Showing posts with label weekly note. Show all posts
Showing posts with label weekly note. Show all posts

Sunday, June 25, 2017

Weekly Note: Belajar dari Ramadhan

Hobi baru bikin poster kayak gini di Textgram


Bulan Ramadhan kali ini rasanya banyak memberi pelajaran berharga untuk saya. Banyak hal yang terjadi dalam minggu-minggu di bulan Ramadhan ini yang membuat saya berpikir, merenung, dan istighfar. Semua yang saya alami dan rasakan di bulan Ramadhan ini berujung pada sebuah pertanyaan: sebenarnya apa sih yang sedang saya cari? 

Ini bukan pertama kalinya pertanyaan itu muncul dalam diri saya dan saya yakin begitu juga dengan kamu yang sedang merasakan hal yang sama. Sebab, ya, bukan kah manusia adalah mahluk yang sering luput? Manusia itu tempatnya salah dan saya merasa beruntung masih diberi nikmat merasakan kegalauan semacam ini. Kenapa? Karena tandanya hati nurani kita belum mati. Ia masih bergetar di saat ada yang 'salah' dalam diri kita.

Kamu pernah tidak mengalami momen dimana kita merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup kita, tapi kita sendiri tidak tahu pasti apa jawabannya (berat ya bahasannya...). Ketika kita mulai melakukan self-reflection dan mengevaluasi diri kita sendiri. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini: apakah yang saya lakukan ini benar? Mengapa saya terus melakukan ini, padahal tidak ada manfaatnya? Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Apa sebenarnya keinginan yang sangat ingin saya capai? Apakah yang sudah saya lakukan menyakiti hati orang lain?... dan masih banyak lagi segudang pertanyaan yang menohok mental dan batin diri sendiri. Mungkin itu yang terjadi pada diri saya belakangan ini, setelah melewati hari-hari di bulan Ramadhan tahun ini yang penuh dengan ujian, baik itu yang berbentuk kenikmatan ataupun musibah. 

Di Ramadhan tahun ini, saya ingin membuat catatan tentang pelajaran apa yang saya dapatkan.

Teringat perkataan seseorang, kalau ujian yang sebenarnya perlu diwaspadai itu adalah ujian berbulu nikmat. Rasanya saja kita sedang diberi nikmat, padahal sebenarnya kita sedang diuji. Itu yang saya alami di minggu-minggu awal Ramadhan kemarin. Ketika saya mulai merasakan punya dunia baru yang bikin hati saya melonjak gembira dan mata berbinar-binar. Lalu mulai berbangga hati dan berpikir, jangan-jangan ini passion saya. Ternyata, belakangan saya baru menyadari kalau kewajiban utama saya malah terbengkalai. Sedih saat menyadari hal itu dan ingin rasanya kembali belajar menentukan prioritas dan manajemen waktu saya, yang bisa dibilang, masih buruk. Jadi, untuk yang sedang galau juga seperti saya, coba tengok lagi, apakah ada hal yang lebih penting yang kita tinggalkan atau lupa kita lakukan. Pelajaran pertama di Ramadhan ini, prioritas pertamamu adalah kewajiban utamamu.

Lalu, saya mulai dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Mulai belajar dari mereka tentang bagaimana menjadi seorang istri, ibu, dan individu yang lebih baik lagi. Sebuah sekolah yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan ada di dunia ini, ketika social media belum mendarah daging di keseharian kita. Di sini saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu dipupuk. Saya diminta untuk merenung dan merenung. Selanjutnya dituangkan ke dalam target diri yang lagi-lagi jadi pengingat tentang seberapa konsisten kita dalam menjalani sesuatu. Membuat target pencapaian diri bisa jadi hal yang menantang, tapi menjalaninya buat saya adalah hal yang lebih sulit. Sedih juga karena banyak targetan diri saya di Ramadhan ini yang tidak tercapai. Kalau dipikir-pikir hall ini terjadi karena, salah satunya, alokasi waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Pelajaran kedua di Ramadhan ini, yang terpenting dari target diri adalah menjalaninya.

Terakhir, di penghujung Ramadhan ini, saya mendapatkan cobaan berupa kesulitan yang menguji kesabaran saya. Pernah nggak berada di momen "kok ada aja ya masalahnya" sehingga urusan kita sulit sekali diselesaikannya. Kejadian ini bikin saya merenung dan bertanya-tanya dalam diri saya. Apa yang sudah saya lakukan sampai urusan saya ini seperti dipersulit. Saya juga jadi ingat perkataan"mudahkan lah urusan orang lain, kalau urusanmu ingin dipermudah" yang lagi-lagi bikin saya berpikir tentang kesalahan yang mungkin saya lakukan ke diri saya ataupun ke orang lain. Kejadian ini bikin saya sadar kalau ada saatnya kita jatuh. Ya, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan perasaan persis seperti yang saya rasakan kemarin, Sedih, gelisah, marah, kecewa, semuanya jadi satu. Kejadian ini seperti menawan pikiran saya. Saya jadi tidak fokus mengerjakan pekerjaan rumah dan sulit tidur. Sampai saat ini, masalahnya belum selesai dan semoga bisa segera diselesaikan setelah liburan lebaran. Mohon doanya ya. Pelajaran ketiga di Ramadhan ini, ternyata yang paling nikmat dari semuanya adalah ketenangan hati.

Ya, hal terakhir bikin saya sadar kalau yang saya butuhkan itu pada akhirnya adalah ketenangan hati. Buat apa kita punya banyak harta, prestasi, dan pujian dari orang lain kalau hati kita tidak tenang. Saya belajar untuk berusaha, namun sekaligus pasrah karena semuanya ada yang mengatur. Seberapa pun besarnya usaha kita, jangan pernah lupa untuk memasrahkan akhirnya pada yang Maha Berkuasa.

Di akhir tulisan ini, saya juga belajar bahwa hal pertama yang bisa kita lakukan untuk berubah adalah menyadari dan mengakui kesalahan kita sendiri. Dan menulis itu selalu melegakan untuk saya.

Mohon maaf untuk segala salah baik yang disengaja ataupun tidak. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Ditulis di Bristol pada 1 Syawal 1438 H
saat Ken dan Ayah sudah terlelap.

Salam,
Sawitri Wening

Monday, April 10, 2017

Weekly Note: Spring in My Heart


Minggu ini, matahari bahkan bersinar lebih cerah dibandingkan minggu sebelumnya. Rasanya bahagia sekali bersentuhan dengan cahaya matahari, tanpa dibalut coat tebal seperti musim sebelumnya. Tujuh bulan mencicipi tinggal di Bristol, kota yang katanya adalah kota terbaik untuk ditinggali di seluruh Britania Raya. Saya merasa beruntung dan masuk ke dalam musim semi yang cantik ini, membuat saya semakin merasa bersyukur dengan hangatnya, dengan indahnya bunga-bunga yang bermekaran di atas pohoh dan rerumputan. Meskipun angin dingin terkadang masih sering berhembus menusuk tulang. Begitulah hidup, tidak selalu senang dan bahagia, tapi sepaket dengan kesedihan, kekecewaan, ataupun perasaan tidak bersembangat.

Kalau coba menengok catatan mingguan saya sebelum-sebelumnya, rasanya saya sudah melewati minggu-minggu yang sumpek. Dimana saya banyak mengeluh atau bahkan marah dan sedih. Saya merasa minggu ini adalah minggu dimana saya bangkit lagi menjadi orang yang lebih ceria. Rasanya seperti menemukan semangat kembali, setelah berkontemplasi, menghabiskan waktu di luar menikmati hari bersama suami dan Ken, mendaki bukit, dan menulis dengan hati. It's okay not to feel okay sometimes. 

Freud
Ken pun seperti musim ini, menjadi sangat manis dan ceria. Dia bernyanyi saat duduk di atas strollernya, bermain dengan mobilnya, atau saat sedang mandi. Perlahan proses potty trainingnya sudah kembali berjalan lagi, walaupun masih agak sulit karena kata favoritnya saat ini adalah "nggak mau!" Hehehe, masa-masa yang menyebalkan tapi mungkin manis untuk dikenang di kemudian hari. Saya juga harus menikmati saat-saat Ken hanya mau menempel dengan saya. Akhir-akhir ini, Ken selalu menolak bermain, digendong, dicium, ataupun dipeluk oleh ayahnya. Bahkan, ayahnya tidak boleh dekat-dekat dengan ibunya. Haha, posesif. Ini mengingatkan saya dengan konsep Oedipus Complex pada tahap perkembangan psikosesksual anak (phallic yang di teorinya sendiri sebenarnya terjadi pada usia 3-5 tahun) yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Sebuah konsep abstrak yang menyebutkan seorang anak (laki-laki) pada tahap ini ingin memiliki ibunya seiring dengan kemampuan mereka membedakan gender. Entahlah, tapi karena ini ayahnya kasihan karena jadi tidak bisa leluasa kalau bermain dengan Ken karena ditolak terus </3.

Ken akhir-akhir ini tidur selalu di atas jam 10 malam karena saat ini maghrib hampir jam 8 malam. Ritme tubuhnya menyesuaikan. Seringkali ia tidur sambil saya nanyikan lagu atau saat saya lantunkan adzan berkali-laki. Sambil terpejam, saya membelai Ken dan menyanyikan lagu 'Belaian Sayang'. Tanpa disadari saya meneteskan air mata, hanyut bersama indahnya lirik dan nada lagu itu. Mungkin saya juga sedang  merindukan ibu saya yang juga senang menyanyikan saya gending jawa saat saya hendak tidur, waktu kecil dulu.




Bristol, 10 April 2017

Sawitri Wening

Thursday, March 30, 2017

Weekly Note: Tentang Potty Training Regresion & Bersabar


Jadi, minggu ini saya sempat sakit lagi, saat saya sedang haid. Sakitnya persis pula sama kayak bulan lalu. Mengigigil, pusing, meriang, lemas, dsb. Alhamdulillaah cuma dua hari sakitnya. Bulan lalu juga begitu. Bedanya, waktu sakit kali ini, suami ada kuliah seharian, so nggak bisa bantu jagain Ken yang lagi agak cranky karena gigi gerahamnya lagi tumbuh. Jadi, singkat cerita drama pun terjadi.

Sebelumnya, saya nggak penah tahu kalau saya bisa setega itu sama Ken. Hari itu, saya membentak Ken karena kesal sampai ke ubun-ubun. Mungkin karena pengaruh sedang sakit juga. Ketebak dong, sesudahnya saya jadi super menyesal karena merasa bersalah dan malah bikin regresi proses potty training yang lagi Ken jalani. Huft :''(

Kekesalan saya muncul hanya karena Ken mengompol di lantai. Saya yang sedang nggak ada tenaga saat itu pun nggak bisa menahan diri untuk marah. Padahal, prinsip menjalankan toilet training itu kan membuat anak enjoy dengan prosesnya tanpa membuat dia merasa 'dihukum' hanya karena dia mengompol. But, i did that wrong thing. Saat saya marah sih dia malah ketawa-ketawa, saya pikir dia nggak menganggap saya sedang menunjukkan rasa kecewa. But, no... he is a smart boy dan ia tahu banget kalau saya sedang marah. Dia tertawa untuk mencairkan suasana, seolah bilang "calm down, mom... It's just a POTTY accident!" 

Setelahnya, dia jadi malas kalau diminta pipis ke kamar mandi. Selalu membuang muka kalau saya mengingatkan untuk pipis di kamar mandi. Padahal, sebelumnya prosesnya begitu mudah, dia bisa cepat menangkap maksud saya walau belum mau mengatakan kalau ia sedang kebelet. 

Ah iya, jadi ibu itu butuh stok sabar yang banyak ya. Mungkin saya harus belajar banyak dari Ken yang sudah bisa mengontrol emosinya, yang bisa berhenti menangis kala mengelus dada sambil bilang "bersabar". Ah, Ken.. maafkan ibu ya. Semoga ibu bisa membesarkan Ken dengan lebih baik dan banyak bersabar. Mari belajar bersama-sama ya, Ken :)

Btw i will update about his potty-training regression, hope we can turn it back to the progression ;)
 
Bristol, 30 Maret 2017

Sawitri Wening

Wednesday, March 15, 2017

Weekly Note: Tentang Sekolah Lagi


Minggu ini, saya pergi berdua dengan Ken ke tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal kami. Daerahnya namanya Speedwell, sekitar 30 menit perjalanan dengan menumpangi bus nomor 7. Bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar.

Saya sempat mencari tempat kursus bahasa Inggris gratis di sini. Alasannya? Ingin latihan berbahasa Inggris dengan lebih lancar, ingin mengisi waktu luang, dan saya rencananya juga ingin mengambil tes IELTS dalam waktu dekat (jadi bisa sekalian belajar). Saya pun sibuk mencari-cari kelas untuk ESOL (English for Speakers for Other Language) yang biasanya di-provide oleh community center yang dikelola oleh pemerintah. Jadi, local government di sini punya program khusus untuk meningkatkan skill warganya melalui kegiatan-kegiatan seperti kursus bahasa ataupun keterampilan lain, dan semuanya gratis untuk orang yg mendapatkan benefit. Kegiatan tersebut didanai melalui pengelolaan pajak yang dibayar setiap tahun oleh penduduk di Bristol. Keren banget ya idenya! ðŸ’¡

Oke, balik lagi ke cerita saya. Jadi singkat cerita, ternyata kelas atau conversation club yang ingin saya datangi di-cancel. Oiya, club ini diadakan di nursery (semacam daycare & preschool untuk anak usia 2-4 tahun di UK). Jadi, selama saya di kelas, Ken juga akan berada di kelas nursery selama satu jam, for free! Pengertian banget ya programnya... Karena di-cancel, saya diminta untuk menghubungi mereka lg 2 minggu kemudian. Untung dekat situ ada playground, jadi saya bisa tetap mengajak Ken bermain di sana. Ken senang sekali karena ternyata lagi banyak anak lai  sedang main di playground. Saya juga sempat berkenalan dan mengobrol dengan dua orang ibu dari Somalia yang sedang menjaga anaknya bermain. Dari mereka saya dapat informasi kalau di College Green (yang letaknya lebih dekat dengan rumah), juga menyelenggarakan ESOL Class. 

Applying for A Scholarship
Kayaknya udah 3 malam belakangan saya begadang. Tidur di atas jam 12 malan untuk menyelesaikan sebuah aplikasi beasiswa. Ya Allah, rasanya udah lama banget nggak bikin essay, jadi agak-agak kagok sedikit gitu. Ditambah lagi semua pertanyaan harus dijawab dalam bahasa Inggris. Mesti mikir dua kali buat saya yang belum terbiasa. Jadi paham banget gimana pusingnya suami ngerjain tugas essay-nya selama kuliah di UK, hahaha. Alhamdulillaah, akhirnya saya bisa submit sebelum waktu deadline, walau sempat deg-degan karena waktu submit website-nya sempat error. Sekarang tinggal berdoa aja semoga hasilnya baik dan....tiduuur karena jadi berasa kayak zombie banget. Eh, tapi mau selesaikan tulisan ini dulu deh, baru tidur.

Why do I want go Back to School?

panutan banget ini ya :D
Jadi, keinginan yang ingin bisa saya capai dalam waktu dekat adalah ingin sekolah lagi. Keinginan ini pun didukung 100% oleh suami. Makanya waktu saya ngerjain aplikasi beasiswa kemarin, dia rela ngajak Ken main dulu berjam-jam supaya saya bisa fokus. Alhamdulillaah. Alasannya apa sekolah lagi? Jujur saja, alasan utama saya untuk sekolah lagi adalah supaya kelak bisa dicontoh oleh anak-anak saya. Saya dan suami setuju kalau pendidikan adalah hal yang penting, dengannya kita bukan hanya bisa menambah pengetahuan dan keterampilan, tapi juga membentuk pola pikir dan ini penting banget menurut saya untuk jadi modal membesarkan anak dan kontribusi.  Saya dan suami sempat berdiskusi soal hal ini, ketika kami membandingkan tentang self-esteem masing-masing soal mencapai pendidikan tinggi. Suami saya yang memang lahir dan besar di keluarga berpendidikan tinggi, tidak pernah sekalipun berpikir kalau sekolah tinggi itu hal yang mustahil. Berbeda dengan saya, yang bukan berasal dari keluarga yang pendidikannya tinggi, bisa melanjutkan kuliah S2 di dalam negeri saja saya sempat berpikir itu hal yang mustahil, tepatnya saat saya masih kecil dulu. Saya menganggap kalau hal itu dipengaruhi besar oleh latar belakang keluarga kami. Suami bilang dia tidak pernah merasa sekolah tinggi itu mustahil karena ada role model. Orang-orang terdekatnya, papa dan mama, bisa kok. So, dia juga menganggap suatu hari nanti dia juga akan bisa mencapai hal yang sama.

Kedua, saya kangen banget punya target pencapaian diri. Ini soal mengembangkan diri. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan, seperti buka usaha atau ikut kursus ini-itu. Tapi, hal pertama yang ingin saya lakukan sekarang adalah sekolah lagi, dan saya yakin selanjutnya akan membuka jalan saya untuk fase pengembangan diri selanjutnya. Untuk bisa memberikan manfaat seluas-luasnya, semampu saya.

Then, i guess some people will come up with this thought: "Jadi, bosen ya jadi ibu rumah tangga?" Please.. please.. please... Don't ever ask this kinda question to anyone as it is offensive as it is.

Bukan jadi ibu rumah tangga yang bikin saya bosan, tapi belum ketemu celah untuk mengembangkan diri itu yang bikin kadang-kadang berasa kayak 'duh, hidup gua nggak produktif banget ya.' Kebayang nggak mesti mengerjakan hal yang mirip setiap hari 24/7, pasti lah ada rasa bosannya. Kerja di kantor, ngerjain hal yang itu-itu aja setiap hari juga pasti ada bosannya. Bisa stay di rumah menyaksikan perkembangan anak setiap detiknya itu, buat saya anugerah. Sampai saat ini saya bersyukur banget dikasih kesempatan buat fokus mengurus anak dan nggak pernah menyesal ambil keputusan ini. Meskipun saya tahu saya juga punya cita-cita lain yang ingin saya kejar. Jadi, saya pikir kenapa nggak dua-duanya aja coba saya imbangi. Pelan-pelan ambil langkah yang bisa diambil dulu. Pasti bakal menantang banget sih, tapi bismillaah kita nggak pernah tahu kalau nggak pernah coba, kan?

Btw, sorry for being unorganized. ini tulisan sempat mengendap dan belum juga dipost karena jujur aja saya pernah ada pada fase overthinking. Deuh, kebanyakan kata 'sempat'. Kebanyakan mikir, terutama tentang apa sih sebenarnya yang saya pengen. The 20's crisis hit meeeh! 
Tapi, yaudah saya share aja ya siapa tahu lagi ada yang senasib.




So, all moms out there! How's life been treating you? How did you overcome with the current life-crisis? Please kindly share and hug all along ;)

Doakan saya yah, Cheers!

Sawitri Wening

Saturday, March 4, 2017

Ken's Potty Story (Part 1)


Pojok Potty Ken Maruta
Minggu ini, tepatnya 7 hari yang lalu mungkin ya, saya dan suami memutuskan untuk mencoba melakukan "potty training". Sebenarnya, kami sudah tertarik melakukanya semenjak sebulan yang lalu. Tapi, kami pikir kami butuh potty supaya Ken bisa nyaman latihannya. Sebab pernah beberapa kali dia berhasil buang air di toilet, tapi berakhir gusar karena tidak nyaman duduk di toilet seat orang dewasa yang memang tidak cocok dipakai untuknya. But, due to the limited budget, we decided to keep holding on the diapers routine until next month. But then the plan suddenly changed as i found a multistage potty with... the clearance price. Blame my female brain, LOL. Long story short, we got the munchkin potty home before february ends. Yeay! *oke sekian curhatnya*

Sebenarnya sih kami belum benar-benar mau melakukan potty training untuk Ken. Kami hanya berniat mulai sekadar mengenalkan potty atau "buang air pada tempatnya" kepada Ken. Meskipun usia Ken sudah masuk 18 bulan, saya merasa Ken belum saatnya benar-benar harus lepas dari diapers. Tetapi, saya pikir tidak ada salahnya mengenalkan dulu karena peralihan untuk bisa buang air di toilet itu, menurut saya, adalah task yang besar buat seorang bayi, khususnya di jaman sekarang, yang dari orok hampir tidak pernah lepas diapers. Kebayang nggak sih, gimana itu bokong rasanya pakai popok terus dan udah biasa pipis dan pupu dimanapun dia mau. Mungkin akan jadi bebal kali ya. Udah lah daripada nanti makin susah lepasnya, mari kita kenalkan dulu pelan-pelan dari sekarang. Jadi, saya nggak pasang target apa-apa, harus sudah lulus potty train berapa lama dan sebagainya. Selain itu, saya juga menerapkannya jadi lebih fleksibel dan nggak ngoyo. Semacam mendedikasikan diri untuk stay di rumah selama 3 hari atau 7 hari. Hal itu belum saya lakukan. Yang saya lakukan saat ini hanya membiarkan Ken tidak memakai popok di luar jam tidurnya dan saat berada di rumah. Tambahan lagi, kalau emaknya nggak lagi males, hahahah. 

Eh tapi, itu sih rencananya. Eksekusinya? Beuh, saya kebawa suasana. Maksudnya jadi kebawa nggak santai. Dua hari pertama benar-benar kerjaan saya cuma observasi dan nanya pertanyaan yang sama ke Ken, yang cuma pakai celana aja sepanjang hari, eh bahkan nggak pake celana (tanpa popok). Parno bakalan ada insiden "pisang goreng berjatuhan di lantai." Paham kan mak 🙈. 

What to Expect When You Start The Potty Training

Ya berhubung saya belum ada hasil apa-apa, jadi saya mau share sedikit pengalaman saya mempersiapkan dan bagaimana hari-hari pertama menjalankan kebiasaan baru ini, sekaligus progressnya. Siapa tahu ada yang baru mau mulai juga dan jadi ada bayangan. Eh tapi, ini bentuknya lebih ke cerita aja. Oiya, sebelumnya bisa cek kesiapan bayi kita di sini.

Sounding
Seperti biasa, ini adalah hal yang saya lakukan kalau mau mengenalkam suati kebiasaan baru atau kalau akan ada kejadian yang kiranya bakal mengganggu dia. Saya mungkin sudah meinyinggung-nyinggung soal potty sejak usia Ken 15 bulan. Mulai dari menunjukkan bagaimana saya menggunakan toilet (ini kejadian ketika ada masanya Ken maunya ngintilin ibunya bahkan sampai ke kamar mandi). Setiap dia lihat toilet, pasti saya jelaskan "Ken kalau mau eek nanti di sini ya. Ayah sama ibu juga di sini." Begitu terus sampai kalau lihat toilet dia akan otomatis bilang, "eek di sini"
Selain itu saya juga membacakan buku yang bertemakan tentang potty training kayak buku "Pirate Pete's Potty" ini. Menunjukkan video tentang potty training (sampai tahu-tahu dia dengan sendirinya berpura-pura duduk di atas potty padahal yang dia dudukin adalah mainan piano-pianoannya. Awalnya bingung kenapa itu piano dia dudukin, terus dia nyeletuk sendiri "duduk di potty" owalaaah.. he got the point!). Begitu terus diulang-ulang sembari beraktivitas seperti biasanya.

Getting Engaged with The Real Potty
Dari hasil baca-baca, supaya anak excited untuk memulai potty train, bisa tuh ajak doi milih sendiri pottynya. Sebenernya sih menurut saya ini nggak penting-penting amat, jadi kalo diskip juga nggak apa. Kalau Ken sebenarnya ini kejadiannya nggak sengaja. Waktu ke Boots mau beli popok, dia lihat ada potty dan dia teriak-teriak dong mau ambil potty-nya. Kebetulan juga ternyata lagi clearance sale. Ah pertanda apa ini, tanya saya dalam hati. Yaudah, keesokan harinya, setelah diskusi sama ayahnya Ken, kami langsung balik lagi ke Boots. Beruntung bangeeet, karena ternyata potty yang lagi sale itu tinggal sisa satu! Sampai rumah, girang banget dia sambil mainin potty-nya. Dinaikin lah, dicium dan dipeluk lah (serius deh ini...), dijadiin tempat parkir mobil-mobilannya, dan bahkan (ceritanya) jadi tempat eek salah satu mobilnya 😅

What Happened in The First Day
Oke, persiapan udah, sekarang eksekusi. Masa penyesuaian buat kami adalah selama dua hari. Dimana dua hari pertama itu sepanjang hari saya dedikasikan buat mengamati Ken dan rajin banget nanya "Ken, mau pipis? Mau eek?" Rajin banget ngingetin "Ken kalo mau pipis atau eek bilang ke ibu ya." Tapi, hal ini sampai sekarang nggak juga dilaksanakan sama dia, meskipun sebenarnya dia udah bisa bilang hal itu. Sampai akhirnya, karena lelah mesti ajak ke kamar mandi terus-terusan, Ken pun sepanjang hari itu tidak saya pakaikan celana. Fungsinya supaya nggak kecolongan lagi ketika mau ke kamar mandi yang berujung pada cucian numpuk. Iya, jadi lebih cepat ke kamar mandi, nggak usah buka celana dulu. Alasan lainnya, anaknya susah beneeeer dipakein celana lagi, "mau lari ajaa" katanya. Tapi, ini hanya saya lakukan dua hari pertama karena Ken kelihatan sudah mulai paham. 

Di hari pertama ini, mungkin cuma dua kali Ken berhasil pipis di kamar mandi, sisanya ngompol. Jadi, iya benar mesti siap rajin ngepel. Sebisa mungkin bersikap tenang dan tidak memarahi anak sambil diingatkan "Nanti kalau mau pipis lari ke kamar mandi ya." Supaya lebih mudah, saya akhirnya mencatat waktu Ken pipis/pup dengan bantuan aplikasi "Potty Baby". Di aplikasi ini anak bisa dapat satu bintang setiap kali berhasil buang air pada tempatnya. Ken senang banget lihat bintang-bintangnya, hahah. 

Catatan paling atas, bikin heboh dunia persilatan

When He Needed to Wee
Meskipun Ken sudah bisa bicara, entah kenapa ia susah sekali diminta bilang kalau mau pipis/ pup. Awalnya, yang mesti saya lakukan adalah observasi gesture tubuhnya kalau mau pipis, saat dia ngompol itu. Misalnya, mulai pegang-pegang celana atau jadi mematung. Setelah hari kedua, dia udah lebih ngerti. Bukan bilang. Tapi, dia akan langsung mengambil mobil-mobilannya dan berlari ke arah kamar mandi kalau mau pipis. Iya, mesti bangeeeet sambil bawa mobil. Kalau diajak pun, dia akan sibuk cari mobilnya dia buat dipegang baru lari ke kamar mandi. Kan bikin deg-degan yak, sempet banget cari mainan dulu. Tapi, biasanya dia bisa menahan dan baru mengeluarkan pipisnya di kamar mandi. Tapi, yah sering juga masih kecolongan apalagi kalau dia lagi asik main, jadi malas lari ke kamar mandi dia. Nah, udah kebayang kan ngos-ngosannya.

 How about Poo?
 Ken sepertinya lebih gampang dilatih pipisnya dulu. Soalnya sering banget kecolongan dia pup di celana, yang bikin "pisang goreng" bergelundungan di lantai. Dia amazed sendiri lihat poo-nya terus bilang apa coba, "ayaaam!" keseeel nggaaak dia sangka itu ayam goreeeng, LOL. Pokoknya buat saya lebih susah lihat tanda-tanda ken mau pup dibanding mau pipis. Pernah waktu itu berhasil dua kali juga begitu lihat dia mau ngeden langsung dudukin di potty dan berhasil. Terus sengaja saya kasih lihat waktu buang potty-nya ke toilet dan kasih tahu cara flush-nya sambil bilang, "bye-bye, poo poo.." Maksudnya biar dia tahu dimanakah tempat kotoran manusia itu seharusnya berada.
Dia senang banget waktu pupnya di flush. Tapi, setelah itu dia jadi tahu kalau pottynya bisa dibongkar dan keesokan harinya jadi super penasaran sehingga sedikit-sedikit nyamperin potty, bukan untuk pup tapi untuk "bredelin" potty-nya. Oh, my curious baby~


Fake to Wee, Fake to Poo
Ada saatnya Ken pura-pura mau pipis, padahal nggak. Dia lari ke kamar mandi sambil bawa mobil, terus pas udah di kamar mandi dia malah bilang "nggak..." maksudnya nggak mau pipis. Berakhir dengan tutup pintu shower dan tidak mau keluar dari situ sambil bilang "bye, ibu..." *cry*
Pura-pura mau pup, duduk di potty ditungguin sambil ngobrol, baca buku, atau nonton video, tapi nggak keluar-keluar sampe ada kali hampir 20 menit. Selama itu dia terkadang berdiri dari potty, lalu saya tanya "nggak jadi eek-nya?" sesaat kemudian dia duduk lagi di potty sambil bilang " eek.. potty aja." Begitu terus sampai beberapa kali, akhirnya saya sudahi saja. Nggak lama, dia pup di celana *cry*.

Hahaha, seru ternyata ya ngajarin anak buang air pada tempatnya. Seringnya saya dan suami saling tatap-tatapan aja sambil ketawa pahit kalau lihat Ken pup di celana. Apalagi suami nggak tahan banget dia lihatnya, hahah. Jadi, dia kebagian bersih-bersih lantai dan celana, saya kebagian basuhin Ken. Intinya beneeer mesti banyak-banyakin stok sabar. 

Gimana, buibuuu... Ada yang udah mulai potty training juga?


Keep calm and be happy!

Sawitri Wening

Thursday, February 16, 2017

Weekly Note: Sakit & Hasil Pap Smear Test

Sudah dua kali menstruasi ini, saya pasti jadi merasa kurang enak badan. Nggak seperti biasanya. Tapi, kemarin yang terparah yang saya alami. Badan benar-benar lemas, demam, mengigil, pusing, pegal, kram, semua jadi satu. Rasanya udah lama sekali terakhir kali saya sakit terkapar tak berdaya seperti kemarin. Positifnya, saya jadi banyak istighfar. 

Alhamdulillaah, nggak enak badannya hanya sekitar 2 hari. Sekarang sudah jauh lebih enakan walau masih pusing sedikit. Bersyukur juga karena saat tumbang begini, suami sedang libur kuliah. Jadi, bisa full jagain Ken sekaligus memasak dan mengurus semua pekerjaan rumah sendiri karena seriously saya benar-benar lemah banget kemarin sampai sebagian besar waktu saya habiskan dengan tidur. Saya harap ini semua hanya karena menstruasi dan akan mereda segera. Saya bersyukur sekali karena suami saya mau melakukannya sambil merawat saya (re: termasuk mijitin dan ngerokin, hahahha). Alhamdulillaah, hari ini saya sudah bisa kembali memasak, bisa kembali joget-joget sama Ken, menemaninya bermain, mengajarinya sesuatu, walau yaah masih rasanya pengin tiduran aja. Sekarang, sudah malam malah nggak bisa tidur dan akhirnya memutuskan untuk menulis ini.

Ken sedang menghibur saya :)


Pap Smear Test
Minggu ini saya juga merasa lega sekali karena hasil cervical cancer test, yang saya lakukan beberapa minggu lalu, akhirnya keluar. Alhamdulillaah, ternyata hasilnya normal. Sebelumnya, saya sempat khawatir karena menstruasi bulan lalu, saya mengalami pendarahan cukup lama dan tidak teratur. Pengalaman yang benar-benar membuat saya bingung, berkaitan dengan kewajiban beribadah. Menstruasi selesai dalam waktu 15 hari, lalu berlanjut lagi selang 3 hari setelahnya, berhenti dan muncul lagi 3 hari setelahnya. Setelah diperiksa memang ada peradangan di serviks saya dan kebetulan saat itu saya mendapat undangan dari NHS (National Health Service) untuk melakukan screening kanker serviks. NHS kalau di Indonesia mungkin mirip seperti BPJS ya. Undangan yang diberikan berupa surat, jadi pihak NHS aktif memberikan reminder ataupun pemberitahuan mengenai programnya, termasuk tentang layanan screening kanker serviks ini. Sifatnya opsional, tapi saya mengambil kesempatan ini, karena gratis, dan kebetulan pada saat itu saya sedang ada keluhan. Balik lagi, peradangan pada serviks saya saat itu disebabkan oleh fungus dan itu semua penyebabnya bisa bermacam-macam. Saya hanya diresepkan satu tablet obat, dan alhamdulillaah pendarahan berangsur mereda. 

Setahu saya, di Indonesia, BPJS juga memiliki program serupa. Tapi, mungkin sosialisasinya masih kurang ya sehingga kita yang mesti rajin cari info untuk tahu ada program-program semacam ini. Ini poster yang saya dapatkan dari website info mengnai BPJS. Mungkin bisa cari tahu sendiri apakah masih berlaku atau tidak, bagi yang tertarik melakukan pap smear test. Sebelumnya, saya juga pernah melakukan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) saat melakukan pemasangan KB di puskesmas, tepatnya pada bulan Desember 2015. Itu juga ditawarkan oleh pihak puskesmas. Metode ini memang tidak lebih akurat dibandingkan pap semar test. Alhamdulillaah, saat itu juga hasilnya negatif. 

sumber: klik di sini

Dari surat hasil pemeriksaan pap smear test, dituliskan pemeriksaan selanjutnya sebaiknya dilakukan 3-5 tahun lagi. Sehingga saya akan mendapatkan surat notifikasi dari NHS untuk melakukan pemeriksaan lagi pada tahun 2020 (kayaknya sih udah nggak di Inggris lagi tuh, hahaha).  Pap smear ini sifatnya bukan mencegah, tapi mencari tahu. Jadi, dalam jeda 3-5 tahun itu kita harus waspada juga apabila muncul tanda-tanda adanya kanker serviks (bisa dicek di sini).  Rasanya tes pap smear gimana? Rasanya biasa aja mak, nggak lebih sakit dari kontraksi pas melahirkan ataupun pasang IUD kok. Eh, itu sih terlalu horor ya perbandingannya. Tapi, serius biasa aja, paling risih aja sih pas pelaksanaannya. Yang penting, buat saya, pastikan yang mengambil sampel adalah dokter/perawat perempuan.

Jadi, apakah mbak-mbak dan ibu-ibu di sini sudah atau akan melakukan tes pap-smear? 



Have a good day!

Sawitri Wening