Showing posts with label Live in Bristol. Show all posts
Showing posts with label Live in Bristol. Show all posts

Thursday, June 29, 2017

Lebaran di Bristol


Foto Keluarga Wajib dilakukan saat Lebaran
Tadi pagi, sambil menemani Ken sarapan, saya menonton acara berita di Kompas TV lewat layar laptop. Intermezzo sedikit. Selama di sini kami tidak ada TV, jadi kalau lagi mau nonton ya hanya bisa streaming website TV online atau nonton video di Youtube. Alasannya, pertama, bayar iuran tv di sini lumayan mahal. Kedua, sayang uangnya untuk beli TV, padahal cuma tinggal setahun di sini. Jadi, kami cukup memuaskan diri dengan laptop mungil kami saja. Lagipula, sebenarnya kami juga nggak terlalu doyan nonton acara TV. Lebih suka nonton film :'D

Menonton siaran berita pagi ini bikin saya makin kangen dengan Jakarta. Sekarang sudah mulai ramai arus balik ya? Ah, terbayang deh beberapa hari yang lalu gimana lengangnya Jakarta dan ramainya keluarga yang berkumpul di rumahnya masing-masing. Belum lagi hari-hari silaturahim ke tempat saudara-saudara yang selalu ditunggu (mmm... atau malah dihindari?). Beda sekali dengan suasana lebaran yang kami alami tahun ini di Bristol. Akhirnya merasakan jadi warga minoritas, dimana orang-orang di sekitar kita bahkan mungkin nggak tahu kalau saat itu kami sedang ada perayaan Idul Fitri. Tidak ada hiasan ataupun ucapan selamat yang bertemakan "Idul Fitri" di jalan-jalan atau di pusat pertokoan, berbeda sekali dengan perayaan natal, paskah, dan halloween yang ramai dan meriah. Meskipun begitu, Idul Fitri kali ini, tetap meriah di hati kami. Setelah beberapa kejadian yang menimpa beberapa tempat di Inggris akhir-akhir ini, saya bersyukur, perayaan Idul Fitri kami di sini berjalan dengan damai dan tetap menyenangkan.


Cerita di Pagi Lebaran
Kami bangun pukul lima pagi itu setelah tidur sebentar usai subuh. Saat ini, subuh di Inggris jatuh pada pukul 3 pagi. Sholat Ied di mesjid dekat rumah kami dijadwalkan mulai pada pukul setengah tujuh pagi. Kebetulan hari itu saya sedang berhalangan sholat, jadi saya sudah mempersiapkan diri untuk tidak ikut ke mesjid, dan menggunakan waktunya untuk memasak makanan lebaran kecil-kecilan a la saya. Memang sih, katanya ada anjuran meski sedang berhalangan, ada baiknya perempuan dan anak-anak datang ke mesjid saat sedang lebaran. Tapi, saya mengurungkan niat untuk ikut, mengingat pengalaman sholat idul adha di mesjid dekat rumah tempo hari. Jangan membayangkan mesjidnya besar dan luas seperti banyak mesjid di Indonesia. Mesjid Ash-Sahaba, dekat rumah kami, lumayan minimalis dan kalau sedang hari raya seperti ini jamaahnya bisa membludak. Idul Adha tempo hari, saya hanya bisa berdiri nyempil saking penuhnya. Makanya, dari pada saya menuh-menuhin tempat dan akhirnya mengambil jatah orang yang mau sholat, saya pun memilih untuk tinggal di rumah.

Ayah memutuskan untuk mengajak Ken ikut serta. Keputusan yang lumayan berani, heheh. Meskipun sudah terbiasa ikut ayahnya ke mesjid, tapi sholat ied itu kan biasanya memakan waktu yang cukup lama kalau dibandingkan dengan sholat fardu biasanya. Alasan ayah mengajak Ken, pertama karena Ken belakangan mulai mengurangi kebiasaanya lari-lari sendirian dan mau menempel ayahnya saat melihat orang asing. Kedua, supaya ibunya bisa leluasa masak untuk makan kami pagi itu. 

Masakan Sederhana di Hari Lebaran. No Ketupat, No Worries.

Alhamdulillaah, masakan beres sebelum ayah pulang. Rencananya kami mau makan bersama di tempat Mbak Gendis, salah satu tetangga di flat kami. Tidak lama kemudian, ayah dan Ken pulang ke rumah. Wajah ayah senyam-senyum saat masuk pintu rumah, dalam hati saya berpikir pasti ada sesuatu nih. 

Pertanyaan pertama yang saya lontarkan ke ayah pun adalah "Gimana tadi Ken di mesjid? Aman?" Ayah senyum-senyum lagi, lalu menjawab "Anak ini tadi matiin sound system di mesjid pas lagi sholat" 

Saya sempat melongok, lalu tertawa terbahak-bahak. Nggak kebayang pusingnya ayah waktu tahu Ken matiin sound system di mesjid.  Maaf ya ayah... "Terus gimana?"

"Akhirnya ada orang yang biasa jadi imam mesjid batalin sholatnya buat nyalai lagi sound system-nya" Ya Allah Keeeeen.... nggak tahu mesti bilang apa lagi :'). Yang pasti ini akan jadi cerita yang seru untuk diceritakan ke Ken kalau dia sudah besar nanti. Kamu pernah bikin heboh di mesjid bristol, Keeeen.... 


Berkumpul dengan Keluarga Indonesia di Bristol
Senangnya bisa kumpul bareng tetangga di tempatnya Mbak Gendis yang masak makanan enak. Ayam balado, tauco, dan opornya, enaaaak banget. Makasih ya Mba Gendis dan Mas Aav. Seperti biasa, tetangga kalau udah kumpul ngobrolin  apa aja ngalor-ngidul. Ada yang sambil nyuapin anak, ada yang sambil ngejar-ngejar anak, ada yang sambil main sama anak. Setelah Ken, Aisyah, dan Abang sukses ngacak-acak mainannya Ameera dan kami semua kenyang, kami pun pamit pulang. Hehehe, SMP banget yaaa... Soalnya jam 11 nanti kami ada rencana pergi bareng ke tempat salah satu orang Indonesia yang sudah lama ada di Bristol, namanya Bu Nuning. 

Sampai di flat kami, Ken ternyata mengantuk dan seperti biasa, kalau udah sambil menyusui gitu saya biasanya ikut ketiduran. Ayahnya Ken juga ketiduran dong. Alhasil, kami gagal jalan bareng ke tempatnya Bu Nuning karena baru bangun jam 12 siang. Akhirnya kami pergi ke tempat Bu Nuning dengan Mbak Nunuy dan Mas Huda (tetangga di flat kami juga yang ketiduran setelah pulang dari rumah Mbak Gendis :'D). 

Perjalanan ke tempat Bu Nuning cukup panjang, sekitar satu jam dengan bus. Alhamdulillaah, sesampainya di sana acara open house belum selesai. Sehingga kami masih bisa bertukar sapa dengan teman dan rekan Indonesia lainnya sekaligus masih bisa menikmati hidangan khas lebaran yang enak-enak. Meskipun nggak ketemu sama ketupat, tapi di sini kami ketemu dengan lontong~

Selama acara, Ken asyik bermain di mini playground yang sudah disiapkan untuk anak-anak. Saya juga sudah menyiapkan kado lebaran untuk Ken yang seharusnya diberikan saat acara, tapi karena kami telat, baru saya berikan saat sudah kembali sampai rumah.





Alhamdulillaah... Meskipun jauh dari rumah, kami masih bisa merasakan hangatnya perayaan idul fitri di negeri orang. Special thanks buat Arief yang udah mau ditodong buat foto keluarga kami dan foto-foto dengan teman-teman lainnya.

Nggak berasa, sekarang sudah mau memasuki bulan Juli. Artinya tinggal dua bulan lagi kami insya Allah akan pulang ke Indonesia. Nggak sabar merasakan hangatnya kumpul bareng keluarga. Baper juga ya lihat foto-foto silaturahim a la lebaran berseliweran di social media, apalagi dengar kabar kalau ibu sakit. Duh, pingin lari ke Heathrow lalu terbang ke Soetta. 

See you soon, Indonesia! Doakan semunya lancar ya di sini!

Cheers!
Sawitri Wening

Sunday, June 4, 2017

Ramadhan Pertama di UK & Buka Toko (Mini Giveaway!)


Ramadhan kali ini agak berbeda dengan yang pernah saya lewati sebelumnya. Ini adalah Ramadhan pertama yang saya jalani jauh dari orang tua dan jauh dari serba-serbi pertakjilan yang banyak ditemui di pinggir jalan menuju rumah. Yang paling berasa adalah... Ramadhan kali ini puasanya jauh lebih lama, yaitu selama kurang lebih 18 jam dalam sehari. Lama banget yaa... Nah, perbedaan waktu puasa ini ternyata berpengaruh banget ke perubahan waktu tidur dan aktivitas kami sekeluarga. 

Berhubung Inggris Raya sudah mulai memasuki waktu summer, saat siang hari pun jauh lebih panjang daripada malam hari. Waktu subuh itu sekitar pukul 3 pagi dan hari baru gelap setelah pukul 9 malam. Nah, kebayang nggak tuh gimana panjangnya. Menyenangkannya, suhu udara semakin bersahabat dengan tubuh penghuni garis khatulistiwa macam kami. Serius deh, kalau buka jendela lihat matahari mentereng rasanya bahagiaaa banget. Nggak usah lagi pakai baju berlapis-lapis, nggak perlu lagi pakai coat tebal, dan tangan nggak lagi kedinginan sampai kayak disayat-sayat rasanya waktu winter. Warga asli sini pun nggak kalah bahagianya kalau ketemu matahari, biasanya taman kota akan dipenuhi warga yang asyik tidur-tiduran di rerumputan sambil berjemur dan bercengkrama. Gaya fashion mereka pun ikutan berubah, dari yang kemana-mana pakai jaket/coat, sekarang udah mulai pakai baju yang terbuka. Bahkan pernah nemu juga yang topless waktu Bristol lagi panas-panasnya (Beneran deh 27 derajat celcius aja rasanya udah gerah banget... lalu saya ngebayangin suhu Jakarta -,-). Sekarang paham banget sih kenapa suka lihat bule-bule pake pakaian minimalis kalau di Indonesia. Rasanya pasti gerah banget.

Berhubung anaknya deadliner, saya udah merasakan puasa 18 jam duluan sebelum Ramadhan datang. Iyak, buat bayar hutang puasa tahun lalu yang belum lunas. Hari pertama itu lebay banget rasanya lemes banget dan nungguin maghrib kayaknya lamaaaa banget. Tapi, alhamdulillaah ya, berkat bayar puasa mepet saya malah jadi udah kebayang dan jadi terbiasa duluan puasa 18 jam. Tapi, jangan ditiru ya, tetap lebih tenang kalau bayar puasa jauh-jauh hari kok :'). 

Puasa sambil Menyusui
Terus, sekarang masih menyusui? Masih banget terutama kalau Ken tidur, dia masih bolak-balik bangun untuk mimik. Apa rahasianya biar kuat puasa 18 jam sambil menyusui? Kalau Ramadhan tahun lalu, senjata pamungkas saya adalah jus susu korma yang enak itu lho (cek resepnya di sini) dan emang menurut pengalaman saya emang berpengaruh banget buat jaga energi selama puasa. Masih kebayang dulu setiap abis menyusui, rasanya pengin makan nasi sebakul. Tapi, sekarang ternyata nggak bisa bikin itu karena nggak punya blender, hahaha cetek banget alasannya. Jadi, strategi menjaga stamina saat berpuasa sambil menyusui a la saya adalah sebagai berikut:
- Selalu sedia kurma setiap buka dan sahur
- Makan daging merah setiap sahur
- Makan nasi saat sahur dan berbuka (terbukti, pas buka puasa pakai pizza aja besoknya lemes)
- Minum susu/jus buah/buah saat sahur
- Minum minyak ikan dan habbatusauda
- Minum air putih yang banyaaaaak saat sahur dan berbuka

Perubahan Jam Tidur
Nah, ini dia nih yang juga lumayan signifikan bedanya. Kalau biasanya paling nggak saya tidur jam 12 malam maksimal, sekarang baru bisa beneran tidur setelah subuh atau sekitar pukul 4 pagi. Biasanya bangun lagi pukul 9 pagi (itu juga karena dibangunin Ken biasanya). Soalnya waktu antara buka puasa dan sahur itu lumayan dekat. Coba deh bayangin, buka puasa jam 9:20 malam (lanjut sholat maghrib, makan malam), Isya sekitar pukul jam 11 malam (masih lanjut tarawih) dan harus sahur paling nggak jam 02:30 pagi. Kayaknya kalau abis tarawih terus tidur, alamat bakal lewat sih sahurnya.

Kebetulan rumah kami di Bristol sangat dekat dengan masjid, jalan kaki kira-kira 5-10 menit. Jadi, suami biasanya selalu menyempatkan untuk isya dan tarawih di masjid sampai kira-kira pukul 12 malam. Sementara saya biasanya baru bisa Isya saat Ken sudah tidur. Oiya, saya udah bilang belum sih kalau semenjang masuk spring, jam tidur malamnya Ken ikutan berubah. Nggak ada deh ceritanya Ken tidur dibawah jam 10 sekarang karena menurut tubuhnya, malam itu baru dimulai pukul 9 malam. Akhirnya, dia baru akan tidur paling tidak pukul setengah 12 malam. Sebenarnya ada untungnya juga sih yak arena jam tidurnya Ken kurang lebih mengikuti jam tidur kami. Tapi, waktu me-time dan berduaan sama suami jadi terbatas banget rasanya, hahahah. Karena kedua hal itu hanya bisa dilakukan saat anak tidur, iya kan buibu? Hari ini anaknya lagi tidur lebih cepat, jadi saya bisa nulas-nulis di sini deh #momsproblem ;)

Jadi, beda tempat dan beda waktu tantangan ibadahnya juga bisa berbeda ya. Alhamdulillaah masih kuat dan mampu menjalani puasa yang cukup panjang di sini. Mudah-mudahan sehat selalu dan bisa konsisten. Semoga Ken juga nggak banyak drama karena masa toddler itu ya ampun tiada hari tanpa drama ya ternyata. Pengin ketawa aja rasanya lihat tingkah polah si Ken yang makin ceriwis dan makin kepo.


Buka Toko @Bawana.ID & Mini Giveaway
Nah, karena udah masuk Ramadhan tahun ini, berarti sebentar lagi saya akan balik ke Indonesia. Insya Allah rencananya pertengahan September ini. Rasanya campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akan ketemu orang-orang kesayangan lagi, ketemu nasi padang, nasi uduk, pempek, cilok, aaah…. Sedihnya karena sudah mulai nyaman tinggal di sini tapi harus meninggalkan semuanya. Rasanya setahun itu kok cepaaat sekali ya.

Dalam rangka itu pula, akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko jasa titip dan PO barang-barang dari UK. Lumayan lah ya bisa tambah-tambah penghasilan sambil bantu teman-teman yang lagi butuh cari barang-barang dari UK. Ayo, ibu-ibu yang mau nitip barang apa aja dari UK dengan harga lebih murah bisa langsung cuuus ya kontak aku. Hahaha, ternyata postingan terselubung…

Dalam rangka syukuran buka toko di Bulan Ramadhan ini, saya mau bagi-bagi hadiah buat 4 orang beruntuuung. Hadiahnya ada buku kece dari penerbit Usborne yang judulnya “See Inside Your Body”. Ini baguuuus dan wajib banget ada di lemari buku anak-anak kita karena bikin pelajaran biologi soal anatomi tubuh manusia jadi lebih fun. Nggak usah anak-anak, emak-emak kayak saya aja senang bacanya. Bahagianya tinggal di UK itu buku anak-anak yang keren-keren harganya bisa jauh lebih murah dibandingkan harga di imported book section di toko buku Indonesia.

image from here
Hadiah keduanya ada Ted Baker Lip Balm. Iyaaa, salah satu brand incaran kalau belanja di Inggris ya Ted Baker London. Kayaknya semua orang tahu ya kalau brand ini asalnya dari London. Karena itu harga tas atau baju-bajunya bisa sangat jauh lho dari toko yang ada di Indonesia. Aku baru tahu juga ternyata mereka mengeluarkan produk body care dan parfume. 

image from here

Hadiah terakhir, 2 buah voucher belanja senilai @Rp 50.000,- di @bawana.id untuk 2 orang beruntung,

Caranya gimana?Gampaang... Langsung aja ke akun instagram @bawana.id atau klik gambar di bawah ini dan ikuti instruksi yang ada di captionnya ya.



🌷FOLLOW akun Instagram @bawana.id (Pastikan akun tidak dikunci ya)
🌷LIKE postingan ini (postingan asli @bawana.id)
🌷REPOST Postingan ini dan gunakan hashtag #pobawanaid dan #giveawaybawanaid
🌷MENTION 5 teman kamu untuk ikutan giveaway @bawana.id di komen postingan ini (postingan asli @bawana.id)
●
●
🌟Periode Giveaway 31 Mei -27 Juni 2017
🌟Pemenang akan dipilih secara acak dan bersifat mutlak.

🌟Hadiah akan dikirim pada bulan September 2017. Free Ongkir Jabodetabek!

Semoga beruntung dan selamat menjalani ibadah Ramadhan semuanyaa!!



Cheers!

Sawitri Wening

Wednesday, April 5, 2017

First Family Hiking at Cheddar Gorge, Somerset (Part 1)

Rasanya baru kemarin saya bermimpi bergandengan tangan dengan orang yang saya sayangi, sambil menyusuri jalan menanjak di antara hutan dan melepas pandangan jauh, di atas bukit, ke hamparan pemandangan alam dan perkotaan yang terlihat begitu kecil, namun mengagumkan. Mimpi sederhana seorang gadis rumahan yang ingin diajak berpetualang dengan pasangannya kelak.  

*
Perjalanan menuju Cheddar. Iya, ibu pura-pura tidur...
Minggu lalu, suami saya mengajak saya pergi ke Cheddar Gorge. Sebuah tempat yang pertama kali kami dengar dari Mbak Rosi, saat para mahasiswa Indonesia di Bristol sedang berkumpul di College Green untuk memperingati hari sumpah pemuda. Tempatnya indah, ada gua, dan tebing-tebing, katanya. Yang paling menarik di telinga saya, sebagai seorang pecinta keju, adalah di sana ternyata tempat asal mulanya Keju Cheddar, sesuai dengan nama tempatnya ya. Tentu saja, saya langsung semangat menerima ajakan suami saya. Walaupun jujur saja, saya belum benar-benar terbayang seperti apa sih Cheddar Gorge itu, meskipun sudah pernah sekali browsing tentangnya. Pokoknya mah diajak jalan-jalan ke tempat baru sama suami, bayangannya pasti seru!

Tidak ada persiapan khusus. Seperti biasa, kalau suami saya mengajak jalan-jalan, urusan cari-cari tahu lebih detilnya baru akan dilaksanakan H-1. Lagipula, kami bukannya pergi ke tempat yang jauh--walau kenyataanya akan terasa jaaaauuuuh sekali. Akhirnya, suami saya pun bertanya pada seorang temannya yang pernah ke Cheddar Gorge sebelumnya. "Besok pakai sepatunya jangan yang licin, soalnya jalannya menanjak" begitu pesan pak suami. "Jadi, kita beneran nggak bisa bawa stroller?" Tanya saya polos--oh, semenjak tinggal di Bristol, stroller sudah seperti rumah keduanya Ken. "Nggak kayaknya, nanti Ken aku gendong aja." Saya melongo seraya bertanya, "sanggup?" Jawabannya nggak usah saya ceritain ya. Soalnya kalo dia jawab "nggak" ya sudah, bubar rencana kita 😂.

Paginya di hari keberangkatan, Selasa (4 April 2017) itu, saya bangun kesiangan. Semenjak masuk spring, Ken tidur hampir jam 11 malam, rupanya tubuhnya menyesuaikan dengan kapan  waktu menjadi gelap. Saat itu, jam 7:30 malam saja belum maghrib. Jadi, ya sudah bangunnya pun jadi siang, saya juga ikutan karena waktu istirahatnya Ken sama dengan waktu istirahat saya, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya 😛. Alhasil, kami pun baru berangkat sekitar pukul 11 pagi. Perbekalan kami simple aja (karena nggak sempat masak) hanyalah sandwich foot-long subway dua buah, air satu botol, dan snack (veggies straw-snack, biscuits, dan Ella's Kitchen's smoothies) untuk Ken. Tidak lupa, sebelumnya suami saya membeli pulsa telepon untuk kebutuhan gps, daripada kesasar. Ya, semenjak tinggal di sini, kami hampir tidak pernah isi pulsa hp karena wifi sudah dimana-mana, jadi kalau tidak karena butuh sekali ya biar saja mas operator bilang "zero..zero.." terus. Full charged power bank  dan kabel-kabelan pun tidak ketinggalan. Semuanya tersimpan rapi di dalam carrier hijau neon milik ayah, yang hari itu saya bawa. Sementara ayah bawa gembolan ergobaby yang beratnya 2-3x dari carrier yang saya bawa, yaitu Ken. 

"Perjalanannya kurang lebih 2 jam," begitu kata ayah. Duh mak... Saya tadinya sudah menyiapkan V-Fresh sebelum berangkat, tapi karena Ken merengek bilang "Ken mau pegang..., Ken mau pegang..." jadinya ketinggalan deh. Belajar dari perjalanan panjang ke Bath dengan bus tempo hari, perut saya ini suka agak norak kalau naik bus lama-lama, alias mabok darat. Tapi, yasudah lah, karena amunisinya terlanjur ketinggalan, rintangan berat pun harus dihadapi *nangis di pojokan 😥.

Perjalanan menuju Cheddar Gorge
Sebelum sampai ke Cheddar, kami harus menaiki bus dulu sekitar satu jam lebih menuju Wells. Kami memutuskan untuk naik bus dari Coach Station. Alasannya sih supaya lebih hemat karena lihat di website first bus, naik bus ke Wells bisa dapat potongan harga sekian persen. Tapi, ternyata itu hanya khayalan belaka 😅. Akhirnya kami memanfaatkan diskon student-nya ayah saja deh. Harga tiket bus return dari Bristol - Wells adalah £6,5 (adult) dan £5,5 (student), kalau di bawah 5 tahun masih gratis. Sampai di Wells Bus Station, naik lagi bus dari Wells - Cheddar £7 (one-way) sudah berdua, sekitar 30 menit kalau tidak salah.


Saya mau cerita hal mengenaskan sekaligus mengharukan, tapi juga ada menjijikannya, sekaligus membahagiakan (terutama buat saya). Ya, ini tentang mabok darat yang udah saya singgung-singgung tadi. Jadi, kami memilih duduk di lantai atas bus, di kursi paling belakang. Alasannya supaya lebih leluasa aja. Tahu kan gimana mobile-nya balita umur 19 bulan. Daripada mengganggu penumpang lain kan. Tapi, keputusan itu salah besar buat saya yang suka mabok darat ini. di 3/4 perjalanan, saya udah benar-benar nggak tahan, saya pun sibuk mencari plastik, di dalam tas, yang saya gunakan untuk membungkus sepatu Ken. Bayangin, sambil nahan cairan hangat membludak dari dalam mulut saya. Dan, yes! saya berhasil muntah di plastik. Lega deh, beneran lega sekaligus nggak mengotori bus. Ternyata kelegaan tadi hanyalah semu, nggak lama kemudian, saya muntah lagi. Terdengar ayah bilang ke Ken, "Ken, tuh lihat ibu kasihan pusing, lagi muntah Ken." Anak ini sudah tahu yang namanya mengasihani, seringkali dia menunjukkan perasaan iba. Dia pun memaksa mendekati saya sambil menyebut, "ibu...ibu... mau pewuk ibu..." dengan nada cemas. Terharu sekali saya dibuatnya, tapi sekaligus ingin bilang, "makasih, Ken.. Tapi, jangan sekarang, ibu lagi maboook..." Saya yang belum tuntas dengan urusan permuntahan dan masih memegang plastik berisi cairan hangat itu, mesti meladeni Ken yang kekeuh mau memeluk ibunya. Hingga mimpi buruk pun terjadi...., muntahannya tumpah dari plastik ke lantai bus 😑. Hening sesaat. Saya langsung mengajak Ken pindah kursi dan bilang ke ayah sambil lemas, "Yah, muntahnya tumpah. Plastiknya bolong." Dari wajahnya, saya bisa lihat kalau ia tahu saya sedang minta tolong. Saat itu lah derajat ketampanannya meningkat sekian derajat dalam sekejap. 

Dia bisa saja mengajak saya pindah kursi, meninggalkan bukti kejahatan saya menggenang di lantai bus, di antara sela-sela kursi. Tapi saya tahu, suami saya bukan orang yang seperti itu, makanya saya meminta tolong. Bisa tebak apa yang dilakukannya? Kami hanya tinggal punya beberapa lembar tissue basah di tas, satu sudah saya pakai untuk bebersih, sisanya habis saat itu juga, ia gunakan untuk membersihkan lantai bus yang terkena genangan asam lambung saya 😰. Saya nggak henti bilang "sorry" saat dia bekerja keras membersihkannya seorang diri, sampai bersih, tanpa mengeluh sedikitpun. Entahlah tangannya berbau seperti apa setelah itu. Alhamdulillaah, nggak lama kami sampai di Wells. Bus ke Cheddar datang sekitar setengah jam lagi. Saya menunggu di dalam ruang tunggu dan dia mengajak Ken ke Tesco untuk cari minuman dan tissue basah. Pengertian sekali ❤.
Istirahat sejenak di dalam ruang tunggu Bus Station Wells

Dari Wells ke Cheddar... masih jauh ternyata

Ayah dan Ken datang bawa tissue basah dari Tesco di seberang jalan
Kejadian tadi mengingatkan saya saat masa melahirkan dulu. Saat saya kesulitan bangun dan pispot harus dicabut. Dia yang membantu saya tertatih pergi ke toilet, menolong pelan-pelan, membersihkan dan membasuh saya sampai bersih. Duh, jadi terharu... Di sini lah saya semakin yakin kualitas seperti apa yang ada dalam diri suami saya dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Ah, belum apa-apa perjalanan ini sudah memberi pelajaran berharga 😊.

Saat sampai di Cheddar saya kembali berterima kasih kepadanya. "You probably have done the most disgusting job in this world, yah.. Thank you yaa.." Kata saya sambil terengah-engah menaiki tangga Jacobs & Ladder Tower. Dia hanya menjawab, "Itu nggak seberapa dibandingin perjuangan kamu melahirkan."

Terminal Bus Wells siang itu...

Bersambung ke postingan selanjutnya ya...

Have a good day!

Sawitri Wening

Sunday, February 19, 2017

Trip to Blaise Castle

Photo credit: Mba Nunuy

Jadi, hari Sabtu kemarin kami melakukan perjalanan random. Saya jadi kangen jalan kaki random yang suka saya lakukan dengan sahabat saya waktu kuliah dulu. Iya, jalan kali nggak jelas arah tujuannya sambil ngobrolin hal apa aja yang kita suka. Mulai dari ngelilingin kampus di Depok, jalan-jalan ke daerah Taman Suropati, atau jalan di sepanjang Jalan Margonda yang ramai. Rasanya ingatan itu kembali bangkit ketika kami memutuskan untuk ikut ajakan Mas Huda dan Mba Nunuy ke Blaise Castle pagi itu. Katanya tempatnya tak jauh dari tempat pengajian yang memang mau kita datangi siang itu.

*

Bermula dari drama pagi hari, ketika ayahnya Ken tak kunjung pulang dari mesjid untuk sholat subuh. Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah delapan pagi, dan langit sudah terang. Masalahnya, ayahnya Ken nggak bawa hp, jadi saya nggak bisa ngecek. Panik lah saya, karena nggak biasa-biasanya kayak gini. Biasanya abis sholat subuh di mesjid, dia sudah di rumah lagi sebelum matahari terbit. Jadi, saya tanya tetangga yang biasa sholat subuh di mesjid juga, tapi ternyata hari itu lagi nggak subuh di mesjid. Saya tetap menyuapi Ken, tapi kopi saya sudah dingin sebelum diseruput dan perut sama masih kosong. Mana lah nafsu makan kalau cemas memikirkan suami yang nggak ada kabar. Deuh, udah deh pikiran dah kemana-mana. Mengingat kami sedang ada di negeri orang dan banyak hal yang belum familiar ada di sini, sehingga hal yang saya pikir biasa-biasa aja kalau di Indonesia, jadi nggak biasa. Akhirnya, Mas Huda atau Abay menawarkan untuk menyusul suami saya ke mesjid. Nggak lama, dia sampai rumah cengengesan, pasti karena paham banget kalau istrinya sebegitu cemas sampai tetangga nyariin dia ke mesjid. Singkat cerita, a lesson has learned. 

"Diajakin Mas Huda tuh ke Blaise Castle, katanya dekat rumahnya Bu Bibah. Sekalian ajak Ken main," kata suami saya. Tumben saya pagi itu nggak mager keluar rumah, biasanya suka mager alias males gerak. Soalnya mikir Ken pasti senang kalau bisa main di luar ada temannya, jadi saya mengiyakan.


*

Iya, sempat googling dulu seperti apa sih castle-nya. Oh, iya biasa aja sih bukan bangunan besar dan banyak ornamennya, tapi kayaknya seru juga bisa ajak Ken jalan dan lari di rerumputan. Tapi, kami nggak ada yang tahu kalau jalan menuju ke castle itu adalah sebuah perjuangan, hahahah. Jadi, pikir saya begitu turun bus, jalan sebentar langsung ketemu castle-nya. Jadi, kostum pun menyesuaikan dengan acara utama aja, yaitu ke pengajian. Pakai rok jersey dan flat shoes. Ternyata, mesti masuk hutan dong. Beneran hutan, nggak ada petunjuk, jalannya masih tanah basah gitu, dan karena letaknya di atas bukit, jadi mesti dorong-dorong stroller nanjak. Ah, seru lah!

Di pintu masuk area ini, ada playground yang bisa dinikmati mulai dari toddler sampai adult juga bisa kayaknya dan nggak jauh dari situ,  ada museum "Blaise Castle House" tapi hari itu sedang tutup. Jadi, kami memutuskan untuk mencari castle-nya karena bangunannya dari luar nggak kelihatan sama sekali, di atas bukit dan tertutup pepohonan. Makanya juga kami sempat nyasar dan ada adegan di kejar anjing segala, hahhaha. Jadi, ternyata tempat ini semacam dijadikan tempat buat orang-orang yang mau membiarkan anjingnya bermain di alam bebas. Jadi, anjing-anjing itu nggak ada yang dikasih tali dan hilir-mudik banyak banget, dan kami semua karena nggak terbiasa jadi horor sendiri, huhuhu... 

Di depan museum Blaise Castle House

Setelah tanya orang karena nggak yakin, jalannya turun, ternyata benar kami salah jalan. Akhirnya balik lagi dan mesti nanjak naik melewati jalanan yang nggak disemen ataupun diaspal, intinya nggak ramah stroller kecil. Untungnya stroller yang kami bawa bannya besar. Di tengah perjalanan, kami menemukan dua cabang jalan yang satu agak terjal, tetapi lebih dekat dan satunya lagi tidak lebih terjal tetapi harus lebih memutar. Kami memilih jalan yang kedua karena membawa stroller. Tak lama, kami memutuskan untuk meninggalkan stroller kami karena ada jalan tembus yang tidak mungkin bisa dilewati stroller besar seperti yang kami bawa. The babies pun akhirnya di gendong, dan tak lama kemudian sampai lah kami di tempat bangunan tua itu berdiri, Blaise Castle!

Ini dia Blaise Castle itu... Looks a bit creepy ya...

Ayah siap-siap ngangkut Ken dari Stroller buat nanjak naik, Strollernya kami tinggal.

Jalan kecil menanjak menuju puncak bukit


Foto dulu sama Ken dan Abang Wafi

Saya lagi suka iseng bikin video soalnya seru nggak sih bisa diputar lagi nanti kalau lagi pengin nostalgia. Ini dia video keseruan kami mencari Blaise Castle:



Sebenarnya, ini tempat yang bagus untuk mengenalkan anak ke alam terbuka. Anak bisa latihan hiking di sini. Kalau Ken sudah lebih besar, pasti saya ajak ke sini biar dia bisa berjalan sendiri menikmati tanah basah, rumput, kayu-kayu, dan hijau daun seperti yang abang lakukan kemarin. Kalau kesini, jangan lupa juga pakai baju yang nyaman dan bebas bergerak, sepatu yang tidak gampang licin, dan perlengkapan piknik. Ketemu satu keluarga yang ke atas langsung gelar makanan, menikmati waktu bersama orang tersayang di atas bukit menghadap ke pemandangan di bawahnya. Menyenangkan sekali~


Sekian dulu cerita kali ini. Kalau kamu apa aja yang dilakukan bersama keluarga atau teman di akhir pekan ini?


Cheers!

Sawitri Wening

Sunday, February 5, 2017

Hal Baru Ketika Berada di Bristol (Part 2)




Halo! 

Kali ini saya mau sharing lagi tentang hal-hal baru apa yang saya temui ketika tinggal di Inggris, atau lebih tepatnya di Kota Bristol. Heheh, part sebelumnya, judulnya sengaja saya ganti soalnya ternyata kebiasaan satu kota dengan kota lainnya bisa berbeda-beda. Contohnya saya rasakan sekali waktu saya ke London, di mana sistem transportasi di sana sudah terkoneksi satu dengan lainnya, moda transportasi dan pembayarannya pun agak berbeda dengan yang ada di Bristol, dan mungkin masih banyak lagi perbedaan lainnya. Jadi, ini beberapa hal baru lainnya yang menurut saya berbeda dengan apa yang saya biasa temui di Jakarta.

1. Self-Check Out di Supermarket
 Di mini market ataupun supermarket di sini, tersedia yang namanya mesin "self-check out" dimana pembeli bisa melakukan pembayaran tanpa melalui kasir. Jadi, kita scan sendiri barangnya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik sendiri (ini bisa memilih, mau beli plastik atau tidak). Karena self-service biasanya pembayarannya hanya bisa menggunakan kartu. Tapi, ada juga sih yang bisa menggunakan cash, tapi hanya menerima nominal uang tertentu. Self-service semacam ini juga diterapkan perpustakaan, dimana pengunjung bisa meminjam dan mengembalikan buku tanpa melalui petugas. Menurut saya, ide ini bagus sih. Membuat waktu berbelanja lebih efisien karena melayani sendiri, jadi proses transaksi jadi lebih cepat. Proses belajar dibawah aja yang bikin lama, tapi kalau udah biasa lumayan menghemat waktu.



 2. All day Ticket Bus
 Biaya transportasi di sini mahal, saudara-saudara. Berasa banget kalau diconvert ke rupiah. Kalau di Jakarta naik bus hanya sekitar Rp 5000-12000 atau bahkan bisa lebih murah dengan ojek online. Di sini, kalau naik bus minimal kita mesti mengeluarkan uang £1 (atau sekitar 17 ribuan) untuk 3 stops pertama. Mungkin jumlah itu nggak seberapa untuk sebagian orang, tapi untuk kami, percayalah jumlah segitu lumayan berasa apalagi kalau naik bus terus-terusan bisa bikin budget bulanan defisit karena memang alokasi budget per bulan kami nggak banyak. Oke sekian curhatnya. Nah, enaknya kita bisa beli one day ticket itu sekitar £4 bisa dipakai ke mana aja sampai puas dalam satu hari itu (kalau untuk yg outer area kalo nggak salah sekitar £6.5). Kalau mau berhemat lagi ada yang namanya tiket mingguan atau bulanan. Bahkan kalau student bisa dapat diskon lagi. Tapi, terbayar lah ya jumlah segitu dengan fasilitas yang nyaman dan pengelolaan transportasi yang profesional dan bersih. Bisa nggak ya transportasi di Indonesia bisa senyaman ini. Yang sudah mulai terasa sih kereta ya, menurut saya. 

3. Nggak ada Susu UHT
Serius selama saya di sini, belum pernah sekalipun nemu susu UHT yang satuan gitu lho kayak macam ultramilk. Ini penting banget lah buat ibu beranak satu yang usianya udah di atas satu tahun, buat minuman rekreasional. Alhasil, Ken kalau lagi iseng aja ikut minum susu cair pasteurisasi ayah-ibunya atau makan yoghurt atau susu almond. Nggak masalah sih, tapi aneh aja karena di Indonesia super gampaaang cari susu uht kotak, ya kan?

 4. Suitable for Vegetarian/Halal Food 
Kalau di Indonesia, yang saya lihat kalau beli makanan adalah label bundar berwarna hijau bertuliskan "halal" dari MUI, di sini yang di lihat adalah label bundar dengan tulisan "suitable for vegetarian". Label ini banyak, banyaaak banget ada di kemasan makanan. 

 6. Rawan Maling Sepeda
Beberapa waktu lalu, suami saya kehilangan seped yang di parkir di depan rumah, huhu. Memang kalau nggak mengalami sendiri nggak akan tahu seberapa rawannya kasus maling sepeda di sini. Pantas saja di jalan-jalan sering ada tulisan untuk para pesepeda harus berhati-hati dengan pencurian sepeda. Malah menurut berita ini paling tidak ada 5 sepeda yang hilang setiap harinya di Bristol. 


7. Midwife Visits (post-natal)
Di Bristol, setiap ibu yang habis melahirkan akan mendapatkan kunjungan bidan, kalo nggak salah selama 10-14 hari (source: nhs.uk). Fungsinya apa? Selain memantau perkembangan bayi kayak berat badan, cek jaundice, dsb. Kunjungan bidan ini juga memperhatikan kondisi ibu pasca melahirkan. Jadi, kita nggak usah capek-capek ke klinik cukup duduk anteng aja di rumah, dan bidan akan datang untuk membantu. Menurut saya program ini baguuuus banget karena seperti yang kita tahu, ibu pasca melahirkan itu umum mengalami masalah-masalah seperti baby-blues, puting lecet, pusing, lelah berlebih, dsb. Kebayang kan betapa bermanfaatnya kunjungan ini untuk membantu menjaga kesejahteraan jiwa dan kesehatan ibu. 

8. Wajib Vaksin Flu
 Kalau di Indonesia, Vaksin flu itu ibaratnya hanya vaksin tambahan aja atau nggak wajib. Di sini vaksin flu itu wajib terutama kalau udah masuk winter karena virus flu lebih bisa bertahan di suhu dingin, di tambah saat winter sinar matahari berkurang (karena siang yang lebih pendek dan biasanya lebih sering mendung). Ken yang juga termasuk jarang flu atau kalau flu biasanya sembuh dalam seminggu, sebelum dapat vaksin, dia meler atau ingusan terus selama berminggu-minggu. Setelahnya, Alhamdulillaah sehat wal afiat. Oiya sekadar informasi, di sini umunya vaksin flu untuk anak itu diberikan lewat hidung. Tapi, setelah saya cari tahu, dimention juga di web nhs, nasal flu vaccine ini mengandung porcine gelatine (gelatin babi). Jadi, untuk Ken kemarin saya request untuk injeksi saja. Vaksin di sini gratis dan kalau mau ambil mesti bikin appointment dulu, umumnya nunggu selama 2 minggu. 

9. Charity Shop/Second-Hand Stuff
Hal baru lainnya adalah tentang charity shop. Saya kurang familiar dengan istilah ini saat di Indonesia. Nah di sini, saya menemukan cukup banyak toko-toko yang menjual barang dimana hasil penjualannya digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Biasanya yang dijual adalah barang-barang secondhand. 


10. Banyak Older Workers 
Di sini, sering sekali lihat orang tua masih bekerja. Usianya semuanya mungkin sekitar di atas 50 tahun. Bekerja sebagai penjaga kasir di toko besar, sebagai petugas admin di perpus, tukang bangunan, petugas klinik, dsb. Hal yang menurut saya cukup jarang ditemui di Indonesia, apalagi untuk pekerjaan frontliner. Saya sendiri takjub waktu lihat banyak nenek-nenek jadi kasir di Primark. Tapi, kalau dilihat sekilas memang kebiasaan di sini membuat para older people lebih sehat, contohnya aja dengan jalan kaki. Saya seriiiing banget lihat orang tua yang sudah jompo, masih jalan-jalan sendiri naik-turun bus hanya dengan bantuan trolley, tanpa ada orang lain di sampingnya. Dari hasil baca-baca, kenapa banyak orang tua yang tetap mau bekerja walau udah masuk usia pensiunnya, salah satunya (selain mungkin karena uang ya) adalah untuk menjaga well-being. Banyak yang merasa dengan mereka tetap produktif, mereka akan merasa lebih sehat fisik maupun mental karena tubuh tetap diminta untuk bekerja. Mempekerjakan older people ini juga diatur sama ketenagakerjaan di UK, jadi employer tetap mesti memperhatikan waktu dan beban kerja yang diberikan. Such a good thing, isnt it?

Okay, sekian dulu sharingnya ya. Mungkin nanti akan ada part-3 nya karena saya yakin masih banyak banget yang bisa dieksplor. Mmm, kalau lagi ngomongin ini pasti suka iri sendiri deh sama negara maju yang memang apa-apa terasa lebih nyaman. Saya suka ngobrolin hal ini sama suami saya tentang kapan ya Indonesia bisa semaju di sini. Fasilitas di sini memang bisa di bilang lebih baik, tapi semua itu nggak akan jadi nyaman kalau warganya nggak sadar untuk ikut mejaga. Contohnya, nggak coret-coret bus, budaya mengantri, nggak buang sampah sembarangan, dan yang penting adalah kejujuran.

Cheers!

Sawitri Wening






Sumber:

1. http://m.bristolpost.co.uk/bikes-day-stolen-bristol/story-28594497-detail/story.html
2. http://sitn.hms.harvard.edu/flash/2014/the-reason-for-the-season-why-flu-strikes-in-winter/ 
3.https://www.google.co.uk/amp/s/amp.theguardian.com/lifeandstyle/2015/aug/01/still-working-aged-in-70s-80s-90s
4. http://www.expertslikeyou.com/wp-content/uploads/2015/09/welcome-to-bristol.jpg
5. http://riyadhconnect.com/wp-content/uploads/2013/09/self-service-counter.jpg

Saturday, November 19, 2016

Hal Baru Ketika berada di Bristol (Part 1)

Menunggu Bus
Haaai! Gimana kabarnya?

Kali ini cerita random aja sih. Tentang hal-hal baru apa aja yang saya temui selama tinggal di Bristol, berikut dengan ke-norak-annya, hahaha. Maklum, ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Jadi banyak hal baru yang bikin saya terperangah sendiri karena jarang atau bahkan nggak pernah saya temui di Jakarta. Ini beberapa diantaranya.

1. Family Room
Begitu sampe Bandara Heathrow, London. Yang pertama dicari sebagai ibu menyusui, so pasti dong... ruang menyusui. Cari Nursery Room nggak ketemu dan orang yang ditanya bingung. Ternyata di sini nggak pake istilah "Nursery Room" tapi "Family Room" dimana bapak juga bisa ikutan masuk. Jadi nggak khusus untuk ibu-ibu aja. Ruangannya cukup luas. Isinya juga nggak cuma untuk menyusui dan ganti popok aja, tapi juga ada toilet untuk orang dewasa. Bagus juga sih kayak gini. Jadi kalo lagi berkeperluan, ayahnya Ken nggak usah nunggu bengong di luar. Konsep kayak gini katanya di Indonesia udah ada ya, seperti di AEON Mall  dan soon ada di PIM #CMIIW.


2. Stroller bisa masuk bus umum
Waktu mau balik ke terminal bus dari hotel, kita sempet bingung barang-barang kita mau ditaro dimana nanti ya di bus. Secara bawa 3 koper gede plus stroller dan tentengan segambreng. Kebayangnya bus di sini modelnya kayak metromini/kopaja cuma versi lebih gede, hahah. *polos sekali diriku* Nggak tahunya, nggak! koper tinggal masuk aja dan stroller nggak perlu dilipet soalnya ada space besar di bagian depan khusus wheelchair (biasa juga digunakan untuk meletakkan stroller). Berhubung waktu itu lg kosong, jadi supir bus nggak protes kita naikin koper segitu banyak. Kebayang kan nyaman banget busnya, walaupun lumayan juga harga tiketnya sih, paling murah untuk 3 halte pertama, sekali naik £1 (kali aja sama nilai tukar ke rupiah sekarang). Makanya kalau nggak penting-penting amat, lebih pilih jalan kaki deh untuk berhemat.


3. Toilet tanpa air bilas
Serius deh, sampai sekarang masih suka bertanya-tanya gimana cara mereka cebok tanpa air? Pakai tissue aja kali ya? Kalau kami, karena nggak terbiasa nggak pakai air ya kemana-mana bawa botol minum khusus untuk bilas. Di kamar mandi pun, kami sediakan botol kosong di samping toilet khusus untuk bilas. Yeah, sounds silly... but, that is what we actually do to keep us feel comfort.


4. Uang receh segambreng
Begitu jajan pakai uang besar sedikit di sini, dikembaliinnya pakai receh (pence) segambreng beda-beda pula gambar dan nominalnya. Sampai sekarang saya juga nggak hapal. Alhasil, kalau udah males cari-cari recehan, pas belanja saya sodorin aja dompet receh ke kasirnya supaya dia pilih sendiri atau nggak siapin di rumah sebelum transaksi. Kalau recehan berkurang banyak, rasanya beban hidup juga ikut berkurang *lebay*


5. Kulit kering
Minggu pertama di sini, kulit rasanya kaku banget, bibir pecah-pecah, wajah mengelupas. Kulit orang tropis lagi ngamuk karena tiba-tiba mesti ada di tempat dingin dan berangin seperti di sini. Kalau di Jakarta cari produk yang nggak bikin kulit berminyak--soalnya bubar udah kalau kena keringet. Di sini malah mengais-ngais minyak. Bio Oil yang biasa dipake seiprit-iprit karena takut muka kayak kilang minyak, sekarang dipake udah kayak pake air pas cuci muka *lebay*. Sabun cuci muka dari Indonesia juga terpaksa pensiun dini. Moisturizer jadi teman sejati. Lucas Papaw sengaja dibeli untuk menyelamatkan bibir supaya nggak pecah-pecah. Tapi, lama kelamaan kulit beradaptasi kok.


6. Motor tertib
Di sini jaraaaang sekali ketemu motor. Kalau ada pun di antara jejeran kendaraan yang berhenti saat lampu merah, paling cuma ada satu. Itu juga dia ikutan ngantri, nggak nyelip-nyelip berusaha menjadi yang terdepan ada di lampu merah. Sempat heran juga sih waktu lihat hal ini. Beda banget sama yang terjadi di Jakarta. Selain itu, yah semua kendaraan tertib nggak ada yang berusaha nyerobot lampu merah. Selalu mendahulukan pejalan kaki yang mau menyeberang, tanpa ngamuk-ngamuk dan maki-maki. Impian yang insya Allah bisa terwujud suatu saat nanti di Kota Jakarta kita tercinta. AAMIIN!!!


7. Gratifikasi? Big No!
Ini sebenernya dari pengalaman saya sendiri. Jadi, ceritanya dari pihak penyedia akomodasi mau ada instalasi hanging rail dan rak lemari yang ternyata belum terpasang di beberapa kamar, termasuk flat kami. Kebiasaan di Indonesia, ada abang-abang atau tukang datang ke rumah kan suka disuguhin apa gitu ya, kopi atau gorengan. Nah, pas tukangnya dateng saya nggak ada sesuatu untuk disuguhi, yaudah aja selesai mereka kerja, saya oleh-olehin rendang uda gembul buat mereka sebagai ucapan terima kasih. Ternyataaa oleh-oleh saya ditolak mentah-mentah dong *heartbroken*. Mereka malah bilang gini, "well, i'd really love to accept them. I don't mean to be rude or something like that. But, it's forbidden for us to accept things like gifts or tips from the customers. Because if my boss know, we will be fired." Saya speechless sesaat. Walau maksudnya baik, tapi entah kenapa ada perasaan malu dan cuma bisa bilang, "Oh, ok sorry.. i trully understand that." Abis itu mikir.... Kok bisa ya mereka sejujur itu. Maksudnya, saya terbiasa dengan fakta kebanyakan orang pasti mau terima pemberian orang lain dan bahkan nggak peduli atau takut ketahuan kalau sebenarnya mereka nggak boleh nerima hadiah atau semacamnya. Well, a lesson learned. *Coba bapak-bapak penghulu yang masih pasang tarif buat nikahin orang, mungkin bisa belajar dari bapak tukang di sini.

8. "Need a bag?"
Belanja apa pun di sini, terutama di supermarket, ini pertanyaan yang pasti akan ditanyain kasir. Kecuali kita cuma beli barang kecil, kayak sikat gigi satu. Nggak bakal ditanya dan nggak bakal di kasih kantong plastik. Yes, di sini kalo mau pake plastik bayar sebesar 5p atau 10p untuk kantong yang lebih besar. Kebijakan yang baru diberlakukan di Indonesia dan banyak direwelin sama beberapa pihak. Mungkin karena sudah terbiasa, orang-orang di sini kalo belanja ya bawa tas belanja sendiri atau bahkan ada trolley khusus buat belanja. Asik-asik aja. Kami yang kadang masih suka kelupaan bawa tas belanja, jadi ikutan belajar. 


9. Pecahan botol di jalan
Sejujurnya, begitu sampai daerah deket flat kami. Saya agak serem sih karena banyak pecahan botol di jalan. Awalnya saya bingung ini pecahan kaca apa. Ternyata kata Mbak Mimi, yang udah duluan tinggal di Bristol, kalau itu ulah orang mabok yang suka mecahin botol sembarangan. Horor dong langsung ngebayanginnya. Pecahan botol kayak gini nggak cuma ada di daerah rumah saya aja, tapi banyak di jalan-jalan. Nggak banyak sih.. mungkin udah dibersihin sama petugas kebersihan. Kalau malam minggu, kebetulan sebelah flat ada bar, pasti aja denger suara orang party. Tapi, alhamdulillaah nggak bising sih, karena jaraknya nggak sedekat itu. Malam-malam pertama di sini, dimana masih jetlag dan suka kebangun tengah malam, suka serem sendiri dengar suara orang berantem teriak-teriak nggak jelas. Suara sirene mobil polisi. Serasa lagi ada di adegan film action gitu. Tapi, lama-lama biasa karena ternyata hal kayak gitu di sini biasa.. hmmm... 


10. Wifi gratis dimana-mana
Salah satu hobi yang muncul begitu sampe Bristol adalah main IG Story. Hahahah... Makanya kalo ada yang suka heran emak anak satu ini suka banget main IG story ya alasannya karena ini. Wifi gratis ada dimana-mana, bu. Gratis. Jadi, sebenarnya kalo nggak top-up pulsa pun masih bisa bertahan di sini. Melipir aja cari tempat yang ada wifinya. Di mall, di jalan, di restoran, di supermarket, di bus, bahkan di flat kami pun udah termasuk biaya internet yang kalau dibandingkan koneksi indihome di rumah mah jauh. Jauh lebih cepat.


11. Mesin cuci ajaib

Sebelum sampai sini, saya selalu bertanya-tanya di UK yang katanya dingin, ngeringin bajunya gimana ya? Bisa jemur baju nggak ya? Ternyata bisa-bisa aja, asal matahari lagi nongol. Tapi, seringnya sih mendung-mendung gitu  apalagi pas winter kayak sekarang. Ternyata mesin cuci di sini ajaib karena pengeringnya bisa benar-benar kering sampai kalau pakaiannya keluar dari mesin cuci, berasa kayak abis disetrika panasnya--tapi lecek. Ini sih karena saya aja yang norak nggak pernah punya mesin cuci kayak di sini. Hahah... 


12. Keran panas-dingin
Katanya sih salah satu keunikan wastafel di UK adalah ada keran buat air panas dan dingin. Nah kalau di dapur kerannya memang dua. Kalau di kamar mandi cuma satu tapi bisa sekaligus untuk mengatur suhu airnya. Kenapa dibedain ya? Karena air yang keluar dari keran dapur bisa langsung diminum (air dingin aja, air panas nggak), sementara kalau di kamar mandi nggak bisa diminum.


13. Surga pejalan kaki/peseda
Kalau yang satu ini, nggak bisa dipungkiri lagi deh. Salah satu hal yang membahagiakan tinggal di sini ya karena lingkungannya begitu ramah pejalan kaki dan pengguna wheelchair (kalau buat saya, stroller). Setiap trotoar pasti ada sela untuk pengguna wheelchair supaya lebih mudah naik ke trotoar. Nggak heran di sini penyandang difabel banyak yang mandiri kemana-mana sendiri pakai wheelchair, manula jalan tertatih-tatih sambil dorong trolley sendiri naik-turun bus, ibu-ibu dengam stroller ada di mana-mana macam mall di Jakarta. Masih berharap semoga Jakarta dan kota-kota di Indonesia kelak juga bisa seramah dan serapih ini. AAMIIN! Semangat buat bapak gubernur!


14. "You ok?"
Selama di sini, kayaknya udah dua kali saya disapa orang nggak dikenal dengan pertanyaan, "Assalamu'alaykum... You ok, sister?" Awalnya saya bingung maksudnya apa. Nanya kabar kah? Ya kalo ada yang nanya, otomatis saya jawabnya "i'm fine... thanks." Suami pun kalau di mesjid suka disapa orang denga perkataan itu. Yang ternyata emang nanyain kabar. Jadi ini tuh semacam british slang buat "how are you?" 


Wah, baru sebentar tinggal di sini aja udah banyak banget hal unik yang saya rasakan. Alhamdulillaah, banyak hal yang bisa disyukuri dan dipelajari dari sini. Banyak juga hal yang bikin saya terus berharap akan kemajuan bangsa sendiri. Di atas langit masih ada langit, begitu katanya. Mungkin, nanti saya akan share lagi hal unik lain yang saya temui di sini. Gimana? Tertarik berkunjung ke tempat baru dan membuat catatan tentang hal unik yang ada di sana? ;)

See you at the next post!

Cheers,
Sawitri Wening