Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Sunday, May 8, 2016

Ketika Ibu ingin Nonton AADC2 di Bioskop



Saya bukan orang yang suka banget nonton film sih, dan harus banget ngikutin film apa aja yang keluar di bioskop. Tapi, berhubung saya ngefans banget sama Dian Sastro, jadi saya memutuskan berkeinginan untuk nonton film terbarunya di bioskop. Duh, ribet ya bahasanya, hahah. Kenapa saya bilang “memutuskan berkeinginan”? Yah, soalnya setelah melahirkan, biasanya saya tahan-tahan tuh keinginan untuk nonton film di bioskop, secara nggak mungkin ninggalin anak. Kayak waktu Captain America: Civil War keluar di bioskop, saya pengin sih nonton tapi saya tahan keinginannya karena alasan yang sudah saya sebutkan tadi. Tapi, begitu tahu AADC2 bakal keluar, plis lah langsung Whatsapp suami bilang pengin bangeeeet nonton ini di bioskop. Saya yakin banget sih, pun saya bilang ingin nonton ini itu di bioskop, pasti dibolehin suami--asal istri senang ya. Asalkan kami ada solusi bagaimana mengkondisikan Ken selama 2 jam ditinggal nonton film di bioskop sama ibunya.

Learn not to be selfish
Yes, pelajaran pertama setelah menjadi orang tua adalah semakin belajar untuk tidak egois. Hal itu secara otomatis aja sih akan muncul, anak akan jadi prioritas utama. Kadang, nggak bohong, terasa jenuh dan ingin lepas sejenak. Manusiawi. Suami juga mengerti sekali akan hal itu, apalagi doi tipe orang yang bakal milih masak atau cuci clodi dibandingkan main sama Ken lama-lama, capek katanya. Apalagi Ken sekarang makin aktif merangkak kemana2, apa-apa mau dipanjat. Ngejagainnya ga boleh kalah aktif, fyuh.

Ok, balik lagi ke soal nonton di bioskop. Jadi solusi kami adalah dengan nonton bergantian. Suami yang juga kepengin nonton, biasanya akan ke bioskop sehabis pulang kerja dan akan pulang lebih malam dari biasanya. Ini supaya wikennya, doi bisa menghabiskan waktu bersama saya dan Ken. Nah, sebagai gantinya, suami bersedia untuk menjaga Ken selama film berlangsung asal sebelum masuk bioskop cah lanang kami ini harus disusui dulu. Alhamduliaah, punya suami pengertian dan saya tahu menghabiskan waktu berdua Ken untuk doi itu gampang-gampang susah. Akan lebih mudah kalau Ken mau minum ASIP, tapi sayangnya Ken tidak mau. Berhubung juga si gondut kesayangan makannya masih ciprit-ciprit, ya mau nggak mau tetap ngintilin ibunya ke mall walau nggak ikutan nonton. Jadi sebelum teater buka, saya sudah menyusui Ken sampai kenyang jadi ketika dijaga ayahnya Ken tidak akan rewel cari susu.

Redefine the meaning of dating (with spouse)
Yah, jadi nggak bisa nonton berdua suami dong. Sayangnya, harus begitu. Secara saya nggak pakai pengasuh dan nggak tega nitipin Ken ke mbautinya. Jadi, saya kasih tahu aja nih kondisinya ya begini, udah nggak bisa pacaran unyu-unyu berdua lagi kayak waktu jadi pengantin baru. Kadang kangen juga sih, sampe pengin deh sesekali nitipin Ken ke mbautinya. Tapi, tetep aja nggak tega kalau masih sekecil ini karena nggak bisa meleng sedikit. Mungkin kalau Ken sudah lebih mandiri, akan lebih mudah. Kata orang sih nikmatin aja selagi masih bisa nempel terus sama anak. Yaa, nikmati saja.

Appreciate Togetherness with The Kid
Kenyataanya, karena terlalu nempel sama Ken, saya jadi nggak konsen dong nontonnya. Waktu itu dapat waktu nonton jam 5 sore, which means di tengah film saya harus keluar bioskop buat sholat maghrib dan balik lagi setelahnya. Sebenernya, agak sedih juga sih karena mesti ninggalin film di tengah gitu. Tapi, saya jadi bersyukur, soalnya keluar bioskop ayahnya langsung nyamperin saya untuk jalan sama-sama ke mushola. Waktu itu, Ken dengan tampang melas minta gendong saya kayak udah lamaaa banget nggak ketemu. Mana, anak ini mulai bisa bilang “ibuu.. ibuubuu..” Hah, hati ibu mana yang nggak meleleh liat anaknya seperti itu. Jadi, yang biasanya Ken diajak sholat (sambil digendong pakai ergo) sama ayahnya, saya pun langsung bilang, “Ken sama aku aja deh sholatnya. Nanti gantian sama Rami.” Oiya, saya waktu itu nonton bareng seorang sahabat saya, Rami. Jadi, sembari nunggu Rami sholat maghrib, saya manfaatkan untuk nyusuin Ken lagi dan main dengannya. Duh, pas kayak gini aja penginnya deket2 anak terus. Padahal biasanya suka merasa bosan dan minta gantian jaga sama suami. Pas balim lagi ke bioskop, hape selalu ada di tangan. Takut suami tiba-tiba telepon karena Ken Rewel. Bolak-balik cek hape, yang bikin nggak konsen nonton. Padahal mah nggak ada apa-apa. Waktu film habis, yang biasanya saya nunggu sampai udah sepi, ini saya langsung ajak Rami buat ngacir keluar. Haaah, pengin ketemu Ken secepatnyaaa…

Alhamdulillaah, Ken baik sekali sama ayahnya. Walaupun, tetap sih ayahnya keliatan capek karena harus gendong-gendong Ken yang BB-nya udah sekitar 10kg selama +/- 2 jam. Mana, waktu itu lagi puasa. Huhu, I love you lah, ayah.. Setelah buka puasa, Ken saya gendong nggak lama dia tertidur sementara ayahnya makan dan nonton anime sambil ngelurusin pinggang.

Yeaay, mission accomplished afterall! Filmnya sih menurut saya nggak sesuai ekspektasi, agak kecewa sih (buat saya ratingnya 7/10 deh.. hahah turun dari sebelumnya). Jalan ceritanya terlalu sederhana dan karakter Cinta buat saya nggak lagi sama seperti dulu. Luv banget sama Milly yang kayaknya makin cerdas ya celetukan-celetukannya bikin ngakak. Tapi, cukup lah mengobati kekangenan saya dengan geng cinta. 

Semoga ayah nggak kapok dan saya lebih bisa menikmati here-and-now moment, jadi bisa lebih konsen lagi nontonnya. Tapi, masih belum tau juga sih kapan dam film apa yang biki  saya berkeinginan nonton di bioskop lagi.

Kalau kamu, pernah punya pengalaman serupa? ;)

                           


Salam,
Sawitri Wening

Saturday, April 25, 2015

Filosofi Kopi


Rabu (15/04/15) minggu kemarin, saya mengajak suami saya menonton "Filosofi Kopi" usai pulang kantor. Sebenarnya sih, saya ngga terlalu penasaran dengan film ini. Ini juga bukan film yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Hal yang membuat saya tertarik dengan film ini adalah film ini diambil dari salah satu karya penulis favorit saya, Dewi Lestari. Meskipun Mbak Dee adalah penulis favorit saya, sejujurnya saya belum pernah membaca karyanya yang satu ini. Maka, sambil mengusir kesuntukkan, saya pun memutuskan untuk mengisim whatsapp ke suami saya sore itu dan menawarkannya untuk nonton film ini. 

Film ini bercerita tentang dua orang sahabat yang merintis usaha kedai kopi di Jakarta. Jody berperan sebagai investor sekaligus manager operasional dan Ben yang berperan sebagai salah seorang barista di kedai itu. Mereka berdua bagaikan dua kutub bumi yang berbeda cara berpikirnya, namun saling melengkapi. Ben yang begitu terobsesi dengan kopi percaya kalau dengan menyediakan kopi terbaik adalah cara yang paling tepat untuk mendatangkan tamu ke kedainya. Sementara itu, Jody berpikir untuk membuat kedai kopinya bertahan, ia harus melakukan efisiensi anggaran termasuk dalam pembelian bahan baku kopi, dan memilih menginvestasikan uangnya untuk menambah fasilitas kedainya dengan wifi, yang menurutnya membuat banyak orang lebih tertarik. Keduanya begitu berbeda, tetapi saling bergantung satu sama lain. Perdebatan diantara keduanya tidak dapat dielakkan hingga takdir mempertemukan mereka untuk menemukan jawaban yang paling tepat atas pertanyaan mereka selama ini. Konflik yang menurut saya begitu pas dimunculkan dalam cerita ini. Sebuah tantangan yang mampu menghilangkan dahaga mereka apabila mereka dapat menuntaskannya dengan baik.

Dalam perjalanan mencari jawaban yang tersembunyi dalam secangkir kopi tiwus, yang kata El adalah kopi terenak yang pernah diminumnya, mereka akhirnya menemukan lebih dari apa yang mereka cari. Film ini mengajarkan saya tentang cinta yang sederhana, yang seringnya tidak kita duga dan sadari. Seperti Pak Seno yang selalu merawat kebun kopinya dengan tulus, tanpa tetek bengek teori ini itu untuk menghasilkan kopi yang enak untuk dinikmati,

   
Mungkin kita harus lebih sadar ya, kalau hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang-orang disekitar kita bisa jadi adalah cara mereka menunjukkan perhatian dan kasih sayang mereka. Atau hal-hal kecil yang kita lakukan untuk orang lain bisa jadi bikin orang lain itu senang. Hihih, itu sih salah satu insight yang aku dapat dari film ini.

Semoga bisa terus sadar deh sama pesan ini. Apalagi sekarang kan lagi siap-siap menyambut anggota baru kerajaan. Jadi, mari buang segala kepusingan, kekhawatiran, dan kegundahan dalam diri. Keep thinking positive!

- SW -

Tuesday, March 18, 2014

Seventh Day: Happy Sunday Movie (The Wind Rises)


This writing should be posted on the last sunday (03/16)

This sunday, me and Kak Atha went to a movie for watching "The Wind Rises". That is the title for an anime movie made by the legend, Hayao Miyazaki and produced under Ghibli Studio roof. "The Wind Rises" or "Kaze Tachinu" (title in Japanese version) becomes a very special movie since this is the last mastepiece of Miyazaki Sensei before he claimed for a retirement as an anime movie maker. For those who adore Miyazaki's works, like "Spirited Away" or "Tonari no Totoro" might have already waited this movie for a long time.

The story tells about a dedicated airplane engineer, Jiro Horikoshi. He is the real character who lived in early 1900's. Yes, this movie is dedicated to him. Jiro had obsessed with airplane since he was young. In the movie, it showed that he often dreaming of an aeronautical engineer from Italy, Caproni. He ran for his dream and successfully being promoted as a chief designer of an airplane which will be used for fighting during the war. He experienced the failure at the first trial. But then, his later designed airplane called Mitsubishi A5M or widely known as "Zero" became the success and introduced at the early of world war II.

Overall i enjoyed the movie and this time quite thoughtful seeing Miyazaki showed how dedicated Jiro was, both for his role as an engineer and  a life-partner. At the last scene, in Jiro's dream, Caproni asked to him which one he prefers, world with or without pyramids. The question emerged to confront his thought of the regret for his own invention which caused the deaths on the war.


I asked the same question to a friend on the day after i watched the movie, just for fun. We might think the existence of pyramid would not affect our current life. He said if there is no pyramids in this world, our life might be very different from now. There will be no air-scrapper building or any other innovation, especially for architecture development history. And i think he is right. Everything brings something to this world, even though they have such dark sides. Like the airplanes which Caproni and Jiro made. They might have been utilized as the tools to attack or kill people, but they still have their own beauty which is needed to make a life-scenario.

I believe everything happens for a reason. Only few could be predicted but the remaining are mystery. Jiro just done his best to be an aeronautical engineer, but destiny brought him to be an actor of a story. Life is full of mystery, hence it allows surprises come along with :)

By the way, sorry for the late post and i won't tell you any such excuses for this :)


Cheers,

Sawitri Wening