Wednesday, December 30, 2015

Hanging Out with Ken #4: Naik Kereta ke Cimahi



Beberapa waktu yang lalu saya di-WA suami katanya ia mendapat undangan acara lamaran salah satu teman dekatnya di kampus. Acaranya di Cimahi, jauh yak... terus suami mengajak saya turut serta kesana, bila saya mau. Tentu saja saya langsung semangat dan menerima ajakannya. Tapi, saya sempat galau lantaran Pak Suami menolak ajakan saya untuk menginap barang semalam di Cimahi, maksudnya biar bisa sekalian jalan-jalan dan supaya Ken nggak capek pulang-pergi naik kereta hampir 3 jam one-way. Lagipula, setelah mencari hotel via online, ternyata alat pencarinya justru mengarahkan tempat penginapan di Bandung kota yang masih lumayan jaraknya dari Cimahi. Pengalaman bermalam di Bandung beberapa waktu yang lalu kurang berkesan karena satu dan lain hal, jadi suami pun mengurungkan niat untuk mengajak saya dan Ken menginap. Lagipula, saat itu tanggal tua belum gajian, jadi ya sudah deh kita irit-irit dulu, heheh.

Suami pun meyakinkan sekali lagi ke saya apakah saya dan Ken akan baik-baik saja pulang-pergi kondangan ke Cimahi. Saya jawab, Insya Allah bisa untuk pengalaman pertama naik kereta eksekutif. Heheh, selain Ken, ini pengalaman pertama saya juga lho naik kereta eksekutif. Terakhir naik kereta jarak jauh pas Honeymoon ke Jogja cobain naik ekonomi saat berangkat (yang berujung punggung pegel-pegel karena tempat duduknya tegak banget dan kurang asyik buat pasangan muda karena harus share space sama penumpang lain, hahaha) dan bisnis pulangnya. Beruntung, ternyata sedang ada promo dan kami hanya kena 85rb saja tiap kepala dari Jakarta-Cimahi dan sebaliknya. Ken gratis karena masih bayik. Tapi,.... berangkatnya mesti pagi-pagi buta sebab kami mendapat jadwal kereta dari gambir berangkat pukul 5 pagi. Emang paling pas karena acara lamarannya dimulai pukul 9 pagi.

Persiapan perlengkapan Ken pun sama seperti biasa. cek: diaper bag raid. Kali ini, saya memilih untuk membawa pospak instead of clodi untuk alasan kemudahan karena kami nggak mungkin cuci-cuci di tempat kondangan juga, daripada bawa-bawa popok bau kemana-mana dan ada kemungkinan mengganggu orang lain, jadi yowis kami memilih membawa pospak (But, if you clodi moms, do have any tips to keep utilizing clodi for this kind of case, please kindly share... ;)) Jangan lupa juga bawa beberapa baju untuk ganti karena Ken akan seharian mobile. Yang terpenting, namun terlupakan oleh saya (karena ketinggalan) adalah make sure there's a blanket in your bag to warm your baby, because the evening train temperature usually getting lower and it might cause Ken a bit fussy on our way back home.

So, we woke up very early and took a flash bath, checking and making up some things. Dealing wih Ken's crying due to the cloth changing. Drove the car to catch up the prayer time at the station mosque and printed out the ticket we have bought the days before. Buat yang belum tahu, sekarang di stasiun sudah ada fasilitas CTM alias Cetak Tiket Mandiri bagi yang sudah beli tiket via online atau via chanel lainnya, yang memungkinkan kita untuk tidal perlu antre di loket sekaligus menghindari calo.
Selama perjalanan ke Cimahi Ken bisa dibilang anteng dan lebih banyak tidur. Kami sampai di Stasiun Cimahi sekitar pukul 8:40, kalau tidak salah. Ternyata di stasiun ini sudah ada ruang menyusui walau ala kadarnya, intermezzo. Sesampainya di sana, saya touch up dikit lah karena muka keliatan kayak bangun tidur dan ganti jilbab. Selesai beres-beres, kami pun berjalan keluar stasiun. Ken digendong ayahnya dengan carrier andalan kami. Untuk menuju ke acara lamaran, kami berencana naik taksi. Tapi, ternyata susah juga cari taksi di Cimahi, alhasil kami pun memilih untuk naik ojek untuk menuju kesana dam ternyata lumayan jauh. Kebetulan abang ojek yang saya tumpangi berada di belakang atau tertinggal dari ojek yang ditumpangi suami dan Ken. Jadi deh tuh abang ojek mengendarai motornya kayak dikejar setan, takut nyasar mungkin. Untung Ken lagi dibawa ayahnya dan anteng tidur selama di ojek.

Selesai acara lamaran, kami tidak langsung pulang menuju stasiun. Melainkan mampir dulu ke kedai es krim untul ngadem bareng Kak Catur dan Dita. Tapi, semua usaha itu gagal karena begitu masuk kedai udaranya lebih panas daripada di luar #fail. Ken pun jadi rewel, kirain mau minum nggak taunya kegerahan. Karena nggak ada spot yang memungkinkan saya untuk menyusui Ken di dalam kedai, saya pun izin numpang menyusui di mobil yang dibawa Kak Catur dan Dita. Sampe di dalam, Ken menyusu sebentar lalu cengar-cengir. Ternyata dia cuma mau ngadem.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke stasiun yang hanya berjarak kurang lebih 15-20 menit. Sesampainya di sana, Ken pup dan kami terpaksa menggantinya di ruang menyusui yang kurang memadai untuk mengganti popok. Problematika ibu dan bayinya ketika naik kereta jarak jauh ternyata ada di sini. Terutama buat Ken yang kalau pup mesti harus langsung diganti karena rawan terkena ruam. Jadi, mesti pintar-pintar cari tempat dan cara yang pas buat ganti popok. Entah mau ngerjain ibunya atau bagaimana, saat perjalanan pergi ke Cimahi dan pulang ke Jakarta, Ken pup di dalam kereta. Haduh, gimana yaaak gantinya secara di kereta nggak ada nursery room. Daripada Ken kena ruam dan ayah-ibunya juga udah cium bau semeriwing pup-nya Ken, yaudah aja kami nanya ke petugas kereta. Eh, ternyata ditawarin ganti di ruang istirahatnya awak kereta. Alhamdulillaah masih ada tempat, walau sempet nggak enak juga karena di ruang sempit itu ada awak kereta yang lagi sholat #haduh. Di kereta menuju Cimahi, saya sempat ketinggalan selimutnya Ken di ruang awak kereta waktu menggantikan popok T,T.

Perjalanan pertama Ken naik kereta jarak jauh ini bisa dibilang mulus, alhamdulillaah. Rewel sedikit waktu pulang karena jelang sore, AC kereta jadi berasa dingin dan selimutnya Ken ketinggalan di kereta sebelumnya. Jadi, jangan lupa bawa selimut dan jangan ditinggal di kereta ya, ibu-ibu.

Pengalaman ini cukup seru, meskipun harus sedikit rempong ya bawa bayi 4 bulan. Nggak sabar deh perjalanan jarak jauh lainnya bareng Ken. Semoga ada kesempatan lain ya.

Sekian dulu sharing kali ini...

Salam,

SW

Saturday, December 26, 2015

AthaXWening: Episode 2 (Orang Kaya)


Halo semua!

Ini tulisan pertama saya yang dimuat di blog istri tercinta saya. Sekitar dua minggu yang lalu, kami berdua telah berencana untuk membuat semacam rubrik tentang kehidupan pernikahan kami dan di­-post di sini. Kesepakatannya, saya dan dia mendapat jatah untuk menulis bergantian setiap minggunya. Awalnya sih saya merasa keberatan ketika diminta untuk menulis. Mengapa? Sederhana saja. Rasanya sulit bagi saya melukiskan kehidupan pernikahan kami yang begitu indah dan berwarna ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan pengalaman kami dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan begitu sempurna. Eciyee.

Yak, mari kita cukupkan dulu gombalannya untuk saat ini. Kembali ke topik.

Dengan menulis bergantian, kami berharap rubrik ini dapat menjadi salah satu dokumentasi hari-hari yang telah kami lalui bersama berdua selama ini. Semoga apa yang kami tuangkan di sini dapat menjadi salah satu bahan untuk kami tersenyum pada saat tua kelak nanti (mengutip perkataan istri saya). Menertawakan diri sendiri biasanya memang selalu menyenangkan bukan? Dan yang terpenting, ada pelajaran yang bisa kita ambil dan menjadi insight berharga bagi para kawula muda sekalian. So, please enjoy it!

---

Saat itu, saya sedang berada di kantor. Mengerjakan beberapa hal yang bisa dikerjakan di depan netbook mungil saya. Minimal membuka word dan excel agar terlihat seperti sedang bekerja di mata atasan dan rekan kerja saya. Tiba-tiba, ada pesan masuk di hp melalui whatsapp.

“Sayang, lagi sibuk ngga? Boleh tolong beliin aku pulsa?”

Tenang saja. Ini bukan modus penipuan seperti mama minta pulsa apalagi papa minta saham. Bukan itu. Pesan tersebut datang dari istri saya sendiri. Saat itu nampaknya dia sedang sibuk memomong Ken sehingga sulit untuk membeli pulsa sendiri. Atau sekedar mencari temannya yang memang berjualan pulsa.

Oke, sayang. Mau beli berapa?”

“100 ribu. Paket internet aku abis.”

“Oke, sayangku. Tunggu sebentar ya.”

Biasanya ketika membeli pulsa, saya hampir selalu membelinya di salah satu teman kantor saya. Baik untuk saya sendiri ataupun untuk istri. Kebetulan ruangannya memang ada di sebelah ruangan kerja saya. Jadi tidak ribet dan sangat memudahkan. Namun kali itu, entah kesambet apa, saya berpikir untuk membeli pulsa melalui i-banking. Segera saja saya keluarkan token andalan yang selalu setia menemani saya.

*buka website ibanking *pilih menu pembayaran
*pilih provider *pilih nominal
*masukan nomor HP yang dituju *masukan kode dari token
*klik, klik, done!

Begitu selesai, saya langsung mengabari istri saya bahwa saya sudah berhasil membelikannya pulsa. Tak lama, dia membalas bahwa pulsanya sudah sampai. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih dan memberikan kecupan jarak jauh melalui emoticon. Senang rasanya bisa berguna untuk istri sendiri, walau cuman hal remeh temeh semacam ini. Setelah itu, saya kembali pura-pura sibuk dengan netbook saya.

---

Saat itu, waktu menunjukan pukul 17.00 WIB dan SAATNYA UNTUK PULANG. Yap, tenggo menjadi salah satu kebiasaan baru saya semenjak menikah. Minimal saya tidak akan berlama-lama lagi di kantor ketika memang sudah waktunya pulang. Bagaimana tidak mau cepat pulang, istri yang cantik dan anak yang lucu sudah menanti saya di rumah. Eciyee.

Sebelum naik kendaraan umum, saya menyempatkan diri untuk mampir ke ATM yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor. Kebetulan saat itu memang uang saya di dompet tinggal sedikit. Yah, biasanya juga memang sedikit sih. Curhat.

Saya membuka pintu gerai dan melangkah masuk. Mengeluarkan kartu dari dompet dan memasukannya ke dalam mesin ATM. Tidak ada yang aneh sampai di sana, semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Namun tiba-tiba saya dikagetkan akan sesuatu.

SALDO DI REKENING SECARA AJAIB BERKURANG SATU JUTA! SATU JUTA RUPIAH! BENERAN SATU JUTA RUPIAH!

Mendadak saya lemas. Salah apa hamba-Mu ini ya Allah. Apa yang saya lakukan sehingga bisa mengalami musibah seperti ini. Pikiran saya tidak karuan. Apa yang terjadi? Mengapa bisa sampai uang saya hilang satu juta rupiah? Saya mencoba menelusuri apa yang menjadi penyebab hilangnya uang di rekening saya. Ditipukah saya? Modus baru pencurian uang tanpa jejak? Dihipnotis namun saya tidak sadar? Tapi nampaknya saat itu saya tidak dapat berpikir dengan jernih. Saya tidak dapat menemukan jawabannya. Akhirnya dengan langkah yang gontai saya keluar dari gerai ATM tersebut. Saya mulai mencoba menerima keadaan ini dengan pasrah.

Sambil berjalan ke arah trotoar dimana saya biasa menunggu kendaraan  umum, saya mengeluarkan hp. Saya pikir tidak ada salahnya mengecek mutasi rekening melalui i-banking. Kalaupun ada transaksi palsu, saya jadi bisa mendeteksinya. Dan ternyata memang ada yang aneh. Di sana terekam ada transaksi senilai satu juta rupiah! Padahal rasa-rasanya saya tidak pernah melakukannya. Ketika saya baca keterangannya…

PEMBELIAN VOUCHER TELKOMS*L SENILAI 1.000.000 KE NOMOR 08129108****.

OMG! ASDFWANJSDSAFASF!

Okay. Saya mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Saya membeli pulsa ke nomor hp istri saya senilai satu juta rupiah siang tadi. Oh, meeeen!

Dan ternyata memang benar. Ketika saya coba kroscek ke dia, ternyata memang pulsa yang masuk ke hp-nya sejumlah satu juta rupiah. Siang tadi dia juga tidak menyadarinya meski ada notifikasi pembelian pulsa yang masuk. Yah, siapa sih yang berpikir akan dibelikan pulsa sejumlah itu oleh suaminya? Mungkin hanya para sosialita. -.-

Sesampainya di rumah, kami berdua langsung menertawai kebodohan yang saya lakukan. Hal ini bisa terjadi karena saya kurang teliti ketika memilih nominal pulsa pada saat transaksi melalui i-banking. Saya tidak sampai menghitung berapa jumlah angka 'nol' yang ada di belakang angka 'satu'.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kami tidak rugi. Rugi sih tidak hanya nyesek saja. Nyesek karena langsung mengeluarkan uang yang tidak sedikit dalam satu hari hanya untuk membeli pulsa. Namun pasti ada hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian, termasuk juga dari kebodohan saya yang satu ini.

Pertama, kami bersyukur bahwa uang tersebut bukan hilang, hanya berubah bentuk menjadi pulsa telepon. 

Kedua, kami bersyukur bahwa pulsa tersebut sampai dengan selamat ke nomor istri saya, bukan nomor istri orang lain.

Ketiga, kami bersyukur bahwa dengan adanya kejadian ini, tidak ada lagi pengeluaran untuk pembelian pulsa dalam beberapa bulan ke depan. 

Keempat, saya bersyukur bahwa dengan adanya kejadian ini, ada bahan bagi saya untuk membuat tulisan dan memuatnya di sini. :p

---

Dalam menjalani kehidupan pernikahan, tawa canda seringkali menghampiri kita. Kisah konyol ini hanya secuil contoh dari apa yang telah kami lalui. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Saya mendoakan anda sekalian tidak perlu mengalami kejadian seperti yang telah saya alami ini. Cheers!

Salam,

MAR



Thursday, December 17, 2015

AthaXWening: Intro & Episode 1 (Bahasa 'Kode')


Bismillaah...

Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Suami saya ternyata orangnya lucu. Itu hal pertama yang mungkin akan saya jawab kalau ada yang menanyakan pendapat saya mengenai hal apa yang baru saya ketahui mengenai pasangan setelah menikah. Sebelum menikah dulu, saya mana tahu kalau laki-laki itu bisa sekocak ini (sekocak apa hayoo?). Dulu, saya lebih memandang dia sebagai lelaki idola para wanita (serius, fansnya banyaaaakkkk sampe keselek) yang punya tingkah laku aneh atau kekanak-kanakan di saat-saat tertentu (tapi semua itu dimata saya nggak ada yang dibuat-dibuat, he never tried to amuse anyone by acting childish, it was just a genuine him and that’s why I fell in love with him, ihiy!). Kelucuan suami saya sering kali sukses meluluhkan hati kalau saya lagi kesal. Gimana mau kesal kalau dia ngelucu, walaupun sebenernya saya tahu sih dia kadang nggak niat untuk melucu, tapi tetep ajaaa.

Terus apaan hubungannya sama hadits di atas? Ya jelas ada… Kadang ya kalau suami keseringan becanda, saya kan suka geregetan sendiri ya. Keluar deh kata-kata pamungkas, “aku becanda sayaang… biar kita tetap romantis.” Yaelaaah luluh lagi. Pernah tuh, karena saya protes dia bercanda terus, suami saya pun jadi sok-sokan serius daaan saya ternyata jauh lebih suka dia apa adanya. Serius macam lagi rapat BEM aja, hahah. Terus saya jadi inget hadits di atas, dan emang bener bercanda sama suami itu bikin hati adem ayem, masalah jadi males lama-lama di pikiran—jalan-jalan dulu dia. Hayooo, siapa yang nggak mau kayak gituuu… hihih. Nah, terus saya jadi kepikiran deh buat mendokumentasikan cerita sehari-hari kami berdua dan menjebak mengajak suami buat nulis bareng, bergantian tiap episode. Selain biar nggak lupa karena siapa tahu kan bisa jadi salah satu sumber tawa di senja nanti, dan juga melatih biar terbiasa nulis, dan produktif sedikit lah selain cuci clodi sama main Brave Frontier (paham banget nih kalo yang main. So, please enjoy our first episode of AthaXWening Series.


AthaXWening Eps. 1: Bahasa 'Kode'

Di suatu siang di hari kerja, Ada notif WA dari suami.

Atha : Lagaps?
Wening: Kankan
Atha: Mamas durdur?
Wening: Iya. Ewele. Nangnang terus.
Atha: Nanti malem nonpi yuk.
Wening: Nggak ah, nanti aku tujtuj lagi.
Ada yang ngerti nggak kita ngomong apaan? Hahah. Emang bener ya menikah itu adalah saat dimana kebiasaan menular. Salah satunya ya cara ngobrol yang seperti ini nih. Semenjak menikah, saya mengenal bahasa baru dari suami 1) bahasa anak bunayya (kosan dia jaman kuliah) dan 2) bahasa ‘kode’ kayak di WA tadi. Dua-duanya aneh, tapi lama-lama ketularan aneh juga T,T. Kebiasaan ini nggak cuma muncul kalo lagi watsapan, tapi pas ngomong secara langsung pun sering kali kami menggunakan kata-kata yang terdengar seperti kode itu. Bahasa anak bunayya lebih unik lagi, dimana ada kata “hambet” yang definisinya bisa meluas sesuai dengan konteks pembicaraan. Saya suka roaming sendiri kalo lihat grup WA mereka, kayak ngomong bahasa planet lain. But anyway, kadang saya juga suka ngikutin secara sadar atau nggak sadar, hahah. Saking seringnya berbahasa kayak gitu, kadang saya suka kebawa kalo lagi ngobrol via WA sama temen-temen yang lain dan berakhir dengan pertanyaan “lu ngomong apaan sih?”

Kebiasaan berbahasa kode ini ternyata tidak muncul begitu saja, tetapi karena ada kejadian yang bikin kita keterusan ngomong seperti itu. Kayak ‘Tujtuj’ itu awal mulanya karena saya sering typo ngomong ‘ngantuk’ jadi ‘ngantuj’. Jadi deh, muncul kata baru di KBBI kita ‘tujtuj’ yang artinya ‘ngantuk’. Terus, otak makin kreatif ciptain kata-kata baru lainnya. Kalo kebiasaan menyingkat kata kayak ‘lagaps’ (lagi apa) atau ‘sikgig’ (sikat gigi) belakangan saya baru sadar kebiasaan suami itu datangnya dari keluarganya yang kadang suka menyingkat kata, biar ringkas. Kebiasaan lainnya adalah kalau ngobrol kadang suami bergaya ala-ala Cinta Laura gitu, terus tanpa sadar saya nanggapin dengan gaya yang sama. Hahahah, ngapain sih… aneh banget yak. Kebiasaan ini muncul semenjak tanpa sengaja kami menonton salah satu episode Upin Ipin dimana guru baru di sekolahnya hendak mengenalkan murid baru dan entah kenapa ketika ngomong “murid baru” sang guru bicaranya ala-ala Cinta Laura gitu. Kan kita jadi ngakak dan bingung ya. Jadilah scene itu terkenang dalam lubuk hati kami yang paling dalam.

Kebiasaan ini nggak bisa dianggap remeh. Soalnya, entah udah berapa kali kita ngakak bareng karena baca bahasa nggak jelas, ngomong dengan gaya nggak jelas pula, dan menyadari betapa anehnya diri ini ketika ikut tertular berbahasa seperti itu. Ternyata semua itu menyenangkan! Tapi, tetap dong kami cinta Bahasa Indonesia dan nggak bermaksud menularkan kebiasaan aneh ini ke orang lain. Hahah, jadi serius.

Ok, sekian episode kali ini. Sampai bertemu di episode berikutnya yang insya Allah akan ditulis oleh suami saya (kalau dia nggak mager, wkwk). Kalau kamu, apa kebiasaan unik kamu dan pasangan? Hihih….

Uds ya, mau nyiapin sarpag dulu niccccc….

Salam,

SW

Saturday, December 12, 2015

Hanging Out with Ken #3: Berenang Perdana di 'mom n jo'

Yippie! Akhirnya setelah dipending terus, niatan untuk mengajar Ken ke baby spa terlaksana juga. Emang emak bapaknya aja nih yang kemarin-kemarin belum nyempetin jalan ke salon bayi. Alhamdulillaah ini semua berkat voucher 'mom n jo' yang saya dapatkan dari seminar tempo hari. Sayangnya, vouchernya cuma bisa dipakai di hari kerja. Yasudah lah nanti biar Ken dan ibunya aja yang ke 'mom n jo'. Ayahnya nggak bisa ikutan karena kerja. Eh, ternyata tanggal 9 Desember lalu ada Pilkada serentak, kantor suami ikutan diliburkan. Setelah cek ke 'mom n jo' Rawamangun, ternyata voucher bisa digunakan di hari itu. Langsung lah kita bertiga cus kesana sambil nggak sabar lihat cah lanang satu ini nyemplung di kolam.

Mom n Jo ini banyak cabangnya dan yang paling dekat dengan rumah ortu saya adalah Mom n Jo Rawamangun, tepatnya di dekat Teminal Rawamangun, seberang Giant Ekspres. Seperti yang sudah kita tahu, ya. Mom n Jo ini specialty-nya adalah perawatan untuk ibu hamil yang mau pijit-pijit (kan ga boleh sembarangan tuh kalo ibu hamil, salah pijit bisa bahaya), spa bayi, dan ibu pasca melahirkan. Sebenernya udah dari dulu pas hamil Ken sih mau kesana buat pijit kan lumayan yak ngegembol bayi berapa kilo bikin pegel badan. Tapi, ternyata belum kesampaian dan berakhir pijit di salah satu salon langganan di Depok dekat kontrakan kami dulu. Oiya, sebelumnya saya tanya dulu ke CS-nya via telp mengenai harga. Tertarik dengan paket 'baby and i" ternyaya harganya 550rb dengan perawatan pijat 60 menit untuk ibu dan pijit bayi 40 menit + renang bayi 20 menit. Hmm... pikir-pikir dulu deh, mayan juga ternyata harganya, wkwk. Harga paket spa bayi (pijit+renang) 275ribu. Terus mikir lagi, ah Ken juga hampir tiap pagi saya pijit. Lagian dipijit 40 menit anaknya emang betah yak? Saya mijit Ken 30 menit aja udah termasuk lama tuh sambil diajak main. Jadi, tanya harga renang bayinya aja deh... 150rb untuk berenang 20 menit. Ok, setelah tanya suami, kami pun mengambil perawatan itu.

Setelah booking, kita dapat giliran jam 4. Berangkat dari rumah Jam 3 kurang, kami tak lupa membawa perlengkapan Ken, seperti baju ganti yang agak longgar biar pas makein baju nggak drama. Iya lho, Ken ini kalo dipakein baju nangisnyaaa... masya Allah dah kayak lagi disiksa T,T Dia emang tipe anak yang nangisnya keras kayak lagi terik-teriak gitu sih. Pas baru muncul dari perut pun nangisnya hampir memecahkan gendang telinga, heheh becanda deng. Memecahan keheningan hati emaknya yang lagi teler efek obat bius.Ok, back to the topic. Terus jangan lupa juga bawa minyak telon buat menghangatkan badan bayi setelah renang dan kaos kaki buat Ken, ayah, dan ibunya. Lah? emak bapaknya juga bawa kaos kaki? Yoi. Jadi, di Mom n Jo ini peraturannya gitu, sebelum masuk ruang spa ortu wajib pake kaos kaki untuk menjaga kebersihan ruangan. Kalo ngga bawa? Tenang, Mom n Jo menjual kaos kaki incase ada yang ngga bawa.

Baby Swimming Pool

Ruang Spa untuk Ibu

Welcome drinks.
Akhirnya sampai deh di Mom n Jo pukul sekitar 15:30 karena masih ada waktu, kami ngemil dulu di KFC seberang. Daan.. tiba lah waktu yang dinanti: melihat Ken berenang perdana. Degdegan lho, takut anaknya nangis pertama kali dicemplungin gitu. Sebelum masuk ruang spa, Ken ditimbang dan diperiksa suhu tubuhnya dulu. Setelah itu, masuk ruang spa yang ngga terlalu besar tapi seneng deh lihatnya, bersi dan private. Sebelum nyemplung, Ken ditelanjangi dulu dan pemanasan dengan digerak-gerakkan tangan dan kakinya biar gak keram kali ya dan gak kaku badannya ketika bergerak-gerak di dalam air.

Ditimbang sebelum masuk ruang spa

Duuh.. aku mau diapain nih??


Daan... pas dimasukin ke air, jeger anaknya nangis, hahah. Tapi, setelah dinyanyiin nangisnya berhenti dan dia kelihatan menikmati sambil heboh gerak-gerakin badannya. Ternyata Ken masih kagetan anaknya, dan itu yang bikin dia nangis lagi waktu berenang-renang. Jadilah perjalanan berenang perdana ini diiringi dengan isak tangis Ken yang seperti orang hampir tenggelam minta pertolongan. Sepanjang waktu berenang, dia nggak berhenti menatap saya sambil menangis seolah bilang, “Pleeease help me, mom… Pleeease!” 10 menit kemudian, saya mulai nggak tega dan minta mbaknya untuk angkat dia. Terus pas dimasukin bak mandi jadi ikutan nangis juga~ Nggak apa lah ya, namanya juga baru pertama kali. Insya Allah nanti coba lagi ya nak ya, semoga makin berani dan mahir. Abis diangkat, biasa deh mukanya langsung biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. 




Tapi, pengin lagi deh bawa Ken berenang kapan-kapan.  Sebab, katanya berenang untuk bayi itu banyak manfaatnya, seperti melatih jantung dan paru-parunya agar bekerja lebih keras saat bayi menggerak-gerakkan badannya di Air—terbukti waktu dicemplungin Ken sampe gobyos kepalanya, macam abis lari berapa kilo gitu, hahah. Selain itu, juga bisa melatih kepercayaan diri bayi, soalnya dengan dia berani nyemplung di air, dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk bersahabat dengan air. Malahan saya penasaran tuh sama bayi-bayi yang udah diajak renang di pool beneran dan udah diselamin ke dalam kolam sambil senyum-senyum dan ketawa kayak di video ini nih...


So, that was another new experience you've taken, Ken... Get ready for the next things which will come! :)

Mom n Jo Website: http://www.momnjo.com/

Salam,

SW

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW