Showing posts with label UK. Show all posts
Showing posts with label UK. Show all posts

Saturday, June 24, 2017

Pelayanan Kesehatan dan Vaksin di UK


Sebelum berangkat ke UK, salah satu hal yang harus dipikirkan adalah mengenai penanganan masalah kesehatan begitu kita sampai di negara tujuan. Namanya manusia, kita kan nggak pernah tahu ya akan dikasih sehat terus sama gusti Allah atau akan dikasih cobaan sakit. Jadi, memang mesti prepare banget untuk hal ini, apalagi mau pindak ke lingkungan serba baru yang segala sesuatunya asing buat kita. Kalau pindah ke UK, yang paling berasa adalah perubahan suhu dan kelembaban udara yang lumayan signifikan bedanya kalau dibandingkan dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Bulan-bulan pertama di UK, siap-siap dengan serangan masuk angin dan ingusan. Minimal itu yang terjadi di keluarga kami yang tiba di UK pada bulan September saat sedang autumn. 

Obat-Obatan
Hal pertama yang kami pikirkan adalah membawa obat-obatan yang mungkin akan sulit ditemui di UK alias tidak dijual bebas. Walaupun sebenarnya bukan tipe orang yang gampang minum obat, kekhawatiran ini bikin kami antisipasi untuk beli segambreng obat-obatan warung untuk stok selama setahun di UK. Beberapa info dari teman, di UK itu cukup sulit mendapatkan obat warung. Jadi, kami pun membawa cukup banyak obat-obatan seperti paracetamol, obat diare, obat flu, dsb. Begitu sampai UK, ternyata cukup mudah kok mendapatkannya apalagi paracetamol banyak banget dan gampang sekali ditemukan dimanapun. Saran saya, nggak perlu bawa banyak-banyak untuk obat-obatan yang saya sebutkan di atas. Tapi, bawalah stok yang cukup untuk obat herbal seperti Tolak Angin, Minyak Kayu Putih, Minyak Telon (bagi yang punya baby), koyo dan Minyak pijat. Karena percayalah, Tolak Angin dan Minyak-minyakan itu adalah barang langka di UK. Saya sendiri baru ketemu yang jual saat sedang ada Festival Indonesia dan itupun harganya udah jauh lebih mahal dibandingkan kalau beli di Indonesia. Padahal ini penting sekali buat warga garis khatulistiwa, seperti kami ini, yang baru pindah ke negara Eropa yang sehari-hari dingin dan berangin sampai menusuk tulang. Minimal untuk pencegahan dan menjaga tubuh tetap hangat. 

NHS (National Health Service)
Kalau di Indonesia ada BPJS, di UK ada yang namanya NHS. Konsultasi dan berobat di UK itu mostly gratis, kecuali dental treatment kalau nggak salah ya. Caranya adalah dengan mendaftarkan diri ikut program NHS. Setelah menebus BRP (atau KTP kalau kita mah nyebutnya), hal pertama yang penting dilakukan adalah daftar NHS. Mirip-mirip sih kayak di Indonesia, kita daftar ke faskes 1 atau semacam puskesmasnya gitu. Pilihannya bisa dilihat di website nhs.uk dengan memasukkan kode pos alamat tinggal kita. Kalau saya, waktu itu daftarnya langsung nyamperin faskes 1-nya. Tinggal isi data diri dan akan aktif terdaftar setelah 3 hari kerja. Setelah itu, bisa langsung buat appointment untuk ketemu GP (dokter umum)/ nurse. Enak ya gratis pelayanan kesehatannya. Ngantri nggak? Sama ngantri juga. Biasanya kalau bikin appointment hari ini, dijadwalkan ketemu GP-nya 2 minggu kemudian (sabar-sabar aja. Kalau sakitnya sembuh duluan ya alhamdulillaah) kecuali kalau untuk kasus yang darurat ya. 

Kami sendiri, alhamdulillaah, belum pernah berobat ke GP kecuali untuk vaksin Ken. Eh, pernah deh sekali untuk pap smear test dan konsultasi. Hasil tes-nya dikirim via pos. Iya, di UK itu masih lho terbiasa dengan budaya kirim-kirim surat, segala tagihan dkk biasanya akan dikirim lewat pos. Jadi, yang namanya kotak pos itu hampir nggak pernah nganggur, terutama bagi yang suka belanja online.
Surat Hasil Pemeriksaan Serviks dari NHS

Pelayanan kesehatan gratis ini, juga berlaku untuk ibu hamil. Jadi, buat yang hamil dan berencana melahirkan di UK, tenang semua biayanya gratis. Sama halnya dengan di Indonesia, pengguna NHS ini secara default akan ditangani oleh bidan. Jadi sejak awal akan didorong untuk melahirkan secara normal (bisa dengan metode water-birth juga). Asyiknya, setelah melahirkan, ibu akan mendapat kunjungan dari bidan sampai beberapa minggu. Gunanya untuk memantau kesehatan fisik dan mental ibu dan anak pasca melahirkan, bahkan disediakan semacan kelas parenting gitu. Iya yang perlu digarisbawahi dan bikin saya happy begitu tahu, kesehatan mental ibu juga ikut dipantau. Ditanya bagaimana perasaannya setelah melahirkan, merasa kesepian atau kelelahan, dsb. Mengingat baby blues syndrome adalah fenomena yang umum terjadi pada ibu yang baru melahirkan, rasanya jadi penting banget ya karena nggak sedikit yang akhirnya berujung jadi trauma dan depresi yang berkelanjutan. 

Catch-up Vaksin di UK
Vaksin pertama yang saya berikan untuk Ken saat di UK adalah vaksin influenza. Berbeda dengan di Indonesia, vaksin ini jadi salah satu vaksin wajib yang diberikan ke anak-anak ataupun orang dewasa, terutama ketika mulai masuk musim dingin. Benar memang, terasa bedanya di diri Ken. Yang biasanya kalau flu hanya sampai sekitar seminggu, lalu sembuh. Di awal musim dingin, Ken meler terus sampai kurang lebih sebulan atau dua bulan. Pileknya hilang timbul gitu, jadi hari ini hilang 3 hari kemudian pilek lagi. 

Memang, ada perbedaan antara jadwal imunisasi di Indonesia dengan di UK. Seperti kalau di Indonesia Hepatitis B itu wajib, kalau di UK, itu adalah vaksin pilihan. Lengkapnya silakan lihat link di sini. Kalau kita sudah mendaftarkan anak kita di faskes terdekat, biasanya mereka akan mengirim notifikasi terkait jadwal pemberian vaksin, bisa melalui sms, telepon, email, ataupun surat. Jadi, kita nggak kelewatan memberikan vaksin. Tapi, info dari salah satu nurse di faskes tempat kami mendaftar, ternyata NHS juga masih berbenah terutama dalam hal administratif. Jadi, ada ajalah pasien yang missed tidak terdata dan akhirnya nggak dapat notifikasi, kayak nasibnya Ken. Alhasil, saya harus datang ke faskes/klinik untuk bikin appointmet lagi kalau mau vaksin.

Berhubung akhir-akhir ini lagi ramai lagi soal vaksin di Indonesia, jadi teringat lah ibu pelupa ini kalau Ken belum catch-up beberapa vaksin, yaitu Hib, DPT ulangan, dan MMR. DPT ulangan ternyata Ken tidak bisa dapat karena di jadwal vaksin di UK, DPT ulangan itu diberikan pada anak usia 3 tahun, berbeda dengan yang ada di Indonesia. Yes, semua vaksin tersebut gratis. Meskipun begitu, awalnya kami sempat galau memberikan vaksin MMR kepada Ken karena dari website NHS ini, disebutkan kalau MMR, Children Nasal Flu, dan Shingles Vaccination adalah jenis vaksin yang mengandung gelatin babi. Sebagai orang muslim, tentu saja kami sempat ragu akan mengambil vaksin ini atau tidak. Tapi, setelah membaca tulisan dari Mbak Dewi dan Mbak Grace serta sharing dengan Mbak Woro (Makasih, mbaak... :)) dan mencari tahu lebih lanjut  mengenai fatwa dan anjuran dari ulama baik di Indonesia ataupun di Eropa tentang vaksin, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan vaksin MMR juga kepada Ken. Ini sebenarnya pilihan sih ya dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Pastikan saja kita sadar akan konsekuensi itu. Terkait dengan fatwa mengenai vaksin tadi, silakan cek lini ini dan ini sebagai bahan pertimbangan ;)


Oke, sekian dulu sharingnya... Semoga bermanfaat :)

Salam,
Sawitri Wening

Wednesday, June 7, 2017

Review AirBnB: Akomodasi Liburan di London

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Tamu agung dari Indonesia datang ke tempat kami di UK. Siapa lagi kalau bukan datuk dan mbah uti-nya Ken. Senang sekali deh rasanya ketemu dengan wajah yang familiar dari Indonesia.Sebelumnya teman saya dari tempat kerja yang lama juga sempat berkunjung. Itu aja udah bikin kangeeen banget pengin ketemu sama orang-orang tersayang lainnya. Soalnya, entah kenapa jadi sadar kalau ternyata kita beneran jauh ya sama orang tua karena setelah 9 hari jalan-jalan bareng, ketemu setiap hari, eh tiba-tiba kok rumah jadi sepi lagi. Iya, selama ini kan meskipun nggak saling bertemu, tapi aliran informasi dan kabar berjalan dengan lancar aja. Thanks to social media and internet! Jarak jauh, menyeberang samudera dan benua, jadi nggak berasa. 

Sekarang saya mau cerita soal pengalaman pertama pakai BnB nih. Sesuai janji saya di postingan sebelumnya. Jadi, akhirnya kami dapat dong penginapan yang pas di London selama kurang lebih 5 hari. Gimana kesan pertamanya? Oh, we had a reaaaaally pleasant stay in London. Definitely will use them again later when we get travelling to... Japan. Tapi, belum tahu kapan 😝. Nggak apa lah yang penting niat dulu. (lihat juga: Pengalaman Mencari Penginapan di AirBnB & Booking.com)

Sebelum dimulai lebih lanjut ceritanya, boleh ceki-ceki dulu nih link airbnb-nya di sini. Waktu itu harganya masih £63 semalam, eh pas kita cek lagi saat check-out, harganya udah berubah jadi £110. Kayaknya sih karena udah masuk summer, musim liburan ya jadi dimahalin.

Adegan nungguin host bukain pintu di depan rumah ternyata kejadian juga sama kita, wkwk. Nungguin di depan gedung flatnya selama kurang lebih 2 jam, gak jelas. Alasannya karena macet. Iya lho, kota maju kayak London, yang sistem transportasi umumnya udah canggih, masih macet juga. Jadi, tenang warga Jakarta, you're not alone. 

Gedung flat tempat kami menginap di London (photo credit: airbnb.com)

Friendly Host
Alhamdulillaah, host kami baik dan sejak awal komunikasi kelihatan nggak ribet orangnya. Namanya Rachael. Jadi, jadwal check-in yang aslinya itu adalah pukul 6pm, Rachael mengizinkan kita untuk bisa check-in lebih awal. Seneng juga bisa check-in jam 3 - 4 pm. Mengingat koper bawaan kami yang segambreng dari Oxford pukul 10am. Sesampainya di London sekitar pukul 2pm kalo nggak salah ingat, kami langsung meluncur dari Victoria ke flat kami yang ternyata cukup jauh dari zona 1. Memakan waktu selama 1 jam sudah dengan macet untuk sampai di sana. 

Sesuai hasil komunikasi kami dengan host, kami akan bertemu sekitar pukul 3-4pm. Tapi, ternyata Rachael juga kena macet dan baru sampai flat pukul 5pm. Setelah itu, kami langsung dipersilakan untuk masuk. Meskipun sempat luntang-lantung nggak jelas di depan flat, lumayan lah tapi bisa check-in lebih awal dan begitu masuk rumahnya,... aaah sesuai ekspektasi, malah melebihi sih. Selama nungguin Rachael, kami berjalan-jalan di sekitar dock dekat dengan flat. Baguuuus banget viewnya! Sukses mengobati kekecewaan kami.

Dock view di belakang flat

Kid-Friendly House
Ternyata, flatnya lumayan luas dan nggak banyak barang. Pas banget buat yang bawa anak kecil. Ada pot2 kaleng kecil sebagai pajangan di meja langsung kami singkirkan ke tempat yang tidak terjangkau Ken. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan 😅. Flat ini punya dua kamar tidur yang cukup spacious, satu kamar mandi, dapur, dan gudang. Fasilitas lainnya ada TV dan Wifi juga. Eh, tapi fasilitas yang ditawarkan host bisa berbeda-beda ya disesuaikan dengan harga juga.

Enaknya pilih akomodasi lewat AirBnB ini adalah biasanya sudah ada dapurnya dan segala perlengkapan sudah disiapkan di sana. Mulai dari panci, piring, gelas, microwave, dan mesin cuci juga ada. Bahkan, di kulkas sudah disediakan bahan makanan yang bisa kita konsumsi sesukanya. Kami sendiri beli roti tawar, selai, dan mie instan sendiri. Kadi sewaktu-waktu kelaparan bisa langsung bikin di dapur. Kami juga sempat mencuci baju di sana beberapa kali. Sengaja memang dari awal bawa baju terbatas aja karena tahu di sana ada mesin cuci. Enak kaaan berasa di rumah sendiri ❤. 

Ruang Tamu

Dapur


Good Location
Sebenarnya kalau mau cari akomodasi yang jalan sebentar langsung Oxford Street atau Wesminster (Zona 1) dan punya uang yang banyak sih ini bukan pilihan tepat ya. Soalnya lumayan jauh dari center, mungkin zona 5 kali ya dekat dengan London Airport. Kalau saya sih nggak sanggup cari akomodasi di Zona 1, mahalnya udah nggak masul akal, secara London apa-apa mahal banget 😭. Untungnya flat ini letaknya dekaaaaat banget sama DLR station yang bisa langsung nyambung tube atau underground(fyi, ini semacam MRT yang sedang dibangun di Jakarta saat ini). Jadi, pergi ke center tetap relatif cepat dan bebas macet. So, buat kami masalah lokasi yang jauh jadi nggak ada sama sekali karena dekat DLR tadi. Saking gampangnya, Datuk dan Mbah Uti juga bisa pulang sendiri dari Buckingham Palace ke flat, waktu berpisah dengan saya, suami dan Ken yang mau ikutan tour di Warner Bross Studio 💃. Tapi memang karena datuk dan mbah uti udah sering ngebolang di luar negeri berdua sih, jadi nggak heran.

Jadi, kesimpulannya saya senang dan puas cari akomodasi dengan fasilitas airbnb ini. Untuk pengalaman pertama oke banget lah. Nggak sabar cobain lagi, tapi kapan ya 😂. 

Ingat ya, kamu bisa dapat potongan harga di airbnb.com kalau sign-up dengan link ini 


Semoga reviewnya bermanfaat ya dan selamat jalan-jalan!


Cheers!
Sawitri Wening

Sunday, June 4, 2017

Ramadhan Pertama di UK & Buka Toko (Mini Giveaway!)


Ramadhan kali ini agak berbeda dengan yang pernah saya lewati sebelumnya. Ini adalah Ramadhan pertama yang saya jalani jauh dari orang tua dan jauh dari serba-serbi pertakjilan yang banyak ditemui di pinggir jalan menuju rumah. Yang paling berasa adalah... Ramadhan kali ini puasanya jauh lebih lama, yaitu selama kurang lebih 18 jam dalam sehari. Lama banget yaa... Nah, perbedaan waktu puasa ini ternyata berpengaruh banget ke perubahan waktu tidur dan aktivitas kami sekeluarga. 

Berhubung Inggris Raya sudah mulai memasuki waktu summer, saat siang hari pun jauh lebih panjang daripada malam hari. Waktu subuh itu sekitar pukul 3 pagi dan hari baru gelap setelah pukul 9 malam. Nah, kebayang nggak tuh gimana panjangnya. Menyenangkannya, suhu udara semakin bersahabat dengan tubuh penghuni garis khatulistiwa macam kami. Serius deh, kalau buka jendela lihat matahari mentereng rasanya bahagiaaa banget. Nggak usah lagi pakai baju berlapis-lapis, nggak perlu lagi pakai coat tebal, dan tangan nggak lagi kedinginan sampai kayak disayat-sayat rasanya waktu winter. Warga asli sini pun nggak kalah bahagianya kalau ketemu matahari, biasanya taman kota akan dipenuhi warga yang asyik tidur-tiduran di rerumputan sambil berjemur dan bercengkrama. Gaya fashion mereka pun ikutan berubah, dari yang kemana-mana pakai jaket/coat, sekarang udah mulai pakai baju yang terbuka. Bahkan pernah nemu juga yang topless waktu Bristol lagi panas-panasnya (Beneran deh 27 derajat celcius aja rasanya udah gerah banget... lalu saya ngebayangin suhu Jakarta -,-). Sekarang paham banget sih kenapa suka lihat bule-bule pake pakaian minimalis kalau di Indonesia. Rasanya pasti gerah banget.

Berhubung anaknya deadliner, saya udah merasakan puasa 18 jam duluan sebelum Ramadhan datang. Iyak, buat bayar hutang puasa tahun lalu yang belum lunas. Hari pertama itu lebay banget rasanya lemes banget dan nungguin maghrib kayaknya lamaaaa banget. Tapi, alhamdulillaah ya, berkat bayar puasa mepet saya malah jadi udah kebayang dan jadi terbiasa duluan puasa 18 jam. Tapi, jangan ditiru ya, tetap lebih tenang kalau bayar puasa jauh-jauh hari kok :'). 

Puasa sambil Menyusui
Terus, sekarang masih menyusui? Masih banget terutama kalau Ken tidur, dia masih bolak-balik bangun untuk mimik. Apa rahasianya biar kuat puasa 18 jam sambil menyusui? Kalau Ramadhan tahun lalu, senjata pamungkas saya adalah jus susu korma yang enak itu lho (cek resepnya di sini) dan emang menurut pengalaman saya emang berpengaruh banget buat jaga energi selama puasa. Masih kebayang dulu setiap abis menyusui, rasanya pengin makan nasi sebakul. Tapi, sekarang ternyata nggak bisa bikin itu karena nggak punya blender, hahaha cetek banget alasannya. Jadi, strategi menjaga stamina saat berpuasa sambil menyusui a la saya adalah sebagai berikut:
- Selalu sedia kurma setiap buka dan sahur
- Makan daging merah setiap sahur
- Makan nasi saat sahur dan berbuka (terbukti, pas buka puasa pakai pizza aja besoknya lemes)
- Minum susu/jus buah/buah saat sahur
- Minum minyak ikan dan habbatusauda
- Minum air putih yang banyaaaaak saat sahur dan berbuka

Perubahan Jam Tidur
Nah, ini dia nih yang juga lumayan signifikan bedanya. Kalau biasanya paling nggak saya tidur jam 12 malam maksimal, sekarang baru bisa beneran tidur setelah subuh atau sekitar pukul 4 pagi. Biasanya bangun lagi pukul 9 pagi (itu juga karena dibangunin Ken biasanya). Soalnya waktu antara buka puasa dan sahur itu lumayan dekat. Coba deh bayangin, buka puasa jam 9:20 malam (lanjut sholat maghrib, makan malam), Isya sekitar pukul jam 11 malam (masih lanjut tarawih) dan harus sahur paling nggak jam 02:30 pagi. Kayaknya kalau abis tarawih terus tidur, alamat bakal lewat sih sahurnya.

Kebetulan rumah kami di Bristol sangat dekat dengan masjid, jalan kaki kira-kira 5-10 menit. Jadi, suami biasanya selalu menyempatkan untuk isya dan tarawih di masjid sampai kira-kira pukul 12 malam. Sementara saya biasanya baru bisa Isya saat Ken sudah tidur. Oiya, saya udah bilang belum sih kalau semenjang masuk spring, jam tidur malamnya Ken ikutan berubah. Nggak ada deh ceritanya Ken tidur dibawah jam 10 sekarang karena menurut tubuhnya, malam itu baru dimulai pukul 9 malam. Akhirnya, dia baru akan tidur paling tidak pukul setengah 12 malam. Sebenarnya ada untungnya juga sih yak arena jam tidurnya Ken kurang lebih mengikuti jam tidur kami. Tapi, waktu me-time dan berduaan sama suami jadi terbatas banget rasanya, hahahah. Karena kedua hal itu hanya bisa dilakukan saat anak tidur, iya kan buibu? Hari ini anaknya lagi tidur lebih cepat, jadi saya bisa nulas-nulis di sini deh #momsproblem ;)

Jadi, beda tempat dan beda waktu tantangan ibadahnya juga bisa berbeda ya. Alhamdulillaah masih kuat dan mampu menjalani puasa yang cukup panjang di sini. Mudah-mudahan sehat selalu dan bisa konsisten. Semoga Ken juga nggak banyak drama karena masa toddler itu ya ampun tiada hari tanpa drama ya ternyata. Pengin ketawa aja rasanya lihat tingkah polah si Ken yang makin ceriwis dan makin kepo.


Buka Toko @Bawana.ID & Mini Giveaway
Nah, karena udah masuk Ramadhan tahun ini, berarti sebentar lagi saya akan balik ke Indonesia. Insya Allah rencananya pertengahan September ini. Rasanya campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akan ketemu orang-orang kesayangan lagi, ketemu nasi padang, nasi uduk, pempek, cilok, aaah…. Sedihnya karena sudah mulai nyaman tinggal di sini tapi harus meninggalkan semuanya. Rasanya setahun itu kok cepaaat sekali ya.

Dalam rangka itu pula, akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko jasa titip dan PO barang-barang dari UK. Lumayan lah ya bisa tambah-tambah penghasilan sambil bantu teman-teman yang lagi butuh cari barang-barang dari UK. Ayo, ibu-ibu yang mau nitip barang apa aja dari UK dengan harga lebih murah bisa langsung cuuus ya kontak aku. Hahaha, ternyata postingan terselubung…

Dalam rangka syukuran buka toko di Bulan Ramadhan ini, saya mau bagi-bagi hadiah buat 4 orang beruntuuung. Hadiahnya ada buku kece dari penerbit Usborne yang judulnya “See Inside Your Body”. Ini baguuuus dan wajib banget ada di lemari buku anak-anak kita karena bikin pelajaran biologi soal anatomi tubuh manusia jadi lebih fun. Nggak usah anak-anak, emak-emak kayak saya aja senang bacanya. Bahagianya tinggal di UK itu buku anak-anak yang keren-keren harganya bisa jauh lebih murah dibandingkan harga di imported book section di toko buku Indonesia.

image from here
Hadiah keduanya ada Ted Baker Lip Balm. Iyaaa, salah satu brand incaran kalau belanja di Inggris ya Ted Baker London. Kayaknya semua orang tahu ya kalau brand ini asalnya dari London. Karena itu harga tas atau baju-bajunya bisa sangat jauh lho dari toko yang ada di Indonesia. Aku baru tahu juga ternyata mereka mengeluarkan produk body care dan parfume. 

image from here

Hadiah terakhir, 2 buah voucher belanja senilai @Rp 50.000,- di @bawana.id untuk 2 orang beruntung,

Caranya gimana?Gampaang... Langsung aja ke akun instagram @bawana.id atau klik gambar di bawah ini dan ikuti instruksi yang ada di captionnya ya.



🌷FOLLOW akun Instagram @bawana.id (Pastikan akun tidak dikunci ya)
🌷LIKE postingan ini (postingan asli @bawana.id)
🌷REPOST Postingan ini dan gunakan hashtag #pobawanaid dan #giveawaybawanaid
🌷MENTION 5 teman kamu untuk ikutan giveaway @bawana.id di komen postingan ini (postingan asli @bawana.id)
●
●
🌟Periode Giveaway 31 Mei -27 Juni 2017
🌟Pemenang akan dipilih secara acak dan bersifat mutlak.

🌟Hadiah akan dikirim pada bulan September 2017. Free Ongkir Jabodetabek!

Semoga beruntung dan selamat menjalani ibadah Ramadhan semuanyaa!!



Cheers!

Sawitri Wening

Wednesday, April 5, 2017

First Family Hiking at Cheddar Gorge, Somerset (Part 1)

Rasanya baru kemarin saya bermimpi bergandengan tangan dengan orang yang saya sayangi, sambil menyusuri jalan menanjak di antara hutan dan melepas pandangan jauh, di atas bukit, ke hamparan pemandangan alam dan perkotaan yang terlihat begitu kecil, namun mengagumkan. Mimpi sederhana seorang gadis rumahan yang ingin diajak berpetualang dengan pasangannya kelak.  

*
Perjalanan menuju Cheddar. Iya, ibu pura-pura tidur...
Minggu lalu, suami saya mengajak saya pergi ke Cheddar Gorge. Sebuah tempat yang pertama kali kami dengar dari Mbak Rosi, saat para mahasiswa Indonesia di Bristol sedang berkumpul di College Green untuk memperingati hari sumpah pemuda. Tempatnya indah, ada gua, dan tebing-tebing, katanya. Yang paling menarik di telinga saya, sebagai seorang pecinta keju, adalah di sana ternyata tempat asal mulanya Keju Cheddar, sesuai dengan nama tempatnya ya. Tentu saja, saya langsung semangat menerima ajakan suami saya. Walaupun jujur saja, saya belum benar-benar terbayang seperti apa sih Cheddar Gorge itu, meskipun sudah pernah sekali browsing tentangnya. Pokoknya mah diajak jalan-jalan ke tempat baru sama suami, bayangannya pasti seru!

Tidak ada persiapan khusus. Seperti biasa, kalau suami saya mengajak jalan-jalan, urusan cari-cari tahu lebih detilnya baru akan dilaksanakan H-1. Lagipula, kami bukannya pergi ke tempat yang jauh--walau kenyataanya akan terasa jaaaauuuuh sekali. Akhirnya, suami saya pun bertanya pada seorang temannya yang pernah ke Cheddar Gorge sebelumnya. "Besok pakai sepatunya jangan yang licin, soalnya jalannya menanjak" begitu pesan pak suami. "Jadi, kita beneran nggak bisa bawa stroller?" Tanya saya polos--oh, semenjak tinggal di Bristol, stroller sudah seperti rumah keduanya Ken. "Nggak kayaknya, nanti Ken aku gendong aja." Saya melongo seraya bertanya, "sanggup?" Jawabannya nggak usah saya ceritain ya. Soalnya kalo dia jawab "nggak" ya sudah, bubar rencana kita 😂.

Paginya di hari keberangkatan, Selasa (4 April 2017) itu, saya bangun kesiangan. Semenjak masuk spring, Ken tidur hampir jam 11 malam, rupanya tubuhnya menyesuaikan dengan kapan  waktu menjadi gelap. Saat itu, jam 7:30 malam saja belum maghrib. Jadi, ya sudah bangunnya pun jadi siang, saya juga ikutan karena waktu istirahatnya Ken sama dengan waktu istirahat saya, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya 😛. Alhasil, kami pun baru berangkat sekitar pukul 11 pagi. Perbekalan kami simple aja (karena nggak sempat masak) hanyalah sandwich foot-long subway dua buah, air satu botol, dan snack (veggies straw-snack, biscuits, dan Ella's Kitchen's smoothies) untuk Ken. Tidak lupa, sebelumnya suami saya membeli pulsa telepon untuk kebutuhan gps, daripada kesasar. Ya, semenjak tinggal di sini, kami hampir tidak pernah isi pulsa hp karena wifi sudah dimana-mana, jadi kalau tidak karena butuh sekali ya biar saja mas operator bilang "zero..zero.." terus. Full charged power bank  dan kabel-kabelan pun tidak ketinggalan. Semuanya tersimpan rapi di dalam carrier hijau neon milik ayah, yang hari itu saya bawa. Sementara ayah bawa gembolan ergobaby yang beratnya 2-3x dari carrier yang saya bawa, yaitu Ken. 

"Perjalanannya kurang lebih 2 jam," begitu kata ayah. Duh mak... Saya tadinya sudah menyiapkan V-Fresh sebelum berangkat, tapi karena Ken merengek bilang "Ken mau pegang..., Ken mau pegang..." jadinya ketinggalan deh. Belajar dari perjalanan panjang ke Bath dengan bus tempo hari, perut saya ini suka agak norak kalau naik bus lama-lama, alias mabok darat. Tapi, yasudah lah, karena amunisinya terlanjur ketinggalan, rintangan berat pun harus dihadapi *nangis di pojokan 😥.

Perjalanan menuju Cheddar Gorge
Sebelum sampai ke Cheddar, kami harus menaiki bus dulu sekitar satu jam lebih menuju Wells. Kami memutuskan untuk naik bus dari Coach Station. Alasannya sih supaya lebih hemat karena lihat di website first bus, naik bus ke Wells bisa dapat potongan harga sekian persen. Tapi, ternyata itu hanya khayalan belaka 😅. Akhirnya kami memanfaatkan diskon student-nya ayah saja deh. Harga tiket bus return dari Bristol - Wells adalah £6,5 (adult) dan £5,5 (student), kalau di bawah 5 tahun masih gratis. Sampai di Wells Bus Station, naik lagi bus dari Wells - Cheddar £7 (one-way) sudah berdua, sekitar 30 menit kalau tidak salah.


Saya mau cerita hal mengenaskan sekaligus mengharukan, tapi juga ada menjijikannya, sekaligus membahagiakan (terutama buat saya). Ya, ini tentang mabok darat yang udah saya singgung-singgung tadi. Jadi, kami memilih duduk di lantai atas bus, di kursi paling belakang. Alasannya supaya lebih leluasa aja. Tahu kan gimana mobile-nya balita umur 19 bulan. Daripada mengganggu penumpang lain kan. Tapi, keputusan itu salah besar buat saya yang suka mabok darat ini. di 3/4 perjalanan, saya udah benar-benar nggak tahan, saya pun sibuk mencari plastik, di dalam tas, yang saya gunakan untuk membungkus sepatu Ken. Bayangin, sambil nahan cairan hangat membludak dari dalam mulut saya. Dan, yes! saya berhasil muntah di plastik. Lega deh, beneran lega sekaligus nggak mengotori bus. Ternyata kelegaan tadi hanyalah semu, nggak lama kemudian, saya muntah lagi. Terdengar ayah bilang ke Ken, "Ken, tuh lihat ibu kasihan pusing, lagi muntah Ken." Anak ini sudah tahu yang namanya mengasihani, seringkali dia menunjukkan perasaan iba. Dia pun memaksa mendekati saya sambil menyebut, "ibu...ibu... mau pewuk ibu..." dengan nada cemas. Terharu sekali saya dibuatnya, tapi sekaligus ingin bilang, "makasih, Ken.. Tapi, jangan sekarang, ibu lagi maboook..." Saya yang belum tuntas dengan urusan permuntahan dan masih memegang plastik berisi cairan hangat itu, mesti meladeni Ken yang kekeuh mau memeluk ibunya. Hingga mimpi buruk pun terjadi...., muntahannya tumpah dari plastik ke lantai bus 😑. Hening sesaat. Saya langsung mengajak Ken pindah kursi dan bilang ke ayah sambil lemas, "Yah, muntahnya tumpah. Plastiknya bolong." Dari wajahnya, saya bisa lihat kalau ia tahu saya sedang minta tolong. Saat itu lah derajat ketampanannya meningkat sekian derajat dalam sekejap. 

Dia bisa saja mengajak saya pindah kursi, meninggalkan bukti kejahatan saya menggenang di lantai bus, di antara sela-sela kursi. Tapi saya tahu, suami saya bukan orang yang seperti itu, makanya saya meminta tolong. Bisa tebak apa yang dilakukannya? Kami hanya tinggal punya beberapa lembar tissue basah di tas, satu sudah saya pakai untuk bebersih, sisanya habis saat itu juga, ia gunakan untuk membersihkan lantai bus yang terkena genangan asam lambung saya 😰. Saya nggak henti bilang "sorry" saat dia bekerja keras membersihkannya seorang diri, sampai bersih, tanpa mengeluh sedikitpun. Entahlah tangannya berbau seperti apa setelah itu. Alhamdulillaah, nggak lama kami sampai di Wells. Bus ke Cheddar datang sekitar setengah jam lagi. Saya menunggu di dalam ruang tunggu dan dia mengajak Ken ke Tesco untuk cari minuman dan tissue basah. Pengertian sekali ❤.
Istirahat sejenak di dalam ruang tunggu Bus Station Wells

Dari Wells ke Cheddar... masih jauh ternyata

Ayah dan Ken datang bawa tissue basah dari Tesco di seberang jalan
Kejadian tadi mengingatkan saya saat masa melahirkan dulu. Saat saya kesulitan bangun dan pispot harus dicabut. Dia yang membantu saya tertatih pergi ke toilet, menolong pelan-pelan, membersihkan dan membasuh saya sampai bersih. Duh, jadi terharu... Di sini lah saya semakin yakin kualitas seperti apa yang ada dalam diri suami saya dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Ah, belum apa-apa perjalanan ini sudah memberi pelajaran berharga 😊.

Saat sampai di Cheddar saya kembali berterima kasih kepadanya. "You probably have done the most disgusting job in this world, yah.. Thank you yaa.." Kata saya sambil terengah-engah menaiki tangga Jacobs & Ladder Tower. Dia hanya menjawab, "Itu nggak seberapa dibandingin perjuangan kamu melahirkan."

Terminal Bus Wells siang itu...

Bersambung ke postingan selanjutnya ya...

Have a good day!

Sawitri Wening

Tuesday, April 4, 2017

Pengalaman Mencari Penginapan di AirBnB & Booking.com


Beberapa waktu lalu, ibu mertua saya ngabarin kalau beliau akan berkunjung ke Inggris. Waaah, seneng banget deh rasanya. Apalagi ngebayangin pertemuan antara cucu dan eyangnya yang sudah berbulan-bulan berpisah, kurang lebih 8 bulan. Tapi, yang lebih seru lagi sih ngebayangin bisa jalan-jalan bareng keliling Inggris. Heheh, ngarep banget. Nggak kok, kami cuma nemenin aja. Karena keterbatasan waktu dan biaya, kami akhirnya hanya akan singgah ke 4 kota saja: Bristol (dimana kami tinggal sekarang), Bath (satu jam saja dari Bristol), London (ini wajib lah ya kalau plesiran ke UK), dan terakhir Oxford (karena datuknya Ken mau lihat salah satu kampus tersohor itu). 

Jadi, begitu tahu datuk dan mbauti Ken mau ke sini, kami juga semangat persiapannya dong. Sebenarnya, saya sih yang lebih semangat sampai dorong pak suami buat gerak cepat bikin itinerary dan sama-sama cari penginapan. Btw, ini baru kami sadari setelah menikah lho. Saya dan suami beda banget dalam hal menghadapi "tugas". Ya anggap aja persiapan orang tua ke sini adalah tugasnya. Saya cenderung lebih cepat bergerak karena mungkin agak cemas ya, takut nanti susah cari penginapannya atau tiba-tiba harga jadi mahal semua, dsb. Sementara suami saya orangnya santai banget, bangeeeet. Jadi, dia cenderung mengerjakan tugas nanti kalau sudah dekat waktunya. Canggihnya, tugasnya dia tetap selesai dan nggak pernah nggak memuaskan hasilnya. Tapi, kali ini saya maksa dia biar gerak lebih cepat. Abis gemes kan gimana kalau tiba-tiba hal yang saya sebutin tadi kejadian. Ternyata bener aja, hotel yang kami udah lirik-lirik dari jauh-jauh hari, harganya naik dua kali lipat dari sebelumnya dong karena mikir, nanti aja lah bookingnya masih ada waktu. Padahal hotelnya oke dan strategis banget lokasinya. Tapi, ya sudah lah akhirnya kami cari penginapan lain. Kali ini, saya mau share tentang dua situs website yang kami gunakan untuk mencari penginapan di Inggris. 


Mencari Akomodasi lewat AirBnB

Tampilan halaman depan aplikasi AirBnB. User Friendly!
 Jadi, berhubung hotel di sini mahal-mahal. Kami pun cari alternatif lain. Awalnya, kami menawarkan untuk mencari flat aja lewat AirBnB.com. Ini semacam marketplace buat penyedia hospitality services gitu dan biasanya penyedianya itu personal. Jadi, properti atau tempat yang ditawarkan pun lebih berasa homey karena emang pada dasarnya kebanyakan yang disewain itu kamar atay rumah penduduk lokal. Malah, ada juga lho yang nyewain caravan atau boat beneran di dalamnya udah disediakan berbagai macam keperluan untuk tinggal, seperti tempat tidur, kamar mandi, dapur, dsb. Selain itu karena ini personal business, kita bisa kenalan dan ngobrol langsung sama pemilik properti/host-nya. Well, ini pertama kalinya sih saya coba cari penginapan di sini, untuk di London dan Oxford. Nanti, saya share ya gimana kesan pertamanya.


Salah satu inceran flat di London, Tapi, nggak direspon sama hostnya T,T


Range harganya tentu luas banget, tapi di website ataupun app-nya dia akan kasih tau rata-rata harga sewa di kota yang akan kita datangi itu berapa. Jadi, kita bisa dapat tempat yang biasa banget atau yang mewah ber-jacuzzi juga bisa. 

Berikut adalah tips dari saya saat mencari penginapan lewat AirBnB:
1) Sebelum confirm untuk booking, cek pasti dulu final price-nya karena biasanya akan ada biaya tambahan untuk keamanan atau kebersihan. 

2) Karena kita akan tinggal di tempat orang, pastikan kita melihat foto dan deskripsi dari properti itu dengan seksama. Kalau saya pribadi nggak terlalu suka dengan tempat yang terlalu personalized, kayak banyak tempelan poster band2-nya atau banyak patung atau gambar tertentu yang bikin saya obviously merasa saya lagi numpang di tempat orang. Bukan merasa kayak di rumah sendiri. Bahkan ada juga yang di rumahnya ada anjing/kucingnya, kita pun diperbolehkan berinteraksi dengan hewan peliharaan tersebut. Buat yang senang binatang sih bisa jadi nilai tambah, tapi kalau untuk yang alergi bulu, ini bisa jadi hal minis. Ini pilihan pribadi banget sih. So, baca deskripsinya dengan hati-hati ya.

 3) Cek waktu check-in dan check-out. Ini penting banget karena beda-bedanya bisa jauh banget setiap tempat. Kalau di hotel standarnya wakti check-in jam 1 siang dan check-out jam 11 pagi, di sini ya suka-suka pemiliknya. Ada yang waktu check-in dari jam 6 sore sampai jam 10 malam aja, di luar itu nggak akan dibukain pintu. Ada yang fleksibel 24 jam. Jadi, perhatikan dan sesuaikan dengan waktu kedatangan kita. Jangan sampai mesti luntang-lantung nggak jelas nungguin pintu rumahnya dibukain karena memang belum waktunya check-in. Beda cerita kalau nemu host yang baik hati dan senang menolong.

 4) Yang ini penting banget juga buat manajemen ekspektasi kita; cek review properti yang kita incar. Emang yang namanya 'word of mouth' itu berpengaruh banget ya dalam hal marketing, terutama buat saya, lebih percaya review dari pengalaman orang langsung. Malah ada host yang terang-terangan nulis 'kalau nggak mau kasih 5 bintang mending nggak usah kasih sekalian dan kritik saran dikasih tahu langsung ke dia. Bukan lewat fitur review di website'. Udah lihat foto rumah yang cakep dan deskripsi yang sesuai, ternyata di-review banyak yang ngeluh karena tempatnya nggak sesuai foto, kamar mandinya bocor, dsb. Beda kayak hotel, karena ini tempatnya satu, jadi udah pasti yang bakal kita temui kurang lebih akan sama seperti pengalaman pelanggan sebelumnya. Selain itu, perhatiin juga automatic post tentang booking cancellation. Jadi, kalau host-nya cancel bookingan kita tiba-tiba, bakal ke-post otomatis tuh di reviewnya kalau dia cancel berapa hari sebelum hari-H. Jadi, kalau liat review orang itu sering cancel, bahkan kejadian ada pula yang di-cancel hari-H, mending nggak ambil risiko nggak sih. 

 5) Seperti yang saya bilang, bookingan kita bisa dicancel host. Tapi, sebelum booking pun kita mesti request dulu, nggak semuanya instant. Di awal kita juga mesti memperkenalkan diri kita dulu ke host-nya, semacam permisi dulu lah mau nebeng di tempatnya, tapi bayar. Request kita bisa hangus dalam waktu 24 jam kalau nggak direspom oleh host dan request kita juga bisa ditolak. Jadi, ya mesti cari lagi. Sebaiknya, kita juga carinya satu-satu, jangan sekaligus request 2-3 properti karena kalau di-accept semua, bisa berabe kita. Bayar lebih mahal, karena biasanya akan ada potongan kalau kita yang cancel setelah booking. 

Bisa coba Pirates Life dengan tinggal di Houseboat! 
Jangan lupa masukkan kode potongan harganya. Lumayaaaan banget! Kayak kemarin saya dapat potongan £30 untuk penggunaan pertama kali. Lumayan lah yaaa buat beli lipstick 6 biji (kayak suka beli lipstick aja 😝). Buat yang baru pertama kali coba AirBnB, silakan klik link ini ya https://www.airbnb.co.uk/c/athar7?s=41 dan nikmati potongan harganya! Saya nggak tahu sih kalau di luar Inggris dapatnya jadi berapa. Oiya, AirBnB ini ada hampir di semua kota hits di dunia. Mau ke Bali, Lombok, Seoul, Tokyo, Maldives, Venice, Paris, New York, Jakarta adaaa... 


Booking Penginapan tanpa biaya di Booking.com
Kalau AirBnB tadi saya rekomendasikan buat yang sudah pasti dan sudah jelas kapan akan berlibur atau datang ke suatu tempat. Gimana dong kalau saya maunya lebih fleksibel karena kadang suka labil maunya nginep di A, eh tiba-tiba penginnya di B aja. Saya banget! hehe... Atau punya rencana libutan tanggal segini, tapi kayaknya sekitar tanggal segituan teman mau berkunjung. Yowis, nggak usah pusing-pusing. Langsung lah meluncur ke booking.com. 

Banyak potongan harga yang menggiurkan di booking.com
 Saya tahu situs ini dari salah seorang teman yang saya mintai tolong untuk booking hotel saat kami sampai di London. Seperti biasa ya kita bisa pilih penginapan sesuai dengan harga yang kita mau. Saya dulu pertama datang ke sini menginap di semacam losmen gitu harganya cuma £25 per malam, murah banget. Enaknya, kami nggak harus bayar biaya booking di awal dan free cancellation fee kalau kita cancel beberapa hari sebelum hari-H. Ya, tapi kita memang sudah harus memasukkan nomor kartu kredit kita, jadi kalau sewaktu-waktu kita cancel dan nggak sesuai dengan aturan ya bakal otomatis dipotong. Tapi, kalau nggak, kita baru akan diminta bayar saat datang di tempat. Eh tapi, seingat saya ada juga yang nggak mesti masukin nomor kartu kredit karena benar-benar free cancellation. Mesti diperhatikan ya deskripsi pembayarannya. Ini lumayan membantu terutama yang belum punya doku, tapi pengin booking penginapan dari jauh hari.

Kapan ya bisa menginap di sini nggak usah pakai mikir dulu. Semalam 200 pounds ajah~
Sejauh ini, kami udah menemukan penginapan untuk mama dan papa mertua di Bristol dan London, tinggal satu kota lagi nih. Rasanya seru banget berselancar di situs-situs itu, cari tempat yang pas dan harga yang sesuai kantong sambil ngarep bisa stay di tempat keceeeh, tapi liat kantong langsung sepet muka. Semoga bermanfaat ya! Kalau kamu biasanya gimana caranya cari penginapan saat liburan? ada situs yang jadi andalan juga? Share dong, siapa tahu bisa jadi pilihan juga di kemudian hari. 


Cheers!

Sawitri Wening