Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Tuesday, July 4, 2017

Just Another Story of A Toddler

image from here
Kepala saya masih agak pusing karena kemarin baru ada yang nimpuk saya pakai mainan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ken. Heheh, Hal-hal kayak gini mungkin umum ya terjadi sama ibu-ibu sekalian, terutama yang sedang punya toddler. Minimal pernah ngerasain pedihnya digigit tiba-tiba ðŸ˜…. Kalau saya, yang paling sering belakangan adalah dipukul pakai mainan, huhu, lumayan lho sakit juga. Iya, saking sakitnya saya sampe nangis meringis karena waktu itu posisinya lagi tidur, nggak siap, tiba-tiba ada yang mendarat di kepala saya. Bletak! tak! tak! Mobil hotwheels-nya Ken mendarat di kepala saya.

Agresivitas pada toddler itu sebenarnya normal terjadi. Alasannya bisa karena beberapa hal. Pertama, karena belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan jelas. Kedua, belum bisa menahan impuls emosi yang muncul dalam dirinya. Ketiga, adanya keinginan untuk bisa mandiri (babycenter.org). Selama masih dalam batas wajar, there's nothing to worry about. Kesempatan ini justru jadi lahan orang tua untuk mengajarkan anak tentang perilaku baik/buruk dan tentu saja sambil melatih kesabaran ya :') 

Selain itu, orang tua dituntut juga untuk bisa mengidentifikasi penyebab kenapa anak kita berperilaku seperti itu. Supaya nggak pengen ngomel-ngomel terus. Karena biasanya kalau udah paham alasannya, kita jadi bisa memaklumi kenapa anak demikian dan demikian. Kalau Ken biasanya karena dua hal. Pertama, karena kesal atau marah. Kedua, karena gemas (contohnya kalau lagi main sama anak yang usianya lebih muda dari dia).  

Lho, tapi kok banyakan nggak jelasnya alasannya. Sabar ya buibu, namanya juga toddler ðŸ˜….

"Toddler (n.) Emotionally unstable pint-sized dictator with the uncanny ability to know exactly how far to push you towards upper insanity before reverting to a lovable creature" -unknown

Yha. Seperti kebanyakan toddler, perilaku Ken juga kadang-kadang bikin saya mengelus dada dan kepala saya 'bertanduk'. Hahah, pokoknya ada masa-masa dimana Ken 'test the limit' banget. Tapi, ada juga masa-masa Ken jadi anak yang supeeeeer manis. Saya merasa turning point-nya itu pas Ken masuk usia 18 bulan. I guess he entered those terrible twos period quite early. All i can say to sum up this entire toddlerhood knick-knack is just WOW, KEN, WOW!!

Ayahnya Ken aja sampe bilang, "ini katanya 2 tahun bisa lebih parah lagi?" Saking shocked-nya dengan tingkah laku toddler yang sering sulit diprediksi *well, ini agak hiperbol sih.

Tingkah lakunya Ken nggak yang parah-parah banget sih, masih dalam batas wajar. Tapi, namanya pertama kali punya anak dan pengalaman baru, ya pasti ada sensasi berbeda. Ternyata begini toh rasanya mengurus anak yang udah nggak bayi lagi; yang energinya nggak abis-abis, banyak request, moody, dan bahkan kadang agresif. Masya Allah, seruuuu ya😂.

Ini beberapa cerita tentang serunya dan ajaibnya tingkah laku Ken yang sekarang berusia 22 bulan. Saya yakin bakalan banyak yang mirip-mirip sih sama pengalaman ibu-ibu yang lain karena ini typical banget.

Drama Nggak Mau Pake Baju
Saya masih ingat waktu Ken berusia 4 bulan kalau nggak salah, setiap kali dipakein baju, dia akan nangis kenceeeeng banget, kayak lagi disiksa sama ibunya, padahal cuma mau dipakein baju :'(. Dan sejarah itu terulang kembali sekarang, saat dia sudah memasuki usia toddler. Bedanya, sekarang dramanya lain-lain. Paling sering itu ya adegan kejar-kejaran sama Ken tiap kali mau dipakein baju. Hahah, sekalian olah raga dan main sama Ken yang girang banget, semacam lagi main run and chase. Terus kalau ketangkap dan mulai mau dimasukin bajunya, dia akan nangis-nangis sambil bilang "Ken nggak mau pake baju, Ken nggak mau pake baju". Kadang nangisnya beneran, kadang drama. Iya, dia kayak udah tahu gitu lho kalau ibunya akan annoyed kalau dia merengek, jadi digodain deh sama dia. 

Solusinya: Biasanya, sambil pakai baju, saya juga suka menyelipkan alasan sebenarnya kenapa harus pakai baju ; untuk menutup aurat, biar nggak kedinginan, dsb, Kalau udah nggak mempan,yang paling ampuh itu ya dialihkan perhatiannya. Kalau saya biasanya sambil pakein baju, sambil nyanyi lagu ngarang apa aja dah untuk mengalihkan perhatiannya. "Masuk ke lobang yang besar, keluar dari lubang yang kecil. Begitulah cara pakai celana..." atau sambil belajar karena Ken paling suka ditanya-tanya. Tanya aja bentuk lubang baju apa atau gambar atau warna bajunya. 



Ibu Nggak Boleh Pipis
Ada yang lagi drama. Biarin aja, nanti juga diam sendiri.
Ini kayaknya pengalaman hampir semua ibu ya. Lagi kebelet, terus ngacir ke kamar mandi, tiba-tiba distop sama bocah kecil sambi bilang "ibu..ibu..ibu.." Ya Allah nak, kayak mau ditinggal ke Arab aja. Padahal cuma mau ke toilet. Atau pernah nggak lagi enak-enak buang hajat, pintu kamar mandi kebuka, ternyata anak kita udah bisa buka pintu sendiri :"D. Kadang ada rasa senangnya juga sih liat Ken kayak gini. Jadi, merasa punya fans berat, hahaha. Tapi, kalau udah beneran kebelet, yaa gimana... Kalau di rumah lagi ada ayahnya Ken sih gampang, tinggal diajak main aja. Tapi, kalau nggak ada gimana?

Solusinya: Kadang saya setelin video dan meninggalkan dia untuk beberapa saat ke kamar mandi. Tapi kalau nggak bisa juga, mau nggak mau lah saya ajak juga ke kamar mandi dan biarin dia main sama botol-botol sabun di shower room. Yah, sambil awkward diliatin anak yang udah bisa ngomong, "ibu lagi ngapain tuh?" atau "ibu eek dulu ya" Hahahah, begini banget ya punya toddler. 


Hanya Mau Kalau Sama Ibu
Pernah nggak pengin gantian bertugas sama suami, tapi nggak bisa. Iya, nggak bisa karena anaknya cuma mau ngapa-ngapain sama ibunya. Ayahnya Ken adalah orang yang sangat helpful buat urusan mengasuh anak. Tapi, sering kali Ken nggak mau 'dibantu' sama ayahnya, cuma mau sama ibu. Gimana atuh. Ayahnya Ken paling sering dapat penolakan kalau diminta nganterin Ken pipis/cebok di kamar mandi. Pokoknya kalau urusan kamar mandi, kan maunya cuma sama ibunya.

Solusinya: Ya kalau ini sih nggak masalah, ikutin aja maunya, kecuali kalau lagi bener-bener nggak bisa. Kayak kalau lagi masak.


Banyak Request
Semenjak mulai lancar bicara, Ken senang banget request. Ini bercampur sama curiosity-nya, jadi apa-apa mau di pegang sama dia. Kalau barang yang diminta nggak bahaya sih, biasanya kita kasih. Tapi, kalau berbahaya ya nggak... Kayak Ken pernah minta "Ken mau pegang piso/pisau... Ken mau pegang obeng..." waktu lihat ibunya masak atau saat lihat ayahnya betulin mainan.. ya nggak akan dikasih. Hal lainnya adalah dia udah bisa milih-milih mau pakai baju yang mana. Jadi, kalau pas lagi drama nggak pakai baju gitu, dia suka tiba-tiba bilang, "Ken mau pakai baju yang red, yang ada mobilnya..."

Solusinya: Kalau ini sih juga nggak masalah ya, asal request-nya nggak minta barang-barang yang berbahaya aja.


Numpahin air & Melepeh makanan
Kalau ini sih biasaaa banget ya. Sekarang-sekarang ini, Ken lebih suka makan sendiri, daripada disuapi. Lebih suka minum sendiri, maunya pakai gelas. Sebagai orang tua, kita mesti kasih kesempatan dong ya biar dia mandiri *padahal harap-harap cemas, takut semuanya ditumpahin atau dikobok*. Dan bener aja, ada aja adegan numpahin air dan makanan hampir setiap kali makan. Tapi, berangsur-angsur kebiasaan itu berkurang sih karena dia udah semakin mahir menggunakan sendok dan udah bisa minum dari gelas biasa.
Kalau soal melepeh makanan, ini problemnya Ken dari semenjak dia masih 6 bulan. Problem yang awalnya bikin ibunya super stress, tapi lama-lama kebiasa dan nggak diambil pusing karena yah lama-lama kebiasaan makannya semakin baik kok. Kalau dulu begitu, beda ceritanya sekarang. Aksi lepeh-melepeh Ken sekarang lebih ke buat godain ayah-ibunya dan eksperimen dia sendiri.

Solusinya: Beresinnya nanti aja kalau makannya udah beres, biar nggak capek. Minta anak buat ikut membantu membereskan atau lap-lap, supaya bisa belajar bertanggung jawab. Tapi, jangan berharap hasilnya bakal bersih beneran :"D


Masih dalam Episode "mau, tapi nggak mau"

Diantara semua drama yang ada, mungkin ini yang paling bikin paling sering elus dada. Hahaha, udah tahu lagi menghadapi anak kecil. Pernah nggak ngalamin ketika anak kita minta sesuatu, tapi pas udah dikasih barangnya dia malah nggak mau, dan bahkan nolaknya sampai nangis. Hahaha, jadi maunya opo tho, nang? Kayak kemarin, waktu itu Ken minta diantar ke kamar mandi, "Ibu, ken mau pipis" begitu katanya. Saya pun bahagia sekali dengernya, karena jarang-jarang Ken bilang kalau mau pipis. Tapi, begitu sampai di kamar mandi, dia nangis-nangis nggak mau pipis. Pas keluar kamar mandi, dia nangis lagi katanya mau pipis. Begitu terus sampai beberapa kali bolak-balik kamar mandi, dan berujung pada Ken nggak jadi pipis -_-'

Solusinya: Sabar.



Begitulaaah sedikit cerita dunia toddlerhood-nya Ken. Sebenarnya kalau mau diingat-ingat masih banyak lagi sih. Kayak Ken udah bisa memanipulasi emosinya, pura-pura nangis, pura-pura marah, yang kadang malah suka bikin kita gemes sendiri. Atau udah bisa nyuruh-nyuruh, kayak nyuruh ayahnya tidur di lantai kalau malam, hahahaha. "Permisi ayah. Ayah bobo di bawah aja." dan masih banyak lagi. 

Meskipun banyak menguji emosi, tapi masa toddler ini bener-bener bikin saya amazed dengan perkembangannya Ken. Bikin saya mikir kalau anak yang tadinya nggak berdaya, hanya bisa tidur, mimik, pup doang... Sekarang jadi bocah super aktif yang hobi manjat-manjat kursi atau udah bisa jawab-jawabin pertanyaan orang tuanya. Nggak berasa, sebentar lagi bisa panjat tebing dan adu argumen sama ayah ibunya.

Parenthood (image from here)
Jangan lupa bahagia buibu hebat dan ingat! meskipun anak kita sering menguji kesabaran, tapi ia adalah amanah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita (reminder buat saya sendiri juga). So, let's just cherish this very moment because of they are not stay here for forever. 



Salam,
Sawitri Wening



Sumber:
https://www.babycenter.com/0_aggression-hitting-and-biting-ages-12-to-36-months_11550.bc

Monday, November 21, 2016

Catatan Ibu: Ken Belajar Bicara

Menyebut Nama Benda pada Gambar Tas Laundry

Di usianya yang memasuki usia 15 bulan ini. Ken sedang semangat-semangatnya belajar bicara. Entah sudah berapa banyak kata yang ia tahu. Inisiatif untuk mencatat kata apa saja yang dikenal Ken, saya mulai sejak ia berusia 11 bulan. Saat itu sudah sekitar 24 kata yang berhasil dikuasainya dengan penyebutan suku kata terbelakangnya saja. Misal, Ikan jadi "an", Ayam jadi "am", dsb. Setelah itu, buyar pencatatannya karena Ken meningkatkan kemampuan menyebut kata dengan begitu cepat. Sampai sekarang, pencatatan tetap dilakukan dengan video di instagram dengan hashtag #bahasakenmaruta (tapi akunnya di-private :p). Harapannya supaya saya tahu bagaimana seorang anak mengembangkan kemampuan bahasanya. Menarik deh. Saya juga membuat hashtag lain seperti #kesehatankenmaruta #emosikenmaruta #catatanibukenmaruta disertai dengan keterangan usia Ken dengan harapan memudahkan saya mengingat-ingat perkembangan anak saya. Sekalian buat bahan evaluasi buat pengasuhan anak kedua (eh, dah ngomongin anak kedua ajaaah.. Aamiin dulu deh).

Jadi, mumpung anaknya lagi semangat belajar bicara... berikut ini catatan tentang apa saja yang saya lakukan untuk mendukungnya dan apa yang saya pelajari tentang perkembangan kemampuan bahasa Ken.

1. Rajin baca buku dan ajak ngobrol bayi saat sedang hamil. Saya percaya banget kalau kebiasaan ibu atau orang tua sejak masih mengandung bayi akan berpengaruh ke anak kelak. Sejak dari masih di dalam perut, sama seperti kebanyakan orang tua lakukan; sering ajak bayi berbicara, didengarkan bacaan-bacaan, dsb. Kalau waktu hamil Ken, saya ingat waktu senggang saya biasanya akan saya habiskan dengan membaca novel-novel ringan. Malah lebih cepat selesai dan lebih banyak buku yang bisa saya baca dibandingkan biasanya. Dulu ayahnya Ken selalu bilang, "kayaknya anak kita nanti anaknya suka baca nih." Saya mah mengaminkan saja, semoga benar. Sekarang sih Ken lagi hobi banget minta ambilin buku dan bacain atau minta ambilin aja semua. Perasaannya? antara senang dan lelah, hahahaha.

2. Membacakan buku (read aloud) sejak masih newborn. Saat sedang hamil, saya pernah membaca suatu artikel tentang penelitian yang menyebutkan, kurang lebih, anak yang dibacakan buku sejak masa awal kehidupannya akan memiliki kosakata yang lebih banyak dari anak yang tidak dibacakan buku. Bukunya? Apa aja. Saya pun mulai membacakan Ken buku sejak ia berusia kurang dari 2 bulan. Yang saya bacakan novel atau buku macam "Supernova", "Mengenal Pribadi Muhammad", "The Hobbit", dsb. Intinya buku apa aja yang lagi saya baca, dibacakan keras-keras kayak lagi ngedongengin Ken. Anaknya yah dengerin aja sampai bosan. Kalau udah bosan ya dia menangis. Harapannya waktu itu; Ken familiar dengan buku sehingga akan suka membaca buku, dan supaya anaknya sedini mungkin mengenal berbagai macam kata dan kalimat dengan struktur yang rapi, teratur, dan mengalun (macem lagu aja, mengalun). Kalimat dalam novel tentu lebih baku dan terstruktur dibandingkan dengan kalau mengobrol biasa. Tapi, kebiasaan ini nggak rutin juga sih saya lakukan. Ya kalau lagi pengin aja dan kebetulan lagi baca buku aja.

3. Mengajak bicara seperti layaknya berbicara pada anak yang sudah besar. Nah, kalau ini ibu saya yang ikut mengasuh Ken waktu kami di Jakarta juga sudah melakukannya. Saya belajar banyak dari beliau yang tak pernah putus katanya kalau sedang bersama Ken. Ada saja yang diobrolin seperti sedang bicara sama anak yang sudah besar saja. Tanpa didayu-dayukan, tanpa dicadel-cadelkan. Tapi tetap anak kecil suka dengan gaya bicara yang dilebih-lebih dan terlihat bersemangat. Mereka akan lebih memperhatikan apa yang kita bicarakan.

4. Mengenalkan segala macam nama benda. Segala macam di sini maksudnya benar-benar segala macam. Bukan hanya mengenalkan yang ada di dalam buku, TV, atau hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas sehari-harinya. Tapi, termasuk juga hal-hal random. Misalnya, kalau lagi di rumah lagi beberes ada skrup jatuh, saya suka tanya ke Ken, "ini apa Ken?" ya jelas lah dia akan jawab asal atau diam aja karena belum tahu itu apa. Terus saya kasih tahu namanya apa dan dia akan mencoba mengulang. Surprisingly, next time dia ketemu benda itu lagi, meski sudah lama, dia akan ingat namanya apa. Yes, your baby is that smart! Saat ini, Ken sudah tahu ada benda bernama cotton bud, krim, helm, atap, kabel, shower, dsb. Tapi, saat ini justru kami sering sekali dibuat kaget karena Ken tiba-tiba tahu kata yang bahkan belum pernah dikenalkan secara sengaja, hanya dengan mendengarkan percakapan saya dan suami yang bisa dibilang cuma selewat aja.

5. Menjelaskan segala hal yang sedang saya lakukan. Sama halnya dengan poin di atas. Saya juga hampir selalu menjelaskan apa yang sedang saya/kami lakukan. Semua selalu dimulai dengan bertanya kepadanya, "ibu lagi apa, Ken?" dan selanjutnya menjelaskan "ibu lagi menyapu/mencuci piring/masak/dsb". Tujuannya agar dia mulai memahami situasi.

6. Banyak bertanya kembali pada anak. Biasanya saya akan mengulang lagi apa yang sudah dipelajarinya dengan cara bertanya "ini namanya apa?" atau "ibu lagi apa, Ken?"--biasanya sambil masak, nyapu, atau ngelipet baju. Atau challenge him to find a certain thing. Ini jadi andalan saya banget kalau lagi nggak pengin diganggu Ken pas lagi masak atau makan, supaya dia sibuk. Misal, "Ken, mobil yang dikasih Cutbang mana ya? Dari tadi ibu nggak lihat." Terus dia akan kembali dengan mobil di tangannya. Terus tanya lagi. Begitu terus sampai dia inget kalau dia mau minta duduk di highchair atau minta dipangku. Sambil menyelam minum air, bu. Hahahah.

7. Membaca buku bersama/partisipatif. Nah, berbeda dengan poin kedua. Ketika anak sudah mulai bisa diajak komunikasi dua arah, tips nomor dua udah nggak berlaku lagi. Ken kalau dibacain buku, dibacain aja walau sambil sama-sama lihat buku dan gambarnya, dalam hitungan detik dijamin dia bakal kabur karena bosan. Yang bikin dia senang untuk ikut membaca ya sambil ditanya-tanya, diminta cari gambar apa, mengulang nama tokoh, dsb. Intinya Ken harus diajak membahas isi cerita bersama yaitu dengan menyebut kembali gambar-gambar yang ada di buku. 

8. Memperhatikan, mengingat, dan menanggapi maksud dari ocehannya. Ini menurut saya poin yang paling krusial, tsah!  Semakin paham kita dengan apa yang coba diucapkan bayi, semakin cepat bayi membenarkan pengucapan kata ke yang seharusnya. Soalnya menurut bagaimana bisa membantu membenarkan dan mengulang kalau kita tidak tahu apa maksudnya. Karena hampir 24 jam selalu bersama Ken, saya berkesempatan mengikuti betul bagaimana tranformasi pengucapan sebuah kata oleh Ken. Misal, "An" jadi "Itan" baru "Ikan". Saya hampir selalu paham maksud yang ingin dia sampaikan meskipun pengucapannya tidak jelas atau bahkan jauh dari kata yang sebenarnya. Ya banyak juga lah kata-kata yang sampai sekarang saya masih clueless artinya apa. Kayak Ken suka sekali bilang "apopeeet.. apopeeet.." Apa pula maksudnya itu?! Kalau saya hanya mengulang apa yang ia katakan, dia akan menertawakan saya karena ngeh kalau ibunya nggak paham apa yang ia katakan. Respon yang saya tunjukkan berbeda dengan apa yang dia harapkan, sehingga terkadang malah jadi kesal. Kalau sudah begitu biasanya saya mengaku ke dia kalau nggak tahu maksudnya apa atau bilang "oh iya.." Intinya harus tetap ditanggapi supaya anak merasa dihargai dan didengar. Berbeda kalau kita paham maksudnya, misal dia bilang "An" oh, maksudnya "Ikan". Tugas kita mengajarkan pengucapan yang benar, sehingga akan cepat pula anak tahu bagaimanavmengucapkan kata itu secara tepat.

9. Meneruskan kata dalam lagu. Cara fun lain belajar bahasa selain dari buku ya dari lagu. Untuk lagu yang sudah familiar, dia akan mampu meneruskan kata dalam nyanyian. Awalnya hanya suku kata dibelakang, misal kalau saya menyanyi "kau sahabat seja..." dia bisa meneruskan "..ti" begitu sampai lagunya habis. Cara ini juga membantu kemampuan anak dalam merangkai kata. Saat ini Ken sudah bisa merangkai 2-3 kata. Contohnya, dia suka tiba-tiba bersenandung "tau..tabat..ti.." artinya "kau sahabat sejati" bersama dengan nadanya. Malah sekarang hobinya ngajakin nyanyi terus, biasanya dia akan menyebut kata pertama supaya saya meneruskan kata selanjutnya. Kalau dicuekin, dia nggak akan berhenti ngomong kata itu dan berujung ngambek. Ya abis disuruh nyanyi terus, kan capek yaa... :'D



10. Menjelaskan dan bertanya tentang isi video/gambar yang sedang dilihat.  Ken belajar banyak kata juga dari menonton. *Iya, bu... saya bukan termasuk ibu idealis yang benar-benar tidak memberikan screen-time untuk anak. Ya biasanya kalau lagi sibuk ngerjain sesuatu, saya tunjukkan video-video favorit Ken supaya dia ada kegiatan. Sambil masak, cuci piring, sambil ngomong dan nanya-nanya "Lagi apa itu mobilnya, Ken?" atau "Waaah, Ryan senang ya main air." Biar bisa menanggapi begini, sebaiknya harus tahu dulu isi videonya apa supaya . Biasanya Ken juga akan membicarakan apa yang dilihatnya dengan excited. Tentu saja, sambil mengerjakan hal lain, saya tetap menanggapinya. Jadi, anak tetap bisa belajar dan meningkatkan kemampuan bahasanya saat menonton. Oiya, untuk kata-kata yang masih clueless, saya curiga sih dia dapat kata itu dari menonton video yang mostly berbahasa Inggris. Karena bukan bahasa ibu, tentu saja saya tidak familiar dengan bagaimana kira-kira bentuk pertama suatu kata, dalam bahasa Inggris, muncul pada bayi. Misal, kata "Squirell" yang muncul pertama "kuieo". Kalau nggak tau konteksnya, mana paham kita kalau itu artinya tupai.

11. Membetulkan ejaan. Yap, meskipun anak sudah bisa mengatakan suatu kata dengan caranya. Saya biasanya tetap mengajarkan Ken bagaimana mengucapkan suatu kata dengan benar. Misal, Ken kalau menyebut kata "mobil" itu menjadi "dombin". Lalu, saya coba benarkan dan dia bisa mengatakannya menjadi "mobin" lebih dekat dengan bentuk aslinya. Jadi, setiap kali dia bilang "dombin" saya biasanya langsung membetulkan sambil memberi tekanan "mooooobil". Tidak apa perlahan-lahan dibetulkan, dia masih akan terus menyebut "dombin" dan terkadang "mobin". Just make it fun!

12. Memberikan apresiasi saat ia mampu menyampaikan kata/kalimat dengan lebih baik. Ini yang paling penting, sebab anak jadi akan semakin semangat belajar. Betul nggak, buibuuu? ;)

Fase belajar berbicara ini bagi saya adalah fase magis yang benar-benar membuat saya selalu teringat akan kebesaran Tuhan. Bagaimana seorang anak yang hanya bisa menangis tadinya, kini bisa berkomunikasi dengan berucap kata-kata. Karena kata itu begituuuuuu kaya dan bahasa itu begiiiitu kompleks, ada saja hal baru yang saya temui dari Ken. Rasanya setiap hari ada saja pencapaiannya. Untuk catatan juga, setiap anak itu unik. Berbeda-beda ada yang cepat atau lebih lambat pencapaiannya dalam aspek apapun. Tugas kita memberikan stimulus untuk membantunya. Sekian dulu sharingnya. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Silakan diambil yang baiknya saja dan dibuang yang buruk-buruknya. Sama-sama belajar ya bu... Silakan kalau ada yang mau menambahkan. Terima kasiiiih...

Selamat pagi!
Sawitri Wening

Thursday, April 28, 2016

Berkunjung Ke Perpustakaan Anak Cikini


Gara-gara melihat foto kopdar di Instagram salah satu komunitas ibu-ibu, saya jadi tahu kalau di kota Jakarta tercinta ini ada yang namanya Perpustakaan Anak Nasional. Mendengar namanya saja sudah bikin saya penasaran. Setelah cari tahu, ternyata perpustakaan tersebut terletak di Kawasan Taman Ismail Marzuki, tidak jauh dari rumah. Langsung semangat dong ajak suami saya kesana, secara cuma 10 menit kurang lebih naik motor dari tempat kami tinggal saat ini.

Sebenarnya, kami sudah kesana dua kali. Itu karena pertama kalinya kami kesana, sudah jam 4 sore. Alias perpustakaan anaknya sudah mau tutup. Yasudah, tidak menyerah minggu-minggu berikutnya kami kesana lagi. Waktu operasi perpustakaan anak ini adalah Hari Senin-Minggu pukul 9-11 pagi dan pukul 14-16. Iya, memang ada jedanya untuk istirahat.

Yang bikin saya penasaran mau berkunjung ke perpusatakaan ini sebenarnya karena di sana ada playground-nya. Berhubung Ken belum bisa baca, saya jadi tetap semangat ajak Ken kesini karena bisa main! Sekalian pengenalan juga kalau, “nak, ada tempat bernama surga di muka bumi ini. Tempat itu bernama perpustakaan. Bersenang-senang lah di sana, mulai dari sekarang.” Hahah, ibunya lebay. Tapi, punya anak yang mencintai buku itu, saya yakin impian banyak ibu. Semoga nanti Ken pun begitu. Duh, mulai colek diri sendiri buat beliin dan BACAIN Ken buku-buku.

Sampai sana, ketemu teman SMA saya yang ternyata bekerja disitu. Katanya, perpustakaan ini masih seumur jagung, berdiri pada Mei 2015. Dulunya gedung yang dijadikan perpustakaan ini, kalau saya nggak salah inget,adalah gedung arsip yang seinget saya juga nggak jadi satu dengan Kawasan TIM. Sekarang pintu masuknya jadi satu dan letaknya tepat di samping Galeri Cipta II.

Saya lihat koleksi bukunya sih masih belum terlalu banyak ya, kalau saya bandingkan dengan perpustakaan sekolah dasar tempat saya pernah bekerja dulu. Tapi, jenis bukunya cukup bermacam-macam dan dijamin bisa menyenangkan hati anak yang kutu buku. Oiya, perpustakaan anaknya ada di lantai 2 dan pengunjung wajib mengenakan kaos kaki supaya kebersihan tetap terjaga kali ya. Area playground ada yang lesehan dan yang semi outdoor untuk permainan yang membutuhkan kemampuan motorik kasar anak. Seru deh pokoknya. Ken aka senang meski agak bingung juga sih karena pertama kali diajak ke tempat seperti itu.

Nah, buat orang dewasa, jangan sedih. Di lantai 1 ada space khusus untuk buku-buku orang dewasa. Selain itu, tempatnya buat saya sih nyaman banget ya terutama bagi yang mau nugas sambil buka laptop. Di lantai yang sama juga ada musholanya. Lengkap deh, nggak khawatir kalau mau berlama-lama di sana, karena nggak repot kalau mau sholat sebentar. Yang nggak boleh ya bawa makanan dari luar.







Jadi, buat yang lagi cari tempat nongkrong pintar buat sekadar baca buku, nugas, atau bawa anak bermain, tempat ini cukup membahagiakan sih. Ah, seandainya jaman skripsian dulu udah ada perpustakaan ini, pasti bakal sering-sering ke sini.

Ini sebagian dokumentasi ketika saya, suami, dan Ken berkunjung kesana. Berhubung Ken masih baby, kami main-main aja. Malah ayahnya Ken yang kegirangan.









 Salam,

Sawitri Wening

Saturday, December 12, 2015

Hanging Out with Ken #3: Berenang Perdana di 'mom n jo'

Yippie! Akhirnya setelah dipending terus, niatan untuk mengajar Ken ke baby spa terlaksana juga. Emang emak bapaknya aja nih yang kemarin-kemarin belum nyempetin jalan ke salon bayi. Alhamdulillaah ini semua berkat voucher 'mom n jo' yang saya dapatkan dari seminar tempo hari. Sayangnya, vouchernya cuma bisa dipakai di hari kerja. Yasudah lah nanti biar Ken dan ibunya aja yang ke 'mom n jo'. Ayahnya nggak bisa ikutan karena kerja. Eh, ternyata tanggal 9 Desember lalu ada Pilkada serentak, kantor suami ikutan diliburkan. Setelah cek ke 'mom n jo' Rawamangun, ternyata voucher bisa digunakan di hari itu. Langsung lah kita bertiga cus kesana sambil nggak sabar lihat cah lanang satu ini nyemplung di kolam.

Mom n Jo ini banyak cabangnya dan yang paling dekat dengan rumah ortu saya adalah Mom n Jo Rawamangun, tepatnya di dekat Teminal Rawamangun, seberang Giant Ekspres. Seperti yang sudah kita tahu, ya. Mom n Jo ini specialty-nya adalah perawatan untuk ibu hamil yang mau pijit-pijit (kan ga boleh sembarangan tuh kalo ibu hamil, salah pijit bisa bahaya), spa bayi, dan ibu pasca melahirkan. Sebenernya udah dari dulu pas hamil Ken sih mau kesana buat pijit kan lumayan yak ngegembol bayi berapa kilo bikin pegel badan. Tapi, ternyata belum kesampaian dan berakhir pijit di salah satu salon langganan di Depok dekat kontrakan kami dulu. Oiya, sebelumnya saya tanya dulu ke CS-nya via telp mengenai harga. Tertarik dengan paket 'baby and i" ternyaya harganya 550rb dengan perawatan pijat 60 menit untuk ibu dan pijit bayi 40 menit + renang bayi 20 menit. Hmm... pikir-pikir dulu deh, mayan juga ternyata harganya, wkwk. Harga paket spa bayi (pijit+renang) 275ribu. Terus mikir lagi, ah Ken juga hampir tiap pagi saya pijit. Lagian dipijit 40 menit anaknya emang betah yak? Saya mijit Ken 30 menit aja udah termasuk lama tuh sambil diajak main. Jadi, tanya harga renang bayinya aja deh... 150rb untuk berenang 20 menit. Ok, setelah tanya suami, kami pun mengambil perawatan itu.

Setelah booking, kita dapat giliran jam 4. Berangkat dari rumah Jam 3 kurang, kami tak lupa membawa perlengkapan Ken, seperti baju ganti yang agak longgar biar pas makein baju nggak drama. Iya lho, Ken ini kalo dipakein baju nangisnyaaa... masya Allah dah kayak lagi disiksa T,T Dia emang tipe anak yang nangisnya keras kayak lagi terik-teriak gitu sih. Pas baru muncul dari perut pun nangisnya hampir memecahkan gendang telinga, heheh becanda deng. Memecahan keheningan hati emaknya yang lagi teler efek obat bius.Ok, back to the topic. Terus jangan lupa juga bawa minyak telon buat menghangatkan badan bayi setelah renang dan kaos kaki buat Ken, ayah, dan ibunya. Lah? emak bapaknya juga bawa kaos kaki? Yoi. Jadi, di Mom n Jo ini peraturannya gitu, sebelum masuk ruang spa ortu wajib pake kaos kaki untuk menjaga kebersihan ruangan. Kalo ngga bawa? Tenang, Mom n Jo menjual kaos kaki incase ada yang ngga bawa.

Baby Swimming Pool

Ruang Spa untuk Ibu

Welcome drinks.
Akhirnya sampai deh di Mom n Jo pukul sekitar 15:30 karena masih ada waktu, kami ngemil dulu di KFC seberang. Daan.. tiba lah waktu yang dinanti: melihat Ken berenang perdana. Degdegan lho, takut anaknya nangis pertama kali dicemplungin gitu. Sebelum masuk ruang spa, Ken ditimbang dan diperiksa suhu tubuhnya dulu. Setelah itu, masuk ruang spa yang ngga terlalu besar tapi seneng deh lihatnya, bersi dan private. Sebelum nyemplung, Ken ditelanjangi dulu dan pemanasan dengan digerak-gerakkan tangan dan kakinya biar gak keram kali ya dan gak kaku badannya ketika bergerak-gerak di dalam air.

Ditimbang sebelum masuk ruang spa

Duuh.. aku mau diapain nih??


Daan... pas dimasukin ke air, jeger anaknya nangis, hahah. Tapi, setelah dinyanyiin nangisnya berhenti dan dia kelihatan menikmati sambil heboh gerak-gerakin badannya. Ternyata Ken masih kagetan anaknya, dan itu yang bikin dia nangis lagi waktu berenang-renang. Jadilah perjalanan berenang perdana ini diiringi dengan isak tangis Ken yang seperti orang hampir tenggelam minta pertolongan. Sepanjang waktu berenang, dia nggak berhenti menatap saya sambil menangis seolah bilang, “Pleeease help me, mom… Pleeease!” 10 menit kemudian, saya mulai nggak tega dan minta mbaknya untuk angkat dia. Terus pas dimasukin bak mandi jadi ikutan nangis juga~ Nggak apa lah ya, namanya juga baru pertama kali. Insya Allah nanti coba lagi ya nak ya, semoga makin berani dan mahir. Abis diangkat, biasa deh mukanya langsung biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. 




Tapi, pengin lagi deh bawa Ken berenang kapan-kapan.  Sebab, katanya berenang untuk bayi itu banyak manfaatnya, seperti melatih jantung dan paru-parunya agar bekerja lebih keras saat bayi menggerak-gerakkan badannya di Air—terbukti waktu dicemplungin Ken sampe gobyos kepalanya, macam abis lari berapa kilo gitu, hahah. Selain itu, juga bisa melatih kepercayaan diri bayi, soalnya dengan dia berani nyemplung di air, dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk bersahabat dengan air. Malahan saya penasaran tuh sama bayi-bayi yang udah diajak renang di pool beneran dan udah diselamin ke dalam kolam sambil senyum-senyum dan ketawa kayak di video ini nih...


So, that was another new experience you've taken, Ken... Get ready for the next things which will come! :)

Mom n Jo Website: http://www.momnjo.com/

Salam,

SW

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW

Monday, November 9, 2015

Ken Belajar Pakai Clodi


Gambar: Google
Berawal dari join ke grup mamah-mamah psiko dan Mahmud Abas--kepanjangan dari "Mamah Muda Anak Baru Satu", dimana kedua grup tersebut tengah memperbincangkan tentang clodi, saya pun jadi ikutan penasaran sama istilah satu itu. Apa itu clodi atau cloth diaper atau popok kain biasa? Sebagai seorang ibu muda, saya termasuk telat banget, banget tahu tentang teknologi satu ini. Untuk yang belum familiar, clodi ini beda dengan popok kain konvensional berbahan selembar katun, tapi lebih mirip popok sekali pakai yang bisa menyerap pipis berkali-kali tanpa takut bocor untuk beberapa lama. Nih penampakannya...

Gambar: Google
Jadi, meskipun popok kain, bunda tidak perlu khawatir harus menggantinya setiap kali ia pipis--kecuali kalo poop, langsung diganti ya dan sebaiknya diganti maksimal 4 jam sekali. Sebenarnya beberapa kali mengunjungi online shop, sempat melihat berbagai merek clodi ini sih dan kok motifnya lucu-lucu, ya... Pas lihat harganya hmm... nggak lucu sama sekali. Sangatlah wajar kalo saat itu saya mengurungkan niat untuk membeli clodi, wong saat itu yang saya lihat satu clodi harganya 250 ribuan. Iya, itu untuk satu clodi, mendingan buat beli pospak (popok sekali pakai) bisa dapat 4 pax, belum lagi kalo diskon bisa lebih banyak lagi. Saat itu pun yang saya pikirkan menggunakan clodi akan mencekik leher kantong dan domper suami  saya.  Maka, saya urungkan niat saya untuk membelinya.

Lebih Hemat dibanding Pakai Pospak
Setelah ngobrol banyak dengan grup Mamah2 Psiko dan Mahmud Abas baru tahu ternyata, merek clodi itu banyak, tinggal pilih mau yang buatan lokal atau yang premium import. Yang lokal, dengan harga terjangkau kualitasnya nggak kalah dengan yang import. Jadi, kalau mau hemat, bisa banget beli yang merek lokal. Harga terjangkau dan kalau dikalkulasi jangka panjang bisa menghemat berkali-kali lipat dibanding pakai pospak sampai toilet training, dan masih bisa diwariskan ke adiknya (ciee.. dah ngomongin adik aja, padahal Ken baru mau 3 bulan) dengan perawatan dan penyimpanan yang tepat. 

Tapi, nyesel juga sih baru mulai beralih ke clodi sekitar sebulanan yang lalu, jadinya kalau niat menggunakan clodi full-time, jadi kejar tayang padahal clodi baru dicicil sedikit. Di awal memang akan terasa menguras kantong, apa lagi kalo beli langsung banyak...beuh! Investasi di awal sih. Makanya, bunda kalau niat anaknya menggunakan clodi nanti semenjak hamil cicil beli clodi biar nggak gitu berasa pengeluarannya. Lumayan lah sebulan beli 1-2 clodi gitu.

Sampai sekarang Ken baru punya 12 clodi dan harus langsung dicuci untuk dipakai di hari berikutnya. Kalau malam dan pergi-pergi, Ken masih menggunakan pospak karena selain alasan lebih praktis, kami sudah terlanjur setok, jadi ya dihabiskan dulu sembari mencicil beli clodi lagi biar bisa full pake clodi (doain emaknya istiqomah ya, terutama cuci clodinya... heheh).


Saking semangatnya beralih ke clodi, saya jadi kalap belanja clodi. Di bulan awal beli 10 clodi, 3 diantaranya dapat gratisan—kompensasi dari overdue pengiriman barang online shop (Hihih… ada aja ya rezeki). Bulan selanjutnya saya harus menahan diri dulu untuk membeli clodi maksimal 2 buah per bulan dan clodi resmi masuk wishlist prioritas saya sekarang ;D

Lebih Ramah Lingkungan
Alasan lain yang bikin saya tertarik untuk beralih dari pospak ke clodi adalah simply untuk mengurangi perasaan bersalah saya karena menghasilkan gunungan sampah pospak semenjak Ken lahir, Apalagi newborn kan yang setiap abis nenen pasti pup, sehari bisa menyampah kurang lebih 8 pospak kotor. Ternyata, ini juga menjadi alasan utami ayahnya Ken ketika saya berdiskusi soal beralih ke clodi yang pada akhirnya mendukung ide saya. Bapak saya bahkan sempat bertanya apa ada alternative lain selain menggunakan pospak untuk bayi, sedih melihat banyaknya sampah popok kotor di rumah.

Melihat pospak kotor itu saya jadi berpikir, kemana perginya ya popok-popok kotor itu padahal ini baru saya, belum ada berjuta-juta bayi lain yang menggunakan pospak. Jadi, menurut saya cukup bijak kalau kami mulai beralih ke clodi yang bisa dipakai berkali-kali dan pun kalau harus dibuang karena tidak layak pakai, jumlahnya tidak akan sebanyak pospak kotor. Ini juga yang bikin saya semangat cuci clodi setiap hari.

Lebih sehat untuk Kulit
Ini adalah hal lain yang membuat clodi mempunyai nilai lebih di mata saya dibandingkan pospak. Setelah dicobakan clodi, Ken jadi terhindar dari ruam. Ini karena bahan clodi lebih alami dibandingkan dengan pospak yang memang mengandung bahan kimia, sehingga meminimalisasi risiko terkena penyakit akibat zat-zat berbahaya kimiawi. Selain itu, menggunakan clodi, saya tidak perlu mengaplikasikan bedak atau rash cream ke pantat Ken karena selain tidak perlu, penggunaan keduanya bisa menurunkan performa clodi sehingga daya serap clodi akan berkurang.

Mencuci clodi juga ternyata ada tekniknya lho, kalau menggunakan deterjen sebaiknya ¼ kali dari jumlah deterjen yang biasa kita pakai (CMIIW ya..) sebab sisa deterjen yang menempel pada clodi juga dapat mengurangi performa clodi. Ken sendiri tidak menggunakan deterjen untuk mencuci clodi, tapi menggunakan laundry ball “Ecowash” yang bebas deterjen, sehingga clodi benar-benar bebas bahan kimia dan lebih sehat untuk digunakan si kecil.


Merek Clodi yang Sudah Pernah Dicoba
Sebagai pemula, belum banyak variasi merek clodi yang saya coba. Tapi, saya mau sharing sedikit deh, siap tahu membantu yang lagi cari-cari tahu soal merek clodi. Simak di bawah ini ya.

1. Babyland 
Ini adalah merek clodi pertama yang saya belikan untuk Ken. Sudah pernah dipakai malam hari dan tidak rembes ataupun bocor. Kurang suka dengan bahan inner-nya yang agak berbulu. Saya pikir Ken akan tidak nyaman memakai clodi ini, ternyata nyaman-nyaman saja tuh. Bahan outernya beda-beda ada yang agak tebal dan kaku, ada juga yang halus. So far, clodi favorit Ken ada di merek ini yang bermotif jeans karena bahan outer-nya halus sekali.
Babyland
2. GG B-Dipe
Beli clodi ini karena banyak direkomendasikan dari review emak-emak di blog. Suka dengan bahan outer-nya yang halus dan insert-nya yang besar, tebal dan dilapisi oleh fleece jadi bisa digunakan untuk clodi tipe coveria. Sayangnya, kalau sudah agak lama dipakai GG ini jadi agak pesing. Tapi, overall suka dengan cutting dan bahannya.

3. Sobi Minky
Suka dengan bahan outer-nya yang seperti bludru dan cutting-nya yang pas untuk Ken. Sayangnya, waktu Ken pupnya lagi banyak suka bocor samping meskipun sudah ada inner gusset. Tapi, untuk pemakaian secara umum masih oke sih.
Sobi Minky

4. Pempem
Modelnya simple dan motifnya lucu. Suka dengan insert-nya yang berbahan litty karena mudah dicuci dan cepat kering. Kurang suka dengan outer-nya yang agak kaku.

5. Smart Kids
Hampir sama dengan pempem, namun bahan outer-nya lebih halus dan insert-nya bukan litty. Menurut saya kurang cocok digunakan untuk malam hari atau lebih dari 3 jam.

6. Bebibum
Ini satu-satunya clodi tipe coveria yang saya punya, sisanya tipe pocket. Jarang digunakan untuk Ken karena terlalu bulky. Meskipun tipe coveria, tetapi tidak bocor digunakan saat Ken pup.


Bagaimana, bunda? Apa tertarik juga untuk beralih ke clodi seperti saya? Awalnya saya sempat urung untuk menggunakan clodi, saya pikir menggunakan clodi itu mahal, ternyata untuk jangka panjang justru lebih hemat. Saya pikir mencuci clodi itu rempong, ternyata nggak juga lho—bahan inner clodi sangat mudah dibersihkan dari kotoran pup. Saya pikir menggunakan clodi itu rempong, ternyata sama saja dengan menggunakan pospak, bedanya pospak tinggal buang kalau clodi ya dicuci. Memutuskan beralih ke clodi itu memang pilihan dan tetap ada plus minusnya, tetapi menurut saya ini pilihan yang baik. Jadi, yuk bunda ubah mindset dulu kalau menggunakan clodi itu serba repot dan #makeclothmainstream ;)


*Silakan kunjungi website ini untuk referensi lebih lengkap soal clodi: 


Cheers!

- SW -

Monday, October 12, 2015

Hanging Out with Ken #1: Diaper Bag Raid, Hospital, and Mall

Mumpung Ken lagi bobo, saya mau share sedikit ah. Pertama kali mengajak Ken keluar rumah (untuk pergi jauh, maksudnya) adalah pada saat bayi kecil kami ini menginjak usia kurang lebih satu bulan. Kemana lagi kalau bukan ke rumah sakit untuk imunisasi. Awalnya kami galau mau vaksin dimana. Setelah dipikir-pikir dan tanya sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk ke RS Awal Bros di Bekasi karena niatnya setelah dari sana, kami mau main ke tempat Datuk dan Mbauti-nya Ken di Jatibening. 

Percaya nggak, saya dan suami deg-degan banget lho waktu mau pertama kali keluar bertiga sama Ken. Jelas karena belum ada pengalaman membawa bayi sekecil itu ke tempat yang agak jauh dari rumah. Biasanya kemana-mana naik motor, boncengan berdua sama suami sekarang mesti gendong bayi dan tentu nggak bisa naik motor. Mungkin ada ya orang tua yang santai aja bawa bayinya naik motor karena berbagai alasan, tapi kalau saya nggak tega. Jadi kami pun memutuskan ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. 

Perlengkapan "Perang"
Meskipun deg-degan, persiapannya sih nggak ribet-ribet. Beruntunglah Ken karena mendapatkan kado-kado yang sangat berguna untuk orangtuanya dirinya, salah satunya adalah diaper bag yang bentuknya ransel, Jadi bisa dibawa sama ayahnya yang emang ogah ribet nenteng-nenteng tas. Ibunya juga bisa nitip barang bawaan di tas itu supaya bisa fokus gendong Ken ke taksi. 

gambar: google

Berikut ini yang saya siapkan untuk "jalan-jalan" perdana Ken. Oiya, saya tulis juga merek perlengkapan yang saya pakai karena siapa tahu berguna buat ibu-ibu yang lagi cari referensi produk. Saya sendiri merasa terbantu dengan info tersebut--pengaruh kebanyakan blogwalking emak-emak. Nanti kapan-kapan review deh :

1. Changing mat/perlak yang sudah satu paket dengan diaper bag. Perlak ini sangat berguna sebagai alas ketika Ken mengganti popok agar tetap bersih. (Allerhand)

2. Baju ganti (1-2 set) untuk jaga-jaga kalau terkena gumoh atau pup yang rembes dari popok, atau kalau Ken berkeringat banyak. 

3. Popok sekali pakai biasanya saya bawa 4 buah untuk jaga-jaga, walaupun kenyataannya hanya dipakai dua buah saja. (Pampers New Born)

4. Tissue basah yang digunakan saat Ken ganti popok. (Mamy Poko Non Alcohol)

5. Diaper Rash Cream yang dioleskan di pantat dan lipatan paha Ken saat ganti popok, fungsinya untuk mencegah munculnya ruam. (Konicare Diaper Rash Cream/Cussons baby cream)

6. Hand Sanitizer yang selalu sedia di tas untuk membersihkan tangan sebelum memegang Ken. Semenjak ada Ken, hand sanitizer selalu tersedia di kamar saya dan sangat berguna terutama kalau ada teman yang menengok Ken dan mau menggendong Ken. (Dettol)

7. Cologne untuk dipercikkan ke baju Ken sedikit agar tetap segar. (Cussons baby soft touch)

8. Telon cream. Saya biasanya mengoleskan telon ke dada dan perut Ken saat mengganti popoknya agar ia tetap hangat. Untuk bepergian, saya prefer menggunakan telon yang berbentuk krim dibandingkan minyak karena lebih praktis dan tidak gampang tumpah, selain itu saya suka sekali dengan wangi telon cream yang digunakan Ken. (Bebe Roosie Telon Cream)

9. Selimut untuk membawa Ken ke Taksi dan sebagai alas stroller

10. Bedongan untuk jaga-jaga kalau Ken butuh kehangatan lebih biasanya sih hanya saya gulung melilit dari dadanya Ken sehingga ia tetap hangat--bukan digunakan untuk membedong.

11. Wet bag/kantung plastik untuk membuang popok basah

12. ASIP & Cup Feeder untuk jaga-jaga kalau tidak menemukan nursery room. Tapi, kalau perginya ke RS sih insya Allah ada ya. Ini untuk case misal ke mall atau tempat umum lainnya. Oiya, saat ini Ken belum kena botol sama sekali. Kami mengupayakan hal itu. Dulu saat masih berusia 1-7 hari. ketika Ken belum sempurna latch-on-nya sebenarnya Ken sangat pintar minum dengan menggunakan cup feeder. Sekarang, karena sudah jagu nyusu, jadi butuh energi ekstra karena kalau sudah tersedak dan semakin rewel, ASIP-nya malah disembur atau tidak mau ditelan. Tapi, karena saya stay at home, hal ini tidak terlalu membuat kami bermasalah. 

13. Stroller untuk membawa Ken yang tertidur, jadi tidak perlu menggendong-gendong. Kalau ia sedang rewel dan minta digendong, ya kami gendong. (Joie Sma Baggi)

14. Mainan rattle kalau ini sebenernya disesuaikan dengan usia anaknya sih. Mainan ini biasanya saya pakai kalau sedang mengajak Ken berbicara. Lumayan lah membantu saya mengarang bebas dan menarik perhatian Ken, sehingga akan sedikit rewelnya. 


Perjalanan dimulai...

Ketika Ken lapar
Alhamdulillaah... Ken selalu anteng kalau diajak jalan. Pertama kali keluar rumah, anak ini udah dibawa ibu dan ayah makan di Burger King. Sebelum ke RS, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu dan kebetulan restoran yang searah dan tidak terlalu ramai adalah Burger King di Raden Inten. Waktu ibu dan ayahnya makan burger, dia anteng aja bobo di stroller. Sepanjang perjalanan di taksi juga cuma tidur. Bangun-bangun pas kami udah selesai makan dan ayahnya sedang mencari taksi yang lama banget datengnya. Sepertinya Ken bangun karena haus sih... Jadi saya gendong aja biar anteng dan sabar-sabar menyusui di taksi aja. Melanjutkan perjalanan, di taksi Ken asyik minum dan waktu dia udah selesai, tiba-tiba udah sampe. arena udah kenyang, Ken anteng lagi ditidurin di stroller. Kami pun mesam-mesem liat Ken begitu kooperatif. Tahu saja ayah ibunya masih kaku bawa-bawa bayi. Waktu antre menunggu giliran DSA, Ken sempat nangis lagi karena lapar dan minta diganti popoknya. Untung lah disana ada nursery room, jadi saya dengan tenang duduk di sana sambil sesekali mengobrol dengan ibu lain yang juga sedang menyusui bayinya.

Di perjalanan with Ken kedua kalinya, kami sudah lebih ahli. Kali ini ke mall... Lagi-lagi anak ini cuma nemenin ayah ibunya late lunch dan kali itu cari buku. Sayangnya, nurser room di GI saat itu hanya buka s/d pukul 15:00, mepet bangeet. Ken begitu anteng sampai nama kami dipanggil dari waiting list, matanya terbuka lebar dan dia langsung menangis kelaparan. Kebetulan waktu itu saya belum membawa ASIP, jadi harus menyusui langsung. Kami pun memilih meja di pojok yang jarang dilalui orang dan dihinggapi tatapan orang-orang yang ada di sana agar saya nyaman menyusui Ken. Mungkin kebanyakan ibu-ibu sudah sedia nursing apron, tapi saya sendiri belum punya karena mengandalkan jilbab yang lumayan lebar sehingga bisa menutupi wajah Ken saat ia sedang minum. Sementara saya menyusui Ken, suami saya dengan manisnya menawarkan untuk menyuapi saya karena tahu saat itu saya udah super kelaperan karena telat makan siang. Dia pun terpaksa harus menunda makannya sampai makanan saya habis. Such a sweet one from him :) Selesai makan dan Ken kenyang, kami menuju Gramedia. Duh, cakep banget deh anak ini anteng sambil memandangi sekeliling. Mungkin dia bingung lagi ada dimana kok banyak banget orang dan banyak BANGET yang dorong-dorong stroller di mall. 

Ketika harus naik-turun lantai di mall
Nah.. nah.. mau coba naik eskalator sambil bawa stroller isi bayi aja kami deg-degan dan memilih untuk naik lift aja. Terus gimana kalo lift-nya penuh terus? Yaudah terpaksa deh naik eskalator. Urusan bawa-bawa stroller sudah ditanggung ayahnya, yang nunggu eskalator sepi baru berani bawa naik/turun stroller-nya. Kalau Ken lagi pengin digendong, saya kebagian gendong dan ayahnya bawa stroller. Tapi, pas di Kokas dari lantai berapa lupa menuju Food Society yang eskalatornya tinggi banget, saya super deg-degan waktu turun sambil gendong Ken. Alhasil, badan kaku banget karena takut tergelincir/jatuh. Kebetulan saya gendongnya pake tangan, nggak pakai carrier... Jadi nggak bisa hands-free dan pegangan di samping eskalatornya. Asli, abis itu ngga mau lewat situ lagi ah kalo bawa Ken. Mendingan sebisa mungkin naik lift deh kalau bawa bayi atau stroller. 

Waktu Sholat 
Kalau waktu sholat tiba, kami bergantian menjaga Ken, semua beres. Beda ceitanya ketika hendak maghrib di Kokas kemarin. Ayahnya sholat duluan dan mesjid di dalam mall itu antrenya luar biasa. Saya pun menjaga Ken di dekat mesjid. Ayahnya meminta saya untuk menentukan meeting point karena sambil menunggu ayahnya selesai sholat, saya mau ajak Ken ke Century untuk cari sesuatu. Saya pun menawarkan untuk bertemu di depan mesjid saja sekitar 10 menit lagi. Sesampainya di Century, Ken mulai menangis dan dia kalau nangis super kenceng. Jadi lah saya harus menggendongnya dan nggak konsen belanja. Saya tahu Ken akan kembali menangis kalau saya taruh di stroller. Tapi, mau bagaimana lagi, 10 menit sudah berlalu dan saya harus kembali ke depan mesjid agar ayahnya tidak bingung mencari saya. Saya pun buru-buru ke sana sambil Ken menangis di dalam stroller. Sebenarnya nggak harus se-drama itu sih kalau ponsel kita aktif--eh ini mau pergi ponsel pada abis batrenya. Sesampainya di sana, saya pun mengalihkan tugas menjaga Ken ke suami untuk sholat. Kasihan, Ken... dia harus "puasa" beberapa menit karena ibunya mesti ngantre sholat maghrib. Selesai sholat, ayahnya sudah ditemani dengan mbak-mbak pramuniaga Informa yang nggak tega mungkin liat bapak-bapak muda gendong bayi yang lagi nangis-nangis gitu. Eh, dengan baiknya mbak pramuniaga tadi mempersilakan saya untuk menyusui di dalam toko--nyempil di dekat display kasur-kasur. Catatannya lain kali mesti cari tempat PW dulu kali ya buat nunggu ayahna sholat biar bisa sambil nyusuin dan ponsel mesti full charged kalau dibawa pergi.

Meskipun rempong dan pulang-pulang tepar--padahal begitu doang. Tapi, seru juga sekaligus belajar bawa bayi ke tempat umum. Catatannya terpentingnya sih mesti hati-hati dan nggak boleh meleng dari bayi dan anak kita, soalnya mall rame banget dan yang bawa stroller juga banyak banget.


Cheers,

SW

Monday, October 5, 2015

Ketika Ken terkena Kolik

Saya selalu diwanti-wanti ibu kalau setiap maghrib, Ken wajib dipangku dalam kondisi apapun. Jadi, kalau dia lagi enak-enak bobo di bouncer atau di kasur, saya wajib mengangkat dan memangkunya. Katanya sih biar nggak diganggu mahluk halus. Tibalah hari dimana Ken mulai nampak tidak nyenyak saat tidur malam dan sering kentut-kentut, tapi pake nangis superkenceng. Malam berikutnya, Ken nyaris tidak tidur (nyenyak) sama sekali dan menangis. Saya bingung sendiri karena Ken tidak mau menyusu dan tangisannya semakin keras kalau saya sodori payudara saya. Nah, hubungannya sama maghrib, biasanya "serangan" menangis tiba-tiba dan terdengar seperti kesakitan itu dilakukan Ken setelah adzan maghrib berkumandang. Kebiasaan ini muncul hampir seminggu kalo ngga salah. Setiap masuk waktu maghrib saya selalu deg-degan karena Ken biasanya akan jadi rewel hingga dua jam lamanya. Ini beneran menguji kesabaran dan ketengan diri karena kalau nggak bisa panik sendiri. 

Nangisnya mirip-mirip kayak gini nih, tapi Ken kakinya ditekuk-tekuk gitu ke arah perut kayak orang ngga sabar mau lari... cuma bisa gendong dan elu-elus punggungnya aja :'(


Yang paling bikin saya sedih adalah ketika Ken haus dan menyusu, lima menit kemudian dia akan menangis seperti kesakitan. Hal ini bikin saya bingung, kenapa setiap disusui dia selalu menangis seperti itu--perasaan saya nggak makan makanan pedas. Memang katanya pencernaan bayi belum berkembang sempurna, maka ada zat-zat tertentu yang tidak bisa diterima oleh perut bayi, seperti zat yang ada dalam cabe (entah apa namanya). Selain itu, karena belum berkembangnya sistem pencernaan bayi itu pula yang membuat perut bayi mudah bergas. Makanya bayi suka kentut. 

Setelah mencari tahu via google saya curiga kalau Ken kolik.Saya pun menanyakan hal tersebut pada dr. Ayi. Benar saja, dr. Ayi juga mengatakan kalau itu bisa jadi kolik (nyeri perut) dan tidak berbahaya. Duh, saya ngga ngebayangin (dan emang nggak bisa bayangin, sih) nyerinya seperti apa sampai Ken nangis menjerit-jerit seperti itu. Ketika saya menanyakan apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi rasa sakitna (karena disusuin nggak ngaruh), dokter malah menyuruh saya memberikan air gula sebagai analgetik alami untuk mengurangi rasa nyeri. Karena Ken masih ASI eksklusif, maka saya tidak menelan bulat-bulat saran dari dokter dan mencari tahu lagi apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi rasa sakit Ken.

Ini beberapa hal yang saya lakukan saat Ken mulai rewel diambil dari sini:

  • Bedong bayi. Bungkus bayi Anda dalam selimut, pastikan lengan dan kakinya tidak bisa memukul dan membuatnya marah. Dia mungkin akan menangis lebih keras, tetapi bedong harus tetap melekat di tubuh bayi.
  • Memegang perut. Peluklah bayi seolah-olah Anda akan menyusui, tapi menghadap keluar. Jangan sampai bayi baru lahir tidur dengan posisi miring. Posisi miring atau tengkurap tidak baik untuk tidur.
  • Membuat suara 'shhhh'. Anda mungkin tidak tahu bahwa di dalam rahim sangat berisik. Aktivitas suara dalam rahim sering disebut white noise. Katakanlah dengan panjang dan keras sh-hhhhhh di telinga si kecil, sekeras dia menangis, untuk meniru suara mendesing cairan di dalam rahim.
  • Bergoyang. Duduk di lantai dan rentangkan kaki Anda. Letakkan bayi dalam posisi tengkurap. Goyang lutut Anda dengan sangat pelan dan lembut dan kepala bayi harus bergerak sedikit. Ingat jangan percepat gerakan Anda karena sangat berbahaya jika mengguncang bayi terlalu kencang.
Selain itu, setiap mengganti popoknya saya sebisa mungkin membaluri perut, pinggang, dan punggung Ken dengan minyak telon. Untuk membantu mengeluarkan gas di perutnya, saya rutin memijat Ken setiap pagi dan malam hari dengan gerakan sederhana seperti di video ini: 


So far berpengaruh sih sama Ken. Sekarang alhamdulillah udah nggak pernah rewel kayak waktu itu lagi. Oiya, setiap abis menyusu, sebisa mungkin jangan lupa disendawakan supaya gas tidak menumpuk di perut. 

Sekian sharing-nya... semoga bermanfaat :)


- SW -