Friday, June 30, 2017

Mencari Kado Lebaran untuk Ken

Ken pakai baju lebaran tahun lalu

Lebaran tahun ini tak ada baju baru. Ken pakai baju koko yang persis ia gunakan di lebaran tahun lalu. Saya dan suami memakai baju lama yang kami bawa dari Indonesia. Bukannya tidak mau beli baju baru. Kami mengurungkan niat membeli baju karena satu dan lain hal. Padahal, H-2 lebaran, suami mengajak saya keluar khusus untuk beli baju baru. Katanya, mumpung lagi summer/mid-year sale, diskon besar-besaran di hampir seluruh pertokoan di UK. Sungguh tawaran yang menggiurkan.

Maka, siang itu pun kami keluar rumah, menuju cabot circus (ini nama mall yang ada di Bristol). Hari itu Broadmead ramai sekali. Sepengelihatan saya, lebih dari banyak keluarga muslim yang berjalan-jalan di area perbelanjaan itu sambil menenteng-nenteng tas belanjaan.Tahu dari mana? Tentu saja dari para perempuannya yang mengenakan hijab dan gamis. Dalam hati saya, ini pasti niatnya sama deh kayak saya, beli baju lebaran, hahaha #sotoy. Saya dan suami pun sempat masuk ke beberapa toko, namun berakhir dengan tangan hampa. Untuk urusan beli baju, kami punya kebiasaan yang sama, yaitu sayang mengeluarkan uang untuk beli baju, apalagi kalau nggak naksir-naksir amat. 

Intermezzo. Mungkin pola pikir ini akan berubah kalau suatu hari nanti uang kami semakin banyak, sampai nol-nya nggak ada limitnya. Karena saya anaknya suka kebanyakan mikir, apa-apa dipikirin. Saya jadi kepikiran, kalau suatu saat nanti saya tajir melintir, bisa nggak ya saya tetap ada pada pola pikir seperti sekarang. Beli barang nggak perlu mikirin brand, yang penting fungsinya terpenuhi. Beli tas nggak perlu mikirin gengsi, yang penting suka modelnya. Beli sepatu nggak perlu yang ada tanda ceklis atau garis tiganya (paham kan maksud saya, heheh) yang penting nyaman di kaki. Mungkin bisa aja sih, tapi pasti sedikit banyak lifestyle ikut terbawa ya. Secara mau ngeluarin uang udah nggak mikir sisa tabungan lagi. Makanya suka salute kalau ada orang berada yang bisa hidup sederhana. Tapi, kalaupun nggak, ya nggak ada masalah juga selama nggak merugikan orang lain. Tuh kan Wening mah gitu, kayak gini aja dipikirin :'D

Oke, balik lagi ke cerita. Kami pun menutuskan pergi ke grocery untuk belanja mingguan dan mencari kado lebaran buat Ken, untuk dibawa ke acara open house keesokan harinya. Syaratnya, harga kadonya tidak kurang dari £5. Mampir lah kami ke TK Maxx, salah satu toko dengan konsep yang menarik karena barang-barang yang ada di toko ini adalah barang-barang reject atau sisaan season sebelumnya dari toko aslinya. Harganya jauh lebih miring, jauh! Kami mampir ke sini dengan harapan bisa dapat mainan bagus dengan harga ya bersahabat. 

Ken yang Pengertian
Ada cerita yang bikin saya terharu saat itu. Selayaknya anak kecil yang lihat mainan yang berjejer di depannya, Ken pun nggak sabar untuk turun dari strollernya dan mengambil mainan-mainan itu. Kebetulan letaknya amat sangat terjangkau buat anak-anak. Kelihatan banget gimana excited-nya Ken, terutama waktu lihat mainan yang bentuknya mobil. Duh, ingin rasanya awak membelikannya untuk Ken, sayang sekali harganya tidak masuk budget kami. 

Maaf ya nak. Ken harus belajar kalau nggak semua yang Ken mau itu bisa langsung terpenuhi. Ken bisa dapat apa pun yang Ken mau, tapi nggak semua hal bisa didapatkan dengan mudah, termasuk mainan ini. 

Ini adalah salah satu prinsip yang kami ajarkan kepada Ken. Ya, diajarkan sedini ini dan caranya bisa diterapkan dalam segala situasi, biasanya pakai strategi positive reinforcement. Contohnya sesederhana; Ken boleh nonton video, kalau mau makan. Ken boleh mimik, kalau sudah berdoa. Ken boleh main spidol, kalau Ken sudah berhenti menangis, and so on.

Back to the story. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang karena sebentar lagi sudah hampir maghrib, ayahnya Ken yang sedang puasa sudah kecapekan setengah hari keliling toko. Ken masih sibuk mau mengambil mainan sambil berkata, "Ken mau ini. Ken mau pegang yang itu... yang truk. Ken bawa ini ajah..." 

Ayah mendekati Ken dan berkata, "Ken beli mainannya tidak sekarang ya. Kita pulang dulu, nanti baru ayah carikan mainan lainnya. Ayah udah capek nih Ken, lagi puasa." 

Di luar ekspektasi saya, Ken ternyata menurut tanpa ada perlawanan dan mengembalikan mainannya ke etalase. Ken berjalan menjauhi tempat mainan tadi, sambil sesekali menengok ke belakang dan berkata sambil melambaikan tangan, "bye-bye, mobil..." Masya Allah... Saya lihatnya bangga sekaligus terharu, sungguuuuh :'') Ini kayak lagi lihat adegan seseorang yang harus meninggalkan kekasihnya dengan berat hati, macam di film-film.

Tempo hari juga begitu, waktu Ken mau beli hotweels di Poundland, ibu melarang dan bilang, "kan Ken baru dapat mobil baru dari Tante Ririn. Bagus mobilnya." Lalu, dia berhenti meminta. Memang benar ya, anak itu jangan dianggap tidak mengerti. Mereka menyimak dan menyaksikan apa yang ada di sekitar mereka. Buktinya ada kan anak yang tiba-tiba bisa buka lockscreen hape, atau tiba-tiba tahu banyak kata padahal nggak pernah sengaja dikenalkan, merke hanya sesekali mendengar percakapan orang di sekitarnya. Mungkin benar adanya, salah satu cara terbaik melarang anak adalah  dengan menjelaskan alasannya kepada si anak. 

Kalau ibu-ibu ada pengalaman serupa kah atau ada trik lain menghadapi kemauan anak?

Kado lebaran untuk Ken: First Matching Game (Usia 2+ tahun)
Keesokan harinya saya izin keluar rumah beli kado untuk Ken. Suami tidak ikut karena sedang berpuasa dan memilih untuk bersama Ken di rumah. Lumayan, bisa me-time sebentar. Sebenarnya, saya sudah ada incaran. Sudah lama saya ingin membelikan Ken Puzzle sederhana, 2 pieces. Kami memang sempat menemukannya di TK Maxx kemarin, tapi urung membelikan karena temanya "animals" dimana, Ken kurang tertarik. Kalau saja ada yang temanya kendaraan, pasti sudah kami bawa pulang.

Yey! Akhirnya dapat mainan yang dimau dengan tema kendaraan.

Tadinya ingin cepat saja di TK Maxx mencari mainan, tapi untung jiwa emak-emak saya keluar. Jadi, entah berapa kali saya tawaf di toys section sampai akhirnya menemukan mainan yang diinginkan dengan tema "Things That Go"! What a lucky day! Iya, karena di TK Maxx itu barangnya biasanya satu jenis cuma ada satu, jadi telat sedikit bisa jadi saya nggak ketemu sama puzzle ini. Niatnya membelikan mainan yang bisa sambil belajar. Saya udah penasaran banget dengan puzzle ini sebenarnya. Permainan sederhana yang banyak manfaatnya, sekaligus ingin melihat kemampuan Ken. Jadi ibu-ibu, ini bisa jadi pilihan bermain dengan anak ya 👌.

Saya bahas sedikit, hal apa saja yang bisa dipelajari dari mainan ini:
1. Melatih abstract thinking anak dengan membayangkan bagian dari suatu benda
2. Melatih konsentrasi anak saat memasangkan bagian puzzle satu dengan lainnya
3. Meningkatkan kemampuan bahasa melalui interaksi dengan orang tua
4. Melatih koordinasi tangan dan mata (kadang badan juga, kalau anaknya heboh gerak sana-sini)

Saat diberikan, awalnya Ken belum terlalu tertarik, tapi lama-lama akhirnya dia mau juga memainkannya. Ternyata, dia langsung bisa mengerjakan puzzlenya, meskipun terlihat masih belum terlalu tertarik menyelesaikan semuanya. Saya perhatikan, dia akan semangat mengerjakan puzzlenya kalau ibu ikut aktif menyemangati dan bercerita atau bernyanyi tentang gambar yang ada di puzzle. Alhamdulillaah...dapat tema puzzle yang "Things that go" jadi Ken mudah tertarik. Puzzle pertama yang selalu ia buat yang gambarnya balon udara, seperti biasa sambil bersenandung :)



Ada yang lagi ciyus. Ngepasinnya itu lho tantangan tersendiri.

Sekian dulu sharing ceritanya. Silakan diambil yang baik-baiknya, yang buruk mah ditinggalin aja. 

Have a good quality time with our children!

Cheers!
Sawitri Wening

Thursday, June 29, 2017

Lebaran di Bristol


Foto Keluarga Wajib dilakukan saat Lebaran
Tadi pagi, sambil menemani Ken sarapan, saya menonton acara berita di Kompas TV lewat layar laptop. Intermezzo sedikit. Selama di sini kami tidak ada TV, jadi kalau lagi mau nonton ya hanya bisa streaming website TV online atau nonton video di Youtube. Alasannya, pertama, bayar iuran tv di sini lumayan mahal. Kedua, sayang uangnya untuk beli TV, padahal cuma tinggal setahun di sini. Jadi, kami cukup memuaskan diri dengan laptop mungil kami saja. Lagipula, sebenarnya kami juga nggak terlalu doyan nonton acara TV. Lebih suka nonton film :'D

Menonton siaran berita pagi ini bikin saya makin kangen dengan Jakarta. Sekarang sudah mulai ramai arus balik ya? Ah, terbayang deh beberapa hari yang lalu gimana lengangnya Jakarta dan ramainya keluarga yang berkumpul di rumahnya masing-masing. Belum lagi hari-hari silaturahim ke tempat saudara-saudara yang selalu ditunggu (mmm... atau malah dihindari?). Beda sekali dengan suasana lebaran yang kami alami tahun ini di Bristol. Akhirnya merasakan jadi warga minoritas, dimana orang-orang di sekitar kita bahkan mungkin nggak tahu kalau saat itu kami sedang ada perayaan Idul Fitri. Tidak ada hiasan ataupun ucapan selamat yang bertemakan "Idul Fitri" di jalan-jalan atau di pusat pertokoan, berbeda sekali dengan perayaan natal, paskah, dan halloween yang ramai dan meriah. Meskipun begitu, Idul Fitri kali ini, tetap meriah di hati kami. Setelah beberapa kejadian yang menimpa beberapa tempat di Inggris akhir-akhir ini, saya bersyukur, perayaan Idul Fitri kami di sini berjalan dengan damai dan tetap menyenangkan.


Cerita di Pagi Lebaran
Kami bangun pukul lima pagi itu setelah tidur sebentar usai subuh. Saat ini, subuh di Inggris jatuh pada pukul 3 pagi. Sholat Ied di mesjid dekat rumah kami dijadwalkan mulai pada pukul setengah tujuh pagi. Kebetulan hari itu saya sedang berhalangan sholat, jadi saya sudah mempersiapkan diri untuk tidak ikut ke mesjid, dan menggunakan waktunya untuk memasak makanan lebaran kecil-kecilan a la saya. Memang sih, katanya ada anjuran meski sedang berhalangan, ada baiknya perempuan dan anak-anak datang ke mesjid saat sedang lebaran. Tapi, saya mengurungkan niat untuk ikut, mengingat pengalaman sholat idul adha di mesjid dekat rumah tempo hari. Jangan membayangkan mesjidnya besar dan luas seperti banyak mesjid di Indonesia. Mesjid Ash-Sahaba, dekat rumah kami, lumayan minimalis dan kalau sedang hari raya seperti ini jamaahnya bisa membludak. Idul Adha tempo hari, saya hanya bisa berdiri nyempil saking penuhnya. Makanya, dari pada saya menuh-menuhin tempat dan akhirnya mengambil jatah orang yang mau sholat, saya pun memilih untuk tinggal di rumah.

Ayah memutuskan untuk mengajak Ken ikut serta. Keputusan yang lumayan berani, heheh. Meskipun sudah terbiasa ikut ayahnya ke mesjid, tapi sholat ied itu kan biasanya memakan waktu yang cukup lama kalau dibandingkan dengan sholat fardu biasanya. Alasan ayah mengajak Ken, pertama karena Ken belakangan mulai mengurangi kebiasaanya lari-lari sendirian dan mau menempel ayahnya saat melihat orang asing. Kedua, supaya ibunya bisa leluasa masak untuk makan kami pagi itu. 

Masakan Sederhana di Hari Lebaran. No Ketupat, No Worries.

Alhamdulillaah, masakan beres sebelum ayah pulang. Rencananya kami mau makan bersama di tempat Mbak Gendis, salah satu tetangga di flat kami. Tidak lama kemudian, ayah dan Ken pulang ke rumah. Wajah ayah senyam-senyum saat masuk pintu rumah, dalam hati saya berpikir pasti ada sesuatu nih. 

Pertanyaan pertama yang saya lontarkan ke ayah pun adalah "Gimana tadi Ken di mesjid? Aman?" Ayah senyum-senyum lagi, lalu menjawab "Anak ini tadi matiin sound system di mesjid pas lagi sholat" 

Saya sempat melongok, lalu tertawa terbahak-bahak. Nggak kebayang pusingnya ayah waktu tahu Ken matiin sound system di mesjid.  Maaf ya ayah... "Terus gimana?"

"Akhirnya ada orang yang biasa jadi imam mesjid batalin sholatnya buat nyalai lagi sound system-nya" Ya Allah Keeeeen.... nggak tahu mesti bilang apa lagi :'). Yang pasti ini akan jadi cerita yang seru untuk diceritakan ke Ken kalau dia sudah besar nanti. Kamu pernah bikin heboh di mesjid bristol, Keeeen.... 


Berkumpul dengan Keluarga Indonesia di Bristol
Senangnya bisa kumpul bareng tetangga di tempatnya Mbak Gendis yang masak makanan enak. Ayam balado, tauco, dan opornya, enaaaak banget. Makasih ya Mba Gendis dan Mas Aav. Seperti biasa, tetangga kalau udah kumpul ngobrolin  apa aja ngalor-ngidul. Ada yang sambil nyuapin anak, ada yang sambil ngejar-ngejar anak, ada yang sambil main sama anak. Setelah Ken, Aisyah, dan Abang sukses ngacak-acak mainannya Ameera dan kami semua kenyang, kami pun pamit pulang. Hehehe, SMP banget yaaa... Soalnya jam 11 nanti kami ada rencana pergi bareng ke tempat salah satu orang Indonesia yang sudah lama ada di Bristol, namanya Bu Nuning. 

Sampai di flat kami, Ken ternyata mengantuk dan seperti biasa, kalau udah sambil menyusui gitu saya biasanya ikut ketiduran. Ayahnya Ken juga ketiduran dong. Alhasil, kami gagal jalan bareng ke tempatnya Bu Nuning karena baru bangun jam 12 siang. Akhirnya kami pergi ke tempat Bu Nuning dengan Mbak Nunuy dan Mas Huda (tetangga di flat kami juga yang ketiduran setelah pulang dari rumah Mbak Gendis :'D). 

Perjalanan ke tempat Bu Nuning cukup panjang, sekitar satu jam dengan bus. Alhamdulillaah, sesampainya di sana acara open house belum selesai. Sehingga kami masih bisa bertukar sapa dengan teman dan rekan Indonesia lainnya sekaligus masih bisa menikmati hidangan khas lebaran yang enak-enak. Meskipun nggak ketemu sama ketupat, tapi di sini kami ketemu dengan lontong~

Selama acara, Ken asyik bermain di mini playground yang sudah disiapkan untuk anak-anak. Saya juga sudah menyiapkan kado lebaran untuk Ken yang seharusnya diberikan saat acara, tapi karena kami telat, baru saya berikan saat sudah kembali sampai rumah.





Alhamdulillaah... Meskipun jauh dari rumah, kami masih bisa merasakan hangatnya perayaan idul fitri di negeri orang. Special thanks buat Arief yang udah mau ditodong buat foto keluarga kami dan foto-foto dengan teman-teman lainnya.

Nggak berasa, sekarang sudah mau memasuki bulan Juli. Artinya tinggal dua bulan lagi kami insya Allah akan pulang ke Indonesia. Nggak sabar merasakan hangatnya kumpul bareng keluarga. Baper juga ya lihat foto-foto silaturahim a la lebaran berseliweran di social media, apalagi dengar kabar kalau ibu sakit. Duh, pingin lari ke Heathrow lalu terbang ke Soetta. 

See you soon, Indonesia! Doakan semunya lancar ya di sini!

Cheers!
Sawitri Wening

Sunday, June 25, 2017

Weekly Note: Belajar dari Ramadhan

Hobi baru bikin poster kayak gini di Textgram


Bulan Ramadhan kali ini rasanya banyak memberi pelajaran berharga untuk saya. Banyak hal yang terjadi dalam minggu-minggu di bulan Ramadhan ini yang membuat saya berpikir, merenung, dan istighfar. Semua yang saya alami dan rasakan di bulan Ramadhan ini berujung pada sebuah pertanyaan: sebenarnya apa sih yang sedang saya cari? 

Ini bukan pertama kalinya pertanyaan itu muncul dalam diri saya dan saya yakin begitu juga dengan kamu yang sedang merasakan hal yang sama. Sebab, ya, bukan kah manusia adalah mahluk yang sering luput? Manusia itu tempatnya salah dan saya merasa beruntung masih diberi nikmat merasakan kegalauan semacam ini. Kenapa? Karena tandanya hati nurani kita belum mati. Ia masih bergetar di saat ada yang 'salah' dalam diri kita.

Kamu pernah tidak mengalami momen dimana kita merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup kita, tapi kita sendiri tidak tahu pasti apa jawabannya (berat ya bahasannya...). Ketika kita mulai melakukan self-reflection dan mengevaluasi diri kita sendiri. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini: apakah yang saya lakukan ini benar? Mengapa saya terus melakukan ini, padahal tidak ada manfaatnya? Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Apa sebenarnya keinginan yang sangat ingin saya capai? Apakah yang sudah saya lakukan menyakiti hati orang lain?... dan masih banyak lagi segudang pertanyaan yang menohok mental dan batin diri sendiri. Mungkin itu yang terjadi pada diri saya belakangan ini, setelah melewati hari-hari di bulan Ramadhan tahun ini yang penuh dengan ujian, baik itu yang berbentuk kenikmatan ataupun musibah. 

Di Ramadhan tahun ini, saya ingin membuat catatan tentang pelajaran apa yang saya dapatkan.

Teringat perkataan seseorang, kalau ujian yang sebenarnya perlu diwaspadai itu adalah ujian berbulu nikmat. Rasanya saja kita sedang diberi nikmat, padahal sebenarnya kita sedang diuji. Itu yang saya alami di minggu-minggu awal Ramadhan kemarin. Ketika saya mulai merasakan punya dunia baru yang bikin hati saya melonjak gembira dan mata berbinar-binar. Lalu mulai berbangga hati dan berpikir, jangan-jangan ini passion saya. Ternyata, belakangan saya baru menyadari kalau kewajiban utama saya malah terbengkalai. Sedih saat menyadari hal itu dan ingin rasanya kembali belajar menentukan prioritas dan manajemen waktu saya, yang bisa dibilang, masih buruk. Jadi, untuk yang sedang galau juga seperti saya, coba tengok lagi, apakah ada hal yang lebih penting yang kita tinggalkan atau lupa kita lakukan. Pelajaran pertama di Ramadhan ini, prioritas pertamamu adalah kewajiban utamamu.

Lalu, saya mulai dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Mulai belajar dari mereka tentang bagaimana menjadi seorang istri, ibu, dan individu yang lebih baik lagi. Sebuah sekolah yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan ada di dunia ini, ketika social media belum mendarah daging di keseharian kita. Di sini saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu dipupuk. Saya diminta untuk merenung dan merenung. Selanjutnya dituangkan ke dalam target diri yang lagi-lagi jadi pengingat tentang seberapa konsisten kita dalam menjalani sesuatu. Membuat target pencapaian diri bisa jadi hal yang menantang, tapi menjalaninya buat saya adalah hal yang lebih sulit. Sedih juga karena banyak targetan diri saya di Ramadhan ini yang tidak tercapai. Kalau dipikir-pikir hall ini terjadi karena, salah satunya, alokasi waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Pelajaran kedua di Ramadhan ini, yang terpenting dari target diri adalah menjalaninya.

Terakhir, di penghujung Ramadhan ini, saya mendapatkan cobaan berupa kesulitan yang menguji kesabaran saya. Pernah nggak berada di momen "kok ada aja ya masalahnya" sehingga urusan kita sulit sekali diselesaikannya. Kejadian ini bikin saya merenung dan bertanya-tanya dalam diri saya. Apa yang sudah saya lakukan sampai urusan saya ini seperti dipersulit. Saya juga jadi ingat perkataan"mudahkan lah urusan orang lain, kalau urusanmu ingin dipermudah" yang lagi-lagi bikin saya berpikir tentang kesalahan yang mungkin saya lakukan ke diri saya ataupun ke orang lain. Kejadian ini bikin saya sadar kalau ada saatnya kita jatuh. Ya, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan perasaan persis seperti yang saya rasakan kemarin, Sedih, gelisah, marah, kecewa, semuanya jadi satu. Kejadian ini seperti menawan pikiran saya. Saya jadi tidak fokus mengerjakan pekerjaan rumah dan sulit tidur. Sampai saat ini, masalahnya belum selesai dan semoga bisa segera diselesaikan setelah liburan lebaran. Mohon doanya ya. Pelajaran ketiga di Ramadhan ini, ternyata yang paling nikmat dari semuanya adalah ketenangan hati.

Ya, hal terakhir bikin saya sadar kalau yang saya butuhkan itu pada akhirnya adalah ketenangan hati. Buat apa kita punya banyak harta, prestasi, dan pujian dari orang lain kalau hati kita tidak tenang. Saya belajar untuk berusaha, namun sekaligus pasrah karena semuanya ada yang mengatur. Seberapa pun besarnya usaha kita, jangan pernah lupa untuk memasrahkan akhirnya pada yang Maha Berkuasa.

Di akhir tulisan ini, saya juga belajar bahwa hal pertama yang bisa kita lakukan untuk berubah adalah menyadari dan mengakui kesalahan kita sendiri. Dan menulis itu selalu melegakan untuk saya.

Mohon maaf untuk segala salah baik yang disengaja ataupun tidak. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Ditulis di Bristol pada 1 Syawal 1438 H
saat Ken dan Ayah sudah terlelap.

Salam,
Sawitri Wening

Saturday, June 24, 2017

Pelayanan Kesehatan dan Vaksin di UK


Sebelum berangkat ke UK, salah satu hal yang harus dipikirkan adalah mengenai penanganan masalah kesehatan begitu kita sampai di negara tujuan. Namanya manusia, kita kan nggak pernah tahu ya akan dikasih sehat terus sama gusti Allah atau akan dikasih cobaan sakit. Jadi, memang mesti prepare banget untuk hal ini, apalagi mau pindak ke lingkungan serba baru yang segala sesuatunya asing buat kita. Kalau pindah ke UK, yang paling berasa adalah perubahan suhu dan kelembaban udara yang lumayan signifikan bedanya kalau dibandingkan dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Bulan-bulan pertama di UK, siap-siap dengan serangan masuk angin dan ingusan. Minimal itu yang terjadi di keluarga kami yang tiba di UK pada bulan September saat sedang autumn. 

Obat-Obatan
Hal pertama yang kami pikirkan adalah membawa obat-obatan yang mungkin akan sulit ditemui di UK alias tidak dijual bebas. Walaupun sebenarnya bukan tipe orang yang gampang minum obat, kekhawatiran ini bikin kami antisipasi untuk beli segambreng obat-obatan warung untuk stok selama setahun di UK. Beberapa info dari teman, di UK itu cukup sulit mendapatkan obat warung. Jadi, kami pun membawa cukup banyak obat-obatan seperti paracetamol, obat diare, obat flu, dsb. Begitu sampai UK, ternyata cukup mudah kok mendapatkannya apalagi paracetamol banyak banget dan gampang sekali ditemukan dimanapun. Saran saya, nggak perlu bawa banyak-banyak untuk obat-obatan yang saya sebutkan di atas. Tapi, bawalah stok yang cukup untuk obat herbal seperti Tolak Angin, Minyak Kayu Putih, Minyak Telon (bagi yang punya baby), koyo dan Minyak pijat. Karena percayalah, Tolak Angin dan Minyak-minyakan itu adalah barang langka di UK. Saya sendiri baru ketemu yang jual saat sedang ada Festival Indonesia dan itupun harganya udah jauh lebih mahal dibandingkan kalau beli di Indonesia. Padahal ini penting sekali buat warga garis khatulistiwa, seperti kami ini, yang baru pindah ke negara Eropa yang sehari-hari dingin dan berangin sampai menusuk tulang. Minimal untuk pencegahan dan menjaga tubuh tetap hangat. 

NHS (National Health Service)
Kalau di Indonesia ada BPJS, di UK ada yang namanya NHS. Konsultasi dan berobat di UK itu mostly gratis, kecuali dental treatment kalau nggak salah ya. Caranya adalah dengan mendaftarkan diri ikut program NHS. Setelah menebus BRP (atau KTP kalau kita mah nyebutnya), hal pertama yang penting dilakukan adalah daftar NHS. Mirip-mirip sih kayak di Indonesia, kita daftar ke faskes 1 atau semacam puskesmasnya gitu. Pilihannya bisa dilihat di website nhs.uk dengan memasukkan kode pos alamat tinggal kita. Kalau saya, waktu itu daftarnya langsung nyamperin faskes 1-nya. Tinggal isi data diri dan akan aktif terdaftar setelah 3 hari kerja. Setelah itu, bisa langsung buat appointment untuk ketemu GP (dokter umum)/ nurse. Enak ya gratis pelayanan kesehatannya. Ngantri nggak? Sama ngantri juga. Biasanya kalau bikin appointment hari ini, dijadwalkan ketemu GP-nya 2 minggu kemudian (sabar-sabar aja. Kalau sakitnya sembuh duluan ya alhamdulillaah) kecuali kalau untuk kasus yang darurat ya. 

Kami sendiri, alhamdulillaah, belum pernah berobat ke GP kecuali untuk vaksin Ken. Eh, pernah deh sekali untuk pap smear test dan konsultasi. Hasil tes-nya dikirim via pos. Iya, di UK itu masih lho terbiasa dengan budaya kirim-kirim surat, segala tagihan dkk biasanya akan dikirim lewat pos. Jadi, yang namanya kotak pos itu hampir nggak pernah nganggur, terutama bagi yang suka belanja online.
Surat Hasil Pemeriksaan Serviks dari NHS

Pelayanan kesehatan gratis ini, juga berlaku untuk ibu hamil. Jadi, buat yang hamil dan berencana melahirkan di UK, tenang semua biayanya gratis. Sama halnya dengan di Indonesia, pengguna NHS ini secara default akan ditangani oleh bidan. Jadi sejak awal akan didorong untuk melahirkan secara normal (bisa dengan metode water-birth juga). Asyiknya, setelah melahirkan, ibu akan mendapat kunjungan dari bidan sampai beberapa minggu. Gunanya untuk memantau kesehatan fisik dan mental ibu dan anak pasca melahirkan, bahkan disediakan semacan kelas parenting gitu. Iya yang perlu digarisbawahi dan bikin saya happy begitu tahu, kesehatan mental ibu juga ikut dipantau. Ditanya bagaimana perasaannya setelah melahirkan, merasa kesepian atau kelelahan, dsb. Mengingat baby blues syndrome adalah fenomena yang umum terjadi pada ibu yang baru melahirkan, rasanya jadi penting banget ya karena nggak sedikit yang akhirnya berujung jadi trauma dan depresi yang berkelanjutan. 

Catch-up Vaksin di UK
Vaksin pertama yang saya berikan untuk Ken saat di UK adalah vaksin influenza. Berbeda dengan di Indonesia, vaksin ini jadi salah satu vaksin wajib yang diberikan ke anak-anak ataupun orang dewasa, terutama ketika mulai masuk musim dingin. Benar memang, terasa bedanya di diri Ken. Yang biasanya kalau flu hanya sampai sekitar seminggu, lalu sembuh. Di awal musim dingin, Ken meler terus sampai kurang lebih sebulan atau dua bulan. Pileknya hilang timbul gitu, jadi hari ini hilang 3 hari kemudian pilek lagi. 

Memang, ada perbedaan antara jadwal imunisasi di Indonesia dengan di UK. Seperti kalau di Indonesia Hepatitis B itu wajib, kalau di UK, itu adalah vaksin pilihan. Lengkapnya silakan lihat link di sini. Kalau kita sudah mendaftarkan anak kita di faskes terdekat, biasanya mereka akan mengirim notifikasi terkait jadwal pemberian vaksin, bisa melalui sms, telepon, email, ataupun surat. Jadi, kita nggak kelewatan memberikan vaksin. Tapi, info dari salah satu nurse di faskes tempat kami mendaftar, ternyata NHS juga masih berbenah terutama dalam hal administratif. Jadi, ada ajalah pasien yang missed tidak terdata dan akhirnya nggak dapat notifikasi, kayak nasibnya Ken. Alhasil, saya harus datang ke faskes/klinik untuk bikin appointmet lagi kalau mau vaksin.

Berhubung akhir-akhir ini lagi ramai lagi soal vaksin di Indonesia, jadi teringat lah ibu pelupa ini kalau Ken belum catch-up beberapa vaksin, yaitu Hib, DPT ulangan, dan MMR. DPT ulangan ternyata Ken tidak bisa dapat karena di jadwal vaksin di UK, DPT ulangan itu diberikan pada anak usia 3 tahun, berbeda dengan yang ada di Indonesia. Yes, semua vaksin tersebut gratis. Meskipun begitu, awalnya kami sempat galau memberikan vaksin MMR kepada Ken karena dari website NHS ini, disebutkan kalau MMR, Children Nasal Flu, dan Shingles Vaccination adalah jenis vaksin yang mengandung gelatin babi. Sebagai orang muslim, tentu saja kami sempat ragu akan mengambil vaksin ini atau tidak. Tapi, setelah membaca tulisan dari Mbak Dewi dan Mbak Grace serta sharing dengan Mbak Woro (Makasih, mbaak... :)) dan mencari tahu lebih lanjut  mengenai fatwa dan anjuran dari ulama baik di Indonesia ataupun di Eropa tentang vaksin, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan vaksin MMR juga kepada Ken. Ini sebenarnya pilihan sih ya dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Pastikan saja kita sadar akan konsekuensi itu. Terkait dengan fatwa mengenai vaksin tadi, silakan cek lini ini dan ini sebagai bahan pertimbangan ;)


Oke, sekian dulu sharingnya... Semoga bermanfaat :)

Salam,
Sawitri Wening

Friday, June 16, 2017

#NHW5: Learning How to Learn


Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Kayaknya bejodoh banget antara apa yang lagi saya pikirikan belakangan dengan materi kuliah di pertemuan kelima kali ini. Sama-sama membahas tentang kurikulum untuk home education (HE)/home schooling (HS). Saya sendiri masih sangat awam dengan istilah itu. Iya, memang sudah sering mendengarnya, tetapi tentang bagaimana persisnya penerapan Home Education saya masih belum paham. Sekilas, melakukan pembelajaran di rumah dengan menggunakan kurikulu ini menarik hati saya, supaya kegiatan yang saya lakukan dengan Ken itu ada tujuannya yaitu untuk belajar, tentu saja sambil bermain. Selama ini, ya memang sambil bermain saya menyelipkan nilai-nilai dan pengetahuan kepada Ken, tapi karena nggak ada pedomannya terkadang suka merasa bosan dan kehabisan ide sendiri. Jadilah saya browsing-browsing soal kurikulum home education/home schooling untuk anak-anak pre-school. Besoknya, di kelas matrikulasi, ternyata malah dibahas tentang Learning How to Learn dan tugasnya kali ini adalah: merancang sendiri bagaimana caranya membuat desain/strategi belajar.

Bismillaah…

Dari hasil penelusuran saya, setidaknya ada beberapa sumber yang berhasil saya kumpulkan untuk selanjutnya menjadi bahan saya membuat design belajar ala saya. Kali ini saya akan mencoba untuk membuat desain pembelajaran atau kurikulum untuk anak saya yang sebentar lagi berusia 2 tahun. Berikut adalah poin-poin yang akan menjadi acuan saya dalam membuat desain belajar nanti:

Menentukan Komponen dalam Desain Belajar 

Berikut adalah komponen yang terdapat dalam membuat desain belajar anak sederhana ala saya, berdasalkan hasil browsing dan pengalaman sebelumnya.  
1. Mata Ajar: Nama ranah atau subjek pelajaran yang ingin dikuasai
2. Usia: Menunjukkan untuk anak usia berapa kurikulum ditujukan 
3. Tujuan: Menjelaskan tentang hasil akhir yang diharapkan 
4. Alat/Bahan Ajar: alat-alat atau media ajar yang digunakan. Misal: buku, video, kertas, gunting, dsb.
5. Aktivitas/Strategi Belajar: menjelaskan tentang bagaimana cara/langkah-langkah belajar. 
6. Indikator Keberhasilan: menjelaskan tentang tingkah laku yang diharapkan muncul dari hasil belajar.

Selanjutnya, dalam membuat desain belajar untuk anak. Saya juga akan memasukkan kedua poin di bawah ini, yaitu menentukan mata ajar berdasarkan 7 fitrah yang terdapat dalam Fitrah Based Education yang dikemukakan oleh Ust, Harry Santosa. Yang kedua adalah ceklis perkembangan anak untuk membantu membuat indikator keberhasilan belajar anak. 

Fitrah Based Education sebagai Mata Ajar

Pertama kali mendengar istilah ini di kelas Matrikulasi dan setelah mencaritahu, ternyata sistem atau cara pembelajaran yang kami dapatkan di kelas IIP ini kurang lebih mengambil dari sistem pendidikan berbasis fitrah ini. Pendidikan ini menitikberatkan pada potensi atau fitrah yang ada di dalam diri manusia yang telah diberikan Allah swt, sejak kita lahir ke dunia. Sehingga semua itu, apabila kita pupuk dan rawat dengan baik, nantinya akan tumbuh, berkembang, dan berbuah hal yang baik pula. Dari sumber yang saya baca mengenai Fitrah Based Education ini, terdapat 7 fitrah yang penting untuk dikembangkan untuk anak usia 0-7 tahun, yaitu:
1. Fitrah Iman 
2. Fitrah Bahasa & Estetika (Bahasa & Seni)
3. Fitrah Seksualitas 
4. Fitrah Fisik & Indera (Motorik & sensorik)
5. Fitrah Bakat & Kepemimpinan (Belajar bertanggung jawab)
6. Fitrah Sosial & Kehidupan 
7. Fitrah Belajar & Bernalar (Kognitif)
Tujuh hal diatas akan dijadikan sebagai mata ajar yang akan diasah dalam proses belajar anak.


Mengetahui Tahap Perkembangan Usia Anak untuk menentukan Indikator Keberhasilan

Menurut saya, ketika kita hendak mendesain suatu sistem pembelajaran. Hal yang harus diperhatikan adalah kemampuan atau perkembangan anak/orang tersebut. Sehingga, kita dapat menentukan dengan lebih jelas tujuan dari pembelajaran tersebut sesuai dengan kemampuan usia perkembangannya. Selain itu, dengan mengetahui tahap perkembangannya tersebut, nantinya kita dapat menentukan indikator tingkah laku apa yang diharapkan muncul pada anak/peserta didik. Hal ini juga berguna untuk menentukan bahan evaluasi.

Contoh dari ceklis tahap perkembangan ini dapat diambil dari sumber-sumber terpercaya seperti dari Diknas atau website lainnya. Berikut adalah ceklis tahap perkembangan anak usia 2-3 tahun:
1. Dapat merespon perilaku keagamaan secara sederhana
2. Dapat mengekspresikan rasa sayang atau cinta kasih kepada sesama
3. Dapat berinteraksi dengan lingkungan terdekat
4. Dapat menujukkan/mengungkapkan keinginannya
5. Dapat mengekspresikan emosi yang dirasakan
6. Mulai bersikap disiplin
7. Dapat mencoret-coret
8. Dapat mengenal benda
9. dsb…

Dari sini, kita bisa melihat dengan lebih jelas, di aspek apa anak dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan tahap perkembangannya. Apakah sesuai, melebihi ekspektasi atau aspek mana yang belum dikuasai. 

Contoh Desain Belajar berdasarkan penjabaran di atas:
1. Mata Ajar: Fitrah Iman
2. Usia: 2-3 Tahun
3. Tujuan: Anak mengenal kata Bismillah dan Alhamdulillaah
4. Alat/Bahan Ajar: Video lagu anak islami, kertas warna, lem, gunting
5. Aktivitas/Strategi Belajar: 
- Menyanyikan lagu bertemakan kata "Bismillaah & Alhamdulillaah"
- Menempel kertas warna pada tulisan "Bismillaah & Alhamdulillaah"
- Bermain peran 
- Memberikan contoh dalam kegiatan sehari-hari
6. Indikator Keberhasilan: 
- Anak mampu meniru mengatakan "Bismillaah & Alhamdulillaah"
- Anak mampu inisiatif mengatakan "Bismillaah & Alhamdulillaah"
- Anak dapat mulai mengatakan Bismillah saat mulai kegiatan, misal sebelum makan
- Anak dapat mulai mengatakan Alhamdulillah saat menyudahi kegiatan, misal setelah minum


Setelah menjabarkan semua ini, saya sadar betul kalau apa yang saya tuliskan di sini masih compang-camping. Tapi, jadi belajar banyaaaaak banget dan nggak sabar mempelajari ini lebih dalam supaya bisa benar-benar membuat desain belajar yang sesuai dan ciamik untuk anak.


Sumber:
3. http://www.rumahbunda.com/