Showing posts with label random-thought. Show all posts
Showing posts with label random-thought. Show all posts

Sunday, February 5, 2017

Hal Baru Ketika Berada di Bristol (Part 2)




Halo! 

Kali ini saya mau sharing lagi tentang hal-hal baru apa yang saya temui ketika tinggal di Inggris, atau lebih tepatnya di Kota Bristol. Heheh, part sebelumnya, judulnya sengaja saya ganti soalnya ternyata kebiasaan satu kota dengan kota lainnya bisa berbeda-beda. Contohnya saya rasakan sekali waktu saya ke London, di mana sistem transportasi di sana sudah terkoneksi satu dengan lainnya, moda transportasi dan pembayarannya pun agak berbeda dengan yang ada di Bristol, dan mungkin masih banyak lagi perbedaan lainnya. Jadi, ini beberapa hal baru lainnya yang menurut saya berbeda dengan apa yang saya biasa temui di Jakarta.

1. Self-Check Out di Supermarket
 Di mini market ataupun supermarket di sini, tersedia yang namanya mesin "self-check out" dimana pembeli bisa melakukan pembayaran tanpa melalui kasir. Jadi, kita scan sendiri barangnya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik sendiri (ini bisa memilih, mau beli plastik atau tidak). Karena self-service biasanya pembayarannya hanya bisa menggunakan kartu. Tapi, ada juga sih yang bisa menggunakan cash, tapi hanya menerima nominal uang tertentu. Self-service semacam ini juga diterapkan perpustakaan, dimana pengunjung bisa meminjam dan mengembalikan buku tanpa melalui petugas. Menurut saya, ide ini bagus sih. Membuat waktu berbelanja lebih efisien karena melayani sendiri, jadi proses transaksi jadi lebih cepat. Proses belajar dibawah aja yang bikin lama, tapi kalau udah biasa lumayan menghemat waktu.



 2. All day Ticket Bus
 Biaya transportasi di sini mahal, saudara-saudara. Berasa banget kalau diconvert ke rupiah. Kalau di Jakarta naik bus hanya sekitar Rp 5000-12000 atau bahkan bisa lebih murah dengan ojek online. Di sini, kalau naik bus minimal kita mesti mengeluarkan uang £1 (atau sekitar 17 ribuan) untuk 3 stops pertama. Mungkin jumlah itu nggak seberapa untuk sebagian orang, tapi untuk kami, percayalah jumlah segitu lumayan berasa apalagi kalau naik bus terus-terusan bisa bikin budget bulanan defisit karena memang alokasi budget per bulan kami nggak banyak. Oke sekian curhatnya. Nah, enaknya kita bisa beli one day ticket itu sekitar £4 bisa dipakai ke mana aja sampai puas dalam satu hari itu (kalau untuk yg outer area kalo nggak salah sekitar £6.5). Kalau mau berhemat lagi ada yang namanya tiket mingguan atau bulanan. Bahkan kalau student bisa dapat diskon lagi. Tapi, terbayar lah ya jumlah segitu dengan fasilitas yang nyaman dan pengelolaan transportasi yang profesional dan bersih. Bisa nggak ya transportasi di Indonesia bisa senyaman ini. Yang sudah mulai terasa sih kereta ya, menurut saya. 

3. Nggak ada Susu UHT
Serius selama saya di sini, belum pernah sekalipun nemu susu UHT yang satuan gitu lho kayak macam ultramilk. Ini penting banget lah buat ibu beranak satu yang usianya udah di atas satu tahun, buat minuman rekreasional. Alhasil, Ken kalau lagi iseng aja ikut minum susu cair pasteurisasi ayah-ibunya atau makan yoghurt atau susu almond. Nggak masalah sih, tapi aneh aja karena di Indonesia super gampaaang cari susu uht kotak, ya kan?

 4. Suitable for Vegetarian/Halal Food 
Kalau di Indonesia, yang saya lihat kalau beli makanan adalah label bundar berwarna hijau bertuliskan "halal" dari MUI, di sini yang di lihat adalah label bundar dengan tulisan "suitable for vegetarian". Label ini banyak, banyaaak banget ada di kemasan makanan. 

 6. Rawan Maling Sepeda
Beberapa waktu lalu, suami saya kehilangan seped yang di parkir di depan rumah, huhu. Memang kalau nggak mengalami sendiri nggak akan tahu seberapa rawannya kasus maling sepeda di sini. Pantas saja di jalan-jalan sering ada tulisan untuk para pesepeda harus berhati-hati dengan pencurian sepeda. Malah menurut berita ini paling tidak ada 5 sepeda yang hilang setiap harinya di Bristol. 


7. Midwife Visits (post-natal)
Di Bristol, setiap ibu yang habis melahirkan akan mendapatkan kunjungan bidan, kalo nggak salah selama 10-14 hari (source: nhs.uk). Fungsinya apa? Selain memantau perkembangan bayi kayak berat badan, cek jaundice, dsb. Kunjungan bidan ini juga memperhatikan kondisi ibu pasca melahirkan. Jadi, kita nggak usah capek-capek ke klinik cukup duduk anteng aja di rumah, dan bidan akan datang untuk membantu. Menurut saya program ini baguuuus banget karena seperti yang kita tahu, ibu pasca melahirkan itu umum mengalami masalah-masalah seperti baby-blues, puting lecet, pusing, lelah berlebih, dsb. Kebayang kan betapa bermanfaatnya kunjungan ini untuk membantu menjaga kesejahteraan jiwa dan kesehatan ibu. 

8. Wajib Vaksin Flu
 Kalau di Indonesia, Vaksin flu itu ibaratnya hanya vaksin tambahan aja atau nggak wajib. Di sini vaksin flu itu wajib terutama kalau udah masuk winter karena virus flu lebih bisa bertahan di suhu dingin, di tambah saat winter sinar matahari berkurang (karena siang yang lebih pendek dan biasanya lebih sering mendung). Ken yang juga termasuk jarang flu atau kalau flu biasanya sembuh dalam seminggu, sebelum dapat vaksin, dia meler atau ingusan terus selama berminggu-minggu. Setelahnya, Alhamdulillaah sehat wal afiat. Oiya sekadar informasi, di sini umunya vaksin flu untuk anak itu diberikan lewat hidung. Tapi, setelah saya cari tahu, dimention juga di web nhs, nasal flu vaccine ini mengandung porcine gelatine (gelatin babi). Jadi, untuk Ken kemarin saya request untuk injeksi saja. Vaksin di sini gratis dan kalau mau ambil mesti bikin appointment dulu, umumnya nunggu selama 2 minggu. 

9. Charity Shop/Second-Hand Stuff
Hal baru lainnya adalah tentang charity shop. Saya kurang familiar dengan istilah ini saat di Indonesia. Nah di sini, saya menemukan cukup banyak toko-toko yang menjual barang dimana hasil penjualannya digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Biasanya yang dijual adalah barang-barang secondhand. 


10. Banyak Older Workers 
Di sini, sering sekali lihat orang tua masih bekerja. Usianya semuanya mungkin sekitar di atas 50 tahun. Bekerja sebagai penjaga kasir di toko besar, sebagai petugas admin di perpus, tukang bangunan, petugas klinik, dsb. Hal yang menurut saya cukup jarang ditemui di Indonesia, apalagi untuk pekerjaan frontliner. Saya sendiri takjub waktu lihat banyak nenek-nenek jadi kasir di Primark. Tapi, kalau dilihat sekilas memang kebiasaan di sini membuat para older people lebih sehat, contohnya aja dengan jalan kaki. Saya seriiiing banget lihat orang tua yang sudah jompo, masih jalan-jalan sendiri naik-turun bus hanya dengan bantuan trolley, tanpa ada orang lain di sampingnya. Dari hasil baca-baca, kenapa banyak orang tua yang tetap mau bekerja walau udah masuk usia pensiunnya, salah satunya (selain mungkin karena uang ya) adalah untuk menjaga well-being. Banyak yang merasa dengan mereka tetap produktif, mereka akan merasa lebih sehat fisik maupun mental karena tubuh tetap diminta untuk bekerja. Mempekerjakan older people ini juga diatur sama ketenagakerjaan di UK, jadi employer tetap mesti memperhatikan waktu dan beban kerja yang diberikan. Such a good thing, isnt it?

Okay, sekian dulu sharingnya ya. Mungkin nanti akan ada part-3 nya karena saya yakin masih banyak banget yang bisa dieksplor. Mmm, kalau lagi ngomongin ini pasti suka iri sendiri deh sama negara maju yang memang apa-apa terasa lebih nyaman. Saya suka ngobrolin hal ini sama suami saya tentang kapan ya Indonesia bisa semaju di sini. Fasilitas di sini memang bisa di bilang lebih baik, tapi semua itu nggak akan jadi nyaman kalau warganya nggak sadar untuk ikut mejaga. Contohnya, nggak coret-coret bus, budaya mengantri, nggak buang sampah sembarangan, dan yang penting adalah kejujuran.

Cheers!

Sawitri Wening






Sumber:

1. http://m.bristolpost.co.uk/bikes-day-stolen-bristol/story-28594497-detail/story.html
2. http://sitn.hms.harvard.edu/flash/2014/the-reason-for-the-season-why-flu-strikes-in-winter/ 
3.https://www.google.co.uk/amp/s/amp.theguardian.com/lifeandstyle/2015/aug/01/still-working-aged-in-70s-80s-90s
4. http://www.expertslikeyou.com/wp-content/uploads/2015/09/welcome-to-bristol.jpg
5. http://riyadhconnect.com/wp-content/uploads/2013/09/self-service-counter.jpg

Saturday, November 19, 2016

Hal Baru Ketika berada di Bristol (Part 1)

Menunggu Bus
Haaai! Gimana kabarnya?

Kali ini cerita random aja sih. Tentang hal-hal baru apa aja yang saya temui selama tinggal di Bristol, berikut dengan ke-norak-annya, hahaha. Maklum, ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Jadi banyak hal baru yang bikin saya terperangah sendiri karena jarang atau bahkan nggak pernah saya temui di Jakarta. Ini beberapa diantaranya.

1. Family Room
Begitu sampe Bandara Heathrow, London. Yang pertama dicari sebagai ibu menyusui, so pasti dong... ruang menyusui. Cari Nursery Room nggak ketemu dan orang yang ditanya bingung. Ternyata di sini nggak pake istilah "Nursery Room" tapi "Family Room" dimana bapak juga bisa ikutan masuk. Jadi nggak khusus untuk ibu-ibu aja. Ruangannya cukup luas. Isinya juga nggak cuma untuk menyusui dan ganti popok aja, tapi juga ada toilet untuk orang dewasa. Bagus juga sih kayak gini. Jadi kalo lagi berkeperluan, ayahnya Ken nggak usah nunggu bengong di luar. Konsep kayak gini katanya di Indonesia udah ada ya, seperti di AEON Mall  dan soon ada di PIM #CMIIW.


2. Stroller bisa masuk bus umum
Waktu mau balik ke terminal bus dari hotel, kita sempet bingung barang-barang kita mau ditaro dimana nanti ya di bus. Secara bawa 3 koper gede plus stroller dan tentengan segambreng. Kebayangnya bus di sini modelnya kayak metromini/kopaja cuma versi lebih gede, hahah. *polos sekali diriku* Nggak tahunya, nggak! koper tinggal masuk aja dan stroller nggak perlu dilipet soalnya ada space besar di bagian depan khusus wheelchair (biasa juga digunakan untuk meletakkan stroller). Berhubung waktu itu lg kosong, jadi supir bus nggak protes kita naikin koper segitu banyak. Kebayang kan nyaman banget busnya, walaupun lumayan juga harga tiketnya sih, paling murah untuk 3 halte pertama, sekali naik £1 (kali aja sama nilai tukar ke rupiah sekarang). Makanya kalau nggak penting-penting amat, lebih pilih jalan kaki deh untuk berhemat.


3. Toilet tanpa air bilas
Serius deh, sampai sekarang masih suka bertanya-tanya gimana cara mereka cebok tanpa air? Pakai tissue aja kali ya? Kalau kami, karena nggak terbiasa nggak pakai air ya kemana-mana bawa botol minum khusus untuk bilas. Di kamar mandi pun, kami sediakan botol kosong di samping toilet khusus untuk bilas. Yeah, sounds silly... but, that is what we actually do to keep us feel comfort.


4. Uang receh segambreng
Begitu jajan pakai uang besar sedikit di sini, dikembaliinnya pakai receh (pence) segambreng beda-beda pula gambar dan nominalnya. Sampai sekarang saya juga nggak hapal. Alhasil, kalau udah males cari-cari recehan, pas belanja saya sodorin aja dompet receh ke kasirnya supaya dia pilih sendiri atau nggak siapin di rumah sebelum transaksi. Kalau recehan berkurang banyak, rasanya beban hidup juga ikut berkurang *lebay*


5. Kulit kering
Minggu pertama di sini, kulit rasanya kaku banget, bibir pecah-pecah, wajah mengelupas. Kulit orang tropis lagi ngamuk karena tiba-tiba mesti ada di tempat dingin dan berangin seperti di sini. Kalau di Jakarta cari produk yang nggak bikin kulit berminyak--soalnya bubar udah kalau kena keringet. Di sini malah mengais-ngais minyak. Bio Oil yang biasa dipake seiprit-iprit karena takut muka kayak kilang minyak, sekarang dipake udah kayak pake air pas cuci muka *lebay*. Sabun cuci muka dari Indonesia juga terpaksa pensiun dini. Moisturizer jadi teman sejati. Lucas Papaw sengaja dibeli untuk menyelamatkan bibir supaya nggak pecah-pecah. Tapi, lama kelamaan kulit beradaptasi kok.


6. Motor tertib
Di sini jaraaaang sekali ketemu motor. Kalau ada pun di antara jejeran kendaraan yang berhenti saat lampu merah, paling cuma ada satu. Itu juga dia ikutan ngantri, nggak nyelip-nyelip berusaha menjadi yang terdepan ada di lampu merah. Sempat heran juga sih waktu lihat hal ini. Beda banget sama yang terjadi di Jakarta. Selain itu, yah semua kendaraan tertib nggak ada yang berusaha nyerobot lampu merah. Selalu mendahulukan pejalan kaki yang mau menyeberang, tanpa ngamuk-ngamuk dan maki-maki. Impian yang insya Allah bisa terwujud suatu saat nanti di Kota Jakarta kita tercinta. AAMIIN!!!


7. Gratifikasi? Big No!
Ini sebenernya dari pengalaman saya sendiri. Jadi, ceritanya dari pihak penyedia akomodasi mau ada instalasi hanging rail dan rak lemari yang ternyata belum terpasang di beberapa kamar, termasuk flat kami. Kebiasaan di Indonesia, ada abang-abang atau tukang datang ke rumah kan suka disuguhin apa gitu ya, kopi atau gorengan. Nah, pas tukangnya dateng saya nggak ada sesuatu untuk disuguhi, yaudah aja selesai mereka kerja, saya oleh-olehin rendang uda gembul buat mereka sebagai ucapan terima kasih. Ternyataaa oleh-oleh saya ditolak mentah-mentah dong *heartbroken*. Mereka malah bilang gini, "well, i'd really love to accept them. I don't mean to be rude or something like that. But, it's forbidden for us to accept things like gifts or tips from the customers. Because if my boss know, we will be fired." Saya speechless sesaat. Walau maksudnya baik, tapi entah kenapa ada perasaan malu dan cuma bisa bilang, "Oh, ok sorry.. i trully understand that." Abis itu mikir.... Kok bisa ya mereka sejujur itu. Maksudnya, saya terbiasa dengan fakta kebanyakan orang pasti mau terima pemberian orang lain dan bahkan nggak peduli atau takut ketahuan kalau sebenarnya mereka nggak boleh nerima hadiah atau semacamnya. Well, a lesson learned. *Coba bapak-bapak penghulu yang masih pasang tarif buat nikahin orang, mungkin bisa belajar dari bapak tukang di sini.

8. "Need a bag?"
Belanja apa pun di sini, terutama di supermarket, ini pertanyaan yang pasti akan ditanyain kasir. Kecuali kita cuma beli barang kecil, kayak sikat gigi satu. Nggak bakal ditanya dan nggak bakal di kasih kantong plastik. Yes, di sini kalo mau pake plastik bayar sebesar 5p atau 10p untuk kantong yang lebih besar. Kebijakan yang baru diberlakukan di Indonesia dan banyak direwelin sama beberapa pihak. Mungkin karena sudah terbiasa, orang-orang di sini kalo belanja ya bawa tas belanja sendiri atau bahkan ada trolley khusus buat belanja. Asik-asik aja. Kami yang kadang masih suka kelupaan bawa tas belanja, jadi ikutan belajar. 


9. Pecahan botol di jalan
Sejujurnya, begitu sampai daerah deket flat kami. Saya agak serem sih karena banyak pecahan botol di jalan. Awalnya saya bingung ini pecahan kaca apa. Ternyata kata Mbak Mimi, yang udah duluan tinggal di Bristol, kalau itu ulah orang mabok yang suka mecahin botol sembarangan. Horor dong langsung ngebayanginnya. Pecahan botol kayak gini nggak cuma ada di daerah rumah saya aja, tapi banyak di jalan-jalan. Nggak banyak sih.. mungkin udah dibersihin sama petugas kebersihan. Kalau malam minggu, kebetulan sebelah flat ada bar, pasti aja denger suara orang party. Tapi, alhamdulillaah nggak bising sih, karena jaraknya nggak sedekat itu. Malam-malam pertama di sini, dimana masih jetlag dan suka kebangun tengah malam, suka serem sendiri dengar suara orang berantem teriak-teriak nggak jelas. Suara sirene mobil polisi. Serasa lagi ada di adegan film action gitu. Tapi, lama-lama biasa karena ternyata hal kayak gitu di sini biasa.. hmmm... 


10. Wifi gratis dimana-mana
Salah satu hobi yang muncul begitu sampe Bristol adalah main IG Story. Hahahah... Makanya kalo ada yang suka heran emak anak satu ini suka banget main IG story ya alasannya karena ini. Wifi gratis ada dimana-mana, bu. Gratis. Jadi, sebenarnya kalo nggak top-up pulsa pun masih bisa bertahan di sini. Melipir aja cari tempat yang ada wifinya. Di mall, di jalan, di restoran, di supermarket, di bus, bahkan di flat kami pun udah termasuk biaya internet yang kalau dibandingkan koneksi indihome di rumah mah jauh. Jauh lebih cepat.


11. Mesin cuci ajaib

Sebelum sampai sini, saya selalu bertanya-tanya di UK yang katanya dingin, ngeringin bajunya gimana ya? Bisa jemur baju nggak ya? Ternyata bisa-bisa aja, asal matahari lagi nongol. Tapi, seringnya sih mendung-mendung gitu  apalagi pas winter kayak sekarang. Ternyata mesin cuci di sini ajaib karena pengeringnya bisa benar-benar kering sampai kalau pakaiannya keluar dari mesin cuci, berasa kayak abis disetrika panasnya--tapi lecek. Ini sih karena saya aja yang norak nggak pernah punya mesin cuci kayak di sini. Hahah... 


12. Keran panas-dingin
Katanya sih salah satu keunikan wastafel di UK adalah ada keran buat air panas dan dingin. Nah kalau di dapur kerannya memang dua. Kalau di kamar mandi cuma satu tapi bisa sekaligus untuk mengatur suhu airnya. Kenapa dibedain ya? Karena air yang keluar dari keran dapur bisa langsung diminum (air dingin aja, air panas nggak), sementara kalau di kamar mandi nggak bisa diminum.


13. Surga pejalan kaki/peseda
Kalau yang satu ini, nggak bisa dipungkiri lagi deh. Salah satu hal yang membahagiakan tinggal di sini ya karena lingkungannya begitu ramah pejalan kaki dan pengguna wheelchair (kalau buat saya, stroller). Setiap trotoar pasti ada sela untuk pengguna wheelchair supaya lebih mudah naik ke trotoar. Nggak heran di sini penyandang difabel banyak yang mandiri kemana-mana sendiri pakai wheelchair, manula jalan tertatih-tatih sambil dorong trolley sendiri naik-turun bus, ibu-ibu dengam stroller ada di mana-mana macam mall di Jakarta. Masih berharap semoga Jakarta dan kota-kota di Indonesia kelak juga bisa seramah dan serapih ini. AAMIIN! Semangat buat bapak gubernur!


14. "You ok?"
Selama di sini, kayaknya udah dua kali saya disapa orang nggak dikenal dengan pertanyaan, "Assalamu'alaykum... You ok, sister?" Awalnya saya bingung maksudnya apa. Nanya kabar kah? Ya kalo ada yang nanya, otomatis saya jawabnya "i'm fine... thanks." Suami pun kalau di mesjid suka disapa orang denga perkataan itu. Yang ternyata emang nanyain kabar. Jadi ini tuh semacam british slang buat "how are you?" 


Wah, baru sebentar tinggal di sini aja udah banyak banget hal unik yang saya rasakan. Alhamdulillaah, banyak hal yang bisa disyukuri dan dipelajari dari sini. Banyak juga hal yang bikin saya terus berharap akan kemajuan bangsa sendiri. Di atas langit masih ada langit, begitu katanya. Mungkin, nanti saya akan share lagi hal unik lain yang saya temui di sini. Gimana? Tertarik berkunjung ke tempat baru dan membuat catatan tentang hal unik yang ada di sana? ;)

See you at the next post!

Cheers,
Sawitri Wening

Tuesday, September 29, 2015

Sebuah Renungan: Efisiensi Nyawa

"Dunia ini kok kayak mau ngurangin manusia, ya" - Ibu

Sambil menatap nanar berita kabut asap di Sumatera
Sambil mendengar kabar dari Mina
Sambil mengingat pengumuman di mesjid hampir setiap subuh


.... mungkin kita sedang diingatkan (kembali)



- SW -

Tuesday, October 7, 2014

Back to Work

It's early morning of October 8th 2014. 01:44 AM exactly.

What am just doing is trying to finish up two things, one for personal matter and the other for work.
I missed doing something or lets say writing up in this time, because i realized that i was a night person who being more productive up 11 PM. But, thanks to the work routine which giving back my biological clocks into normal again. Because of my energy already exhausted in the morning till evening, there's no reason for me to wake up in the night to catch up the deadline. The working hours have to be enough for me.

So, what are you doing now? - Somebody should shout out this question.

Well, actually i had an extended weekend after Idul Adha. My workplace just set up the policy about holiday at hari tasyrik which is cool for me. And I'm very grateful at this policy, not because of i have more the day-offs, but it allowed me to manage some preparations. Yes, i've been very excited doing the preparation since the very serious and sacred thing is gonna happen (Insya Allah). Sooo, as the consequence, i have to dedicate a little night to finish up my work, since tomorrow i have to go back to work.

Alhamdulillaah, I've done it already. Gotta go to bed because i have to catch the train by 6 AM.
Yes, since i moved to a new company (or in my case, it is actually a private school), i have to leave home thaaaat early everyday, which is good for me.

By the way, i decided to start over the #100happydays project on my tumblr. Hope i can be consistent to complete the challenge. Yosh!


Good night! May Allah blesses us with a good sleep and healthy body.

Sawitri Wening

Monday, July 14, 2014

14th of July, 2014

It's been a while. I took a moment to sharpen up my senses. Hearing sounds of a train that i rode. Smelling sweet fragrance of an old white lady at my left side. Capturing with my eyes those worried, happy, sleepy faces and many other expressions of the passangers. Swallow my bitter saliva into the dry throat. Tapping down my thumbs on the quite-wide-phone-screen.

I've missed a thing in my life. 

The feeling when the words coming out of the head. I just want to write again with my own way.

On the train to Tebet,

Monday, July 14th 2014

*
Hidup terasa amat berbeda, entah sejak kapan. Saya baru menyadari bahwa saya tengah memutar haluan kapal ini agak jauh dari semula. Ketika pemandangan yang ada di sekitar saya seolah berubah tiba-tiba. Saya rasa saya sedang melalui jalan lain, ke tujuan yang sama. Semoga saja masih tujuan yang sama.
Saya berpindah dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru yang sedikit banyak mengubah hidup saya. Sedikit banyak mengubah pandangan-pandangan saya akan sesuatu. Saya mencoba hal baru yang pernah sedikit saya intip di masa kuliah dulu. Seperti bayi yang baru bisa berjalan. Sama saja, saya masih tertatih. Meskipun entah sudah berapa kali keluhan itu muncul, saya yakin ada yang bisa dipelajari. Pasti ada.

Kesuksesan dan kenyamanan bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Begitu kata mereka. Saya tersenyum kecil. Menyadari kalau definisi sukses di kepala saya kini telah berubah, jauh berubah. Tidak ada yang salah. Saya hanya sedang dibuat takjub. Hati ini terbolak-balik, terombang-ambing bagai sepotong gabus di tengah lautan ganas. Kita bisa saja berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Kejenuhan dan kejutan adalah suatu keniscayaan. Maka, bagaimana pun kerasnya kita berusaha mewujudkan rencana-rencana perjalanan kita. Sungguh, sungguh sebuah kapal tak akan bisa sampai pada dermaga tanpa izin-Nya.
Saya belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ketika harapan tidak lagi sekadar batu loncatan setinggi manusia atau setinggi gunung tertinggi di muka bumi ini sekalipun. Cukup jauhkah saya mengambil ancang-ancang? Saat itu angin laut berembus, menggoyang air yang tenang dan membuat kapal yang gagah berlayar itu terombang-ambing. Sambil meyakini, saya mundur selangkah demi selangkah...

Hidup ini terasa begitu berbeda. Ketika bulan-bulan berganti tanpa ada rasa sepi. Setidaknya, tidak sesepi sebelumnya. "Adakah sepi berhijrah dari satu hati ke hati lainnya?" Pikir saya, sesekali. Namun, tanpa ada sepi, tanpa ada sunyi, suara tak akan berarti.

Ah, iya hidup ini begitu terasa berbeda akhir-akhir ini. Tapi, itu yang membuat saya sadar kalau saya hidup dan terkadang, ingin bisa terus hidup. Diizinkan hidup lebih lama lagi. Mungkin sampai rambut ini memutih. Saya ingin bersandar di pundak manusia berambut putih lainnya, dengan rasa aman hingga tak ragu untuk lelap tertidur di sana.

Sambil mengarungi lautan luas, saya memasang layar kapal. Dermaga yang sama masih menunggu di sana. Semoga sampai dengan selamat.

Tuesday, March 11, 2014

Pop Up: Emotion Reader Application

Sumber gambar: http://www.theverge.com/

For the first time, scientists can identify your emotions based on brain activity

The mind reading trick, done before with objects, is now plumbing the depths of human feeling


Further Reading: http://www.theverge.com/2013/6/19/4445684/brain--scan-fmri-identify-emotion

**

I came up with this random thought after reading the article above. A simply wild imagination :p


In the future, we will no longer be able to hide our emotions to other people. When google-glasses-like tools become very common (like ‘android’ at these days) and you can find an application named “emotion readers” (based on this finding) in AppStore/ PlayStore. Ah, the other fact says that this application is free, so everyone can have it on their google-glasses-like tools. As the “emotion reader” comes to be more popular, there will be so many institutions that provide a short course named “Self-Emulator: Self Emotion Regulator”. They will teach you how to manipulate your emotions, so the “emotion reader” won’t be able to read what emotion that you actually feel. 

Can you imagine if this is happened? How different our lives could be? What aspects/sectors will live or die? 

- Sawitri Wening-

Saturday, January 4, 2014

Work at Home.

Alhamdulillaah, rasanya lega sekali ya bisa menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Ya, sepanjang Sabtu ini saya habiskan di rumah untuk mengerjakan revisi report dan sedikit menyiapkan properti serta cerita yang akan digunakan oleh komunitas kami besok pagi. Bukan Sabtu yang sibuk, sebab mengerjakan pekerjaan kantor di rumah ternyata membuat saya merasa lebih rileks dan fleksibel. Kalau sudah bosan dengan pekerjaan, ya saya tinggal meninggalkan laptop sebentar, duduk-duduk di ruang tamu sambil mengobrol dengan bapak-ibu, bermain dengan keponakan, atau menonton TV sebentar. Meskipun santai, tapi pekerjaan bisa tetap selesai... Alhamdulillaah :)

Beberapa waktu lalu, kantor saya direlokasi dari gedung lama ke gedung yang baru. Masih di daerah yang sama, di bilangan Rasuna Said. Oleh karenanya, seluruh karyawan kantor saya terpaksa bekerja di rumah sejak tanggal 23-31 Desember 2013. Awalnya saya sempat bingung karena pada periode itu, ada report yang harus saya bereskan dan untuk itu biasanya saya akan berkoordinasi dengan atasan dan teman-teman dari divisi lain untuk menyelesaikannya. Ah, tentu saja hal ini membuat saya sedikit khawatir karena tanpa tatap muka, koordinasi yang biasa dilakukan pasti tidak akan berjalan dengan semestinya. Lagipula, biasanya suasana rumah tidak terlalu kondusif untuk bekerja (alasan saya aja ini, sih :p). Beruntunglah, karena kecanggihan tim IT kantor, kami pun tetap dapat mengakses server dan outlook. Komunikasi dengan rekan kerja dilakukan dengan memanfaatkan salah satu instant messenger terfavorit pasangan LDR, Skype. 

Kekhawatiran saya tadi pun luntur. Ternyata, saya merasa lebih rileks dan enjoy mengerjakan pekerjaan kantor di rumah dibandingkan di kantor :D. Yah, siapa sih yang nggak betah di rumah sendiri. Meskipun stay di rumah, tapi kan yang dikerjakan tetap pekerjaan kantor--dengan jumlah tugas dan beban yang sama. Jadi, harusnya sama saja dong. Tapi, ternyata tidak... tetap saja ada bedanya dan perbedaan yang saya rasakan ini lebih positif. Karena pengalaman ini, saya jadi berpikir, mungkin nggak ya cara kerja seperti ini bisa terus diterapkan di kantor-kantor, terutama buat para working mom. Lumayan kan, para ibu tetap bisa mengawasi anak-anaknya di rumah meskipun sambil bekerja. Atau paling tidak, para working mom bisa tidak harus masuk setiap hari ke kantor. Kalau tidak ada meeting, atau face-to-face training, misalnya. Ya, tidak perlu datang ke kantor. Tinggal selesaikan saja pekerjaannya di rumah, toh yang penting selesai dengan baik, kan :p #mimpi.

Kalau menurut saya, bukannya tidak mungkin sih ide tersebut direalisasikan. Tapi, tentu saja pasti ada kendalanya, baik itu dari segi teknis maupun etika. Biasanya, kegiatan-kegiatan di kantor itu sudah terorganisasi dan terjadwal, tapi bukan tidak mungkin akan ada saja event atau meeting dadakan dengan atasan atau klien. Contoh kendala lainnya mungkin ketika koneksi yang kita butuhkan untuk mengakses segala keperluan untuk mengambil data di server atau komunikasi sedang tidak beres, tentu akan sangat ribet kalau kita tidak berada di satu tempat yang sama. Yang mungkin paling esensial justru adalah feel yang terbangun ketika berdiskusi secara langsung dan tidak langsung tentu akan berbeda. Dengan berkomunikasi secara langsung, seseorang dapat lebih memastikan apakah lawan bicaranya dapat menangkap hal yang disampaikan secara baik atau tidak, bila dibandingkan komunikasi lewat e-mail, instant messenger, atau telepon. Kendala lainnya mungkin berkaitan dengan kebijakan perusahaan yang tidak mengizinkan karyawannya membawa pulang dokumen perusahaan yang sifatnya confidential, sehingga mau tidak mau kita harus mengerjakan pekerjaan kita di rumah.



Ya, memang akan agak repot sih merealisasikan "mimpi" saya tersebut kalau melihat kendala-kendala apa saja yang mungkin muncul. Makanya, saya belum pernah mendengar ada kantor yang memiliki aturan seperti itu. Meskipun dari pengalaman yang saya alami ketika bekerja di rumah, tidak terlalu ada masalah berarti. Tapi, mungkin juga karena masa bekerja di rumah yang saya alami waktu itu bukan dalam jangka waktu yang panjang, jadi masih bisa ditangani.

Gara-gara tweet salah satu teman saya malam ini, saya jadi menyadari sesuatu. Sebenarnya kita punya hak untuk bekerja di rumah, paling tidak sehari atau dua hari dalam sebulan, yaitu cuti haid/menstruasi. Mungkin banyak yang tidak familiar dengan cuti ini karena tidak terlalu disosialisasikan atau bahkan tidak diterapkan dalam kebijakan seluruh kantor.

Pasal 81 UU No. 13/2013 tentang Ketenagakerjaan (link)

Kalau di kantor saya, cuti haid ini memang sepertinya tidak terlalu disosialisasikan dan tidak bisa disebut cuti juga karena biasanya karyawan yang tidak masuk karena haid hari pertama/kedua, tetap dihimbau untuk bekerja di rumah. Hal ini masih bisa ditoleransi karena jangka waktunya tidak terlalu lama.

Jadi, kesimpulannya kita memang harus memilih. Ada pekerjaan yang memang tidak memungkinkan kita untuk menyelesaikan tugas di rumah sepanjang waktu, tapi ada juga sebenarnya pekerjaan yang memungkinkan kita untuk stay di rumah, namun tetap dapat menghasilkan uang. Contoh simple-nya aja dengan membuka bisnis-bisnis online, atau bekerja sebagai seorang freelancer, atau bahkan membuka usaha sendiri yang memungkinkan kita untuk mengatur segalanya dari meja kerja kita di rumah.

Kalau saya sendiri sih bila sudah berkeluarga nanti, inginnya melakukan seperti pilihan yang kedua. Tetap bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah (mengurus kebutuhan keluarga), tapi juga ingin memiliki pendapatan dengan melakukan pekerjaan yang disukai. Pilihannya banyak, saya yakin. Tinggal bagaimana kita mengaturnya saja untuk bisa mencapai tujuan itu #asik. Sotoy pisan sih saya... Kayak sudah pernah menjalani saja, ya. Namanya juga kepinginan, memacu diri sendiri boleh, kan :D Meskipun begitu, saya menyadari tetap perlu ada perencanaan yang matang sih untuk mewujudkan keinginan ini.
Data dari BPS menunjukkan jumlah wanita pekerja di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 48,440 juta, meningkat dari tahun sebelumnya 47,24 juta padahal tahun 2009 baru 46,68 juta orang. (the-marketeers.com)
Semakin banyaknya jumlah perempuan yang bekerja saat ini, tentu ada faktor yang memicunya. Untuk ibu yang memutuskan untuk mengambil peran ganda, mungkin salah satu faktornya adalah membantu finansial keluarga. Menurut Bower (2001) dalam Reynolds, et al. (2003), selain faktor ekonomi, partisipasi para ibu di lapangan kerja juga dipengaruhi oleh faktor sosial, politik dan demografi. Ada juga kan yang bekerja demi untuk memenuhi gaya hidup, mengejar karir, adanya keinginan untuk mandiri, atau ada tuntutan dari luar yang membuat para perempuan terutama ibu memilih untuk bekerja juga.

Dari topik bekerja di rumah sampai ke rencana masa depan, hmmm... Nah, meskipun diantara kita mungkin baru beberapa tahun lagi masuk dunia kerja atau berkeluarga, kira-kira apa rencana kamu dalam hal pekerjaan nanti? Semoga tidak menjadi galau masa depan. Tapi, lebih baik galau sekarang kan daripada nanti :p


Have a nice weekend,
Sawitri Wening



Referensi:

Hutajulu, R. (2013). Perempuan Bekerja Meningkat, Sambal Instan Muncul. Marketeers. link

Reynolds, Tracey, Callender, Claire & Edwards, Ros (2003) Caring and Counting: The Impact of Mothers’ Employment on Family Relationships. Bristol: Policy Press.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. http://www.hukor.depkes.go.id/.

Tuesday, October 1, 2013

Someday.




"You know that future will come, sometimes with surprises. 
And maybe someday on the day you wake up, the name you'll hear from a man's voices (in one of the most sacred events in your life) is nothing other than your very own name."
*
Good night,
Sawitri Wening