Sunday, November 5, 2017

Komunikasi Produktif: Melarang & Mengakui Kesalahan

This little guy is a bit obsessed with balloons!

Sepertinya hal yang paling sering kami lakukan, sebagai orang tua, akhir-akhir ini adalah mengeluarkan kalimat larangan kepada Ken. Seperti yang kita semua pahami, anak seusia Ken umumnya memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar. Setiap orang tua mungkin ceritanya bisa berbeda-beda ya. Kalau Ken, semenjak mulai bisa berbicara, ada masa dimana hal yang paling sering dikatakannya adalah "Ken mau pegang A... Ken mau pegang B..." Kayaknya mau tahuuuu banget benda itu apa sih itu. Mungkin kalauu bisa kita terjemahkan isi otaknya, yang terdengar adalah hal-hal ini bentuknya bagaimana, teksturnya seperti apa, keras atau lembek, bisa dibunyikan atau nggak, dan sebagainya. Saya yakin semua itu adalah fitrah dari Allah, dimana di usia ini, anak sedang ada pada tahap belajar yang luar biasa. Segala tingkah laku mereka sebenarnya adalah bentuk dari rasa ingin tahunya, yang sayangnya sering kali kita anggap sebagai suatu kenakalan atau bahkan kebodohan :( Kebayang kan kalo nggak sadar akan hal-hal tadi, bagaimana kita akan mencap seorang anak dengan sebutan negatif. Ah, sadar saja masih suka terbawa emosi seperti yang terkadang saya lakukan :''(

Kalau baca bukunya Mbak Vidya Dwina Paramita tentang hal apa yang harus diperhatikan ketika memutuskan untuk melarang anak, ada dua aspek yang harus dilihat sebelum melarang/menegur anak, yaitu 1) Aspek keamanan dan 2) Aspek Kesopanan. Jadi, kalau rasa ingin tahu anak sudah mengganggu salah satu atau kedua aspek tersebut, saya sepakat untuk wajib melarang anak melakukannya. Diluar itu, masih bisa ditoleransi bahkan harus didukung. Heheh, ini sekalian ngingetin diri sendiri biar nggak malas nanggepin rasa ingin tahu anak. 

Karena intronya kurang lebih berkaitan dengan hal yang saya ceritakan selanjutnya. Jadi, saya akan gabung catatan hari ketiga dan keempat di sini ya. 


Day 3 - Melarang 
Jadi ceritanya, Kami pergi ke Perpusnas yang lagi hits itu kemarin karena pas banget lagi ada acara festival dongeng. Rame-rame sama mbauti dan sepupu-sepupunya Ken. Seperti biasa deh, Ken kalau ada di tempat baru pasti bawaannya ingin menjelajahi tempat itu sampai ke sudut-sudutnya. Entah sudah berapa kalimat larangan yang saya katakan, ya karena emang harus dikasih tahu anaknya kalau melakukan itu nggak boleh. Misal, tidur-tiduran di lantai, nyelip-nyelip di antara bangku-bangku, lari-lari karena takut terjatuh. Yang paling tidak bisa ditoleransi adalah ketika Ken bermain di dekat stop kontak.

Sebenarnya sih dia hanya ingin melihat balon-balon, tapi ternyata ada stop kontak di bawah tumpukan balon-balon itu. Ketika Ken tidak bisa diberitahu sekali, saya langsung berubah lebih tegas, "Ken, itu kabel berbahaya. Jangan main dekat situ!" Lalu, saya membawanya menjauhi tempat itu. Setelah itu, baru saya beri tahu pelan-pelan mengapa ia tidak boleh main di dekat situ dan mulai mengalihkannya dengan hal lain.

Ibu: "Ken, tahu nggak itu apa?"
Ken: "Kabel"
Ibu: "Ibu bilang boleh nggak main dekat kabel"
Ken: "Nggak boleh"
Ibu: "Iya, nggak boleh karena berbahaya. Ken bisa kesetrum, sakit. Nanti Ken nangis."
Ken: *masih tergoda mengambil balon di tempat tadi*
Ibu: "Kita lihat balon yang di sana aja yuk" *Ken menurut*

Setelah saya pikir-pikir, berhadapan dengan toddler itu adalah seni mengalihkan perhatian. Rasa ingin tahunya sepertinya mesti selalu ditantang dengan sesuatu. Jadi, kalau melarang melakukan sesuatu, kayaknya mesti cari alternatif hal lain untuk dikepoin sama otaknya. Betul nggak, buibu?


Day 4 - Mengakui Kesalahan

Children love to interact with their parents
Catatan kali ini adalah sebuah pengakuan dosa *siap dihujat*. Berapa banyak sih dari kita yang main sama anak sambil lihat-lihat hape? Pasti pernah kan merasakan lagi bosan atau lelah dan ingin mengintip notifikasi  atau sekadar lihat-lihat aja, waktu main sama anak. Intinya itu yang kejadian sama saya hari ini. Kebetulan Ken ini anaknya suka bete kalau dicuekin dan inginnya apa yang ia katakan selalu ditanggapi. Tapi, siapa pun kalau dicuekin pasti bete ya. 

Kami baru saja pulang dari menengok sahabat saya yang baru lahiran. Di rumah sahabat saya itu, ada seekor kucing namanya Boni. Ken sukaaaa banget sama kucing, jadi sambil leyeh-leyeh dan main mobil-mobilan, Ken tiba-tiba bilang.
Ken: "Tadi ken liat kucing"
Ibu: "Oh iya, inget nggak kucingnya namanya siapa?"
Ken: "Doni"
Ibu: " Bukan. Boni."
Ken: "Iya, Boni."
Ibu: "Ken ingat nggak kucingnya warna apa?" *mulai pegang hape*
Ken: "Warna white!"
Ibu: "Coba inget lagi. Emang warnanya white?" *mulai lihat-lihat hape*
Ken: "Warna black"
Ibu: "Hmm? emang warna black?" *mulai nggak fokus*
Ken: ~~~ *ngomong sesuatu tapi saya nggak dengar*
Ibu: "Eh, iya kenapa, Ken?" *Lihat Ken matanya sudah berkaca-kaca*
Ibu: "Ken, kok nangis? Ken sedih ya, tadi lagi ngomong ibu nggak dengar?"
Ken: *mengangguk*
Ibu: Ken tadi ngomong apa memangnya? Maaf ya ibu nggak dengar."
Ken: "Ken ngomong warna orange" *sambil mulutnya mulai maju*
Ibu: "Oooh iya betul kucingnya warna orange. Maaf ya Ken ibu tadi nggak dengar. Sini ibu peluk"
Ken: *menaruh hape ibunya di lantai, duh jleb banget rasanya* 
Ibu: "Sori ya Ken... maaf. Ken nggak suka ya ibu lihat hape waktu Ken ngomong?"
Ken: *mengangguk*
Ibu: "Ibu nggak boleh lihat hape?"
Ken: "iya..."
Ibu: "Maaf, Keeen...Ken maafin ibu nggak?" *sambil memeluk*
Ken: Iya *sambil mengangguk*

Rupanya dia sepertinya sudah berekspektasi apa yang akan saya katakan kalau ia menjawab warna kucingnya dengan benar dan realitanya ibunya malah sibuk lihat hape :"""(. Seenggaknya ada banyak hal yang bisa saya dan Ken pelajari dari kejadian singkat tadi. Ken belajar bagaimana ibunya mengakui kesalahan dan ibu tentu saja belajar untuk berusaha lebih keras untuk tidak menduakan Ken saat sedang bermain atau mengobrol dengannya. 

Saat itu, saya juga berusaha untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya, menggunakan kalimat-kalimat pendek , dan mengulang perkataan maaf agar Ken lebih mudah mengerti dan memahami pesan dan fungsi dari kata "maaf" itu sendiri.


Semoga bermanfaat!
Sawitri Wening



Baca artikel lain tentang Komunikasi Produktif di sini

#hari3
#hari4
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Friday, November 3, 2017

Komunikasi Produktif: Membuat Kesepakatan

Ketika bisa tidur siang adalah sebuah pencapaian

Day 2 - Membuat kesepakatan

Siapa di sini yang anaknya memasuki masa susaaaaah banget disuruh tidur siang? *Ngacung paling tinggu

Setelah disapih, salah satu waktu yang sering terjadi drama adalah ketika waktu tidur siang. Maksudnya, Ken jadi sering menolak tidur siang karena ingin bermain terus, padahal sering kali sebenarnya ia sudah merasa ngantuk. Hal ini diperparah dengan jetlag yang dialami Ken ketika pindah dari Bristol ke Indonesia. Jam tidur menjadi berantakan, termasuk tidur siang.

Alhamdulillaah, belakangan kebiasaan tidur siang Ken semakin teratur. Tapiiiiii mesti ada sesi tawar-menawar dulu sebelum akhirnya tidur ðŸ˜ª

Salah satu cara berkomunikasi dengan Ken yang cukup efektif adalah dengan membuat kesepakatan dengan Ken. Contoh kesepakatan itu adalah dengan memberikan kesempatan Ken menentuka sendiri kapan ia harus berhenti main dan tidur siang. Seperti yang terjadi hari ini.

Ibu: Ken, abis pipis kita bobo ya
Ken: nggak mau. Ken mau main aja.
Ibu : Oke, Ken masih boleh main, tapi sebentar saja ya. Ibu pasang alarmnya ya (karena Ken belum bisa memahami konsep waktu, jadi untuk memudahkan, dipasang alarm)
Ken: iya 
Ibu: Ken mau berapa menit lagi?
Ken: tiga menit
Ibu: Oke (ibu memasang alarm di hape sambil disaksikan Ken)

Setelah alarm berbunyi, Ken mematikannya sendiri dan langsung menghentikan kegiatan bermainnya dan pergi ke tempat tidur. Eh, tapi apa Ken akan langsung tertidur? Beluuuum... masih ada sesi tawar-menawar lagi sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.

Ibu: Ken mau bobonya, lampunya dimatikan atau dinyalain?
Ken: bobonya lampunya dinyalain aja
Ibu: Iya, tapi Ken bobo ya. Kalau nggak, lampunya dimatiin aja supaya tidurnya lebih enak.
Ken: nggak mau, dinyalain aja
Ibu: Oke, asal Ken tidur ya. 


Cara berkomunikasi seperti ini, menurut saya lebih efektif dibandingkan menyuruh Ken tidur dengan cara marah-marah dan berujung pada pecahnya tangisan dan drama tantrum. Meskipun rate keberhasilannya tidak 100% terutama kalau Ken sedang benar-benar tidak mengantuk atau ada hal khusus lainnya. Namun, dengan membuat kesepakatan seperti itu saya merasa lebih menghargai Ken dengan memberinya kesempatan menentukan sekaligus melatih mengambil keputusan sendiri. Apabila ia tidak mengikuti keputusan yang telah diambilnya sendiri, maka ia akan mendapatkan konsekuensi  baik itu secara natural atau sesuai dengan yang telah disepakati. 

Apabila dirangkum, strategi komunikasi yang saya lakukan dalam cerita ini adalah:
1. Menggunakan kalimat tunggal dan pendek
2. Menawarkan pilihan solusi kepada anak (untuk anak seusia Ken yang masih harus banyak diarahkan)
3. Mengenalkan konsep batas waktu
4. Menjelaskan alasan kenapa harus tidur siang (Ini saya lakukan biasanya kalau ada penolakan lebih lanjut, kebetulan hari ini lebih mudah dikasih tahunya, hihi... Jadi jurus yang ini nggak dikeluarkan deh)


Jadi, ternyata anak semuda Ken sudah bisa lho diajak membuat kesepakatan dan saya merasa cara ini membuat dia tidak merasa terlalu terpaksa melakukan apa yang dikehendaki orang tuanya karena saya memberikan ia kesempatan untuk menentukan pilihan arau tidak sekadar mendikte solusi. Jadi, dalam proses meminta ankak tidur siang aja udah banyak hal ya yang bisa dipelajari, hehehe. Doakan ya semoga Ken semakin otomatis sadar akan pentingnya kebutuhan tidur siang, supaya ibunya tinggal bilang "Ken, waktunya tidur siang" dia langsung menjawab "Oke, berangkat, bu!"


Kalau ibu-ibu ada tips lain nggak?


Cheers!
Sawitri Wening


Baca artikel lain tentang Komunikasi Produktif di sini

#hari2
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, November 2, 2017

Komunikasi Produktif: Bahasa Tubuh

Ken berusaha meniru tingkah laku Kucing
Berkomunikasi dengan Ken yang saat ini berusia 26 bulan, bagi saya, adalah salah satu hal yang menantang dan sering kali menguji kesabaran. Meskipun Ken sudah bisa berbicara dengan cukup jelas, namun sebenarnya, anak seusia Ken masih butuh banyak dibantu dalam hal menyampaikan apa yang diinginkan atau yang dirasakannya. Belum lagi rasa ingin tahunya yang sangat, sangat besar, membuat ia melakukan hal-hal yang kerap kali membuat saya khawatir dan harus berulang  ulang ulang kali menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hahah, terkadang sampai berbusa mulut ibunya, tapi Ken masih juga melakukan hal yang sebenarnya tidak diboleh dilakukan, misalnya dilarang main di dekat alat olahraga karena takut terjepit, tapi anaknya masih saja melakukannya. Hal lainnya adalah Ken sedang ada dalam fase sering menolak ketika diminta mandi,buang air di toilet atau bahkan saat mau ganti celana. Intinya, saat ini saya benar-benar sedang ditantang oleh Ken untuk bisa berkomunikasi produktif atau berkomunikasi yang ada hasilnya, jadi nggak cuap-cuap aja. Pas banget yaaa sama tugas yang sekarang. Walaupun, saya yakin sih materi ini pasti akan berguna sampai berapapun usianya Ken.

Jadi, mari kita cerita soal praktik komunikasi produktif hari ini...

Day 1 - Memanfaatkan bahasa tubuh
Saat berada berdua saja dengan Ken di rumah (Errr... sebenernya sekarang maasih bertiga sih sama ayahnya), saya biasanya menyiapkan beberapa kegiatan (invitation play) agar Ken tidak bosan dan belajar sesuatu (sambil bermain) di rumah seharian, sembari menunggu sepupunya pulang dan akhirnya berbaur main sesuka mereka. Seperti biasa, terkadang Ken mau mengikuti kegiatan yang saya siapkan dengan excited dan serius. Tapi, terkadang ia juga menolak dan memilih bermain atau melakukan hal lain yang dia mau. 

Hari ini, saya mencoba menawarkan berkegiatan 'menjahit' dengan materi kertas dan tali. Senangnya hati ibu, ternyata Ken mulai tertarik dan serius mengerjakannya. Padahal sebelumnya kegiatan ini pernah ditolak mentah-mentah. Setelah selesai dengan kegiatan menjahitnya, Ken saya tawarkan untuk meronce manik-manik, sebab sebelumnya dia begitu serius dan senang mengerjakannya. Ternyata, saya salah... Ken sedang tidak mood main manik-manik. Alhasil, dia mengekspresikan hal itu dengan menyebarkan manik-maniknya ke penjuru kamar (menurut dia seru kali ya, semacam sebar confetti gitu). Saya udah pasti lah kecewa, soalnya selain jadi berantakan, jadi banyak yang hilang. Gemes lah pokoknya. Kalau tadi sumbu kesabaran saya sedang pendek, pasti saya sudah menghujamnya dengan perkataan larangan yang tidak efektif sambil ngomel-ngomel bilang "jangan...jangan...tidak...tidak...no...no..dsb" yang tidak berujung pada solusi dan justru membuatnya cemas dan merasa dirinya buruk karena terus menerus disalahkan. Padahal, bisa jadi itu adalah salah satu bentuk rasa penasarannya yang sebenarnya merupakan salah satu fitrah baik, uyaitu punya rasa ingin tahu yang besar. Oke, jadi hal itu dulu yang harus saya sadari *berdoa biar nggak lupa.

Sebenarnya ingin juga sih marah-marah, tapi untung saya cepat sadar dan memilih diam, lalu menunjukkan ekspresi kecewa saya dengan bahasa tubuh dan menggunakan i-message sambil berkata, "Ken, ibu sedih ya kalau Ken seperti itu. Ibu nggak suka kalau Ken sebar manik-maniknya karena jadi berantakan. Nanti kalau banyak yang hilang, Ken jadi nggak bisa main lagi." Kesalahan saya saat itu adalah tidak langsung menyampaikan rasa empati kalau mungkin dia sedang tidak ingin main manik-manik *catatan untuk perbaikan 

Setelah beberapa saat saya membiarkannya sibuk dengan apa yang dikerjakannya sendiri, saya menghampirinya dan bilang, 
Ibu: "Ken ibu sedih kalau Ken lempar-lempar kayak tadi." Ken melihat saya dan memperhatikan ekspresi saya lalu dia bilang, 
Ken: "bu, jangan sedih bu..." Aduh, saya terharu beneran.
Ibu: "Ken mau bikin ibu happy lagi nggak?"
Ken: "mau..."
Ibu: "Kalau gitu, Ken dan ibu nanti beresin manik-maniknya ya"

Kemudian, Ken ikut membereskan manik-manik yang berserakan di lantai dooong :''). Sejujurnya saya nggak nyangka kalau Ken mau ikut membantu. Bila saya sudah marah-marah duluan, pasti ending-nya akan bikin lelah hati, baik saya dan Ken. Sebenarnya yang bikin saya begitu senang bukan hanya karena Ken mau ikut membantu, tapi saya merasa saat itu Ken sudah bisa memahami perasaan orang lain dan menunjukkan empatinya dengan membantu ibu. Sesudahnya, so pasti Ken saya beri pujian.

Bagi saya, melakukan komunikasi seperti itu memang perlu usaha karena biasanya sudah terbawa emosi duluan. Yang pertama adalah berusaha untuk bersabar dulu dan memahami kenapa anak berperilaku seperti. Lalu, dalam berkomunikasi dengan anak kali ini, saya meng-highlight kaidah 7-38-55 (Keberhasilan komunikasi dipengaruhi oleh 7% aspek verbal, 38% intonasi suara, dan 55% bahasa tubuh). Ternyata anak lebih banyak mengobservasi apa yang kita tunjukkan dibandingkan dengan apa yang kita katakan. 


Semoga bisa makin luwes dan semoga bermanfaat untuk yang membaca ya!

Cheers!
Sawitri Wening


#hari 1
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Monday, October 16, 2017

Ken's Weaning Story


Apa kabar semuanya?! Yeay! Akhirnya kembali muncul lagi di sini setelah dua bulan lebih nggak nulis di sini. Lama juga ya 😅... Semenjak riweuh dengan segala hal-ihwal pindahan dari flat ke apartemen baru, kemudian disusul dengan persiapan kembali ke tanah air, rasanya kok energi dan pikiran ini banyak terkuras untuk hal-hal tersebut dan hal lainnya. Jadi, baru sekarang sempat update lagi. Sekarang, sudah sebulan lebih kembali ke Indonesia, kembali ke hal-hal lama yang mostly jadi terasa baru lagi buat saya. Jadi, saat ini posisinya masih dalam rangka adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Bukan cuma saya aja yang sedang beradaptasi, tapi tentu juga suami dan yang paling banyak usahanya dalam membiasakan diri di lingkungan barunya yang sekarang adalah Ken.

Ngomong-ngomong soal adaptasi, saya mau cerita sedikit soal proses menyapih Ken. Kalau ingat postingan galau ini, rasanya bersyukur banget karena ternyata proses menyapih Ken nggak sehoror yang saya bayangkan sebelumnya. Iya, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk menyapih Ken tepat di usianya yang ke dua tahun.


Mengurangi Waktu Menyusui
Memasuki usia 12 bulan, Ken yang awalnya 'susah makan' alhamdulillaah perlahan-lahan semakin pintar makannya. Yang semula menolak makan nasi, jadi mau. Yang tadinya, selalu melepeh-lepeh makanan, jadi semakin lancar mengunyah dan menelan makanan padat seperti layaknya orang dewasa. Walaupun kebiasaan melepeh makanan itu masih ada, tapi kalau dibandingkan pada saat Ken berusia dibawah satu tahun, kayaknya nggak ada alasan untuk nggak bersyukur. Setelah itu pun yang saya lakukan adalah mulai mengurangi intensitas menyusui Ken dan lebih banyak menawarkan makanan dan mengenalkannya dengan susu pasteurisasi (sebab di Bristol jarang sekali ada susu UHT). Hingga di usianya sekitar 14-15 bulan, Ken seringnya hanya meminta mimik atau disusui saat mau tidur DAN saat ia terbangun di tengah tidurnya. Masya Allah... Jadi, tugas saya sudah berkurang banyak, tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Ken bisa tidur tanpa mimik dan tidak lagi mencari mimik di tengah tidurnya.

Sounding
As usual, we use this most powerful weapon to help Ken overcome with change. Kayaknya 5-6 bulan sebelum eksekusi, saya udah mulai wanti-wanti Ken kalau akan ada saatnya ia harus berhenti mimik, yaitu saat ia berulang tahun yang kedua. Kalimat yang paling sering saya gunakan adalah "Ken, nanti kalau sudah happy birthday, tiup lilin, berarti Ken sudah tidak mimik lagi ya." Selain itu, saya juga menjelaskan kalau anak yang sudah besar, sudah tidak mimik lagi dan Ken sudah besar. Begitu terus di berbagai kesempatan, dengan harapan Ken bisa lebih mudah melewati salah satu perubahan besar dalam hidupnya itu. Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi Ken, pasti saya akan sangat terpukul harus 'berpisah' dengan sesuatu yang selalu ada bersamanya semenjak ia lahir 💔.

Memilih cara menyapih
Karena bertekad ingin menyapih tanpa "membohongi" atau pakai cara orang-orang jaman dulu, ada satu catatan penting yang menurut saya nggak kalah penting, yaitu konsisten dan jujur dalam perkataan dan perilaku kepada anak. Oh iya, saya nggak menganggap cara yang dilakukan orang-orang jaman dulu itu, seperti mengoleskan parutan kunyit atau betadine di payudata agar terkesan sedang sakit, tidak baik karena bisa jadi itu adalah cara ibu agar anak bisa lebih legowo ketika disapih, ya kan daripada ibu dan anak stress karena drama penyapihan. Hal ini sempat juga terpikiran untuk saya lakukan, tapi setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan memilih cara lain yang menurut kami lebih pas di hati, yaitu dengan memberikan pengertian kepada Ken.

Menentukan momen perubahan
Agak bingung juga kasih nama poinnya. Intinya, kami memilih momen yang menurut kami paling tepat untuk memulai proses menyapih dan informasi ini sudah diberitahukan kepada Ken. Jadi, ketika momen itu datang, Ken akan lebih siap dengan perubahan yang akan dialaminya. Momen yang kami pilih adalah saat ulang tahun Ken. Sengaja, kami mengundang tetangga dan mengadakan pesta kecil-kecilan sekadar menjadi penanda kalau setelah ini, Ken akan disapih.

Hal selanjutnya yang kami lakukan adalah eksekusi. Sesuai ekspektasi, ternyata drama yaaa, hahahah. Tapi, alhamdulillaah dramanya hanya berlangsung selama 3 hari. Di malam ke-4 Ken berhasil tidur sendiri tanpa nangis-nangis. Masya Allah, lega rasanya. Akhirnya tugas menyusui Ken selama dua tahun berhasil diselesaikan 😭. Di sini, saya mencatat ada beberapa fase yang Ken alami saat dan pasca disapih. Ini sama sih kayak fase umum yang terjadi kalau seseorang mengalami perubahan.

1. Fase Penolakan
Fase dimana Ken mampu menangis berjam-jam karena tidak diberi mimik saat mau tidur selama 3 hari. Di hari pertama super capeeek karena saya menuruti semua permintaannya, kecuali minta mimik. Karena tidak berhasil dapat mimik, Ken akhirnya minta macam-macam, minta pipis lah, makan lah, walaupun sebenarnya dia nggak benar-benar mau melakukan itu. Alhasil, kami baru tidur jam 3 pagi. Malam kedua, saya menggunakan strategi mengabaikan tangisannya dan berlaku seperti tidak ada apa-apa, jadi selama Ken menangis, saya tetap memejamkan mata dan memintanya untuk tidur sambil memberitahu konsekuensi kalau dia menangis terus (matanya bengkak, capek, dsb.) Hasilnya, Ken menangis selama 30 menit, diam dan tertidur sendiri. Malam ketiga, Ken masih menangis sekitar 10 menit lalu tertidur.

2. Fase Melawan/Denial 
Ternyata dramanya belum berakhir, buibuuu... Hahah, tapi nggak kayak sebelumnya sih. Di fase ini, Ken seringkali menolak untuk tidur, walaupun sebenarnya dia sudah mengantuk. Beda ya sama nggak mau tidur karena nggak ngantuk. Jadi, siap-siap deh tidur siang dan malam akan mundur beberapa jam karena anaknya udah nggak bisa lagi disogok pake mimik biar tidur cepat! 😂

3. Fase menerima
Meskipun terkadang Ken masih suka menolak tidur siang, tetapi sekarang ia sudah lebih mengerti. Jam tidur siang/malam pun sudah lebih teratur dibanding ketika masih pada fase sebelumnya. Di fase sebelumnya, Ken seringkali menghipnosis dirinya sendiri dengan bilang "no mimik, yes bobo" berulang kali. Padahal nggak ada yang mencontohkan dan kata-katanya yang catchy itu dia sendiri yang memilih. Masya Allah, di situ saya melihat usaha Ken untuk membuat dirinya sendiri paham akan perubahan ini.

Catatan saya adalah ketika mau memulai proses menyapih dengan cara ini, baik ayah ataupun ibu harus ikhlas dan yakin. Sebab, kalau tidak, akan terasa sulit di fase pertama sehingga jadi nggak tega dan akhirnya menawarkan mimik lagi. Ternyata, setelah proses menyapih yang penuh drama itu, terbitlah tidur yang lebih berkualitas, bebas sakit punggung, baju tanpa kancing depan, dan anak yang lebih mandiri karena tidur tanpa harus lagi disusui 😊

Sekian dulu ceritanya, mudah-mudahan ada manfaatnya ya. Bagi yang baru akan memulai proses menyapih, semangat ya, buibuuuu :*

Thanks for helping us through the thick of weaning process, guys! (Ken's Birthday Squad)

Cheers!
Sawitri Wening

Tuesday, August 8, 2017

Menghidari Melakukan Kekerasan pada Anak

“Bego banget sih! Makan yang bener, Tolol!” 

Kata-kata tersebut pernah saya dengar sendiri keluar dari mulut seorang ibu kepada anaknya. Entah kerjadian apa persisnya yang membuat ibu itu mengeluarkan kata-kata mengerikan kepada anaknya sendiri, yang masih berumur sekitar dua tahun itu. 

*

image frome here
Sebagai orang tua, tentu kita pernah menghadapi masa-masa sulit dalam mengasuh anak. Kejadian seorang ibu menyakiti anaknya sendiri baik secara fisik ataupun verbal bukan lah pemandang yang langka kita temui. Bahkan mungkin kita sendiri pernah menyakiti anak kita sendiri karena perasaan marah atau frustrasi menghadapinya yang sedang sulit diatur. Tentu saja hal seperti itu terkadang tidak dapat dihindari, karena orang tua juga manusia yang emosi negatifnya bisa tersulut sewaktu-waktu. Namun, tahukah kita bagaimana dampaknya pada anak kita kelak?

Untuk lebih memahami pentingnya mengontrol diri kita agar tidak menyakiti anak, kita perlu mengetahui hal apa yang bisa ditimbulkan dari kekerasan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan kekerasan yang terjadi pada berdampak jangka panjang pada anak. Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan dari kekerasan anak dari berbagai penelitian:

1. Kurangnya kemampuan mengidentifikasi dan mengontrol emosi 
2. Berpotensi menyakiti diri sendiri atau self-harm ketika sudah dewasa 
3. Menimbulkan kecemasan, depresi, sulit berkonsentrasi, dan rendah diri 
4. Berkaitan dengan potensi menjadi korban kekerasan di kemudian hari 


Dr. Dan Siegel (2011) menyebutkan setidaknya ada empat cara praktis yang dapat kita lakukan apabila sedang menghadapi situasi yang sulit saat membersamai anak. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat menjadi celah untuk kita, para orang tua, untuk dapat mengembangkan self-regulation atau kemampuan mengelola emosi kita dan anak. 

1. Berusaha untuk tidak menyakiti anak
Ketika sedang menghadapi situasi sulit dengan anak, berusahalah untuk menanah diri untuk tidak berkata kasar dengan menutup mulut. Letakkan kedua tangan kita di belakang untuk menghindari melakukan kekerasan fisik seperti memukul atau mencubit anak. 

2. Menjauh dari anak sejenak
Beri waktu sejenak pada diri kita untuk ‘bernapas’. Caranya dengan meninggalkan atau menghindari anak kita sebentar sampai kita merasa lebih tenang. Beri penjelasan kepada anak agar ia tidak merasa diacuhkan bahwa kita sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk beberapa saat dan akan kembali lagi ketika sudah tenang. 

3.Bergerak!
Ketika kita sedang meluangkan waktu untuk menyendiri, mulai lah mengatur nafas dengan perlahan dan bergeraklah! Penelitian menunjukkan apabila kita bergerak atau melakukan relaksasi, hal itu akan berdampak pada perubahan emosi kita. Contoh sederhananya adalah, ketika kita tersenyum, maka kita akan merasakan lebih senang. Apabila kita mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, kita akan merasa lebih tenang. Bisa juga dengan melompat-lompat, menari atau apapun, asalkan kita bisa merasa lebih nyaman dan lega.

4. Segera perbaiki situasi dengan anak kita
Saat kita sudah tenang, segeralah kembali kepada anak kita dengan menerima sepenuhnya kejadian sebelumnya. Apabila hal yang tidak diinginkan sudah terlanjur terjadi, sebaiknya segeralah meminta maaf dengan anak kita dan sampaikan penyesalan atas apa yang sudah kita lakukan. Lalu, mulailah memahami emosi dan kondisi yang dialami anak, agar baik kita ataupun anak kita kembali pada kondisi emosi yang lebih stabil. Dengan begitu, hubungan antara kita dan anak kita bisa kembali baik.

Semoga kita semakin menyadari dampak buruk dari kekerasan kepada anak dan sebisa mungkin menghindarinya dan semakin sabar ketika membersamainya. Sebab masa depan anak-anak kita kelak, ada di tangan kita sekarang.


Artikel ini dimuat di haisobat.id.

haisobat.id  situs yang berisi info terkait life style, mental health issue, dsb.


Sumber:
Goldsmith, R., & Freyd, J. (2005). Effects of Emotional Abuse in Family and Work Environments: Awareness for Emotional Abuse. Journal of Emotional Abuse, Vol. 5(1).

Siegel, D.J., & Bryson, T.P. (2011). The Whole-Brain Child. New York: Deracorte Press.

Effects of Child Abuse & Neglect. Retrieved from http://www.joyfulheartfoundation.org/learn/child-abuse-neglect/effects-child-abuse-neglect

Vardigan, B. (2017). Yelling at Children (Verbal Abuse). Retrieved from https://consumer.healthday.com/encyclopedia/children-s-health-10/child-development-news-124/yelling-at-children-verbal-abuse-648565.html