Buat ibu rumah tangga baru macam
saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan
pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah
udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja,
hanya untuk sekadar mengeluh. Huft,
saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga
tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan
soal kerja kantoran atau stay at home sih
yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan
waktu me-time yang terasa begitu
mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis
atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.
Saya sempat lupa kalau sekarang
yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah
sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri.
Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang
dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus
memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri
menuruti keinginan me-time semata,
astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat
kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda,
bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali
bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas
meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan
kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa
egois saya. Saya takluk.
Kata orang, kesenangan tidak
datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur.
Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time
ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil
luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang
juga fun. Terus, iya lho waktu saya
masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time
aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi
memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak
sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga
soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih
dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).
Tapi, percayalah… Melihat
senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang
bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi
anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah
tenang dan tidur, silakan me-time lagi,
hehehe…
Intinyaaa… setelah meyandang
status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur
kalau masih bisa menjalankan me-time seperti
biasanya. Yang pasti, menurut saya
me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus
kalau weekend biasanya ajak suami
jalan-jalan, heheh.
Allah sudah memberikan tanggung
jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan
tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan
bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.
![]() |
| picture: google |
Kalau, ibu-ibu yang lain,
biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)
Cheers,
SW


