Showing posts with label Me. Show all posts
Showing posts with label Me. Show all posts

Thursday, December 10, 2015

Racauan Ibu Baru soal 'Me Time'


Buat ibu rumah tangga baru macam saya, tiga bulan pertama adalah masa-masa menata dan men-sinkronkan hati dan pikiran. Cailah berat bener. Tapi, beneran lho di tiga bulan pertama ini entah udah berapa kali saya nangis tanpa alasan yang jelas alias baby blues. Entah udah berapa kali gangguin suami yang lagi kerja, hanya untuk sekadar mengeluh. Huft, saya malu sama diri saya sendiri. Ternyata, memilih menjadi ibu rumah tangga tidak lantas membuat saya merasa menjadi ibu yang baik untuk Ken. Lah, emang bukan soal kerja kantoran atau stay at home sih yang menentukan seorang ibu itu baik atau nggak. Beberapa kali, saya merindukan waktu me-time yang terasa begitu mahal akhir-akhir ini. Iya, saya rindu duduk sendirian sekadar untuk menulis atau membaca sendirian atau pergi ke salon untuk pijat dan creambath. Semua itu terasa muluk dan ya, memang muluk. Disitu salah saya.

Saya sempat lupa kalau sekarang yang harus saya rawat bukan saja diri sendiri, tapi juga ada anak. Kami adalah sepaket manusia yang tidak bisa dipisahkan, setidaknya sampai ia bisa mandiri. Kemana pun saya pergi, Ken harus ikut, sebab hanya saya satu-satunya orang yang dapat memenuhi kebutuhan primernya, ASI. Jadi, apapun kegiatannya, saya harus memastikan semua itu bisa dilakukan saya dengan membawa anak. Memaksakan diri menuruti keinginan me-time semata, astaga saya tak sanggup. Hati saya rasanya sudah dicuri lagi oleh orang lain. Malaikat kecil itu membuat saya secara otomatis bergerak untuk menimang, bercanda, bermain, dan menyusuinya kapan pun dia butuh. Meskipun saya akui beberapa kali bersungut-sungut karena kelelahan saat ia rewel, dan ingin menyerahkan tugas meredakan tangisnya ke orang lain, saya tak pernah bisa berhenti menengokkan kepala ke arahnya dan menimangnya kembali. Malaikat kecil itu mengalahkan rasa egois saya. Saya takluk.

Kata orang, kesenangan tidak datang dengan sendirinya. Kesenangan itu dibuat. Saya sempat kurang bersyukur. Ah, padahal banyak waktu kok, kalau mau me-time ya waktu Ken tidur. Bebas mau baca novel, nulis-nulis, atau mandi sambil luluran sendiri. Intinya, mengalihkan cara menikmati me-time yang biasa dilakukan (Waktu single dulu atau waktu belum punya anak) ke kegiatan yang lain yang juga fun. Terus, iya lho waktu saya masih muluk-muluk gitu kepikiran buat punya me-time aja bikin merasa bersalah. Duh, salah banget. Padahal kan me-time itu penting ya ibu-ibu, demi memelihara kewarasan kita bersama. Sekarang nggak heran deh kalo liat emak-emak sering ngomelin anaknya, suaminya, atau orang lain. Mungkin doi kurang me-time tuh, bawaannya jadi bad mood terus. Hahah, saya pernah juga soalnya merasa begini. Kurang-kurangin deh yang kayak gini. Ayo, belajar lebih dewasa lagi dalam mengelola hati dan pikiran (self-talk).

Tapi, percayalah… Melihat senyuman, tatapan, dan tawa malaikat kecil itu bikin kita luluh lagi. Emang bener kalo ada orang yang bilang anak kecil itu membawa kebahagiaan, apalagi anak sendiri. Kalo lagi rewel…., nah itu siapkan ikat kepala, banyak istighfar, dan sabar. Kalo dia udah tenang dan tidur, silakan me-time lagi, hehehe…

Intinyaaa… setelah meyandang status sebagai “ibu beranak satu” turunkan ekspektasi tentang definisi me-time yang selama ini kita anut. Syukur kalau masih bisa menjalankan me-time seperti biasanya. Yang pasti, menurut saya me-time itu harus. Kalau saya biasanya, biar nggak bosan di rumah terus kalau weekend biasanya ajak suami jalan-jalan, heheh.

Allah sudah memberikan tanggung jawab yang begitu indah buat kita dan pasti karena Allah percaya kita bisa menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi, ayo semangat membesarkan anak dengan perasaan bahagia, agar kelak anak kita tumbuh jadi pribadi yang baik dan positif.

picture: google


Kalau, ibu-ibu yang lain, biasanya me-time nya ngapain sih? Share dooong… ;)

Cheers,

SW

Friday, October 23, 2015

Cerita tentang Namaku


Mungkin ini akan menjadi postingan paling narsis karena di sini saya akan membahas sebuah nama. Nama saya sendiri, Dewi Wening Sawitri. Banyak orang bilang, “apa lah arti sebuah nama”, tapi menurut saya, terkadang dalam nama itu sendiri terkandung sebuah makna. Apalagi nama yang diberikan orang tua kepada kita. Pasti memiliki arti dan maksud tertentu seperti doa dan harapan yang ditujukan untuk si buah hati.

Apa yang bisa anda tangkap apabila mendengar sebuah nama Dewi Wening Sawitri untuk pertama kalinya? Saya tidak pernah menanyakan langsung pertanyaan tersebut kepada orang-orang di sekitar saya, namun dari obrolan yang pernah saya lakukan dengan mereka, dapat disimpulkan bahwa yang paling mencolok dari nama saya adalah unsur-unsur jawa yang kental di sana. Tanpa saya beri tahu, mereka sudah tahu bahwa saya atau paling tidak orang tua saya berasal dari tanah jawa, jogja tepatnya. Setelah besar, saya tidak heran mengapa orang tua saya memilih nama itu untuk saya. Mereka adalah orang yang masih sangat menghargai tanah asalnya, terutama kebudayaan jawa, sehingga nama yang diberikan untuk saya dan saudara-saudara saya adalah nama yang berbau khas jawani.

Karena menurut saya setiap nama memiliki makna, saya sempat menanyakan arti atau maksud yang sesungguhnya kenapa ayah saya memilihkan nama tersebut sebagai nama bayinya yang kedua. Berikut adalah penjelasan yang diberikan ayah saya : Dewi berarti perempuan (ini cukup jelas saya rasa). Wening diambil dari nama tengah ayah saya, yang berarti bening. Sawitri adalah nama salah satu tokoh pewayangan (ayah saya adalah seorang  seniman jawa) sering juga dikenal dengan Savitri.
          
Dari kisah yang pernah saya baca, dikisahkan Savitri adalah seorang putri dari suatu kerajaan di India. Karena teramat sangat anggun, para lelaki justru enggan meminangnya. Suatu hari ayahnya atau Raja dari kerajaan itu khawatir kalau anaknya tidak segera menemui jodohnya. Sang raja yang mulai sakit-sakitan khawatir kalau tidak akan ada penerus tahtanya kalau putrinya tidak segera menikah. Sang Putri pun berdoa kepada para dewa dan mendapat wahyu kalau suaminya bernama satyavan. Sayangnya, satyavan diramalkan berumur pendek dan hanya akan hidup setahun lagi. Dengan ikhlas, Savitri menikah dan hidup bahagia dengan suaminya. Ia selalu bertapa dan berdoa kepada dewa agar suaminya diberi umur yang panjang. Sampai-sampai ia tidak mau beranjak dari pertapaanya. Suatu ketika, ia mendapat firasat kalau satyavan akan meninggal hari itu, saat ia sedang berburu. Savitri  pun mengikuti suaminya berburu dan saat dewa kematian dating mengambil nyawa suaminya, Savitri mengikuti sang dewa kematian hingga kakinya sakit dan sebenarnya tak sanggupp untuk berjalan lagi. Namun, ia tidak menyerah dan karean kesetiaannya, sang dewa kematian mengembalikan nyawa suaminya. (ki nartosabdho)

Mungkin orang tua saya berharap agar saya dapat menjadi orang yang setia, yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk orang-orang di sekitarnya. Saya pun berharap demikian. Menjadi seseoranr yang mau berkorban untuk orang yang disayanginya adalah hal yang mulia.

Dari penjelasan tadi, dapat disimpulkan bahwa namaku, Dewi Wening Sawitri berarti seorang wanita yang berhati bening dan setia. Lalu, bagaimana dengan nama anda? Arti apa yang ada di dalamnya?

Salam,
- SW -