Sunday, October 2, 2016

Ken's First Flight (Jakarta-London)

Salah satu hal yang bikin super degdegan sebelum berangkat ke UK, selain nungguin Visa granted dan kepastian akomodasi adalah bayang-bayang berada di pesawat kurang lebih 15 jam bersama dengan Ken. Yes, ini pengalaman pertama Ken naik pesawat dan langsung 15 jam saja. Tarik nafas terus waktu itu ngebayanginnya. Kebayang Ken yang lagi seneng-senengnya jalan dan mulai bisa ngomong, plus waktu itu, yang nggak doyan makan--harus duduk di pesawat selama belasan jam.

Sebegitu menyeramkan kah? Yang pasti, sempat frustrasi juga ngeliat layar yang nunjukkin lama perjalanan kita--*apa sih nama layarnya?* Perasaan udah dua jam, tapi kok majunya dikit banget~ Kenapa? Soalnya saya pegel mangku Ken yang lagi tidur karena gagal pakai bassinet *cry*

Tapi eh tapi... Ternyata nggak semenyeramkan itu lho. Seenggaknya untuk Ken kemarin yang, alhamdulillaah, banyak tidurnya selama perjalanan. Setengah perjalanan ke Singapur, doi tidur. Setengah perjalanan ke London, doi tidur lagi. Sungguh pengertian sekali anak ini, ibu bangga, hahaha. Udah gitu aja ceritanya.

****

Hehehe, nggak deng. Sekarang kita cerita-cerita aja hal yang saya pelajari dari pengalaman bawa anak (atau toddler sih lebih tepatnya), di long-haul flight. Persiapan-persiapannya, pelajaran dari kesalahannya, dsb. Mumpung masih ingat.


1.   Sounding ke Anak 
Ini penting karena anak mengerti. Sedari beberapa bulan sebelumnya. Kami sudah sounding ke Ken kalau nanti kita akan naik pesawat dengan waktu yang lama. Minta dia untuk mengerti selama perjalanan, tidak bisa jalan mondar-mandir kesana kemari, jadi harus duduk anteng. Kalau tidur juga nggak bisa senyaman di tempat tidur. Nggak banyak yang dilihat lewat jendela. Pokoknya kasih tahu kira-kira kondisi di pesawat nanti bagaimana. Saya merasa cara ini berhasil sih. Terbukti, Ken yang super aktif, yang biasanya maunya jalan-jalan terus, selama perjalanan bahkan nggak merengek minta jalan. Paling berdiri di depan kursi aja. 

Ken tidur nggak lama setelah naik pesawat menuju Singapore

2.   Cek Kapasitas Baby Bassinet
Kalau ini belajar dari kesalahan kami. Entah dapat informasi dari mana yang menyebutkan kalau bassinet di Garuda Indonesia kapasitasnya 14 kilo. Waktu itu, kita berpikir, aman lah... Ken BB belum sampe 14 kilo kok. Ternyataaaa ketika sudah di pesawat, pas mau dipasang sama pramugarinya, saya tanya dulu itu kapasitasnya sampai berapa kilo, karena kelihatan kecil sekali dan kurang kokoh. Nanti roboh lagi kalau Ken naik. Benar, ternyata kapasitasnya max. 8 kilo saja. Alhasil, bassinetnya nggak jadi di pasang. Saya pun langsung pucat karena membayangkan harus memangku Ken belasan jam, hehehe... Sebaiknya, sebelum itu cek langsung ke maskapai ya soal kapasitas baby bassinet ini, terutama kalau jadi alasan untuk pilih maskapai karena bisa jadi berbeda tiap maskapainya. Padahal kami udah bela-belain pesan kursi di depan demi bisa pakai baby bassinet lho.


3.   Dapatkan Kursi di Bulk-Head
Kenapa dapatkan? Kursi ini bisa didapatkan secara gratis kalau otomatis by system waktu kita check-in. Tapi, kalau kita pesan sebelum waktu check-in, ya bayar. Kami sudah pesan baby bassinet via call center 2 hari sebelum keberangkatan, saya otomatis dapat kursi di bulk-head. Suami? Masih nggak tahu nasibnya duduk dimana karena ternyata jatah bulk-head udah abis di city check-in dan web check-in (Oiya, kalau bawa bayi, aturannya nggak bisa city/web chec-in). Jadi, mau nggak mau pilihannya kita check-in duluan di bandara atau beli kursi. Iya, kena charge karena kelasnya beda (extra legs room). Biar nggak gambling, akhirnya kami pun rela bayar extra charge 700rb Rupiah di sales office Garuda Indonesia. Worth it, nggak? Banget. Legs Room yang cukup luas jadi salah satu senjata kami kalau Ken sudah mulai bosan duduk. Dia bisa berdiri atau duduk di sana. Kami pun jadi lebih tidak capek karena kaki bisa selonjoran. Buat kami, poin ini mengurangi rasa lelah dan kewalahan bawa anak. Meski gagal pakai baby bassinet, nggak apa deh.


4. Ready Changing Station
Biar nggak ribet ambil popok, tissue basah, krim popok, dsb. Saya menyiapkan tas kecil yang isinya lengkap keperluan Ken ganti popok selama di pesawat dan di taruh di bawah atau depan kursi. Jangan di bagasi kabin. Jadi, kalau mau ganti tinggal angkut aja tas kecilnya. Isinya, popok (8 buah); tissue basah; hand-sanitizer; krim popok; nappy bags; minyak telon. Saya juga menyiapkan 3 stel baju ganti yang udah di kelompokkan per stelnya ke dalam zip-lock bag. Lebih praktis, nggak usah cari2 baju lagi di tas. Oiya, saya juga bawa satu baju ganti, jaga-jaga kalau kotor. Tapi, nggak kepakai juga sih akhirnya karena ngga ada insiden yang mengharuskan saya untuk ganti baju.


5. Siapkan Makanan
Dari awal, saya udah bisa bayangin kalau makanan nggak akan terlalu bisa diandalkan untuk Ken di pesawat. Secara waktu itu, anaknya nggak hobi makan. Tapi, saya tetap bawa cemilan-cemilan macam yummy bites, roti, puding atau biskuit-biskuit, dan susu ultra mimi. Untuk makannya, saya shared makanan saya di pesawat. Anehnya, kami tidak dapat baby food. Padahal teman yang bawa bayi, naik Garuda Indonesia juga, dapat tuh. Kami juga nggak minta sih. Udah sih segitu aja kalau untuk makanan.


6. Jangan batasi waktu menyusui 
Kalau biasanya Ken sehari menyusu, saat itu 4 kali saja dalam sehari. Waktu di pesawat, entah berapa kali ia menyusu. Tak terhitung banyaknya. Ini justru jadi senjata saya banget kalau Ken mulai bosan dan tidak nyaman dengan tekanan udara yang ada di pesawat. Walaupun saya yakin banyak kali dimana Ken menyusu karena butuh kenyamanan saja, bukan karena lapar.  Makanya, Ken tidur terus selama di perjalanan. Itu semua berkat menyusu.


7. Cuek aja! 
Ken ini sedang semangat-semangatnya belajar bicara. Apapun yang ia dengar, hampir selalu diikuti. Begitu di pesawat, kalau sedang bangun, ia tidak bisa berhenti bicara. Terkadang juga dengan nada tinggi, alias teriak-teriak. Kadang juga SKSD sama penumpang lain, ada om bule di samping saya dia panggil "om...om.." begituuu terus sambil nunjuk-nunjuk. Senyum-senyum sama penumpang lain. Walaupun mungkin agak sedikit mengganggu, kita jangan kebawa stress. Cuek aja, namanya juga anak-anak. Tentu saja, sambil ditenangkan atau dialihkan perhatiannya.


8.   Siapkan hiburan
Sebenernya, ini juga gagal sih kami lakukan. Tapi, mungkin bisa lebih membantu kalau disiapkan dengan lebih baik. Kami udah menyiapkan beberapa mainan baru yang sengaja baru akan kami keluarkan satu per satu di pesawat supaya Ken tidak bosan. Tapi, tas untuk naro mainannya di bagasi kabin, sulit deh. Jadinya, itu mainan baru dikeluarin begitu sampai London, meeeh~


9. Jalan-jalan di Aisle/kamar mandi
Serius deh... Momen ganti popok bisa jadi hiburan juga ternyata kalo sedang perjalanan panjang di pesawat. Jadi kalau anak sudah bener-bener bosan, bawa aja jalan-jalan (digendong) di aisle atau masuk kamar mandi. Kalau udah bosan sekali, anak gampang terhiburnya kok. Ken diajak ngaca dan cuci tangan di wastafel aja udah happy :"D

10. Manfaatkan waktu transit
Kami transit di Singapore selama kurang lebih satu jam saja. Jadi, nggak banyak yang kami lakukan (termasuk nggak kepikiran buat tukar voucher gratis dari bandara *cry*). Saya sih memanfaatkannya untuk ke nursery room dan membiarkan Ken bebas berjalan-jalan semau dia, sambil diawasi. Terus minta pengertian lagi ke dia kalau perjalanan kita akan lebih panjang.


11. Bawa Stroller & Baby Carrier
Ini opsional sih... Tapi, buat saya bawa stroller sendiri ternyata sangat membantu mobilisasi. Mengingat cah lanang kami sudah tidak ringan lagi untuk digendong kesana-kemari dengan waktu yang lama. Selain itu, bagasi stroller juga sangat bermanfaat untuk meringankan bawaan barang tentengan. Saya sampai sengaja beli stroller yang bisa masuk kabin waktu itu demi bisa bawa stroller ke pesawat. Eh, ternyata nggak usah bawa yang bisa masuk kabin juga nggak apa. Ujung-ujungnya nggak masuk kabin juga, tapi masuk bagasi (dikasih ke mbak pramugari) tepat sebelum kami masuk kabin. Walaupun, sebenarnya bisa juga kalau mau masuk kabin kalau dilipat sebelum boarding. Buat stroller nanti saya bikin cerita sendiri deh. 

Untuk baby carrier, waktu itu nggak terlalu terpakai sih. Tapi, buat jaga-jaga aja kalau di pesawat anak rewel dan cuma bisa tenang dengan digendong atau untuk kebutuhan lainnya. Oiya, waktu itu, Baby Carrier dipakai hanya pada saat turun dari pesawat saat transit dan saat sampai, hingga ketemu lagi sama strollernya.

Dorong stroller sambil bawa koper
Yang terakhir dan paling penting, tentu saja jangan lupa berdoa supaya perjalanan kita lancar, sampai dengan sehat, selamat, sentosa. Kalau kalian, ada tips lain lagi nggak biar bisa survive bawa anak kecil di pesawat?


Salam,
Sawitri Wening

Tuesday, September 27, 2016

Pertemuan dengan Hathaway House (Akomodasi Keluarga di Bristol)

Hi! Been a long while ya....

Kita cerita-cerita tentang cari akomodasi aja ya buat obat kangen. Jadi, sejak tanggal 8 September kemarin, kami sekeluarga pindah ke Bristol, UK. Kalau katanya suami, negeri "Fish n Chips"--baru tahu juga. Dalam rangka apa? Dalam rangka suami saya lanjut sekolah lagi. Doi ambil master di University of Bristol, jurusan International Development. Alhamdulillaah, dapat rezeki jadi salah satu awardee LPDP.

Membawa Keluarga ke Bristol
Banyak yang bertanya ke saya, sebelum kami berangkat. "Wening sama Ken nanti langsung ikut apa nyusul?"
Sebenarnya sih, rencana suami boyong keluarga ke Bristol, awalnya tentatif. Tergantung, sudah kah dapat akomodasi sebelum kami sampai ke Bristol. Soalnya ternyata cari akomodasi untuk keluarga di sini cukup sulit. Kan susah juga kalau sampai Bristol belum ada tempat berteduh. Jadi, kami pikir kalau belum dapat akomodasi, ya sudah saya dan Ken akan menyusul--yang pada saat itu nggak kepikiran kapan karena nggak kebayang bawa Ken seorang diri di pesawat selama belasan jam. Jadi, plan B kami akan berangkat kalau datuk dan mbah uti-nya Ken juga mau kesana (dan itu masih nggak tahu kapan). Saya udah sedih aja ngebayangin bakal LDR-an sama suami. Tapi, entah kenapa suami selalu optimis, bilang kalau bisa... bisa... kami pasti bisa berangkat bareng. Alhamdulillaah, jalan kami dimudahkan. Karena optimisme suami juga saya jadi super semangat cari akomodasi di Bristol. 

Mencari Akomodasi Keluarga di Bristol
Informasi dari suami dan browsing di internet, kalau mau cari akomodasi bisa via aplikasi supaya lebih mudah pencariannya, seperti Zoopla, Gumtree, atau Rightmove. Carinya sih gampang ya. Banyak banget tawaran yang kita naksir dan entah udah berapa banyak email yang udah template dikirim ke agency. Tapi, yang dibalas hanya segelintir atau begitu ada yang balas, persyaratannya nggak gampang. Seperti, butuh UK guarantor (karena kami ada di luar UK) dan landlord (empunya akom atau kalau disini kayak ibu kos atau juragan kontrakan) nggak boleh bawa anak karena kamar cuma satu. Padahal, kita ngincer kalau bisa yang tipe studio aja lah... soalnya kalau kamarnya banyak, harga sewanya udah pasti lebih mahal. Kan sayang uangnya, abis buat sewa akomodasi aja. Nah, kalau udah kayak gini ngomongin soal budget. Awalnya 400£-550£. Makin lama nyari, kok kayaknya makin nggak possible ya angka segitu buat akomodasi keluarga. Akhirnya, dinaikin jadi maksimal kurang lebih 700£. Ok deh... dari situ mulai lagi pencarian.

Oh iya, berdasarkan pengalaman, kalau mau cepat dibalas, kirim email langsung ke email agency-nya aja. Kalau lewat aplikasi, suka lama responnya. Jadi, yang saya lakukan, kalau liat iklan di zoopla, rightmove, etc. Saya biasanya langsung ke website agency-nya terus cari email atau related ad yang ada di web-nya. Begini lah cara saya bertemu dengan agency sewa rumah yang kami tempati saat ini--yang ternyata dikelola oleh student union dari UoB. Namanya Bristol SU Lettings.
Enaknya kalau udah connected langsung ke agency, kita bisa request atau minta cariin akomodasi sesuai kebutuhan dan kondisi kita via email. Nanti, mereka akan kirim penawaran-penawaran yang kira-kira sesuai dengan requirement dari kita. Enak kan, tinggal ongkang-ongkang kaki, iklan sewa rumah yang sesuai dateng sendiri, nggak usah sibuk ubek-ubek zoopla. Heheh, nggak deng... kalau belum ketemu mah sama aja, H2C.
Bantuan dari Teman yang tinggal di UK
Alhamdulillaah... agency ini nggak ribet. Kalau bawa anak, nggak harus sewa rumah dengan dua kamar, tapi kami dapat studio yang lumayan luas (bahkan ada yg bawa dua anak juga boleh)... yippie! Enaknya lagi, nggak perlu UK guarantor. Harganya sesuai budget 695£ per bulan (inc. Gas, Internet, Laundry, Kebersihan) kecuali listrik. Tapi worth the money banget... soalnya, flatnya masih super baru refurbished dengan perabot yang masih disegel--jadi berasa pindah ke rumah baru. Kami hanya perlu bayar deposit senilai satu bulan sewa buat nge-tag akomnya. Biar nggak kayak beli kucing dalam karung, kami juga minta bantuan viewing sama salah satu mahasiswa yang ada di Bristol. Kalau ternyata ok, baru bayar deposit. Sebelumnya, kami juga bisa memilih lokasi flat, mau yang di dekat taman atau yang ada balkonnya. Kami pun memilih yang dekat taman karena satu dua alasan.

Setelah menunggu sekitar sebulan untuk tanda tangan kontrak, kami pun diminta untuk bayar uang sewa tiga bulan di muka. Jadi, sistem bayarnya 4 kali dalam setahun. Alhamdulillaah... soalnya yang baru-baru dapat sewa mesti bayar dua kali. Lega deh, udah cari dari jauh-jauh hari.

Berhubung dana baru turun begitu kami sampai UK dan punya rekening di sini, urusan bayar-bayar ini benar-benar terbantukan sekali oleh teman-teman yang udah stay duluan di sini dan rela buat nalangin dulu. Padahal kalau dipikir-pikir, jumlahnya nggak kecil lho... Masya Allah ya, saya terharu :')

Akhirnya, sampai lah di flat kami yang mungil tapi luas ini. Nyaman karena langsung akses ke taman (memudahkan banget buat keluar masuk stroller dan buat Ken main). So far, tenang banget... maksudnya ngga ada penghuni yang suka party gitu. Yang paling penting sih, pilihan ambil studio buat saya memudahkan sekali ketika harus masak atau berkegiatan di dapur sambil mengawasi anak bermain atau tidur. Ini signifikan banget buat saya soalnya di rumah dulu yang dapur, kamar, ruang tv terpisah sangat sulit kalau mau melakukan kegiatan lain sambil mengawasi Ken. Beruntung dulu masih ada yang bisa dititipi Ken. 

Bonus Lokasi Akomodasi
Nah, kalau ini kami menyebutnya bonus karena baru tahu persis setelah kami sampai di sini. Ternyata, lokasi flat kami sangat dekat dengan toko daging halal (yang juga jualan kebutuhan sembako, termasuk makanan-makanan ringan). Letaknya sekitar 3 menit jalan kaki dari flat. Alhamdulillaah jadi nggak susah kalau mau cari bahan makan yang halal, apa lagi daging kan. Selain itu, flat kami juga dekat sekali dengan mesjid, sekitar 5 menit jalan kaki. Bukan mesjid besar sih, tapi suami jadi lebih dekat kalau mau sholat. Selain itu, flat kami juga dekat dengan city centre, jalan kaki sekitar 10 menit. Poin ini mungkin bisa jadi tambahan juga dalam mencari akomodasi. Tapi, pengalaman saya sih waktu itu, bisa dapat sebelum sampai saja udah syukur alhamdulillah, hehehe.





Lounge

Flat 5 & 6

Main di Taman
Sekian dulu sharingnya tentang pencarian akomodasi di Bristol. Semoga bermanfaat, terutama untuk yang cari akomodasi di UK atau Bristol khususnya :)

Salam,
Sawitri Wening

Sunday, May 8, 2016

Ketika Ibu ingin Nonton AADC2 di Bioskop



Saya bukan orang yang suka banget nonton film sih, dan harus banget ngikutin film apa aja yang keluar di bioskop. Tapi, berhubung saya ngefans banget sama Dian Sastro, jadi saya memutuskan berkeinginan untuk nonton film terbarunya di bioskop. Duh, ribet ya bahasanya, hahah. Kenapa saya bilang “memutuskan berkeinginan”? Yah, soalnya setelah melahirkan, biasanya saya tahan-tahan tuh keinginan untuk nonton film di bioskop, secara nggak mungkin ninggalin anak. Kayak waktu Captain America: Civil War keluar di bioskop, saya pengin sih nonton tapi saya tahan keinginannya karena alasan yang sudah saya sebutkan tadi. Tapi, begitu tahu AADC2 bakal keluar, plis lah langsung Whatsapp suami bilang pengin bangeeeet nonton ini di bioskop. Saya yakin banget sih, pun saya bilang ingin nonton ini itu di bioskop, pasti dibolehin suami--asal istri senang ya. Asalkan kami ada solusi bagaimana mengkondisikan Ken selama 2 jam ditinggal nonton film di bioskop sama ibunya.

Learn not to be selfish
Yes, pelajaran pertama setelah menjadi orang tua adalah semakin belajar untuk tidak egois. Hal itu secara otomatis aja sih akan muncul, anak akan jadi prioritas utama. Kadang, nggak bohong, terasa jenuh dan ingin lepas sejenak. Manusiawi. Suami juga mengerti sekali akan hal itu, apalagi doi tipe orang yang bakal milih masak atau cuci clodi dibandingkan main sama Ken lama-lama, capek katanya. Apalagi Ken sekarang makin aktif merangkak kemana2, apa-apa mau dipanjat. Ngejagainnya ga boleh kalah aktif, fyuh.

Ok, balik lagi ke soal nonton di bioskop. Jadi solusi kami adalah dengan nonton bergantian. Suami yang juga kepengin nonton, biasanya akan ke bioskop sehabis pulang kerja dan akan pulang lebih malam dari biasanya. Ini supaya wikennya, doi bisa menghabiskan waktu bersama saya dan Ken. Nah, sebagai gantinya, suami bersedia untuk menjaga Ken selama film berlangsung asal sebelum masuk bioskop cah lanang kami ini harus disusui dulu. Alhamduliaah, punya suami pengertian dan saya tahu menghabiskan waktu berdua Ken untuk doi itu gampang-gampang susah. Akan lebih mudah kalau Ken mau minum ASIP, tapi sayangnya Ken tidak mau. Berhubung juga si gondut kesayangan makannya masih ciprit-ciprit, ya mau nggak mau tetap ngintilin ibunya ke mall walau nggak ikutan nonton. Jadi sebelum teater buka, saya sudah menyusui Ken sampai kenyang jadi ketika dijaga ayahnya Ken tidak akan rewel cari susu.

Redefine the meaning of dating (with spouse)
Yah, jadi nggak bisa nonton berdua suami dong. Sayangnya, harus begitu. Secara saya nggak pakai pengasuh dan nggak tega nitipin Ken ke mbautinya. Jadi, saya kasih tahu aja nih kondisinya ya begini, udah nggak bisa pacaran unyu-unyu berdua lagi kayak waktu jadi pengantin baru. Kadang kangen juga sih, sampe pengin deh sesekali nitipin Ken ke mbautinya. Tapi, tetep aja nggak tega kalau masih sekecil ini karena nggak bisa meleng sedikit. Mungkin kalau Ken sudah lebih mandiri, akan lebih mudah. Kata orang sih nikmatin aja selagi masih bisa nempel terus sama anak. Yaa, nikmati saja.

Appreciate Togetherness with The Kid
Kenyataanya, karena terlalu nempel sama Ken, saya jadi nggak konsen dong nontonnya. Waktu itu dapat waktu nonton jam 5 sore, which means di tengah film saya harus keluar bioskop buat sholat maghrib dan balik lagi setelahnya. Sebenernya, agak sedih juga sih karena mesti ninggalin film di tengah gitu. Tapi, saya jadi bersyukur, soalnya keluar bioskop ayahnya langsung nyamperin saya untuk jalan sama-sama ke mushola. Waktu itu, Ken dengan tampang melas minta gendong saya kayak udah lamaaa banget nggak ketemu. Mana, anak ini mulai bisa bilang “ibuu.. ibuubuu..” Hah, hati ibu mana yang nggak meleleh liat anaknya seperti itu. Jadi, yang biasanya Ken diajak sholat (sambil digendong pakai ergo) sama ayahnya, saya pun langsung bilang, “Ken sama aku aja deh sholatnya. Nanti gantian sama Rami.” Oiya, saya waktu itu nonton bareng seorang sahabat saya, Rami. Jadi, sembari nunggu Rami sholat maghrib, saya manfaatkan untuk nyusuin Ken lagi dan main dengannya. Duh, pas kayak gini aja penginnya deket2 anak terus. Padahal biasanya suka merasa bosan dan minta gantian jaga sama suami. Pas balim lagi ke bioskop, hape selalu ada di tangan. Takut suami tiba-tiba telepon karena Ken Rewel. Bolak-balik cek hape, yang bikin nggak konsen nonton. Padahal mah nggak ada apa-apa. Waktu film habis, yang biasanya saya nunggu sampai udah sepi, ini saya langsung ajak Rami buat ngacir keluar. Haaah, pengin ketemu Ken secepatnyaaa…

Alhamdulillaah, Ken baik sekali sama ayahnya. Walaupun, tetap sih ayahnya keliatan capek karena harus gendong-gendong Ken yang BB-nya udah sekitar 10kg selama +/- 2 jam. Mana, waktu itu lagi puasa. Huhu, I love you lah, ayah.. Setelah buka puasa, Ken saya gendong nggak lama dia tertidur sementara ayahnya makan dan nonton anime sambil ngelurusin pinggang.

Yeaay, mission accomplished afterall! Filmnya sih menurut saya nggak sesuai ekspektasi, agak kecewa sih (buat saya ratingnya 7/10 deh.. hahah turun dari sebelumnya). Jalan ceritanya terlalu sederhana dan karakter Cinta buat saya nggak lagi sama seperti dulu. Luv banget sama Milly yang kayaknya makin cerdas ya celetukan-celetukannya bikin ngakak. Tapi, cukup lah mengobati kekangenan saya dengan geng cinta. 

Semoga ayah nggak kapok dan saya lebih bisa menikmati here-and-now moment, jadi bisa lebih konsen lagi nontonnya. Tapi, masih belum tau juga sih kapan dam film apa yang biki  saya berkeinginan nonton di bioskop lagi.

Kalau kamu, pernah punya pengalaman serupa? ;)

                           


Salam,
Sawitri Wening

Thursday, April 28, 2016

Berkunjung Ke Perpustakaan Anak Cikini


Gara-gara melihat foto kopdar di Instagram salah satu komunitas ibu-ibu, saya jadi tahu kalau di kota Jakarta tercinta ini ada yang namanya Perpustakaan Anak Nasional. Mendengar namanya saja sudah bikin saya penasaran. Setelah cari tahu, ternyata perpustakaan tersebut terletak di Kawasan Taman Ismail Marzuki, tidak jauh dari rumah. Langsung semangat dong ajak suami saya kesana, secara cuma 10 menit kurang lebih naik motor dari tempat kami tinggal saat ini.

Sebenarnya, kami sudah kesana dua kali. Itu karena pertama kalinya kami kesana, sudah jam 4 sore. Alias perpustakaan anaknya sudah mau tutup. Yasudah, tidak menyerah minggu-minggu berikutnya kami kesana lagi. Waktu operasi perpustakaan anak ini adalah Hari Senin-Minggu pukul 9-11 pagi dan pukul 14-16. Iya, memang ada jedanya untuk istirahat.

Yang bikin saya penasaran mau berkunjung ke perpusatakaan ini sebenarnya karena di sana ada playground-nya. Berhubung Ken belum bisa baca, saya jadi tetap semangat ajak Ken kesini karena bisa main! Sekalian pengenalan juga kalau, “nak, ada tempat bernama surga di muka bumi ini. Tempat itu bernama perpustakaan. Bersenang-senang lah di sana, mulai dari sekarang.” Hahah, ibunya lebay. Tapi, punya anak yang mencintai buku itu, saya yakin impian banyak ibu. Semoga nanti Ken pun begitu. Duh, mulai colek diri sendiri buat beliin dan BACAIN Ken buku-buku.

Sampai sana, ketemu teman SMA saya yang ternyata bekerja disitu. Katanya, perpustakaan ini masih seumur jagung, berdiri pada Mei 2015. Dulunya gedung yang dijadikan perpustakaan ini, kalau saya nggak salah inget,adalah gedung arsip yang seinget saya juga nggak jadi satu dengan Kawasan TIM. Sekarang pintu masuknya jadi satu dan letaknya tepat di samping Galeri Cipta II.

Saya lihat koleksi bukunya sih masih belum terlalu banyak ya, kalau saya bandingkan dengan perpustakaan sekolah dasar tempat saya pernah bekerja dulu. Tapi, jenis bukunya cukup bermacam-macam dan dijamin bisa menyenangkan hati anak yang kutu buku. Oiya, perpustakaan anaknya ada di lantai 2 dan pengunjung wajib mengenakan kaos kaki supaya kebersihan tetap terjaga kali ya. Area playground ada yang lesehan dan yang semi outdoor untuk permainan yang membutuhkan kemampuan motorik kasar anak. Seru deh pokoknya. Ken aka senang meski agak bingung juga sih karena pertama kali diajak ke tempat seperti itu.

Nah, buat orang dewasa, jangan sedih. Di lantai 1 ada space khusus untuk buku-buku orang dewasa. Selain itu, tempatnya buat saya sih nyaman banget ya terutama bagi yang mau nugas sambil buka laptop. Di lantai yang sama juga ada musholanya. Lengkap deh, nggak khawatir kalau mau berlama-lama di sana, karena nggak repot kalau mau sholat sebentar. Yang nggak boleh ya bawa makanan dari luar.







Jadi, buat yang lagi cari tempat nongkrong pintar buat sekadar baca buku, nugas, atau bawa anak bermain, tempat ini cukup membahagiakan sih. Ah, seandainya jaman skripsian dulu udah ada perpustakaan ini, pasti bakal sering-sering ke sini.

Ini sebagian dokumentasi ketika saya, suami, dan Ken berkunjung kesana. Berhubung Ken masih baby, kami main-main aja. Malah ayahnya Ken yang kegirangan.









 Salam,

Sawitri Wening

Monday, February 22, 2016

Review Skin Care Berbahan Alami: Gizi Super Cream



Siapa yang nggak tahu Gizi Super Cream? Meskipun belum pernah menggunakan sebelumnya, saya sudah sangat familiar dengan produk ini. Kayaknya waktu jaman masih kecil, iklannya sering berseliweran deh di TV kalo saya lagi nonton film kartun. Plus, saya baru inget juga produk ini sempat nongkrong di meja rias ibu saya. Pas paket Gizi Super Cream sampai di rumah, ibu saya yang surprised karena sejak jaman masih muda, ibu ya pakainya Gizi Super Cream. Wow, berarti udah lama banget dong ya produk ini berkiprah di dunia perawatan kecantikan kulit wanita Indonesia. Dalam kemasannya pun tertulis kalau produk ini sudah laku di pasaran semenjak tahun 1972, ketika saya masih di awang-awang dan ibu saya baru beranjak remaja. Jadi penasaran kayak apa pengalaman menggunakan produk perawatan kulit legendaris yang berbahan alami ini.


Selain sudah ada sejak 40 tahun yang lalu, produk lokal ini dibuat dari 100% ekstrak 7 bahan alami yang mampu menutrisi dan mencerahkan kulit.  Apa aja tuh bahan alaminya? Ada rumput laut, lidah buaya, jeruk nipis, papaya, beras, bligo, dan kedelai. Teruuus… Gizi Super Cream ini udah pake nano technology, jadi krimnya gampang meresap di wajah dan pastinya membantu lebih efektif ya manfaatnya ke kulit. Yang paling penting, Gizi Super Cream sudah berserftifikasi halal dari MUI dan harganya relative terjangkau, guys. Jadi makin penasaran yak gimana… Oh, hampir kelupaan Gizi Super Cream juga bebas silicone, paraben, hydroquinone, mineral oil, dan colorant. Jadi, Insya Allah aman deh dipakai.




Gizi Facial Foam


 Ini yang baru dari rangkaian perawatan kulit Gizi. Mengutip dari webnya, ini dia fungsinya:
“Kandungan 5 bahan alami yang terdapat dalam Gizi Facial Foam membantu membersihkan kotoran, sisa make up, mengangkat sel kulit mati secara alami, mengurangi minyak berlebih di wajah sekaligus menjaga kelembaban lebih lama sehingga kulit tidak kering (mild formula), menjadikan kulit lebih bersih, dan tampak cerah.”
Waktu pakai pertama kali, sukaaaa banget sama wanginya yang lembut. Nggak bikin pusing kayak sabun muka kebanyakan yang wanginya kadang menusuk hidung. Terus, foamnya lembut dan sensasi setelah penggunaan, wajah terasa bersih dan kenyal dan emang bener mengurangi minyak berlebih. Untuk yang wajahnya berminyak, pas banget deh kayaknya pakai foam ini soalnya nggak bikin wajah terasa kaku meski kandungan minyak di wajah berkurang. Asik lah, bye wajah kilang minyak!

Gizi Super Cream Daily Nutrition Cream (Non SPF dan SPF 18)

Gizi mengeluarkan daily nutrition cream dengan dua varian, yaitu NON SPF (tutup tube berwarna hijau) dan SPF 18 (tutup tube berwarna kuning). Kemasannya oke ya karena berbentuk tube, jadi krimnya lebih terjaga higienitasnya . Semua ingredients-nya sama yang membedakan ya yang satu ada SPF 18 sehingga bisa digunakan kalau ingin beraktifitas di luar karena ada tabir surya yang mampu melindungi wajah sampai dengan 3 jam dan dapat berfungsi sebagai alas bedak juga. Sedangkan krim yang NON SPF bisa digunakan sehari-hari pagi dan malam.  Gizi Super Cream ini seperti yang sudah saya bilang ya, fungsinya menutrisi kulit, dan bukan pemutih tapi mampu memutihkan secara alami dan tampak natural.

Gizi Super Cream Daily Nutrition Cream (Non SPF)
Setelah menggunakan Gizi Super Cream NON SPF, alhamdulillaah sejauh ini cocok. Dulu males banget pake krim takut berminyak muka. Big NO banget deh pokoknya kalo ditawarin pake krim ini itu. Eh, tapi coba Gizi Super Cream ini sama sekali nggak bikin berminyak. Krimnya cepat menyerap di kulit. Nggak bikin beruntusan di kulit ataupun breakout. Tapi, saya kurang sreg dengan wanginya, mengingatkan saya dengan jamu. Mungkin karena dibuat dari bahan herbal kali ya jadi wanginya unik

               

Gizi Nutrition Cream with SPF 18
Tekstur dari Gizi Super Craim dengan SPF 18 ini lebih kental daripada yang non-SPF dan lebih terasa lengket, tapi sama sekali tidak terasa berat di kulit. Menurut saya sih gampang menyerap di kulit ya dan jatuhnya matte gitu di kulit. Wanginya sama uniknya dengan yang non-SPF namun tidak terlalu menyengat. Sejauh ini cocok di kulit saya dan tidak menimbulkan efek samping apapun dan lagi-lagi nggak bikin muka kayak kilang minyak.

Gimanaaa? Penasaran nggak cobain produk legendaris ini?
Untuk informasi produk dan lokasi pembelian, mampir yuk ke website dan social media Gizi Super Cream di bawah ini...

Facebook: GIZI Super Cream
Twitter: @gizisupercream
Instagram: @gizisupercream

Cheers,
SW

*Review ini ditulis berdasarkan pengalaman dan opini jujur penulis