Showing posts with label Wife. Show all posts
Showing posts with label Wife. Show all posts

Thursday, December 22, 2016

AthaXWening: Episode 6 (Kisah Bunga dan Kue)


22 Desember merupakan tanggal yang diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Begitu kata Wikipedia. Walau saat ini kami sekeluarga sedang berada di negeri ikan & kentang goreng (baca: fish & chips), tidak ada salahnya kami turut merayakannya sebagai warga Indonesia . Oleh karena itu, saya berpikir untuk memberikan sedikit kebahagiaan (lebih) kepada istri saya tercinta pada hari yang katanya spesial ini. Tentu saja karena dia adalah ibu dari anak saya dan juga bidadari berhati mulia yang saya sangat banggakan (eh, bidadari tapi kok melahirkan? Wkwk). Oh iya, tapi bukan artinya di hari lain saya tidak membahagiakan istri saya ya, coba tanya saja sendiri ke dia untuk tahu lebih lanjut. :p

Salah satu hal yang saya lakukan untuk membahagiakannya adalah dengan menulis post yang sedang anda baca ini (hal lainnya akan saya bahas di tulisan ini). Ya, dengan menulis. Ini adalah salah satu hutang saya kepada istri yang belum lunas sejak lama. Awalnya, saya meng-iya-kan untuk menulis bergantian di blog dia secara konsisten. Namun berhubung kesibukan yang selalu mengisi hari-hari dan jadwal shooting yang padat, saya kesulitan meneruskannya walau baru menghasilkan beberapa tulisan saja. Jadi, inilah comeback dari rubrik AthaxWening. Semoga kali ini benar-benar konsisten. Aamiin.

So, please enjoy it!

­---

Saya bukan termasuk orang romantis. Begitu menurut istri saya. Ya maklum saja, saya jarang memberikan input berbau-bau percintaan pada otak saya. Mungkin kalau anda coba membedah isi kepala saya, kurang lebih isinya didominasi oleh Naruto, One Piece, dan sebangsanya. Huft. Argumennya cukup bisa diterima oleh akal sehat. Saya tidak pernah memberikan dia bunga katanya! Mulai dari masa penjajakan, honey moon, ngontrak bareng di Depok, Ken lahir, hingga kami mendarat di Bristol, sama sekali belum pernah ada setangkai-dua tangkai bunga yang menghampirinya datang dari tangan saya, suaminya. Padahal, bunga merupakan salah satu simbol yang umum digunakan dalam mengungkapkan perasaan cinta. Dengan menghadiahkannya kepada orang terkasih, kita akan terlihat romantis.

Alasan saya sebenarnya  cukup sederhana, walau mungkin banyak wanita yang tidak bisa menerimanya. Ditinjau dari paham utilitarianisme, saya meyakini bahwa bunga tidak terlalu memiliki nilai fungsi dan guna. Coba bayangkan, ketika anda menerima bunga dari seseorang, apa yang anda lakukan setelahnya? Mencoba mengaguminya mungkin, sambil tersipu-sipu malu boleh jadi. Lalu? Paling hanya diletakkan di atas meja belajar atau diberikan vas sementara, tanpa benar-benar dirawat. Dua, tiga, empat hari kemudian bunga layu lalu dibuang ke tong sampah. Sedih.

Memang pola pikir saya ini terkesan seperti tokoh antagonis dalam sebuah sinetron. Kadang saya juga bingung mengapa saya bisa membentuk pola pikir tersebut. Nah, karena alasan itulah saya belum pernah memberikan bunga ke istri saya. Saya lebih memilih untuk memberinya hal-hal yang berguna, seperti; makanan, buku, makanan, pakaian, kosmetik, dan makanan. Semoga saya diampuni walau telah memiliki pikiran jahat ini.

---

Semuanya berubah semenjak negara api menyerang jelang ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Entah terbesit jin bule yang mana, saya terpikir untuk memberikan istri saya bunga pada hari itu. Alasannya sesederhana ingin melihat senyum merekah di wajah istri saya. Seketika runtuh semua paham utilitarianisme yang saya bangun selama 26 tahun. Terbayang mukanya yang selalu menyindir saya, “kamu kok ngga pernah ngasih bunga ke aku?” atau “kapan ya kamu kasih bunga buat aku?”. Pasti ini akan menjadi surprise yang ia sangat sukai. Tentu karena sangat tidak disangka-sangka. Btw, daritadi saya mention “utilitarianisme” sebenarnya biar kelihatan intelek saja. Saya juga ngga paham apa itu sebenarnya.

19 Oktober 2016. Setelah selesai kelas di kampus, saya langsung meluncur menuju toko bunga yang saya temukan melalui gmaps. Saya memilih dua tangkai lily putih. Dua karena hari itu ulang tahun pernikahan kedua kami. Lily putih karena ia melambangkan kesucian, sesuci dan setulus cinta saya kepadanya. Eciye. Itu alasan yang saya buat ke dia agar terlihat tampan, padahal sebenarnya hanya bunga itu yang stoknya masih tersedia pada siang hari itu dan karena hanya bunga itu yang masuk budget di dompet saya. :p

Berlarilah berjalanlah saya menuju flat yang kami tempati selama di Bristol. Walau saya membawa kunci cadangan, saya memilih untuk mengetuk pintu. Pintu pun dibuka dari dalam oleh istri saya. Dan TARAAA!! Saya berdiri dengan tampan sambil memegang buket bunga Lily yang baru saja saya beli.

“Happy anniversary, sayang!”

Sesuai dugaan saya, dia tidak menyangkanya sama sekali. Dan dia pun tersenyum.

---

22 Desember 2016. Beda hari itu, beda hari ini. Kali ini, saya rencana memberikan surprise dengan sebuah kue. Rencana matang pun sudah dibuat. Saya bersekongkol dengan Ken dalam implementasinya. Ken diajak pergi oleh ibunya untuk main di perpustakaan kota. Tentu saja saya diajak, tapi saya menolak ajakan istri saya dengan alasan ingin mengerjakan esay tugas kuliah saya. Dia pun menerimanya walau dengan sedikit cemberut.

Saya juga yakin kali ini dia tidak menyangka sama sekali. Yah, mana pernah sih saya merayakan hari Ibu atau hari-hari peringatan lainnya kecuali ulang tahun dan anniversary.

Begitu Ken sudah berhasil membuat ibunya pergi bersamanya, saya langsung bergegas menuju salah satu bakery yang menjual kue-kue halal. Lagi-lagi special thanks to google maps! Setelah berhasil membelinya, saya langsung memajang kue tersebut di atas meja makan. Dilengkapi dengan kartu ucapan yang saya buat sendiri karena tidak modal beli kartu ucapan yang sebenarnya agar terlihat menarik. Begini penampakannya.


TARAAA!! Istri saya langsung tertawa bahagia begitu membuka pintu dan melihat apa yang saya siapkan di atas meja. Lalu dia menyerang saya dengan rentetan pertanyaan seperti;

“Kapan belinya?”

“Pasti karena aku tadi cemberut ya?”

“Beli dimana kuenya?”

“Ini halal kan?”

Semua pertanyaan itu saya jawab dengan simpul senyuman. BEH!

Saat itu, saya merasakan level ketampanan saya meningkat 85%! Senangnya melihat istri tertawa lepas bahagia seperti itu. Seperti ada kumpulan energi positif yang membuncah dari dalam diri dan tidak bisa dihentikan. Lebay. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak lama setelah itu, istri saya berkata:

“Kamu kalau mau ngasih ke aku kue aja deh, ngga usah bunga. Lebih enak bisa dimakan.”


WHAT? ASDFJG!

Padahal, dulu dia seringkali menyindir saya karena tidak pernah memberikannya bunga. Kurang lebih sekitar 4 kali dalam sebulan. Tidak romantis katanya. Setiap laki-laki pernah memberikan bunga ke kekasihnya katanya. Aku ingin juga dikasih bunga sama suamiku katanya. Tapi sekarang? Dia memilih kue daripada bunga.Ternyata benar pemikiran saya, bunga kurang memiliki nilai guna dan fungsi. Dia kalah oleh sepotong kue coklat dengan krim dan strawberry.

Satu kesimpulan saya. Saya tidak pernah bisa benar-benar memahami perempuan.

---

Meski saya sudah menghabiskan 9 tahun wajib belajar saya di bangku sekolah, ditambah pendidikan tinggi di kampus yang cukup ternama di Indonesia,

Meski saya sudah menikah selama dua tahun dan menghabiskan hari-hari saya bersama istri saya,

Tetap saja, saya belum bisa memahami isi hati dan pikiran perempuan.

Awalnya, dia selalu menyindir saya yang tidak pernah memberikannya bunga. Saya pun memberikannya satu kali. Lalu ketika saya menghadiahinya kue, dia menilai kue jauh lebih berharga dari bunga dan bilang tidak apa saya tidak memberikannya bunga. Kue saja katanya. Begitu cepat hati dan pikiran bisa terbolak-balik.

---

Belajar itu seumur hidup. Ini pesan bijak yang seringkali disampaikan oleh orang-orang. Saya percaya itu. Karena sejatinya belajar merupakan proses yang tidak pernah selesai, dia tidak hanya terpaut oleh institusi pendidikan formal saja. Belajar bisa darimana saja dan kapan saja. Namun saya hanya ingin menambahkan:

“Belajar memahami hati dan pikiran perempuan pun juga seumur hidup.”



Bagi para suami di luar sana, selamat belajar! :)

Salam,
MAR

Monday, February 1, 2016

Atha X Wening: Episode 5 (Tentang Suatu Misi)


Setelah menikah, ada satu pertanyaan yang menjadi misteri buat saya dan suami. Sampai-sampai kami sempat googling mencari tahu apakah ada penjelasan ilmiah yang menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan ini sih sebenarnya sudah ada di benak saya, jauh sebelum menikah. Begitu juga dengan suami. Tapi, pikir saya, yah mikirnya nanti saja lah kalau sudah menikah beneran. Baru cari tahu, hahaha.  Pertanyaan ini muncul karena dari hasil pengamatan kami (tsailah… pengamatan banget), fenomena ini kerap terjadi di kalangan laki-laki beristri, dan bahkan sudah menjadi hal yang lumrah untuk sebagian besar orang.Bahkan, bahkan nih ya… banyak orang nyeletuk menjadikan hal ini sebagai salah satu indikator kebahagiaan seseorang. Hal ini juga yang sempat membuat suami saya sempat was-was di awal waktu kami menikah. Eh, tapi waktu awal-awal nikah nggak terlalu dipikirkan sih, maklum pengantin baru. Baru deh beberapa bulan setelahnya hal ini jadi salah satu hal yang memenuhi kepala suami saya. Kalau saya, seiring waktu paham sendiri dan merasa pertanyaan yang selama ini ada di kepala saya terjawab sudah.

Ada yang bisa nebak, apa pertanyaan yang ada di kepala saya dan suami  saya saat itu?
.
.
.
Iyak, dan pertanyaan itu adalah…

“Kenapa setelah menikah laki-laki banyak yang menggendut atau membuncit?”

Iyaaa… ini nih yang sempat meresahkan hati suami saya. Serius, saya sampai googling buat cari tahu dan forward ke dia hasil pencariannya. Sempat menemukan satu artikel yang jawabannya ternyata sesuai dengan tebakan sotoy saya. Perlu dibahas nggak isi artikelnya apa? Nggak usah ya, silakan cari sendiri jawabannya biar seru. Buat yang sudah menikah pasti bisa menebak alasannya, hehe. Jadilah selain bercita-cita mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warrahmah (aamiin…), menjaga badan tetap atletis tak berlemak sampai tua, masuk dalam misi pernikahan yang dibawa suami saya.  Jangan lupa pilih nomor 1 ya! :D #maaplokal

Semanjak saat itu, kebiasaan suami saya bertambah, yaitu hampir SELALU nimbang badan setiap kali melihat timbangan ngejogrok manis di sudut ruangan. Nggak di rumah saya, di rumahnya, di kantor, di rumah sakit… kalau lihat timbangan pasti dunianya teralihkan sesaat hanya untuk mengecek sambil ngarep berat badannya bisa turun 1-2 kilo atau minimal nggak naik. Padahal suami saya nggak gendut lho, cuma emang lebih berlemak sedikit dari jaman kuliah. Eh…mmm.. sedikit apa banyak ya.

Wajar sih, suami saya, sebelum menikah hobi banget naik sepeda berbelas atau berpuluh kilo. Setelah menikah juga sesekali bike to work Depok-Ciputat. Tapi, makin kesini waktu olahraga semakin tergerus dengan kelelahan lainnya, apalagi semenjak saya melahirkan dan pindah ke rumah orang tua saya. Kalau ada waktu senggang ya penginnya istirahat, tidur. Pasti badan terasa bergelambir setelah menikah.

Program menjaga berat badan pun tercetus. Mulai dari lari pagi setiap hari sampai mengikuti tips mengencangkan perut ala jepang. Percakapan-percakapan seperti ini pun kerap terjadi.

#1 Di suatu sore di hari libur…
Suami :  Sayang, pokoknya kamu harus mendukung aku ya. Malam ini, sebelum tidur aku mau push-up 50x, sit up 100x, dsb, dsb.
Saya: Ok. Jangan ketiduran ya.
Malam harinya…
Sang suami pun ketiduran, tanpa “olahraga” dan saya nggak tega ngebangunin. ‘

#2 Di suatu malam, setelah sang suami memperhatikan perutnya…
Suami: Sayang, aku pokoknya harus lari pagi setiap hari
Saya: Hmm.. ok.
Suami: Kamu harus mendukung aku ya lari pagi 5 kali seminggu.
Saya: Lah, katanya setiap hari??
Suami: Mmm… dua hari sekali deh. Eh, seminggu dua kali cukup lah.
Saya: *nahan ketawa* Iya… seminggu sekali juga nggak apa kok.

#3 Di malam lainnya…
Suami: Sayang, aku punya cara gampang buat ngecilin perut?
Saya: Gimana? Gimana? (semenjak menyusui saya jadi ikutan penasaran)
Suami: Nih… begini doang sayang 15 menit aja udah lumayan (seraya berbarign, mengganjalkan handuk di bawah pinggangnya dan menarik tangannya ke atas kepala. Lalu bertahan di posisi tersebut)
Saya: -__-‘ hoax ya?
Suami: Beneran… Coba ya abis aku.
Saya: (saya pun ikut mencoba, 15 menit)
Suami : Gimana? Udah berasa belum?
Saya: Nggak berasa apa-apa.
Suami: #fail

Begini posisi yang katanya bisa mengecilkan perut

 #4 Tapi, diantara semua percakapan itu yang paling sering sih yang ini
Suami: (Habis nimbang) Sayang, masa aku naik 2 kilo.
Saya: Salah kali timbangannya. Masa makan segitu doang langsung naik 2 kilo.
Suami: Serius, sayang… aku gendutan ya?
Saya: Nggaaak.
Suami: Beneran nih aku nanya.
Saya: Nggak gendut, sayaaang.
Suami: Tapi, gendutan ya?
Saya: Iya gendutan dari jaman kuliah.
Suami: (cemberut)
Saya: Udah lah sayang. Bapak-bapak gendut itu banyak kok (Nggak bikin lega, hahah).
Suami: Ah, aku nggak mau jadi bapak-bapak gendut pokoknya.
Saya: Yah, walaupun kamu gendut aku tetap sayang kooook (Cailaaaah… *dilempar pembaca*)

#5 Dan hal ini juga terjadi sama saya, setelah lahiran, setelah menyusui Ken berbulan-bulan…
Saya: (tak bisa berkata-kata, habis coba celana nggak ada yang muat)
Suami: Nggak ada yang muat ya?
Saya: (Memble…) Aku gendut, huhu…
Suami: Nggak kook.
Saya: Bohong yaaa…
Suami: Yaah, gendut sedikit nggak apa lah. Lagian, kamu mau gendut atau kurus yang penting sehat.
Saya: Nanti kamu nggak suka lagi kalo aku gembrot (drama…)
Suami: Kamu mau gimana juga aku tetap sayang.

Kalau ditanya saya senang atau nggak, senaaang banget. Walaupun terkesan gombal, tapi perkataan suami saya tadi sukses bikin saya nggak ambil pusing dengan perubahan fisik saya pasca melahirkan.
 
Ternyata, menikah itu bukan cuma menerima kelebihan dan kekurangan suami/istri juga. Tetapi juga menerima perubahan yang akan terjadi pada pasangan kita kelak. Saya pernah mendengar bahwa tak ada hal yang menetap, semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Pasangan yang kita kenal pada saat menikah, belum tentu sama dengan ketika ia sudah menua. Persoalan istri menggendut setelah melahirkan dan suami membuncit karena jarang olahraga hanya lah segelintir dari perubahan itu. Bukan cuma soal fisik, tapi juga soal pemikiran, kebiasaan, bahkan mungkin juga sifat. Saya sendiri sudah merasa menjadi orang yang berbeda dari sebelum menikah, bahkan di usia pernikahan yang baru menginjak bulan ke-15. Masih panjang perjalanan dan nggak tahu perubahan apa ya yang nanti akan kami temui lagi.

Jadi, misinya gagal? Bukan gagal, tapi belum berhasil selama suami saya MASIH menanyakan saya sambil berkaca melihat perutnya, “Sayang, aku gendutan ya?”


Salam,

SW

Cek episode AthaXWening lainnya di sini

Wednesday, January 20, 2016

AthaXWening: Episode 4 (5 Detik yang Menentukan)


Menikah berarti menemukan kebiasaan pasangan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Bahkan, bisa jadi tidak pernah sedikit pun terbayangkan di dalam pikiran kita bahwa pasangan kita memiliki kebiasaan tersebut. Lebay. Tapi memang begitu adanya. Inilah yang menjadi salah satu bumbu dari pernikahan yang membuat jalannya pernikahan semakin berwarna. Kadang bikin sebel, kadang bikin marah, namun tidak jarang malah bikin kita tertawa dan ingin memukul-mukul manja pasangan kita. Jangan ngiri ya. :p

Pada kesempatan ini, izinkanlah saya untuk menyampaikan secara singkat dan jelas salah satunya. Thanks for reading, btw!

---

Saat itu, saya dan istri sedang menunggu antrian di bidan untuk kontrol kandungan kami istri saya. Alhamdulillaah, kami menemukan bidan profesional yang sangat berpengalaman di dekat kontrakan kami di Depok. Padahal waktu itu kami iseng saja mencoba kontrol di bidan itu, alasannya ya karena dekat. Dan ternyata kesan pertama begitu menggoda! Fasilitasnya bagus, terdapat beberapa kamar pasca bersalin yang bersih dan nyaman, sudah memiliki USG, harganya relatif murah, dan ada ruang tunggu dengan LCD TV dan pendingin ruangan.

Selain itu, ibu bidan di sana sangat informatif sekali. Begitu mengetahui ini kehamilan pertama istri saya, beliau memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai gambaran bagaimana menjaga kehamilan kepada kami. Apa yang boleh, apa yang tidak boleh, dan apa yang mesti diperhatikan. Saya rasa tidak banyak dokter yang melakukan ini kalau tidak kita tanya secara detil. Dan yang terpenting, ibu bidan tersebut sangat pro-ASI! Beliau juga mengetahui kapasitasnya sebagai bidan. Jadi apabila sudah di luar pengetahuan dan kemampuannya, beliau akan merekomendasikan untuk dirujuk ke dokter kandungan yang juga praktek di sana. Usut punya usut, ternyata ibu bidan tersebut sudah sangat senior. Beliau memulai praktek dari tahun 1984. Wow! Bahkan lahir pun belum saya. Buat yang penasaran, ini alamatnya di Depok. Namanya Bidan Jeanne. 

Btw, saya sebenarnya bukan mau bercerita soal ini. Tapi entah kenapa dorongan hati saya berkata untuk menceritakan dengan jelas bidan tersebut. Barangkali ada yang lagi cari-cari tahu info soal itu. Hehe. Okay, back to topic.

Saat itu, saya dan istri sedang menunggu antrian di bidan untuk kontrol kandungan istri saya. Saya lupa harinya, tapi entah kenapa pada siang hari itu sangat banyak yang ingin kontrol kandungan di sana. Melihat antrian yang begitu panjang, kami memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu sambil menonton tv.

Saya (S): Lama juga ya sayang. Laper ngga? Mau aku beliin cemilan dulu?

Istriku Lucu (IL): Iya boleh deh, aku juga laper. Di warung depan situ aja deket.

S: Okee, kamu mau apa? (sambil julurin tangan minta duit)

IL: Aku mau sari kacang ijo sama biskuit-biskuit gitu. (sambil ngasih duit dari dompet)

Setelah mendapatkan uang dari istri saya, saya bergegas menuju warung terdekat. Saya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan membiarkan istri saya kelaparan. Saya tahu mengandung itu membutuhkan energi yang besar, so butuh banyak makan pastinya. Sesampainya di warung, saya membelikan sari kacang hijau pesanan istri saya beserta beberapa biskuit dan coklat. Saya sendiri membeli susu strawberry. Begitu mendapatkan semuanya, saya segera kembali ke bidan. Tentunya dengan tidak lupa membayar semua item yang saya beli.

S: Ini sayang. Aku beliin biskuit sama coklat aja ya jadinya (sambil ngasih plastik berisi cemilan)

IL: Makasih ya sayaang. :* (langsung mengambil biskuit dan sari kacang hijau)

S: (mengambil kotak susu dari plastik dan menusukkan sedotan)

Kebetulan saya juga sudah haus saat itu. Sambil meminum susu, saya mengecek hp. Barangkali ada notifikasi yang masuk. Atau mungkin ada yang transfer uang ke rekening saya. Ngarep. Melihat tidak ada yang menarik dan tidak ada notifikasi baru di hp, saya langsung memasukkan hp saya ke kantong. Rasa-rasanya hanya 5 detik saya melihat layar hp saya. Setelah itu..

S: Sayang, bagi sari kacang ijonya dong. Nyobain.

IL: (membalas dengan tatapan ini)


IL: Yaaaaaaah, udah abis sayang. Ngga bilang daritadi sih kalau mau!

S: Lah! Perasaan aku cuman liat hp sebentar doang tadi!

IL: Maaf ya sayaaang.

S: Huft. (ceritanya ngambek)

Nggak habis pikir saya! Ketika saya meleng sedikit untuk melihat hp, istri saya sudah menghabiskan minuman sari kacang hijaunya! Cukup waktu 5 detik saja bagi dia. 5 DETIK! Setelah itu saya tertawa habis-habisan, saya baru tau kalau istri saya bisa seperti itu. Karena selama ini, dia termasuk perempuan yang makannya tidak banyak. Apalagi rakus. Entah itu karena memang haus atau apa. Oh, iya ini penampakan minumannya.

Mungkin bisa saja menghabiskan ini dalam 5 detik.
Tapi apakah wajar? :p

Saat itu, saya berpikir bahwa mungkin hal tersebut adalah kebetulan. Namun seiring berjalannya waktu, saya menemukan bahwa dia cukup sering melakukan kebiasaan itu. Es kelapa jeruk, teh dalam kemasan, susu coklat, dan entah berapa minuman lain yang saya tidak sempat menyicipi karena lupa bilang di awal kalau saya ingin sedikit nyobain. T.T

---

Saling menyicipi makanan dan minuman merupakan hal yang wajar dilakukan bagi para pasangan saat makan bersama. Bahkan, suasana seakan jadi makin romantis. Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa apabila anda sedang makan atau minum bersama pasangan anda, nyatakanlah DI AWAL apabila anda ingin menyicipi makanan atau minuman yang sedang dia nikmati.  Karena kita tidak pernah tahu, apakah 5 detik ke depan makanan atau minuman itu masih tersisa di hadapan kita. Sebelum semuanya terlambat, ingatlah pelajaran dari kisah ini. Lima detik yang menentukan.

Salam,

MAR


Cek episode AthaXWening lainnya di sini

Tuesday, January 5, 2016

AthaXWening: Episode 3 (Lagu untuk Ken)


Jujur ya. Setelah memiliki anak, meskipun sudah tidak bekerja lagi, saya selalu merindukan wiken datang. Ibu-ibu gitu juga nggak? Kenapa? Soalnya suami saya libur jadi Ken nggak melulu main sama ibunya, tapi juga ayahnya. Kan katanya peran ayah juga sama pentingnya untuk anak. Nah, di wiken itu lah biasanya Ken punya banyak waktu untuk 'bonding' sama ayahnya. Sehari-hari mana bisa. Ken bangun sebentar, ayahnya siap berangkat ke kantor. Pas ayahnya pulang, Ken udah molor. Selain itu, di wiken ini saya jadi bisa sedikit santai karena bisa nitipin Ken ke ayahnya buat diajak main, heheh.

Dan fakta baru pun muncul. Lah, ayahnya Ken kreatif bener ternyata orangnya. Yah, walaupun kreatifnya ayahnya Ken sama aneh beda tipis yaak. Tapi, memang bener kalau punya bayik, mau nggak mau kita secara ajaib jadi mahluk kreatif. Sederhana aja, kalau lagi ajak anak main nggak mungkin dong kita cuma diem aja. Minimal ngemeng2 atau nyanyi2 dikit yang entah isinya ada maksudnya apa nggak. Pokoknya gimana caranya supaya bayi kita terhibur, semua jurus pun dikeluarkan. Nah, ayahnya Ken ini ternyata jago mengarang dongeng dan lagu untuk Ken. Nggak jarang saya cekikikan sendiri dengernya. Gimana nggak cekikikan, kalo ceritanya begini...
*..

Suatu pagi di hari libur Ayah menyapa Ken yang sedang bersantai (kayak di pantai) di atas bouncer.

A: Halo, Mamas Ken... Mau ayah dongengin nggak? *langsunh mengambil dua boneka, satu beruang dan satu ayam* 
A: *mulai berceriya, saya mendengarkan sambil nyetrika kalo ngga salah*.... 
K: *memperhatikan ayahnya dengan seksama* 
A: ...lalu datang lah burung twitter... 
S: Itu ayam ih, sayang. Tuh ada jenggernya. 
A: Lebih mirip burung ini, sayang. Burung Twitter. 
S: Heuu.. suka-suka daaah. 
A: Mamas, aku ternyata ayam. Tapi, aku bisa berubah menjadi burung twitter dan bisa terbang. 
S: *ngakak*
***

Suatu pagi lainnya di hari kerja.

S: Sayang, aku bikin sarapan dulu. Tolong jagain mamas ya.
A: Bangun dia?
S: Iya bangun. Ajak main ya.
A: Rubi mana?
S: Tuh.. *menunjuk Rubi yang tidak lain adalah boneka rubah milik Ken lalu turun kebawah, lalu naik lagi setelah beberapa saat*
A: *sedang menyanyi sambil memainkan Rubi* "Aku Rubi si rubah, rubah petualangan. Aku Rubi si rubah, rubah petualangan. Aku turun dari langit, untuk bertemu mamas"
S: Haaa? Lagu apaan tuh?
A: Nggak tau ngasal, hahaha... terinpirasi dari ini nih. Tuh lihat, sayang... Kalo dari (angle) ini Rubinya bercahaya kayak adegan malaikat turun dari langit.
S: -__-'
***

Setiap pagi biasanya ayah akan menyapa Ken dengan lagu ini.

A: Selamat pagi bu... Selamat pagi pak... Selamat pagi semuaaa (diulang 2 x). Duniaaaa Fantasiii Kitaaaa... Jegejegejes!
S: Kok jadi dunia fantasi, sayang?
A: Ngasal aja hahah... Abis lupa terusannya.
S: -__-'

Hahah, itu hanya beberapa yang saya ingat. Meskipun gajebo alias ga jelas bo! tapi saya selalu berhasil dibuat ngakak. Dalam hati, seandainya Ken udah mengerti apa yang dikatakan ayahnya, doi bakal bereaksi apa ya.

Oiya, postingannya telat. Kan rencananya mau post tiap sabtu ya (padahal ngepost beginian doang, nggak sempet hahaha). Karena ternyata Ken batpil dan saya meriang, jadi mesti ke-pending sejauh ini.Ok deh, sekian dulu episode tigaaa... Sampai ketemu di episode selanjutnyaa. Insya Allah :)

Salam,

Wednesday, December 30, 2015

Hanging Out with Ken #4: Naik Kereta ke Cimahi



Beberapa waktu yang lalu saya di-WA suami katanya ia mendapat undangan acara lamaran salah satu teman dekatnya di kampus. Acaranya di Cimahi, jauh yak... terus suami mengajak saya turut serta kesana, bila saya mau. Tentu saja saya langsung semangat dan menerima ajakannya. Tapi, saya sempat galau lantaran Pak Suami menolak ajakan saya untuk menginap barang semalam di Cimahi, maksudnya biar bisa sekalian jalan-jalan dan supaya Ken nggak capek pulang-pergi naik kereta hampir 3 jam one-way. Lagipula, setelah mencari hotel via online, ternyata alat pencarinya justru mengarahkan tempat penginapan di Bandung kota yang masih lumayan jaraknya dari Cimahi. Pengalaman bermalam di Bandung beberapa waktu yang lalu kurang berkesan karena satu dan lain hal, jadi suami pun mengurungkan niat untuk mengajak saya dan Ken menginap. Lagipula, saat itu tanggal tua belum gajian, jadi ya sudah deh kita irit-irit dulu, heheh.

Suami pun meyakinkan sekali lagi ke saya apakah saya dan Ken akan baik-baik saja pulang-pergi kondangan ke Cimahi. Saya jawab, Insya Allah bisa untuk pengalaman pertama naik kereta eksekutif. Heheh, selain Ken, ini pengalaman pertama saya juga lho naik kereta eksekutif. Terakhir naik kereta jarak jauh pas Honeymoon ke Jogja cobain naik ekonomi saat berangkat (yang berujung punggung pegel-pegel karena tempat duduknya tegak banget dan kurang asyik buat pasangan muda karena harus share space sama penumpang lain, hahaha) dan bisnis pulangnya. Beruntung, ternyata sedang ada promo dan kami hanya kena 85rb saja tiap kepala dari Jakarta-Cimahi dan sebaliknya. Ken gratis karena masih bayik. Tapi,.... berangkatnya mesti pagi-pagi buta sebab kami mendapat jadwal kereta dari gambir berangkat pukul 5 pagi. Emang paling pas karena acara lamarannya dimulai pukul 9 pagi.

Persiapan perlengkapan Ken pun sama seperti biasa. cek: diaper bag raid. Kali ini, saya memilih untuk membawa pospak instead of clodi untuk alasan kemudahan karena kami nggak mungkin cuci-cuci di tempat kondangan juga, daripada bawa-bawa popok bau kemana-mana dan ada kemungkinan mengganggu orang lain, jadi yowis kami memilih membawa pospak (But, if you clodi moms, do have any tips to keep utilizing clodi for this kind of case, please kindly share... ;)) Jangan lupa juga bawa beberapa baju untuk ganti karena Ken akan seharian mobile. Yang terpenting, namun terlupakan oleh saya (karena ketinggalan) adalah make sure there's a blanket in your bag to warm your baby, because the evening train temperature usually getting lower and it might cause Ken a bit fussy on our way back home.

So, we woke up very early and took a flash bath, checking and making up some things. Dealing wih Ken's crying due to the cloth changing. Drove the car to catch up the prayer time at the station mosque and printed out the ticket we have bought the days before. Buat yang belum tahu, sekarang di stasiun sudah ada fasilitas CTM alias Cetak Tiket Mandiri bagi yang sudah beli tiket via online atau via chanel lainnya, yang memungkinkan kita untuk tidal perlu antre di loket sekaligus menghindari calo.
Selama perjalanan ke Cimahi Ken bisa dibilang anteng dan lebih banyak tidur. Kami sampai di Stasiun Cimahi sekitar pukul 8:40, kalau tidak salah. Ternyata di stasiun ini sudah ada ruang menyusui walau ala kadarnya, intermezzo. Sesampainya di sana, saya touch up dikit lah karena muka keliatan kayak bangun tidur dan ganti jilbab. Selesai beres-beres, kami pun berjalan keluar stasiun. Ken digendong ayahnya dengan carrier andalan kami. Untuk menuju ke acara lamaran, kami berencana naik taksi. Tapi, ternyata susah juga cari taksi di Cimahi, alhasil kami pun memilih untuk naik ojek untuk menuju kesana dam ternyata lumayan jauh. Kebetulan abang ojek yang saya tumpangi berada di belakang atau tertinggal dari ojek yang ditumpangi suami dan Ken. Jadi deh tuh abang ojek mengendarai motornya kayak dikejar setan, takut nyasar mungkin. Untung Ken lagi dibawa ayahnya dan anteng tidur selama di ojek.

Selesai acara lamaran, kami tidak langsung pulang menuju stasiun. Melainkan mampir dulu ke kedai es krim untul ngadem bareng Kak Catur dan Dita. Tapi, semua usaha itu gagal karena begitu masuk kedai udaranya lebih panas daripada di luar #fail. Ken pun jadi rewel, kirain mau minum nggak taunya kegerahan. Karena nggak ada spot yang memungkinkan saya untuk menyusui Ken di dalam kedai, saya pun izin numpang menyusui di mobil yang dibawa Kak Catur dan Dita. Sampe di dalam, Ken menyusu sebentar lalu cengar-cengir. Ternyata dia cuma mau ngadem.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke stasiun yang hanya berjarak kurang lebih 15-20 menit. Sesampainya di sana, Ken pup dan kami terpaksa menggantinya di ruang menyusui yang kurang memadai untuk mengganti popok. Problematika ibu dan bayinya ketika naik kereta jarak jauh ternyata ada di sini. Terutama buat Ken yang kalau pup mesti harus langsung diganti karena rawan terkena ruam. Jadi, mesti pintar-pintar cari tempat dan cara yang pas buat ganti popok. Entah mau ngerjain ibunya atau bagaimana, saat perjalanan pergi ke Cimahi dan pulang ke Jakarta, Ken pup di dalam kereta. Haduh, gimana yaaak gantinya secara di kereta nggak ada nursery room. Daripada Ken kena ruam dan ayah-ibunya juga udah cium bau semeriwing pup-nya Ken, yaudah aja kami nanya ke petugas kereta. Eh, ternyata ditawarin ganti di ruang istirahatnya awak kereta. Alhamdulillaah masih ada tempat, walau sempet nggak enak juga karena di ruang sempit itu ada awak kereta yang lagi sholat #haduh. Di kereta menuju Cimahi, saya sempat ketinggalan selimutnya Ken di ruang awak kereta waktu menggantikan popok T,T.

Perjalanan pertama Ken naik kereta jarak jauh ini bisa dibilang mulus, alhamdulillaah. Rewel sedikit waktu pulang karena jelang sore, AC kereta jadi berasa dingin dan selimutnya Ken ketinggalan di kereta sebelumnya. Jadi, jangan lupa bawa selimut dan jangan ditinggal di kereta ya, ibu-ibu.

Pengalaman ini cukup seru, meskipun harus sedikit rempong ya bawa bayi 4 bulan. Nggak sabar deh perjalanan jarak jauh lainnya bareng Ken. Semoga ada kesempatan lain ya.

Sekian dulu sharing kali ini...

Salam,

SW

Thursday, December 17, 2015

AthaXWening: Intro & Episode 1 (Bahasa 'Kode')


Bismillaah...

“Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Suami saya ternyata orangnya lucu. Itu hal pertama yang mungkin akan saya jawab kalau ada yang menanyakan pendapat saya mengenai hal apa yang baru saya ketahui mengenai pasangan setelah menikah. Sebelum menikah dulu, saya mana tahu kalau laki-laki itu bisa sekocak ini (sekocak apa hayoo?). Dulu, saya lebih memandang dia sebagai lelaki idola para wanita (serius, fansnya banyaaaakkkk sampe keselek) yang punya tingkah laku aneh atau kekanak-kanakan di saat-saat tertentu (tapi semua itu dimata saya nggak ada yang dibuat-dibuat, he never tried to amuse anyone by acting childish, it was just a genuine him and that’s why I fell in love with him, ihiy!). Kelucuan suami saya sering kali sukses meluluhkan hati kalau saya lagi kesal. Gimana mau kesal kalau dia ngelucu, walaupun sebenernya saya tahu sih dia kadang nggak niat untuk melucu, tapi tetep ajaaa.

Terus apaan hubungannya sama hadits di atas? Ya jelas ada… Kadang ya kalau suami keseringan becanda, saya kan suka geregetan sendiri ya. Keluar deh kata-kata pamungkas, “aku becanda sayaang… biar kita tetap romantis.” Yaelaaah luluh lagi. Pernah tuh, karena saya protes dia bercanda terus, suami saya pun jadi sok-sokan serius daaan saya ternyata jauh lebih suka dia apa adanya. Serius macam lagi rapat BEM aja, hahah. Terus saya jadi inget hadits di atas, dan emang bener bercanda sama suami itu bikin hati adem ayem, masalah jadi males lama-lama di pikiran—jalan-jalan dulu dia. Hayooo, siapa yang nggak mau kayak gituuu… hihih. Nah, terus saya jadi kepikiran deh buat mendokumentasikan cerita sehari-hari kami berdua dan menjebak mengajak suami buat nulis bareng, bergantian tiap episode. Selain biar nggak lupa karena siapa tahu kan bisa jadi salah satu sumber tawa di senja nanti, dan juga melatih biar terbiasa nulis, dan produktif sedikit lah selain cuci clodi sama main Brave Frontier (paham banget nih kalo yang main. So, please enjoy our first episode of AthaXWening Series.


AthaXWening Eps. 1: Bahasa 'Kode'

Di suatu siang di hari kerja, Ada notif WA dari suami.

Atha : Lagaps?
Wening: Kankan
Atha: Mamas durdur?
Wening: Iya. Ewele. Nangnang terus.
Atha: Nanti malem nonpi yuk.
Wening: Nggak ah, nanti aku tujtuj lagi.
…
Ada yang ngerti nggak kita ngomong apaan? Hahah. Emang bener ya menikah itu adalah saat dimana kebiasaan menular. Salah satunya ya cara ngobrol yang seperti ini nih. Semenjak menikah, saya mengenal bahasa baru dari suami 1) bahasa anak bunayya (kosan dia jaman kuliah) dan 2) bahasa ‘kode’ kayak di WA tadi. Dua-duanya aneh, tapi lama-lama ketularan aneh juga T,T. Kebiasaan ini nggak cuma muncul kalo lagi watsapan, tapi pas ngomong secara langsung pun sering kali kami menggunakan kata-kata yang terdengar seperti kode itu. Bahasa anak bunayya lebih unik lagi, dimana ada kata “hambet” yang definisinya bisa meluas sesuai dengan konteks pembicaraan. Saya suka roaming sendiri kalo lihat grup WA mereka, kayak ngomong bahasa planet lain. But anyway, kadang saya juga suka ngikutin secara sadar atau nggak sadar, hahah. Saking seringnya berbahasa kayak gitu, kadang saya suka kebawa kalo lagi ngobrol via WA sama temen-temen yang lain dan berakhir dengan pertanyaan “lu ngomong apaan sih?”

Kebiasaan berbahasa kode ini ternyata tidak muncul begitu saja, tetapi karena ada kejadian yang bikin kita keterusan ngomong seperti itu. Kayak ‘Tujtuj’ itu awal mulanya karena saya sering typo ngomong ‘ngantuk’ jadi ‘ngantuj’. Jadi deh, muncul kata baru di KBBI kita ‘tujtuj’ yang artinya ‘ngantuk’. Terus, otak makin kreatif ciptain kata-kata baru lainnya. Kalo kebiasaan menyingkat kata kayak ‘lagaps’ (lagi apa) atau ‘sikgig’ (sikat gigi) belakangan saya baru sadar kebiasaan suami itu datangnya dari keluarganya yang kadang suka menyingkat kata, biar ringkas. Kebiasaan lainnya adalah kalau ngobrol kadang suami bergaya ala-ala Cinta Laura gitu, terus tanpa sadar saya nanggapin dengan gaya yang sama. Hahahah, ngapain sih… aneh banget yak. Kebiasaan ini muncul semenjak tanpa sengaja kami menonton salah satu episode Upin Ipin dimana guru baru di sekolahnya hendak mengenalkan murid baru dan entah kenapa ketika ngomong “murid baru” sang guru bicaranya ala-ala Cinta Laura gitu. Kan kita jadi ngakak dan bingung ya. Jadilah scene itu terkenang dalam lubuk hati kami yang paling dalam.

Kebiasaan ini nggak bisa dianggap remeh. Soalnya, entah udah berapa kali kita ngakak bareng karena baca bahasa nggak jelas, ngomong dengan gaya nggak jelas pula, dan menyadari betapa anehnya diri ini ketika ikut tertular berbahasa seperti itu. Ternyata semua itu menyenangkan! Tapi, tetap dong kami cinta Bahasa Indonesia dan nggak bermaksud menularkan kebiasaan aneh ini ke orang lain. Hahah, jadi serius.

Ok, sekian episode kali ini. Sampai bertemu di episode berikutnya yang insya Allah akan ditulis oleh suami saya (kalau dia nggak mager, wkwk). Kalau kamu, apa kebiasaan unik kamu dan pasangan? Hihih….

Uds ya, mau nyiapin sarpag dulu niccccc….

Salam,

SW

Saturday, December 12, 2015

Hanging Out with Ken #3: Berenang Perdana di 'mom n jo'

Yippie! Akhirnya setelah dipending terus, niatan untuk mengajar Ken ke baby spa terlaksana juga. Emang emak bapaknya aja nih yang kemarin-kemarin belum nyempetin jalan ke salon bayi. Alhamdulillaah ini semua berkat voucher 'mom n jo' yang saya dapatkan dari seminar tempo hari. Sayangnya, vouchernya cuma bisa dipakai di hari kerja. Yasudah lah nanti biar Ken dan ibunya aja yang ke 'mom n jo'. Ayahnya nggak bisa ikutan karena kerja. Eh, ternyata tanggal 9 Desember lalu ada Pilkada serentak, kantor suami ikutan diliburkan. Setelah cek ke 'mom n jo' Rawamangun, ternyata voucher bisa digunakan di hari itu. Langsung lah kita bertiga cus kesana sambil nggak sabar lihat cah lanang satu ini nyemplung di kolam.

Mom n Jo ini banyak cabangnya dan yang paling dekat dengan rumah ortu saya adalah Mom n Jo Rawamangun, tepatnya di dekat Teminal Rawamangun, seberang Giant Ekspres. Seperti yang sudah kita tahu, ya. Mom n Jo ini specialty-nya adalah perawatan untuk ibu hamil yang mau pijit-pijit (kan ga boleh sembarangan tuh kalo ibu hamil, salah pijit bisa bahaya), spa bayi, dan ibu pasca melahirkan. Sebenernya udah dari dulu pas hamil Ken sih mau kesana buat pijit kan lumayan yak ngegembol bayi berapa kilo bikin pegel badan. Tapi, ternyata belum kesampaian dan berakhir pijit di salah satu salon langganan di Depok dekat kontrakan kami dulu. Oiya, sebelumnya saya tanya dulu ke CS-nya via telp mengenai harga. Tertarik dengan paket 'baby and i" ternyaya harganya 550rb dengan perawatan pijat 60 menit untuk ibu dan pijit bayi 40 menit + renang bayi 20 menit. Hmm... pikir-pikir dulu deh, mayan juga ternyata harganya, wkwk. Harga paket spa bayi (pijit+renang) 275ribu. Terus mikir lagi, ah Ken juga hampir tiap pagi saya pijit. Lagian dipijit 40 menit anaknya emang betah yak? Saya mijit Ken 30 menit aja udah termasuk lama tuh sambil diajak main. Jadi, tanya harga renang bayinya aja deh... 150rb untuk berenang 20 menit. Ok, setelah tanya suami, kami pun mengambil perawatan itu.

Setelah booking, kita dapat giliran jam 4. Berangkat dari rumah Jam 3 kurang, kami tak lupa membawa perlengkapan Ken, seperti baju ganti yang agak longgar biar pas makein baju nggak drama. Iya lho, Ken ini kalo dipakein baju nangisnyaaa... masya Allah dah kayak lagi disiksa T,T Dia emang tipe anak yang nangisnya keras kayak lagi terik-teriak gitu sih. Pas baru muncul dari perut pun nangisnya hampir memecahkan gendang telinga, heheh becanda deng. Memecahan keheningan hati emaknya yang lagi teler efek obat bius.Ok, back to the topic. Terus jangan lupa juga bawa minyak telon buat menghangatkan badan bayi setelah renang dan kaos kaki buat Ken, ayah, dan ibunya. Lah? emak bapaknya juga bawa kaos kaki? Yoi. Jadi, di Mom n Jo ini peraturannya gitu, sebelum masuk ruang spa ortu wajib pake kaos kaki untuk menjaga kebersihan ruangan. Kalo ngga bawa? Tenang, Mom n Jo menjual kaos kaki incase ada yang ngga bawa.

Baby Swimming Pool

Ruang Spa untuk Ibu

Welcome drinks.
Akhirnya sampai deh di Mom n Jo pukul sekitar 15:30 karena masih ada waktu, kami ngemil dulu di KFC seberang. Daan.. tiba lah waktu yang dinanti: melihat Ken berenang perdana. Degdegan lho, takut anaknya nangis pertama kali dicemplungin gitu. Sebelum masuk ruang spa, Ken ditimbang dan diperiksa suhu tubuhnya dulu. Setelah itu, masuk ruang spa yang ngga terlalu besar tapi seneng deh lihatnya, bersi dan private. Sebelum nyemplung, Ken ditelanjangi dulu dan pemanasan dengan digerak-gerakkan tangan dan kakinya biar gak keram kali ya dan gak kaku badannya ketika bergerak-gerak di dalam air.

Ditimbang sebelum masuk ruang spa

Duuh.. aku mau diapain nih??


Daan... pas dimasukin ke air, jeger anaknya nangis, hahah. Tapi, setelah dinyanyiin nangisnya berhenti dan dia kelihatan menikmati sambil heboh gerak-gerakin badannya. Ternyata Ken masih kagetan anaknya, dan itu yang bikin dia nangis lagi waktu berenang-renang. Jadilah perjalanan berenang perdana ini diiringi dengan isak tangis Ken yang seperti orang hampir tenggelam minta pertolongan. Sepanjang waktu berenang, dia nggak berhenti menatap saya sambil menangis seolah bilang, “Pleeease help me, mom… Pleeease!” 10 menit kemudian, saya mulai nggak tega dan minta mbaknya untuk angkat dia. Terus pas dimasukin bak mandi jadi ikutan nangis juga~ Nggak apa lah ya, namanya juga baru pertama kali. Insya Allah nanti coba lagi ya nak ya, semoga makin berani dan mahir. Abis diangkat, biasa deh mukanya langsung biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. 




Tapi, pengin lagi deh bawa Ken berenang kapan-kapan.  Sebab, katanya berenang untuk bayi itu banyak manfaatnya, seperti melatih jantung dan paru-parunya agar bekerja lebih keras saat bayi menggerak-gerakkan badannya di Air—terbukti waktu dicemplungin Ken sampe gobyos kepalanya, macam abis lari berapa kilo gitu, hahah. Selain itu, juga bisa melatih kepercayaan diri bayi, soalnya dengan dia berani nyemplung di air, dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk bersahabat dengan air. Malahan saya penasaran tuh sama bayi-bayi yang udah diajak renang di pool beneran dan udah diselamin ke dalam kolam sambil senyum-senyum dan ketawa kayak di video ini nih...


So, that was another new experience you've taken, Ken... Get ready for the next things which will come! :)

Mom n Jo Website: http://www.momnjo.com/

Salam,

SW

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW

Monday, October 19, 2015

Tentang Satu Tahun yang Lalu, Kini, dan Nanti


Di semester-semester akhir kuliah, saya pernah iseng menjawab ketika ditanya bapak saya soal target menikah. Waktu itu, setengah bercanda, saya menjawab pasti, "insya Allah umur 23 tahun, pak." Alasannya sesederhana saya nggak mau terjebak dalam hubungan yang berlarut-larut, dalam ketidakpastian. Jadi, saya pikir usia 23 tahun adalah usia yang pas untuk menikah, walaupun saya sendiri tidak ngoyo soal hal itu. Secara waktu itu jodoh saya siapa masih diawang-awang, belum ketemu--bahkan bayang-bayangnya pun belum ada (maksudnya saya nggak pacaran atau dekat dengan siapa-siapa), jadi yah kalau Allah berkehendak saja lah, maka pernikahan di usia itu bisa terjadi.

Rupanya apa yang kita katakan benar adalah doa, semesta mengamini perkataan saya. Kejadian demi kejadian yang mengarahkan saya menuju pertemuan dengan orang yang menjadi suami saya kelak pun saya alami. Laki-laki itu ternyata dekat dengan saya, ia menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya. Kala itu, kami tidak pernah benar-benar dekat, tidak pernah banyak bicara atau saling sapa. Tidak pernah tahu isi hati masing-masing dan tidak pernah menyangka bahwa masing-masing dari kami merasakan getaran yang sama saat kesempatan mempertemukan kami berdua. Hingga waktunya tiba, kami baru mengetahui dengan pasti isi hati kami masing-masing yang selanjutnya berujung pada sebuah komitmen, yaitu: menikah.

Diambil saat dalam perjalanan menuju BKOW, tempat kami menikah di hari pernikahan kami. Ada kalimat tauhid di sana. Sama seperti yang tertulis di dalam mahar yang diberikannya untuk saya. 

Tepat setahun yang lalu, di usia saya yang ke-23. Laki-laki itu meminang saya dan semenjak saat itu, dia menjadi orang yang paling saya kagumi--melebihi kekaguman saya padanya waktu jaman kuliah dulu. Saya tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah telah mengirimkannya untuk saya, sebab saya selalu ingat perkataannya untuk membuat saya bahagia, dan bagaimana ia mewujudkannya untuk saya dengan cara-cara yang sederhana yang justru membuat saya jatuh cinta lagi  kepadanya, setiap harinya. Tidak, saya tidak berlebihan hanya saja saya memang bukan orang yang romantis. Berkata-kata dan bertindak langsung secara romantis, bukan gaya saya... hehehe. Maka dari itu, saya tuliskan semua disini saja. Saya jadi ingat, dulu laki-laki itu pernah meminta maaf karena merasa dirinya tidak romantis, lalu ia meminta didoakan agar ia bisa belajar lebih romantis lagi. Tapi siapa sangka, ternyata ia lebih romantis dari yang ia kira. Seperti ketika setiap pagi, sebelum berangkat bekerja ia selalu melebarkan kedua tangannya untuk memeluk dan mencium istrinya, seperti sesederhana menyiapkan makanan kesukaan saya untuk menghibur saya, atau menjadi dirinya apa adanya yang bisa membuat saya tertawa sekaligus geleng-geleng kepala, tidak pernah malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan banyak hal lainnya. Tanpa ia sadari, ia adalah mahluk paling romantis yang pernah saya kenal. Ah, kayaknya postingan ini sudah berubah jadi surat cinta yang panjang... jangan iri ya, heheh.

Perjalanan satu tahun ini, seperti layaknya mengemut permen kapas... eh, tiba-tiba habis. Tiba-tiba sudah setahun perjalanan yang begitu manis, namun tetap dinamis ini telah berjalan. Banyak teman-teman saya yang belum menikah kepo bertanya nikah itu enak atau nggak. Saya selalu menjawab dengan tegas, "enak!" Beneran enak banget, gimana nggak... setiap hari bisa ketemu sama orang yang disayang, bisa dengan bebas merayakan cinta, bercanda bareng, ditambah lagi dinafkahi suami, heheh. Ada nggak enaknya nggak? Jangan sedih... Ada. Tentu lah yang namanya menikah, kita akan mengalami berbagai perubahan, buat saya terutama dalam hal mengambil keputusan. Setelah menikah, apa-apa mesti memikirikan dampaknya, bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk pasangan dan anak. Nggak boleh lagi egois dan sedikit banyak harus mau berkorban. Mau makan Indomie goreng aja sekarang mesti minta izin suami. Eh, tapi tetap senang-senang aja lho walau begitu, mungkin karena kita melakukannya karena cinta ya, asyik~

Belum genap satu tahun, perayaan cinta itu kini semakin lengkap dengan hadirnya buah hati kami, Ken. Alhamdulillaah... Kami boleh jadi masih sering dianggap masih kecil oleh orang tua kami, atau orang lain. Eh, ini tiba-tiba perut mbelendung dan lahir lah seorang anak laki-laki ber-DNA kami berdua. Pertanyaan yang selalu muncul sebelum ia lahir, bisa emang mengurus anak? Siap jadi orang tua dan jadi panutan anak? Jawabannya ya harus siap, meskipun saya tahu kapasitas kami mungkin masih jauh, jauuuh dari apa yang disebut dengan orang tua yang baik. Sampai saat ini, kami masih belajar menjadi orang tua--baru 2 bulan jadi orang tua. Yah, bukan kah katanya menjadi orang tua adalah pelajaran yang terus-menerus. Jadi, harusnya sih mengurus anak itu nggak ada bosennya ya, apalagi anak bayi yang kalau kita ngedip dikit aja tahu-tahu sudah gede. Kehadiran Ken membuat perjalanan satu tahun ini bahkan terasa lebih cepat.

Kata orang, satu tahun pernikahan itu masih manis. Buat saya sangat manis, rasanya seperti masih pengantin baru (cieee...), walau sekarang sering dengan diiringi backsound tangisan dan cooing-nya Ken, hihih. "Masih"... betapa kata itu terkadang membuat saya bergidik. Ah, tapi hidup kan berjalan seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah, siapapun menyadarinya. Ya, saya memang tidak tahu bagaimana lagi kisah perayaan cinta kami, yang saya tahu saya bahagia... sebahagia itu hingga saya begitu takut kehilangan. Saya hanya bisa berdoa semoga kami bisa menjalani pernikahan ini dengan belajar, beribadah, dan berusaha menjadi lebih baik. Beruntung, suami saya adalah orang yang selalu mendukung dan membimbing saya.

Di hari ini, setelah tahu kalau ia menganggap menikah adalah kesuksesan terbesarnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada suami saya tercinta.

"Selamat ya, sayang... Kita sudah melewati satu tahun pernikahan ini dengan saling melengkapi. mengasihi dan menyayangi yang tiada henti. Semoga kedepannya kita bisa jadi lebih baik lagi sebagai individu, pasangan hidup, sekaligus orang tua. Maafkan aku yang masih banyak kekurangannya. Jangan bosan-bosan mengingatkan dan membimbing aku, ya. Impian terbesarku adalah bisa berkumpul lagi bersama dengan kamu di syurga nanti. Aamiin..." 

Untuk mengenang setahun yang lalu, dengarkan lah Nama Tuhan dan suara lantangmu yang membuatku tersenyum haru hingga kini...


Untuk Adipati Karna-ku dari Dewi Surtikanti-mu,
"Jangan pernah bosan ya merayakan cinta bersamaku, selamanya."


Jakarta, 19 Oktober 2015
- SW -