Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Monday, October 16, 2017

Ken's Weaning Story


Apa kabar semuanya?! Yeay! Akhirnya kembali muncul lagi di sini setelah dua bulan lebih nggak nulis di sini. Lama juga ya πŸ˜…... Semenjak riweuh dengan segala hal-ihwal pindahan dari flat ke apartemen baru, kemudian disusul dengan persiapan kembali ke tanah air, rasanya kok energi dan pikiran ini banyak terkuras untuk hal-hal tersebut dan hal lainnya. Jadi, baru sekarang sempat update lagi. Sekarang, sudah sebulan lebih kembali ke Indonesia, kembali ke hal-hal lama yang mostly jadi terasa baru lagi buat saya. Jadi, saat ini posisinya masih dalam rangka adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Bukan cuma saya aja yang sedang beradaptasi, tapi tentu juga suami dan yang paling banyak usahanya dalam membiasakan diri di lingkungan barunya yang sekarang adalah Ken.

Ngomong-ngomong soal adaptasi, saya mau cerita sedikit soal proses menyapih Ken. Kalau ingat postingan galau ini, rasanya bersyukur banget karena ternyata proses menyapih Ken nggak sehoror yang saya bayangkan sebelumnya. Iya, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk menyapih Ken tepat di usianya yang ke dua tahun.


Mengurangi Waktu Menyusui
Memasuki usia 12 bulan, Ken yang awalnya 'susah makan' alhamdulillaah perlahan-lahan semakin pintar makannya. Yang semula menolak makan nasi, jadi mau. Yang tadinya, selalu melepeh-lepeh makanan, jadi semakin lancar mengunyah dan menelan makanan padat seperti layaknya orang dewasa. Walaupun kebiasaan melepeh makanan itu masih ada, tapi kalau dibandingkan pada saat Ken berusia dibawah satu tahun, kayaknya nggak ada alasan untuk nggak bersyukur. Setelah itu pun yang saya lakukan adalah mulai mengurangi intensitas menyusui Ken dan lebih banyak menawarkan makanan dan mengenalkannya dengan susu pasteurisasi (sebab di Bristol jarang sekali ada susu UHT). Hingga di usianya sekitar 14-15 bulan, Ken seringnya hanya meminta mimik atau disusui saat mau tidur DAN saat ia terbangun di tengah tidurnya. Masya Allah... Jadi, tugas saya sudah berkurang banyak, tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Ken bisa tidur tanpa mimik dan tidak lagi mencari mimik di tengah tidurnya.

Sounding
As usual, we use this most powerful weapon to help Ken overcome with change. Kayaknya 5-6 bulan sebelum eksekusi, saya udah mulai wanti-wanti Ken kalau akan ada saatnya ia harus berhenti mimik, yaitu saat ia berulang tahun yang kedua. Kalimat yang paling sering saya gunakan adalah "Ken, nanti kalau sudah happy birthday, tiup lilin, berarti Ken sudah tidak mimik lagi ya." Selain itu, saya juga menjelaskan kalau anak yang sudah besar, sudah tidak mimik lagi dan Ken sudah besar. Begitu terus di berbagai kesempatan, dengan harapan Ken bisa lebih mudah melewati salah satu perubahan besar dalam hidupnya itu. Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi Ken, pasti saya akan sangat terpukul harus 'berpisah' dengan sesuatu yang selalu ada bersamanya semenjak ia lahir πŸ’”.

Memilih cara menyapih
Karena bertekad ingin menyapih tanpa "membohongi" atau pakai cara orang-orang jaman dulu, ada satu catatan penting yang menurut saya nggak kalah penting, yaitu konsisten dan jujur dalam perkataan dan perilaku kepada anak. Oh iya, saya nggak menganggap cara yang dilakukan orang-orang jaman dulu itu, seperti mengoleskan parutan kunyit atau betadine di payudata agar terkesan sedang sakit, tidak baik karena bisa jadi itu adalah cara ibu agar anak bisa lebih legowo ketika disapih, ya kan daripada ibu dan anak stress karena drama penyapihan. Hal ini sempat juga terpikiran untuk saya lakukan, tapi setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan memilih cara lain yang menurut kami lebih pas di hati, yaitu dengan memberikan pengertian kepada Ken.

Menentukan momen perubahan
Agak bingung juga kasih nama poinnya. Intinya, kami memilih momen yang menurut kami paling tepat untuk memulai proses menyapih dan informasi ini sudah diberitahukan kepada Ken. Jadi, ketika momen itu datang, Ken akan lebih siap dengan perubahan yang akan dialaminya. Momen yang kami pilih adalah saat ulang tahun Ken. Sengaja, kami mengundang tetangga dan mengadakan pesta kecil-kecilan sekadar menjadi penanda kalau setelah ini, Ken akan disapih.

Hal selanjutnya yang kami lakukan adalah eksekusi. Sesuai ekspektasi, ternyata drama yaaa, hahahah. Tapi, alhamdulillaah dramanya hanya berlangsung selama 3 hari. Di malam ke-4 Ken berhasil tidur sendiri tanpa nangis-nangis. Masya Allah, lega rasanya. Akhirnya tugas menyusui Ken selama dua tahun berhasil diselesaikan 😭. Di sini, saya mencatat ada beberapa fase yang Ken alami saat dan pasca disapih. Ini sama sih kayak fase umum yang terjadi kalau seseorang mengalami perubahan.

1. Fase Penolakan
Fase dimana Ken mampu menangis berjam-jam karena tidak diberi mimik saat mau tidur selama 3 hari. Di hari pertama super capeeek karena saya menuruti semua permintaannya, kecuali minta mimik. Karena tidak berhasil dapat mimik, Ken akhirnya minta macam-macam, minta pipis lah, makan lah, walaupun sebenarnya dia nggak benar-benar mau melakukan itu. Alhasil, kami baru tidur jam 3 pagi. Malam kedua, saya menggunakan strategi mengabaikan tangisannya dan berlaku seperti tidak ada apa-apa, jadi selama Ken menangis, saya tetap memejamkan mata dan memintanya untuk tidur sambil memberitahu konsekuensi kalau dia menangis terus (matanya bengkak, capek, dsb.) Hasilnya, Ken menangis selama 30 menit, diam dan tertidur sendiri. Malam ketiga, Ken masih menangis sekitar 10 menit lalu tertidur.

2. Fase Melawan/Denial 
Ternyata dramanya belum berakhir, buibuuu... Hahah, tapi nggak kayak sebelumnya sih. Di fase ini, Ken seringkali menolak untuk tidur, walaupun sebenarnya dia sudah mengantuk. Beda ya sama nggak mau tidur karena nggak ngantuk. Jadi, siap-siap deh tidur siang dan malam akan mundur beberapa jam karena anaknya udah nggak bisa lagi disogok pake mimik biar tidur cepat! πŸ˜‚

3. Fase menerima
Meskipun terkadang Ken masih suka menolak tidur siang, tetapi sekarang ia sudah lebih mengerti. Jam tidur siang/malam pun sudah lebih teratur dibanding ketika masih pada fase sebelumnya. Di fase sebelumnya, Ken seringkali menghipnosis dirinya sendiri dengan bilang "no mimik, yes bobo" berulang kali. Padahal nggak ada yang mencontohkan dan kata-katanya yang catchy itu dia sendiri yang memilih. Masya Allah, di situ saya melihat usaha Ken untuk membuat dirinya sendiri paham akan perubahan ini.

Catatan saya adalah ketika mau memulai proses menyapih dengan cara ini, baik ayah ataupun ibu harus ikhlas dan yakin. Sebab, kalau tidak, akan terasa sulit di fase pertama sehingga jadi nggak tega dan akhirnya menawarkan mimik lagi. Ternyata, setelah proses menyapih yang penuh drama itu, terbitlah tidur yang lebih berkualitas, bebas sakit punggung, baju tanpa kancing depan, dan anak yang lebih mandiri karena tidur tanpa harus lagi disusui 😊

Sekian dulu ceritanya, mudah-mudahan ada manfaatnya ya. Bagi yang baru akan memulai proses menyapih, semangat ya, buibuuuu :*

Thanks for helping us through the thick of weaning process, guys! (Ken's Birthday Squad)

Cheers!
Sawitri Wening

Monday, July 17, 2017

Ken's Potty Story (Part 2)

Bermain di Halaman Rumah
Saya nggak nyangka, ternyata potty training itu adalah proses yang panjang, yang di dalamnya ada bab-bab tersendiri. Halah, macam novel aja. Pengennya anaknya seminggu latihan langsung bisa, tapi ternyata kan nggak πŸ˜‚. Seperti perkembangan lainnya, saya yakin setiap anak pasti punya cerita sendiri tentang proses potty trainingnya. Kayak waktu itu, usai sholat di London Central Mosque, ada seorang ibu dari Palestine menyapa saya. Beliau menanyakan berapa usia Ken dan ujug-ujug bertanya apakah Ken masih pakai popok? Rupanya, pertanyaan itu disambung dengan cerita tentang anak perempuannya yang kurang lebih usianya sama dengan Ken. Beliau bilang, anaknya sudah lulus potty training dalam waktu 3 hari saja. Nah, ternyata ada kan yang bisa secepat itu juga, dan mungkin banyak juga yang butuh waktu berbulan-bulan sampai lulus, zero accident.

Saya ingat, beliau lalu meng-encourage saya untuk mencoba tidak mengenakan Ken popok saat tidur malam. Saat itu, saya hanya bisa tersenyum. Sebab sesungguhnya perjalanan potty training ini adalah ujian mental bagi orang tua. Waktu itu, saya belum siap. Belum terbayang repotnya mesti bawa Ken malam-malam ke kamar mandi, sambil ngantuk-ngantuk. Belum lagi kalau ngompol di kasur😧.

Saya baru berani mencoba saran ibu itu, 1-2 bulan setelahnya.
-

Kalau diibaratkan sebuah novel, mungkin ini adalah bab-bab dan garis besar cerita perjalanan Potty Training versi Ken Maruta. Mudah-mudahan ada manfaatnya ya! πŸ˜„


Bab 2: Bisa Menahan Pipis Lebih Lama
Ken memulai potty training-nya pada usia 18 bulan. No popok saat siang hari (kecuali saat sedang keluar rumah dan tidur siang). Progres awal adalah, yang tadinya pipis semau dia kapan aja dimana aja (bahkan bisa 5-10 menit jedanya), perlahan mulai lebih panjang intervalnya. Awal-awal tentu karena Ken masih terbawa kebiasaan saat pakai popok, ketika masih bisa pipis sembarangan tapi nggak ada konsekuensi apapun. Lama-lama dia mulai belajar, kalau dia pipis, dia akan merasa tidak nyaman karena celana dan kaki basah. Jadi, Ken mulai bisa menahan pipisnya lebih lama. Saya sendiri mungkin setelah berjalan 5 hari, sudah mulai bisa tenang dan nggak melulu melepas pandangan dari Ken. Nggak harus observasi terus-terusan.

Bab 3: No Popok Saat Tidur Siang
Setelah Ken mulai paham dan jeda pipisnya menjadi lebih lama, saya mulai meng-encourage Ken tidur siang tanpa popok. Ya, tidur siang dulu, belum tidur malam. Alasannya karena waktu tidur siang lebih sebentar daripada tidur malam. Percobaan diawali dengan 'brain-wash' dulu seperti biasa, "Ken, mulai besok kita coba bobo siang nggak pake popok ya. Pipisnya di kamar mandi ya, bukan di kasur."

Surprisingly, sejak hari pertama percobaan tidur siang tanpa popok, Ken nggak pernah ngompol. Asaaaal, begitu dia bangun, langsung diajak ke kamar mandi. Sebisa mungkin secepatnya, jangan kasih kesempatan doi ngompol di kasur ataupun lantai. 
Tidak butuh waktu lama, di hari kedua dan seterusnya, kalau bangun tidur dan berasa ingin pipis, dia akan langsung turun dari tempat tidur. Kalau ibu kurang sigap, at least dia akan pipis di lantai, bukan di kasur. 

Pernah kecolongan nggak? Oh, pernah dua kali. Waktu Ken mager turun tempat tidur karena masih ngantuk dan mungkin udah kebelet banget kali ya πŸ˜‚.

Bab 4: No Popok saat main di luar rumah
Kalau Ken lagi main di luar rumah, saat itu saya masih mengenakan Ken cloth diaper (clodi)--sayang soalnya pospaknya cuma dipakai sebentarπŸ˜‚. Biasanya, saya kasih pengertian ke Ken supaya dia nggak bingung dan menganggap saya nggak konsisten. Kasih pengertiannya dengan menjelaskan alasan kenapa saya memakaikan ia clodi, "Ken... kan mau main di luar nih. Pakai popok dulu ya, supaya nanti mainnya tenang. Nanti kalau Ken udah makin pintar, nggak pakai popok lagi ya mainnya" Padahal mah supaya ibunya nggak repot aja.. Kan nggak enak ya kalau ngompol di rumah tetangga. Btw, Ken pernah lho tapi ngompol di tempat Mba Mae dan Mba Nunuy (Maapin Ken ya mbak πŸ˜…).

Belakangan saya udah mulai membiarkan Ken bermain di halaman/rumah tetangga tanpa pakai popok. Masih sesekali ngompol, tapi udah lebih jarang kalau dibandingkan sebelumnya. Jadi, mari kita apresiasi sekecil apapun pencapain anak dalam proses ini 😊.

Bab 5: Mulai bilang kalau mau pipis
Ken, alhamdulillaah, sudah mulai lancar berbicara. Tapi, kalau disuruh bilang saat mau pipis, masih belum mau. Nah, belakangan Ken menunjukkan kemajuan karena makin sering bilang kalau mau pipis. Catat ya kalau mau pipis aja, kalau mau pup masih PR. Biasanya Ken akan skip bilang kalau lagi keasyikan main atau simply lagi nggak mau bilang aja. Selama proses ini pun Mantra yang hampir selalu terucap adalah "kalau mau pipis/pup bilang ya..." sambil berharap anak ini akan semakin paham dan konsisten untuk bilang dulu kalau mau buang air.


Bab 6: No Popok Saat Tidur Malam
Yeay! Akhirnya Ken masuk ke dalam bab ini. Awalnya karena waktu saya cek popoknya di pagi hari masih sangat kering. Semenjak memulai potty training, saya membiasakan Ken untuk langsung ke kamar mandi begitu bangun tidur. Jadi, kalau dia menahan pipis saat tidur, bisa langsung dikeluarkan di tempatnya. Saat ini sudah memasuki hari ke-4 dan selama itu, Ken belum pernah mengompol saat tidur malam, Masya Allah.. 

Malam ini pun, saya memutuskan untuk tidak memasang perlak di tempat tidur. Hal khusus yang saya lakukan pada tahap ini adalah menanyakan Ken apakah mau ke kamar mandi saat ia terbangun di tengah tidurnya. Kalau ia menolak, ia akan tertidur lg setelag menyusui, kalau ia bilang 'iya' saya akan menggendongnya ke kamar mandi. 

Semoga selalu begini dan bisa berprogress lagi untuk waktu bangunnya. Setelah bab ini, saya berharap bisa masuk dalam bab : no popok saat berpergian. Mudah-mudahan segera diberikan keberanian untuk memulainya ya, hehe.
-

Mungkin banyak yang berpendapat untuk memulai potty training sebaiknya saat anak sudah lebih besar lagi (menjelang 3 tahun misalnya) untuk mempersingkat prosesnya. Sebab kesiapan anak untuk menyelesaikan proses ini tentu didukung oleh kesiapan fisik, mental, dan kognitif anak. Ada juga yang berpendapat semakin cepat lepas dari pospak semakin baik dengan alasan melatih kemandirian ataupun alasan kesehatan. Kalau buat saya, ini pilihan masing-masing. Mau mulai training saat anak masih newborn silakan, saat 18 bulan silakan, saat sudah lebih besar juga silakan saja. Tidak ada salahnya karena orang tua pasti punya pertimbangan masing-masing mengenai hal itu. Just a kind reminder, membandingkan perkembangan anak satu dengan anak lainnya secara bijak itu baik, tapi tidak sebaliknya. Don't rush a thing because of other parents' kid had done something. Do it because of you (and your children) need it 😊.
-
Oh ya, ada bab khusus di perjalanan potty trainingnya Ken, yaitu hal-hal tak terduga yang terjadi saat proses ini berlangsung. Misalnya:

1. Potty yang kemarin kami beli, hanya dipakai sesekali. Ken lebih sering pipis di shower room. It's okay, we'll get to the next step later when someone is ready.

2. Ada masa dimana saya marah karena Ken mengompol. I wish i never do that. Perbanyak stok sabar saat memutuskan memulai proses ini, terutama waktu-waktu awal. Lama-lama sih udah santai aja dia mau ngompol juga.

3.Buat saya, mengajak Ken pup di kamar mandi lebih sulit daripada pipis. Dia lebih suka jongkok di tempat, dibanding lari ke kamar mandi dan buang hajat disana *elap keringet* 
-
Jadi, begitulah cerita potty trainingnya Ken sampai saat ini. Mudah-mudahan bisa melanjutkannya part selanjutnya sampai Ken lulus!

Buat ibu-ibu yang lagi dalam proses melatih anak pipis/pup di toilet, semangat ya! Ingeet... This too shall pass... *ngomong sama kaca*πŸƒ




Bristol, July 18th 2017
Sawitri Wening

Thursday, March 30, 2017

Weekly Note: Tentang Potty Training Regresion & Bersabar


Jadi, minggu ini saya sempat sakit lagi, saat saya sedang haid. Sakitnya persis pula sama kayak bulan lalu. Mengigigil, pusing, meriang, lemas, dsb. Alhamdulillaah cuma dua hari sakitnya. Bulan lalu juga begitu. Bedanya, waktu sakit kali ini, suami ada kuliah seharian, so nggak bisa bantu jagain Ken yang lagi agak cranky karena gigi gerahamnya lagi tumbuh. Jadi, singkat cerita drama pun terjadi.

Sebelumnya, saya nggak penah tahu kalau saya bisa setega itu sama Ken. Hari itu, saya membentak Ken karena kesal sampai ke ubun-ubun. Mungkin karena pengaruh sedang sakit juga. Ketebak dong, sesudahnya saya jadi super menyesal karena merasa bersalah dan malah bikin regresi proses potty training yang lagi Ken jalani. Huft :''(

Kekesalan saya muncul hanya karena Ken mengompol di lantai. Saya yang sedang nggak ada tenaga saat itu pun nggak bisa menahan diri untuk marah. Padahal, prinsip menjalankan toilet training itu kan membuat anak enjoy dengan prosesnya tanpa membuat dia merasa 'dihukum' hanya karena dia mengompol. But, i did that wrong thing. Saat saya marah sih dia malah ketawa-ketawa, saya pikir dia nggak menganggap saya sedang menunjukkan rasa kecewa. But, no... he is a smart boy dan ia tahu banget kalau saya sedang marah. Dia tertawa untuk mencairkan suasana, seolah bilang "calm down, mom... It's just a POTTY accident!" 

Setelahnya, dia jadi malas kalau diminta pipis ke kamar mandi. Selalu membuang muka kalau saya mengingatkan untuk pipis di kamar mandi. Padahal, sebelumnya prosesnya begitu mudah, dia bisa cepat menangkap maksud saya walau belum mau mengatakan kalau ia sedang kebelet. 

Ah iya, jadi ibu itu butuh stok sabar yang banyak ya. Mungkin saya harus belajar banyak dari Ken yang sudah bisa mengontrol emosinya, yang bisa berhenti menangis kala mengelus dada sambil bilang "bersabar". Ah, Ken.. maafkan ibu ya. Semoga ibu bisa membesarkan Ken dengan lebih baik dan banyak bersabar. Mari belajar bersama-sama ya, Ken :)

Btw i will update about his potty-training regression, hope we can turn it back to the progression ;)
 
Bristol, 30 Maret 2017

Sawitri Wening

Wednesday, March 15, 2017

Weekly Note: Tentang Sekolah Lagi


Minggu ini, saya pergi berdua dengan Ken ke tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal kami. Daerahnya namanya Speedwell, sekitar 30 menit perjalanan dengan menumpangi bus nomor 7. Bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar.

Saya sempat mencari tempat kursus bahasa Inggris gratis di sini. Alasannya? Ingin latihan berbahasa Inggris dengan lebih lancar, ingin mengisi waktu luang, dan saya rencananya juga ingin mengambil tes IELTS dalam waktu dekat (jadi bisa sekalian belajar). Saya pun sibuk mencari-cari kelas untuk ESOL (English for Speakers for Other Language) yang biasanya di-provide oleh community center yang dikelola oleh pemerintah. Jadi, local government di sini punya program khusus untuk meningkatkan skill warganya melalui kegiatan-kegiatan seperti kursus bahasa ataupun keterampilan lain, dan semuanya gratis untuk orang yg mendapatkan benefit. Kegiatan tersebut didanai melalui pengelolaan pajak yang dibayar setiap tahun oleh penduduk di Bristol. Keren banget ya idenya! πŸ’‘

Oke, balik lagi ke cerita saya. Jadi singkat cerita, ternyata kelas atau conversation club yang ingin saya datangi di-cancel. Oiya, club ini diadakan di nursery (semacam daycare & preschool untuk anak usia 2-4 tahun di UK). Jadi, selama saya di kelas, Ken juga akan berada di kelas nursery selama satu jam, for free! Pengertian banget ya programnya... Karena di-cancel, saya diminta untuk menghubungi mereka lg 2 minggu kemudian. Untung dekat situ ada playground, jadi saya bisa tetap mengajak Ken bermain di sana. Ken senang sekali karena ternyata lagi banyak anak lai  sedang main di playground. Saya juga sempat berkenalan dan mengobrol dengan dua orang ibu dari Somalia yang sedang menjaga anaknya bermain. Dari mereka saya dapat informasi kalau di College Green (yang letaknya lebih dekat dengan rumah), juga menyelenggarakan ESOL Class. 

Applying for A Scholarship
Kayaknya udah 3 malam belakangan saya begadang. Tidur di atas jam 12 malan untuk menyelesaikan sebuah aplikasi beasiswa. Ya Allah, rasanya udah lama banget nggak bikin essay, jadi agak-agak kagok sedikit gitu. Ditambah lagi semua pertanyaan harus dijawab dalam bahasa Inggris. Mesti mikir dua kali buat saya yang belum terbiasa. Jadi paham banget gimana pusingnya suami ngerjain tugas essay-nya selama kuliah di UK, hahaha. Alhamdulillaah, akhirnya saya bisa submit sebelum waktu deadline, walau sempat deg-degan karena waktu submit website-nya sempat error. Sekarang tinggal berdoa aja semoga hasilnya baik dan....tiduuur karena jadi berasa kayak zombie banget. Eh, tapi mau selesaikan tulisan ini dulu deh, baru tidur.

Why do I want go Back to School?

panutan banget ini ya :D
Jadi, keinginan yang ingin bisa saya capai dalam waktu dekat adalah ingin sekolah lagi. Keinginan ini pun didukung 100% oleh suami. Makanya waktu saya ngerjain aplikasi beasiswa kemarin, dia rela ngajak Ken main dulu berjam-jam supaya saya bisa fokus. Alhamdulillaah. Alasannya apa sekolah lagi? Jujur saja, alasan utama saya untuk sekolah lagi adalah supaya kelak bisa dicontoh oleh anak-anak saya. Saya dan suami setuju kalau pendidikan adalah hal yang penting, dengannya kita bukan hanya bisa menambah pengetahuan dan keterampilan, tapi juga membentuk pola pikir dan ini penting banget menurut saya untuk jadi modal membesarkan anak dan kontribusi.  Saya dan suami sempat berdiskusi soal hal ini, ketika kami membandingkan tentang self-esteem masing-masing soal mencapai pendidikan tinggi. Suami saya yang memang lahir dan besar di keluarga berpendidikan tinggi, tidak pernah sekalipun berpikir kalau sekolah tinggi itu hal yang mustahil. Berbeda dengan saya, yang bukan berasal dari keluarga yang pendidikannya tinggi, bisa melanjutkan kuliah S2 di dalam negeri saja saya sempat berpikir itu hal yang mustahil, tepatnya saat saya masih kecil dulu. Saya menganggap kalau hal itu dipengaruhi besar oleh latar belakang keluarga kami. Suami bilang dia tidak pernah merasa sekolah tinggi itu mustahil karena ada role model. Orang-orang terdekatnya, papa dan mama, bisa kok. So, dia juga menganggap suatu hari nanti dia juga akan bisa mencapai hal yang sama.

Kedua, saya kangen banget punya target pencapaian diri. Ini soal mengembangkan diri. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan, seperti buka usaha atau ikut kursus ini-itu. Tapi, hal pertama yang ingin saya lakukan sekarang adalah sekolah lagi, dan saya yakin selanjutnya akan membuka jalan saya untuk fase pengembangan diri selanjutnya. Untuk bisa memberikan manfaat seluas-luasnya, semampu saya.

Then, i guess some people will come up with this thought: "Jadi, bosen ya jadi ibu rumah tangga?" Please.. please.. please... Don't ever ask this kinda question to anyone as it is offensive as it is.

Bukan jadi ibu rumah tangga yang bikin saya bosan, tapi belum ketemu celah untuk mengembangkan diri itu yang bikin kadang-kadang berasa kayak 'duh, hidup gua nggak produktif banget ya.' Kebayang nggak mesti mengerjakan hal yang mirip setiap hari 24/7, pasti lah ada rasa bosannya. Kerja di kantor, ngerjain hal yang itu-itu aja setiap hari juga pasti ada bosannya. Bisa stay di rumah menyaksikan perkembangan anak setiap detiknya itu, buat saya anugerah. Sampai saat ini saya bersyukur banget dikasih kesempatan buat fokus mengurus anak dan nggak pernah menyesal ambil keputusan ini. Meskipun saya tahu saya juga punya cita-cita lain yang ingin saya kejar. Jadi, saya pikir kenapa nggak dua-duanya aja coba saya imbangi. Pelan-pelan ambil langkah yang bisa diambil dulu. Pasti bakal menantang banget sih, tapi bismillaah kita nggak pernah tahu kalau nggak pernah coba, kan?

Btw, sorry for being unorganized. ini tulisan sempat mengendap dan belum juga dipost karena jujur aja saya pernah ada pada fase overthinking. Deuh, kebanyakan kata 'sempat'. Kebanyakan mikir, terutama tentang apa sih sebenarnya yang saya pengen. The 20's crisis hit meeeh! 
Tapi, yaudah saya share aja ya siapa tahu lagi ada yang senasib.




So, all moms out there! How's life been treating you? How did you overcome with the current life-crisis? Please kindly share and hug all along ;)

Doakan saya yah, Cheers!

Sawitri Wening

Saturday, March 4, 2017

Ken's Potty Story (Part 1)


Pojok Potty Ken Maruta
Minggu ini, tepatnya 7 hari yang lalu mungkin ya, saya dan suami memutuskan untuk mencoba melakukan "potty training". Sebenarnya, kami sudah tertarik melakukanya semenjak sebulan yang lalu. Tapi, kami pikir kami butuh potty supaya Ken bisa nyaman latihannya. Sebab pernah beberapa kali dia berhasil buang air di toilet, tapi berakhir gusar karena tidak nyaman duduk di toilet seat orang dewasa yang memang tidak cocok dipakai untuknya. But, due to the limited budget, we decided to keep holding on the diapers routine until next month. But then the plan suddenly changed as i found a multistage potty with... the clearance price. Blame my female brain, LOL. Long story short, we got the munchkin potty home before february ends. Yeay! *oke sekian curhatnya*

Sebenarnya sih kami belum benar-benar mau melakukan potty training untuk Ken. Kami hanya berniat mulai sekadar mengenalkan potty atau "buang air pada tempatnya" kepada Ken. Meskipun usia Ken sudah masuk 18 bulan, saya merasa Ken belum saatnya benar-benar harus lepas dari diapers. Tetapi, saya pikir tidak ada salahnya mengenalkan dulu karena peralihan untuk bisa buang air di toilet itu, menurut saya, adalah task yang besar buat seorang bayi, khususnya di jaman sekarang, yang dari orok hampir tidak pernah lepas diapers. Kebayang nggak sih, gimana itu bokong rasanya pakai popok terus dan udah biasa pipis dan pupu dimanapun dia mau. Mungkin akan jadi bebal kali ya. Udah lah daripada nanti makin susah lepasnya, mari kita kenalkan dulu pelan-pelan dari sekarang. Jadi, saya nggak pasang target apa-apa, harus sudah lulus potty train berapa lama dan sebagainya. Selain itu, saya juga menerapkannya jadi lebih fleksibel dan nggak ngoyo. Semacam mendedikasikan diri untuk stay di rumah selama 3 hari atau 7 hari. Hal itu belum saya lakukan. Yang saya lakukan saat ini hanya membiarkan Ken tidak memakai popok di luar jam tidurnya dan saat berada di rumah. Tambahan lagi, kalau emaknya nggak lagi males, hahahah. 

Eh tapi, itu sih rencananya. Eksekusinya? Beuh, saya kebawa suasana. Maksudnya jadi kebawa nggak santai. Dua hari pertama benar-benar kerjaan saya cuma observasi dan nanya pertanyaan yang sama ke Ken, yang cuma pakai celana aja sepanjang hari, eh bahkan nggak pake celana (tanpa popok). Parno bakalan ada insiden "pisang goreng berjatuhan di lantai." Paham kan mak πŸ™ˆ. 

What to Expect When You Start The Potty Training

Ya berhubung saya belum ada hasil apa-apa, jadi saya mau share sedikit pengalaman saya mempersiapkan dan bagaimana hari-hari pertama menjalankan kebiasaan baru ini, sekaligus progressnya. Siapa tahu ada yang baru mau mulai juga dan jadi ada bayangan. Eh tapi, ini bentuknya lebih ke cerita aja. Oiya, sebelumnya bisa cek kesiapan bayi kita di sini.

Sounding
Seperti biasa, ini adalah hal yang saya lakukan kalau mau mengenalkam suati kebiasaan baru atau kalau akan ada kejadian yang kiranya bakal mengganggu dia. Saya mungkin sudah meinyinggung-nyinggung soal potty sejak usia Ken 15 bulan. Mulai dari menunjukkan bagaimana saya menggunakan toilet (ini kejadian ketika ada masanya Ken maunya ngintilin ibunya bahkan sampai ke kamar mandi). Setiap dia lihat toilet, pasti saya jelaskan "Ken kalau mau eek nanti di sini ya. Ayah sama ibu juga di sini." Begitu terus sampai kalau lihat toilet dia akan otomatis bilang, "eek di sini"
Selain itu saya juga membacakan buku yang bertemakan tentang potty training kayak buku "Pirate Pete's Potty" ini. Menunjukkan video tentang potty training (sampai tahu-tahu dia dengan sendirinya berpura-pura duduk di atas potty padahal yang dia dudukin adalah mainan piano-pianoannya. Awalnya bingung kenapa itu piano dia dudukin, terus dia nyeletuk sendiri "duduk di potty" owalaaah.. he got the point!). Begitu terus diulang-ulang sembari beraktivitas seperti biasanya.

Getting Engaged with The Real Potty
Dari hasil baca-baca, supaya anak excited untuk memulai potty train, bisa tuh ajak doi milih sendiri pottynya. Sebenernya sih menurut saya ini nggak penting-penting amat, jadi kalo diskip juga nggak apa. Kalau Ken sebenarnya ini kejadiannya nggak sengaja. Waktu ke Boots mau beli popok, dia lihat ada potty dan dia teriak-teriak dong mau ambil potty-nya. Kebetulan juga ternyata lagi clearance sale. Ah pertanda apa ini, tanya saya dalam hati. Yaudah, keesokan harinya, setelah diskusi sama ayahnya Ken, kami langsung balik lagi ke Boots. Beruntung bangeeet, karena ternyata potty yang lagi sale itu tinggal sisa satu! Sampai rumah, girang banget dia sambil mainin potty-nya. Dinaikin lah, dicium dan dipeluk lah (serius deh ini...), dijadiin tempat parkir mobil-mobilannya, dan bahkan (ceritanya) jadi tempat eek salah satu mobilnya πŸ˜…

What Happened in The First Day
Oke, persiapan udah, sekarang eksekusi. Masa penyesuaian buat kami adalah selama dua hari. Dimana dua hari pertama itu sepanjang hari saya dedikasikan buat mengamati Ken dan rajin banget nanya "Ken, mau pipis? Mau eek?" Rajin banget ngingetin "Ken kalo mau pipis atau eek bilang ke ibu ya." Tapi, hal ini sampai sekarang nggak juga dilaksanakan sama dia, meskipun sebenarnya dia udah bisa bilang hal itu. Sampai akhirnya, karena lelah mesti ajak ke kamar mandi terus-terusan, Ken pun sepanjang hari itu tidak saya pakaikan celana. Fungsinya supaya nggak kecolongan lagi ketika mau ke kamar mandi yang berujung pada cucian numpuk. Iya, jadi lebih cepat ke kamar mandi, nggak usah buka celana dulu. Alasan lainnya, anaknya susah beneeeer dipakein celana lagi, "mau lari ajaa" katanya. Tapi, ini hanya saya lakukan dua hari pertama karena Ken kelihatan sudah mulai paham. 

Di hari pertama ini, mungkin cuma dua kali Ken berhasil pipis di kamar mandi, sisanya ngompol. Jadi, iya benar mesti siap rajin ngepel. Sebisa mungkin bersikap tenang dan tidak memarahi anak sambil diingatkan "Nanti kalau mau pipis lari ke kamar mandi ya." Supaya lebih mudah, saya akhirnya mencatat waktu Ken pipis/pup dengan bantuan aplikasi "Potty Baby". Di aplikasi ini anak bisa dapat satu bintang setiap kali berhasil buang air pada tempatnya. Ken senang banget lihat bintang-bintangnya, hahah. 

Catatan paling atas, bikin heboh dunia persilatan

When He Needed to Wee
Meskipun Ken sudah bisa bicara, entah kenapa ia susah sekali diminta bilang kalau mau pipis/ pup. Awalnya, yang mesti saya lakukan adalah observasi gesture tubuhnya kalau mau pipis, saat dia ngompol itu. Misalnya, mulai pegang-pegang celana atau jadi mematung. Setelah hari kedua, dia udah lebih ngerti. Bukan bilang. Tapi, dia akan langsung mengambil mobil-mobilannya dan berlari ke arah kamar mandi kalau mau pipis. Iya, mesti bangeeeet sambil bawa mobil. Kalau diajak pun, dia akan sibuk cari mobilnya dia buat dipegang baru lari ke kamar mandi. Kan bikin deg-degan yak, sempet banget cari mainan dulu. Tapi, biasanya dia bisa menahan dan baru mengeluarkan pipisnya di kamar mandi. Tapi, yah sering juga masih kecolongan apalagi kalau dia lagi asik main, jadi malas lari ke kamar mandi dia. Nah, udah kebayang kan ngos-ngosannya.

 How about Poo?
 Ken sepertinya lebih gampang dilatih pipisnya dulu. Soalnya sering banget kecolongan dia pup di celana, yang bikin "pisang goreng" bergelundungan di lantai. Dia amazed sendiri lihat poo-nya terus bilang apa coba, "ayaaam!" keseeel nggaaak dia sangka itu ayam goreeeng, LOL. Pokoknya buat saya lebih susah lihat tanda-tanda ken mau pup dibanding mau pipis. Pernah waktu itu berhasil dua kali juga begitu lihat dia mau ngeden langsung dudukin di potty dan berhasil. Terus sengaja saya kasih lihat waktu buang potty-nya ke toilet dan kasih tahu cara flush-nya sambil bilang, "bye-bye, poo poo.." Maksudnya biar dia tahu dimanakah tempat kotoran manusia itu seharusnya berada.
Dia senang banget waktu pupnya di flush. Tapi, setelah itu dia jadi tahu kalau pottynya bisa dibongkar dan keesokan harinya jadi super penasaran sehingga sedikit-sedikit nyamperin potty, bukan untuk pup tapi untuk "bredelin" potty-nya. Oh, my curious baby~


Fake to Wee, Fake to Poo
Ada saatnya Ken pura-pura mau pipis, padahal nggak. Dia lari ke kamar mandi sambil bawa mobil, terus pas udah di kamar mandi dia malah bilang "nggak..." maksudnya nggak mau pipis. Berakhir dengan tutup pintu shower dan tidak mau keluar dari situ sambil bilang "bye, ibu..." *cry*
Pura-pura mau pup, duduk di potty ditungguin sambil ngobrol, baca buku, atau nonton video, tapi nggak keluar-keluar sampe ada kali hampir 20 menit. Selama itu dia terkadang berdiri dari potty, lalu saya tanya "nggak jadi eek-nya?" sesaat kemudian dia duduk lagi di potty sambil bilang " eek.. potty aja." Begitu terus sampai beberapa kali, akhirnya saya sudahi saja. Nggak lama, dia pup di celana *cry*.

Hahaha, seru ternyata ya ngajarin anak buang air pada tempatnya. Seringnya saya dan suami saling tatap-tatapan aja sambil ketawa pahit kalau lihat Ken pup di celana. Apalagi suami nggak tahan banget dia lihatnya, hahah. Jadi, dia kebagian bersih-bersih lantai dan celana, saya kebagian basuhin Ken. Intinya beneeer mesti banyak-banyakin stok sabar. 

Gimana, buibuuu... Ada yang udah mulai potty training juga?


Keep calm and be happy!

Sawitri Wening

Sunday, February 19, 2017

Trip to Blaise Castle

Photo credit: Mba Nunuy

Jadi, hari Sabtu kemarin kami melakukan perjalanan random. Saya jadi kangen jalan kaki random yang suka saya lakukan dengan sahabat saya waktu kuliah dulu. Iya, jalan kali nggak jelas arah tujuannya sambil ngobrolin hal apa aja yang kita suka. Mulai dari ngelilingin kampus di Depok, jalan-jalan ke daerah Taman Suropati, atau jalan di sepanjang Jalan Margonda yang ramai. Rasanya ingatan itu kembali bangkit ketika kami memutuskan untuk ikut ajakan Mas Huda dan Mba Nunuy ke Blaise Castle pagi itu. Katanya tempatnya tak jauh dari tempat pengajian yang memang mau kita datangi siang itu.

*

Bermula dari drama pagi hari, ketika ayahnya Ken tak kunjung pulang dari mesjid untuk sholat subuh. Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah delapan pagi, dan langit sudah terang. Masalahnya, ayahnya Ken nggak bawa hp, jadi saya nggak bisa ngecek. Panik lah saya, karena nggak biasa-biasanya kayak gini. Biasanya abis sholat subuh di mesjid, dia sudah di rumah lagi sebelum matahari terbit. Jadi, saya tanya tetangga yang biasa sholat subuh di mesjid juga, tapi ternyata hari itu lagi nggak subuh di mesjid. Saya tetap menyuapi Ken, tapi kopi saya sudah dingin sebelum diseruput dan perut sama masih kosong. Mana lah nafsu makan kalau cemas memikirkan suami yang nggak ada kabar. Deuh, udah deh pikiran dah kemana-mana. Mengingat kami sedang ada di negeri orang dan banyak hal yang belum familiar ada di sini, sehingga hal yang saya pikir biasa-biasa aja kalau di Indonesia, jadi nggak biasa. Akhirnya, Mas Huda atau Abay menawarkan untuk menyusul suami saya ke mesjid. Nggak lama, dia sampai rumah cengengesan, pasti karena paham banget kalau istrinya sebegitu cemas sampai tetangga nyariin dia ke mesjid. Singkat cerita, a lesson has learned. 

"Diajakin Mas Huda tuh ke Blaise Castle, katanya dekat rumahnya Bu Bibah. Sekalian ajak Ken main," kata suami saya. Tumben saya pagi itu nggak mager keluar rumah, biasanya suka mager alias males gerak. Soalnya mikir Ken pasti senang kalau bisa main di luar ada temannya, jadi saya mengiyakan.


*

Iya, sempat googling dulu seperti apa sih castle-nya. Oh, iya biasa aja sih bukan bangunan besar dan banyak ornamennya, tapi kayaknya seru juga bisa ajak Ken jalan dan lari di rerumputan. Tapi, kami nggak ada yang tahu kalau jalan menuju ke castle itu adalah sebuah perjuangan, hahahah. Jadi, pikir saya begitu turun bus, jalan sebentar langsung ketemu castle-nya. Jadi, kostum pun menyesuaikan dengan acara utama aja, yaitu ke pengajian. Pakai rok jersey dan flat shoes. Ternyata, mesti masuk hutan dong. Beneran hutan, nggak ada petunjuk, jalannya masih tanah basah gitu, dan karena letaknya di atas bukit, jadi mesti dorong-dorong stroller nanjak. Ah, seru lah!

Di pintu masuk area ini, ada playground yang bisa dinikmati mulai dari toddler sampai adult juga bisa kayaknya dan nggak jauh dari situ,  ada museum "Blaise Castle House" tapi hari itu sedang tutup. Jadi, kami memutuskan untuk mencari castle-nya karena bangunannya dari luar nggak kelihatan sama sekali, di atas bukit dan tertutup pepohonan. Makanya juga kami sempat nyasar dan ada adegan di kejar anjing segala, hahhaha. Jadi, ternyata tempat ini semacam dijadikan tempat buat orang-orang yang mau membiarkan anjingnya bermain di alam bebas. Jadi, anjing-anjing itu nggak ada yang dikasih tali dan hilir-mudik banyak banget, dan kami semua karena nggak terbiasa jadi horor sendiri, huhuhu... 

Di depan museum Blaise Castle House

Setelah tanya orang karena nggak yakin, jalannya turun, ternyata benar kami salah jalan. Akhirnya balik lagi dan mesti nanjak naik melewati jalanan yang nggak disemen ataupun diaspal, intinya nggak ramah stroller kecil. Untungnya stroller yang kami bawa bannya besar. Di tengah perjalanan, kami menemukan dua cabang jalan yang satu agak terjal, tetapi lebih dekat dan satunya lagi tidak lebih terjal tetapi harus lebih memutar. Kami memilih jalan yang kedua karena membawa stroller. Tak lama, kami memutuskan untuk meninggalkan stroller kami karena ada jalan tembus yang tidak mungkin bisa dilewati stroller besar seperti yang kami bawa. The babies pun akhirnya di gendong, dan tak lama kemudian sampai lah kami di tempat bangunan tua itu berdiri, Blaise Castle!

Ini dia Blaise Castle itu... Looks a bit creepy ya...

Ayah siap-siap ngangkut Ken dari Stroller buat nanjak naik, Strollernya kami tinggal.

Jalan kecil menanjak menuju puncak bukit


Foto dulu sama Ken dan Abang Wafi

Saya lagi suka iseng bikin video soalnya seru nggak sih bisa diputar lagi nanti kalau lagi pengin nostalgia. Ini dia video keseruan kami mencari Blaise Castle:



Sebenarnya, ini tempat yang bagus untuk mengenalkan anak ke alam terbuka. Anak bisa latihan hiking di sini. Kalau Ken sudah lebih besar, pasti saya ajak ke sini biar dia bisa berjalan sendiri menikmati tanah basah, rumput, kayu-kayu, dan hijau daun seperti yang abang lakukan kemarin. Kalau kesini, jangan lupa juga pakai baju yang nyaman dan bebas bergerak, sepatu yang tidak gampang licin, dan perlengkapan piknik. Ketemu satu keluarga yang ke atas langsung gelar makanan, menikmati waktu bersama orang tersayang di atas bukit menghadap ke pemandangan di bawahnya. Menyenangkan sekali~


Sekian dulu cerita kali ini. Kalau kamu apa aja yang dilakukan bersama keluarga atau teman di akhir pekan ini?


Cheers!

Sawitri Wening