Monday, June 12, 2017

Sapih Nggak Ya?


Huaaah.. Nggak berasa sebentar lagi Ken udah mau dua tahun. Artinya, waktunya menyapih Ken pun sudah semakin dekat. Sejujurnya saya agak deg-degan memulai prosesnya nanti karena makin kesini Ken malah makin mimik banget anaknya. Saya sampai senewen sendiri karena setiap mau tidur, Ken masih kudu wajib mimik dulu dan sekarang gayanya bolak-balik minta pindah mimik kanan-kiri, "Ken mau mimik satu lagi." Beberapa menit kemudian, dia akan bilang begitu lagi sambil nyuruh ibunya pindah, "ibu suruh sebelah sini aja, Ken sebelah sini." Ya Allah, nih anak udah bisa ngatur-ngatur 😅. Kayaknya sih, kayaknya, ini karena produksi ASI saya udah nggak mumpuni lagi alias tinggal sedikit, apalagi bulan puasa kayak sekarang. Duh, badan rasanya udah kayak tinggal tulang sama kentut gini, masih harus jadi gentong susu pula. Jadi, dia semacam nggak puas gitu mimik di satu sisi, dan akhirnya bolak-balik minta pindah dan jujur, saya lelaaah karena kejadian kayak gitu bisa berlangsung sampai 1-2 jam lebih, baru dia beneran tidur *encok buk*

Ken sebenarnya kalau dalam rangka nggak tidur, dia nggak akan minta mimik lagi. Kecuali kalau lagi drama, misalnya dia kesakitan karena jatuh/kejedot atau kecapekan... Biasanya dia akan otomatis nyebut, "mimik!". Jadi, mimik itu semacam pain relief-nya dia atau untuk cari kenyamanan aja ataaaau sering kali hanya untuk ngegodain ibunya. Saya kasih nggak? Nggak. Biasanya dipuk-puk atau dipeluk dan dicium aja sebenarnya masalahnya udah beres. Kalau dia maksa, saya akan bilang "Kan kalau nggak mau bobok, nggak mimik." dan dia akan mengerti sendiri sih biasanya. Untuk saat ini, begitu kesepakatan antara saya dengan Ken.

Tapi, ada kejadian waktu datuk dan mbah utinya datang berkunjung, Ken kok jadi seriiing banget minta mimik pas lagi bangun. Waduh, pusing sendiri saya karena nggak biasa-biasanya seperti itu. Habit yang udah dibentuk sekian lama, seperti menghilang begitu saja. Mmmh.. menurut saya ini wajar sih karena anak ibaratnya 'dipaksa' menjalani rutinitas baru karena selama dapat kunjungan kan kerjaan kita adalah jalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain, setiap hari. Ken pun jadi tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Kalau ini jadi liburan buat orang tuanya, buat Ken belum tentu. Akibatnya, Ken jadi cepat capek, bosan juga karena harus duduk lama di stroller, dan terakhir baru ketahuan gigi taringnya mau numbuh yang bikin dia nggak mau makan. Lengkap banget ya. Pantes aja dia rewel dan ujung-ujungnya minta mimik. Nah semenjak saat itu, saya merasa intensitas mimik Ken jadi lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Walaupun setelah kembali ke rutinitas awal, kebiasaannya juga ikut kembali meski tetap aja terasa beda. Yang tadinya nggak bangun tidur tinggal bangun, sekarang mesti didahului sama mimik dulu baru benar-benar bangun. Kalau nggak, nangis drama.

Saya masih bersyukur sih karena PR-nya tinggal gimana caranya mengurangi intesitas mimiknya Ken saat mau tidur dan saat tidur. Ini mah sleep-training aja atuh... Iya, udah pernah coba juga kok semalem, terus saya kibar-kibar bendera putih. Nggak tega pisan lah lihat anak nangis kejer sampai badannya dikaku-kakuin gitu. Pending dulu deh pending... Meskipun banyak yang bilang, emang begitu prosesnya. Ibu harus tega. Tapi, saya belum siaaap dan nggak baik juga kalau segala sesuatunya dilakukan dengan terpaksa kan. Lagian Ken belum genap dua tahun juga, jadi yasudah nanti aja lah. Iyaa ini alasaaaan 😂. 

Sekarang perasaan saya gimama? Antara mau udahan aja menyudahi profesi jadi gentong susu-nya Ken, tapi sekaligus nggak rela kehilangan waktu ndusel-ndusel Ken lagi. Biasa, ibu-ibu kan gitu suka ribet sendiri. Iya lho, saya sampai mellow sendiri karena kepikiran nanti kalau Ken udah nggak mimik, doi masih mau nggak ya peluk-pelukan sama saya lagi. Soalnya sekarang aja saya udah sering dapat penolakan kalau mau cium dan peluk dia 💔. Ken masih akan cari-cari saya lagi nggak ya kalau saya tinggal ke kamar mandi. Kan jadi galau... 

Saya jadi kepikiran buat nunda menyapih Ken sampai dia menyapih diri sendiri atau istilah kerennya Weaning With Love (WWL). Kalau suami sih setuju-setuju aja, tapi saya bilang males ah nanti diomong-omongin orang lagi. Hahah, gemes ya the real problem jadi ibu itu sebenarnya bukan di mengasuh anaknya, tapi ada di ketakutan dijudge orang lain. Pengin nulis tentang ini deh kapan-kapan. Kata suami, "yailah, nggak usah lah dengerin omongan orang. Capek sendiri nanti." Iya sih, ibu saya aja udah menerapkan WWL jauh sebelum hal itu hits seperti sekarang. Ibu saya menyusui kakak saya sampai usia kakak saya 5 tahun, sampai minta berhenti sendiri dan nggak ada masalah tuh. Iya, nggak salah baca kok... sampe 5 tahun, sampe anaknya TK. Saya disapih dini karena ibu saya hamil, mungkin kalo nggak saya bakal WWL juga atau apapun itu istilahnya.

Well, sepertinya saya akan memikirkan lagi bagaimana rencana selanjutnya. Intinya mah, seperti yang udah-udah... saya akan jalani senyamannya saya dan anak saya lakukan. Buat saya, yang lebih penting sekarang adalah melakukan sleep training untuk Ken. Pelan-pelan mengurangi ketergantungannya terhadap mimik saat tidur. Kalaupun nanti dia akan menyapih diri setelah lulus sleep training, itu akan jadi bonus. Mari fokus dulu ke sleep training dulu,.... setelah lebaran atau setelah siap. Doakan saya ya!

Cheers!
Sawitri Wening

Saturday, June 10, 2017

#NHW 4 Merumuskan Milestone Pencapaian Diri

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Akhirnya sampai juga di minggu ke-4 perkuliahan IIP tentang Mendidik dengan Kekuatan Fitrah. Kali ini, saya akan melihat lagi tugas-tugas sebelumnya. Mereview dan merevisi apakah sudah sesuai dengan misi saya sebagai seorang individu, istri, ataupun ibu. Saya juga teringat alasan apa yang membuat saya mau bergabung dengan komunitas IIP yang alhamdulillaah mempertemukan saya dengan ibu-ibu hebat yang semangat mengembangkan dirinya untuk kebaikan dirinya dan anak-anaknya. Masya Allah... Rasanya setiap ada kesempatan ikut berdiskusi di 'kelas', semangat itu langsung kembali muncul meskipun hanya bertemu lewat ruang maya. Iya, saya ingin menjadi ibu yang bisa memaksimalkan peran saya mendidik anak dan juga bermanfaat bagi orang banyak. Pada tugas kali ini, saya sadar kalau posisi saya saat ini masih sangat jauh dari apa yang saya cita-citakan itu dan di sini saya diajarkan untuk lebih visioner. Menjalani hidup bukan hanya seperti daun jatuh yang pasrah dibawa aliran air, tanpa tahu kemana tujuan akhir ia bermuara. So, let's just start it now... Bismillaahirrahmaanirrahiim... 

Pertama, saya lihat dulu sebenarnya ilmu apa sih yang paling utama menurut saya yang dapat membantu saya menjalankan peran saya dalam hidup ini. Jawaban saya tetap dua hal, yaitu ikhlas dan manajemen diri yang baik. Ya, hal pertama yang harus saya miliki dalam menerima apapun amanah adalah keikhlasan. Saya percaya, ketika kita ikhlas menjalani sesuatu, hal kita kerjakan akan terasa lebih ringan dan akan membuahkan hasil yang lebih maksimal. Bayangkan apabila tidak ada keikhlasan itu, seberapa sering mulut dan hati ini akan menggerutu dan mengeluh sehingga yang tersisa hanyalah rasa lelah. Bagaimana caranya agar bisa lebih ikhlas? Dengan mengingat-ingat untuk siapa kita mengerjakan pekerjaan itu, bisa untuk kebaikan anak kita, ridho suami, dan yang paling utama (yang kadang kita luput) adalah mendapatkan ridho dari Allah swt.
Manajemen diri juga tidak kalah penting untuk mengarahkan kita ke tujuan akhir kita dan menjaga kita dari hal-hal yang mendistraksi. Ini akan berkaitan dengan tugas kedua saya, yaitu membuat targetan atau check-list kegiatan. Jadi, mari lanjut me-review tugas kedua.

Pada tugas kedua, saya sudah menuliskan tentang targetan pribadi saya. Setelah menjalaninya, ternyata saya punya catatan berkaitan dengan manajemen diri. Agar lebih efektif, upaya untuk meningkatkan manajemen diri ini ternyata membutuhkan kompromi juga dari orang-orang di sekitar kita. Sehingga ketika memulai untuk melakukan manajemen diri, sebaiknya dikomunikasikan dengan orang-orang sekitar (keluarga/suami) agar dapat mendukung jadwal kegiatan atau rencana yang sudah kita lakukan. Contohnya, dalam ceklis pribadi, saya menuliskan ingin menulis blog minimal seminggu sekali. Hal itu akan sulit dilakukan, bagi saya, apabila suami tidak memberikan saya waktu untuk me time duduk dan menulis sendiri, misalnya. Begitulah gaya saya, sangat mungkin berbeda dengan orang lain. 

Mengenai isi ceklisnya, setelah memikirkan ulang dan menjalaninya, sepertinya ada poin-poin yang harus saya tambah dan kurang. Poin tambahan yang pertama adalah menetapkan time-out waktu dengan ponsel (maksimal 10 menit/2 jam). Karena saat ini saya sedang jualan, segala hal yang berkaitan dengan urusan jualan dilakukan pada saat anak sedang tidur atau pada saat jadwal mengecek hape. Karena sungguh, godaan paling besar dalah berselancar di internet yang sebenarnya banyak tidak bermanfaatnya. Entah apa yang didapat dari menghabiskan waktu berjam-jam memandangi layar hp. Jadi, semoga committed dan konsisten. 
Sementara itu, poin yang dikurangi adalah Meluangkan waktu belajar bahasa Inggris (latihan listening, writing, speaking, reading) di sela-sela kegiatan setiap harinya. Menurut saya, indikator ini kurang spesifik sehingga agak sulit bagi saya untuk dilakukan. Mungkin saya akan mengubahnya dengan Mengerjakan soal IELTS seminggu sekali. Lagi-lagi, yuk kita katakan bismillaah...

Untuk tugas ketiga, tugas yang paling menantang menurut saya sebab pertama, saya merasa tidak maksimal mengerjakannya karena dikerjakan saat injury time sehingga saya kurang yakin apakah yang saya tuliskan di sana benar-benar sesuai dengan hati saya atau tidak. Kedua, sepertinya saya masih meraba-raba dalam menentukan potensi dan misi diri. Jadi, setelah saya memikirkan lebih lanjut, berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan potensi dan misi saya:
  • Potensi saya adalah di bidang menulis dan psikologi (terutama yang berkaitan dengan kesehatan mental ibu, perkembangan anak, dan manajemen SDM). Menulis karena saya senang melakukannya dan ilmu Psikologi karena saya tertarik dan pernah mempelajarinya. Kedua hal ini secara praktis belum saya lakukan karena kesadaran kurangnya ilmu yang mumpuni. Jadi, ya... ini akan jadi KM-0 saya.
  • Potensi saya lainnya adalah saya senang sharing cerita baik itu di blog ataupun di social media. Selama ini, niat saya untuk berbagi cerita dalah untuk meluapkan rasa, menyimpan memori, dan berbagi manfaat (tips/review). Menurut saya ketiga hal tersebut sudah baik, hanya terkadang saya sadar membagi sesuatu di social media itu terkadang membangkitkan rasa sombong atau mungkin riya'. Naudzubillaah... Maka, saya niatkan sedalam-dalamnya untuk membagi hal-hal yang kiranya bermanfaat saja dan minim hal-hal buruk seperti yang saya sebutkan tadi.
  • Berkaitan dengan kedua hal di atas, maka saya simpulkan:
    • Misi Hidup: Meningkatkan awareness tentang kesehatan mental ibu (di ranah domestik maupun publik), perkembangan anak, dan manajemen SDM melalui platform tulisan (artikel ataupun cerita).
    • Bidang: kesehatan mental ibu, perkembangan anak, dan manajemen SDM
    • Peran: Author/Penulis

Nulisnya aja udah deg-degan... well, they say 'don't let small minds convince you that your dream is too big'.  *pasang ikat kepala*.

Berikut adalah ilmu-ilmu apa saja yang saya butuhkan untuk dapat mencapai misi tersebut:
1. Ilmu-ilmu seputar pendidikan dan perkembangan anak
2. Ilmu-ilmu seputar kesehatan mental ibu dan bagaimana penanganannya
3. Ilmu-ilmu seputar manajemen SDM (baik untuk organisasi dan penerapannya di rumah)
4. Ilmu-ilmu seputar berbagi manfaat dengan orang lain

Semua ilmu tersebut dibarengi dengan mempelajari ilmu agama dan membiasakan diri untuk menulis minimal seribu kata per hari atau secara bertahap. Caranya dengan menulis di note atau membaginya lewat tulisan di blog ataupun di soical media. Hal ini untuk menangkap ilmu yang didapatkan sekaligus melatih diri untuk semakin terbiasa menulis. Ilmu-ilmu tersebut juga diilhami dari pengalaman pribadi dan kasus-kasus yang ditemui ibu-ibu lain sehingga dapat lebih memahami kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk merasakan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sendiri. Saya menargetkan untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebuta dalam jangka waktu 5 tahun. 

Berikut adalah milestone untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut, dimulai dari KM-0 di usia saya saat ini, 26 tahun.

KM0-KM1 (1 Tahun): Ilmu-ilmu seputar pendidikan dan perkembangan anak
KM2-KM4 (2 Tahun): Ilmu-ilmu seputar kesehatan mental ibu dan bagaimana penanganannya
KM4-KM5 (1 Tahun): Ilmu-ilmu seputar manajemen SDM (baik untuk organisasi & di rumah)
KM5-KM6 (1 Tahun): Ilmu-ilmu seputar berbagi manfaat dengan orang lain

Selanjtnya adalah just do it! lakukan,lakukan, lakukan, lakukan..... Itu yang terpenting ya, wiiii... 

Lagi-lagi mohon doanya supaya saya bisa walk the talk dan semua rencana yang ada di sini bukan hanya jadi pajangan semata. Aamiin-in yaaaa  :')

Salam,
Sawitri Wening

Wednesday, June 7, 2017

Review AirBnB: Akomodasi Liburan di London

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Tamu agung dari Indonesia datang ke tempat kami di UK. Siapa lagi kalau bukan datuk dan mbah uti-nya Ken. Senang sekali deh rasanya ketemu dengan wajah yang familiar dari Indonesia.Sebelumnya teman saya dari tempat kerja yang lama juga sempat berkunjung. Itu aja udah bikin kangeeen banget pengin ketemu sama orang-orang tersayang lainnya. Soalnya, entah kenapa jadi sadar kalau ternyata kita beneran jauh ya sama orang tua karena setelah 9 hari jalan-jalan bareng, ketemu setiap hari, eh tiba-tiba kok rumah jadi sepi lagi. Iya, selama ini kan meskipun nggak saling bertemu, tapi aliran informasi dan kabar berjalan dengan lancar aja. Thanks to social media and internet! Jarak jauh, menyeberang samudera dan benua, jadi nggak berasa. 

Sekarang saya mau cerita soal pengalaman pertama pakai BnB nih. Sesuai janji saya di postingan sebelumnya. Jadi, akhirnya kami dapat dong penginapan yang pas di London selama kurang lebih 5 hari. Gimana kesan pertamanya? Oh, we had a reaaaaally pleasant stay in London. Definitely will use them again later when we get travelling to... Japan. Tapi, belum tahu kapan 😝. Nggak apa lah yang penting niat dulu. (lihat juga: Pengalaman Mencari Penginapan di AirBnB & Booking.com)

Sebelum dimulai lebih lanjut ceritanya, boleh ceki-ceki dulu nih link airbnb-nya di sini. Waktu itu harganya masih £63 semalam, eh pas kita cek lagi saat check-out, harganya udah berubah jadi £110. Kayaknya sih karena udah masuk summer, musim liburan ya jadi dimahalin.

Adegan nungguin host bukain pintu di depan rumah ternyata kejadian juga sama kita, wkwk. Nungguin di depan gedung flatnya selama kurang lebih 2 jam, gak jelas. Alasannya karena macet. Iya lho, kota maju kayak London, yang sistem transportasi umumnya udah canggih, masih macet juga. Jadi, tenang warga Jakarta, you're not alone. 

Gedung flat tempat kami menginap di London (photo credit: airbnb.com)

Friendly Host
Alhamdulillaah, host kami baik dan sejak awal komunikasi kelihatan nggak ribet orangnya. Namanya Rachael. Jadi, jadwal check-in yang aslinya itu adalah pukul 6pm, Rachael mengizinkan kita untuk bisa check-in lebih awal. Seneng juga bisa check-in jam 3 - 4 pm. Mengingat koper bawaan kami yang segambreng dari Oxford pukul 10am. Sesampainya di London sekitar pukul 2pm kalo nggak salah ingat, kami langsung meluncur dari Victoria ke flat kami yang ternyata cukup jauh dari zona 1. Memakan waktu selama 1 jam sudah dengan macet untuk sampai di sana. 

Sesuai hasil komunikasi kami dengan host, kami akan bertemu sekitar pukul 3-4pm. Tapi, ternyata Rachael juga kena macet dan baru sampai flat pukul 5pm. Setelah itu, kami langsung dipersilakan untuk masuk. Meskipun sempat luntang-lantung nggak jelas di depan flat, lumayan lah tapi bisa check-in lebih awal dan begitu masuk rumahnya,... aaah sesuai ekspektasi, malah melebihi sih. Selama nungguin Rachael, kami berjalan-jalan di sekitar dock dekat dengan flat. Baguuuus banget viewnya! Sukses mengobati kekecewaan kami.

Dock view di belakang flat

Kid-Friendly House
Ternyata, flatnya lumayan luas dan nggak banyak barang. Pas banget buat yang bawa anak kecil. Ada pot2 kaleng kecil sebagai pajangan di meja langsung kami singkirkan ke tempat yang tidak terjangkau Ken. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan 😅. Flat ini punya dua kamar tidur yang cukup spacious, satu kamar mandi, dapur, dan gudang. Fasilitas lainnya ada TV dan Wifi juga. Eh, tapi fasilitas yang ditawarkan host bisa berbeda-beda ya disesuaikan dengan harga juga.

Enaknya pilih akomodasi lewat AirBnB ini adalah biasanya sudah ada dapurnya dan segala perlengkapan sudah disiapkan di sana. Mulai dari panci, piring, gelas, microwave, dan mesin cuci juga ada. Bahkan, di kulkas sudah disediakan bahan makanan yang bisa kita konsumsi sesukanya. Kami sendiri beli roti tawar, selai, dan mie instan sendiri. Kadi sewaktu-waktu kelaparan bisa langsung bikin di dapur. Kami juga sempat mencuci baju di sana beberapa kali. Sengaja memang dari awal bawa baju terbatas aja karena tahu di sana ada mesin cuci. Enak kaaan berasa di rumah sendiri ❤. 

Ruang Tamu

Dapur


Good Location
Sebenarnya kalau mau cari akomodasi yang jalan sebentar langsung Oxford Street atau Wesminster (Zona 1) dan punya uang yang banyak sih ini bukan pilihan tepat ya. Soalnya lumayan jauh dari center, mungkin zona 5 kali ya dekat dengan London Airport. Kalau saya sih nggak sanggup cari akomodasi di Zona 1, mahalnya udah nggak masul akal, secara London apa-apa mahal banget 😭. Untungnya flat ini letaknya dekaaaaat banget sama DLR station yang bisa langsung nyambung tube atau underground(fyi, ini semacam MRT yang sedang dibangun di Jakarta saat ini). Jadi, pergi ke center tetap relatif cepat dan bebas macet. So, buat kami masalah lokasi yang jauh jadi nggak ada sama sekali karena dekat DLR tadi. Saking gampangnya, Datuk dan Mbah Uti juga bisa pulang sendiri dari Buckingham Palace ke flat, waktu berpisah dengan saya, suami dan Ken yang mau ikutan tour di Warner Bross Studio 💃. Tapi memang karena datuk dan mbah uti udah sering ngebolang di luar negeri berdua sih, jadi nggak heran.

Jadi, kesimpulannya saya senang dan puas cari akomodasi dengan fasilitas airbnb ini. Untuk pengalaman pertama oke banget lah. Nggak sabar cobain lagi, tapi kapan ya 😂. 

Ingat ya, kamu bisa dapat potongan harga di airbnb.com kalau sign-up dengan link ini 


Semoga reviewnya bermanfaat ya dan selamat jalan-jalan!


Cheers!
Sawitri Wening

Sunday, June 4, 2017

Ramadhan Pertama di UK & Buka Toko (Mini Giveaway!)


Ramadhan kali ini agak berbeda dengan yang pernah saya lewati sebelumnya. Ini adalah Ramadhan pertama yang saya jalani jauh dari orang tua dan jauh dari serba-serbi pertakjilan yang banyak ditemui di pinggir jalan menuju rumah. Yang paling berasa adalah... Ramadhan kali ini puasanya jauh lebih lama, yaitu selama kurang lebih 18 jam dalam sehari. Lama banget yaa... Nah, perbedaan waktu puasa ini ternyata berpengaruh banget ke perubahan waktu tidur dan aktivitas kami sekeluarga. 

Berhubung Inggris Raya sudah mulai memasuki waktu summer, saat siang hari pun jauh lebih panjang daripada malam hari. Waktu subuh itu sekitar pukul 3 pagi dan hari baru gelap setelah pukul 9 malam. Nah, kebayang nggak tuh gimana panjangnya. Menyenangkannya, suhu udara semakin bersahabat dengan tubuh penghuni garis khatulistiwa macam kami. Serius deh, kalau buka jendela lihat matahari mentereng rasanya bahagiaaa banget. Nggak usah lagi pakai baju berlapis-lapis, nggak perlu lagi pakai coat tebal, dan tangan nggak lagi kedinginan sampai kayak disayat-sayat rasanya waktu winter. Warga asli sini pun nggak kalah bahagianya kalau ketemu matahari, biasanya taman kota akan dipenuhi warga yang asyik tidur-tiduran di rerumputan sambil berjemur dan bercengkrama. Gaya fashion mereka pun ikutan berubah, dari yang kemana-mana pakai jaket/coat, sekarang udah mulai pakai baju yang terbuka. Bahkan pernah nemu juga yang topless waktu Bristol lagi panas-panasnya (Beneran deh 27 derajat celcius aja rasanya udah gerah banget... lalu saya ngebayangin suhu Jakarta -,-). Sekarang paham banget sih kenapa suka lihat bule-bule pake pakaian minimalis kalau di Indonesia. Rasanya pasti gerah banget.

Berhubung anaknya deadliner, saya udah merasakan puasa 18 jam duluan sebelum Ramadhan datang. Iyak, buat bayar hutang puasa tahun lalu yang belum lunas. Hari pertama itu lebay banget rasanya lemes banget dan nungguin maghrib kayaknya lamaaaa banget. Tapi, alhamdulillaah ya, berkat bayar puasa mepet saya malah jadi udah kebayang dan jadi terbiasa duluan puasa 18 jam. Tapi, jangan ditiru ya, tetap lebih tenang kalau bayar puasa jauh-jauh hari kok :'). 

Puasa sambil Menyusui
Terus, sekarang masih menyusui? Masih banget terutama kalau Ken tidur, dia masih bolak-balik bangun untuk mimik. Apa rahasianya biar kuat puasa 18 jam sambil menyusui? Kalau Ramadhan tahun lalu, senjata pamungkas saya adalah jus susu korma yang enak itu lho (cek resepnya di sini) dan emang menurut pengalaman saya emang berpengaruh banget buat jaga energi selama puasa. Masih kebayang dulu setiap abis menyusui, rasanya pengin makan nasi sebakul. Tapi, sekarang ternyata nggak bisa bikin itu karena nggak punya blender, hahaha cetek banget alasannya. Jadi, strategi menjaga stamina saat berpuasa sambil menyusui a la saya adalah sebagai berikut:
- Selalu sedia kurma setiap buka dan sahur
- Makan daging merah setiap sahur
- Makan nasi saat sahur dan berbuka (terbukti, pas buka puasa pakai pizza aja besoknya lemes)
- Minum susu/jus buah/buah saat sahur
- Minum minyak ikan dan habbatusauda
- Minum air putih yang banyaaaaak saat sahur dan berbuka

Perubahan Jam Tidur
Nah, ini dia nih yang juga lumayan signifikan bedanya. Kalau biasanya paling nggak saya tidur jam 12 malam maksimal, sekarang baru bisa beneran tidur setelah subuh atau sekitar pukul 4 pagi. Biasanya bangun lagi pukul 9 pagi (itu juga karena dibangunin Ken biasanya). Soalnya waktu antara buka puasa dan sahur itu lumayan dekat. Coba deh bayangin, buka puasa jam 9:20 malam (lanjut sholat maghrib, makan malam), Isya sekitar pukul jam 11 malam (masih lanjut tarawih) dan harus sahur paling nggak jam 02:30 pagi. Kayaknya kalau abis tarawih terus tidur, alamat bakal lewat sih sahurnya.

Kebetulan rumah kami di Bristol sangat dekat dengan masjid, jalan kaki kira-kira 5-10 menit. Jadi, suami biasanya selalu menyempatkan untuk isya dan tarawih di masjid sampai kira-kira pukul 12 malam. Sementara saya biasanya baru bisa Isya saat Ken sudah tidur. Oiya, saya udah bilang belum sih kalau semenjang masuk spring, jam tidur malamnya Ken ikutan berubah. Nggak ada deh ceritanya Ken tidur dibawah jam 10 sekarang karena menurut tubuhnya, malam itu baru dimulai pukul 9 malam. Akhirnya, dia baru akan tidur paling tidak pukul setengah 12 malam. Sebenarnya ada untungnya juga sih yak arena jam tidurnya Ken kurang lebih mengikuti jam tidur kami. Tapi, waktu me-time dan berduaan sama suami jadi terbatas banget rasanya, hahahah. Karena kedua hal itu hanya bisa dilakukan saat anak tidur, iya kan buibu? Hari ini anaknya lagi tidur lebih cepat, jadi saya bisa nulas-nulis di sini deh #momsproblem ;)

Jadi, beda tempat dan beda waktu tantangan ibadahnya juga bisa berbeda ya. Alhamdulillaah masih kuat dan mampu menjalani puasa yang cukup panjang di sini. Mudah-mudahan sehat selalu dan bisa konsisten. Semoga Ken juga nggak banyak drama karena masa toddler itu ya ampun tiada hari tanpa drama ya ternyata. Pengin ketawa aja rasanya lihat tingkah polah si Ken yang makin ceriwis dan makin kepo.


Buka Toko @Bawana.ID & Mini Giveaway
Nah, karena udah masuk Ramadhan tahun ini, berarti sebentar lagi saya akan balik ke Indonesia. Insya Allah rencananya pertengahan September ini. Rasanya campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akan ketemu orang-orang kesayangan lagi, ketemu nasi padang, nasi uduk, pempek, cilok, aaah…. Sedihnya karena sudah mulai nyaman tinggal di sini tapi harus meninggalkan semuanya. Rasanya setahun itu kok cepaaat sekali ya.

Dalam rangka itu pula, akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko jasa titip dan PO barang-barang dari UK. Lumayan lah ya bisa tambah-tambah penghasilan sambil bantu teman-teman yang lagi butuh cari barang-barang dari UK. Ayo, ibu-ibu yang mau nitip barang apa aja dari UK dengan harga lebih murah bisa langsung cuuus ya kontak aku. Hahaha, ternyata postingan terselubung…

Dalam rangka syukuran buka toko di Bulan Ramadhan ini, saya mau bagi-bagi hadiah buat 4 orang beruntuuung. Hadiahnya ada buku kece dari penerbit Usborne yang judulnya “See Inside Your Body”. Ini baguuuus dan wajib banget ada di lemari buku anak-anak kita karena bikin pelajaran biologi soal anatomi tubuh manusia jadi lebih fun. Nggak usah anak-anak, emak-emak kayak saya aja senang bacanya. Bahagianya tinggal di UK itu buku anak-anak yang keren-keren harganya bisa jauh lebih murah dibandingkan harga di imported book section di toko buku Indonesia.

image from here
Hadiah keduanya ada Ted Baker Lip Balm. Iyaaa, salah satu brand incaran kalau belanja di Inggris ya Ted Baker London. Kayaknya semua orang tahu ya kalau brand ini asalnya dari London. Karena itu harga tas atau baju-bajunya bisa sangat jauh lho dari toko yang ada di Indonesia. Aku baru tahu juga ternyata mereka mengeluarkan produk body care dan parfume. 

image from here

Hadiah terakhir, 2 buah voucher belanja senilai @Rp 50.000,- di @bawana.id untuk 2 orang beruntung,

Caranya gimana?Gampaang... Langsung aja ke akun instagram @bawana.id atau klik gambar di bawah ini dan ikuti instruksi yang ada di captionnya ya.



🌷FOLLOW akun Instagram @bawana.id (Pastikan akun tidak dikunci ya)
🌷LIKE postingan ini (postingan asli @bawana.id)
🌷REPOST Postingan ini dan gunakan hashtag #pobawanaid dan #giveawaybawanaid
🌷MENTION 5 teman kamu untuk ikutan giveaway @bawana.id di komen postingan ini (postingan asli @bawana.id)
●
●
🌟Periode Giveaway 31 Mei -27 Juni 2017
🌟Pemenang akan dipilih secara acak dan bersifat mutlak.

🌟Hadiah akan dikirim pada bulan September 2017. Free Ongkir Jabodetabek!

Semoga beruntung dan selamat menjalani ibadah Ramadhan semuanyaa!!



Cheers!

Sawitri Wening

Saturday, June 3, 2017

#NHW 3: Membangun Peradaban dari Rumah

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Tugas kelas matrikulasi kali ini meminta saya untuk membuat surat cinta untuk suami. Mmmhh... sebenarnya udah sering sih nulis yang unyu-unyu soal doi di sini. Tapi, tetap aja saat menuliskannya, saya sempat nangis bombay, rasanya ada yang tumpah dari dalam hati saya, Tapi, suratnya nggak usah ditampilkan di sini ya, maluuuu... hahaha.

Respon suami saat membaca surat dari saya, senyum-senyum sambil bilang "terima kasih ya, sayang." terus memeluk saya yang kebetulan saat itu sedang menyusui Ken. Jadi lah acara berpelukan kami diwarnai dengan ocehan Ken yang jealous liat ibunya dipeluk ayahnya. Dia bilang, "nggak boleh! nggak boleh!" sambil dorong-dorong ayahnya dan tertawa, seolah tengah menggoda kami, Hahahah, begini lah nikmatnya punya anak, mau bermesraan ada aja yang interupsi :p

Tentang Ken Maruta
Usianya sekarang sudah 21 bulan. Seperti kebanyakan ibu, momen yang paling ditunggu ketika punya anak adalah ketika anak kita mencapai milestone perkembangannya. Menyaksikan Ken melewati tahap demi tahap perkembangannya adalah hal yang menakjubkan buat saya. Ken melewati tahap-tahap perkembangannya relatif lebih cepat dari teman-teman sebayanya. 

Potensinya yang menonjol saat ini adalah di bidang bahasa. Di usianya sekarang, ia sudah bisa merangkai kalimat yang terdiri dari 7-8 kata dan menguasai banyak kosakata. Ia juga sudah bisa menyanyi lagu dengan lirik panjang sampai selesai, contohnya lagu "bintang kecil". Dalam hal pelafalan kata, ia sudah bisa menyebutkan kata-kata dengan cukup jelas, Kemampuan bilingual Ken juga mulai terasah. Ia mampu melakukan beberapa instruksi dengan bahasa Indonesia/Inggris tanpa kebingungan. Ia juga sudah terbiasa menggunakan istilah-istilah bahasa inggris dan paham artinya dalam bahasa Indonesia. Misal, dia biasa mengatakan "do you wanna jump?" dan mengerti ketika ibu memintanya untuk "ayo melompat!!" Ken juga sudah bisa menganalogikan sesuatu, misal saat melilitkan tali di jarinya dia akan bilang, "ini kayak cincin ibu". 

Ken adalah anak yang aktif dan very curious. Alhamdulillaah, Ken bukan anak yang mudah disogok nonton video supaya bisa tenang, setidaknya untuk sekarang. Memang sih, agak bikin pusing waktu jagainnya. Ken senang mengeksplorasi tempat dan benda-benda baru alias menggeratak. Saking besar rasa penasarannya, ia bisa mendorong dan memanjat kursi lalu membuka laci hanya untuk mencari tahu apa itu obeng. Tapi, ketika ia sedang senang mengerjakan sesuatu, misal main dengan mobil-mobilannya, bermain puzzle atau bricks, ia bisa fokus sampai 15 menit lamanya.

Ken juga pandai membaca emosi orang lain. Kemampuan interpersonalnya sudah mulai terasah. Ketika ia melihat ibunya sedang sedih, ia akan menghampiri ibunya dan mencium saya seolah sedang menenangkan hati saya, selalu begitu.

Alhamdulillaah, semoga saya bisa terus melihat dan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri Ken.


Bagaimana dengan diri saya?
Pernah mempelajari ilmu psikologi selama 4 tahun, menurut saya bisa jadi merupakan salah satu potensi yang saya miliki saat ini. Sebab sedikit banyak ilmu yang pernah saya pelajari di bangku kuliah dulu sangat membantu saya dalam membentuk pola pikir yang positif terhadap pengasuhan anak jauh sebelum saya memiliki anak sendiri. Pengetahuan mengenai psikologi perkembangan anak yang saya dapatkan saat kuliah dulu, sedikit banyak, membantu saya dalam mengawasi dan mengasuh Ken dalam setiap tahap perkembangannya, sehingga saya merasa lebih tenang dan dapat membantu meluruskan pemahaman yang keliru berkaitan dengan perkembangan seorang anak. Misalnya, ketika orang di sekitar saya khawatir dengan Ken yang senang memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya saat ia belum genap berusia 12 bulan, saya justru lega karena ia saat itu sedang melewati salah satu tahap perkembangannya, yaitu fase oral yang pada teorinya bisa berlangsung sampai usia 18 bulan. 

Eh, tapi saya nggak ahli dan banyak yang lupa juga dengan ilmu-ilmunya lho. Makanya masih senang membaca-baca artikel tentang parenting dan bertukar pikiran dan pengalaman dengan ibu-ibu lain.Tapi, paling tidak itu memambantu saya memahami lebih awal tentang hal-hal yang saya sebutkan di atas dan sekarang baru terasa manfaatnya ketika memiliki anak, Mungkin itu lah sebabnya saya berada di sini sekarang, memilih untuk mendedikasikan waktu saya di rumah. Allah ingin saya bisa fokus dan memanfaatkan potensi saya ini untuk anak saya, sehingga mudah-mudahan dapat memaksimalkan potensi anak saya nantinya,

Potensi saya lainnya mungkin adalah menulis. Sejak SMP saya suka sekali menulis cerita dan puisi. Hobi itu saya lakukan sampai saya duduk di bangku kuliah, sayangnya sekarang sudah sangat jarang menulis sampai-sampai jari dan otak saya kaku kalau disuruh menulis. Tapi, apakah itu berarti saya berhenti suka dengan dunia menulis? Rasanya tidak, malah saya masih punya cita-cita untuk menghasilkan novel sendiri kelak.

Nah, kesukaan saya menulis ini bermula dari kesukaan saya membaca. Ini yang ingin saya tularkan pada Ken, kegemaran membaca. Entah berapa banyak buku yang saya lahap saat mengandung Ken dan berapa banyak buku yang saya bacakan saat Ken masih sangat kecil. Saya juga berusaha mengenalkan Ken dengan buku sejak sedini mungkin. Saya yakin dengan membaca akan banyak manfaat yang akan didapatkan oleh Ken kelak.

Saya juga senang belajar dan ingin melanjutkan sekolah lagi, insya Allah. Buat saya pendidikan adalah hal yang penting. Sebagai seorang ibu, saya percaya memiliki pendidikan yang tinggi adalah keharusan karena kita lah tempat belajar anak pertama kalinya. Saya juga ingin menjadi contoh dan menularkan semangat ini kepada anak saya. 


Tentang Orang di Sekitar Saya
Saya tumbuh di keluarga yang kental dengan adat jawa dan dunia seni. Orang tua saya bukanlah datang dari keluarga kaya, Saya ingat cerita ibu dan bapak ketika mereka merantau ke Jakarta dan memutuskan untuk menikah, hidup di kontrakan petakan yang tempat tidur dan dapurnya jadi satu, Bukan yang kece macam apartemen tipe studio gitu tapi, heheh. Sampai akhirnya bapak dan ibu punya usaha sendiri dan bisa menyekolahkan ketiga anaknya. Melalui ibu dan bapak saya belajar kerja keras dan menjadi sederhana. 

Namun begitu, orang  tua saya bukanlah tipe yang mendukung cita-cita dan kesukaan saya saat masih kecil. Saya masih ingat bagaiman ibu tidak menyukai saya yang hobi membeli dan mengabiskan waktu sambil membaca buku. Saya juga ingat perkataan ibu saya yang kurang lebih berbunyi "kalau mimpi itu jangan terlalu tinggi, karena kalau jatuh akan sangat sakit sekali" ketika saya mengutarakan ingin mendapatkan beasiswa sekolah di luar selepas lulus SMA. Entah bagaimana, perkataan dan kurangnya dukungan dari keluarga itu membuat saya merasa tidak bisa maksimal mengembangkan potensi dan cita-cita saya. 

Sekarang, ketika saya menikah, suami saya berhasil melanjutkan sekolah ke luar negeri dengan beasiswa dan segala prosesnya disaksikan sendiri oleh orang tua saya. Seolah-olah kami ingin menunjukkan kalau ada keinginan, jalan untuk menggapai cita-cita setinggi apapun itu pasti ada. 

Salam,
Sawitri Wening