Thursday, November 2, 2017

Komunikasi Produktif: Bahasa Tubuh

Ken berusaha meniru tingkah laku Kucing
Berkomunikasi dengan Ken yang saat ini berusia 26 bulan, bagi saya, adalah salah satu hal yang menantang dan sering kali menguji kesabaran. Meskipun Ken sudah bisa berbicara dengan cukup jelas, namun sebenarnya, anak seusia Ken masih butuh banyak dibantu dalam hal menyampaikan apa yang diinginkan atau yang dirasakannya. Belum lagi rasa ingin tahunya yang sangat, sangat besar, membuat ia melakukan hal-hal yang kerap kali membuat saya khawatir dan harus berulang  ulang ulang kali menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hahah, terkadang sampai berbusa mulut ibunya, tapi Ken masih juga melakukan hal yang sebenarnya tidak diboleh dilakukan, misalnya dilarang main di dekat alat olahraga karena takut terjepit, tapi anaknya masih saja melakukannya. Hal lainnya adalah Ken sedang ada dalam fase sering menolak ketika diminta mandi,buang air di toilet atau bahkan saat mau ganti celana. Intinya, saat ini saya benar-benar sedang ditantang oleh Ken untuk bisa berkomunikasi produktif atau berkomunikasi yang ada hasilnya, jadi nggak cuap-cuap aja. Pas banget yaaa sama tugas yang sekarang. Walaupun, saya yakin sih materi ini pasti akan berguna sampai berapapun usianya Ken.

Jadi, mari kita cerita soal praktik komunikasi produktif hari ini...

Day 1 - Memanfaatkan bahasa tubuh
Saat berada berdua saja dengan Ken di rumah (Errr... sebenernya sekarang maasih bertiga sih sama ayahnya), saya biasanya menyiapkan beberapa kegiatan (invitation play) agar Ken tidak bosan dan belajar sesuatu (sambil bermain) di rumah seharian, sembari menunggu sepupunya pulang dan akhirnya berbaur main sesuka mereka. Seperti biasa, terkadang Ken mau mengikuti kegiatan yang saya siapkan dengan excited dan serius. Tapi, terkadang ia juga menolak dan memilih bermain atau melakukan hal lain yang dia mau. 

Hari ini, saya mencoba menawarkan berkegiatan 'menjahit' dengan materi kertas dan tali. Senangnya hati ibu, ternyata Ken mulai tertarik dan serius mengerjakannya. Padahal sebelumnya kegiatan ini pernah ditolak mentah-mentah. Setelah selesai dengan kegiatan menjahitnya, Ken saya tawarkan untuk meronce manik-manik, sebab sebelumnya dia begitu serius dan senang mengerjakannya. Ternyata, saya salah... Ken sedang tidak mood main manik-manik. Alhasil, dia mengekspresikan hal itu dengan menyebarkan manik-maniknya ke penjuru kamar (menurut dia seru kali ya, semacam sebar confetti gitu). Saya udah pasti lah kecewa, soalnya selain jadi berantakan, jadi banyak yang hilang. Gemes lah pokoknya. Kalau tadi sumbu kesabaran saya sedang pendek, pasti saya sudah menghujamnya dengan perkataan larangan yang tidak efektif sambil ngomel-ngomel bilang "jangan...jangan...tidak...tidak...no...no..dsb" yang tidak berujung pada solusi dan justru membuatnya cemas dan merasa dirinya buruk karena terus menerus disalahkan. Padahal, bisa jadi itu adalah salah satu bentuk rasa penasarannya yang sebenarnya merupakan salah satu fitrah baik, uyaitu punya rasa ingin tahu yang besar. Oke, jadi hal itu dulu yang harus saya sadari *berdoa biar nggak lupa.

Sebenarnya ingin juga sih marah-marah, tapi untung saya cepat sadar dan memilih diam, lalu menunjukkan ekspresi kecewa saya dengan bahasa tubuh dan menggunakan i-message sambil berkata, "Ken, ibu sedih ya kalau Ken seperti itu. Ibu nggak suka kalau Ken sebar manik-maniknya karena jadi berantakan. Nanti kalau banyak yang hilang, Ken jadi nggak bisa main lagi." Kesalahan saya saat itu adalah tidak langsung menyampaikan rasa empati kalau mungkin dia sedang tidak ingin main manik-manik *catatan untuk perbaikan 

Setelah beberapa saat saya membiarkannya sibuk dengan apa yang dikerjakannya sendiri, saya menghampirinya dan bilang, 
Ibu: "Ken ibu sedih kalau Ken lempar-lempar kayak tadi." Ken melihat saya dan memperhatikan ekspresi saya lalu dia bilang, 
Ken: "bu, jangan sedih bu..." Aduh, saya terharu beneran.
Ibu: "Ken mau bikin ibu happy lagi nggak?"
Ken: "mau..."
Ibu: "Kalau gitu, Ken dan ibu nanti beresin manik-maniknya ya"

Kemudian, Ken ikut membereskan manik-manik yang berserakan di lantai dooong :''). Sejujurnya saya nggak nyangka kalau Ken mau ikut membantu. Bila saya sudah marah-marah duluan, pasti ending-nya akan bikin lelah hati, baik saya dan Ken. Sebenarnya yang bikin saya begitu senang bukan hanya karena Ken mau ikut membantu, tapi saya merasa saat itu Ken sudah bisa memahami perasaan orang lain dan menunjukkan empatinya dengan membantu ibu. Sesudahnya, so pasti Ken saya beri pujian.

Bagi saya, melakukan komunikasi seperti itu memang perlu usaha karena biasanya sudah terbawa emosi duluan. Yang pertama adalah berusaha untuk bersabar dulu dan memahami kenapa anak berperilaku seperti. Lalu, dalam berkomunikasi dengan anak kali ini, saya meng-highlight kaidah 7-38-55 (Keberhasilan komunikasi dipengaruhi oleh 7% aspek verbal, 38% intonasi suara, dan 55% bahasa tubuh). Ternyata anak lebih banyak mengobservasi apa yang kita tunjukkan dibandingkan dengan apa yang kita katakan. 


Semoga bisa makin luwes dan semoga bermanfaat untuk yang membaca ya!

Cheers!
Sawitri Wening


#hari 1
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Monday, October 16, 2017

Ken's Weaning Story


Apa kabar semuanya?! Yeay! Akhirnya kembali muncul lagi di sini setelah dua bulan lebih nggak nulis di sini. Lama juga ya 😅... Semenjak riweuh dengan segala hal-ihwal pindahan dari flat ke apartemen baru, kemudian disusul dengan persiapan kembali ke tanah air, rasanya kok energi dan pikiran ini banyak terkuras untuk hal-hal tersebut dan hal lainnya. Jadi, baru sekarang sempat update lagi. Sekarang, sudah sebulan lebih kembali ke Indonesia, kembali ke hal-hal lama yang mostly jadi terasa baru lagi buat saya. Jadi, saat ini posisinya masih dalam rangka adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Bukan cuma saya aja yang sedang beradaptasi, tapi tentu juga suami dan yang paling banyak usahanya dalam membiasakan diri di lingkungan barunya yang sekarang adalah Ken.

Ngomong-ngomong soal adaptasi, saya mau cerita sedikit soal proses menyapih Ken. Kalau ingat postingan galau ini, rasanya bersyukur banget karena ternyata proses menyapih Ken nggak sehoror yang saya bayangkan sebelumnya. Iya, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk menyapih Ken tepat di usianya yang ke dua tahun.


Mengurangi Waktu Menyusui
Memasuki usia 12 bulan, Ken yang awalnya 'susah makan' alhamdulillaah perlahan-lahan semakin pintar makannya. Yang semula menolak makan nasi, jadi mau. Yang tadinya, selalu melepeh-lepeh makanan, jadi semakin lancar mengunyah dan menelan makanan padat seperti layaknya orang dewasa. Walaupun kebiasaan melepeh makanan itu masih ada, tapi kalau dibandingkan pada saat Ken berusia dibawah satu tahun, kayaknya nggak ada alasan untuk nggak bersyukur. Setelah itu pun yang saya lakukan adalah mulai mengurangi intensitas menyusui Ken dan lebih banyak menawarkan makanan dan mengenalkannya dengan susu pasteurisasi (sebab di Bristol jarang sekali ada susu UHT). Hingga di usianya sekitar 14-15 bulan, Ken seringnya hanya meminta mimik atau disusui saat mau tidur DAN saat ia terbangun di tengah tidurnya. Masya Allah... Jadi, tugas saya sudah berkurang banyak, tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Ken bisa tidur tanpa mimik dan tidak lagi mencari mimik di tengah tidurnya.

Sounding
As usual, we use this most powerful weapon to help Ken overcome with change. Kayaknya 5-6 bulan sebelum eksekusi, saya udah mulai wanti-wanti Ken kalau akan ada saatnya ia harus berhenti mimik, yaitu saat ia berulang tahun yang kedua. Kalimat yang paling sering saya gunakan adalah "Ken, nanti kalau sudah happy birthday, tiup lilin, berarti Ken sudah tidak mimik lagi ya." Selain itu, saya juga menjelaskan kalau anak yang sudah besar, sudah tidak mimik lagi dan Ken sudah besar. Begitu terus di berbagai kesempatan, dengan harapan Ken bisa lebih mudah melewati salah satu perubahan besar dalam hidupnya itu. Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi Ken, pasti saya akan sangat terpukul harus 'berpisah' dengan sesuatu yang selalu ada bersamanya semenjak ia lahir 💔.

Memilih cara menyapih
Karena bertekad ingin menyapih tanpa "membohongi" atau pakai cara orang-orang jaman dulu, ada satu catatan penting yang menurut saya nggak kalah penting, yaitu konsisten dan jujur dalam perkataan dan perilaku kepada anak. Oh iya, saya nggak menganggap cara yang dilakukan orang-orang jaman dulu itu, seperti mengoleskan parutan kunyit atau betadine di payudata agar terkesan sedang sakit, tidak baik karena bisa jadi itu adalah cara ibu agar anak bisa lebih legowo ketika disapih, ya kan daripada ibu dan anak stress karena drama penyapihan. Hal ini sempat juga terpikiran untuk saya lakukan, tapi setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan memilih cara lain yang menurut kami lebih pas di hati, yaitu dengan memberikan pengertian kepada Ken.

Menentukan momen perubahan
Agak bingung juga kasih nama poinnya. Intinya, kami memilih momen yang menurut kami paling tepat untuk memulai proses menyapih dan informasi ini sudah diberitahukan kepada Ken. Jadi, ketika momen itu datang, Ken akan lebih siap dengan perubahan yang akan dialaminya. Momen yang kami pilih adalah saat ulang tahun Ken. Sengaja, kami mengundang tetangga dan mengadakan pesta kecil-kecilan sekadar menjadi penanda kalau setelah ini, Ken akan disapih.

Hal selanjutnya yang kami lakukan adalah eksekusi. Sesuai ekspektasi, ternyata drama yaaa, hahahah. Tapi, alhamdulillaah dramanya hanya berlangsung selama 3 hari. Di malam ke-4 Ken berhasil tidur sendiri tanpa nangis-nangis. Masya Allah, lega rasanya. Akhirnya tugas menyusui Ken selama dua tahun berhasil diselesaikan 😭. Di sini, saya mencatat ada beberapa fase yang Ken alami saat dan pasca disapih. Ini sama sih kayak fase umum yang terjadi kalau seseorang mengalami perubahan.

1. Fase Penolakan
Fase dimana Ken mampu menangis berjam-jam karena tidak diberi mimik saat mau tidur selama 3 hari. Di hari pertama super capeeek karena saya menuruti semua permintaannya, kecuali minta mimik. Karena tidak berhasil dapat mimik, Ken akhirnya minta macam-macam, minta pipis lah, makan lah, walaupun sebenarnya dia nggak benar-benar mau melakukan itu. Alhasil, kami baru tidur jam 3 pagi. Malam kedua, saya menggunakan strategi mengabaikan tangisannya dan berlaku seperti tidak ada apa-apa, jadi selama Ken menangis, saya tetap memejamkan mata dan memintanya untuk tidur sambil memberitahu konsekuensi kalau dia menangis terus (matanya bengkak, capek, dsb.) Hasilnya, Ken menangis selama 30 menit, diam dan tertidur sendiri. Malam ketiga, Ken masih menangis sekitar 10 menit lalu tertidur.

2. Fase Melawan/Denial 
Ternyata dramanya belum berakhir, buibuuu... Hahah, tapi nggak kayak sebelumnya sih. Di fase ini, Ken seringkali menolak untuk tidur, walaupun sebenarnya dia sudah mengantuk. Beda ya sama nggak mau tidur karena nggak ngantuk. Jadi, siap-siap deh tidur siang dan malam akan mundur beberapa jam karena anaknya udah nggak bisa lagi disogok pake mimik biar tidur cepat! 😂

3. Fase menerima
Meskipun terkadang Ken masih suka menolak tidur siang, tetapi sekarang ia sudah lebih mengerti. Jam tidur siang/malam pun sudah lebih teratur dibanding ketika masih pada fase sebelumnya. Di fase sebelumnya, Ken seringkali menghipnosis dirinya sendiri dengan bilang "no mimik, yes bobo" berulang kali. Padahal nggak ada yang mencontohkan dan kata-katanya yang catchy itu dia sendiri yang memilih. Masya Allah, di situ saya melihat usaha Ken untuk membuat dirinya sendiri paham akan perubahan ini.

Catatan saya adalah ketika mau memulai proses menyapih dengan cara ini, baik ayah ataupun ibu harus ikhlas dan yakin. Sebab, kalau tidak, akan terasa sulit di fase pertama sehingga jadi nggak tega dan akhirnya menawarkan mimik lagi. Ternyata, setelah proses menyapih yang penuh drama itu, terbitlah tidur yang lebih berkualitas, bebas sakit punggung, baju tanpa kancing depan, dan anak yang lebih mandiri karena tidur tanpa harus lagi disusui 😊

Sekian dulu ceritanya, mudah-mudahan ada manfaatnya ya. Bagi yang baru akan memulai proses menyapih, semangat ya, buibuuuu :*

Thanks for helping us through the thick of weaning process, guys! (Ken's Birthday Squad)

Cheers!
Sawitri Wening

Tuesday, August 8, 2017

Menghidari Melakukan Kekerasan pada Anak

“Bego banget sih! Makan yang bener, Tolol!” 

Kata-kata tersebut pernah saya dengar sendiri keluar dari mulut seorang ibu kepada anaknya. Entah kerjadian apa persisnya yang membuat ibu itu mengeluarkan kata-kata mengerikan kepada anaknya sendiri, yang masih berumur sekitar dua tahun itu. 

*

image frome here
Sebagai orang tua, tentu kita pernah menghadapi masa-masa sulit dalam mengasuh anak. Kejadian seorang ibu menyakiti anaknya sendiri baik secara fisik ataupun verbal bukan lah pemandang yang langka kita temui. Bahkan mungkin kita sendiri pernah menyakiti anak kita sendiri karena perasaan marah atau frustrasi menghadapinya yang sedang sulit diatur. Tentu saja hal seperti itu terkadang tidak dapat dihindari, karena orang tua juga manusia yang emosi negatifnya bisa tersulut sewaktu-waktu. Namun, tahukah kita bagaimana dampaknya pada anak kita kelak?

Untuk lebih memahami pentingnya mengontrol diri kita agar tidak menyakiti anak, kita perlu mengetahui hal apa yang bisa ditimbulkan dari kekerasan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan kekerasan yang terjadi pada berdampak jangka panjang pada anak. Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan dari kekerasan anak dari berbagai penelitian:

1. Kurangnya kemampuan mengidentifikasi dan mengontrol emosi 
2. Berpotensi menyakiti diri sendiri atau self-harm ketika sudah dewasa 
3. Menimbulkan kecemasan, depresi, sulit berkonsentrasi, dan rendah diri 
4. Berkaitan dengan potensi menjadi korban kekerasan di kemudian hari 


Dr. Dan Siegel (2011) menyebutkan setidaknya ada empat cara praktis yang dapat kita lakukan apabila sedang menghadapi situasi yang sulit saat membersamai anak. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat menjadi celah untuk kita, para orang tua, untuk dapat mengembangkan self-regulation atau kemampuan mengelola emosi kita dan anak. 

1. Berusaha untuk tidak menyakiti anak
Ketika sedang menghadapi situasi sulit dengan anak, berusahalah untuk menanah diri untuk tidak berkata kasar dengan menutup mulut. Letakkan kedua tangan kita di belakang untuk menghindari melakukan kekerasan fisik seperti memukul atau mencubit anak. 

2. Menjauh dari anak sejenak
Beri waktu sejenak pada diri kita untuk ‘bernapas’. Caranya dengan meninggalkan atau menghindari anak kita sebentar sampai kita merasa lebih tenang. Beri penjelasan kepada anak agar ia tidak merasa diacuhkan bahwa kita sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk beberapa saat dan akan kembali lagi ketika sudah tenang. 

3.Bergerak!
Ketika kita sedang meluangkan waktu untuk menyendiri, mulai lah mengatur nafas dengan perlahan dan bergeraklah! Penelitian menunjukkan apabila kita bergerak atau melakukan relaksasi, hal itu akan berdampak pada perubahan emosi kita. Contoh sederhananya adalah, ketika kita tersenyum, maka kita akan merasakan lebih senang. Apabila kita mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, kita akan merasa lebih tenang. Bisa juga dengan melompat-lompat, menari atau apapun, asalkan kita bisa merasa lebih nyaman dan lega.

4. Segera perbaiki situasi dengan anak kita
Saat kita sudah tenang, segeralah kembali kepada anak kita dengan menerima sepenuhnya kejadian sebelumnya. Apabila hal yang tidak diinginkan sudah terlanjur terjadi, sebaiknya segeralah meminta maaf dengan anak kita dan sampaikan penyesalan atas apa yang sudah kita lakukan. Lalu, mulailah memahami emosi dan kondisi yang dialami anak, agar baik kita ataupun anak kita kembali pada kondisi emosi yang lebih stabil. Dengan begitu, hubungan antara kita dan anak kita bisa kembali baik.

Semoga kita semakin menyadari dampak buruk dari kekerasan kepada anak dan sebisa mungkin menghindarinya dan semakin sabar ketika membersamainya. Sebab masa depan anak-anak kita kelak, ada di tangan kita sekarang.


Artikel ini dimuat di haisobat.id.

haisobat.id  situs yang berisi info terkait life style, mental health issue, dsb.


Sumber:
Goldsmith, R., & Freyd, J. (2005). Effects of Emotional Abuse in Family and Work Environments: Awareness for Emotional Abuse. Journal of Emotional Abuse, Vol. 5(1).

Siegel, D.J., & Bryson, T.P. (2011). The Whole-Brain Child. New York: Deracorte Press.

Effects of Child Abuse & Neglect. Retrieved from http://www.joyfulheartfoundation.org/learn/child-abuse-neglect/effects-child-abuse-neglect

Vardigan, B. (2017). Yelling at Children (Verbal Abuse). Retrieved from https://consumer.healthday.com/encyclopedia/children-s-health-10/child-development-news-124/yelling-at-children-verbal-abuse-648565.html

Friday, July 28, 2017

#NHW9 Belajar menjadi Agen Perubahan

Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Wah, nggak berasa udah masuk ke tugas terakhir di perkuliahan matrikulasi ibu profesional. Meskipun masih harus lebih memacu diri untuk bisa istiqomah menjalani hal yang sudah dituliskan di dalam #nhw ini, namun sejauh ini, saya merasakan sekali manfaatnya, terutama dalam hal memaknai peran saya sebagai ibu, istri, maupun diri sendiri secara lebih positif. Senangnya lagi bisa kenalan dengan ibu-ibu jebat yang kurang lebih punya visi yang sama, yaitu menjadi individu yang lebih baik lagi. Luv banget deh pokoknya sama ibu-ibu #iipbekasi <3

Tugas kali ini, saya merasakan banyak keterkaitan dengan tugas sebelumnya. Bahkan, sepertinya ide yang akan saya tuliskan pada tugas ini sudah saya singgung di #nhw8. Nah, di sini, saya diajak untuk memikirkan lagi bagaimana mengolah minat saya supaya bisa jadi hal yang bermanfaat bagi orang banyak atau di kelas ini kami menyebutnya dengan "misi spesifik hidup".

Start from The Empathy. Mungkin kalau membaca bagan yang saya buat di bawah ini, isu sosial yang saya tuliskan sangatlah luas. Namun, apabila dilihat dari minat yang saya miliki, saya merasa dengan menulis kita bisa membagikan hal apapun yang menurut kita bermanfaat untuk dibaca orang lain. Poin yang saya tuliskan di bawah ini, tentu saja berawal dari kedekatan pengalaman saya sendiri. 

Pertama, sebagai seorang ibu baru, saya pernah mengalami baby blues, kebosanan, bingung menghadapi anak yang kolik, dan segudang masalah lainnya. Dengan membagikan pengalaman itu, saya berharap orang yang membacanya sedikit banyak bisa mendapatkan insight untuk mendapatkan solusi dari masalah serupa yang mereka hadapi. 

Kedua, ini sangat dipengaruhi oleh background pendidikan saya di bidang psikologi. Saya merasa belum banyak orang yang merasa kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ingin sekali saya menuliskan pengetahuan yang saya miliki mengenai isu tersebut agar orang bisa mengambil manfaatnya. Namun, dalam hal ini masih banyak keraguan yang saya rasakan. Terutama karena merasa belum mumpuni dan banyak ilmu yang sudah lewat dari kepala saya. Sehingga apa yang harus saya lakukan untuk menjalani misi ini adalah dengan mempelajari lagi ilmu-ilmu tersebut agar lebih dapat menguasainya dan akhirnya percaya diri untuk menuliskan dan membagikannya.

Ketiga, berdasarkan pengalaman pribadi, saya senang mencari tahu terlebih dahulu mengenai produk yang hendak saya beli. Saya merasakan manfaatnya ketika membaca review orang lain di blog ataupun di website. Jadi, saya pikir kenapa saya tidak melakukan hal yang sama. Membantu orang lain untuk memberikan second opinion terhadap produk yang hendak dibelinya supaya nilai kebermanfaatannya lebih terasa. Ya, sesederhana itu, 



Semua itu, menurut saya bisa saya lakukan sekarang juga, di blog atau platform lainnya. Tinggal mengumpulkan tekad untuk mengerjakannya aja nih yang butuh semangat membara.

Sekali lagi, doakan saya ya!

Salam,
Sawitri Wening

Tuesday, July 25, 2017

#NHW8 What's Next?


Tulisan ini adalah hasil dari refleksi diri penulis dan didedikasikan untuk memenuhi nice homework Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Pada tugas kali ini, saya diajak untuk lebih fokus pada hal apa yang ingin dikaryakan dan merumuskannya secara teknis melalui perencanaan strategis.

Image from here
Lalu, bagaimana kaitannya dengan BE, DO, HAVE 

1. Kita ingin menjadi apa? (BE)
Ingin menulis hal-hal yang bermanfaat secara produktif. 
Kalau menengok kembali #NHW 7 tentang menjadi ibu yang produktif dan diminta untuk memilih salah satu kegiatan di kuadran aktivitas suka-bisa, saya akan memilih kegiatan menulis. Alasannya karena saya bisa merasakan kebahagiaan tersendiri saat sedang menulis dan membagikannya ke orang lain untuk dibaca. Alasan lainnya adalah saya berharap dengan tulisan tersebut saya bisa berbagi manfaat dengan orang lain. Hal yang saya bagi tidak jauh-jauh dari cerita saya menjalani hari sebagai seorang ibu dan istri. Sehingga bagi saya, menulis adalah cara saya menyalurkan perasaan, mengevaluasi diri, sekaligus menyimpan kenangan dan menjadi pengingat bagi saya di masa depan. Ya, seperti yang sudah saya tuliskan di tugas sebelumnya, menulis itu adalah kegiatan yang therapeutic buat saya dan sering kali ketika saya sedang lalai, saya diingatkan lagi oleh tulisan saya sebelumnya. 

Hal yang ingin saya sampaikan bisa berupa apa saja terkait dengan pengalaman parenting, review produk, buku, atau pemikiran yang bisa mengubah sesuatu ke arah yang lebih positif dan mempromosikanpentingnya meningkatkan kesehatan mental baik untuk diri sendiri, maupun orang di sekitar kita. 

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Di titik ini, saya merasa ilmu saya untuk membagikan hal yang bermanfaat melalui tulisan masih sangat kurang. Sehingga lagi-lagi menulis jadi salah satu alasan saya untuk mau banyak membaca dan belajar. Tapi, ternyata saya sadar kalau cara menulis saya tentu masih jauh dari sempurna, sehingga perlu banyak latihan dan jam terbang.

So, yang harus saya lakukan adalah memperbanyak jam terbang menulis dimulai dengan membuat satu tulisan minimal dalam seminggu dan mulai meng-encourage diri saya sendiri untuk berbagi tulisan di platrform atau komunitas sehingga kebermanfaatnya lebih bisa tersebar luas. Selain itu, saya juga mesti banyak belajar melalui berbagai sumber dan membaca buku tentang parenting, pengembangan diri, keluarga, dan agama. Targetnya dengan membuat jadwal membaca perhari atau 3 judul buku dalam seminggu. Maklum, saya suka baca beberapa buku dalam satu waktu. Semua itu tentu dilakukan dengan membersamai anak dan mendahului kewajiban sebagai istri. Sambil menerapkan apa yang sudah didapatkan dengan keluarga, sambil membagikannya kepada orang lain agar ilmu semakin tersebar.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya bercita-cita membuat buku/novel dengan tema yang saya minati dan dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya. Ya Allah... ini cita-cita dari jaman SMP dan nggak berubah, cuma motivasinya yang naik turun dan insya Allah ingin memperbaiki diri dan strategi untuk mencapainya, Yang penting, luruskan niat... luruskan niat untuk berbagi manfaat, bukan yang lain. Insya Allah...
Selain itu, melalui perjalanannya, saya ingin tetap membersamai anak dan membentuk karakter anak-anak yang sholeh, haus akan ilmu, dan banyak memberikan manfaat juga buat orang-orang di sekitarnya kelak.

Lanjut ke pertanyaan selanjutnya...
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain, terutama untuk keluarga dan kemudian masyarakat. Caranya, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, menulis, salah satunya.

2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
Dalam 5-10 tahun ke depan, berarti usia saya sekitar 31-36 tahun ya... Saya ingin bisa lulus sekolah lagi di bidang psikologi atau pendidikan untuk menunjang, tetap aktif menulis di blog dan menulis artikel di website/komunitas, menghasilkan 1-3 buku yang memberikan value positif bagi pembacanya, mengajak Ken untuk mencoba aktif menulis

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
Dalam satu tahun ke depan, saya ingin membuat minimal 96 tulisan di blog, mulai menulis di majalan/website lain, mendapatkan beasiswa S2, menguasai ilmu bunda sayang dalam perkuliahan institut ibu profesional.

"Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH" - Institut Ibu Profesional


Salam Perubahan,
Sawitri Wening