah dipikir-pikir dan tanya sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk ke RS Awal Bros di Bekasi karena niatnya setelah dari sana, kami mau main ke tempat Datuk dan Mbauti-nya Ken di Jatibening. 

Percaya nggak, saya dan suami deg-degan banget lho waktu mau pertama kali keluar bertiga sama Ken. Jelas karena belum ada pengalaman membawa bayi sekecil itu ke tempat yang agak jauh dari rumah. Biasanya kemana-mana naik motor, boncengan berdua sama suami sekarang mesti gendong bayi dan tentu nggak bisa naik motor. Mungkin ada ya orang tua yang santai aja bawa bayinya naik motor karena berbagai alasan, tapi kalau saya nggak tega. Jadi kami pun memutuskan ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. 

Perlengkapan "Perang"
Meskipun deg-degan, persiapannya sih nggak ribet-ribet. Beruntunglah Ken karena mendapatkan kado-kado yang sangat berguna untuk orangtuanya dirinya, salah satunya adalah diaper bag yang bentuknya ransel, Jadi bisa dibawa sama ayahnya yang emang ogah ribet nenteng-nenteng tas. Ibunya juga bisa nitip barang bawaan di tas itu supaya bisa fokus gendong Ken ke taksi. 

gambar: google

Berikut ini yang saya siapkan untuk "jalan-jalan" perdana Ken. Oiya, saya tulis juga merek perlengkapan yang saya pakai karena siapa tahu berguna buat ibu-ibu yang lagi cari referensi produk. Saya sendiri merasa terbantu dengan info tersebut--pengaruh kebanyakan blogwalking emak-emak. Nanti kapan-kapan review deh :

1. Changing mat/perlak yang sudah satu paket dengan diaper bag. Perlak ini sangat berguna sebagai alas ketika Ken mengganti popok agar tetap bersih. (Allerhand)

2. Baju ganti (1-2 set) untuk jaga-jaga kalau terkena gumoh atau pup yang rembes dari popok, atau kalau Ken berkeringat banyak. 

3. Popok sekali pakai biasanya saya bawa 4 buah untuk jaga-jaga, walaupun kenyataannya hanya dipakai dua buah saja. (Pampers New Born)

4. Tissue basah yang digunakan saat Ken ganti popok. (Mamy Poko Non Alcohol)

5. Diaper Rash Cream yang dioleskan di pantat dan lipatan paha Ken saat ganti popok, fungsinya untuk mencegah munculnya ruam. (Konicare Diaper Rash Cream/Cussons baby cream)

6. Hand Sanitizer yang selalu sedia di tas untuk membersihkan tangan sebelum memegang Ken. Semenjak ada Ken, hand sanitizer selalu tersedia di kamar saya dan sangat berguna terutama kalau ada teman yang menengok Ken dan mau menggendong Ken. (Dettol)

7. Cologne untuk dipercikkan ke baju Ken sedikit agar tetap segar. (Cussons baby soft touch)

8. Telon cream. Saya biasanya mengoleskan telon ke dada dan perut Ken saat mengganti popoknya agar ia tetap hangat. Untuk bepergian, saya prefer menggunakan telon yang berbentuk krim dibandingkan minyak karena lebih praktis dan tidak gampang tumpah, selain itu saya suka sekali dengan wangi telon cream yang digunakan Ken. (Bebe Roosie Telon Cream)

9. Selimut untuk membawa Ken ke Taksi dan sebagai alas stroller

10. Bedongan untuk jaga-jaga kalau Ken butuh kehangatan lebih biasanya sih hanya saya gulung melilit dari dadanya Ken sehingga ia tetap hangat--bukan digunakan untuk membedong.

11. Wet bag/kantung plastik untuk membuang popok basah

12. ASIP & Cup Feeder untuk jaga-jaga kalau tidak menemukan nursery room. Tapi, kalau perginya ke RS sih insya Allah ada ya. Ini untuk case misal ke mall atau tempat umum lainnya. Oiya, saat ini Ken belum kena botol sama sekali. Kami mengupayakan hal itu. Dulu saat masih berusia 1-7 hari. ketika Ken belum sempurna latch-on-nya sebenarnya Ken sangat pintar minum dengan menggunakan cup feeder. Sekarang, karena sudah jagu nyusu, jadi butuh energi ekstra karena kalau sudah tersedak dan semakin rewel, ASIP-nya malah disembur atau tidak mau ditelan. Tapi, karena saya stay at home, hal ini tidak terlalu membuat kami bermasalah. 

13. Stroller untuk membawa Ken yang tertidur, jadi tidak perlu menggendong-gendong. Kalau ia sedang rewel dan minta digendong, ya kami gendong. (Joie Sma Baggi)

14. Mainan rattle kalau ini sebenernya disesuaikan dengan usia anaknya sih. Mainan ini biasanya saya pakai kalau sedang mengajak Ken berbicara. Lumayan lah membantu saya mengarang bebas dan menarik perhatian Ken, sehingga akan sedikit rewelnya. 


Perjalanan dimulai...

Ketika Ken lapar
Alhamdulillaah... Ken selalu anteng kalau diajak jalan. Pertama kali keluar rumah, anak ini udah dibawa ibu dan ayah makan di Burger King. Sebelum ke RS, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu dan kebetulan restoran yang searah dan tidak terlalu ramai adalah Burger King di Raden Inten. Waktu ibu dan ayahnya makan burger, dia anteng aja bobo di stroller. Sepanjang perjalanan di taksi juga cuma tidur. Bangun-bangun pas kami udah selesai makan dan ayahnya sedang mencari taksi yang lama banget datengnya. Sepertinya Ken bangun karena haus sih... Jadi saya gendong aja biar anteng dan sabar-sabar menyusui di taksi aja. Melanjutkan perjalanan, di taksi Ken asyik minum dan waktu dia udah selesai, tiba-tiba udah sampe. arena udah kenyang, Ken anteng lagi ditidurin di stroller. Kami pun mesam-mesem liat Ken begitu kooperatif. Tahu saja ayah ibunya masih kaku bawa-bawa bayi. Waktu antre menunggu giliran DSA, Ken sempat nangis lagi karena lapar dan minta diganti popoknya. Untung lah disana ada nursery room, jadi saya dengan tenang duduk di sana sambil sesekali mengobrol dengan ibu lain yang juga sedang menyusui bayinya.

Di perjalanan with Ken kedua kalinya, kami sudah lebih ahli. Kali ini ke mall... Lagi-lagi anak ini cuma nemenin ayah ibunya late lunch dan kali itu cari buku. Sayangnya, nurser room di GI saat itu hanya buka s/d pukul 15:00, mepet bangeet. Ken begitu anteng sampai nama kami dipanggil dari waiting list, matanya terbuka lebar dan dia langsung menangis kelaparan. Kebetulan waktu itu saya belum membawa ASIP, jadi harus menyusui langsung. Kami pun memilih meja di pojok yang jarang dilalui orang dan dihinggapi tatapan orang-orang yang ada di sana agar saya nyaman menyusui Ken. Mungkin kebanyakan ibu-ibu sudah sedia nursing apron, tapi saya sendiri belum punya karena mengandalkan jilbab yang lumayan lebar sehingga bisa menutupi wajah Ken saat ia sedang minum. Sementara saya menyusui Ken, suami saya dengan manisnya menawarkan untuk menyuapi saya karena tahu saat itu saya udah super kelaperan karena telat makan siang. Dia pun terpaksa harus menunda makannya sampai makanan saya habis. Such a sweet one from him :) Selesai makan dan Ken kenyang, kami menuju Gramedia. Duh, cakep banget deh anak ini anteng sambil memandangi sekeliling. Mungkin dia bingung lagi ada dimana kok banyak banget orang dan banyak BANGET yang dorong-dorong stroller di mall. 

Ketika harus naik-turun lantai di mall
Nah.. nah.. mau coba naik eskalator sambil bawa stroller isi bayi aja kami deg-degan dan memilih untuk naik lift aja. Terus gimana kalo lift-nya penuh terus? Yaudah terpaksa deh naik eskalator. Urusan bawa-bawa stroller sudah ditanggung ayahnya, yang nunggu eskalator sepi baru berani bawa naik/turun stroller-nya. Kalau Ken lagi pengin digendong, saya kebagian gendong dan ayahnya bawa stroller. Tapi, pas di Kokas dari lantai berapa lupa menuju Food Society yang eskalatornya tinggi banget, saya super deg-degan waktu turun sambil gendong Ken. Alhasil, badan kaku banget karena takut tergelincir/jatuh. Kebetulan saya gendongnya pake tangan, nggak pakai carrier... Jadi nggak bisa hands-free dan pegangan di samping eskalatornya. Asli, abis itu ngga mau lewat situ lagi ah kalo bawa Ken. Mendingan sebisa mungkin naik lift deh kalau bawa bayi atau stroller. 

Waktu Sholat 
Kalau waktu sholat tiba, kami bergantian menjaga Ken, semua beres. Beda ceitanya ketika hendak maghrib di Kokas kemarin. Ayahnya sholat duluan dan mesjid di dalam mall itu antrenya luar biasa. Saya pun menjaga Ken di dekat mesjid. Ayahnya meminta saya untuk menentukan meeting point karena sambil menunggu ayahnya selesai sholat, saya mau ajak Ken ke Century untuk cari sesuatu. Saya pun menawarkan untuk bertemu di depan mesjid saja sekitar 10 menit lagi. Sesampainya di Century, Ken mulai menangis dan dia kalau nangis super kenceng. Jadi lah saya harus menggendongnya dan nggak konsen belanja. Saya tahu Ken akan kembali menangis kalau saya taruh di stroller. Tapi, mau bagaimana lagi, 10 menit sudah berlalu dan saya harus kembali ke depan mesjid agar ayahnya tidak bingung mencari saya. Saya pun buru-buru ke sana sambil Ken menangis di dalam stroller. Sebenarnya nggak harus se-drama itu sih kalau ponsel kita aktif--eh ini mau pergi ponsel pada abis batrenya. Sesampainya di sana, saya pun mengalihkan tugas menjaga Ken ke suami untuk sholat. Kasihan, Ken... dia harus "puasa" beberapa menit karena ibunya mesti ngantre sholat maghrib. Selesai sholat, ayahnya sudah ditemani dengan mbak-mbak pramuniaga Informa yang nggak tega mungkin liat bapak-bapak muda gendong bayi yang lagi nangis-nangis gitu. Eh, dengan baiknya mbak pramuniaga tadi mempersilakan saya untuk menyusui di dalam toko--nyempil di dekat display kasur-kasur. Catatannya lain kali mesti cari tempat PW dulu kali ya buat nunggu ayahna sholat biar bisa sambil nyusuin dan ponsel mesti full charged kalau dibawa pergi.

Meskipun rempong dan pulang-pulang tepar--padahal begitu doang. Tapi, seru juga sekaligus belajar bawa bayi ke tempat umum. Catatannya terpentingnya sih mesti hati-hati dan nggak boleh meleng dari bayi dan anak kita, soalnya mall rame banget dan yang bawa stroller juga banyak banget.


Cheers,

SW