Showing posts with label Baby. Show all posts
Showing posts with label Baby. Show all posts

Sunday, October 2, 2016

Ken's First Flight (Jakarta-London)

Salah satu hal yang bikin super degdegan sebelum berangkat ke UK, selain nungguin Visa granted dan kepastian akomodasi adalah bayang-bayang berada di pesawat kurang lebih 15 jam bersama dengan Ken. Yes, ini pengalaman pertama Ken naik pesawat dan langsung 15 jam saja. Tarik nafas terus waktu itu ngebayanginnya. Kebayang Ken yang lagi seneng-senengnya jalan dan mulai bisa ngomong, plus waktu itu, yang nggak doyan makan--harus duduk di pesawat selama belasan jam.

Sebegitu menyeramkan kah? Yang pasti, sempat frustrasi juga ngeliat layar yang nunjukkin lama perjalanan kita--*apa sih nama layarnya?* Perasaan udah dua jam, tapi kok majunya dikit banget~ Kenapa? Soalnya saya pegel mangku Ken yang lagi tidur karena gagal pakai bassinet *cry*

Tapi eh tapi... Ternyata nggak semenyeramkan itu lho. Seenggaknya untuk Ken kemarin yang, alhamdulillaah, banyak tidurnya selama perjalanan. Setengah perjalanan ke Singapur, doi tidur. Setengah perjalanan ke London, doi tidur lagi. Sungguh pengertian sekali anak ini, ibu bangga, hahaha. Udah gitu aja ceritanya.

****

Hehehe, nggak deng. Sekarang kita cerita-cerita aja hal yang saya pelajari dari pengalaman bawa anak (atau toddler sih lebih tepatnya), di long-haul flight. Persiapan-persiapannya, pelajaran dari kesalahannya, dsb. Mumpung masih ingat.


1.   Sounding ke Anak 
Ini penting karena anak mengerti. Sedari beberapa bulan sebelumnya. Kami sudah sounding ke Ken kalau nanti kita akan naik pesawat dengan waktu yang lama. Minta dia untuk mengerti selama perjalanan, tidak bisa jalan mondar-mandir kesana kemari, jadi harus duduk anteng. Kalau tidur juga nggak bisa senyaman di tempat tidur. Nggak banyak yang dilihat lewat jendela. Pokoknya kasih tahu kira-kira kondisi di pesawat nanti bagaimana. Saya merasa cara ini berhasil sih. Terbukti, Ken yang super aktif, yang biasanya maunya jalan-jalan terus, selama perjalanan bahkan nggak merengek minta jalan. Paling berdiri di depan kursi aja. 

Ken tidur nggak lama setelah naik pesawat menuju Singapore

2.   Cek Kapasitas Baby Bassinet
Kalau ini belajar dari kesalahan kami. Entah dapat informasi dari mana yang menyebutkan kalau bassinet di Garuda Indonesia kapasitasnya 14 kilo. Waktu itu, kita berpikir, aman lah... Ken BB belum sampe 14 kilo kok. Ternyataaaa ketika sudah di pesawat, pas mau dipasang sama pramugarinya, saya tanya dulu itu kapasitasnya sampai berapa kilo, karena kelihatan kecil sekali dan kurang kokoh. Nanti roboh lagi kalau Ken naik. Benar, ternyata kapasitasnya max. 8 kilo saja. Alhasil, bassinetnya nggak jadi di pasang. Saya pun langsung pucat karena membayangkan harus memangku Ken belasan jam, hehehe... Sebaiknya, sebelum itu cek langsung ke maskapai ya soal kapasitas baby bassinet ini, terutama kalau jadi alasan untuk pilih maskapai karena bisa jadi berbeda tiap maskapainya. Padahal kami udah bela-belain pesan kursi di depan demi bisa pakai baby bassinet lho.


3.   Dapatkan Kursi di Bulk-Head
Kenapa dapatkan? Kursi ini bisa didapatkan secara gratis kalau otomatis by system waktu kita check-in. Tapi, kalau kita pesan sebelum waktu check-in, ya bayar. Kami sudah pesan baby bassinet via call center 2 hari sebelum keberangkatan, saya otomatis dapat kursi di bulk-head. Suami? Masih nggak tahu nasibnya duduk dimana karena ternyata jatah bulk-head udah abis di city check-in dan web check-in (Oiya, kalau bawa bayi, aturannya nggak bisa city/web chec-in). Jadi, mau nggak mau pilihannya kita check-in duluan di bandara atau beli kursi. Iya, kena charge karena kelasnya beda (extra legs room). Biar nggak gambling, akhirnya kami pun rela bayar extra charge 700rb Rupiah di sales office Garuda Indonesia. Worth it, nggak? Banget. Legs Room yang cukup luas jadi salah satu senjata kami kalau Ken sudah mulai bosan duduk. Dia bisa berdiri atau duduk di sana. Kami pun jadi lebih tidak capek karena kaki bisa selonjoran. Buat kami, poin ini mengurangi rasa lelah dan kewalahan bawa anak. Meski gagal pakai baby bassinet, nggak apa deh.


4. Ready Changing Station
Biar nggak ribet ambil popok, tissue basah, krim popok, dsb. Saya menyiapkan tas kecil yang isinya lengkap keperluan Ken ganti popok selama di pesawat dan di taruh di bawah atau depan kursi. Jangan di bagasi kabin. Jadi, kalau mau ganti tinggal angkut aja tas kecilnya. Isinya, popok (8 buah); tissue basah; hand-sanitizer; krim popok; nappy bags; minyak telon. Saya juga menyiapkan 3 stel baju ganti yang udah di kelompokkan per stelnya ke dalam zip-lock bag. Lebih praktis, nggak usah cari2 baju lagi di tas. Oiya, saya juga bawa satu baju ganti, jaga-jaga kalau kotor. Tapi, nggak kepakai juga sih akhirnya karena ngga ada insiden yang mengharuskan saya untuk ganti baju.


5. Siapkan Makanan
Dari awal, saya udah bisa bayangin kalau makanan nggak akan terlalu bisa diandalkan untuk Ken di pesawat. Secara waktu itu, anaknya nggak hobi makan. Tapi, saya tetap bawa cemilan-cemilan macam yummy bites, roti, puding atau biskuit-biskuit, dan susu ultra mimi. Untuk makannya, saya shared makanan saya di pesawat. Anehnya, kami tidak dapat baby food. Padahal teman yang bawa bayi, naik Garuda Indonesia juga, dapat tuh. Kami juga nggak minta sih. Udah sih segitu aja kalau untuk makanan.


6. Jangan batasi waktu menyusui 
Kalau biasanya Ken sehari menyusu, saat itu 4 kali saja dalam sehari. Waktu di pesawat, entah berapa kali ia menyusu. Tak terhitung banyaknya. Ini justru jadi senjata saya banget kalau Ken mulai bosan dan tidak nyaman dengan tekanan udara yang ada di pesawat. Walaupun saya yakin banyak kali dimana Ken menyusu karena butuh kenyamanan saja, bukan karena lapar.  Makanya, Ken tidur terus selama di perjalanan. Itu semua berkat menyusu.


7. Cuek aja! 
Ken ini sedang semangat-semangatnya belajar bicara. Apapun yang ia dengar, hampir selalu diikuti. Begitu di pesawat, kalau sedang bangun, ia tidak bisa berhenti bicara. Terkadang juga dengan nada tinggi, alias teriak-teriak. Kadang juga SKSD sama penumpang lain, ada om bule di samping saya dia panggil "om...om.." begituuu terus sambil nunjuk-nunjuk. Senyum-senyum sama penumpang lain. Walaupun mungkin agak sedikit mengganggu, kita jangan kebawa stress. Cuek aja, namanya juga anak-anak. Tentu saja, sambil ditenangkan atau dialihkan perhatiannya.


8.   Siapkan hiburan
Sebenernya, ini juga gagal sih kami lakukan. Tapi, mungkin bisa lebih membantu kalau disiapkan dengan lebih baik. Kami udah menyiapkan beberapa mainan baru yang sengaja baru akan kami keluarkan satu per satu di pesawat supaya Ken tidak bosan. Tapi, tas untuk naro mainannya di bagasi kabin, sulit deh. Jadinya, itu mainan baru dikeluarin begitu sampai London, meeeh~


9. Jalan-jalan di Aisle/kamar mandi
Serius deh... Momen ganti popok bisa jadi hiburan juga ternyata kalo sedang perjalanan panjang di pesawat. Jadi kalau anak sudah bener-bener bosan, bawa aja jalan-jalan (digendong) di aisle atau masuk kamar mandi. Kalau udah bosan sekali, anak gampang terhiburnya kok. Ken diajak ngaca dan cuci tangan di wastafel aja udah happy :"D

10. Manfaatkan waktu transit
Kami transit di Singapore selama kurang lebih satu jam saja. Jadi, nggak banyak yang kami lakukan (termasuk nggak kepikiran buat tukar voucher gratis dari bandara *cry*). Saya sih memanfaatkannya untuk ke nursery room dan membiarkan Ken bebas berjalan-jalan semau dia, sambil diawasi. Terus minta pengertian lagi ke dia kalau perjalanan kita akan lebih panjang.


11. Bawa Stroller & Baby Carrier
Ini opsional sih... Tapi, buat saya bawa stroller sendiri ternyata sangat membantu mobilisasi. Mengingat cah lanang kami sudah tidak ringan lagi untuk digendong kesana-kemari dengan waktu yang lama. Selain itu, bagasi stroller juga sangat bermanfaat untuk meringankan bawaan barang tentengan. Saya sampai sengaja beli stroller yang bisa masuk kabin waktu itu demi bisa bawa stroller ke pesawat. Eh, ternyata nggak usah bawa yang bisa masuk kabin juga nggak apa. Ujung-ujungnya nggak masuk kabin juga, tapi masuk bagasi (dikasih ke mbak pramugari) tepat sebelum kami masuk kabin. Walaupun, sebenarnya bisa juga kalau mau masuk kabin kalau dilipat sebelum boarding. Buat stroller nanti saya bikin cerita sendiri deh. 

Untuk baby carrier, waktu itu nggak terlalu terpakai sih. Tapi, buat jaga-jaga aja kalau di pesawat anak rewel dan cuma bisa tenang dengan digendong atau untuk kebutuhan lainnya. Oiya, waktu itu, Baby Carrier dipakai hanya pada saat turun dari pesawat saat transit dan saat sampai, hingga ketemu lagi sama strollernya.

Dorong stroller sambil bawa koper
Yang terakhir dan paling penting, tentu saja jangan lupa berdoa supaya perjalanan kita lancar, sampai dengan sehat, selamat, sentosa. Kalau kalian, ada tips lain lagi nggak biar bisa survive bawa anak kecil di pesawat?


Salam,
Sawitri Wening

Wednesday, January 27, 2016

(Another) Things to be Prepared Before Being New Parents


Buat saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah proses adaptasi. Saya nggak bisa lupa bagaimana bahagianya ketika dokter memberi tahu saya bahwa bayi saya telah lahir dengan selamat, lantas saya menciumnya dengan air mata berlinang, haru. Saya juga masih ingat bagaimana saya dan suami saya menghabiskan waktu malam hari di rumah sakit dengan begadang, tentu saja. Meladeni Ken yang menangis tiada henti, tanpa paham kalau sebenarnya ia lapar tapi belum pandai menyusu. Buat kami, momen itu sekaligus membuat saya tersadar kalau menjadi ibu adalah sebuah tantangan baru untuk jiwa saya yang begitu tentram, apalagi selepas menikah dengan suami saya. Yes, I welcomed myself to accept the things which felt so surreal for me at that time. The first 3 months was the time when I had to fight the selfishness over myself and started to live the unstopped learning of being a good mother for my son.

Beberapa teman yang melahirkan setelah saya, sempat curhat ke saya, kaget dengan peran sebagai seorang ibu baru. Oh, saya selalu mengatakan kalau semua itu memang terasa berat di awal, seiring dengan berjalannya waktu, kita akan terbiasa. Tentu saja, life goes on and there's no way for us to refuse anything from the reality. See the bright side because it however always there and be a good moms as we can be. Intinya, fokus! Ada bayek yang masa depannya ditentukan dimulai dari sekarang, dari tangan kita. Such a self-talk for me of course.

sumber gambar: google
Ada beberapa tips yang saya catat dan sedikit banyak bisa membantu mempersiapkan diri sebagai seorang ibu. Meskipun ada beberapa hal yang saya sesali karena baru ngeh penting disiapkan sebelum melahirkan, tapi jadi catatan saya deh buat nanti kalo hamil anak kedua, heheh.

Jadi moms, selain menyiapkan ini itu (kebutuhan bayi, perlengkapan pasca bersalin, senam hamil, makan sehat, dan berdoa yang banyak), ini contekan saya, berdasarkan pengalaman pribadi, yang mungkin bisa membantu menyiapkan diri sebagai seorang ibu.

1. Cheat from Mommy Books or Those Free (Trusted) Online Articles
Beli deh buku tentang kehamilan atau tentang kegiatan merawat bayi. Rekomendasi saya adalah buku "Kitab Hamil Terlengkapt" yang berisi tentang perkembangan janin dari bulan ke bulan. Baca perkembangan bayimu di 1-2 buan ke depan untuk memberikan gambaran. Jadi, kalo mau ketemu obgyn udah tahu dan pede mau nanya apa. Kegiatan ini juga membantu saya untuk merasa lebih excited dan membangkitkan mood positif ibu karena siapa yang nggak sabar pengen lihat perkembangan bayi or janin seperti yang 'diramalkan' di dalam buku.

Kalau sudah punya baby, biasanya nyonteknya soal milestone. Tapi, jangan karena perkembangannya nggak sesuai sedikit dengan yang ditulis, terus jadi galau ya. Tenang moms, milestone bayi itu beda-beda. Nggak usah dibanding-bandingin sama bayi lain, bisa baper nanti.

2. Cheat from The Smartphone Apps
Percayalah moms, HP kita jaman sekarang itu beneran pinter. Aplikasi apa aja ada, termasuk soal per-bayi-an. Cek perkembangan bayi, milestone dan tips untuk ibu gampang banget udah ada aplikasinya seperti Aplikasi Baby Center

Cek alasan kenapa anak kita rewel tanpa sebab yang jelas juga bisa dengan App Wonder Weeks yang dibuat berdasarkan penelitian ilmiah yang bersifat longitudinal. Moooms, aplikasi ini membantu sekali buat siap-siap kalo stormy period (rewel, maunya digendong terus, dsb) baby akan muncul, jadi kita bisa less stress. Tandanya, bayi kita sedang on leap atau sedang mengembangkan kemampuannya. Ternyata wisdom orang jaman dulu ada benernya ya, kalau anak lagi rewel bisa jadi dia mau pinter. Soal aplikasi ini nanti saya tulis di postingan terpisah, ah.

3. Join Birth Club or Mommies Forum
Gabung, bahkan sebelum kita melahirkan. Berbagi pengalaman dengan orang yang senasib dan sepenanggungan itu ternyata mengasyikkan, moms. Kita jadi nggak merasa sendiri. Ditambah lagi, bisa ketemu solusi baru dan perspektif baru dengan masalah ibu-ibu soal bayinya yang relatif mirip. Bagi yang udah punya bayi, playdate sama bayi-bayi lain juga sangat menyenangkan lho.

4. Ask for Help to Husband (in Advance)
Selain diri kita yang mesti diedukasi tentang masalah urus-urus bayi, sebisa mungkin suami juga harus terlibat. Semenjak hamil, banyak-banyakin deh cekokin suami soal ASI, milestone bayi, pengalaman melahirkan, segala rupa urusan mengurs bayi, dsb. Kelak, kalau bayi sudah lahir peran suami amat sangat dibutuhkan, terutama di minggu-minggu awal pasca melahirkan. Kalau perlu, minta tolong suami kalau butuh bantuan seperti menggantikam popok atau memakaikan baju bayi. Kalau pengalaman saya sendiri sih, waktu masih sering begadang mengurus Ken, saya akan merasa lebih senang kalau suami ikut bangun, meski hanya untuk menemani saya atau minta bangun bergantian untuk ganti popok atau menggendong. Rasanya saya nggak berjuang sendiri, tapi sama-sama bareng suami. Adem banget deh bener kalo lagi capek suami bilang gini, "Udah kamu leha-leha aja dulu, nanti Ken main sama aku dulu."

5. Find out Everything about Breastfeeding
Ini wajib bagi yang emang berniat mau memberikan ASI Ekslusif buat bayinya. Begitu tahu hamil, atau kalau perlu setelah menikah, cari tahu seeebanyak-banyaknya tenyang ASI. Biar nanti begitu sudah melahirkan, nggak kaget. Kok bayi saya ngga mau menyusu? Kok ASI saya keluaranya sedikit sekali waktu dipompa? Kok perih banget kayak disayat-sayat waktu menyusui? Kok anak saya nangis terus, perlu tambah sufor kali ya? Nah... kayak saya dulu bingung seminggu pertama Ken nampak nggak mau nyusu (tapi kelihatan laper) padahal ada risiko kuning. Ternyata bukan nggak mau, tapi belum mahir menyusui, makanya dia suka kesel sendiri dan kita mempersepsikannya, "Dooh.. anak gue rewel banget seech. Dikasih susu nggak mau!" Huhu, sedih ya. Jangan sampe begitu karena bayi kalo rewel pasti ada sesuatu yang dia rasakan entah secara nyata atau tidak (tidak maksudnya mungkin ada perubahan yang terjadi di otaknya, kemampuan mempersepsi atau memahami sesuatu yang berubah drastis) karena bayi kan belum bisa ngomong, bisanya cuma nangis.

Terus, lagi-lagi suami mesti diedukasi soal ASI ini. Ipar saya meminjamkan buku Ayah ASI (dan ini recommended banget) ke suami saya. Dia jadi paham banget pentingnya ASI dan pemahaman ini membantu saya untuk tidak menyerah dalam memberikan ASI kepada Ken. Sebegitu signifikannya sehingga kelak membantu sekali kita untuk less stress.

6. Make Sure the Financial Plan for Birth Cost
Ini sih udah jelas ya. Yang ingin saya tekankan adalah sedini mungkin mulai pikirkan dan persiapkan. Kalau ingin memanfaatkan benefit asuransi juga pelajari baik-baik bagaimana mekanismenya. Saya sendiri memanfaatka fasilitas BPJS dan sempat deg-degan juga karena baru tahu kalau bayi yang ada di kandungan juga harus didaftarkan akun BPJS-nya supaya semua biaya melahirkan dan tindakan pasca melahirkan ter-cover (Baca cerita selengkapnya:BPJS: Tentang Biaya Melahirkan) Untungnya kami masih sanggup membayar selisihnya sih waktu itu. Coba kalau ceritanya lain, jangan sampai harus berhutang untuk biaya melahirkan ya, bu.

7.  Mulai mencicil clodi sejak hamil
Hahaha… Ini sih tips bonus. Tapi, bisa juga sih menghilangkan stress dunia perpopokan kelak kalau bayi sudah lahir. Kalau nggak dicicil, bisa bikin stress sedikit soalnya berasa pengeluaran di awal, tapi abis itu santai insya Allah lebih hemat ya bu. Baru tahu kenapa emak-emak girang banget kalau ketemu diskonan pospak, ternyata memang sebesar itu pengeluaran untuk popok sekali pakai. Jadi, saya memutukan beralih ke clodi dan kalau dipikir-pikir akan lebih nggak berasa kalau mau mempersiapkannya semenjak bayi dalam kandungan. (Baca juga:Ken Belajar Pakai Clodi)

Last but not least, jangan bosan-bosan minta sama Gusti Allah SWT supaya diparingi kesabaran yang tiada batasnya dan menjalankan peran sebagai ibu dengan ikhlas. Terakhir, Pandangi saja wajah anakmu, kelak kau akan tahu bahwa rasa cintamu mengalahkan segalanya.

Share juga ya kalau ada cara lain versi kamu yang bisa membantu para calon ibu atau ibu biar lebih siap menjalankan peran sebagai ibu. Let’s be a happy mom! 

Cheers,

SW

Saturday, December 12, 2015

Hanging Out with Ken #3: Berenang Perdana di 'mom n jo'

Yippie! Akhirnya setelah dipending terus, niatan untuk mengajar Ken ke baby spa terlaksana juga. Emang emak bapaknya aja nih yang kemarin-kemarin belum nyempetin jalan ke salon bayi. Alhamdulillaah ini semua berkat voucher 'mom n jo' yang saya dapatkan dari seminar tempo hari. Sayangnya, vouchernya cuma bisa dipakai di hari kerja. Yasudah lah nanti biar Ken dan ibunya aja yang ke 'mom n jo'. Ayahnya nggak bisa ikutan karena kerja. Eh, ternyata tanggal 9 Desember lalu ada Pilkada serentak, kantor suami ikutan diliburkan. Setelah cek ke 'mom n jo' Rawamangun, ternyata voucher bisa digunakan di hari itu. Langsung lah kita bertiga cus kesana sambil nggak sabar lihat cah lanang satu ini nyemplung di kolam.

Mom n Jo ini banyak cabangnya dan yang paling dekat dengan rumah ortu saya adalah Mom n Jo Rawamangun, tepatnya di dekat Teminal Rawamangun, seberang Giant Ekspres. Seperti yang sudah kita tahu, ya. Mom n Jo ini specialty-nya adalah perawatan untuk ibu hamil yang mau pijit-pijit (kan ga boleh sembarangan tuh kalo ibu hamil, salah pijit bisa bahaya), spa bayi, dan ibu pasca melahirkan. Sebenernya udah dari dulu pas hamil Ken sih mau kesana buat pijit kan lumayan yak ngegembol bayi berapa kilo bikin pegel badan. Tapi, ternyata belum kesampaian dan berakhir pijit di salah satu salon langganan di Depok dekat kontrakan kami dulu. Oiya, sebelumnya saya tanya dulu ke CS-nya via telp mengenai harga. Tertarik dengan paket 'baby and i" ternyaya harganya 550rb dengan perawatan pijat 60 menit untuk ibu dan pijit bayi 40 menit + renang bayi 20 menit. Hmm... pikir-pikir dulu deh, mayan juga ternyata harganya, wkwk. Harga paket spa bayi (pijit+renang) 275ribu. Terus mikir lagi, ah Ken juga hampir tiap pagi saya pijit. Lagian dipijit 40 menit anaknya emang betah yak? Saya mijit Ken 30 menit aja udah termasuk lama tuh sambil diajak main. Jadi, tanya harga renang bayinya aja deh... 150rb untuk berenang 20 menit. Ok, setelah tanya suami, kami pun mengambil perawatan itu.

Setelah booking, kita dapat giliran jam 4. Berangkat dari rumah Jam 3 kurang, kami tak lupa membawa perlengkapan Ken, seperti baju ganti yang agak longgar biar pas makein baju nggak drama. Iya lho, Ken ini kalo dipakein baju nangisnyaaa... masya Allah dah kayak lagi disiksa T,T Dia emang tipe anak yang nangisnya keras kayak lagi terik-teriak gitu sih. Pas baru muncul dari perut pun nangisnya hampir memecahkan gendang telinga, heheh becanda deng. Memecahan keheningan hati emaknya yang lagi teler efek obat bius.Ok, back to the topic. Terus jangan lupa juga bawa minyak telon buat menghangatkan badan bayi setelah renang dan kaos kaki buat Ken, ayah, dan ibunya. Lah? emak bapaknya juga bawa kaos kaki? Yoi. Jadi, di Mom n Jo ini peraturannya gitu, sebelum masuk ruang spa ortu wajib pake kaos kaki untuk menjaga kebersihan ruangan. Kalo ngga bawa? Tenang, Mom n Jo menjual kaos kaki incase ada yang ngga bawa.

Baby Swimming Pool

Ruang Spa untuk Ibu

Welcome drinks.
Akhirnya sampai deh di Mom n Jo pukul sekitar 15:30 karena masih ada waktu, kami ngemil dulu di KFC seberang. Daan.. tiba lah waktu yang dinanti: melihat Ken berenang perdana. Degdegan lho, takut anaknya nangis pertama kali dicemplungin gitu. Sebelum masuk ruang spa, Ken ditimbang dan diperiksa suhu tubuhnya dulu. Setelah itu, masuk ruang spa yang ngga terlalu besar tapi seneng deh lihatnya, bersi dan private. Sebelum nyemplung, Ken ditelanjangi dulu dan pemanasan dengan digerak-gerakkan tangan dan kakinya biar gak keram kali ya dan gak kaku badannya ketika bergerak-gerak di dalam air.

Ditimbang sebelum masuk ruang spa

Duuh.. aku mau diapain nih??


Daan... pas dimasukin ke air, jeger anaknya nangis, hahah. Tapi, setelah dinyanyiin nangisnya berhenti dan dia kelihatan menikmati sambil heboh gerak-gerakin badannya. Ternyata Ken masih kagetan anaknya, dan itu yang bikin dia nangis lagi waktu berenang-renang. Jadilah perjalanan berenang perdana ini diiringi dengan isak tangis Ken yang seperti orang hampir tenggelam minta pertolongan. Sepanjang waktu berenang, dia nggak berhenti menatap saya sambil menangis seolah bilang, “Pleeease help me, mom… Pleeease!” 10 menit kemudian, saya mulai nggak tega dan minta mbaknya untuk angkat dia. Terus pas dimasukin bak mandi jadi ikutan nangis juga~ Nggak apa lah ya, namanya juga baru pertama kali. Insya Allah nanti coba lagi ya nak ya, semoga makin berani dan mahir. Abis diangkat, biasa deh mukanya langsung biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. 




Tapi, pengin lagi deh bawa Ken berenang kapan-kapan.  Sebab, katanya berenang untuk bayi itu banyak manfaatnya, seperti melatih jantung dan paru-parunya agar bekerja lebih keras saat bayi menggerak-gerakkan badannya di Air—terbukti waktu dicemplungin Ken sampe gobyos kepalanya, macam abis lari berapa kilo gitu, hahah. Selain itu, juga bisa melatih kepercayaan diri bayi, soalnya dengan dia berani nyemplung di air, dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk bersahabat dengan air. Malahan saya penasaran tuh sama bayi-bayi yang udah diajak renang di pool beneran dan udah diselamin ke dalam kolam sambil senyum-senyum dan ketawa kayak di video ini nih...


So, that was another new experience you've taken, Ken... Get ready for the next things which will come! :)

Mom n Jo Website: http://www.momnjo.com/

Salam,

SW

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW

Monday, November 9, 2015

Ken Belajar Pakai Clodi


Gambar: Google
Berawal dari join ke grup mamah-mamah psiko dan Mahmud Abas--kepanjangan dari "Mamah Muda Anak Baru Satu", dimana kedua grup tersebut tengah memperbincangkan tentang clodi, saya pun jadi ikutan penasaran sama istilah satu itu. Apa itu clodi atau cloth diaper atau popok kain biasa? Sebagai seorang ibu muda, saya termasuk telat banget, banget tahu tentang teknologi satu ini. Untuk yang belum familiar, clodi ini beda dengan popok kain konvensional berbahan selembar katun, tapi lebih mirip popok sekali pakai yang bisa menyerap pipis berkali-kali tanpa takut bocor untuk beberapa lama. Nih penampakannya...

Gambar: Google
Jadi, meskipun popok kain, bunda tidak perlu khawatir harus menggantinya setiap kali ia pipis--kecuali kalo poop, langsung diganti ya dan sebaiknya diganti maksimal 4 jam sekali. Sebenarnya beberapa kali mengunjungi online shop, sempat melihat berbagai merek clodi ini sih dan kok motifnya lucu-lucu, ya... Pas lihat harganya hmm... nggak lucu sama sekali. Sangatlah wajar kalo saat itu saya mengurungkan niat untuk membeli clodi, wong saat itu yang saya lihat satu clodi harganya 250 ribuan. Iya, itu untuk satu clodi, mendingan buat beli pospak (popok sekali pakai) bisa dapat 4 pax, belum lagi kalo diskon bisa lebih banyak lagi. Saat itu pun yang saya pikirkan menggunakan clodi akan mencekik leher kantong dan domper suami  saya.  Maka, saya urungkan niat saya untuk membelinya.

Lebih Hemat dibanding Pakai Pospak
Setelah ngobrol banyak dengan grup Mamah2 Psiko dan Mahmud Abas baru tahu ternyata, merek clodi itu banyak, tinggal pilih mau yang buatan lokal atau yang premium import. Yang lokal, dengan harga terjangkau kualitasnya nggak kalah dengan yang import. Jadi, kalau mau hemat, bisa banget beli yang merek lokal. Harga terjangkau dan kalau dikalkulasi jangka panjang bisa menghemat berkali-kali lipat dibanding pakai pospak sampai toilet training, dan masih bisa diwariskan ke adiknya (ciee.. dah ngomongin adik aja, padahal Ken baru mau 3 bulan) dengan perawatan dan penyimpanan yang tepat. 

Tapi, nyesel juga sih baru mulai beralih ke clodi sekitar sebulanan yang lalu, jadinya kalau niat menggunakan clodi full-time, jadi kejar tayang padahal clodi baru dicicil sedikit. Di awal memang akan terasa menguras kantong, apa lagi kalo beli langsung banyak...beuh! Investasi di awal sih. Makanya, bunda kalau niat anaknya menggunakan clodi nanti semenjak hamil cicil beli clodi biar nggak gitu berasa pengeluarannya. Lumayan lah sebulan beli 1-2 clodi gitu.

Sampai sekarang Ken baru punya 12 clodi dan harus langsung dicuci untuk dipakai di hari berikutnya. Kalau malam dan pergi-pergi, Ken masih menggunakan pospak karena selain alasan lebih praktis, kami sudah terlanjur setok, jadi ya dihabiskan dulu sembari mencicil beli clodi lagi biar bisa full pake clodi (doain emaknya istiqomah ya, terutama cuci clodinya... heheh).


Saking semangatnya beralih ke clodi, saya jadi kalap belanja clodi. Di bulan awal beli 10 clodi, 3 diantaranya dapat gratisan—kompensasi dari overdue pengiriman barang online shop (Hihih… ada aja ya rezeki). Bulan selanjutnya saya harus menahan diri dulu untuk membeli clodi maksimal 2 buah per bulan dan clodi resmi masuk wishlist prioritas saya sekarang ;D

Lebih Ramah Lingkungan
Alasan lain yang bikin saya tertarik untuk beralih dari pospak ke clodi adalah simply untuk mengurangi perasaan bersalah saya karena menghasilkan gunungan sampah pospak semenjak Ken lahir, Apalagi newborn kan yang setiap abis nenen pasti pup, sehari bisa menyampah kurang lebih 8 pospak kotor. Ternyata, ini juga menjadi alasan utami ayahnya Ken ketika saya berdiskusi soal beralih ke clodi yang pada akhirnya mendukung ide saya. Bapak saya bahkan sempat bertanya apa ada alternative lain selain menggunakan pospak untuk bayi, sedih melihat banyaknya sampah popok kotor di rumah.

Melihat pospak kotor itu saya jadi berpikir, kemana perginya ya popok-popok kotor itu padahal ini baru saya, belum ada berjuta-juta bayi lain yang menggunakan pospak. Jadi, menurut saya cukup bijak kalau kami mulai beralih ke clodi yang bisa dipakai berkali-kali dan pun kalau harus dibuang karena tidak layak pakai, jumlahnya tidak akan sebanyak pospak kotor. Ini juga yang bikin saya semangat cuci clodi setiap hari.

Lebih sehat untuk Kulit
Ini adalah hal lain yang membuat clodi mempunyai nilai lebih di mata saya dibandingkan pospak. Setelah dicobakan clodi, Ken jadi terhindar dari ruam. Ini karena bahan clodi lebih alami dibandingkan dengan pospak yang memang mengandung bahan kimia, sehingga meminimalisasi risiko terkena penyakit akibat zat-zat berbahaya kimiawi. Selain itu, menggunakan clodi, saya tidak perlu mengaplikasikan bedak atau rash cream ke pantat Ken karena selain tidak perlu, penggunaan keduanya bisa menurunkan performa clodi sehingga daya serap clodi akan berkurang.

Mencuci clodi juga ternyata ada tekniknya lho, kalau menggunakan deterjen sebaiknya ¼ kali dari jumlah deterjen yang biasa kita pakai (CMIIW ya..) sebab sisa deterjen yang menempel pada clodi juga dapat mengurangi performa clodi. Ken sendiri tidak menggunakan deterjen untuk mencuci clodi, tapi menggunakan laundry ball “Ecowash” yang bebas deterjen, sehingga clodi benar-benar bebas bahan kimia dan lebih sehat untuk digunakan si kecil.


Merek Clodi yang Sudah Pernah Dicoba
Sebagai pemula, belum banyak variasi merek clodi yang saya coba. Tapi, saya mau sharing sedikit deh, siap tahu membantu yang lagi cari-cari tahu soal merek clodi. Simak di bawah ini ya.

1. Babyland 
Ini adalah merek clodi pertama yang saya belikan untuk Ken. Sudah pernah dipakai malam hari dan tidak rembes ataupun bocor. Kurang suka dengan bahan inner-nya yang agak berbulu. Saya pikir Ken akan tidak nyaman memakai clodi ini, ternyata nyaman-nyaman saja tuh. Bahan outernya beda-beda ada yang agak tebal dan kaku, ada juga yang halus. So far, clodi favorit Ken ada di merek ini yang bermotif jeans karena bahan outer-nya halus sekali.
Babyland
2. GG B-Dipe
Beli clodi ini karena banyak direkomendasikan dari review emak-emak di blog. Suka dengan bahan outer-nya yang halus dan insert-nya yang besar, tebal dan dilapisi oleh fleece jadi bisa digunakan untuk clodi tipe coveria. Sayangnya, kalau sudah agak lama dipakai GG ini jadi agak pesing. Tapi, overall suka dengan cutting dan bahannya.

3. Sobi Minky
Suka dengan bahan outer-nya yang seperti bludru dan cutting-nya yang pas untuk Ken. Sayangnya, waktu Ken pupnya lagi banyak suka bocor samping meskipun sudah ada inner gusset. Tapi, untuk pemakaian secara umum masih oke sih.
Sobi Minky

4. Pempem
Modelnya simple dan motifnya lucu. Suka dengan insert-nya yang berbahan litty karena mudah dicuci dan cepat kering. Kurang suka dengan outer-nya yang agak kaku.

5. Smart Kids
Hampir sama dengan pempem, namun bahan outer-nya lebih halus dan insert-nya bukan litty. Menurut saya kurang cocok digunakan untuk malam hari atau lebih dari 3 jam.

6. Bebibum
Ini satu-satunya clodi tipe coveria yang saya punya, sisanya tipe pocket. Jarang digunakan untuk Ken karena terlalu bulky. Meskipun tipe coveria, tetapi tidak bocor digunakan saat Ken pup.


Bagaimana, bunda? Apa tertarik juga untuk beralih ke clodi seperti saya? Awalnya saya sempat urung untuk menggunakan clodi, saya pikir menggunakan clodi itu mahal, ternyata untuk jangka panjang justru lebih hemat. Saya pikir mencuci clodi itu rempong, ternyata nggak juga lho—bahan inner clodi sangat mudah dibersihkan dari kotoran pup. Saya pikir menggunakan clodi itu rempong, ternyata sama saja dengan menggunakan pospak, bedanya pospak tinggal buang kalau clodi ya dicuci. Memutuskan beralih ke clodi itu memang pilihan dan tetap ada plus minusnya, tetapi menurut saya ini pilihan yang baik. Jadi, yuk bunda ubah mindset dulu kalau menggunakan clodi itu serba repot dan #makeclothmainstream ;)


*Silakan kunjungi website ini untuk referensi lebih lengkap soal clodi: 


Cheers!

- SW -

Monday, October 12, 2015

Hanging Out with Ken #1: Diaper Bag Raid, Hospital, and Mall

Mumpung Ken lagi bobo, saya mau share sedikit ah. Pertama kali mengajak Ken keluar rumah (untuk pergi jauh, maksudnya) adalah pada saat bayi kecil kami ini menginjak usia kurang lebih satu bulan. Kemana lagi kalau bukan ke rumah sakit untuk imunisasi. Awalnya kami galau mau vaksin dimana. Setelah dipikir-pikir dan tanya sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk ke RS Awal Bros di Bekasi karena niatnya setelah dari sana, kami mau main ke tempat Datuk dan Mbauti-nya Ken di Jatibening. 

Percaya nggak, saya dan suami deg-degan banget lho waktu mau pertama kali keluar bertiga sama Ken. Jelas karena belum ada pengalaman membawa bayi sekecil itu ke tempat yang agak jauh dari rumah. Biasanya kemana-mana naik motor, boncengan berdua sama suami sekarang mesti gendong bayi dan tentu nggak bisa naik motor. Mungkin ada ya orang tua yang santai aja bawa bayinya naik motor karena berbagai alasan, tapi kalau saya nggak tega. Jadi kami pun memutuskan ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. 

Perlengkapan "Perang"
Meskipun deg-degan, persiapannya sih nggak ribet-ribet. Beruntunglah Ken karena mendapatkan kado-kado yang sangat berguna untuk orangtuanya dirinya, salah satunya adalah diaper bag yang bentuknya ransel, Jadi bisa dibawa sama ayahnya yang emang ogah ribet nenteng-nenteng tas. Ibunya juga bisa nitip barang bawaan di tas itu supaya bisa fokus gendong Ken ke taksi. 

gambar: google

Berikut ini yang saya siapkan untuk "jalan-jalan" perdana Ken. Oiya, saya tulis juga merek perlengkapan yang saya pakai karena siapa tahu berguna buat ibu-ibu yang lagi cari referensi produk. Saya sendiri merasa terbantu dengan info tersebut--pengaruh kebanyakan blogwalking emak-emak. Nanti kapan-kapan review deh :

1. Changing mat/perlak yang sudah satu paket dengan diaper bag. Perlak ini sangat berguna sebagai alas ketika Ken mengganti popok agar tetap bersih. (Allerhand)

2. Baju ganti (1-2 set) untuk jaga-jaga kalau terkena gumoh atau pup yang rembes dari popok, atau kalau Ken berkeringat banyak. 

3. Popok sekali pakai biasanya saya bawa 4 buah untuk jaga-jaga, walaupun kenyataannya hanya dipakai dua buah saja. (Pampers New Born)

4. Tissue basah yang digunakan saat Ken ganti popok. (Mamy Poko Non Alcohol)

5. Diaper Rash Cream yang dioleskan di pantat dan lipatan paha Ken saat ganti popok, fungsinya untuk mencegah munculnya ruam. (Konicare Diaper Rash Cream/Cussons baby cream)

6. Hand Sanitizer yang selalu sedia di tas untuk membersihkan tangan sebelum memegang Ken. Semenjak ada Ken, hand sanitizer selalu tersedia di kamar saya dan sangat berguna terutama kalau ada teman yang menengok Ken dan mau menggendong Ken. (Dettol)

7. Cologne untuk dipercikkan ke baju Ken sedikit agar tetap segar. (Cussons baby soft touch)

8. Telon cream. Saya biasanya mengoleskan telon ke dada dan perut Ken saat mengganti popoknya agar ia tetap hangat. Untuk bepergian, saya prefer menggunakan telon yang berbentuk krim dibandingkan minyak karena lebih praktis dan tidak gampang tumpah, selain itu saya suka sekali dengan wangi telon cream yang digunakan Ken. (Bebe Roosie Telon Cream)

9. Selimut untuk membawa Ken ke Taksi dan sebagai alas stroller

10. Bedongan untuk jaga-jaga kalau Ken butuh kehangatan lebih biasanya sih hanya saya gulung melilit dari dadanya Ken sehingga ia tetap hangat--bukan digunakan untuk membedong.

11. Wet bag/kantung plastik untuk membuang popok basah

12. ASIP & Cup Feeder untuk jaga-jaga kalau tidak menemukan nursery room. Tapi, kalau perginya ke RS sih insya Allah ada ya. Ini untuk case misal ke mall atau tempat umum lainnya. Oiya, saat ini Ken belum kena botol sama sekali. Kami mengupayakan hal itu. Dulu saat masih berusia 1-7 hari. ketika Ken belum sempurna latch-on-nya sebenarnya Ken sangat pintar minum dengan menggunakan cup feeder. Sekarang, karena sudah jagu nyusu, jadi butuh energi ekstra karena kalau sudah tersedak dan semakin rewel, ASIP-nya malah disembur atau tidak mau ditelan. Tapi, karena saya stay at home, hal ini tidak terlalu membuat kami bermasalah. 

13. Stroller untuk membawa Ken yang tertidur, jadi tidak perlu menggendong-gendong. Kalau ia sedang rewel dan minta digendong, ya kami gendong. (Joie Sma Baggi)

14. Mainan rattle kalau ini sebenernya disesuaikan dengan usia anaknya sih. Mainan ini biasanya saya pakai kalau sedang mengajak Ken berbicara. Lumayan lah membantu saya mengarang bebas dan menarik perhatian Ken, sehingga akan sedikit rewelnya. 


Perjalanan dimulai...

Ketika Ken lapar
Alhamdulillaah... Ken selalu anteng kalau diajak jalan. Pertama kali keluar rumah, anak ini udah dibawa ibu dan ayah makan di Burger King. Sebelum ke RS, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu dan kebetulan restoran yang searah dan tidak terlalu ramai adalah Burger King di Raden Inten. Waktu ibu dan ayahnya makan burger, dia anteng aja bobo di stroller. Sepanjang perjalanan di taksi juga cuma tidur. Bangun-bangun pas kami udah selesai makan dan ayahnya sedang mencari taksi yang lama banget datengnya. Sepertinya Ken bangun karena haus sih... Jadi saya gendong aja biar anteng dan sabar-sabar menyusui di taksi aja. Melanjutkan perjalanan, di taksi Ken asyik minum dan waktu dia udah selesai, tiba-tiba udah sampe. arena udah kenyang, Ken anteng lagi ditidurin di stroller. Kami pun mesam-mesem liat Ken begitu kooperatif. Tahu saja ayah ibunya masih kaku bawa-bawa bayi. Waktu antre menunggu giliran DSA, Ken sempat nangis lagi karena lapar dan minta diganti popoknya. Untung lah disana ada nursery room, jadi saya dengan tenang duduk di sana sambil sesekali mengobrol dengan ibu lain yang juga sedang menyusui bayinya.

Di perjalanan with Ken kedua kalinya, kami sudah lebih ahli. Kali ini ke mall... Lagi-lagi anak ini cuma nemenin ayah ibunya late lunch dan kali itu cari buku. Sayangnya, nurser room di GI saat itu hanya buka s/d pukul 15:00, mepet bangeet. Ken begitu anteng sampai nama kami dipanggil dari waiting list, matanya terbuka lebar dan dia langsung menangis kelaparan. Kebetulan waktu itu saya belum membawa ASIP, jadi harus menyusui langsung. Kami pun memilih meja di pojok yang jarang dilalui orang dan dihinggapi tatapan orang-orang yang ada di sana agar saya nyaman menyusui Ken. Mungkin kebanyakan ibu-ibu sudah sedia nursing apron, tapi saya sendiri belum punya karena mengandalkan jilbab yang lumayan lebar sehingga bisa menutupi wajah Ken saat ia sedang minum. Sementara saya menyusui Ken, suami saya dengan manisnya menawarkan untuk menyuapi saya karena tahu saat itu saya udah super kelaperan karena telat makan siang. Dia pun terpaksa harus menunda makannya sampai makanan saya habis. Such a sweet one from him :) Selesai makan dan Ken kenyang, kami menuju Gramedia. Duh, cakep banget deh anak ini anteng sambil memandangi sekeliling. Mungkin dia bingung lagi ada dimana kok banyak banget orang dan banyak BANGET yang dorong-dorong stroller di mall. 

Ketika harus naik-turun lantai di mall
Nah.. nah.. mau coba naik eskalator sambil bawa stroller isi bayi aja kami deg-degan dan memilih untuk naik lift aja. Terus gimana kalo lift-nya penuh terus? Yaudah terpaksa deh naik eskalator. Urusan bawa-bawa stroller sudah ditanggung ayahnya, yang nunggu eskalator sepi baru berani bawa naik/turun stroller-nya. Kalau Ken lagi pengin digendong, saya kebagian gendong dan ayahnya bawa stroller. Tapi, pas di Kokas dari lantai berapa lupa menuju Food Society yang eskalatornya tinggi banget, saya super deg-degan waktu turun sambil gendong Ken. Alhasil, badan kaku banget karena takut tergelincir/jatuh. Kebetulan saya gendongnya pake tangan, nggak pakai carrier... Jadi nggak bisa hands-free dan pegangan di samping eskalatornya. Asli, abis itu ngga mau lewat situ lagi ah kalo bawa Ken. Mendingan sebisa mungkin naik lift deh kalau bawa bayi atau stroller. 

Waktu Sholat 
Kalau waktu sholat tiba, kami bergantian menjaga Ken, semua beres. Beda ceitanya ketika hendak maghrib di Kokas kemarin. Ayahnya sholat duluan dan mesjid di dalam mall itu antrenya luar biasa. Saya pun menjaga Ken di dekat mesjid. Ayahnya meminta saya untuk menentukan meeting point karena sambil menunggu ayahnya selesai sholat, saya mau ajak Ken ke Century untuk cari sesuatu. Saya pun menawarkan untuk bertemu di depan mesjid saja sekitar 10 menit lagi. Sesampainya di Century, Ken mulai menangis dan dia kalau nangis super kenceng. Jadi lah saya harus menggendongnya dan nggak konsen belanja. Saya tahu Ken akan kembali menangis kalau saya taruh di stroller. Tapi, mau bagaimana lagi, 10 menit sudah berlalu dan saya harus kembali ke depan mesjid agar ayahnya tidak bingung mencari saya. Saya pun buru-buru ke sana sambil Ken menangis di dalam stroller. Sebenarnya nggak harus se-drama itu sih kalau ponsel kita aktif--eh ini mau pergi ponsel pada abis batrenya. Sesampainya di sana, saya pun mengalihkan tugas menjaga Ken ke suami untuk sholat. Kasihan, Ken... dia harus "puasa" beberapa menit karena ibunya mesti ngantre sholat maghrib. Selesai sholat, ayahnya sudah ditemani dengan mbak-mbak pramuniaga Informa yang nggak tega mungkin liat bapak-bapak muda gendong bayi yang lagi nangis-nangis gitu. Eh, dengan baiknya mbak pramuniaga tadi mempersilakan saya untuk menyusui di dalam toko--nyempil di dekat display kasur-kasur. Catatannya lain kali mesti cari tempat PW dulu kali ya buat nunggu ayahna sholat biar bisa sambil nyusuin dan ponsel mesti full charged kalau dibawa pergi.

Meskipun rempong dan pulang-pulang tepar--padahal begitu doang. Tapi, seru juga sekaligus belajar bawa bayi ke tempat umum. Catatannya terpentingnya sih mesti hati-hati dan nggak boleh meleng dari bayi dan anak kita, soalnya mall rame banget dan yang bawa stroller juga banyak banget.


Cheers,

SW