Monday, September 28, 2015

BPJS: Tentang Biaya Melahirkan

Mau flashback dan sharing sedikit tentang memilih tempat bersalin dan biaya persalinan Ken kemarin karena siapa tahu berguna buat yang membaca, terutama yang mau memanfaatkan akun BPJS-nya. 

Memasuki trisemester kedua, saya dan suami memang sudah berencana untuk memanfaatkan asuransi BPJS yang pada saat itu masih di-cover oleh kantor saya. Yah, mengingat biaya persalinan jaman sekarang lumayan, apalagi biaya melahirkan di rumah sakit. Saya pun cepat-cepat meminta didaftarkan BPJS dan memilih fasilitas kesehatan I (faskes I) di klinik dekat rumah orang tua saya. Alasannya karena ingin melahirkan di dekat rumah, karena saat itu kami berpikir kemungkinan akan tinggal dulu di rumah orang tua untuk sementara waktu, sambil belajar mengasuh bayi. Jadi, kalau waktunya sudah tiba, bisa langsusng cus ke rumah.

Atas saran teman yang mengurus pendaftaran BPJS, saya diminta mencari klinik pratama dekat rumah yang terdaftar sebagau faskes I di wilayah Jakarta Timur. Setelah mencaru tahu daftar faskes I by google (atau bisa juga cek di sini), saya pun akhirnya memilih salah satu klinik yang tak jauh dari daerah rumah.  Setelah beberapa bulan kontrol di rumah sakit (tanpa menggunakan BPJS), kami pun mencoba menggunakan fasilitas BPJS dengan meminta rujukan ke bidan yang bekerjasama dengan klinik tersebut karena katanya kalau ingin menggunakan fasilitas BPJS, minimal pernah 1-2 kali kontrol di faskes I. Jadi, klinik faskes I kami itu tidak melayani pemeriksaan kehamilan, maka kami di-refer ke bidan yang sudah ditunjuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Selanjutnya, kalau mau periksa dan melahirkan (secara normal) ya di bidan itu. Kalau ternyata kondisi ibu dan bayi membutuhkan treatment khusus, baru deh minta rujukan lagi untuk dibawa ke rumah sakit--itu pun biasanya kita nggak bisa seenak jidat memilih rumah sakit mana yang kita mau. Ribet ya? Emang... saya juga sempat berpikir begitu kok.

Setelah berdiskusi dengan suami, kami yang berencana lahiran normal tidak keberatan untuk ditangani bidan--kesannya underestimate bidan banget ya (maaaaaf)... Tapi jujur saja, waktu itu saya sempat ragu. Yah, apalagi kalau nggak kemakan trend. Jaman sekarang ibu hamil dimana-mana lebih percaya ke obgyn daripada bidan (tentu karena berharap penanganan yang lebih baik). Kunjungan pertama ke Bidan Tuti (itu nama bidannya), saya sempat surprised sama penanganan bidan jaga saat itu. Beda banget ya sama kalau kontrol di obgyn, hahah (tergantung obgyn-nya sih, saya membandingkan dengan obgyn yang biasa saya sambangi)... Lebih banyak kesan positifnya sih karena pendekatan yang dilakukan bu bidan begitu hangat karena banyaaaak banget nasihat-nasihat yang diberikan (cailah...). Untuk mengetahui posisi bayi pun bukan dengan USG tapi dengan menekan-nekan perut (entah apa nama tekniknya). Yang bikin kita nggak sreg adalah tampilan klinik bidan yang terkesan kurang profesional dan kurang bersih. Maka, saat itu adalah kali pertama dan terakhir saya dan suami kontrol di bidan itu--selain karena alasan tadi, ternyata kami merasa kurang fleksibel kalau harus kontrol di sana, mengingat kami masih tinggal di Depok pada saat itu.

Klinik Bidan Jeane
Kebetulan di dekat kontrakan mungil kami ada klinik bidan. Karena satu hal, saya mengajak suami untuk kontrol di sana. Berbeda dengan kesan kami ke bidan sebelumnya, kami begitu senang dengan kondisi klinik bidan ini yang terlihat profesional. Bidan Jeane pun ternyata sudah lama praktik disana sejak tahun 80-an. Selain itu, setiap kontrol Bidan Jeane juga menggunakan USG sekaligus mempraktikkan pemeriksaan perut konvensional ala bidan (perut ditekan-tekan) juga untuk memastikan keakuratan pemeriksaan. Hari itu pun saya mengajak suami melihat kamar rawat di sana dan kami langsung suka karena kelas 1-3 hanya umtuk satu pasien dan ada kebijakan rooming-in. Selain itu, biaya melahirkan di Klinik Bidan Jeane ini cukup terjangkau dan masih ter-cover oleh asuansi dari tempat suami saya bekerja. Urusan biaya melahirkan pun selesai... kami bisa bernapas dengan lega dan fokus mempersiapkan kelahiran Ken.

Tapi... takdir berkata lain. Ternyata saya harus menjalani operasi caesar untuk melahirkan Ken. Beruntuuung sekali dokter rekanan Bidan Jeane yang juga praktik di klinik itu, dr. Yun bekerja di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan,

Memanfaatkan BPJS Kesehatan
Kalau selama ini saya sering mendengar komentar negatif soal BPJS, saya mau share tentang pengalaman 'menyenangkan' saya menggunakan fasilitas ini saat melahirkan Ken di RS Kesdam Jaya Cijantung yang lalu. Nah loh jauh banget ya rumah di Pisangan lahiran di Cijantung. Ini karena dr. Yun yang menangani saya praktik di sana. Bersyukur sekali RS itu dicover oleh BPJS  untuk wilayah Jakarta Timur, jadi saya bisa minta rujukan ke sini. Karena udah pede duluan akan lahiran normal, saya kurang prepare cari tahu soal BPJS ini jadi ada informasi yang baru saya tahu H-1 sebelum lahiran. Biar lebih mudah dipahami saya tulis point by point aja ya.

1.  Bapak, Ibu... ternyata bayi yang belum lahir bisa dibuatkan akun BPJS-nya (ini yang saya baru tahu). Jadi, ada baiknya menginjak trisemester ketiga, calon bayi sudah dibuatkan kartu BPJS karena prosesnya konon memakan waktu sekitar 2 minggu untuk membuatnya. Menurut saya ini penting sih karena biaya kamar dan perawatan bayi saat melahirkan juga akan dicover, dan kalau bayi butuh tindakan lain pasca melahirkan, bayi sudah ter-cover BPJS. Caran pendaftaranya bisa lihat di sini.

2. Sebelum bisa ditangani di Rumah Sakit, perlu mendapatkan surat rujukan terlebih dahulu dari Faskes I dengan menunjukkan rekam medis ibu selama mengandung--baiknya disertakan foto hasil USG terakhir yang menunjukkan diagnosis ibu membutuhkan tindakan khusus. Apabila tidak ada catatan khusus, untuk bisa memanfaatkan fasilitas BPJS, biasanya klinik akan merujuk ke bidan rekanan apabila tidak terdapat fasilitas obgyn atau bidan di klinik Faskes I.

3. Sekadar tips: pilih faskes klinik 24 jam agar lebih mudah saat butuh pengobatan dan meminta rujukan. Kalau di Puskesmas konon dibatasi hari kapan bisa mengurus rujukan terkait dengan prosedur dan birokrasi, sehingga sulit kalau butuh waktu cepat seperti kasus saya kemarin--dari pengalaman beberapa rekan.

4. Periksa kelas yang ditanggung oleh akun BPJS kita. Saat melahirkan Ken, karena beberapa alasan, saya naik ke kelas VIP (sebelumnya kelas I). Biayanya masih ditanggung oleh BPJS dan kami hanya harus membayar selisihnya, Alhamdulillaah...

5. Cari tahu juga apakah asuransi swasta Anda bekerjasama dengan BPJS atau tidak, sebab selisih biaya dapat di-cover oleh asuransi swasta Anda sehingga membuat Anda tidak harus mengeluarkan biaya lagi. Kalau kantor suami saya BNI Life Syariah sudah bekerja sama dengan BPJS,

6. Tindakan Post Op-- ganti perban 1x sudah termasuk dalam pelayanan BPJS. Jadi, kalau Anda harus kembali lagi untuk cek luka jahitan kedua atau ketiga kalinya, Anda harus meminta surat rujukan lagi dari Faskes I. Sebaiknya minta rujukan untuk rawat jalan sampai sebulan kedepan agar tidak bolak-balik meminta rujukan lagi kalau harus kembali ke RS untuk cek luka jahitan.


Sekian dulu sharing dari saya. Semoga bermanfaat! ;)

- SW -

Monday, September 7, 2015

Ken's Birth Story

Hi!
So, here I am sitting next to my little son whom just fell asleep peacefully after second round of breastfeeding. Yes world, meet my son… Ken Maruta Rasyadi




Setelah beberapa minggu ini masih beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu, akhirnya tibalah waktu untuk update blog yang sedikit berdebu ini. Jadi, alhamdulillaah saya sudah melahirkan bayi laki-laki yang sudah dinanti-nanti dari minggu ke-37 (karena katanya memasuki usia kandungan tersebut, bayi sudah bisa lahir) dan makin dinanti-nanti setelah beberapa orang teman yang juga sedang hamil sudah duluan melahirkan—anaknya kompetitif, heheh… nggak deng).  
Karena setiap ada yang jenguk minta diceritain kisah kelahirannya Ken, jadi saya tulis aja deh. Biar baca sendiri… (laah~).

Iya, pada akhirnya saya harus menjalani operasi Caesar untuk melahirkan Ken. Di minggu ke-40, posisi ken belum juga turun ke panggul padahal saya dan suami sudah berusaha lebih keras agar si bayi bisa segera turun ke jalan lahir. Atas saran Bidan Jeane, kami diminta untuk konsul ke dr. Yun lagi keesokan harinya (Kamis, 13/08/15) untuk mengetahui apakah perlu dilakukan tindakan operasi. Setelah konsul dengan dr. Yun di kamis sore, saya akhirnya disarankan untuk operasi karena diagnosis awal menyatakan lingkar kepala bayi lebih besar dari lubang panggul (belakangan baru diketahui memang ini penyebabnya) dan plasenta sudah pengapuran. Dr. Yun sempat menawarkan untuk menunggu seminggu lagi—karena siapa tahu bisa turun. Tapi, kemungkinannya kecil karena berat bayi pada saat itu sudah 3,4 kg dan kalau menunggu seminggu lagi bisa-bisa bayi makin besar dan makin sulit turun. Jadi, saya dan suami pun menyetujui untuk dilakukan operasi. Karena kami ingin ditangani oleh dokter yang sudah tahu riwayat kehamilan saya, kami pun menanyakan kapan dr. Yun bisa menjadwalkan operasi. Ternyata pilihannya keesokan harinya (tapi, pagi…) atau selasa minggu depannya. Dalam hati, waduh… pengin cepet sih tapi masa besok pagi banget… :’’D

Alhamdulillaah… semua proses dimudahkan. Kamis malam, saya dan suami pulang ke rumah orang tua di Jatinegara untuk mengurus surat rujukan keesokan paginya. Sekitar pukul 10 pagi kami sampai di rumah sakit. Begitu sampai, ternyata kamar untuk saya sudah disiapkan dan saya sudah dijadwalkan tindakan setelah sholat jumat. Meskipun ini pengalaman pertama saya operasi dan melahirkan, anehnya perasaan saya saat itu damai sekali dan pasrah. Setelah jarum infus dan kateter di pasang, saya dibawa ke depan ruang operasi ditemani dengan ibu, suami, dan mama. Setelah menunggu sekitar setengah jam, tibalah waktunya saya diantar ke ruang operasi.

Sebelum proses bius dimulai, saya diberitahu apa yang mungkin akan saya rasakan setelah dibius. Seperti rasa mual dan kebas. Dokter anastesi pun menyuntikkan bius melalui tulang punggung saya, selang oksigen dan “kabel-kabel” lainnya di pasang ke tubuh saya. Tangan saya terbuka lebar. Selama proses operasi saya bisa dengan jelas mendengar percakapan tim dokter, pinggang terasa lepas dari tubuh saya. Selama itu, saya memutuskan untuk memejamkan mata dan berzikir sepanjang operasi. Sekitar 10 menit setelah operasi dimulai dan setelah seorang dokter membantu mendorong bayi dari perut atas saya, suara tangisan melengking itu pun terdengar. Saya nggak bisa menahan tangisan haru, apalagi setelah dokter mengatakan, “Alhamdulillaah… sudah lahir ya bu anaknya sehat, tidak ada kelainan bawaan. Itu dengar… yang nangis itu suara anak ibu.” Langsung ngucur air mata, masih dengan mata terpejam dan dalam hati mengucap syukur… Allahuakbar!


Sebelum bayi dibawa ke ruang bayi, saya sempat ditunjukkan bayinya dan diminta untuk menciumnya. Sementara itu saya merasa teler banget, sehingga mungkin ini yang menyebabkan pihak rumah sakit ini tidak melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) pada ibu yang menjalani operasi Caesar.

Selama di rumah sakit, saya selalu sekamar dengan Ken. Perawat mengambil Ken setiap pagi dan sore untuk dimandikan. Saat pertama kali menggendong Ken, saya pun langsung diminta untuk menyusui Ken. Hihih… waktu itu rasanya sedikit nggak percaya karena bayi kecil ini hidup (dan suka heboh) di dalam perut saya, sekarang ada di tangan saya. Bersyukur sekali rasanya, walaupun gagal melahirkan secara normal, tapi saya yakin Allah lebih tahu yang terbaik. Kalau katanya Bidan Jeane, Ken pengin keluar lewat jendela, bukan lewat pintu. Ya, dia memilih sendiri caranya untuk lahir ke dunia.

Sekarang, perjalanan baru dimulai lagi. Perjalanan yang ternyata sudah terasa amat berbeda dari sebelumnya, yang mengubah ritme hidup kami. Bagaimanapun, kami sangat bersyukur karena sudah diberikan kepercayaan ini oleh Allah.

Bismillaah… semoga saya dan suami diberi kesabaran dalam membesarkan dan mendidik Ken menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua. Semoga Allah berkenan kembali mengabulkan doa dan harapan kami ini, Aamiin…



Dear Ken… Let’s make this world smile even bigger by the present of you  :*

- SW-

Monday, August 10, 2015

Sepotong Malam Banowati



Perempuan itu duduk di sisi gazebo yang dikelilingi oleh kolam ikan
Di bawah sana, ikan-ikan lalu lalang berenang, berkelebat dalam penglihatan
Padahal hari sudah gelap
Lingkaran sempurna yang berpendar lembut memantulkan cahaya siang
Bulan menolong siapapun yang butuh cahaya malam itu

Perempuan itu memandang wajah bulan, galau
Istana dan pakaian bertahta emas yang dikenakannya tak mampu menawarkannya
Sebab wajah rembulan sedari tadi menjelma menjadi mahluk pujaannya
"Oh... Arjuna."

Sementara di punggung perempuan itu, seorang laki-laki bertubuh besar sedang memperhatikan
Ia berdeham sekali...
Membuyarkan segala apa yang indah nan sendu dan syahdu
Lengan besar itu merangkulnya, menuntun ke dalam peraduan
Perempuan itu manut, seperti seharusnya

Wajah rembulan kembali menjelma menjadi wajah mahluk pujaannya
Perempuan itu suatu saat akan kembali duduk di sana
memandangi wajah rembulan 
dan melupakan sejenak dunianya


- Sawitri Wening -



Week 39 Story


Hai!

Akhirnya memasuki usia kandungan minggu ke-39. Artinya, tinggal beberapa hari lagi menjelang due date si mamas akan launched. Oiya, BTW, "mamas" adalah panggilan sayang saya untuk calon buah hati pertama kami. Karena ini pengalaman pertama kami, rasanya excited sekaligus deg-degan. Nah, karena waktunya semakin dekat, ada satu kekhawatiran yang saya rasakan saat ini. Karena sejak awal pengin sekali melahirkan secara normal (di klinik bidan yang kece banget dekat kontrakan kami--penting banget nih! ;D), sampai minggu ke-36, bidan bilang tidak ada masalah karena mamas yang sempat muter lagi posisi kepalanya di minggu ke-34, alhamdulillaah dengan pinternya dia muter lagi ke posisi seharusnya (kepala di bawah) di minggu ke-35. Ternyata, untuk bisa lahiran normal dengan lancar, posisi kepala bayi di bawah saja tidak cukup, tapi dia harus sudah masuk ke pinggul. Ternyata, sampai minggu kemarin kontrol, mamas masih belum turun ke jalan lahir. Setelah disarankan bu bidan untuk konsultasi ke obgyn, karena khawatir ada lilitan, ternyata ada dua kemungkinan: pertama, karena diameter kepala mamas agak besar dan ada indikasi lilitan. Tapi, dokter bilang masih bisa diusahakan dengan berbagai trik dan akan dikontrol lagi seminggu kemudian (minggu ke-40), karena kalau belum juga turun saya disarankan untuk menjalani c-section. Saya sendiri sudah diajari trik-trik itu oleh bu bidan sejak usia kandungan 37 minggu. Sampai sekarang pun saya, lagi-lagi dengan dukungan suami masih berusaha supaya mamas segera turun ke panggul saya. 

1. Squat (jongkok-berdiri) minimal 15 kali sehari. 
Untuk melakukan squat ini, dibutuhkan benda yang bisa menumpu berat badan ibu hamil saat mengangkat badan. Bisa dengan bangku, meja, ujung kipas, atau pundak suami :p. Kebetulan di rumah kontrakan mungil kami, tidak ada meja ataupun bangku dengan tinggi yang pas untuk melakukan latihan ini. Jadilah pundak suami yang dijadikan tumpuan untuk menahan beban tubuh saya saat sedang squat. Namanya juga suami ya bu, mesti mau berbagi beban hidup dengan istrinya. Hehehe... Kalau saya, biasanya bisa lebih dari hitungan yang diwajibkan, saking semangatnya. Atau bisa juga dilakukan dengan posisi ini:



2. Jalan kaki yang banyak
Ini sebenarnya latihan yang paling gampang dilakukan. Dari hasil cari-cari tahu, jalan yang baik untuk ibu hamil itu minimal 30 menit sehari atau setiap pagi. Saya sendiri, melakukannya saat sekalian mencari makan ke luar rumah dan pernah juga pagi hari keliling UI selama 30 menit non-stop yang bikin paha mengencang luar biasa. Pernah juga jalan bolak-balik di dalam rumah dan yang pasti membosankan. Jadi, mendingan memang luangkan waktu untuk jalan-jalan ke luar rumah sambil belanja atau menghidup udara segar. 

3. Ngepel Jongkok
Nah, karena sedang berusaha, ini lah pertama kalinya saya ngepel dengan tangan atau ngepel jongkok. Padahal, biasanya kalau lagi beres-beres rumah saya kebagian menyapu, suami kebagian ngepel. Sekarang saya juga harus ngepel dengan posisi jongkok. Heheh... Lumayan lah ya sekalian olahraga, usaha, dan rumah bisa ikutan bersih. 

4. Knee-Chest
Ini posisi latihan yang disarankan bu bidan waktu mamas dalam keadaan sungsang. Sampe sekarang, saya coba lakukan lagi dengan harapan bisa membantu mamas untuk masuk ke dalam panggul. Posisinya seperti bersujud, namun posisi dada menyentuh ke lantai. Biasanya biar nggak engap, posisi kepala menghadap ke kanan-kiri. Latihan ini dilakukan 3 kali sehari dengan durasi masing-masing 10 menit.

Yah, bismillaah saja karena kami cuma bisa berdoa dan berusaha. Semoga keinginan kami untuk melalui persalinan normal bisa terlaksana. Meskipun begitu, kami juga pasrah dan yakin kalau apapun yang terjadi nanti, pasti sudah yang terbaik menurut Allah swt. Aamiin... Jadi, doain ya semoga semuanya lancar, sehat, dan selamat :)

Oiya, untuk keperluan persalinan seperti baju newborn (hasil hibah dari kakak dan kakak ipar), perlengkapan mandi, dan perlengkapan pasca persalinan ibu.. insya Allah sudah siap semua dan suami udah diedukasi duluan tas mana saja yang harus diangkut dan dimana letak barang-barang saya dan mamas untuk hari-H karena saya pasti nanti akan rempong sama diri sendiri kalau sudah waktunya. Mbah Uti Pisangan yang rajin nelponin anaknya ini juga bilang kamar untuk mamas dan kami sudah siap--tinggal diisi barang-barang dari kontrakan. Ya, rencananya setelah melahirkan, kami akan pindah ke rumah orang tua saya. Kami juga sudah menyiapkan nama untuk si mamas, Baby K, setelah pencarian dan diskusi yang panjang--cailah.. Ah, jadi nggak sabar mau ketemu si mamas. Sekali lagi mohon doanya, ya... :)

Week 39 with my husband
Salam,
- SW -

Friday, July 3, 2015

Welcoming A New Life

Halo!!

Ternyata sulit ya mau konsisten nulis di blog ini. Alasannya sih klise ya.. jadi nggak usah saya jelasin di sini, heheh. Tepat di hari ke-16, malam ke-17 Ramadhan ini saya mau sedikit sharing tentang kehidupan saya. Deuuh.. berasa penting banget ya, kayak ada yang baca aja. Heheh...

Ramadhan saat Hamil 8 Bulan
Puasa kali ini benar-benar dobel sensasi barunya. Pertama, ini adalah bulan Ramadhan pertama saya setelah menikah dan kali ini juga dibarengi dengan kondisi saya yang tengah mengandung 8 bulan. Istimewa sekali deh bulan Ramadhan kali ini yang sukses bikin saya galau mau ikutan puasa atau nggak karena mengkhawatirkan kondisi si mamas (ini panggilan saya dan suami untuk bayi yang ada di kandungan saya, heheh). Di pemeriksaan terakhir, diketahui kalau ternyata Hb saya rendah. Ini yang bikin saya galau, takut-takut kalau kondisi itu bisa mempengaruhi puasa saya. Namun, setelah diyakinkan oleh suami, saya pun mencoba berpuasa pada hari pertama. Memang sih, saya merasakan tubuh saya masih beradaptasi, belum masuk waktu Zuhur saya sudah kepayahan, kepala saya keliyengan dan pandangan saya berputar. Waktu itu, saya siasati dengan tiduran sebentar dan bangun lagi setelah dirasa mendingan. Namun, besoknya saya tetap coba berpuasa dan ternyata respon tubuh saya masih sama. Setelah konsultasi ke bidan ternyata kondisi saya memungkinkan untuk melakukan puasa, alhamdulillaah... Mungkin karena sugesti saya aja kali ya jadinya berasa lemes. Setelah itu, saya coba puasa selang-seling--sehari puasa, sehari tidak. Alhamdulillaah, akhirnya tubuh saya mulai terbiasa. Dua hari berturut-turur, suami sempat menyarankan untuk tidak berpuasa karena saya muntah dan terkena flu.

Terkait dengan hukum berpuasa untuk ibu hamil, ada beberapa pendapat yang saya dapatkan. Yang saya ketahui selama ini, orang yang sedang hamil tidak diwajibkan berpuasa apabila ia mengkhawatirkan kondisinya dan bayi di dalam kandungannya, dan boleh menggantinya dengan membayar fidyah--memberi makan orang yang tidak mampu sejumlah hari meninggalkan puasa.
Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud)
Namun, ada pula sumber yang mengatakan kalau ibu hamil yang tidak berpuasa tetap diwajibkan untuk qadha atau mengganti puasanya karena kondisinya disamakan dengan orang yang tidak sanggup berpuasa karena sakit.
“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah (2): 184)
Allahu'alam. Kalau saya sih, selama mampu untuk berpuasa lebih baik dijalani. Apabila kita masih ragu, sebaiknya ditanyakan ke bidan/obgyn kita. Insya Allah dengan rekomendasi dari tenaga ahli medis, kita akan semakin yakin bisa menjalani puasa ini, ditambah lagi dukungan suami dan keluarga. Wis, pokoknya diniatkan untuk Allah SWT.

Beruntungnya saya punya suami yang terus men-support saya untuk tetap bisa menjalani puasa. Mulai dari ngebawelin untuk makan daging dan sayur saat sahur, nyuapin madu dan sari kurma saat mau tidur dan sahur, sampai mengingatkan untuk tetap mengonsumsi vitamin-vitamin ibu hamil. Hihih, alhamdulillaah...


Ramadhan Pertama setelah Menikah
Jadi, bagaimana rasanya menjalani bulan Ramadhan setelah menikah? Jawabannya alhamdulillaah, nikmaaat banget bisa menjalani ibadah di bulan suci ini bersama dengan suami di rumah kontrakan mungil kami di Kelapa Dua. Sebagai seorang istri dan tinggal beda rumah dengan orang tua, nggak ada lagi deh ceritanya duduk manis menanti takjil siap atau dibangunin saat makanan sahur sudah tersedia. Semuanya mesti disiapin sendiri, hihih... Meskipun saya (semenjak hamil) jarang atau bahkan hampir tidak pernah masak lauk-pauk atau sayur-sayur lagi, tapi rasanya sudah kewajiban saja menyiapkan segalanya untuk saya dan suami. Jadi terbayang deh bagaimana super-nya ibu di rumah yang bisa ngurusin ini-itu sendirian untuk anak-anak dan suaminya, tanpa mengeluh sedikit pun :') 

Kadang-kadang suami saya juga membantu saya menyiapkan menu sahur. Dia jago banget bikin nasi goreng lho. Lebih enak masaaa dari buatan saya #merasatersaingi, heheh. Dia juga rela nyiapin menu sahur waktu saya harus praktik knee-chest--posisi seperti sujud dengan dada menyentuh lantai. Karena terakhir kontrol ternyata posisi bayi saya muter lagi, jadi kepalanya di atas. Ini sempet bikin saya sedih sih, entah kenapa. Tapi, lagi-lagi pak suami menenangkan dan meyakinkan saya kalau masih ada waktu dan si mamas masih mungkin untuk berputar lagi. Aamiin...

Jadi, begitulah... Ramadhan kali ini puasa, tarawih (kadang sendiri di rumah) bareng suami. Ada yang ngingetin untuk tilawah. Ah, pokoknya mah istimewa Ramadhan kali ini, apalagi kami juga sedang menunggu kelahiran si mamas ke dunia. Semoga dimudahkan, diberi kesehatan dan diselamatkan semuanya.. Aamiin.. Aamiin..

Hari-hari terakhir di Kantor
Yap, ini memang sudah direncanakan sejak jauh-jauh waktu. Bahkan dari sebelum menikah, suami secara khusus meminta saya untuk bisa fokus mengurus anak kami, terutama di masa-masa pertama kehidupannya. Saya pun sepakat dengan permintaannya tersebut. Jadi, saya pun sudah mengomunikasikan niat tersebut kepada atasan saya jauh-jauh hari. Ya, saya memutuskan untuk berhenti bekerja per Juli ini. Tepat di hari ulang tahun suami saya yang ke-25 nanti.

Berat kah saya mengambil keputusan itu? Tidak juga sih karena sudah diniatkan dari sebelumnya. Namun, saya tidak menyangkal, sedikit banyak ada yang menggelitik pikiran saya tentang bagaimana kehidupan saya setelah saya berhenti bekerja dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk buah hati saya dan suami. Tentu, akan ada masa adaptasi. Tentu ada perasaan senang dan bahagia. Tentu saja akan muncul kerinduan yang menghantui siapa pun yang pernah melewati sesuatu yang telah biasa dilaluinya, paling tidak buat saya selama 2-3 tahun terakhir ini.

Meninggalkan tempat kerja yang begitu nyaman buat saya saat ini juga membuat somehow bikin saya merasa sedikit sedih dan kehilangan. Di sini, saya mendapatkan hal yang saya yakini belum tentu bisa saya dapatkan di tempat kerja lainnya. Sesuatu yang priceless, tidak bisa dinilai dengan materi. Bahkan, jauh... jauh lebih berharga daripada materi itu sendiri. Ah, saya terkadang juga sering merenungkan mengapa Tuhan membawa saya pada jalan hidup seperti yang sekarang saya alami ini. Seperti yang pernah saya utarakan, hidup ini penuh dengan kejutan. Mengapa dulu saya memilih untuk melepas kesempatan lain dan mengapa pula Tuhan sempat menggagalkan saya untuk berkarir di suatu tempat, yang tentu akan memberikan pelajaran yang jauh berbeda dari tempat kerja saya saat ini. Mungkin juga, menjadikan saya orang yang berbeda dari diri saya saat ini. Apapun itu, saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan untuk belajar banyak dan menerima anugerah ini dari Tuhan.

Tapi, saya juga tidak sesedih itu sih. Sebab saya yakin kalau saya masih akan punya kesempatan untuk bersilaturahim--tentu kalau masih diberi umur. Pokoknya, doakan saya ya supaya bisa, sekali lagi, melewati fase hidup yang berbeda dari sebelumnya. Menikmati apapun nanti yang akan terjadi. Tentu, ada rencana-rencana yang sedang saya bangun untuk menata kehidupan baru saya kelak. Semoga diberi kemudahan dan kekuatan, begitu juga dengan kamu yang sedang berusaha mewujudkan rencana dan keinginan kamu, atau yang sedang akan memasuki fase baru dalam hidup ini.



- SW -