Thursday, December 11, 2014

My Funny Husband #1

Suatu siang, di kontrakan.

Saya : *keluar kamar dari tidur siang dengan langkah gontai*

Suami: *melihat saya sambil tersenyum, lalu tiba-tiba nyanyi...* "Saint Seiya... nanananana
.. Saint Seiya."

Saya: *duduk bersandar di tembok, sambil melihat pak suami keheranan*

Suami: "Saint Seiya... nananana.." *masih nyanyi lagu Saint Seiya sambil senyum-senyum melihat saya.

Saya: "Kenapa sih kamu??"

Suami: "Coba ngaca deh.. kamu mirip Saint Seiya."

Saya: "Huakakakak... Kirain kenapa." *Langsung ngaca dan emang mirip Saint Seiya T,T

**

Suatu malam, di kontrakan. Kami berdua sedang serius baca buku yg di beli di book fair.

Suami: "Aaaa.. Aku lupaa!"

Saya: "He? Kenapaaaa?" *panik*

Suami: "Lupa, hari ini belum main BF" *Langsung ambil hape*

Saya: -___-'

**

Suatu malam, di kontrakan.

Suami: "Sayang, hape kamu mana?"

Saya: "Mau ngapain?"

Suami: "Mau pinjem dong."

Saya: "Mau telepon?"

Suami: *menggeleng* "Hari ini kan belom main Farm Heroes Saga"

Saya: -____-'

**

Begini nih kelakuan suami yang bikin kangen. Meski kadang nyebelin, tapi lucuuuu... Heheh..

Wednesday, December 10, 2014

Rumah Kontrakan & Kehidupan Baru

Semenjak menikah, kami memutuskan untuk tinggal mandiri di rumah kontrakan mini di bilangan Depok. Alhamdulillaah, cuma sepuluh menit jalan kaki dari kantor saya dan satu jam perjalanan naik motor ke kantor suami.

Sudah kira-kira sebulan lebih kami tinggal di rumah ini. Meskipun kecil, sangat cukuplah buat kami berdua. Ruang tamu, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi yang lumayan bersih, serta tetangga ramah yang masih satu kantor dengan saya, jadi alasan kami untuk mau pindah kesini. Bener-bener Allah kasih kami rezeki di waktu yang tepat.

Semenjak pindah ke sini, kami berdua belajar untuk mandiri. Saya yang ngga pernah masak di rumah, yang apa-apa udah tau beres sekarang mesti belajar masak sendiri. Heheh, awalnya sih keki ya karena ngga biasa masak. Untung rumah dan kantor dekat tukang sayur yang buka dari pagi sampe sore. Jadi, biasanya abis pulang kantor, langsung ke tukang sayur. Dengan modal gugling, percaya diri, dan dukungan suami, surprisingly sayur mayur mentah itu bisa saya ubah jadi makanan siap saji. Meski baru tumis-tumis dan sayur bening aja sih. Saya merasa beruntuuuung banget punya suami yang ngga nuntut macem-macem. Yang tetep bisa bilang masakan saya enak, padahal jelas-jelas keasinan :''D. Namanya juga belajar ya, bu.. Pelan-pelan mesti di dukung. Buat para calon suami, mesti dicatet tuh.. Kalo ngga, bisa merusak mood belajar masak. Buat para calon istri dan istri yang baru belajar masak, jangan gampang puas. Keep learning for better cook ;)

Untuk urusan beres-beres rumah, suami juga mau bekerja sama. Kami juga biasanya bagi-bagi tugas dan saling mendukung. Saya kebagian masak, nyapu, dan cuci baju. Heheh.. Sedangkan suami kebagian ngepel, cuci piring, dan jemur pakaian. Kebetulan dia ngga terlaly suka nyapu dan saya ngga terlalu suka jemur baju. Pokoknya saling melengkapi satu sama lain, deh. Heheh...

Sebelum menikah, banyak orang bilang siap-siap dengan berbagai perubahan. Termasuk kebiasaan pasangan kita masing-masing. Alhamdulillaah, sampai saat ini kami masih bisa menerima (dan tetep harus bisa menerima dong, ya) kebiasaan yang mungkin ngga disangka-sangka sebelum menikah.

Sekian cerita kali ini.. Lanjut ke postingan selanjutnya ya :)

Cheers!

Wednesday, December 3, 2014

A New Journey



Perjalanan itu dimulai sejak 19 Oktober 2014...


Tuesday, October 7, 2014

Back to Work

It's early morning of October 8th 2014. 01:44 AM exactly.

What am just doing is trying to finish up two things, one for personal matter and the other for work.
I missed doing something or lets say writing up in this time, because i realized that i was a night person who being more productive up 11 PM. But, thanks to the work routine which giving back my biological clocks into normal again. Because of my energy already exhausted in the morning till evening, there's no reason for me to wake up in the night to catch up the deadline. The working hours have to be enough for me.

So, what are you doing now? - Somebody should shout out this question.

Well, actually i had an extended weekend after Idul Adha. My workplace just set up the policy about holiday at hari tasyrik which is cool for me. And I'm very grateful at this policy, not because of i have more the day-offs, but it allowed me to manage some preparations. Yes, i've been very excited doing the preparation since the very serious and sacred thing is gonna happen (Insya Allah). Sooo, as the consequence, i have to dedicate a little night to finish up my work, since tomorrow i have to go back to work.

Alhamdulillaah, I've done it already. Gotta go to bed because i have to catch the train by 6 AM.
Yes, since i moved to a new company (or in my case, it is actually a private school), i have to leave home thaaaat early everyday, which is good for me.

By the way, i decided to start over the #100happydays project on my tumblr. Hope i can be consistent to complete the challenge. Yosh!


Good night! May Allah blesses us with a good sleep and healthy body.

Sawitri Wening

Monday, July 14, 2014

14th of July, 2014

It's been a while. I took a moment to sharpen up my senses. Hearing sounds of a train that i rode. Smelling sweet fragrance of an old white lady at my left side. Capturing with my eyes those worried, happy, sleepy faces and many other expressions of the passangers. Swallow my bitter saliva into the dry throat. Tapping down my thumbs on the quite-wide-phone-screen.

I've missed a thing in my life. 

The feeling when the words coming out of the head. I just want to write again with my own way.

On the train to Tebet,

Monday, July 14th 2014

*
Hidup terasa amat berbeda, entah sejak kapan. Saya baru menyadari bahwa saya tengah memutar haluan kapal ini agak jauh dari semula. Ketika pemandangan yang ada di sekitar saya seolah berubah tiba-tiba. Saya rasa saya sedang melalui jalan lain, ke tujuan yang sama. Semoga saja masih tujuan yang sama.
Saya berpindah dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru yang sedikit banyak mengubah hidup saya. Sedikit banyak mengubah pandangan-pandangan saya akan sesuatu. Saya mencoba hal baru yang pernah sedikit saya intip di masa kuliah dulu. Seperti bayi yang baru bisa berjalan. Sama saja, saya masih tertatih. Meskipun entah sudah berapa kali keluhan itu muncul, saya yakin ada yang bisa dipelajari. Pasti ada.

Kesuksesan dan kenyamanan bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Begitu kata mereka. Saya tersenyum kecil. Menyadari kalau definisi sukses di kepala saya kini telah berubah, jauh berubah. Tidak ada yang salah. Saya hanya sedang dibuat takjub. Hati ini terbolak-balik, terombang-ambing bagai sepotong gabus di tengah lautan ganas. Kita bisa saja berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Kejenuhan dan kejutan adalah suatu keniscayaan. Maka, bagaimana pun kerasnya kita berusaha mewujudkan rencana-rencana perjalanan kita. Sungguh, sungguh sebuah kapal tak akan bisa sampai pada dermaga tanpa izin-Nya.
Saya belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ketika harapan tidak lagi sekadar batu loncatan setinggi manusia atau setinggi gunung tertinggi di muka bumi ini sekalipun. Cukup jauhkah saya mengambil ancang-ancang? Saat itu angin laut berembus, menggoyang air yang tenang dan membuat kapal yang gagah berlayar itu terombang-ambing. Sambil meyakini, saya mundur selangkah demi selangkah...

Hidup ini terasa begitu berbeda. Ketika bulan-bulan berganti tanpa ada rasa sepi. Setidaknya, tidak sesepi sebelumnya. "Adakah sepi berhijrah dari satu hati ke hati lainnya?" Pikir saya, sesekali. Namun, tanpa ada sepi, tanpa ada sunyi, suara tak akan berarti.

Ah, iya hidup ini begitu terasa berbeda akhir-akhir ini. Tapi, itu yang membuat saya sadar kalau saya hidup dan terkadang, ingin bisa terus hidup. Diizinkan hidup lebih lama lagi. Mungkin sampai rambut ini memutih. Saya ingin bersandar di pundak manusia berambut putih lainnya, dengan rasa aman hingga tak ragu untuk lelap tertidur di sana.

Sambil mengarungi lautan luas, saya memasang layar kapal. Dermaga yang sama masih menunggu di sana. Semoga sampai dengan selamat.